Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Agustus 2014

Propaganda Peak Oil; Ternyata Minyak Bumi Bukan Berasal Dari Fosil

KEBIJAKAN pemerintah soal bahan bakar minyak (BBM) selalu saja ditunggu dengan harap-harap cemas, begitupun penetapan kuota produksi negara-negara penghasil minyak (OPEC), yang berdampak pada fluktuasi harga BBM di pasar internasional selalu diamati dengan penuh kekhawatiran. Pesimistis dalam dunia perminyakan secara tidak sadar memang telah dibangun dari awalnya. Kita semua percaya bahwa minyak bumi adalah bahan bakar fosil, hampir setiap hari “fakta” ini disebut dalam berbagai media massa. Lalu siapa sebenarnya yang pertama mengajukan teori (tepatnya hipotesis) yang kadung dipercaya semua orang ini? Adalah Mikhailo V. Lomonosov, seorang cendekiawan besar Rusia, yang pada 1757 mengajukan sebuah hipotesis bahwa minyak bumi berasal dari sisa-sisa makhluk hidup.

Berdasarkan hipotesis ini, berarti minyak mentah akan terbentuk sangat lambat, karena berasal dari sisa-sisa tumbuhan dan binatang yang telah mati, melewati jutaan tahun terkubur di bawah batuan, mengalami tekanan dan suhu yang luar biasa, lalu mengubahnya menjadi minyak mentah.
Industri minyak bumi modern lahir 145 tahun yang lalu di Titusville, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS) ketika Edwin Drake sukses melakukan pemboran pertama minyak bumi di AS. Kala itu hampir tidak ada yang mengkhawatirkan berapa lama lagi perut bumi menyediakan minyaknya untuk dambil? Tetapi sejak produksi minyak di AS memuncak sekitar 1970, sejumlah ahli geologi, ahli ekonomi dan analis industri mulai mempertimbangkan sebuah pertanyaan, berapa lama lagi pasokan minyak bumi dunia bisa memenuhi permintaan yang terus meningkat? Banyak kalangan memprediksi, produksi minyak global akan mencapai puncaknya beberapa tahun ke depan.

Konsekuensi dari hipotesis “bahan bakar fosil” tentunya menyisakan pertanyaan-pertanyaan pesimis seperti itu. Berapa banyak minyak mentah yang masih tersisa di dalam perut bumi? Dan kapan habisnya?
Menurut National Geographic, jumlah minyak mentah yang tersisa di bumi diprediksi sekitar 1,2 triliun barrel. Walaupun ladang minyak baru banyak ditemukan, tetapi pasokan saat ini tidak sebanding dengan penemuan-penemuan ladang tersebut. Berdasarkan gambaran konsumsi saat ini, berarti perkiraan 1,2 triliun barrel minyak bumi akan habis dalam tempo 44 tahun.
Benarkah masa kejayaan energi tak terbarukan ini akan segera berakhir? Akankah tak kan tersisa lagi tetesan minyak di jebakan kerak bumi? Ataukah ini hanya isu-isu yang sengaja dihembuskan untuk melambungkan harga “emas hitam” ini?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kita mesti meninjau ulang hipotesis biogenik Lomonosov yang dibuat hampir 250 tahun yang lalu itu. Beberapa ilmuwan mulai mempertanyakan pandangan tradisional ini. Pada abad ke-19 hipotesis ini untuk pertama kalinya ditolak seorang naturalis dan geolog Jerman kenamaan, Alexander von Humboldt, dan ahli kimia termodinamik Prancis, Louis Joseph Gay-Lussac, kemudian mereka mengajukan dalil alternatif yang menyatakan bahwa minyak bumi adalah materi primordial (purba) yang memancar dari tempat yang sangat dalam, dan tak ada hubungannya dengan materi biologis dari permukaan bumi.
Dengan berkembangnya ilmu kimia selama abad kesembilan belas, terutama ketika hukum kedua termodinamika ditemukan oleh Clausius pada 1850, hipotesis Lomonosov terus diserang, tak kurang dari pakar kimia Prancis Marcellin Berthelot mencemooh hipotesis asal biologis dari minyak bumi ini. Berthelot adalah orang pertama yang melakukan percobaan yang melibatkan serangkaian apa yang sekarang disebut sebagai reaksi Kolbe dan menunjukkan bahwa minyak bumi bisa dihasilkan dengan melarutkan baja dengan asam kuat tanpa melibatkan molekul atau proses biologis.
Selama kuartal terakhir abad kesembilan belas, ahli kimia Rusia Dmitri Mendeleev juga menguji dan menolak hipotesis Lomonosov ini. Mendeleev menyatakan dengan jelas bahwa minyak bumi merupakan bahan primordial yang keluar dari kedalaman yang jauh. Dengan persepsi yang luar biasa, Mendeleev membuat hipotesis tentang adanya struktur geologi yang ia sebut “patahan dalam” (deep fault) tempat minyak bumi melaluinya dari kedalaman.
Pada 1951, dalam sebuah kongres geologi minyak bumi, seorang geolog asal Rusia Nikolai A. Kudryavtsev mengajukan teori asal-usul minyak bumi abiotik atau abiogenik, setelah menganalisis hipotesis Lomonosov yang terbukti salah. Inilah untuk pertama kalinya teori abiotik modern dicanangkan untuk mengganti teori konvensional.
Kudryavtsev tidaklah sendiri, dia mendapat banyak dukungan termasuk dari para ilmuwan barat, seperti Thomas Gold dan Dr JF Kenney. Bahkan Kenney bersama ilmuwan Rusia lainnya benar-benar mampu membangun reaktor dan membuktikan minyak bumi bisa dihasilkan dari kalsium karbonat dan oksida besi, dua senyawa yang melimpah di kerak bumi.
Baru-baru ini, para peneliti dari Royal Institute of Technology di Stockholm, Swedia telah berhasil membuktikan bahwa fosil-fosil dari hewan dan tumbuhan tidak lagi diperlukan untuk menghasilkan minyak mentah. Temuan ini begitu revolusioner karena sangatlah berarti, di satu sisi akan memudahkan menemukan sumber-sumber energi, di sisi lain sumber energi ini dapat ditemukan di seluruh dunia.
“Dengan menggunakan penelitian ini, bahkan kami dapat mengatakan di mana minyak bumi dapat ditemukan di Swedia,” kata Vladimir Kutcherov, profesor yang memimpin riset ini.
Bersama dengan koleganya, Vladimir Kutcherov telah melakukan simulasi suatu proses yang melibatkan tekanan dan panas yang terjadi secara alami di lapisan dalam bumi, proses yang menghasilkan hidrokarbon, komponen utama dalam minyak dan gas alam.
Menurut Kutcherov, penemuan ini mengindikasikan dengan jelas bahwa pasokan minyak bumi tidak akan habis. “Tidak ada keraguan bahwa penelitian kami membuktikan bahwa minyak mentah dan gas alam yang dihasilkan, tanpa melibatkan fosil. Semua jenis batuan dasar dapat berfungsi sebagai reservoir minyak,” kata Vladimir Kutcherov kepada Science Daily, baru-baru ini.
Kutcherov pun mampu membuktikan bahwa hidrokarbon dapat dibuat dari air, kalsium karbonat dan zat besi. Ini berarti minyak bumi merupakan sumber energi berkelanjutan dan terbarukan.
Proses abiotik untuk menghasilkan minyak bumi dimungkinkan lewat proses yang disebut Fischer-Tropsch, reaksi kimia yang mengubah campuran karbonmonoksida dan hidrogen menjadi hidrokarbon cair. Proses ini dikembangkan dan dipatenkan pada tahun 1920, kemudian digunakan selama Perang Dunia II oleh Jerman dan Jepang. Proses ini pun menjadi dasar penciptaan bahan bakar jet yang dibuat dari air di AS, seperti dilaporkan majalah Wired (9/9/09).

Misteri Pulau Eugene
Pulau Eugene merupakan ladang minyak di Teluk Meksiko, sekitar 80 mil lepas pantai Louisiana, AS. Lansekap kepulauan ini terbelah dengan celah dan rekahan dalam yang spontan memuntahkan gas dan minyak. Ladang minyak ini ditemukan pada 1973 dan mulai memproduksi sekitar 15.000 barel per hari. Pada 1989, aliran minyaknya berkurang menjadi 4.000 barel per hari. Tetapi, secara tiba-tiba, produksinya meningkat menjadi 13.000 barel. Selain itu, taksiran cadangan meroket 60-400 juta barel.

Apa yang terjadi di bawah Teluk Meksiko?
Apa yang ditemukan para peneliti ketika menganalisis ladang minyak ini dengan pencitraan seismik 3-D? Ternyata ada patahan dalam yang tidak bisa dijelaskan, dan minyak telah memancar dari suatu kedalaman yang tidak diketahui sebelumnya, dan bermigrasi ke atas melalui batuan untuk mengisi pasokan yang ada.
Selanjutnya, analisis dari minyak yang yang dihasilkan menunjukkan bahwa usianya secara geologis berbeda dari minyak yang dihasilkan setelah kilang pertama dibuka. Dugaan kuat, minyak mentah yang baru, muncul dari sumber yang berbeda, sumber yang tidak bisa dijelaskan.
Baik ilmuwan maupun ahli geologi dari perusahaan minyak besar telah melihat bukti dan mengakui bahwa ladang minyak Pulau Eugene telah diisi ulang.
Sumber minyak dari suatu kedalaman di Pulau Eugene sangat mendukung teori Thomas Gold yang ditulis dalam bukunya The Deep Hot Biosphere. Gold menetapkan, “minyak bumi sebenarnya adalah aliran primordial terbarukan yang terus-menerus diproduksi oleh bumi dalam kondisi panas dan tekanan yang luar biasa. Ketika zat ini bermigrasi ke permukaan, ia diserbu oleh bakteri, sehingga minyak bumi tampak seperti memiliki asal usul organik dari zaman dinosaurus. “
Sumber minyak di Pulau Eugene serta gagasan Gold membuat insinyur perminyakan bertanya-tanya tentang situasi yang sama di ladang minyak Timur Tengah yang tak ada habisnya.
“Timur Tengah memiliki lebih dari dua kali lipat cadangan minyak dalam 20 tahun terakhir, meskipun setengah abad dieksploitasi dan penemuan baru relatif sedikit,” ujar Norman Hyne, seorang profesor di Universitas Tulsa, Oklahoma, AS. “Teori yang tak konvensional (teori abiogenik ) tentunya akan berubah menjadi benar,” katanya.

Kebohongan Keterbatasan Alam Dalam Produksi Minyak Bumi
Teori Peak Oil adalah kebohongan masif yang dirancang untuk menciptakan kelangkaan buatan demi mendongkrak harga, juga memberikan negara sebuah alasan untuk mengorbankan standar hidup yang telah kita perjuangkan dengan susah payah. Publisitas menciptakan CFR dan Club of Rome strategy manual sejak 30 tahun lalu mengatakan bahwa pemerintah global perlu mengontrol populasi dunia melalui neo-feodalisme dengan menciptakan kelangkaan buatan.
Sekarang arsitek sosial de-industrialisasi Amerika Serikat menyalahkan disintegrasi ekonomi kita pada kurangnya pasokan energi.
Sekarang ekonomi dunia telah menjadi begitu terpusat melalui operasi globalisasi, mereka akan terus mengkonsolidasikan dan menyalahkan pemakaian berlebihan atas bahan bakar yang bersumber dari fosil, sementara pada saat yang sama mereka juga menghalangi pengembangan dan integrasi teknologi bersih yang terbarukan.
Dengan kata lain, Sumber minyak bumi yang dinyatakan dari fosil mahluk hidup adalah kebohongan besar untuk menciptakan kelangkaan buatan dan mengendalikan harga . Sementara itu, teknologi bahan bakar alternatif yang telah ada selama beberapa dekade juga sengaja ditekan pengembangannya. Peak Oil adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh elit, oleh industri minyak, oleh orang-orang bahwa Anda akan berpikir puncak minyak akan membahayakan, kecuali itu adalah penutup untuk agenda lain.
Produksi Minyak Dunia Menurut Sekenario Peak Oil Theory
Dan begitulah realitanya dunia ini yang penuh dengan kepalsuan. Teori bahwa minyak bumi berasal dari sisa fosil biologis zaman dahulu memanglah sebuah kebohongan besar dari para elit zionis-Illuminati (yang memang sejak awal menguasai bisnis minyak, media, dan institusi pendidikan). Illuminati ingin menggunakan propaganda Peak Oil untuk menaikkan harga minyak dan mengeksekusi rencana depopulasi dunia mereka.
Saat harga minyak naik melewati kemampuan beli sejumlah besar negara, hanya negara-negara yang diizinkan hidup oleh Illuminati yang akan mendapatkan minyak. Beberapa milyar penduduk bumi akan dimusnahkan (depopulasi) secara kejam dalam kekacauan dan kepanikan akibat matinya industri dan perdagangan di dalam negeri mereka.
Mungkin bagi sangkaan orang awam, keuntungan penjualan minyak akan dinikmati oleh negara-negara penghasil minyak seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Libya dan Indonesia. Namun kenyataannya meskipun ladang produksi minyaknya ada di Arab Saudi dll, namun sebagian besar perusahaan penambang dan pengolah minyaknya dimiliki oleh perusahaan asing, Rockefeller beserta kolega-koleganya. Di Indonesia sendiri, 90% perusahaan minyak yang ada dimiliki oleh perusahaan asing. Maka jangan heran sebagai salah satu negara penghasil minyak, tidak ada sedikitpun jejak keuntungan besar yang diraup oleh negara ini. Sedikitpun dana yang ada belum terkorupsi, dana ini, dana itu yang tidak jelas kemana larinya. Yang jelas nikmatin ya mafia2 minyak itu, rakyat kecil kayak kita mah dianggap ngga perlu, yang penting beli BBM terus, dan sekarang dicabut subsidinya pula.
Saat ini, akibat propaganda Peak Oil, semua negara ramai-ramai mengembangkan minyak nabati yang disebut biofuel. Mereka menggunakan bahan pangan seperti jagung dan gula untuk membuat minyak baru. sekalipun mereka tahu energi yang diperlukan untuk memproduksi satu unit minyak biofuel lebih besar daripada energi yang kemudian bisa didapat dari satu unit minyak biofuel, rencana ini tetap jalan terus.
Selain itu, efek dari tindakan ini adalah mengurangi lahan pertanian untuk bahan pangan. Tanah pertanian yang sebenarnya untuk memproduksi bahan pangan sekarang sebagian dikonversi sebagai lahan pertanian yang produknya dipakai untuk membuat bahan baku biofuel. Salah satu penyebab kenaikan harga komoditi pertanian beberapa tahun terakhir ini adalah karena hal ini, dan kabar buruk bagi para kelas menengah dan orang miskin adalah intensitas program ini sekarang masih di tahap awal. Di tahun-tahun mendatang, akan ada semakin banyak lahan pertanian untuk memproduksi biofuel dan oleh sebab itu akan membuat pasokan bahan pangan menjadi semakin ketat, alias harga bahan pangan akan terus meningkat. …
food inflation menjadi perhatian para pengamat ekonomi, saya melihat dr perspektif lingkungan juga dan ternyata ada benang merahnya di teknik2 produksi GMO. Memperkecil lahan pertanian = menggantungkan hidup petani pada teknologi pertanian yg dikuasai asing, menjadikan lahan2 petani sbg industri trmsuk biofuel, kemudian kanibalisasi lahan dng menjadikan lahan pangan yg bergantung pd air tawar ke air asin. Saat ini ada ujicoba para insinyur monsanto membuat sawah di tepi pantai dng keramba spt rumput laut. its insane!

Beberapa Contoh Bukti Konspirasi Kebohongan tentang Kelangkaan Sumber Minyak
Inti dari masalah ini adalah bahwa jika minyak banyak di daerah-daerah di mana kita diberitahu oleh pemerintah dan perusahaan minyak yang tidak memiliki bukti yang jelas bahwa kelangkaan buatan disimulasikan dalam rangka untuk mendorong maju segudang agenda lainnya. Dan kami memiliki contoh nyata dimana hal ini telah terjadi.
Seperti pada perusahaan pengeboran minyak raksasa Chevron dan Texaco, mereka mendapat memo untuk sengaja menciptakan kelangkaan minyak dengan membatasi kapsitas produksi dengan menutup kilang minyak tertentu dengan alasan minyak telah habis di sumber tersebut. Ini adalah upaya lobi nasional yang dipimpin oleh American Petroleum Institute untuk mendorong perusahaan-perusahaan kilang minyak untuk melakukan hal ini.
” Sebuah memo internal yang Chevron menyatakan; “Seorang analis energi senior di konvensi API baru-baru ini memperingatkan bahwa meskipun industri minyak AS tidak mengurangi kapasitas penyulingan hal ini tidak akan menimbulkan peningkatan substansial dalam margin kilang.”
Memo ini semakin memperjelas bahwa gagasan untuk pengurangan dalam kapasitas penyulingan dan pembatasan dalam membuka kilang baru tidak datang dari organisasi lingkungan, seperti yang dikatan oleh para produsen minyak , tetapi melalui kebijakan yang disengaja dari mereka sendiri.

Keberadaan ladang minyak yang bisa memperbaharui pasokan sendiri menghancurkan mitos teori asal usul minyak.dan Jika minyak memang benar-benar berasal darizat anorganik alami maka bagaimana bisa dikatakan minyak adalah energi tak terbarukan ?
Masa depan minyak 
Hari ini kita dianjurkan habis-habisan oleh pemerintah untuk menghemat energi BBM, demi menyisakan energi dari minyak untuk anak cucu kita.Jika memang minyak benar-benar akan habis dalam beberapa puluh tahun lagi, mengapa sekarang cadangan minyak terus meningkat dan produksinya kian meroket ?
Tahu 1980-an OPEC memutuskan kuota produksi minyak didasarkan pada jumlah cadangan yang ada di negara masing-masing, semakin besar cadangannya maka semakin besar pula produksinya .BElakangan ini Arab Saudi melaporkan peningkatan cadangan minyak mentahnya sekitar 200 miliar barel. stok Minyak Saudi aman dan berlimpah , kata para pejabatnya.
Ada juga laporan bahwa Rusia telah mengalami peningkatan yang jauh lebih besar pada cadangan minyaknya bahkan melampaui Arab Saudi. Mengapa Rusia mengumumkan hal ini jika Rusia percaya bahwa cadangan minyak adalah terbatas?tampak jelas bahwa Rusia telah siap dengan produksi minyak tak terbats di masa depan
Yang jelas ada kontradiksi besar antara teori keterbatasan minyak dengan fakta peningkatan cadangan minyak
Tampaknya bahwa setiap kali ada semacam krisis energi, OPEC selalu meningkatkan produksi . Alasannya mereka melakukannya untuk menurunkan harga, namun harga selalu naik karena mereka juga menyebarluaskan mitos bahwa mereka menguras beberapa cadangan terakhir untuk pasar.
Bukti ilmiah juga sangat bertentangan dengan keterbatasan suplai minyak, baru-baru ini diperbarui dalam paper Ilmiah yang dimuat Dalam ‘Energia’ menunjukkan bahwa minyak adalah zat abiotik,dan bukanlah produk yang berasal dari materi biologis yang mengalami pembusukan berjuta-juta tahun lalu. Minyak, bukan sumber daya non-terbarukan. seperti batubara, dan gas alam, yang bisa terisi kembali dari sumber dalam perut bumi.
Rusia berhasil membuktikan kalau minyak bumi ternyata bukan dari fosil dan dapat diperbaharui karena berasal dari lapisan magma lebih di kedalaman lebih dari 30,000 kaki dan tidak ditemukan lapisan organik.
Tidak kebetulan kemudian bahwa Rusia, yang memelopori penelitian ini kemudian melakukan serangkaian proyek penggalian minyak bumi dengan kedalaman yang lebih jauh lagi 30.000 meter
Bukti-bukti bahwa minyak adalah bahan bakar abiotik (bukan fosil), dapat Anda pelajari dengan mencari informasi di internet. Anda bisa mengetik “abiotic oil” di search engine seperti google ataupun yahoo.

sumber : zilzaal dengan beberapa tambahan.

Minggu, 24 Agustus 2014

Jaga Perbatasan dengan RI, Malaysia Pakai Karya Ilmuwan Indonesia

Jaga Perbatasan dengan RI, Malaysia Pakai Karya Ilmuwan Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Banyak karya anak bangsa yang mendunia. Namun ironisnya, kurang dihargai di negeri sendiri. Akibatnya, banyak ilmuwan asal Tanah Air terpaksa hijrah ke luar negeri.

Salah satunya, Profesor Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, yang telah ratusan kali melakukan presentasi di berbagai negara dan mengantongi 120 hakpaten.

Pesawat terbang tanpa awak (PTTA), radar, dan satelit adalah teknologi yang telah membawa Guru besar Universitas Chiba, Jepang itu dikenal dunia Internasional.

Josh, begitu pria asal Bandung Jawa Barat ini dipanggil, dipercayakan Universitas Chiba mengelola dan mengepalai laboratorium sendiri bernama Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL). Di laboratorium itu, ia bersama beberapa rekannya melakukan riset dan rekayasa. Hasilnya, JX-1, PTTA atau UAV (unmanned aerial vehicle) ini menjadi terbesar yang dibuat di Asia. JX-1 rampung dibuat sejak 2012 lalu.

Karya yang ia kembangkan pun mendapat perhatian dari sejumlah negara, seperti Malaysia dan Jepang melalui program transfer teknologi. Josh menuturkan, sejak tahun 2010 Pemerintah Malaysia telah melakukan
kerjasama dengan dirinya melalui Japan Internasional Cooperation Agency-Japan Science and Technology Agency with Official Development Assistance atau JICA-JST ODA, program Pemerintah Jepang.

"Sejak 2010 saya bekerjasama dengan pemerintah Malaysia di bawah JICA-JST ODA, program pemerintah Jepang untuk transfer teknologi atau pembangunan. UAV bersensorkan Synthetic Aperture Radar (SAR). Di mana UAV SAR ini bekerja di frekuensi L Band yang dapat tembus awan dan hutan," ucap Josh kepada Liputan6.com, Jakarta (22/08/2014).

Josh menuturkan, sensor yang ia kembangkan ini merupakan bantuan pemerintah Jepang kepada pemerintah Malaysia. Sedangkan untuk teknologi frekuensi L Band dihasilkan langsung dari JMRSL, laboratorium miliknya tersebut.

PTTA atau UAV yang diminati pemerintah Malaysia ini pun telah berjalan dan rencana tahun 2015 telah selesai. Pemerintah Malaysia akan menggunakan PTTA tersebut untuk membantu menjaga tapal batas dengan Indonesia.

"Khusus untuk pemerintah Malaysia, yang dapat digunakan untuk pengamatan perbatasan Indonesia dan Malaysia," ungkap pria murah senyum ini. Josh juga berharap, Indonesia -- negaranya sendiri -- pun ke depan berminat mengaplikasikan teknologi yang ia kembangkan.

Selain PTTA, sejumlah kerjasama juga dilakukan bersama pemerintah Malaysia seperti pengembangan penginderaan jauh. Teknologi ini diharapkan bisa membantu pengamatan bencana alam di negeri jiran.

"Kerjasama lainnya adalah bantuan supervisi untuk pengolahan data SAR ini yang dapat mengetahui perubahan permukaan Bumi dengan akurasi milimeter dengan pengamatan dari jarak lebih dari 700 km dengan berbagai aplikasinya misalnya pengamatan tanah longsor, penurunan tanah, dan lain-lain di wilayah Malaysia berikut pengembangan SDM Malaysia," imbuhnya.

Synthetic Aperture Radar (SAR) adalah suatu bentuk radar yang digunakan untuk membuat gambar dari obyek, seperti landscape. SAR biasanya dipasang di pesawat atau pesawat luang angkasa dan berasal sebagai bentuk lanjutan dari Side Looking Airborne Radar (SLAR). Jarak perangkat SAR dikirimkan melalui Antenna Aperture.

Di teknologi ini Josh berhasil menciptakan antena tembus pandang (transparent antenna), antena mikrostrip yang dapat digunakan berkomunikasi dengan satelit dan berbagai jenis antena untuk keperluan mobile satellite communications. Dalam penelitian ini, ia bergabung dengan laboratorium Prof. Ito Koichi.

Selain itu banyak penemuan yang telah ia hasilkan, seperti circularly polarized synthetic aperture untuk PTTA, radar peramal cuaca 3 dimensi dan small satelite. Saat ini Josh bersama rekan dan mahasiswanya di Universitas Chiba mengembangkan JX-2, UAV model baru yang lebih canggih dan lebih ringan. (Ein)

Jumat, 22 Agustus 2014

Swandiri Institute, Pelopor Drone Desa

drone murah
Suasana di tempat kerja Swandiri Institute siang itu (12/8) begitu sibuk. Sejumlah perkakas tampak berserakan di meja-meja yang disusun memanjang di tengah ruangan. Beberapa kru terlihat serius memelototi layar monitor laptop di depannya. Sebagian lagi asyik dengan peranti berbentuk remote control.
Dari meja panjang itulah kru Swandiri Institute memproduksi pesawat tanpa awak atau drone. Di tangan anak-anak muda tersebut teknologi yang selama ini dikenal mahal itu bisa diaplikasikan dengan biaya terjangkau. Produksi mereka bisa lebih murah seratus kali lipat dibanding produksi impor yang dijual di pasaran.
Drone karya Swandiri Institute beberapa kali telah dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat luas. Mulai untuk memetakan tanah adat yang bermasalah sampai mengembangkan potensi wisata di daerah terpencil. Lantaran banyak diaplikasikan di desa-desa, pesawat dengan kamera pemotret itu kemudian populer dengan nama Drone Desa.
”Sebenarnya drone semacam itu banyak dijual di pasaran, namun dengan harga yang cukup mahal, bisa mencapai ratusan juta. Kami coba merancangnya sendiri dengan biaya supermurah, hanya sekitar Rp 3 juta,” ujar Irendra Radjawali, inisiator Drone Desa, saat ditemui di ”bengkel” Swandiri Institute di Jalan dr Wahidin, Pontianak.
Sebenarnya, Radja –panggilan Irendra Radjawali– selama ini bekerja dan menetap di Jerman. Namun, dua tahun lalu dia balik ke Indonesia dan tinggal di Pontianak. Dia sedang menggarap proyek penelitian ekologi. Bersama sejumlah aktivis lingkungan hidup, Radja melakukan riset-riset seputar ekologi sosial di Kalimantan Barat.
”Saat melakukan riset itulah, kami menemui beberapa kendala. Salah satunya tak bisa mengakses lokasi yang menjadi objek penelitian,” ujar pria kelahiran Malang tersebut.
Para peneliti dari Swandiri Institute juga sering terhalang izin masuk ke lahan perusahaan perkebunan. Padahal, sangat mungkin terjadi pembalakan liar di lahan tersebut. Dari problem-problem itulah muncul ide untuk melakukan pemantauan lokasi menggunakan pengamatan dari udara.
”Kami sempat terpikir untuk menggunakan helikopter, tapi ternyata biaya sewanya tidak murah,” ungkap Radja.
Pengamatan ekologi memang bisa dilakukan lewat citra satelit seperti halnya Google Maps. Namun, cara itu dinilai masih kurang akurat dan efisien. Maka, tercetuslah gagasan untuk menggunakan pesawat tanpa awak yang dikendalikan dengan remote control.
Salah satu kelemahan pemantauan lewat citra satelit adalah kurang bisa merekam objek dengan detail. Apalagi, beberapa pencitraan satelit masih sering terganggu awan. ”Kalau drone kan terbang di bawah awan, jadi bisa merekam lebih detail. Yang pasti biayanya jauh lebih murah,” jelasnya.
Alumnus Teknik Sipil ITB itu sempat bertemu temannya sealmamater yang bergerak dalam bisnis drone. Dia meminta bantuan agar dibuatkan drone dengan ”harga teman”. Namun, setelah dihitung, biaya pembuatan drone tersebut tetap tak terjangkau Swandiri Institute.
Teman Radja itu biasa menjual drone untuk perusahaan perkebunan di kisaran harga Rp 1,5 miliar. ”Harga teman yang disodorkan ternyata masih tinggi, sekitar Rp 300 juta. Jelas kami tidak mampu,” ujarnya.
”Lantaran mentok, akhirnya kami berinisiatif membuat sendiri drone yang diinginkan,” terang peraih gelar magister dari Universitas Paris 1 Pantheon-Sorbonne, Prancis, itu.
Mereka lantas belajar secara otodidak lewat buku-buku dan internet. Salah satunya dari YouTube dan aktif diskusi dalam forum Do It Your (DIY) Drone. Radja mengaku diuntungkan banyaknya perangkat drone yang open source.
Dengan begitu, dia bisa leluasa melakukan modifikasi untuk menghasilkan drone yang murah, namun dengan kualitas tak kalah dengan yang berharga ratusan juta. ”Dari forum itu saya juga bisa mendapatkan komponen-komponen dari Tiongkok dengan kualitas bagus,” terangnya.
Radja berhasil membuat drone pertama saat pulang ke Jerman. Di negara itu dia sekaligus melakukan uji coba lapangan. ”Ketika itu musim salju. Saya harus berjam-jam di luar rumah untuk mencoba drone,” kisahnya.
Dalam tempo tiga minggu Radja berhasil merancang drone buatan sendiri dengan bodi kayu. ”Saya menghabiskan biaya sekitar 400 euro (Rp 6.240.000 dengan kurs 1 euro = Rp 15.600), tapi itu mahalnya untuk beli komponen otopilot asli dari Amerika,” papar pria kelahiran 8 September tersebut.
Belakangan komponen yang paling penting itu sudah diproduksi di Tiongkok. Harganya pun jauh lebih terjangkau. Dengan begitu, harga pembuatan drone-drone berikutnya pun bisa ditekan hingga sekitar Rp 3 juta.
Drone pertama buatan Radja kemudian dibawa ke Indonesia untuk diujicobakan pada proyek-proyek penelitian Swandiri. ”Di bandara saya sempat mengalami kendala. Drone yang saya bawa sempat dikira bom,” ujar kandidat doktor dari Bremen University itu.
Sesampai di Indonesia, drone model helikopter tersebut diujicobakan di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Di sana pemerintah daerahnya membutuhkan perekaman gambar dari udara untuk mempromosikan pariwisata alam.
Perekaman gambar itu dilakukan dengan menempatkan kamera poket Canon Powershot S100. Kamera berteknologi GPS itu dia beli second dengan harga Rp 700 ribu. Hasilnya tidak mengecewakan. Pemkab Kayong Utara pun puas.
Setelah drone pertama sukses, Radja dan awak Swandiri terus melakukan pengembangan dan penyempurnaan. Sampai sekarang mereka telah memproduksi delapan unit drone, baik berbentuk pesawat maupun helikopter.
”Kami ingin drone yang lebih efisien dan lebih murah. Sampai bahan tali kolor pun kami gunakan,” kelakar Radja sembari menunjukkan drone jenis pesawat yang menggunakan tali kolor untuk menahan beban beberapa peranti elektronik.
Beberapa drone itu telah berhasil digunakan untuk sejumlah proyek sosial di sejumlah wilayah di tanah air. Di antaranya untuk memotret daerah terpencil di Kalimantan, juga dipakai di Biak, Bali, dan Nusa Tenggara Timur.
”Alat ini kami gunakan untuk membantu masyarakat. Misalnya untuk memetakan hutan adat yang bermasalah dengan perusahaan perkebunan,” terang Radja.
Sejauh ini Swandiri memanfaatkan drone itu untuk proyek-proyek nonkomersial. ”Sudah pernah ada seorang pengusaha yang datang meminta bantuan drone, tapi kami tolak. Sebab, drone kami untuk keperluan nonkomersial,” ungkapnya.
Arif Munandar, teman Radja, menambahkan bahwa drone ala Swandiri Institute tersebut juga tidak bermaksud menghilangkan pemetaan partisipatif yang selama ini dilakukan masyarakat adat.
Sebab, menurut dia, hal itu sama dengan menghilangkan nilai-nilai positif yang ada dalam masyarakat.
”Kami hanya membantu mempermudah pemetaan partisipatif yang dilakukan warga. Jika tanpa drone pemetaan satu desa bisa satu tahun, kini hanya dengan beberapa jam,” paparnya.
Drone karya Swandiri mampu terbang hingga 2,5 jam dengan ketinggian 300 meter. Dalam satu jam, drone itu memiliki daya jelajah 100–400 hektare. ”Daya jelajahnya bergantung jenis drone-nya,” jelas Arif.
Meski berhasil membantu masyarakat pedesaan, perjalanan Radja dan timnya membuat drone bukannya tak menemui rintangan. Sebab, beberapa kali pesawat nirawak itu jatuh karena faktor human error.
”Saat di Biak, pesawat kami jatuh di hutan. Tapi, karena titik koordinat terakhirnya masih terekam, kami bisa menemukannya kembali,” kenang Arif.
Pernah juga saat digunakan untuk merekam pulau terluar di Kalimantan Barat, pesawat jatuh ke laut. Radja optimistis, jika pemerintah ingin memanfaatkan drone murah meriah itu untuk kepentingan pemantauan udara terkait pembalakan liar dan pencurian ikan di laut Indonesia, pihaknya bersedia membantu pengadaannya. ”Kami juga bersedia berbagi ilmu, khususnya pembuatan drone ini,” tegas dia.
[sumber : jpnn.com]

Rabu, 20 Agustus 2014

Ricky Elson : 7 tahun lalu, selama 3 tahun..


by Ricky Elson
Saya terlibat dalam pengembangan dan perancangan High Speed Rotation Motor..
Saat itu masih dianggap "main main" oleh sebagian Petinggi Perusahaan tempat saya bekerja
●Note● di tempat saya dulu bekerja dibagian RnD,
Segala kegiatan yg tidak menghasilkan uang dan hanya menghabiskan uang  dipukul rata sebagai "Asobi"atau "main main" ***

Ukurannya sedikit lebih besar dari Motor (*** bahasa anak2 nya Dinamo) penggerak Tamiya.
D40mm, L40mm, weight: 250g dengan power 3kW lebih.
Motor ini dipakai sebagai penggerak RC Plane(pesawat control mainan) type F5B,
yg mampu terbang dgn kecepatan max:400km/h, dgn berat system 2kg.
Alhamdulillaah, hasil perjuangan Team selama 4 tahun, menghantarkan kami menjadi Juara Dunia Kontes F5B 2010 di Amerika, dengan Pilot(pengontrol) dari Itali. Remo Frattini.
Sebenarnya, tujuan pengembangan teknologi ini adalah memecahkan rekor F1 engine power Weight ratio, 10kWh/kg untuk nanti diterapkan sebagai penggerak kendaraan Listrik yg berukuran kecil.
Namun hari ini, Separuh hati sedih tak terkira, ketika mendapat informasi bahwa
sebuah perusahaan Italy, 4 tahun kemudian melakukan pencapaian teknologi yg sama,
60kW dengan 6 kg, dan 120000rpm peak, rate at 100000rpm..
Dan separo nya Riang gembira, ternyata trend masa depan Teknologi kendaraan berbasis Penggerak Mesin Listrik akan menggunakan mesin mesin seperti imaginasi saya 8tahun yg lalu,
dan sekarang sudah ada yg membuktikan.

Alhamdulillaah, teknologi tsb masih tersimpan rapi didalam dada ini..
harapan untuk membuat generator pembangkit listrik dg tenaga Angin/Air/ArusLaut/Geothermal dll dgn
Rate 5kW to 10 kW/kg..bukanlah mimpi lagi, tetapi sesuatu yg insyaaAllaah bisa diwujudkan..

Tinggal berkolaborasi dgn team Mas Arfi'an Fuadi, mendesainkan Shaft dan penyangga Bantalan sistem Ultra High Speed Rotation, yg mampu berputar 100000rpm lebih, tentu saja dgn cooling system, dan tak kalah pentingnya desain low-friction Planetary Gearbox System, untuk menurunkan kecepatan tsb hingga ke titik hingga 1000rpm..hehehe

Semangat lagi mendesain High Speed Motor dan Generator...
kita bikin GUNDAM EXIA double O .. hahaha, ini mah benaran mimpi...

Lara dan bahagia itu... datang berdampingan...
Ciheras, 20140803...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost