Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Oktober 2014

Ini Dia Kabinet Kerja, Kerja, Kerja, Sedikit Drama sebelum Kerja.


SELALU saja ada drama dalam penyusunan kabinet baru. Dulu ada "drama Nila Moeloek" yang batal jadi menteri kesehatan di detik-detik akhir. Kini ada "drama Ara" yang batal jadi menteri komunikasi dan informatika (Menkominfo). Kalau Nila Moeloek dikaitkan dengan isu tes psikologi, Ara (sapaan akrab Maruarar Sirait) dikaitkan dengan restu Megawati. Atau restu Puan Maharani. Kalau Nila Moeloek kini akhirnya diangkat Presiden Jokowi jadi menteri kesehatan, Ara tentu tinggal tunggu takdir berikutnya. Ini karena kedekatan Ara dengan Presiden Jokowi tidak diragukan lagi. 


Semua itu disebut "drama" karena Nila sudah telanjur masuk siaran langsung berbagai televisi saat dipanggil ke kediaman Presiden SBY di Cikeas. Dan yang sekarang ini juga disebut drama karena Ara sudah dipanggil, sudah dikirimi baju putih, bahkan sudah dikenakannya pula dan sudah siap-siap menuju istana pula. Drama Ara jauh lebih seru daripada drama Nila karena kalau hanya dipanggil, kali ini pun Prof Komaruddin Hidayat juga dipanggil dan Prof Saldi Isra juga sudah telanjur dipanggil.

Maka, bagi yang sudah masuk daftar lalu namanya hilang, itu belum termasuk drama. Tidak perlu gusar. Tarik-menarik, tekan-menekan, timbul-tenggelam pasti mewarnai proses penyusunan kabinet. Sampai detik terakhir. Presiden baru siapa pun akan mengalaminya.

Itulah sebabnya, ketika hari Minggu pagi lalu running text TV menyebutkan susunan kabinet sudah 100 persen, saya tidak percaya. Pasti masih akan ada perubahan. Ada siapa lagi yang tergeser ke mana lagi di detik-detik terakhirnya.

Wiranto harus keluar daftar. Akibatnya, harus ada tokoh Hanura lainnya yang masuk. Tentu bukan untuk pos yang ditinggalkan Wiranto. Masuklah ke pos yang masih agak layak: perindustrian. Akibatnya, Rachmat Gobel yang sudah sangat pas di situ harus bergeser ke perdagangan. Mahendra Siregar pun harus terhapus dari daftar. Maka, dua Batak yang sudah hampir pasti, dua-duanya hilang.

Memang begitu banyak nama yang harus ditampung. Padahal, kursinya terbatas. Aspek etnis, aspek timur-barat, Islam-Kristen-Hindu-Buddha, pria-wanita, tua-muda, profesional-politisi, dan banyak lagi harus ditampung semua. Takdirlah yang ikut bicara. Padahal, masih banyak yang belum "kebagian". Suku Batak, misalnya, belum terwakili.

Jadi, Ara gak usah khawatir. Pasti akan dipikirkan yang terbaik. Dia mampu. Dia muda. Dia berjasa. Dia Batak. Dan jangan lupa, Jokowi menang 70 persen di tanah Batak. Bahkan di beberapa kabupaten mendekati 80 persen. Minang saja yang di Sumbar Jokowi kalah paling telak dapat jatah beberapa kursi. Intinya, bagi yang belum kebagian kursi, jangan sedih. Apalagi bagi yang seperti saya, yang masuk daftar pun tidak. Sama sekali tidak boleh masygul. "

Sejak dulu saya sangat percaya takdir. Siapa tahu Komaruddin pun, yang sudah dipanggil kemarin, bisa seperti Nila yang cantik itu, jadi menteri lima tahun lagi. Tentu saya bangga tiga CEO BUMN jadi menteri: Ignasius Jonan, Arif Yahya, dan Sudirman Said. Tiga-tiganya memiliki kemampuan manajerial yang tangguh. Sebenarnya, kalau tidak harus mengakomodasi berbagai hal tadi, masih banyak CEO BUMN yang "layak menteri". Kalau mau 15 lagi pun masih ada.

Saya sendiri besok sudah berangkat ke Lombok, Bima, lalu jalan darat ke Dompu, Tambora, dan Sumbawa Besar. Saya juga harus langsung kerja, kerja, kerja. Seperti moto lama saya. (* )

Dahlan Iskan sahabatku Pemimpinku

Minggu, 24 Agustus 2014

Zamzani Sutriyanto : Zaken Kabinet


MAHKAMAH KONSTITUSI telah menolak semua materi gugatan kubu Prabowo-Hatta. Artinya, secara konstitusi, Jokowi-JK telah memenangkan Pilpres 2014. Jokowi-JK yang akan memerintah negeri tercinta ini pada 2014-2019. Memang masih akan ada proses politik di DPR dan MPR. Tapi yakinlah, itu tidak akan bisa menghalangi pelantikan Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI pada Oktober nanti.
Sempat ada kekhawatiran, akan terjadi demo besar-besaran dan bahkan kerusuhan, pasca keputusan MK. Tapi Alhamdulillah, semua itu tidak terjadi. Meski sempat terjadi letupan kecil, itu masih dalam batas toleransi di alam demokrasi yang sehat.
Patut diapresiasi juga upaya Jokowi menurunkan tensi politik pasca keputusan MK. Dia segera menggelar jumpa pers. “Tidak perlu ada rekonsiliasi. Toh, tidak ada masalah apa-apa. Pak Prabowo dan Pak Hatta itu sahabat saya. Saya bisa ketemu kapan pun. Di kalangan akar rumput juga kondusif. Sama sekali tidak ada gejolak,” tegas Jokowi.
Ekspektasi yang begitu besar terhadap kepemimpinan Jokowi harus dijawab dengan kinerja. Kinerja yng baik dan profesional. Mampu mengedepankan kepentingan rakyat di atas apapun. Mampu membawa Indonesia menjadi lebih baik. Lebih mandiri, lebih bermartabat, dan yang tidak kalah penting, rakyatnya harus lebih sejahtera.
Banyak kalangan menilai, sukses tidaknya kepemimpinan Jokowi, sangat bergantung bagaimana dia menyusun dan memilih orang-orang yang akan duduk di kabinet pembantunya. Seperti halnya Pak Harto saat awal memerintah dulu, Jokowi harus mampu membuat garis batas yang jelas dengan anasir lama. Berani untuk tidak memilih figur-figur pro status quo dan anasir lama. Berani untuk tidak memilih figur yang punya beban masa lalu.
Jokowi harus mampu membuktikan kemampuan dan kepiwaiannya dalam memilih dan menempatkan seseorang. The right man on the right place. Mampu melihat rekam jejak, kompetensi, dan integritas, figur-figur yang layak diangkatnya sebagai menteri. Figur menteri yang benar-benar mampu membantu jalannya pemerintahan yang kelak dipimpinnya.
Selain itu, Jokowi harus bisa membuktikan janjinya. Bahwa dia akan membentuk kabinet profesional. Kabinet ahli. Bukan kabinet transaksional. Bukan pula kabinet dagang sapi. Wacana, ketika politisi diangkat sebagai menteri harus melepas jabatannya di parpol, sebaiknya dilaksanakan. Karena sudah pasti, akan terjadi conflict interest mana kala figur menteri juga merangkap jabatan di parpol.
Salam Demi Indonesia!
by Zamzani Sutriyanto

Selasa, 21 Januari 2014

DEBAT CAPRES KONVENSI PARTAI DEMOKRAT (Medan).

Medan 21 January 2014

Pertanyaan PERTAMA untuk Capres:
Soal pertumbuhan ekonomi bagi masa depan Indonesia.

PEW: Pertumbuhan ekonomi harus minimal 6 persen, dengan kemandirian pangan dan energi.

Dahlan Iskan: Indonesia sudah membuktikan bisa bangkit cepat. Ke depan akan lebih cepat lagi. Saya mau ikut konvensi karena tidak mau arah pembangunan dibelok-belokkan lagi. Strategi pembangunan ke depan harus membangun Sumatera. Sumatera memiliki banyak keunggulan lebih hebat dari Jawa. Sumatera menjadi tumpuan pembangunan energi dan pangan masa depan. Masalah pada Sumatera adalah infrastruktur yang belum memadai. Maka mau tidak mau, suka tidak suka, Sumatera harus dibangun untuk Indonesia masa depan.

Hayono Isman: Saya ingin lanjutkan program Pak SBY. saya ingin menjadikan petani sebagai profesi kelas 1, bukan kelas 2.

Gita Wirjawan: Demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Birokrasi harus berubah untuk menjamin demokrasi. Penyakit korupsi harus diberantas. Ketahanan pangan, energi, infrastruktur, harus dibarengi dengan birokrasi yang tidak korup. Kemiskinan harus diturunkan. Yang mengurusi bidang produksi pangan dan energi tidak boleh orang partai.

Irman Gusman (IG): indonesia harus membangun daerah. Memberantas kebodohan dan kemiskinan harus diatasi untuk Indonesia lebih baik. Kebijakan ekonomi harus bertumpu pd kemandirian pangan dan energi.

Ali Masykur Musa: ... (Kurang bisa memanfaatkan waktu 3 menit untuk presentasi, karena terlalu banyak kata-kata pembuka).

DEBAT CAPRES KONVENSI DEMOKRAT (Medan)
Pertanyaan KEDUA, kalau pak Dahlan menjadi Presiden, apa konsep menghadapi pasar bebas.

Dahlan Iskan : Saya tidak puas kalau Indonesia hanya bisa jadi pasar global.
Dahlan Iskan : Saya akan manfaatkan kelebihan Indonesia sebagai negara tropis sebagai kekuatan.
Dahlan Iskan : Kita galakkan buah tropis untuk banjiri negara empat musim.
Dahlan Iskan : Kita selalu menilai Tiongkok sebagai pesaing. Padahal, kita bisa saling mengisi pasar Tiongkok.
Dahlan Iskan : Saya sudah buktikan, buah tropis bisa ekspor ke negara empat musim. Ini akan ditingkatkan terus.

Hayono : Kita harus angkat derajat buruh dan petani. Kita undang investor asing
Hayono : Tapi investor asing tidak boleh menurunkan derajat buruh dan petani.

Ali Masykur Musa : Indonesia dalam globalisasi harus naikkan anggaran riset untuk keunggulan Indonesia.
Ali MM : Indonesia harus jadi negara industri.

Irman G : Pasar bebas mulai 2015 harus diantisipasi dengan bangun pusat pertumbuhan baru
Irman G : Inovasi teknologi untuk menjadi keunggulan daya saing Indonesia
Irman G : Pengembangan SDM harus dilakukan.

Gita W : Menghargai kontrak2 internasional.
Gita W : Menggalakkan produk dalam negeri.
Gita W : Insentif pengusaha dalam negeri harus dilakukan.

PEW : Sumber daya alam tidak bisa jadi keunggulan Indonesia. Ini salah besar.
PEW : Generasi muda Indonesia harus kenal Indonesia dengan semua potensinya.

DEBAT CAPRES KONVENSI DEMOKRAT (Medan)
Pertanyaan KETIGA bagi Capres adalah Komitmen pada Demokrasi.

Hayono : Pancasila harus ditanamkan kepada seluruh generasi.

Ali MM : Demokrasi tidak boleh memonopoli, tidak boleh melakukan oligarki.

Irman G : Konsep demokrasi Indonesia sudah baik. Kita hanya perlu keteladanan pemimpin.

Gita : Empat pilar demokrasi Indonesia harus dipertahankan.
Gita : Demokrasi harus memberi jaminan siapa pun tidak menindas satu sama lain.
Gita : Budaya urun rembuk harus dihidupkan agar tidak ada yang menindas satu sama lain. Itulah demokrasi.

PEW: Indonesia berbeda dengan negara lain. Demikian juga demokrasinya.

Dahlan Iskan : Demokrasi intinya adalah kesejahteraan. Maka, demokrasi harus menjadi alat menyejahterakan rakyat.
Dahlan Iskan : Demokrasi dalam budaya rakyat Sumut pantas diaplikasikan secara nasional, yakni aqidah dijamin, perbedaan dijamin.

DEBAT CAPRES KONVENSI DEMOKRAT (Medan)
Sesi 2, Pertanyaan KEEMPAT tentang komitmen terhadap Sumatera Utara. Bagaimana konsep untuk mengatasi bencana Sinabung.

Ali MM: Bencana alam tidak hanya bencana nasional tapi juga bencana lingkungan karena salah kelola.
Ali MM: Saya akan moratorium izin tambang yang diobral seperti kacang goreng.
Ali MM: Sumber daya alam bukan milik kita, bukan milik pemerintah sekarang. Maka, jaga lingkungan untuk anak cucu
Ali MM: Mengatasi Sinabung harus diatasi gotong royong.

Irman G: Sinabung harus menjadi bencana nasional supaya bisa ada solusi komprehensif

Gita W: Keluhan pengungsi adalah hilangnya lahan karena lahan sadah tertutup.
Gita W: Bencana Sinabung harus dinyatakan sebagai bencana nasional.

PEW: Dukung BNPB sebagai ujung tombak dalam penanganan bencana.
PEW: Pemda harus buat rencana setelah bencana ini selesai.

Dahlan Iskan : TNI, Polri, BNPB, gereja, masjid, punya peran sangat besar. Sikap ini perlu diapresiasi.
Dahlan Iskan : Mengatasi bencana masa depan adalah soal ilmu pengetahuan.
Dahlan Iskan : Sampai saat ini tidak ada yang bisa memastikan kapan erupsi selesai. Ketidakpastian ini harus dicari jalan keluar dengan ilmu pengetahuan.

Hayono: Kita tidak mau belajar dari alam. Ke depan harus mengubah paradigma.

DEBAT CAPRES KONVENSI DEMOKRAT (Medan)
Sesi 2, Pertanyaan KELIMA tentang komitmen terhadap Sumatera Utara.
Pertanyaan KELIMA untuk calon presiden, soal krisis listrik di Sumut. Apa yang dilakukan.

Irman G : Konsep penyediaan listrik di tiap daerah harus spesifik. Jangan semua terpola dari pusat.
Irman G : Sumatera Utara harus menggunakan sumber daya lokalnya untuk jadi lumbung energi.

Gita W : Mengatasi sumber listrik butuh pemimpin yang menjamin pembebasan lahan.
Gita W : Pemimpin masa depan harus menjamin suku bunga murah. Malaysia bunga 1 persen. Kita 14 persen.
Gita : Pemimpin harus bisa pastikan harga jualnya masuk dalam skema harga yang ditetapkan.

PEW : Sumut punya potensi air, tapi izinnya sulitnya bukan main. Pemda harus punya perhatian.
PEW : Pemda harus melakukan komunikasi dengan pusat dan rakyat agar semua bisa sadar pentingnya listrik bagi Sumut.

Dahlan Iskan : Kalau malam ini Medan tidak mati listrik, karena SBY dan pemerintah sepakat tidak memperpanjang kontrak Inalum dengan Jepang.
Dahlan Iskan : Begitu Inalum kembali ke pangkuan RI, besoknya Inalum langsung mengalirkan listrik untuk warga Sumut.
Dahlan Iskan : Sekarang kita punya pembangkit besar di Pangkalan Susu. Tapi butuh 4 tiang karena masalah izin dan lahan.
Dahlan Iskan : Kalau saya jadi presiden, saya akan teken saja karena investasi yang sangat besar itu kalah hanya oleh 4 tiang saja.

Hayono: Green energy perlu digalakkan. Saya imbau tidak ada lagi yg memaku pohon2. Sebab pohon adalah masa depan kita.

Ali MM: Kalau saya jadi presiden, harus ada kebijakan soal proyek untuk kepentingan umum.
Ali MM: Alihkan subsidi listrik agar masyarakat miskin menikmati subsidi, jangan subsidi dinikmati orang kaya.

Kamis, 02 Januari 2014

Memahami Berita Global TV tentang Dahlan Iskan



Menyelami sebuah masalah memang harus dengan hati yang paling dalam agar analisa yang dibuat akan sampai pada pokok masalahnya.

Menganalisa Program acara : Buletin Indonesia Siang di Global TV jam 11.30, Tanggal : 1 Januari 2014, Dahlan Iskan diberitakan capres dari konvensi Demokrat yang berpoligami 

Mengapa para relawan Dahlan Iskan begitu marah terhadap acara tersebut? tentu karena isi berita yang disampaikan tidak benar. Perlu diingat Global TV adalah TV Nasional yang bisa ditonton di seluruh indonesia. Kalangan yang menonton tayangan global TV juga beragam sehingga daya serap dan filter yang dimiliki tidak sama.

Tentu untuk kita yang sudah mengenal Dahlan Iskan dengan baik akan dengan mudah mencerna ini ada kepentingan politik, bukan semata berita. tapi ada agenda khusus yang berusaha membentuk opini negatif tentang Dahlan Iskan.

Untuk orang yang tidak mengenal Dahlan Iskan tentu ini menjadi input negatif yang akan menimbulkan benih-benih ketidaksukaan terhadap beliau.

Sedangkan untuk Dahlan Iskan haters ini adalah salah satu issu yang bisa dijadikan untuk memojokan Dahlan Iskan atau membenarkan yang selama ini mereka pikir benar.

Bantahan dari produser eksekutif Buletin Indonesia Siang yang memastikan tidak ada agenda apapun dibalik berita tersebut tidak bisa serta merta kasus selesai. Walaupun TV Global memberikan kesempatan untuk menayangkan hak jawab pak Dahlan Iskan.

Ini bukan masalah umum seperti halnya selebritis, Masalah sudahkah Global TV mengumpulkan data dan sumber yang dapat dipercaya? Adakah cross check dengan yang bersangkutan (dalam hal ini Bapak Dahlan Iskan). 

Fakta dilapangan sangat mudah dirunut ;
1. Raden Nuh adalah Caleg Hanura sebagai Admin TM2000. Banyak referensi sampai bukti rekaman pembicaraan.
2. Dua hari berturut-turut media MNC group pimpinan Hary Tanoe, yakni Koran Sindo dan Global buat berita miring yang mengiring opini negatif tentang Dahlan Iskan. Sindo buat Head Line di halaman dalam dengan judul besar : Istana Mulai Usut Korupsi Dahlan. Berisi pertemuan Dipo Alam dengan pengacara TM2000.

Cara paling elegan kampanye adalah dengan menonjolkan kemampuan diri sendiri, bukannya dengan cara menyebar fitnah dan keburukan orang lain.

Politik fitnah dan propaganda negatif itu tidak akan bisa efektif. Apalagi TM2000 bersembunyi di dalam partai politik tertentu. Masyarakat akan dengan mudah melihat bahwa TM2000 di dalangi oleh parpol tertentu untuk menyebar fitnah yang sampai sekarang belum pernah bisa di buktikan.

Tapi Percayalah hitam atau putih sebuah kampanye merupakan sebuah proses yang harus dilalui. Kampanye hitam yang dilakukan oleh TM2000 malah akan membantu banyak dalam mendongkrak elektabilitas Dahlan Iskan. Tentu kita harus memberikan penjelasan yang benar sebagai sebuah jawaban.

TM2000 akan merasakan bahwa kejelekan yang di buatnya justru menghancurkan partainya sendiri. Semua fitnah yang tidak bisa di buktikan justru akan merugikan partainya sendiri.

Kedepan politik harus di buat cerdas dengan menampilkan kebijakan dan kerja keras yang bisa di buktikan hasilnya buat rakyat. Kerja....Kerja....Kerja...

Disadari atau tidak Relawan Dahlan Iskan akan lebih solid dengan adanya serangan ini.

Salam  Demi Indonesia

Sopyan.thamrin

Jumat, 27 Desember 2013

Dahlan Iskan dan Tulisan Capres 2014, Mana Gagasanmu?



Diskusi figur tanpa melihat ide merupakan cermin dari masyarakat Indonesia yang masih melihat sampul ketimbang isi, mengutamakan penampilan ketimbang kapasitas.

Marilah memilih pemimpin karena kapasitas, gagasan dan kinerjanya, Janganlah memilih berdasarkan rupa semata, kesukaan semata jangan sampai seperti tong kosong nyaring bunyinya.

Pilihlah capres yang memiliki setumpuk gagasan yang cemerlang, punya visi yang terang benderang. Memahami secara real problem Indonesia yang ada, mengetahui alternative pemecahan masalah, angka-angka masalah Negara sudah diluar kepala, tahu skala prioritas yang harus dibangun.

Sayang disayang sebagian kita sudah terlena dengan berita-berita remeh temeh. Dalam politik hitam bisa menjadi putih begitu juga sebaliknya.

Melihat carut marutnya negeri ini nampaknya Dahlan Iskan yang mampu menguntai kembali benang kusut yang sudah kadung jelimet.

Kemampuan beliau sudah terbukti mampu membuat BUMN semakin bersinar, multi problem sedikit demi sedikit terpecahkan. Ratusan perusahaan dengan ribuan masalah bukan hal yang mudah, tanpa kemampuan managerial dan startegi yang baik ini adalah hal yang sulit terwujud.

Beberapa BUMN bahkan sudah mampu berlari walaupun sebagian masih tertinggal karena warisan problem yang kini harus ditanggung Dahlan Iskan.

Jangan sia-siakan suaramu untuk pilihan yang salah di 2014, sekali terpeleset maka kita akan mengalami kembali seperti tahun-tahun sebelumnya.

Semoga 2014 adalah awal dari segala perubahan, awal dari Indonesia Maju.

salam Demi Indonesia

Capres 2014, Mana Gagasanmu?

Ridwansyah Yusuf Achmad - detikNews
Jakarta - Jelang 2014, pembicaraan di berbagai jejaring sosial dan warung kopi mulai mengarah kepada siapa bakal calon presiden Indonesia selanjutnya. Namun pembicaraan itu banyak berkutat pada figur personal, bukan pada apa gagasan dan ideologi. Diskusi figur tanpa melihat ide merupakan cermin dari masyarakat Indonesia yang masih melihat sampul ketimbang isi, mengutamakan penampilan ketimbang kapasitas. Selama seseorang itu menyenangkan dilihat dan bisa menyentuh hati, dialah yang akan dipilih.

Ironisnya, parpol yang menjadi pengusung bakal calon presiden pun juga hanya mengandalkan citra personal. Bung Karno pernah berkata, Sebuah partai harus dipimpin oleh ide, menghikmati ide, memikul ide, dan membumikan ide." Parpol terjebak pada realita bahwa tokoh yang diusung harus seorang yang menarik dan mampu menggaet pasar pemilih. Inilah saya kira, ketika politik disamakan dengan bisnis maka akan berdampak pada minimnya kualitas gagasan yang dibawa tentang bagaimana memajukan Indonesia. Ada kesalahan logika bila memaknai kampanye parpol sebagai political marketing yang cenderung pragmatis, bukan sebagai arena kontestasi gagasan masa depan.

Minimnya diskusi gagasan ini bukan hanya terkait dengan budaya Indonesia yang cenderung menghindari debat, tetapi juga dikarenakan rendahnya kemampuan para bakal calon presiden dan parpol pengusung dalam membaca pola sejarah, menjabarkan tantangan masa kini dan menajamkan gagasan ke depan. Akibatnya, publik tidak memiliki visualisasi tentang bagaimana hidup mereka dan nasib Indonesia bila nantinya memiliki presiden A atau B.

Bila kita bertanya pada publik, apakah ada perbedaan kebijakan jika kelak capres yang terpilih dari Demokrat, Golkar, PKS, atau PDIP? Apakah BBM akan naik atau turun bila mereka memimpin? Atau bagaimana konsep pembangunan sumber daya manusia ke depan? Saya prediksi, publik belum bisa menjawabnya karena para capres tidak memberikan gambaran kebijakan secara jelas. Mereka hanya bermain pada pencitraan, gembar-gembor quote yang menarik hati, serta rangkaian iklan yang cenderung monoton. Dalam forum terbuka atau media massa pun, mereka kerap bermain dengan pernyataan normatif: pendidikan Indonesia lebih berdaya saing, pembangunan industri berkelanjutan, tatakelola pemerintah berbasis good governance, atau ekonomi yang mengutamakan rakyat kecil. Atau sekedar jargon tanpa bentuk seperti Negara Kesejahteraan, Indonesia Unggul, atau Indonesia yang Lebih Baik.

Pernyataan semacam itu bukanlah gagasan yang ingin didengar oleh publik, tetapi publik ingin mendengar dan juga perlu dibiasakan- tentang berapa persen pajak yang harus dibayar ketika mereka buka usaha, sejauh mana subsidi kesehatan bagi kelas bawah dan menengah, bagaimana strategi ekonomi agar kurs rupiah menguat terhadap Dollar Amerika, atau tentang bagaimana skema pembangunan desa versi capres pasca disahkannya UU Desa pekan lalu. Bila diskusi semacam ini dilakukan oleh para capres, maka perdebatan mengenai strategi jitu membangun Indonesia bisa lebih dirasakan oleh publik.

Perbedaan gagasan antara capres sejatinya bisa menjadi kesempatan bagi presiden terpilih kelak untuk mematangkan konsep pengelolaan negeri ini. Selama masa kampanye, seorang capres dituntut untuk mampu memiliki data akurat, memetakan tantangan secara jelas, dan mengolahnya menjadi strategi jitu dalam membangun Indonesia. Sehingga, perang dalam pemilu adalah perang pemikiran dan gagasan, bukan perang media dan pencitraan. Jangan sampai pemilihan presiden republik ini tak ubahnya pemilihan Idol yang hanya berbasiskan wajah, kesukaan sikap, atau sekedar suara tanpa isi.

Pemilu adalah kontestasi gagasan, bukan arena ajang adu bakat mencitrakan diri. Saya kira, publik juga sudah muak dengan ribuan spanduk, baliho, dan poster yang hanya berisikan wajah berukuran besar dengan sedikit sekali informasi mengenai program apa yang ia bawa. Pemilihan presiden adalah wahana untuk merapatkan rakyat dalam menentukan masa depan Indonesia. Rakyat perlu digiring untuk mendukung gagasan, bukan sosok rupawan.

Selasar Pendopo Babakan Siliwangi, 26 Desember 2013

Keterangan: Penulis adalah pemerhati politik ekonomi.

Sabtu, 30 November 2013

Dahlan Iskan : Konvensi Demokrat bukan untuk elektabilitas

Dahlan Iskan. (ANTARA/Sigid Kurniawan)


Ini jawaban Dahlan Iskan dari banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiran kita. Mengapa Demokrat?? Mengapa tidak partai lain?? mengapa tidak Independet??

"Ada pemimpin yang tidak berkualitas tapi bisa diterima atau populer. Ada pemimpin yang tidak bisa diterima, tapi berkualitas. Nah, konvensi itu mengawinkan keduanya" - 
----------------------------------

Konvensi Demokrat bukan untuk elektabilitas

Surabaya (ANTARA News) - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, menegaskan bahwa Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat yang diikutinya bukan untuk mendongkrak elektabilitas partai, seperti prediksi pengamat.

"Konvensi itu bukan untuk elektabilitas seperti kata pengamat, tapi berangkat dari keprihatinan Pak SBY tentang mudahnya terpilih pemimpin bangsa yang tidak berkualitas," katanya di Surabaya, Sabtu.

Di hadapan 400-an mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) dalam "Seri Kuliah Kepresidenan" oleh Departemen Mata Kuliah Umum (MKU), ia menjelaskan, Konvensi Capres Demokrat itu ingin mengawinkan dua fakta.

"Ada pemimpin yang tidak berkualitas tapi bisa diterima atau populer. Ada pemimpin yang tidak bisa diterima, tapi berkualitas. Nah, konvensi itu mengawinkan keduanya," katanya.

Jadi, menurut wartawan senior itu, target konvensi adalah lahirnya pemimpin berkualitas yang bisa diterima (populer).

"Itu penting, karena demokrasi kita masih menyamakan antara suara profesor atau rektor dengan suara penganggur, padahal itu tidak adil, karena itu konvensi menjadi sarana penyaring," katanya.

Bahkan, kata mantan Dirut PT PLN itu, peserta Konvensi Capres Demokrat itu tidak dipilih begitu saja, melainkan didasarkan survei terhadap 250 guru besar dan doktor dari universitas se-Indonesia.

"Sayangnya, nama-nama yang tersaring tidak semuanya mau menerima undangan konvensi itu, bahkan saya sendiri mau menerimanya dalam satu hingga dua hari menjelang berakhirnya pendaftaran peserta konvensi," katanya.

Pendiri Jawa Pos Grup itu mengemukakan, dirinya memutuskan untuk menerima karena tokoh yang dijagokan justru mendorong dirinya.

"Saya mengusulkan Pak Chairul Tandjung," katanya.

Selain itu, dirinya juga mendaftar agak terlambat karena dirinya memang tidak mau mendaftarkan diri, kecuali diperintah.

"Saya benar-benar tidak mau mendaftar, tapi Presiden akhirnya meminta," katanya.

Namun, katanya, ada dua alasan yang membuat dirinya mantap, yakni tujuan konvensi untuk menggabungkan kualitas dan popularitas, serta kemajuan Indonesia sudah berjalan sesuai "rel" yang tepat.

"Kalau rel itu kita ikuti, maka bukan tidak mungkin akan menempatkan Indonesia sebagai negara maju nomor sembilan dalam enam tahun ke depan. Nah, saya terpanggil agar rel itu tidak belok-belok," katanya.

Menurut dia, jika bukan karena alasan itu, maka dirinya tidak akan mau menjadi capres.

"Emangnya enak jadi presiden? Saya tahu sendiri bahwa presiden itu dihujat ke mana-mana," katanya.

Bahkan, katanya, jika diharuskan memilih, maka dirinya akan memilih untuk menjadi orang bebas.

"Terus terang, jadi menteri atau jadi Dirut PT PLN itu juga sempat saya tolak," katanya.

Namun, ia akhirnya mau menerimanya, karena semua keberatannya dapat "dipatahkan" Presiden Yudhoyono.

"Misalnya, saya bukan insinyur atau ekonom, tapi Pak SBY bilang kalau butuh manajer dan leader," katanya.

Dalam kesempatan itu, Rektor Ubaya, Prof Joni Parung, menegaskan bahwa mata kuliah umum (MKU) Seri Kuliah Kepresidenan dimaksudkan untuk memberi ruang dialog mahasiswa dengan para calon pemimpin bangsa.

"Kalau kami mengundang Pak Dahlan Iskan, karena beliau merupakan sosok yang multikultur, seperti Ubaya yang 35 hingga 40 persen mahasiswa dari luar Surabaya dan provinsi se-Indonesia terwakili," katanya.

Selain di Ubaya, Menteri BUMN Dahlan Iskan juga mengikuti senam di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), lalu menghadiri seminar yang merupakan rangkaian dari "Airlangga Ideas Competition" dan meninjau pameran hasil karya mahasiswa Fakultas Farmasi Unair. (*)


http://www.antaranews.com/berita/407433/konvensi-demokrat-bukan-untuk-elektabilitas

Minggu, 13 Oktober 2013

Lukman Bin Saleh : Membungkam para pecundang


Photo dukument tribunnews.com

Mendadak mereka membisu. Sebelumnya berteriak lantang. Menuntut menteri yang ikut konvensi mengundurkan diri. Dengan alasan: para menteri tidak bisa fokus lagi bekerja.

Mengapa hanya menteri? Bukankah yang ikut konvensi ada ketua DPR, kepala daerah, dan anggota BPK?

Nampak jelas terlihat dari teriakan mereka. Bahwa sesungguhnya mereka sebenarnya tidak bicara “fokus kerja.” Tapi meneriakkan ketakutannya akan kekuatan sang menteri. Takut akan kekalahan. Kekalahan mereka atau kekalahan tuan mereka.

Lihatlah para pecundang itu. Tiba-tiba bungkam. Diam seribu bahasa. Tatkala Dahlan Iskan dengan tegas mengatakan: “Lebih baik aku mengundurkan diri dari konvensi daripada mundur jadi menteri.”

Dimana “fokus kerja” yang kalian teriakkan kemarin? Kaget ya mendengar jawaban Dahlan Iskan? Gak nyangka ya kalau syahwat politik Dahlan Iskan tak setinggi yang difikirkan otak ngeres kalian?

Ketahuilah. Dahlan Iskan itu orang waras. Tidak seperti kalian yang mendadak gila. Sehingga pribahasa yang kalian pelajari sejak bangku SD pun dilupa. Bukankah dulu dan mungkin sampai sekarang kalian hapal ini: “Harapkan burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan.” Dahlan Iskan yang waras itu masih ingat ini. Tidak seperti kalian.

Tatkala kalian berteriak lantang kemarin. Ketahuilah menteri yang kalian teriaki itu adalah orang pondok pesantren. Logika orang pondok pesantren akan menertawai logika politisi kacangan seperti kalian.

Orang pondok pesantren itu berpegang pada kaidah ushul fiqih ini: “Segala sesuatu pada asalnya boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” Inilah logika berfikir mereka. Dan adakah tata tertib konvensi yang mengharuskan seorang menteri mundur jika ikut konvensi?

Atau kalian ingin membuat tata tertib baru? Tata tertib setelah permainan mulai?

Ah... justru itu membuat kalian semakin lucu dan tampak semakin bodoh. Bukankah di mana-mana di dunia ini, yang namanya tata tertib pasti selalu dibuat sebelum permainan dimulai? ***

Jumat, 11 Oktober 2013

Dahlan Iskan Mampu Imbangi Jokowi



Sesuai prediksi saya dulu, Dahlan Iskan terbukti tak tertandingi. Setiap kali lembaga survei merilis hasilnya, Dahlan selalu berada di puncak. Artinya, tiket capres Partai Demokrat hampir pasti akan menjadi miliknya.

Rilis hasil survei Pusat Data Bersatu (PDB) membuktikan itu. Dahlan paling unggul di antara para peserta konvensi capres Partai Demokrat. Dalam persaingan bakal capres peserta konvensi, popularitas dan tingkat penerimaan publik (akseptabilitas) Dahlan menduduki posisi puncak. Popularitas Menteri Badan Usaha Milik Negara itu mencapai 71,2 persen. 

Bandingkan dengan popularitas Dahlan saat ditetapkan sebagai peserta konvensi yang baru mencapai 55 persen. Sementara akseptabilitasnya mencapai 48,4 persen. Responden kagum dengan Dahlan karena aksinya yang cepat tanggap menangani persolan BUMN.

Di posisi kedua ada Marzuki Alie dengan popularitas 61, 7 persen dan akseptabilitasnya 24,8 persen. Di posisi ketiga dan keempat bersaing dua jago bakal capres lainnya yakni adik ipar Presiden Ydhoyono, Pramono Edhie Wibowo dan Anis Baswedan.

Dalam persaingan popularitas Pramono lebih unggul ketimbang Anies yakni masing-masing mengantongi 39,4 dan 39,2 persen. Namun dalam survei akseptabilitas, Anies ungguli Pramono. Akseptabilitas Anies sebesar 18,8 persen, sementara Pramono 12,6 persen.

Ketika ditandingkan dengan bakal capres non-konvensi, Dahlan Iskan juga berhasil menyodok pada urutan ketiga. Dia berhasil mengungguli bakal capres senior yang selama ini selalu di atasnya. Seperti Jusuf Kalla, Wiranto, Aburizal Bakrie, Mahfud MD, dan Megawati.

Selengkapnya hasil survei PDB dari segi elektabilitas. Dalam survei elektabilitas capres ini jokowi tetap memimpin dengan angka angka 36 persen. Sedangkan Prabowo (6,6), Dahlan Iskan (5,0), Jusuf Kalla (4,6), Wiranto (4,0), Aburizal Bakrie (3,0), Mahfud MD (2,4), dan Megawati (2,0).

Direktur PDB, Didik Rachbini menduga tingginya tingkat popularitas, akseptabilitas, dan elektabilitas Dahlan hingga sanggup menyaingi kekuatan bakal capres non-konvensi lantaran para responden banyak yang kepincut rekam jejak bekas Direktur Utama PLN itu. Aksi cepat tanggap Dahlan dalam menyelesaikan persoalan negara jadi nilai plus baginya. “Masyarakat bersimpati pada beliau,” kata Didik.

Jika kita mau mencermati lebih jauh. Trend elektabilitas Jokowi, Prabowo, dan bakal capres senior lainnya mengalami penurunan. Sementara trend elektabilitas Dahlan malah naik. Pada hasil survei sebelumnya, elektabilitas Jokowi sekitar 45 persen dan Prabowo 20 persen. Sedangkan Dahlan sekitar 2-3 persen.

Kecenderungan elektabilitas bakal capres ini menarik untuk selalu kita monitor dan analisa. Dunia politik sangat dinamis. Bisa saja bakal capres yang dulunya selalu merajai menjadi turun dan bahkan tenggelam. Kita ingat pada 2012, survei bakal capres selalu menempatkan Prabowo sebagai rajanya. Nah, tahun 2013 jokowi berhasil mengambil alih posisi Prabowo itu dengan selalu menjadi pemuncak. Tak tertutup kemungkinan pada 2014 dan menjelang pilpres, Dahlan Iskan yang akan melejit dan merajai survei.

Lagian, sampai saat ini PDIP juga belum mengumumkan capresnya secara resmi. Artinya, Jokowi masih belum tentu dicapreskan PDIP. Info terakhir, hasil pertemuan Megawati, para senior, dan lingkaran dalam PDIP di Batutulis Bogor, memutuskan untuk kembali mengusung Megawati sebagai Capres PDIP. Jokowi diminta untuk menyelesaikan dan memenuhi janjinya untuk memimpin DKI Jakarta selama 5 tahun. Jokowi dinilai masih belum matang dan baru bisa sebatas sebagai solidarity maker belaka. Padahal, persoalan negeri ini sangat kompleks dan Megawati serta elit PDIP tidak mau Indonesia menjadi negara gagal.

Menarik kita ikuti dinamika dan pertarungan politik menjelang Pilpres 2014. Semoga kita tidak salah dalam memilih pemimpin untuk memastikan kelangsungan dan eksitensi negara serta upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Salam
Zamzani Sutriyanto

Kamis, 10 Oktober 2013

Dahlan Iskan Puncaki Survei, Panitia Konvensi: Dia Seperti Gelandang Serang


Jakarta - Survei Pusat Data Bersatu (PDB) menempatkan Dahlan Iskan teratas di kalangan peserta konvensi capres Partai Demokrat (PD). Dahlan pun disebut seperti gelandang serang.

"Pak Dahlan memang gayanya kalau main bola seperti gelandang. Dia sudah sering muncul di publik. Tapi yang lain-lain (peserta konvensi) sedang melakukan penetrasinya," kata Jubir Komite Konvensi Capres PD Hinca Pandjaitan, Kamis (10/10/2013).

Hinca berbicara di sela pembekalan caleg PD di Hotel Sahid, Jakarta. Dirinya menuturkan, memang dalam konvensi harus ada pembagian strategi seperti dalam sepakbola. Tidak mungkin semuanya berposisi menjadi penyerang.

"Mereka tidak boleh semua di depan gawang. Harus menyebar. Maka komite akan menentukan siapa strikernya, siapa pemain belakang. Itu baru akan ditentukan dua kali survei, akhir Desember dan akhir April," tutur Hinca.

Dirinya menegaskan, konvensi PD bermaksud menemukan capres, bukan cawapres. "Kita berpikir, dari 11 capres ini biar ditentukan masyarakat," ujarnya.

PDB menggunakan metode random sampling dengan telepolling kepada 500 responden dari 10 kota besar di Indonesia. Tingkat kepercayaan pada survei ini mencapai 95%.

Berikut adalah hasil survei PDB dilihat dari akseptabilitas capres:
1. Joko Widodo: 79,2%
2. Jusuf Kalla: 62,2%
3. Dahlan Iskan: 48,4%
4. Prabowo Subianto: 47%
5. Mahfud MD: 44,2%
6. Wiranto: 39,6%
7. Hatta Rajasa: 38%
8. Megawati Soekarno Putri: 36%
9. Aburizal Bakrie: 29%
10. Marzuki Alie: 24,4%
11. Anies Baswedan: 18,8%
12. Pramono Edhie Wibowo: 12,6%
13. Gita Wirjawan: 11%
14. Hayono Isman: 10,2%
15. Dino Patti Jalal: 8,6%
16. Endriartono Sutarto: 7,6%
17. Ali Maskur Musa: 5,4%
18. Sinyo Harry Sarundajang: 4,8%
19. Irman Gusman: 4,6%

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost