Tampilkan postingan dengan label CEO PLN Note. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CEO PLN Note. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 September 2013

Dahlan Iskan - CEO PLN Note - Mulai Daging Babi sampai Mikro LNG

Kalau Indonesia tahun lalu dipusingkan oleh lonjakan harga cabai, di Tiongkok kini sedang mengalami persoalan serupa. Bahkan dalam bentuk yang lebih berat: kenaikan drastis harga daging babi.
Kalau harga cabai saja bisa membuat raport inflasi Indonesia merah, apalagi pengaruh harga daging babi di Tiongkok. Gara-gara kenaikan harga daging babi itu, inflasi Tiongkok mengejutkan: 6,4 persen. Padahal, targetnya hanya 4 persen. Ini angka inflasi tertinggi di Tiongkok sejak 2008.

Setahun terakhir harga daging babi memang naik lebih 50 persen di Tiongkok, mencapai hampir Rp 35.000/kg. Seperti harga cabai di Indonesia tahun lalu, tingginya harga daging babi di Tiongkok juga menjadi pembicaraan yang meresahkan masyarakat hampir di seluruh negeri. Sampai-sampai pemerintah memutuskan untuk melepaskan cadangan daging babi nasional. Saat harga daging babi murah tahun lalu,  pemerintah memang membuat lumbung daging babi. Tapi,  jumlahnya belum sempat besar, baru 200.000 ton. Padahal, keperluan daging babi seluruh Tiongkok mencapai 40 juta ton setahun. Cadangan itu hanya cukup untuk keperluan satu hari saja!

Seperti juga cabai, mengatasi persoalan ini tidak mudah. Rangsangan untuk para peternak babi memang sudah diberikan. Tapi, untuk menunggu babi sampai bisa dijual di pasar, perlu waktu 1 tahun. Kalau persoalan cabai bisa diatasi dengan impor cabai besar-besaran (meski orang Indonesia mengeluh bahwa cabai impor kurang pedas), persoalan kurangnya daging babi di Tiongkok tidak bisa diselesaikan dengan cara yang sama. Harga daging babi di luar negeri lebih mahal. Di Surabaya, misalnya, harga daging babi mencapai Rp 60.000/kg atau hampir dua kali lipatnya. Maka, sampai Imlek tahun depan, tidak ada harapan harga daging babi turun drastis.

Ada kegelisahan lain di Tiongkok: wanitanya kian menyukai melahirkan dengan cara cesar. Persentasenya naik secara drastis dalam waktu yang singkat. Kini 51 persen wanita Tiongkok melahirkan dengan cara cesar. Ini merupakan persentase  tertinggi di dunia. Amerika Serikat saja, yang metode cesarnya sudah sangat lama, baru mencapai 30 persen.

Kenyataan itu dipicu oleh banyak hal. Terutama oleh banyaknya rumah sakit yang karena tuntutan bisnis merangsang wanita untuk melakukan cesar. Juga disebabkan oleh majunya teknologi yang membuat cesar lebih menjamin keselamatan bayi yang dilahirkan. Padahal, wanita di Tiongkok hanya boleh punya satu anak sehingga harta satu-satunya itu harus lahir sempurna.

Memang kebijakan hanya boleh punya satu anak sudah mulai dilonggarkan. Penduduk minoritas boleh punya anak banyak. Penduduk pedesaan yang memerlukan tenaga kerja muda untuk pertanian boleh memiliki dua anak sepanjang anak pertamanya perempuan dan jaraknya harus tujuh tahun. Kini kebijakan itu melonggar lagi untuk wilayah tertentu: boleh punya dua anak sepanjang bapak dan ibunya adalah anak tunggal. Provinsi Guangdong, misalnya, kini minta kelongaran seperti itu karena kian sulitnya mendapatkan tenaga kerja.

Dulu, untuk provinsi yang ekonominya luar biasa ini, bisa dengan mudah mendapatkan buruh dari daerah-daerah pedalaman. Kini, dengan pembangunan besar-besaran di daerah pedalaman, merantau ke Guangdong tidak lagi menarik.

“Dulu mimpi setiap anak yang baru lulus sekolah adalah pergi ke Guangzhou atau Shenzhen,” ujar seorang manajer pabrik mesin perminyakan di Chongqing, pedalaman Tiongkok, saat saya ajak ngobrol tentang ini Jumat lalu di kantornya di Chongqing. “Sekarang mimpi seperti itu tidak ada lagi,” katanya.
Kota Chongqing sendiri (dulu dikenal dengan sebutan Chunking) memang sudah berkembang menyerupai Shenzhen. Hutan pencakar langitnya, bandaranya, stasiun keretanya, monorelnya, jaringan jalan tolnya, hampir sudah tidak bisa dibedakan dengan kota besar lain di Tiongkok.

Kali ini saya ke Chongqing untuk melihat teknologi mengubah gas menjadi benda cair (LNG) dan teknologi memadatkan gas (CNG). Dengan teknologi ini, gas bisa disimpan untuk dipakai di saat masyarakat menggunakan listrik terbanyak pada pukul 17.00-22.00. Ini sekaligus bisa dimanfaatkan untuk menghindari penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang sangat-sangat mahal itu.

Dulu teknologi LNG dan CNG memang seperti kemewahan yang sulit dijangkau. Bayangan kita, membangun LNG itu harus seperti Bontang atau Tangguh atau Arun. Padahal, kini teknologi itu sudah lebih terjangkau. Bukan saja sudah ada mini LNG, bahkan sudah ke tingkat mikro LNG. Sedangkan kita, jangankan mini LNG. CNG pun, kita belum menggunakannya. Akibatnya,  kita terus terbelit untuk menggunakan BBM yang mahal. Padahal, seperti di Tiongkok ini, mikro CNG sudah digunakan sejak 20 tahun lalu. Waktu itu saya sudah meninjaunya di banyak daerah di Tiongkok seperti di Qingdao.

Ketika di Chongqing sekarang ini, saya melihat perkembangan mikro LNG dan CNG yang tidak terbendung lagi. Di kota Chongqing saja kini sudah ada 80 buah stasiun bensin yang menggunakan CNG. Kian banyak mobil yang tidak menggunakan BBM lagi. Bahkan, kini sedang dibangun stasiun mikro LNG yang kapasitasnya hanya 30 m3.

Ketika saya meninjaunya, proyek ini sedang diselesaikan. Tangkinya sudah terpasang, instalasi pengubah gas cair menjadi gas biasa (regasifikasi) juga sudah ada di tempatnya. Dari sini,  LNG dialirkan ke stasiun pengisian gas yang ada di sebelahnya sehingga taksi atau bus kota bisa mendapatkan gas dari LNG itu. Saya bayangkan bagaimana kalau pembangkit listrik di daerah-daerah kecil menggunakan teknologi itu. Hanya dengan empat  buah mikro LNG seperti itu, pembangkit listrik sebesar 5 MW bisa berjalan selama sebulan. Atau cukup dengan satu mikro LNG yang kapasitas tangkinya empat kali lipat dari itu. Kini sudah tersedia tangki dengan ukuran 30 m3, 40 m3, 60 m3,  dan 150 m3.

Semangat saya lebih berkibar lagi manakala pergi ke Kota Chengdu, ibu kota Provinsi Sechuan. Meski tujuan saya sama, yakni untuk melihat pabrik lain yang bergerak di bidang mini-mikro CNG dan LNG, tapi di situ saya mendapat penjelasan mengenai teknologi baru yang setengah tidak bisa dipercaya. Mereka menemukan teknologi mengubah udara menjadi benda cair dengan menggunakan kekuatan listrik.

Setelah udara menjadi benda cair, pada jam-jam beban puncak (17.00-22.00) cairan tersebut diubah lagi menjadi udara. Proses perubahan ini bisa untuk memutar turbin dengan efisiensi 60 persen. Memang ini sedikit lebih rendah daripada  persentase teknologi hydro pumped storage seperti yang akan dibangun PLN di Jawa Barat, namun banyak sekali kelebihannya. Kalau pumped storage memerlukan masa pembangunan sampai lima tahun, ini hanya 1 tahun. Kalau pumped storage tergantung lokasi dan jarang ada lokasi seperti itu, ini bisa dilakukan di mana saja.

Teknologi ini sekarang lagi dipasang di London, Inggris, dengan kapasitas 20 MW. “Akhir Agustus ini sudah bisa dilihat hasilnya,” ujar pemilik teknologi di Kota Chengdu tersebut saat rapat bersama tim PLN di kantornya.

Dengan gambaran seperti itu, perang melawan bahan bakar minyak (BBM) rasanya benar-benar siap dimulai di PLN. Musuh nomor 5 PLN ini harus sudah tumbang tahun depan. Seperti yang sudah saya kemukakan, musuh nomor 1 PLN (krisis listrik) sudah teratasi. Demikian juga musuh nomor 2 (daftar tunggu) dan musuh nomor 3 (wabah kerusakan trafo). Tahun ini musuh nomor 4 (wabah gangguan jaringan) akan selesai. Tahun depan musuh nomor 5 itu, yang mengakibatkan PLN boros triliunan rupiah, semoga menyusul tumbang.

Begitu banyak senjata yang bisa disiapkan untuk memerangi BBM itu. Keterlaluan juga kalau BBM begitu saktinya.

Dahlan Iskan
CEO PLN

Kamis, 21 Juli 2011

Dahlan Iskan - CEO PLN Note - Membangun Dua Pondasi Tanpa Banyak Bunyi

Meski sudah 1,5 tahun saya jadi direktur utama tapi belum juga hafal singkatan penting di PLN yang satu ini : P2APST. Singkatannya saja tidak hafal apalagi kepanjangannya! Padahal sesekali saya harus mengucapkannya. Misalnya kalau lagi rapat direksi. Setiap kali harus mengucapkannya saya harus menengok dulu ke Pak Murtaqi Direktur Bisnis dan Manajemen Resiko. Beliaulah yang paling fasih mengucapkan singkatan itu karena memang beliau yang membidani kelahirannya merancang sistemnya dan dengan antusias mengembangkannya. Biar pun tidak hafal singkatannya saya sangat paham kegunaannya : agar pembayaran listrik bisa dilakukan secara on-line real time dan terpusat. Inilah sistem untuk mengakhiri zaman pembayaran listrik tradisional : antri di loket PLN berjam-jam setiap menjelang tanggal 20.

Tentu tujuan utamanya bukan untuk menghilangkan antrian itu. Ada yang lebih mendasar: agar uang yang masuk ke PLN bisa terkontrol rapi sejak dari pembayaran oleh pelanggan sampai ke kas perusahaan di kantor pusat. Jangan lagi ada sistem uang dibayarkan di loket ranting baru disetorkan ke cabang lalu ke wilayah lalu ke pusat. Apalagi kalau pencatatan uang itu dilakukan secara manual dan transfer ke jenjang-jenjang berikutnya masih secara tradisional.

Lebih hebat dari itu sistem apa tadi —eh P2APST– itu mampu langsung tersambung ke komputer yang memproses pekerjaan keuangan berikutnya : pembuatan laporan dan audit. Maka, dengan sistem ini proses keuangan di PLN menjadi sangat terkontrol, canggih dan modern. Sudah bisa dipertandingkan dengan perusahaan kelas dunia lainnya.

Manfaat besar lain dari sistem ini adalah : menyelamatkan teman-teman PLN di seluruh Indonesia dari resiko terperosok lubang yang dalam. Peluang untuk menyeleweng bagi ribuan kasir PLN di seluruh pelosok nusantara menjadi hilang. Peluang untuk terjadinya sebuah kolusi juga berkurang.

Banyak sekali kasus seseorang itu mula-mula sangat jujur dan terpercaya. Dia berubah menjadi penyeleweng semata-mata karena diberi peluang untuk itu. Dalam kasus seperti ini mungkin dosa perbuatan tersebut harus dipikul bersama antara yang menyeleweng dan yang memberikan peluang untuk menyeleweng.

Tapi dengan sistem yang satu itu peluang untuk terjadi penyalahgunaan keuangan kian tertutup. Dengan sendirinya. Kadang sistem memang lebih efektif mencegah kejahatan daripada khotbah –terutama untuk hal-hal yang manusiawi seperti itu. Semoga pencipta sistem anti-kejahatan juga mendapatkan pahala sama besar dengan para pengkhotbah. Maka tak salah bila banyak tokoh Islam yang menyebutkan Amerika Serikat itu lebih islami dari banyak negara berpenduduk mayoritas Islam. Ini antara lain karena banyaknya sistem di sana yang menutup peluang orang untuk berbuat jahat.

Tentu masih banyak manfaat lain dari P2APST yang terlalu panjang untuk dirinci di sini. Yang pasti P2APST harus dicatat dalam sejarah PLN. Bahwa kita di tahun 2011 ini sudah mampu mengubah sistem pengelolaan pembayaran rekening listrik yang semula sangat ruwet itu.

Sebenarnya P2APST direncanakan baru akan berhasil diterapkan di seluruh Indonesia akhir tahun 2012. Namun berkat kerja keras dan kerja cerdas teman-teman PLN di bawah komando Pak Murtaqi ini P2APST bisa diselesaikan bulan lalu. Maju 1,5 tahun! Wilayah sejauh, seterpencil dan serumit Papua pun sudah melaksanakan P2APST.

Maka sejak Juli ini, kalau ada orang di Kaimana, atau Nabire, atau Wamena yang hari ini membayar listrik, hari ini juga, jam ini juga, uangnya sudah sampai di Bu Tjutju Kurnia yang berkantor di lantai 6 PLN Pusat di Jakarta. Ketika semua direksi rapat kerja di Melak, pedalaman Kaltim, dua minggu lalu sistem ini juga sudah bisa berjalan di “ibukota” suku Dayak itu. Warga di tengah hutan itu bisa membayar listrik di agen-agen pembayaran melalui sistem komputer dan uangnya langsung masuk ke sentral keuangan. Maka sekarang ini, Bu Tjutju sudah bisa tahu persis berapa uang masuk setiap hari dari seluruh Indonesia. Tidak lagi tergantung dari laporan yang berjenjang itu.

Saya sangat bersimpati pada teman-teman PLN yang menyiapkan dan mengembangkan sistem ini. Kerjanya siang malam tapi tidak banyak orang yang tahu. Inilah mereka yang bekerja secara diam-diam tapi menghanyutkan! Inilah teman-teman PLN yang bekerja keras tapi tidak akan pernah mendapat apresiasi secara luas. Kerja ikhlas lebih menonjol di sini.

Dengan selesainya P2APST masih ada pekerjaan berikutnya yang menanti kita. Kali ini menjadi giliran teman-teman yang ada di jajaran distribusi di seluruh Indonesia: mencocokkan jumlah kWh yang tersalur dengan berapa besar uang masuk yang seharusnya. Tanpa P2APST pengecekan seperti itu akan memakan energi yang luar biasa dan belum tentu kita mampu melakukannya. Tapi, sekarang, dengan sistem itu teman-teman di jajaran distribusi bisa lebih fokus untuk melihat pelanggan mana yang pembayaran listriknya tidak sesuai dengan jumlah kWh yang tersalur dari jaringan tegangan menengah di suatu lokasi.

Satu lagi pondasi penting yang lagi dibangun di PLN : Si Ujo. Teman-teman di jajaran SDM sedang menyiapkan program uji kompetensi untuk seluruh karyawan PLN. Inilah pekerjaan berat yang untuk menyelesaikannya diperlukan kecerdasan dan ketekunan. Inilah pekerjaan besar yang jauh dari pujian banyak orang.

Sistem uji kompetensi yang dirancang ini tidak kalah canggih dengan P2APST. Penyiapannya sudah selesai. Uji coba sudah dilakukan. Tinggal pelaksanaan uji kompetensinya saja yang Insya Allah dilakukan awal September, setelah lebaran.

Melihat materi uji kompetensi itu saya bisa membayangkan betapa besar pekerjaan ini. Kalau pemrakarsanya tidak memiliki passion yang tinggi tidak mungkin bisa terwujud. Begitu komplit materinya (untuk semua sektor pekerjaan di PLN) dan begitu canggih sistemnya. Sampai-sampai di dalam hati saya terpikir: alangkah cocoknya kalau ujian nasional sekolah menggunakan system Si Ujo ciptaan teman-teman direktorat SDM PLN ini.

P2APST dan Si Ujo adalah dua pondasi penting PLN yang ikut menentukan kejayaan PLN ke depan. Kalau uji kompetensi sudah terlaksana maka enam program besar utama telah terselesaikan oleh PLN tahun ini: mengakhiri krisis listrik, menyelesaikan daftar tunggu, mengakhiri wabah gangguan trafo, menerapkan P2APST di seluruh Indonesia, uji kompetensi untuk seluruh karyawan PLN dan mengakhiri wabah gangguan feeder (penyulang).

Bagaimana dengan mencukupi kebutuhan gas? Tentu direksi tidak akan mau kalah dengan anak buah!
*) P2APST : Pengelolaan dan Pengawasan Arus Pendapatan Secara Terpusat

Dahlan Iskan
CEO PLN

Selasa, 12 Juli 2011

Dahlan Iskan - CEO PLN Note - PLTS Bunaken Model untuk 100 Pulau Lain

Genset Dibongkar Disedekahkan ke Masjid
Inilah perjalanan yang happy ending. Meski awalnya menghadapi persoalan berat di Gorontalo, tapi bisa diakhiri dengan melihat proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di pulau Bunaken yang menyenangkan.
Kini memang lagi dicoba dua model pengembangan PLTS. Dua-duanya sudah beroperasi selama lima bulan. Sudah bisa dievaluasi baik-tidaknya. Model pertama berupa lampu Sehen yang dicoba di pedalaman Sumba Barat Daya. Model kedua dicoba di lima pulau termasuk pulau Bunaken di Sulut ini.
Model Sehen dirancang untuk desa-desa pedalaman yang rumahnya terpencar” seperti di NTT atau Papua. Model Bunaken didesain untuk pulau-pulau kecil yang terpencil yang jumlahnya ribuan itu.
Kesimpulannya: dua model ini sangat oke. Tidak ditemukan kelemahan mendasar. Masyarakat di dua wilayah tersebut juga menyenanginya. Maka model Sehen akan segera dimasalkan di NTT. Sedang model Bunaken segera dipakai di 100 pulau tahun ini juga. Kelak, 1000 pulau akan menyusul.
Perjalanan ke Bunaken Rabu lalu itu saya mulai dari Gorontalo. Meski baru mendarat pukul 21.00 kami langsung ke kabupaten Bone Bolango meninjau proyek PLTU di pantai teluk Tomini itu. Pertemuan dengan karyawan PLN Gorontalo baru dilakukan keesokan harinya pukul 05.00 sekalian dengan olahraga jalan pagi. Menjelang matahari terbit itu, dengan cara duduk lesehan di halaman, kami membicarakan keluhkan masyarakat setempat: seringnya listrik padam.
Mati lampu seperti itu seharusnya tidak sering terjadi lagi. Penyebab utamanya, yakni krisis listrik, sudah teratasi tahun lalu. Kerusakan-kerusakan trafo juga sudah sangat minim. Tapi mengapa masih sering mati lampu di Gorontalo” Yang kalau dijumlah di seluruh propinsi, masih tercatat 223 kali mati lampu di bulan Juni 2011?
Tidak sulit mencari tahu penyebab mati lampu itu. Penyebabnya tinggal satu: gangguan feeder (penyulang). Yakni terganggunya jaringan listrik. Karena tinggal inilah persoalan yang dihadapi maka semua karyawan sepakat bisa mengatasinya” dalam tiga bulan (Juli-Agustus-September). Bahkan pimpinan wilayah PLN Sulut-Sulteng menetapkan harus selesai sebelum datangnya bulan puasa yang tinggal kurang sebulan lagi. Bulan puasa termasuk bulan yang memerlukan pelayanan listrik secara khusus di Gorontalo.?
Meski penyebabnya satu, rintangannya cukup banyak. Misalnya ada jaringan yang panjangnya 160 km yang melewati hutan lindung. Ranting-ranting pohon yang menimpa jaringan listrik di situ tidak boleh dipotong. Ada UU yang mengatakan barang siapa memotong pohon di hutan lindung masuk penjara.
Begitu matahari terbit kami meninggalkan Gorontalo. Tidak sempat makan pagi tapi ada nasi kuning dan jagung rebus di dalam mobil. Inilah perjalanan panjang, berliku dan melelahkan. Tentu kami mampir-mampir di proyek dan di kantor ranting. Di ranting PLN Kwandang misalnya, saya lihat ada genset di belakang kantor. Saya minta genset itu dibongkar dan disedekahkan ke masjid terdekat. Kantor pelayanan PLN tidak boleh punya genset. Itu sama saja artinya tidak mempercayai pelayanan listriknya sendiri. Biarlah kantor PLN ikut mati lampu agar bisa merasakan penderitaan orang yang listriknya mati.
Di ranting Bolaang Mongondow Utara seorang ibu melaporkan prestasinya. Selama enam tahun menjadi manajer keuangan di situ tunggakan pembayaran listriknya nol! Hebat! “Tapi pangkat saya tidak naik-naik pak,” katanya. Saya pun mencatat namanya di dalam hati.
Di Baroko ada proyek penting yang hampir selesai. Gardu Induk di Baroko melakukan energise. Ini berarti transmisi dari Bitung sampai Gorontalo yang panjangnya 400 kms itu sudah bisa nyambung. Gorontalo yang 10 tahun lalu memisahkan dari dari Sulut pun kini tersambung lagi, di sektor listriknya.
Setelah delapan jam perjalanan, kami tiba di Motong, dekat Kotamubago. Kami mampir ke pembangkit listrik tenaga minihydro yang lokasinya di tengah pepohonan kelapa. Bulan lalu PLTM ini tenggelam oleh banjir. Untungnya pimpinan PLN Kotamubago sangat trampil. Dalam waktu seminggu PLTM ini berfungsi kembali. Peristiwa ini sangat menyedihkan teman-teman PLN Kotamubago karena seperti ikut menenggelamkan prestasi mereka selama ini. Yakni prestasi terbaik dalam menangani gangguan trafo maupun penyulang.
Di Motong kami memperoleh kenikmatan luar biasa –kenikmatan yang malamnya membawa sengsara. Ibu-ibu PLN di situ menyajikan makanan yang enaknya luar biasa: lembaran daun papaya yang digulung bersama daun singkong dengan bumbu-bumbu tertentu di dalamnya. Dimakan dengan udang goreng dan ikan rica-rica pedas, nikmatnya ampun-ampun.
Apalagi laparnya sudah berlebihan karena sudah lewat pukul 14.00. Saya pun makan bertambah-tambah. Bahkan saya tidak malu untuk minta dibungkuskan, untuk makan malam di perjalanan!
Kami pun meneruskan perjalanan ke Kotamubago dengan perut sangat kenyang. Inilah satu-satunya kota di seluruh Indonesia Timur yang belum saya kunjungi. Saya memang pernah ke sini, tapi 30 tahun lalu ketika menyiapkan koran pertama di Sulut. Kini Kotamubago majunya bukan main. Pantas disediakan listrik berapa pun selalu kurang!
Pukul 16.00 kami masih di Kotamubago. Makan siang di Motong tadi terlalu lama. Kami pun memperkirakan tengah malam baru akan tiba di Manado. Ini karena masih ada satu proyek lagi di Amurang yang menanti. Benar. Pukul 23.00 kami baru tiba di Manado. Perjalanan ini ternyata bukan 16 jam, tapi 18 jam!?
Tentu, saya memimpikan tidur yang lelap. Keesokan harinya harus bangun pagi-pagi untuk melihat PLTS Bunaken. Tapi baru satu jam memejamkan mata, perut saya berontak! Beberapa kali ke toilet tetap saja rasa mulas tidak berhenti. Hampir tiap jam saya harus ke belakang. Saya periksa isi toilet itu agar bisa tahu apakah ada yang berbahaya. Isinya ternyata daun singkong semua!
Menjelang pukul 05.00 saya mempertimbangkan untuk membatalkan perjalanan ke Bunaken. Apalagi saya sempat sempoyongan. Tapi teman-teman sudah menunggu di loby. Saya sendiri memang harus ke sana. Inilah PLTS yang akan jadi model untuk pembangunan proyek serupa di 100 pulau tahun ini dan kelak di 1000 pulau. Kalau proyek ini ternyata tidak baik biarlah bisa segera dibatalkan kelanjutannya.
Tiba di dermaga Bunaken saya jalan sangat cepat menuju lokasi proyek. Teman-teman mengira saya begitu bersemangatnya. Padahal saya punya maksud tersendiri: ingin cepat-cepat ke toilet. Untuk keenam kalinya.?
Perut saya memang masih menyimpan persoalan tapi PLTS di Bunaken ini” berfungsi dengan baik. Layak untuk contoh 100 pulau lainnya. Saya pun banyak bicara dengan anak muda yang menjadi penganggungjawab PLTS itu. Juga memeriksa data selama lima bulan. Termasuk melihat kotoran apa saja yang suka singgah ke panel surya dan bagaimana cara membesihkannya. Bahkan saya minta dilakukan pembersihan saat itu agar bisa tahu tingkat kesulitannya. Ternyata tidak sulit. Saya sendiri mencoba naik tangga untuk mempraktekkan cara pembersihan panel surya.
Selama lima bulan itu hanya sekali terjadi gangguan, tapi sangat kecil. Yakni ketika mcb (Mini Circuit Breaker) tidak bisa off. Tapi begitu alatnya diganti langsung teratasi. Gangguan terbanyak justru dari luar: dari penyulang yang terganggu pohon.
Kelelahan dua hari, ditambah hilangnya cairan yang terlalu banyak, ditambah sudah selesainya misi perjalanan ini, membuat keadaan asli badan saya muncul: lemas. Saya bergegas dibawa ke kapal, dijemput dokter dan diistirahatkan di hotel.
Memang masih ada satu acara, tapi masih beberapa jam lagi: saya harus menemui Gubernur Sulut Bapak Sinyo Sarundayang. Ini untuk membicarakan penyelamatan danau Tondano yang terancam pendangkalan sangat cepat. Ini danau legendaris kebanggaan masyarakat Sulut yang harus diselamatkan. Juga karena Danau Tondano menjadi sumber air bagi PLTA Tonsea yang menghasilkan listrik 50 MW untuk wilayah itu. Gubernur bertekad memulihkan danau itu. PLN menyediakan kapal keruknya.?(*)

Senin, 04 Juli 2011

Dahlan Iskan - CEO PLN Note - Menghadapi Musuh Besar No 4 dan No 5

Saya melakukan live chatting lagi 27 Juni lalu. Kali ini khusus dengan seluruh manajer cabang PLN se Indonesia Barat. Hari masih sangat pagi, apalagi untuk daerah seperti Aceh dan Medan: pukul 07.30. Topik utama chatting hari itu adalah mengenai musuh terbaru PLN, yakni “Musuh Besar No 4”.

Saya mengawali chatting itu dengan satu pertanyaan yang jawabnya dilombakan. Sepuluh jawaban benar yang paling cepat akan mendapat sertifikat. Dalam waktu sekejap banyak manajer cabang yang sudah meng-up-load jawaban. Pertanyaannya memang sederhana: apakah musuh baru PLN yang kita sebut sebagai musuh besar nomor 4 itu?

Alhamdulillah sebagian besar manajer cabang sudah tahu jawabnya: musuh besar No 4 PLN adalah gangguan penyulang. Hanya tiga manajer cabang yang merasa memiliki musuh sendiri. Lomba ini sebenarnya kurang fair. Manajer cabang yang akses internetnya lebih baik cenderung bisa lebih cepat meng-up-load jawaban. Sedang cabang  yang  bandwidth-nya kecil bisa jadi sampai chatting berakhir tidak mampu merebut saluran masuk ke arena chatting.

Pertanyaan berikutnya adalah: karena para manajer cabang sudah tahu siapa musuh terbaru PLN ke depan, berarti   sudah tahu juga latar belakangnya mengapa gangguan penyulang begitu besar, apa saja persoalannya dan bagaimana mengatasinya. Bagaimanakah cara mengalahkan musuh besar No 4 tersebut?

Para manajer cabang kembali berebut masuk ke arena chatting. Semua cara untuk mengalahkan musuh No 4 tersebut umumnya sangat baik. Berarti teman-teman di lapangan benar-benar sudah tahu bagaimana mengatasi banyaknya gangguan penyulang itu. Tapi saya sangat terkesan dengan jawaban dari manajer cabang Rengat, Riau, Bung Agustian. Meski intinya sama dengan jawaban manajer cabang yang lain, tapi jawaban dari manajer cabang Rengat ini terasa lebih “manajer”. Bukan seperti jawaban seorang siswa yang lagi ujian. Bukan pula seperti jawaban dari seorang birokrat yang lagi menyusun program. Bukan seperti jawaban seorang yang hobinya ceramah dan menasehati.

Seorang manajer tidak boleh memberikan jawaban yang normatif dan abstrak. Inilah yang akan membedakan mana seorang manajer dan mana seorang birokrat atau juru ceramah. Seorang penceramah dan yang lain-lain itu tidak pernah dituntut mempertanggungjawabkan ucapannya. Sedang seorang manajer dituntut untuk bisa mengemukakan “bagaimana cara mewujudkannya” dan “kapan mewujudkannya”. Karena itu seorang yang berjiwa manajer tidak akan pernah mengucapkan kata “segera”, “sebentar lagi”, “dalam waktu cepat”, “dengan cara sebaik-baiknya”, “dengan hasil yang maksimal” dan kata-kata abstrak lainnya.

Tengoklah jawaban rekan kita dari Rengat mengenai pertanyaan “bagaimana cara Anda mengatasi banyaknya gangguan penyulang” di daerah Anda. Ini jawaban itu:
Pengalaman untuk menekan gangguan penyulang :
  1. Menyusun rencana kerja per kelompok JTM, Gardu, JTR, SR/APP
  2. Menetapkan target masing-masing unit 1 penyulang dengan gangguan nihil atau penyulang VIP tahun 2011
  3. Menjadikan program Har & Ops Dist sebagai kontark kerja masing-masing SDM atau dimasukan dalam MUK dengan pekerjaan antara lain : inspeksi JTM, pengukuran beban trafo gardu, pemeriksaan SR & APP
  4. Melaksanakan Jum’at peduli dengan melibatkan seluruh staf dan mitra kerja (tanpa bayar)
  5. Gangguan yang sudah turun : penyulang Pasir Ringit : Jan = 2, Feb = 0 Maret = 0, April = 1, Mei = 1, untuk Juni masih nihil. Penyebab gangguan jaringan kendor/andongan terlalu kendor karena jarak terlalu penjang ( menyeberang sungai, kuran lebih 250 meter). Gangguan trafo : Jan = 1, Feb = 1, Maret s/d tanggal 27 Juni 2011 = nihil

Dari live chatting yang diikuti 43 manajer cabang ini saya yakin teman-teman di lapangan akan mampu memenangkan peperangan ini dalam waktu tiga bulan Juli-Agustus-September 2011. Selama tiga bulan ke depan seluruh kekuatan, energi dan persenjataan kita kerahkan untuk menundukkan musuh besar kita No 4 itu.

Keyakinan untuk memenangkan pertempuran itu sangat tinggi mengingat selama 1,5 tahun terakhir teman-teman PLN se Indonesia sudah berhasil mengalahkan musuh-musuh besar No 1, No 2 dan No 3. Kalau tiga musuh besar itu saja sudah berhasil dilumpuhkan, adakah alasan untuk tidak bisa memenangkan perlawanan menghadapi musuh nomor 4 ini?

Di antara tiga musuh besar yang sudah berhasil dimenangkan itu yang terbesar sudah tentu musuh No 1, yakni krisis listrik. PLN berhasil mengatasi krisis listrik hanya dalam waktu enam bulan (Januari-Juni 2010). Dalam waktu sesingkat itu kekurangan listrik di seluruh Indonesia tercukupi. Padahal krisis listrik itu begitu gawatnya sehingga pemadaman bergilir yang parah terjadi di seluruh Indonesia. Mulai dari Sabang sampai Merauke.

Memang kalau ada mati lampu seperti yang terjadi sekarang ini, sebagian orang masih mengira bahwa listrik masih belum cukup. Setiap mati lampu dikira karena terjadi pemadaman bergilir. Kesan ini begitu kuatnya di masyarakat mengingat di masa lalu memang latar belakangnya seperti itu. Padahal penyebab mati lampu sekarang ini sudah sangat berbeda. Karena itulah target berikutnya adalah mengatasi penyebab mati lampu seperti itu.

Musuh besar No 2 yang juga sudah berhasil diatasi adalah panjangnya daftar tunggu: 2,5 juta orang. Antrean untuk mendapatkan listrik begitu besar dan masa tunggu itu begitu lama. Ada yang sudah antre listrik sejak lima atau tujuh tahun lalu. Daftar tunggu itu berhasil diselesaikan melalui dua kali gerakan. Yakni gerakan sehari sejuta sambungan (GRASSS) tahun lalu dan GRASSS ke-2 tanggal 17 Juni lalu.

Memang masih ada beberapa daftar tunggu yang tercecer. Tapi tidak sampai menyebabkan gagalnya program ini. Salah satu contoh terjadi di Belitung. Seseorang yang sudah antre listrik tidak mendapat sambungan di saat GRASSS ke-2. Dia mengirim SMS dan menanyakan mengapa tidak dapat sambungan. Ternyata terjadi salah pengertian. Sewaktu petugas PLN melakukan survey ke rumah tersebut, rumah dalam keadaan terkunci. Tidak ada penghuninya. Petugas PLN yang mencoba mengintip dalamnya rumah itu melihat sudah ada bola lampu yang masih menyala. Maka petugas PLN mengira rumah tersebut sudah berlistrik.

Ketika pengalaman petugas itu diceritakan kepada pemilik rumah barulah jelas persoalannya: lampu yang menyala tersebut bukan langsung dari PLN.
Saya yakin kejadian serupa juga masih ada di beberapa daerah. Tapi kejadian seperti itu tidak menyebabkan batalnya pernyataan kemenangan atas musuh besar No 2.

Musuh besar No 3, yakni banyaknya gangguan trafo, juga sudah berhasil dikalahkan. Gangguan trafo yang tahun lalu di setiap cabang bisa mencapai 50 kali sebulan (berarti di cabang tersebut mati lampu 50 kali sebulan) sudah tinggal satu digit. Banyak juga cabang yang sudah bisa mencapai gangguan nol! Yang lebih membanggakan lagi, para manajer cabang ini terlihat lebih akrab bergaul dengan trafo. Setiap ke daerah saya selalu menanyakan di cabang tersebut memiliki berapa ratus trafo, berapa gangguan, dan apakah sudah punya trafo cadangan. Saya bangga bahwa manajer cabang umumnya hafal berapa trafo yang harus dia control dan berapa tingkat gangguannya. Pernah saya marah kepada seorang kepala cabang yang tidak hafal berapa ratus trafo yang harus dia gauli. Akhirnya saya minta maaf karena ternyata dia baru sebulan di situ.
Saya memang gelisah dengan banyaknya gangguan trafo ini. Begitu banyaknya mati lampu akibat trafo rusak ini. Sampai-sampai saya kemudian menetapkan  ganguan trafo adalah musuh besar kita nomor 3. Ketika akhirnya para manajer cabang bisa mengalahkan musuh No 3 itu, rasanya seperti tidak masuk akal. Banyak pertanyaan kepada diri mereka sendiri: kok bisa ya! Tak terbayangkan gangguan trafo yang begitu besar bisa diatasi.

Kini musuh kita di lapangan tinggal satu: musuh besar No 4, gangguan penyulang. Masih begitu banyak mati lampu akibat gangguan penyulang. Penyebabnya begitu beragam. Tapi tidak ada kata menyerah. Gangguan penyulang tidak bisa dibiarkan. Masih ada penyulang yang gangguannya mencapai 15 kali sebulan. Ini berarti setiap dua hari sekali terjadi mati lampu akibat gangguan penyulang. Saya yakin dalam tiga bulan ke depan teman-teman manajer cabang juga bisa mengalahkan  gangguan penyulang ini.
Kita memang masih memiliki beberapa musuh besar lainnya. Khusus musuh “yang sangat khusus” ini menjadi tugas para direksi untuk mengalahkannya. Ini bukan musuhnya para prajurit yang gagah berani di lapangan. Ini musuhnya para jendral di pusat kekuasaan PLN. Musuh yang ini harus dikalahkan dengan cara yang sangat khusus pula.

Musuh jenis apakah gerangan itu? Musuh dalam selimutkah? Silumankah? Harimau yang ganaskah? Belut yang licinkah? Saya tegaskan di sini, musuh itu bernama BBM. Bahan Bakar Minyak!
BBM-lah yang menyebabkan PLN borosnya luar biasa. BBM-lah yang kalau bisa diberantas membuat PLN menghemat 15 triliun rupiah setiap tahun.

Kalau tiga jenis musuh yang pertama itu kita kalahkan dan musuh No 4 pasti akan dikalahkan oleh teman-teman di lapangan, maka musuh dalam selimut itu pun pasti akan dikalahkan oleh jajaran direksi!
Dengan sudah selesainya krisis listrik, dengan tuntasnya daftar tunggu, dengan sudah minimnya gangguan trafo, maka dua musuh beriktunya ini kita bagi dua: teman-teman di lapangan mengalahkan musuh No 4 dan teman-teman direksi mengalahkan musuh besar No 5!Kita berlomba mana yang menang lebih dulu!

Dahlan Iskan
CEO PLN

Selasa, 21 Juni 2011

Dahlan Iskan - Harapan Baru pada Listrik Sehen

Inilah perjalanan jauh untuk melihat 100 rumah yang menggunakan Lampu Sehen. Itu adalah listrik tenaga matahari model baru untuk sistem kelistrikan kepulauan. Desa itu terpencil nun di ujung barat daya Pulau Sumba, NTT.

Sudah lima bulan penduduk menggunakan Lampu Sehen. Sampai saya ke sana pekan lalu, tidak ada keluhan, tidak ada lampu yang mati dan tidak ada instalasi yang rusak. Itu mengisyaratkan bahwa target ambisius setahun menaikkan ratio elektrifikasi di NTT dari 31 persen menjadi 70 persen pun bisa dicapai.

Setahun ini sudah tiga kali saya ke NTT. Banyaknya orang yang mengatakan “mustahil elektrifikasi NTT bisa mencapai 70 persen akhir tahun ini” membuat saya sering ke sana. Apalagi saya juga terikat sumpah harus mewujudkan proyek listrik panas bumi (geotermal) Ulumbu (Ruteng) yang sangat lama macet itu.

Perjalanan panjang kali ini saya mulai dari Kupang. Dari bandara, malam itu saya langsung ke proyek PLTU Kupang yang lama tersendat. Saya kaget, gubernur dan wakil gubernur menyambut di bandara. Pasangan kepala daerah yang sangat rukun tersebut (di banyak daerah terjadi “perang dingin”) memang sangat merindukan listrik NTT maju.

Pagi-pagi kami sudah terbang ke Kecamatan Kangae, Sikka, Flores. Itulah kecamatan pertama di Indonesia yang seluruh pelanggan listriknya menggunakan sistem prabayar, sehingga mendapatkan rekor Muri. Sampai-sampai, Wakil Bupati Sikka dr Wera Damianus iri. “Kampung kelahiran saya sendiri sampai hari ini belum berlistrik,” katanya.

Dia bercerita, betapa menderitanya penduduk Pulau Palue, tempat kelahirannya tersebut. Bukan hanya tidak ada listrik, tapi juga tidak ada sumber air. Sudah dicoba dibor, tidak pernah berhasil. Penduduk sepenuhnya bersandar pada air hujan. Padahal di sana lebih sering kemarau. Untuk itu, tiap rumah harus punya paling tidak tiga pohon pisang.

Dari pokok pohon pisang yang dilubangi itulah air untuk minum dan masak didapat. Pisang pun menjadi simbol kehidupan di Palue. “Kalau ada perjaka yang minta kawin, biasanya ditanya: Memangnya sudah mampu menanam berapa pohon pisang?” tuturnya.

Setelah mendengar itu, saya bertekad Pulau Palue harus berlistrik akhir tahun ini. Dari Kangae, saya langsung ke Sumba, sebuah pulau yang besarnya tiga kali Bali, tapi penduduknya amat jarang. Lebih banyak jumlah kudanya.

Mendarat di Kota Waingapu, kami langsung menelusuri jalan darat menuju Waitabula/Tambolaka di pantai barat Sumba. Perjalanan itu sebenarnya bisa ditempuh enam jam. Namun, kami harus membelok dulu memasuki padang savanna yang luas di tengah pulau. Saya ingin tahu lokasi pembangkit listrik tenaga air yang segera dibangun.

Pencarian lokasi itu ternyata tidak mudah. Kami sempat tersesat. Di padang savanna tersebut tanda untuk sebuah lokasi hanyalah bukit dan rumput. Padahal bentuk bukit dan jenis rumputnya mirip semua. Padahal entah berapa bukit yang harus dilampaui. Sesekali memang terlihat penunggang kuda sandel yang kepalanya timbul tenggelam di sela-sela rumput di kejauhan. Namun, karena kudanya terus berlari, tidak bisa juga dipakai patokan arah. Begitu lamanya mencari jalan memutar itu sehingga ketika senja tiba kami masih di savanna.

Diam-diam saya mensyukuri ketersesatan itu. Bisa menikmati senja yang menakjubkan. Sejauh mata memandang, hanya ada savanna. Tidak terlihat satu pun kampung atau bangunan. Berada di tengah-tengah savanna tersebut, saya merasa seperti berada di pedalaman Irlandia. Sama sekali tidak menyangka ini di pedalaman Sumba! Apalagi udaranya sekitar 18 derajat Celsius! Alangkah sejuknya!

Keindahan itu meningkat menjadi ketakjuban manakala dari kaki langit yang cerah tersebut menyembul bulan yang kebetulan lagi purnama. Begitu menornya. Seperti wajah Malinda Dee di pentas peragaan kebaya! Uh! Tersesat yang menyenangkan. Tidak menyangka sore itu saya bisa menikmati alam seasli-aslinya. Savanna yang seperti penuh misteri. Goyangan rumputnya. Bayangan bukitnya. Temaram cahaya purnamanya. Menyatu di keluasan cakrawala bumi manusia yang langka!

Ada yang membuat saya lebih bersyukur. Saya baru terhindar dari cedera. Setengah jam sebelum memasuki savanna itu, mobil yang saya kemudikan menabrak mobil di depan. Ringsek. Harus diderek kembali ke Waingapu.

Sebenarnya saya sudah mencoba mengerem sekuat tenaga. Tapi, kecepatan mobil berbanding jaraknya tidak memadai lagi. Aspalnya pun dilapisi debu tebal dari bukit kapur yang sedang dibongkar di tebing jalan. Kapur itulah yang membuat ban tidak bisa mencengkeram aspal dengan sempurna. Saya juga tidak mungkin membanting setir mobil ke kiri karena akan menabrak tebing.

Saya menyadari kesalahan saya. Saya tidak tarik rem tangan. Refleks itu tidak muncul. Mungkin sudah lelah karena sudah hampir dua jam mengemudi. Mobil di depan saya itu terhenti mendadak karena menabrak truk dari arah depan. Dua mobil ringsek.

Pukul 22.00 kami baru tiba di kota kecil Waikabubak, Sumba Barat. Namun tidak bisa segera beristirahat. Hotel sederhana di situ lagi penuh. Harus mencari kota kecil berikutnya yang jaraknya sekitar sejam. Sekalian mencapai tujuan akhir perjalanan malam itu: Tambulaka.

Bagi yang merasa baru sekali ini mendengar nama Tambulaka, baiknya ingat peristiwa Adam Air. Pesawat dengan lebih dari 200 penumpang yang tersesat dan kehilangan arah tersebut akhirnya bisa mendarat di suatu daerah terpencil. Ya Tambulaka itulah yang dimaksud. Waktu itu sang pilot sebenarnya hanya ingin mendarat darurat di pantai pasir putih yang panjang “entah di pulau apa. Tapi, begitu mendekati pantai, terlihatlah ada bandara kecil. Itulah Bandara Tambulaka.

Salah satu desa pengguna Lampu Sehen yang sedang kami promosikan berada di 10 km dari bandara tersebut. Nama Sehen (super ekonomi hemat energi) diciptakan PLN karena sistem itu memang belum ada namanya. Sehen-lah yang mengakhiri riwayat hidup lampu petromaks di desa itu. Dan kelak di seluruh Sumba bahkan di banyak pulau Indonesia.

Dengan Lampu Sehen, masing-masing rumah seperti memiliki pembangkit listriknya sendiri-sendiri, memiliki trafonya sendiri-sendiri, dan memiliki jaringan kabelnya sendiri-sendiri. Dengan Sehen, tidak ada lagi lampu mati karena travo meledak, karena kabel penyulang terganggu, atau karena tiang listrik roboh. Dengan Lampu Sehen juga tidak ada pencurian listrik, tidak ada pembaca meter, dan tidak ada tagihan yang salah.

Dengan Lampu Sehen, Desa Karuni langsung berubah. Desa asli dengan budaya Sumba yang unik itu tidak lagi gelap gulita. Rumah-rumahnya tetap rumah panggung dengan dinding kayu dan atap daun rumbia, tapi ada peralatan modern di atas atapnya. Sebuah panel kecil yang kalau siang menyerap tenaga matahari. Tidak perlu baterai khusus karena alat penyimpan listriknya sudah ada di dalam bola lampu itu sendiri.

Setiap rumah mendapat jatah tiga bola lampu. Masing-masing 220 lumen. Istilah “lumen” tersebut harus mulai dihafal karena untuk tenaga surya tidak menggunakan satuan watt. Tingkat terang 220 lumen hampir setara dengan 40 watt. Sangat terang.

Tiap-tiap bola lampu dilengkapi benang penarik untuk on/off. Benang penarik itu juga berfungsi untuk mengubah lumen. Mereka menyalakan lampu tersebut mulai pukul 17.00 dengan menarik benang sekali tarikan. Pada pukul 23.00 atau menjelang tidur, mereka menarik benang sekali atau dua kali lagi untuk mengurangi terangnya cahaya sekaligus menghemat setrumnya.

Yang membuat penduduk senang-senang-geli, bola lampu tersebut bisa dipetik dari tempatnya untuk dibawa ke mana-mana dalam keadaan menyala. Di sinilah serunya. Setiap ada perhelatan di desa itu, tidak perlu lagi menyewa genset seperti dulu. Cukuplah masing-masing undangan membawa lampunya sendiri-sendiri untuk kemudian dicantelkan di mana saja di lokasi perhelatan. Kalau ada 50 undangan yang datang dan masing-masing membawa satu Sehen, terangnya bukan main.

Sudah lima bulan Lampu Sehen berfungsi dengan baik. Menyenangkan. Ini tidak akan sama dengan proyek yang pernah dikembangkan di beberapa kementerian yang kemudian menimbulkan perkara korupsi itu. Lampu Sehen tersebut tetap milik PLN, diurus oleh orang PLN, dirawat oleh PLN, dan ditagih oleh PLN. Tidak akan terjadi penduduk bisa menjual Lampu Sehen-nya.

Masih ada plus yang lain. Di setiap “desa Sehen”, PLN memberikan satu set TV berbasis tenaga surya 21 inci. Berikut parabolanya. TV itu diletakkan di plaza, eh gubuk, terbuka di depan rumah pak RT. Malam itu teman-teman PLN sempat nonton TV bersama penduduk yang ternyata sangat menyenangi sinetron. Mereka juga ketagihan film India. Maklum, meski di desa yang begitu jauh, mereka bisa menonton 28 channel dengan kualitas gambar yang sempurna.

Hanya, menonton sinetron atau film India sebenarnya terserah selera pak RT karena pak RT-lah yang memegang remote control-nya. (*)

Dahlan Iskan
CEO PLN

Minggu, 19 Juni 2011

CEO PLN Note : Bupati Baru di Kolam Keruh

Begitu banyak bupati/walikota di Indonesia tapi jarang yang menonjol. Di antara yang sedikit itu termasuk Walikota Solo, Bupati Sragen, Bupati Lamongan yang dulu (saya belum mengenal reputasi bupati yang sekarang), Bupati Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Walikota Ternate, Walikota Bau-bau di pulau Buton, Bupati Asahan, Bupati Berau di Kaltim dan Walikota Surabaya (baik yang Bambang DH maupun penggantinya). Masih ada beberapa lagi memang, tapi tidak akan seberapa.


Kini, dalam posisi sebagai Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN Persero), saya lebih banyak lagi mengenal, bergaul dan berinteraksi dengan  bupati/walikota. Apalagi saya terus berkeliling Indonesia untuk melihat dan menyelesaikan problem kelistrikan Nusantara.
Dari situ saya mencatat bupati/walikota itu umumnya biasa-biasa saja: banyak berjanji di awalnya, lemah di tengahnya dan menyerah di akhirnya. Saya tidak tahu akan seperti apa Bupati Tuban yang baru terpilih, H. Fathul Huda ini. Apakah juga akan menjadi bupati yang biasa-biasa saja atau akan menjadi bupati yang tergolong sedikit itu. Bahkan jangan-jangan akan jadi bupati yang sama mengecewakannya dengan yang dia gantikan.
Saya tahu dari para wartawan, bahwa Fathul Huda adalah orang yang awalnya tidak punya keinginan sama sekali untuk menjadi bupati. Dia sudah mapan hidupnya dari bisnisnya yang besar.  Dia adalah pengusaha yang kaya-raya. Dia juga bukan tipe orang yang gila jabatan. Dia adalah orang yang memilih mengabdikan hidupnya di dunia keagamaan. Juga dunia sosial. Dunia kemasyarakatan. Sekolah-sekolah dia bangun. Juga rumah sakit. Dia yang sudah sukses hidup di dunia sebenarnya hanya ingin lebih banyak memikirkan akherat. Kalau pun berorganisasi, ia adalah Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Tuban.
Tapi sejak enam tahun lalu begitu banyak orang yang menginginkannya jadi bupati Tuban. Itu pun tidak dia respons. Begitu banyak permintaan mencalonkan diri dia abaikan. Tahun lalu permintaan itu diulangi. Juga dia abaikan. Menjelang pendaftaran calon bupati malah dia pergi umroh ke Makkah. Baru ketika, Gus Saladin (KH Sholachuddin, kyai terkemuka dari Tulungagung, putra KH Abdul Jalil Mustaqiem almarhum) meneleponnya dia tidak berkutik. Ini karena Gus Saladin dia anggap seorang mursyid yang tidak boleh ditolak permintaannya. Konon Gus Saladin lebih hebat dari bapaknya yang hebat itu.
Begitu Gus Saladin menugaskannya menjadi bupati Tuban, dia sami’na waatha’na. Dia kembali ke tanah air mendahului jemaah lainnya. Tepat di tanggal penutupan pendaftaran dia tiba di Tuban. Tanpa banyak kampanye dengan mudah dia terpilih dengan angka lebih dari 50%.
Cerita itu saja sudah menarik. Sudah bertolak belakang dengan tokoh yang dia gantikan yang dikenal sangat ambisius akan jabatan. Termasuk nekad mencalonkan diri lagi meski sudah dua kali menjadi bupati hanya untuk mengejar jabatan wakil bupati.
Sebagai sesama orang swasta yang terjun ke pemerintahan, saya bisa membayangkan apa yang dipikirkan Fathul Huda menjelang pelantikannya 20 Juni besok. Mungkin sama dengan yang saya bayangkan ketika akan dilantik sebagai Dirut PLN: ingin banyak sekali berbuat dan melakukan perombakan di segala bidang.
Tapi, sebentar lagi, setelah dilantik nanti Fahtul Huda akan terkena batunya. Hatinya akan berontak: mengapa tidak boleh melakukan ini, mengapa sulit melakukan itu, mengapa jadinya begini, mengapa kok begitu, mengapa sulit mengganti si Malas, mengapa tidak boleh mengganti si Lamban, mengapa si Licik duduk di sana, mengapa si Banyak Cakap diberi peluang dan mengapa-mengapa lainnya.
Saya perkirakan Fathul Huda akan menghadapi situasi yang jauh lebih buruk dari yang saya hadapi. Di PLN saya mendapat dukungan besar untuk melakukan perubahan besar-besaran. Mengapa? Karena orang-orang PLN itu relatif homogen. Mayoritas mereka adalah sarjana, bahkan sarjana tehnik yang berpikirnya logik. Mereka adalah para lulusan terbaik dari perguruan tinggi terkemuka di republik ini. Sebagai sarjana tehnik logika mereka sangat baik. Sesuatu yang logis pasti diterima. Ide-ide baru yang secara logika masuk akal, langsung ditelan. Mereka memang sudah lama berada dalam situasi birokrasi yang ruwet, tapi dengan modal logika yang sehat, keruwetan itu cepat diurai.
Sedang Fathul Huda akan menghadapi masyarakat yang aneka-ria. Ada petani, pengusaha. Ada politisi ada agamawan. Politisinya dari berbagai kepentingan dan  agamawannya dari berbagai aliran. Ada oportunis, ada ekstremis. Ada yang  buta huruf, ada yang professor. Ada anak-anak, ada orang jompo. Yang lebih berat lagi Fathul Huda akan berhadapan dengan birokrasinya sendiri.
Bukan saja menghadapi bahkan akan menjadi bagian dari birokrasi itu. Di lautan birokrasi seperti itu Fathul Huda akan seperti benda kecil yang dimasukkan dalam kolam keruh birokrasi. Di situlah tantangannya. Fathul Huda bisa jadi kaporit yang meskipun kecil tapi bisa mencuci seluruh kolam. Atau Fathul Huda hanya bisa jadi ikan lele yang justru hidup dari kolam keruh itu. Pilihan lain Fathul Huda yang cemerlang itu hanya akan jadi ikan hias yang tentu saja akan mati kehabisan udara segar.
Birokrasi itu “binatang” yang paling aneh di dunia: kalau diingatkan dia ganti mengingatkan (dengan menunjuk pasal-pasal dalam peraturan yang luar biasa banyaknya). Kalau ditegur dia mengadu ke backingnya. Seorang birokrat biasanya  punya backing. Kalau bukan atasannya yang gampang dijilat, tentulah politisi. Atau bahkan dua-duanya. Kalau dikerasi dia mogok secara diam-diam dengan cara menghambat program agar tidak berjalan lancar. Kalau dihalusi dia malas. Kalau dipecat dia menggugat. Dan kalau diberi persoalan dia menghindar.
Intinya: ide baru tidak gampang masuk ke birokrasi. Birokrasi menyenangi banyak program tapi tidak mempersoalkan hasilnya. Proyek tidak boleh hemat. Kalau ada persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari. Dan keputusan harus dibuat mengambang. Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya adalah peraturan. Peraturan yang merugikan sekalipun!
Fathul Huda tentu tahu semua itu. Sebagai pengusaha (dari perdagangan sampai batubara) dia tentu merasakan bagaimana ruwetnya menghadapi birokrasi selama ini. Tapi sebagai pengusaha pula Fathul Huda tentu banyak akal. Kini saya ingin tahu: seberapa banyak akal Fathul Huda yang bisa dipakai untuk mengatasi birokrasinya itu. Apalagi birokrasi di Tuban sudah begitu kuatnya di bawah bupati yang amat birokrat selama 10 tahun.
Yang jelas Fathul Huda sudah punya modal yang luar biasa: tidak takut tidak jadi bupati! Itulah modal nomor satu, nomor dua, nomor tiga, nomor empat dan nomor lima. Modal-modal lainnya hanyalah nomor-nomor berikutnya. Tidak takut tidak jadi bupati adalah sapu jagat yang akan menyelesaikan banyak persoalan. Apalagi kalau Fathul Huda benar-benar bertekad untuk tidak mengambil gaji (he he gaji bupati tidak ada artinya dengan kekayaannya yang tidak terhitung itu), tidak menerima fasilitas, kendaraan dinas, HP dinas dan seterusnya seperti yang begitu sering dia ungkapkan.
Banyak akal, kaya-raya dan tidak takut tidak jadi bupati. Ini adalah harapan baru bagi kemajuan Tuban yang kaya akan alamnya. Pantai dangkalnya bisa dia jadikan water front yang indah. Pantai dalamnya bisa dia jadikan pelabuhan yang akan memakmurkan. Pelabuhan Surabaya sudah kehilangan masa depannya. Tuban, kalau mau bisa mengambil alihnya!
PDI-Perjuangan sudah dikenal memilki banyak bupati/walikota yang hebat: Surabaya, Solo, Sragen. Muhammadiyah juga sudah punya Masfuk. Kini PKB punya tiga yang menonjol: di Banyuwangi, Kebumen dan Tuban. Akankah tiga bupati ini  bisa membuktikan bahwa tokoh Nahdliyyin juga bisa jadi pimpinan daerah yang menonjol?
Tapi birokrasi akan dengan mudah menenggelamkan mimpi-mimpi mereka dan mimpi besar Fathul Huda di Tuban.
Di Tubanlah kita akan menyaksikan  pertunjukan  yang sangat menarik selama lima tahun ke depan. Pertunjukan kecerdikan lawan keruwetan. Fathul Huda bisa memenangkannya, dikalahkannya atau hanya akan jadi bagian dari pertunjukan itu sendiri: sebuah pertunjukan yang panjang dan melelahkan!
CEO PLN
Dahlan Iskan

Jumat, 03 Juni 2011

CEO PLN Note : Lahirnya Bayi-Bayi Baru dan Mulainya SPPD Berkuota

Lahirnya Bayi-Bayi Baru dan Mulainya SPPD Berkuota
Satu per satu PLTU program 10.000 MW mulai menghasilkan listrik. Jumat malam lalu (27 Mei 2011) satu unit PLTU Lontar (beberapa kilometer sebelah barat Bandara Cengkareng) sudah bisa menghasilkan listrik 216 MW dari kapasitasnya 300 MW.
Memang, seperti umumnya PLTU baru, setelah dua hari dicoba, pembangkit tersebut harus dihentikan dulu beberapa hari karena diketahui ada beberapa bagian yang harus dikoreksi. Koreksi ini tidak serius karena hanya meliputi sensor temperatur di super heater, shoot blower yang temperaturnya terlalu tinggi dan cacat di anti-steam explotion. Tidak seperti di Suralaya-8, yang begitu dites, bagian yang penting gagal fungsi. Meski bulan lalu juga berhasil start kembali, prosesnya sempat menjengkelkan. Sebab, alat yang tidak berfungsi itu harus diganti dengan cara mendatangkan alat baru dari luar negeri.
Yang lebih mengesalkan adalah PLTU di Paiton. Begitu dicoba, trafo step-up-nya terbakar. Penyelesaian PLTU ini harus mundur delapan bulan karena trafo 500 kv-nya harus dibuat lagi di pabriknya di Tiongkok.
Dengan selesainya unit-1 PLTU Lontar, kini sudah delapan unit yang menghasilkan listrik. Total sudah sekitar 3.000 MW dari 10.000 MW yang direncanakan. Kalau saja tidak ada masalah trafo di Paiton, angka itu sudah mencapai 3.600 MW. Sampai akhir tahun ini masih tambah lagi beberapa unit, sehingga mencapai paling tidak 4.500 MW yang selesai.
Kita memang sudah sangat lama menunggu lahirnya bayi listrik di Lontar itu. Hamilnya sudah terlalu lama. Teman-teman PLN bekerja keras setahun terakhir ini untuk menjaga agar bayi PLTU Lontar tidak lahir cacat.
Sejak awal proyek ini memang mengalami hambatan besar. Bahkan, sejak pencarian tanahnya yang harus berpindah-pindah. Ketika kali pertama meninjau proyek ini (tidak lama setelah dilantik menjadi Dirut PLN), saya geleng-geleng kepala. Apalagi waktu itu baru saja hujan. Mobilitas alat, barang, dan pekerja sangatlah lebay. Yang terlihat di sekitar proyek hanyalah kubangan dan lumpur. “Ini proyek horor,” kata saya dalam hati saat itu.
Di tengah-tengah horor itu teman-teman yang menangani proyek ini ternyata tidak kehilangan rasa humornya. “Normalnya proyek PLTU itu dibangun dulu, baru kemudian dilakukan firing (pembakaran untuk menghasilkan uap). Tapi, PLTU Lontar ini firing dulu, baru dibangun,” ujarnya.
Tentu saya tidak mengerti di mana lucunya kalimat itu. Setelah diceritakan kejadiannya, barulah saya tertawa. Ternyata, sebelum proyek ini dimulai, penduduk sekitar sempat marah dan melakukan pembakaran yang menghebohkan. Setelah peristiwa pembakaran itu diatasi, barulah proyek bisa dimulai kembali.
Sebenarnya permukiman penduduk cukup jauh dari proyek ini. Areanya terpisahkan oleh persawahan sejauh kira-kira 2 km. Untuk bisa sampai ke proyek ini pun sulitnya bukan main. Harus menundukkan dulu jalan darurat yang berkubang dan berkubang.
Sepintas proyek ini seperti dibangun di tengah persawahan.Ternyata PLTU Lontar juga dibangun di pinggir pantai. Hanya, pantainya berada nun jauh di 2 km sana. Bisa dibayangkan betapa horornya proyek ini. Betapa sulitnya mengerjakannya. Termasuk betapa beratnya membangun water intake dan water outflow-nya. Maka, sejak awal pun saya memastikan bahwa pembangunannya akan lambat.
Yang bisa dilakukan hanyalah bagaimana agar bayi horor ini tidak lebih lama lagi ngendon di kandungan. Juga bagaimana agar kualitas si bayi bisa lebih baik dibanding yang lahir setahun sebelumnya. Setidaknya, jangan seperti yang di Labuhan yang sampai setahun kemudian pun masih terkena asma.
Kalau benar yang selesai pada 2011 ini kualitasnya lebih baik, tentu itu sebuah prestasi. Begitu ketat mengendalikan proyek sekarang ini. Sampai-sampai berbagai ancaman dikeluarkan. Di PLTU Rembang saya sempat mengancam mengusir kontraktornya. Demikian juga di Suralaya-8, manajer proyek di sana benar-benar mengusir pimpinan proyek yang diangkat kontraktornya.
Henky Heru Basudewo, penanggung jawab proyek-proyek itu di Jawa, sampai menciptakan sistem baru agar bisa mengendalikan anak buahnya 24 jam. HHB, begitu panggilannya, terus menguber para manajer proyek seperti menguber perampok. Begitu ketatnya HHB mengendalikan para manajer, sampai-sampai muncul kesan seolah-olah mereka itu seperti terdakwa. Seolah-olah keterlambatan proyek itu gara-gara mereka. Padahal, mereka baru diterjunkan satu tahun lalu, justru ketika proyek-proyek itu sudah sangat terlambat.
Dengan selesainya proyek-proyek itu satu per satu, tekanan untuk pasokan listrik di Jawa sudah berkurang. Tiga bulan lalu pasokan listrik di Jawa kembali memburuk. Yakni, ketika tiba-tiba air di waduk Saguling, Jabar, menurun drastik. PLN tiba-tiba saja kehilangan 1.300 MW setiap hari. Saat itu mestinya kondisi listrik di Jawa hancur-hancuran. Tapi, berkat kerja keras teman-teman PLN di distribusi, masyarakat tidak terlalu merasakan krisis itu. Kini, kalaupun waduk Saguling kehabisan air lagi, tekanan kekurangan listrik tidak terasa lagi.
Sistem pengendalian proyek itu bisa efektif karena BlackBerry. Semua jajaran proyek harus menggunakan BlackBerry agar bisa berkelompok dalam grup BBM. Maka, seluruh jajaran proyek dikelompokkan dalam grup BBM. Saya dan Dirops Jawa-Bali dianggap kepala proyek juga, sehingga kami berdua dimasukkan ke dalamnya.
Di situlah sesama manajer proyek saling melapor, memberikan saran, jalan keluar, memberikan instruksi, memuji, sewot, ngedumel, dan meringis. Bahkan sekadar melucu, untuk melepas stres. Setiap akhir pekan mereka bertukar lelucon. Kadang leluconnya memakai bahasa Suroboyoan sehingga banyak manajer yang Batak protes tidak bisa ikut tertawa.
Dengan sistem BBM itu, praktis sesama manajer proyek terhubung selama 24 jam. Sejak pukul 05.00 sampai pukul 24.00. BBM biasanya sudah “on” pada pukul 05.00. Mulai saat itu siapa pun sudah boleh mulai mengajukan persoalan yang dihadapi hari itu. Sesekali saya ikut nimbrung.
Saya membayangkan, kalau semua unit di PLN membuat grup seperti itu, alangkah efektifnya organisasi ini. Juga alangkah turunnya SPPD, biaya perjalanan dinas. Apalagi, SPPD memang harus turun pascapuasa SPPD sebulan penuh yang berakhir pada 31 Mei 2011 lalu. Apalagi, kini diberlakukan “kuota SPPD’. Kuota ini diterapkan dengan sistem terkomputer, sehingga begitu kuotanya habis tidak bisa di-klik lagi. (*)

Jumat, 20 Mei 2011

CEO PLN Note : Perlu Revolusi Mental Tahap Kedua

Perjalanan Penuh Nikmat tanpa SPPD
Tidak terasa “puasa perjalanan dinas sebulan penuh” di PLN sudah berjalan 20 hari. Setelah dijalani dengan sungguh-sungguh, ternyata tidak juga terlalu berat. Seluruh jajaran PLN, tampaknya, akan mampu menjalani “puasa perjalanan dinas” hingga akhir Mei 2011 ini. Toh tinggal sepuluh hari lagi. Ini berarti pegawai PLN yang melakukan perjalanan dinas yang sebulan mencapai 28.200 orang itu kini tidak ada yang meninggalkan posnya.
Apa sajakah pengalaman berat selama dua minggu dilarang melakukan perjalanan dinas? Adakah kejadian mahaberat yang sampai membuat batal puasa” Adakah yang sampai kelaparan yang tidak tertahankan?
Ternyata baik-baik saja. Memang ada tanah longsor di Aek Sibuan, nun di luar kota Padang Sidempuan, Sumut, yang membuat delapan tiang listrik roboh sekaligus. Tetapi, Sudirman, kepala PLN cabang Padang Sidempuan, yang baru sebulan bertugas di sana (pindahan dari Jatim) bisa mengatasi tanpa mengeluarkan SPPD (surat perintah perjalanan dinas).
Pimpinan Wilayah PLN Sumut Krisna Simbaputra juga tetap bisa menegakkan integritas anak buahnya di bulan puasa SPPD ini. Minggu kedua Mei 2011, seorang kepala ranting di kawasan yang jauhnya hampir 100 km dari Medan dilaporkan menerima suap dari pelanggan. Meski nilainya tidak sampai puluhan juta rupiah, yang beginian tidak bisa ditoleransi lagi di PLN. Tindakan untuk kepala ranting itu tetap bisa dilakukan tanpa terhambat oleh program puasa SPPD.
Ujian terberat tentu di Lampung. PLN Lampung memang sedang mendapat tugas darurat dalam skala besar. Tiba-tiba saja PLN harus mengambil alih pelayanan listrik untuk lebih dari 70.000 pelanggan koperasi yang mendadak pindah ke PLN. Izin kelistrikan koperasi itu dicabut pemerintah. Padahal, jaringan maupun meteran milik koperasi yang ada di rumah-rumah pelanggan sebanyak itu sudah dalam keadaan parah yang harus diganti semua. Ada syarat lain: tidak boleh ada gejolak. Peralihan itu harus berjalan mulus.
Jajaran PLN Lampung, terutama di tiga kabupaten sekitar Metro, bekerja sangat keras di bulan puasa SPPD ini. “Tapi, teman-teman PLN Cabang Metro bertekad menyelesaikannya tanpa bantuan dari cabang lain,” ujar Pimpinan Wilayah PLN Lampung Agung Suteja.
Bagi Kepala PLN Cabang Metro Syarbani Sofyan, inilah kesempatan untuk menorehkan sejarah hidup yang berarti: mampu melaksanakan tugas sangat besar dengan risiko politik yang tinggi tanpa harus bersandar kepada cabang lainnya. Padahal, Syarbani baru sebulan menduduki jabatan itu.
Selama dua minggu ini saya sendiri hanya dua kali keluar kota. Pertama, ke Bandung untuk berbicara di hadapan rapat kerja jajaran PT Pos dan Giro se-Indonesia. Saya diminta sharing mengenai pengalaman memimpin perubahan besar di PLN. PT Pos dan Giro bukan BUMN pertama yang minta sharing seperti itu. Sudah banyak. Di forum seperti itu biasanya saya ceritakan apa saja yang dilakukan teman-teman PLN pada masa perubahan seperti sekarang ini.
Keluar kota saya yang kedua adalah ke Ambon, Seram, Saparua, dan Makassar. Semua itu saya lakukan hanya dengan menginap semalam di Masohi, Pulau Seram. Tiba di Ambon pukul 15.00, saya langsung ke proyek PLTU Wai. Saya tidak menduga bahwa ada persoalan di sini. Semula saya ingin menyenangkan diri untuk melihat proyek yang sedang seru-serunya dibangun. Eh, ternyata sedang ada sengketa harga tiang pancang. Mau tidak mau harus saya selesaikan.
Dari proyek ini, kami langsung naik speedboat ke Pulau Seram. Menjelang magrib barulah kami tiba. Langsung melakukan perjalanan darat menyusuri Pulau Seram. Karena harus berhenti di setiap kantor subranting PLN, perjalanan ini memakan waktu empat jam. Menjelang pukul 24.00 kami baru tiba di Masohi. Maka, dialog dengan karyawan PLN Masohi baru bisa dilakukan tengah malam itu di halaman kantor yang diterangi cahaya lampu mercury dan diselingi suara deburan ombak dari pantai Masohi.
Saya melihat betapa banyak PLTD kecil di sepanjang Pulau Seram. Kondisi mesinnya juga sudah sangat tua. Begitu rumit penyediaan listrik di Seram. Karena itu, kami memutuskan segera mengganti diesel-diesel itu dengan membangun pembangkit listrik besar di Seram. Kami putuskan untuk mendayagunakan sumber air terjun di sana sebagai pembangkit listrik yang baru.
Saya melihat, sepanjang sistem penyediaan listrik masih menggunakan diesel-diesel kecil yang berserakan di berbagai tempat seperti itu, pelayanan listrik kepada masyarakat akan sangat ruwet. Misalnya, di salah satu ranting di situ, Ranting Kairatu, yang hanya punya dua penyulang masih megap-megap.
Meski listrik sudah cukup, sebulan terakhir ini jumlah gangguannya masih 63 kali. Itu berarti setiap hari satu kali mati lampu di kawasan Kairatu. Semula saya merasa aneh mengapa kepala ranting PLN Kairatu tidak terlihat gelisah. Lalu, saya pun mengira-ngira: mungkin di dalam hatinya justru bangga. Bisa jadi dia punya pikiran bahwa gangguan yang 63 kali itu sudah merupakan prestasi. Ini terjadi karena dulu-dulunya gangguannya 102 kali sebulan!
Saya merenungkan dalam-dalam situasi seperti itu. Saya hampir tidak bisa tidur di sisa malam yang pendek itu. Saya memang tidak puas akan sikap mental yang tidak gelisah ketika melihat ada gangguan 63 kali sebulan. Apalagi, yang demikian itu menjadi gejala yang luas di luar Jawa. Tapi, di lain pihak saya bisa mengerti mengapa harus gelisah kalau jumlah gangguan itu sudah berhasil diturunkan secara drastis. Dari 102 kali ke 63 kali”
Walhasil PLN memang masih perlu melakukan revolusi mental tahap kedua. Revolusi mental tahap pertama sudah berhasil dilakukan tahun lalu: menyadari gangguan ratusan kali sebulan itu tidak boleh terjadi. Revolusi mental tahap kedua ini harus menghasilkan kesadaran bahwa mati lampu 63 kali itu pun belum bisa diterima masyarakat. Jumlah mati lampu sebanyak itu masih jauh daripada target hanya boleh sembilan kali setahun. PLN memang bertekad untuk membatasi jumlah mati lampu hanya sembilan kali per pelanggan per tahun untuk bisa disebut berhasil mengalahkan Malaysia.
Teman-teman PLN di Jawa/Bali sudah berhasil melakukan revolusi kedua itu. Tapi, saya melihat teman-teman PLN luar Jawa, baik di Indonesia Barat maupun Indonesia Timur, masih harus berjuang untuk menghadapi dan memenangkan revolusi kedua tersebut tahun ini. Termasuk, misalnya, yang terjadi di Palembang. Bagaimana bisa dan bagaimana masih terjadi di Palembang mati lampu, di satu lokasi, di dalam kota, yang sampai sembilan kali selama sebulan.
Saya hampir bisa tidur, tapi pintu kamar sudah diketok: sudah pukul 05.00. Sudah waktunya harus menuju ke dermaga. Pagi-pagi itu kami dari Masohi ingin ke Pulau Saparua. Ini agar tidak telat menghadiri acara pokok di Ambon pukul 10.00. Pagi itu, ketika mulai meninggalkan dermaga, cuaca sangat cerah. Pagi yang indah di Pantai Masohi.
Namun, ketika speedboat sudah meraung selama 15 menit, mulailah gelombang datang. Teman PLN Maluku masih bisa menenangkan hati saya. “Biasa Pak Dis, kalau meninggalkan wilayah teluk mesti bergelombang begini,” katanya. “Inilah gelombang yang diakibatkan bertemunya arus laut terbuka dengan laut di kawasan teluk,” tambahnya.
Ternyata tidak begitu. Ketika speedboat kian ke tengah laut pun, gelombang kian tinggi. Speedboat pun terhentak-hentak keras. Saya sudah mulai melirik di mana pelampung-pelampung diletakkan. Oh, tidak jauh dari jangkauan tangan saya. Kalau?mendadak situasi darurat, saya akan bisa meraih pelampung itu dengan mudah. Cuaca ternyata benar-benar dengan cepat memburuk. Langit gelap. Mendung tebal menggelayut. Hujan pun bresss, turun di tengah laut.
Pengemudi speedboat tiba-tiba menoleh ke belakang. Dia mengucapkan kata-kata dengan nada minta keputusan. “Kian ke depan gelombang kian tinggi. Kita tidak bisa meneruskan perjalanan ke Saparua. Baiknya membelok ke arah Pulau Haruku,” katanya. Yah, apa boleh buat. Niat ke Saparua pun batal. Bahkan, ke Haruku pun tidak mampu. Speedboat membelok langsung ke arah Pulau Ambon. Berarti masih akan menempuh perjalanan 1 jam lagi. Saya lihat dari delapan jeriken bensin masih tersisa dua jeriken. Rasanya masih cukup untuk sampai di Ambon.
Jam 9 pagi kami sudah tiba di Ambon. Acara kami berikutnya adalah dialog dengan seluruh wali kota di wilayah Indonesia Timur di Swissbel Hotel, Ambon. Namun, saya minta disempatkan mampir di Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Tulehu. Pengeboran di sini sudah dimulai, tetapi mengalami hambatan.
Di kedalaman 900 meter mata bornya terjepit batu. Kini pengeboran dihentikan. Minggu depan akan dimulai lagi, mengebor dalam posisi miring. Meski ada hambatan, PLTP ini sudah kelihatan memberikan harapan. Dari kedalaman 900 meter tersebut sudah “tercium” potensi geotermal yang sesungguhnya.
Dalam waktu yang sangat mepet (karena begitu banyak wali kota yang mengajukan pertanyaan) dan dalam keadaan lalu lintas Kota Ambon yang padat, ditambah hujan, kami harus mengejar pesawat Sriwijaya Air yang terbang ke Makassar. Teman-teman PLN Makassar sudah menunggu rapat penting untuk konsep ke depan kelistrikan di Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara.
Malam itu juga, tanpa SPPD, saya menyelesaikan perjalanan ini dengan penuh nikmat.
Dahlan Iskan
CEO PLN

Rabu, 18 Mei 2011

CEO PLN Note : Nuklir Tidak Habis Pikir

Saya tak habis pikir: tetangga terdekat Jepang ini sama sekali tak terpengaruh oleh heboh pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima.
Korea Selatan tetap bersemangat, bukan saja menjalankan PLTN yang sudah ada, melainkan juga terus membangun PLTN baru.
Gempa dan tsunami hebat yang menghancurkan PLTN Fukushima pada Maret lalu ternyata sebatas membuat Korsel lebih waspada.
Tak ada satupun PLTN di Korsel yang berjumlah 20 unit itu yang dihentikan operasinya. Bahkan, yang sedang dibangun pun tetap dikebut penyelesaiannya.
Akhir bulan lalu, setelah memeriksakan liver baru saya di rumah sakit di Tianjin, saya mampir ke Korsel. Jarak ke negara itu, dari Tianjin, hanya satu jam penerbangan.
Saya ingin menyaksikan benarkah pemerintah Korsel tak terpengaruh tekanan antinuklir yang dengan kejadian di Fukushima mendapat momentum yang tepat.
Ternyata benar. Saya dibawa ke pantai tenggara Korsel yang posisinya menghadap ke arah Fukuoka, Jepang. Korsel memiliki 20 PLTN dan semuanya di pantai. Praktis, sepanjang pantai timur dan selatan Korsel padat dengan PLTN.
Di lokasi yang saya tinjau ini, misalnya. Bukan hanya PLTN yang sudah ada sebanyak 4 unit tetap beroperasi, bahkan akan ditambah lagi dua unit baru.
Dua unit baru ini saya lihat sedang giat-giatnya diselesaikan. Terlihat begitu banyak pekerja di kedua proyek itu. Korsel yang dikenal disiplin pada jadwal proyek itu memang ingin menyelesaikan dua proyek PLTN itu satu bulan lebih cepat dari jadwal seharusnya: akhir tahun ini juga.
Dua unit yang sedang dalam penyelesaian itu salah satunya dibangun grup Samsung. Rupanya, Samsung pun sudah merambah ke bidang pembangunan PLTN. Ini bukan kunjungan saya yang pertama ke PLTN.
Tahun lalu saya ke PLTN Genka di Kyushu, Jepang. Namun, baru kali ini saya melihat proyek PLTN yang sedang dikerjakan. Inilah kesempatan baik bagi saya untuk melihat ‘jantung’-nya PLTN yang tak mungkin bisa dilihat lagi setelah proyek itu selesai.
Kebetulan tahap pembangunan PLTN oleh Samsung ini sudah mencapai titik menjelang akhir. Bangunan fisik reaktornya sudah jadi, namun masih bisa dimasuki untuk melihat dalamnya.
Bagian-bagian yang berada di bawah air sudah dipasang. Tapi, karena airnya sangat jernih, bagian ini masih bisa dilihat samar-samar.
Reaktornya sendiri yang kelak diisi uranium itu belum dipasang, tapi sudah siap di sebelah ‘kolam’ itu. Tinggal mengangkat dan memasukkannya ke kolam, disatukan dengan bagian bawahnya yang sudah berada di dalam air.
Peralatan-peralatan lain juga sudah dipasang, tapi masih bisa ditinjau dari jarak dekat: proses steam (uap), turbin, generator, dan ruang kontrol.
Berada di dalam kubah besar bangunan PLTN yang sudah jadi, kita bisa melihat tebal dan berlapis-lapisnya material yang sangat khusus untuk dinding kubah itu. Kita juga bisa melihat sistem pendingin yang berlapis-lapis yang sudah tidak akan seperti Fukushima yang memang masih menggunakan teknologi 40 tahun lalu itu.
Ketergantungan Korsel akan PLTN memang tak bisa dihindari lagi. Sudah terlalu besar peran PLTN untuk pasokan listrik di Korsel: sudah 30 persen (30 persennya lagi PLTU batubara dan sisanya PLTG).
Kalau PLTN di Korsel dihentikan, ekonomi Negara Ginseng yang sedang ingin mengalahkan Jepang itu bisa langsung runtuh.
Apalagi Korsel telanjur mengandalkan PLTN bukan hanya untuk kecukupan pasokannya, tapi juga untuk menjaga keandalan listriknya, efisiensinya, dan murahnya harga listrik.
Soal murah ini saya hampir-hampir tak percaya. Sebab, ketika di Jepang tahun lalu saya mendapat keterangan harga listrik dari PLTN masih 17 cent dolar AS per kWh.
Rasanya saya tak salah dengar saat itu. Rasanya saya juga sudah mengulangi beberapa kali pertanyaan saya itu dan jawabnya sama: 17 cent dolar AS per kWh. (Baru setelah di PLN saya tahu bahwa dalam menulis kWh, huruf W-nya harus besar karena berasal dari nama orang yang menemukan listrik, James Watt).
Tapi, di Korsel ini saya dapat penjelasan yang sangat mengejutkan. Harga listrik dari PLTN hanya 3,9 cent dolar AS per kWh. Untuk rupiah sekarang, ini hanya sekitar Rp350 per kWh.
Bandingkan dengan harga listrik dari PLTU batubara yang kini sudah mencapai Rp600 per kWh. Atau bandingkan dengan harga listrik yang diproduksi dengan minyak solar di Tambak Lorok (Semarang) atau di Muara Tawar, Tanjung Priok dan Muara Karang (semuanya di sekitar Jakarta) yang saat ini mencapai Rp3.000 per kWh. Praktis, 10 kali lipat lebih mahal daripada listrik nuklir Korsel. Apalagi, kalau dibanding dengan produksi listrik di pulau-pulau luar Jawa yang mencapai Rp3.500 per kWh.
Saya sungguh mengira salah dengar. Lebih lima kali saya mengulangi pertanyaan saya itu. Khawatir masih salah dengar, saya minta dituliskan di atas kertas.
Mula-mula saya yang menuliskannya. Dia pun membenarkan. Lalu saya minta dia sendiri yang menulis. Ternyata sama: 3,9 cent dolar AS per kWh.
Saya masih takut teperdaya. Ketika mengunjungi PLTA (pembangkit listrik tenaga air) pumped storage di Yang Yang, tiga jam naik mobil dari Seoul, saya bertanya ke pejabat tinggi Kepco (PLN-nya Korsel). Ini berarti saya bertanya ke pihak pembeli.
Saya ingin membandingkan keterangan pihak PLTN (penjual listrik) dengan keterangan Kepco sebagai pihak pembeli (untuk disalurkan ke masyarakat). Pertanyaan saya: berapakah Kepco membeli listrik dari pembangkit-pembangkit nuklir? Jawabnya: 3,9 cent dolar AS per kWh.
Bahkan, pejabat tinggi ‘PLN Korsel’ itu menuliskan daftar harga listrik yang dia beli dari berbagai jenis pembangkit. Nuklir 3,9 cent, PLTU batubara: 6,0 cent, PLTA: 13,8 cent, PLTA pumped storage: 20,1 cent.
PLTA pumped storage jadi paling mahal karena sifatnya yang khusus. Inilah pembangkit listrik yang menggunakan air, tapi hanya dijalankan lima jam sehari, yang disebut waktu beban puncak.
Kalau di Indonesia, beban puncak itu terjadi antara pukul 6 sore sampai 10 malam, ketika semua orang menyalakan listrik di rumah masing-masing.
Pada jam-jam seperti itu semua air di waduk yang di atas sana ditumpahkan ke turbin untuk menghasilkan listrik. Setelah pukul 10 malam, ketika rumah-rumah mulai mematikan listrik, operasi dihentikan.
Air yang sudah diterjunkan ke waduk bawah tadi dipompa lagi ke atas dimasukkan ke waduk atas. Begitulah terus-menerus sepanjang hari. Airnya diputar dengan cara yang amat mahal.
Untuk kali pertama PLN akan membangun proyek seperti ini di Cisokan, dekat Bandung. Setelah diadakan penelitian, untuk seluruh Jawa hanya satu tempat ini yang bisa dipakai untuk pembangkit listrik sistem khusus ini.
Setelah dapat keyakinan harga tadi, barulah saya mengerti mengapa industri di Korsel bisa dapat harga listrik lebih murah dari Indonesia. Padahal, di Cina saja, yang harga-harga barangnya lebih murah, listrik untuk industrinya lebih mahal dari Indonesia.
Dari sini juga saya tahu bahwa mati lampu di Korsel jadi yang terbaik di dunia. Setahun hanya mati lampu 3 menit. Salah satunya karena pasokan listriknya sangat andal. (Indonesia: 2009 mati lampu 150 kali; 2010 turun jadi 50 kali; 2011 ini ditargetkan hanya 9 kali rata-rata per pelanggan per tahun).
Dari sini pula saya bisa maklum mengapa pemerintah Uni Emirat Arab tak membatalkan proyek nuklirnya. Samsung juga yang akan mengerjakan empat unit PLTN di Uni Emirat Arab, masing-masing 1.400 MW itu. ‘’Kami terus bekerja di sana,’’ ujar pejabat tinggi Samsung yang menemani saya.
Tapi, tidakkah rakyat Korsel takut akan terjadi seperti di Fukushima? Itu yang membuat saya bertanya-tanya. Kalaupun pemerintahnya tak terpengaruh, apakah rakyatnya juga tak takut? Saya pun mencari kesempatan untuk menanyakan hal itu pada orang biasa di keramaian Kota Seoul. Ada yang pekerjaannya supir, ada juga yang pegawai kantor swasta.
Pertanyaan yang saya ajukan sama: apa tak takut dengan listrik nuklir? Jawabnya mirip-mirip: ada juga ketakutan itu, tapi tak seberapa besar.
Lalu saya bertanya lagi: seandainya rasa takut itu dibuat skala antara 1 (tidak takut sama sekali) sampai 100 (sangat takut), di skala berapakah ketakutan Anda itu? Jawab mereka juga mirip-mirip: di antara skala 15 sampai 20.Wallahualam.***

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost