Tampilkan postingan dengan label Tulisan Dahlanis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan Dahlanis. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2015

Lukman Bin Saleh : Harga Murah Dahlan Iskan Empat Tahun Kemudian

Diperiksanya Dahlan Iskan untuk kasus pengadaan BBM Solar high speed diesel (HSD) kemarin membuat saya teringat cerita warga Blega-Madura empat tahun yang lalu.
Heboh. Sejumlah warga berdemo ke kantor PLN setempat. Warga memblokade jalan utama trans Madura. Tidak ketinggalan DPRD Bangkalan turun tangan dan memanggil pejabat PLN setempat.
Tuntutan pendemo tidak kalah hebohnya. Mereka demo karena PLN menurunkan biaya penyambungan listrik. Logika mereka, kalau sekarang begitu murah, berarti yang dulu-dulu kemahalan. PLN harus mengembalikan uang selisih yang dulu-dulu itu.
Memang gebrakan Dahlan Iskan saat itu membuat orang seluruh Indonesia kaget melihat murahnya biaya penyambungan listrik. Tapi, hanya di Blega yang menuntut pengembalian uang kemahalan di masa lalu.
Padahal menurut Dahlan Iskan. PLN sebenarnya tidak menurunkan biaya penyambungan, malah sedikit dinaikkan. Tapi terkesan diturunkan karena PLN menerapkan tarif resmi. Kalau sebelumnya biaya penyambungan bisa  3 juta, 4 juta, 5 juta, atau bahkan puluhan juta. Tergantung deal dengan calo. Dahlan Iskan bisa menekannya menjadi 650 ribu saat, terutama setelah membabat 2 juta daftar tunggu yang telah membeku puluhan tahun. Dan ini ternyata membuat orang marah. Demo.
Sekarang kasus itu terulang lagi. Bukan demo sih. Tapi intinya sama. Murah yang membuat marah, seperti judul tulisan Dahlan iskan saat itu. Juga bukan warga Blega lagi pelakunya, tapi Kepolisian Republik Indonesia.
Kejadian bermula pada tahun 2010 saat Dahlan Iskan menjabat Dirut PLN. PLN membutuhkan 9 juta ton solar. Selama ini PLN diharuskan membeli langsung di Pertamina. Sebagai bentuk sinergi antar BUMN. Harganya lebih mahal dari pasaran.
Berkali-kali PLN meminta menyesuaikan harga jual tapi tidak pernah ditanggapi Pertamina. PLN kemudian membuat terobosan (kemungkinan juga bentuk protes). Sebanyak 2 juta ton dari total 9 juta ton solar yang dibutuhkan ditender. Sedangkan 7 juta ton tetap dibeli dari Pertamina.
Tender 2 juta ton itu terbuka untuk produsen BBM dalam negeri maupun asing. Tender 2 juta ton dipecah menjadi 5 paket. Kemudian Pertamina berhasil memenangkan 1 paket. 4 paket lainnya dimenangkan asing: Shell.
Meski demikian PLN tidak serta merta membeli dari Shell, karena Shell adalah produsen asing. Harga terendah yang ditawarkan Shell sehingga menang tender ditawarkan dulu kepada produsen dalam negeri.
Selanjutnya dari 4 tender yang dimenangi Shell, 2 tender diambil alih Pertamina dan 2 diambil Trans Pacific Petrochemical/TPPI (perusahaan dalam negeri yang 70% sahamnya dikuasai pemerintah).
Dengan demikian terjadi perbedaan harga pembelian BBM yang dilakukan langsung dengan yang ditender. Terobosan Dahlan Iskan melalui tender menguntungkan PLN. Mampu menghemat pengeluaran dibanding dengan cara konvensional membeli langsung ke Pertamiana.
Sampai di sini saya tidak mengerti apa yang dipermasalahkan Polri. Kalau masyarakat Blega marah karena harga berubah terlalu murah masih bisa  dimengerti. Tapi kalau Polri marah karena Dahlan Iskan membeli lebih murah, logikanya bagaimana sehingga dikatakan korupsi?
Ada sogokkah? Suapkah? Gratifikasi? Atau apalah-apalah? Tapi masak Pertamina menyogok Dahlan Iskan karena dia membeli lebih murah? Atau Dahlan Iskan menyebabkan kerugian negara, laba Pertamina dan TPPI berkurang? Waah…lebih tidak logis lagi. Apa hubungannya Dirut PLN dengan laba Pertamina dan TPPI?
Atau akan dituduhkan pasal penyalah gunaan wewenang karena membuat terobosan yang tidak ada dasar hukumnya seperti yang dilakukan Deny Indrayana? Tetap disalahkan bagaimanapun besar manfaat terobosan itu?
Warga Blega yang marah empat tahun lalu membuat saya tersenyum geli, tapi marah karena murah yang sekarang membuat saya sakit gigi.
(Sebenarnya ingin bilang sakit hati, tapi pura-pura sabar karena sedang puasa). *LBS*

Senin, 08 Juni 2015

Lukman Bin Saleh : Diskresi itu Masih di Jalan Pak Dahlan

Karena dibangun atas dasar marah dan dendam atas maraknya kasus KKN. Konon undang-undang ini menjelma menjadi undang-undang anti korupsi terketat sejagad. Itulah UU Nomor 31 tahun 1999. Pengertian korupsi pada UU ini paling luas di dunia. Sangat mudah menjadikan orang tersangka. Kita tidak perlu benar-benar korupsi untuk bisa dijerat dengan pasal-pasalnya. 

Misalnya seorang kepala daerah mengelola bantuan sosial untuk masyarakat pesisir yang terkena abrasi pantai. Sebelum dana itu tersalurkan, tiba-tiba terjadi banjir bandang. Karena darurat, sang kepala daerah mengalihkan dana itu untuk menangani banjir bandang. Hal semacam ini bisa menyeret sang kepala daerah masuk penjara.

Ratusan penyelenggara negara menjadi korban UU Tipikor. Termasuk kasus mantan Menkum HAM, Deny Indrayana. Dijadikan tersangka oleh Bareskrim POLRI. Gara-gara membuat terobosan dalam pengurusan paspor. Untuk membuat paspor lebih cepat, murah, mudah dan memberantas percaloan, dibuatlah inovasi pebayaran paspor elektronik (payment gateway).

Hanya gara-gara masyarakat dikenakan biaya 5 ribu rupiah untuk membayar jasa penyedia sistem jaringan pembayaran online dan dana pebayaran paspor mengendap beberapa hari di bank, Deny Indrayana menjadi tersangka. Sebelumnya pembayaran paspor dilakukan di kantor imigrasi secara manual. Yang tidak jarang membuat atrean sampai berjam-jam hanya untuk membayar dan rentan percaloan.

Aparat penegak hukum tidak peduli seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh masyarakat atas terobosan tersebut. Aparat hanya melihat pasal-pasal UU Tipikor. Bahwa terobosan Deny Indrayana itu tidak ada dasar hukumnya. Menyalahi kewenangan dan merugikan negara. Dan ini termasuk korupsi.

Terakhir dan yang sedang heboh sekarang adalah kasus Dahlan Iskan yang dijadikan tersangka oleh Kejati DKI Jakarta. Jangan dibayangkan Dahlan Iskan menerima gratifikasi, suap atau kongkalikong dalam kasus tersebut. Sebelas-duabelas dengan Deny indrayana. Dahlan Iskan hanya membuat kebijakan membangun gardu induk untuk mengatasi krisis listrik saat itu. Tapi belakangan sebagian gardu induk itu terbengkalai pelaksanaanya. Entah terkendala pembebasan lahan, tidak ada anggaran atau kontraktor nakal. Dahlan Iskan menjadi tersangka korupsi.

Proyek itu dimulai tahun 2011 dan seharusnya sudah rampung tahun 2013. Dahlan Iskan sendiri berhenti menjadi Dirut PLN dipenghujung tahun 2011 karena diangkat menjadi Menteri BUMN oleh Presiden SBY. Dia hanya membuat kebijakan dan menandatangani persetujuan mulainya proyek. Tidak sempat mengawal proyek itu secara langsung sampai selesai.

Dari contoh kasus Dahlan Iskan ini kita bisa bayangkan betapa bahayanya situasi yang dihadapi seorang pejabat. Misalnya seorang kepala daerah membuat satu proyek. Sebelum proyek itu selesai masa jabatannya lebih dahulu berakhir. Sukur-sukur kalau berhasil lagi memenangi Pilkada. Kalau kalah dan penerusnya tidak mau melanjutkan proyek tersebut dengan berbagai alasan. Apalagi sengaja tidak dilanjutkan karena intrik politik. Hal ini tentu sangat memprihatinkan.

Sudah lama situasi seperti ini menjadi keprihatinan beberapa kalangan. Mulai dari akademisi, pemerintah, dan legeislatif. Sejak pemerintahan SBY. Pejabat tidak berani membuat kebijakan. Birokrasi semakin lambat, pembangunan semakin lamban. Hingga dibuat UU Administrasi Pemerintahan (UU Adpem No. 30 tahun 2014). Dengan UU ini, ke depannya suatu kebijakan penyelenggara negara tidak bisa dikriminalisasi lagi.

Dalam UU ini diatur tentang diskresi. Yaitu membolehkan pejabat publik melakukan sebuah kebijakan melanggar UU atau membuat kebijakan yang UU sendiri belum mengaturnya secara tegas. Dengan tiga syarat. Yakni demi kepentingan umum, masih dalam batas wilayah kewenangannya, dan tidak melanggar asas-asas pemerintahan yang baik. Pejabat bebas dalam mengambil keputusan menurut pertimbangannya sendiri. Baik dengan meminta izin atasan atau dilaksanakan sendiri.

Sayangnya sampai saat ini UU tersebut belum disahkan. Masih dalam tahap sosialisasi oleh Kemenpan RB. Sehingga korban-korban dari pejabat yang sebetulnya baik dan kreatif terus bertambah.

Seperti yang dikatakan Wakil ketua DPR, Fachri Hamzah yang menyayangkan penetapan status tersangka terhadap Dahlan Iskan. Dahlan Iskan menurutnya adalah orang yang banyak inisiatif dan rajin membuat terobosan. Karena dia seorang pembisnis. Dan UU Tipikor tidak ramah dengan orang-orang seperti ini.

Fachri Hamzah menyarankan agar UU Tipikor lebih gamblang. Sehingga yang disasar bukan orang yang berbuat salah tapi orang yang berbuat jahat.

Nasi telah menjadi bubur. Dahlan Iskan, Deny Indrayana dan pejabat-pejabat baik lainnya telah menjadi tersangka dan terpidana. Mereka juga telah menyatakan bertanggung jawab. Tidak akan menyalahkan siapa-siapa.

Mereka telah jauh berlari di depan. UU Adpem yang mengatur tentang diskresi masih belum disahkan. Masih dalam perjalanan. Lambat berjalan. *LBS*

Jumat, 29 Mei 2015

DWO : Penulis 30 Miliar Segera Diperiksa KPK


Buku trilogi Ahok (karya saya) berbiaya APBD DKI 2015 Rp 30 miliar, akhirnya dinyatakan: Selesai. Petinggi KPK, kemarin mengatakan, itu kasus percobaan korupsi. Belum korupsi. Maka, saya tidak diperiksa. Tapi, saya bakal diperiksa di penulisan buku lainnya. Waduh…
----------------------------
Kronologis buku Rp 30 miliar demikian. Kronologis ini saya tulis, sebab: 1) Tidak lagi berpengaruh terhadap perkara hukum yang sedang berproses. Kasusnya dianggap selesai. Jika saya tulis kemarin-kemarin, bisa mempengaruhi proses hukum yang sedang berlangsung.

2) Barangkali ini bermanfaat bagi pekerja professional lain, kalau-kalau anda menerima pekerjaan yang kemudian diketahui: Biayanya dari APBD/APBN. Contohnya: Pelawak Mandra, akhirnya jadi tersangka korupsi.


Akhir November 2014 saya dihubungi seorang tokoh masyarakat, sebut saja “X” (identitas saya rahasiakan, sebab beliau kini dalam proses hukum untuk kasus lain). Akhirnya kami ketemu di sebuah restaurant internasional di Jakarta Barat.

X : Bisakah Pak Djono menuliskan buku biografi Gubernur DKI Ahok?

Sy : Siap, pak. Itu pekerjaan saya.

X : Tapi, saya minta cepat, selesai sebulan. Sanggup?

Sy : Biografi minimal tiga bulan, pak.

X : Usahakan-lah… sebulan lebih sedikit.

Saya diam, mengkalkulasi waktu. Kalau hanya menulis, target waktu itu bisa dikejar. Tapi, untuk mendekati Ahok guna wawancara, tidak mungkin dalam sepekan. Butuh waktu lebih. Kecuali kalau Ahok sendiri yang meminta.

Saat saya masih berpikir, dia anggap saya setuju. Dia segera lanjut.

X : Bentuknya trilogi (3 buku). Dua anda tulis, satunya ditulis orang saya.

Sy : Mengapa bukan saya semuanya?

X : Biar orang saya belajar dari anda.

Sy : Okay, sebulan setengah. Asal, dalam sepekan ini anda atur pertemuan saya dengan pak Ahok.

Lantas, tawar-menawar sengit soal honor. Disepakati Rp 110 juta per buku, total Rp 220 juta. Tanpa cetak. Hanya penulisan dan layout, sampai jadi master CD siap cetak. Sistem pembayaran, 30 persen dibayar dimuka saat deal (tanda tangan kontrak), 40 persen saat pekerjaan capai 50 persen, sisanya saat pekerjaan selesai.

Ternyata, pembayaran dimuka tidak segera cair. Mr X juga kesulitan mempertemukan saya dengan Ahok. Sementara, saya tetap menyiapkan data, foto-foto, kontak disainer, layouter, yg semuanya berbiaya. Sebab, saya kenal beliau orang yg serius.

Kata Mr X, Ahok enggan diwawancarai, khawatir dikira publik sebagai pencitraan. Tapi, honor 30 persen dibayarkan ke saya cash pada 9 Januari 2015. Saat itu juga kontrak mulai berjalan, sampai 45 hari ke depan. Saat itu juga saya berkirim surat ke Pak Ahok, minta waktu wawancara.

Ternyata Pak Ahok memang ogah diwawancarai, jika untuk buku beliau. Kalau untuk konsumsi pemberitaan media massa, beliau tak keberatan.

Ya, sudah. Saya terus menulis berdasarkan berbagai sumber. Bukan dari narasumber utama: Ahok.

Pada 24 Januari 2015 saya serahkan 50 persen pekerjaan (dua buku) ke Mr X untuk dikoreksi. Ada dua item koreksi, segera saya koreksi dan hasilnya saya serahkan ke beliau lagi. Berarti pembayaran termin ke-2 molor.

Pada pertengahan Februari 2015 muncul berita bahwa buku trilogi Ahok (ternyata) dibiayai APBD DKI 2015 senilai Rp 30 miliar, atau masing-masing Rp 10 miliar per buku. Hebatnya, judul tiga buku itu persis sama dengan yg saya tulis. Mestinya judul ini hanya diketahui saya, pemberi order, dan layouter.

Pencetus berita ini adalah anggota DPRD DKI. Tujuannya, jelas menghantam Ahok (membuat biografi pribadi dengan biaya APBD).

Ahok pun kaget dan berang. “Kalau saya mau membuat biografi, pasti gunakan uang saya pribadi,” katanya. Dia segera laporkan kasus ini ke KPK. Lalu diusut KPK. Hasilnya, Ahok tidak terlibat. Sedangkan saya tidak jadi diperiksa, karena belum ada uang negara yang hilang.

Lolos Buku Ahok, Terjerat Buku Lain

Bebas dari buku Ahok, ternyata ada info, saya akan diperiksa KPK untuk pembuatan buku lainnya. Busyet… apa pula ini? “Ingat gak pak, bahwa kita pernah menulis buku Sejarah Batavia?” tanya DN, kawan saya, wartawan koran Sinar Harapan, tadi malam.

Ya… ya… ya… Pada November 2013 saya dikontak kawan WN, wartawan koran Kompas. Dia mendapatkan pekerjaan penulisan 6 judul buku, serial Sejarah Batavia.

WN: “Anda saya minta jadi editor sekaligus pengarah isi lima buku, dan penulis langsung untuk satu buku lainnya. Apakah anda bersedia?” tanya WN. Jawab saya: “Siap…”

Tim pewawancara dalam lima buku adalah DN, wartawan Sinar Harapan, BY dan AG, sama-sama wartawan Pos Kota, VR, wartawan Detik.com, AS, wartawan Indo Pos.

Saya berperan sebagai perancang isi, pembuat daftar pertanyaan untuk wawancara dengan narasumber, editor hasil wawancara, dan menulis langsung satu buku berjudul: “Dari Rezim ke Rezim” (serial Sejarah Batavia).

Proyek ini datang dari “Y” yang berhubungan langsung dengan WN. Nilai kontrak total Rp 390 juta (masing-masing buku Rp 65 juta) hanya untuk penulisan. Tanpa cetak. Bagian saya Rp 75 juta. Pekerjaan selesai dalam dua bulan, sesuai kontrak.

Enam buku itu kemudian menjadi koleksi perpustakaan di semua SMA di Jakarta sejak pertengahn 2014. Sebagian dipasarkan di toko buku.

Sepekan lalu saya membaca berita di beberapa media massa, bahwa buku serial Sejarah Batavia bermasalah. Buku itu ternyata dibiayai APBD DKI senilai puluhan miliar rupiah. Diduga terjadi mark up, sehingga merugikan negara. Alamaaak…

VR (anggota tim penulis) sudah diperiksa belasan jam di KPK, akhir pekan lalu. Saya sudah dikontak teman-teman anggota tim, agar siap-siap diperiksa KPK. “Kalau anda diperiksa nanti, katakan apa adanya,” pesan DN.

Repotnya, untuk penulisan buku ini saya tidak pegang bukti pembayaran honor. Padahal, nilai uang penting disini. Bukti pembayaran kontrak hanya dipegang WN selaku penerima pekerjaan dari Y. Sedangkan WN bayar ke saya dan teman-teman anggota tim, tanpa tanda terima, karena kami semua kawan akrab.

Hikmah dari semua kejadian ini bagi saya: Korupsi bisa menyeret siapa saja. Minimal, diperiksa KPK. Apakah saya dan kawan-kawan bakal dibui atau tidak, kita lihat saja hasil akhirnya. (Jkt, 12/04/15)

Kamis, 26 Februari 2015

Mulyana Ahmad: Di CIHERAS Saya Merasa Sedih

Di CIHERAS Saya Merasa Sedih By Mulyana Ahmad

Rasa lelah dan ngantuk akibat dari perjalanan malam hari Bogor – Ciheras langsung sirna ketika kami sudah menemukan “Padepokan Lentera Angin”. Bukan kerana indahnya pantai selatan atau indahnya perjalanan berkelok-kelok yang kami lalui, tapi karena kami sudah bertemu dengan Uda Ricky Elson, Team Lentera Angin yang sedang mengabdi di ciheras dan teman-teman dari Dompet Dhuafa.

Tidak menunggu lama, “penari langit” berputar keras, ombak laut berdebur berirama seolah menyambut kedatangan kami. Torino sipenyiram bunga, si Ming-ming, Cemonk and the genk berlari-lari menyambut kami. Seolah kami adalah tamu yang sedang dinantikan. Mereka semua membuat kami merasa tersanjung.

Kue Nastar, Teh tarik panas, kopi bakar dari Malaysia baru separuh diminum, tamu dari Dompet Dhuafa datang setelah bermalam terlebih dahulu di kota Tasikmalaya. Perasaan saya dan Team NanoInti masih biasa-biasa saja ketika taaruf perkenalan. Perasaan terharu mulai menyelimuti benak kami ketika mereka bercerita telah berkeliling indonesia dan menyaksikan separuh rakyat indonesia belum memiliki akses terhadap air bersih. Masih banyak masyarakat yang harus berjalan 3 jam perjalanan naik turun bukit demi mendapatkan 2 jerigen air bersih, anak-nak, Ibu-ibu habis separuh harinya untuk air bersih dan itu dilakukan setiap hari sepanjang tahun dan hanya berhenti ketika air hujan turun. Sebagian masyarakat lagi terpaksa m enggunakan air sungai untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya. Di sungai itulah mereka minum, mandi, nyuci, dan maaf disitu juga mereka buang hajat kecil dan besar. Bukannya mereka malas tidak membuat sumur, tapi air sumur tidak ada airnya meski dibor dengan kedalaman 120 meter. Ada juga sumur, tetapi isinya air gambut dan air garam. Cerita ini diperkuat lagi oleh Uda Ricky Elson dan team yang terpaksa harus meminum air payau di kepulauan terpencil, air minum yang mengandung air gambut yang membuat gigi keropos dan menghitam, air untuk bersuci (wudlu) yang lengket dimuka dan tangan plus pengalaman mencret-mencret dan sakit kemih karena meminum air seperti itu dalam waktu lumayan lama. DISINI KAMI MULAI MERASA SEDIH.

Tidak sedikit upaya yang telah dilakukan oleh Team Dompet Dhuafa. Mereka telah menyalurkan bantuan dalam bentuk sumur air bor, mobil tanki air bahakan RO System. Tapi mereka merasa belum maksimal dalam jumlah penyaluran dan teknologi yang mereka pilih. Untuk itu mereka pun mengunjungi beberapa negara seperti India, Thailand, China, timur-tengah dll demi sebuah teknologi pengolahan air bersih paling ideal untuk masyarakat indonesia. Merekapun menyebutkan beberapa teknologi terpilih yang mungkin cocok diterapkan di indonesia. 

DISINILAH KESEDIHAN SAYA MEMBUNCAH.

Beda sekali motivasi mereka dengan saya. Mereka sepanjang hidupnya bercatu daya, bercatu upaya berkeliling nusantara dan dunia hanya memikirkan APA YANG TERBAIK yang bisa dipersembahkan untuk negeri ini, sementara saya berkeliling dunia hanya untuk mencari teknologi pengolahan air terbaik untuk memenangkan persaingan dan memperoleh keuntungan materi sebanyaknya. Penguasaan teknologi pemurnian air saya jauh lebih banyak dari mereka tapi peraihan amal saya tidak ada apa-apanya.

Saya menjelaskan setiap teknologi yang mereka pilih bahkan saya menjelaskan pengembangan pencapai teknologi berikutnya dari tiap pilihan tersebut. Misalnya gerabah nanosilver yang sudah berkembang menggunakan nanowire silver yang lebih aman, carbon aktif sudah diganti dengan carbon aktif sekam padi yang lebih murah dll sebagainya.

Tiba giliran saya berbicara. Saya menjelaskan bahwa kita akan ketinggalan teknologi bila mencari sebuah teknologi bila referensinya dari juurnal-jurnal internasional kampus ternama di dunia sekalipun. Dunia swasta para pelaku bisnis pemurnian air kelas dunia berlipat kali lebih cepat dibanding dunia riset kampus-kampus ternama. Revenue mereka sangat besar dan bila digabungkan akan mencapai nilai 80 milyar dollar hanya untuk urusan air bersih.

Akhirnya saya memilihkan 2 buah tehnologi teknologi terbaik yang sudah menyumbangkan keuntungan senilai 40 milyar dollar bagi perusahan pengolahan air terkemuka di dunia. Satu teknologi masih menggunakan bahan kimia tetapi memiliki kecepatan menjernihkan air dengan hydraulic loading 8 detik (Klarifier PDAM membutuhkan waktu (1.800 detik) dan satu lagi adalah sebuah membrane perkasa yang mampu bertahan selama 30 tahun, tahan panas 800 C, tahan pH 0 sd 14, mereduksi penggunaan bahan kimia 99%, tahan tekanan sampai 250 bar, bekerja dengan tekanan rendah bahkan bisa hanya mengandalkan beda ketinggian (tofografi) tanpa pompa, 100% removal bakteri, virus, algae, 100% removal zat besi dan manganese, 100% removal kolloid dan suspensi, menapis separuh garam air laut, sedikit perawatan, siapapun bisa menggunakannya tanpa perlu keahlian khusus, mampu direndam dalam air aki selama 30 tahun dll.

Setelah sy putarkan demo video dari alat pertama yang menjernihkan air kubangan lumpur dan air hitam pekat dgn tds 2000 menjadi tds 8 dalam waktu 8 detik, terbersit harapan dari seluruh team. Kemudian sy putarkan video yang memfiltrasi cat tembok berwarna merah pekat menjadi sejernih kristal dan langsung diminum, harapan itu semakin menguat. Kemudian perlahan tapi pasti, wajah-wajah itu kembali meredup ketika sy menceritakan bahwa dibutuhkan investasi minimal 24 milyar untuk membeli mesin pembuat membrane tsb. Mesin iitu sanggup bekerja terus menerus mencetak membrane “Most high durability” sebanyak 20 membrane perjam dengan kemampuan tiap membrane adalah menjernihkan 1200 liter air kotor menjadi air bersih nyaris tanpa bahan kimia.

Awan beriringan menutupi terik matahari ciheras. Rasanya tangan-tangan ini masih terlalu lemah untuk menghadirkan kebaikan yang banyak, kebaikan yang most hight durability yang mampu menyediakan air bersih 24 jam x 30 tahun.

Ampuni kami ya Allah.

Kami tahu ada 7 pahala yang terus akan mengalir sampai hari kiamat, yaitu menggali sumur dan mengalirkan air untuk ummat.

Berikanlah kami jalan
Kami tidak sanggup melangkah sendirian #donasiuntukciheras  #coin for water machine


mulyana ahmad

Jumat, 20 Februari 2015

Rony Indrajaya: China Bisa Segalanya


China merupakan negara yang pertumbuhan ekonominya sungguh sangat cepat. Pembangunan terus menerus dilakukan. Tak heran China dari tahun ketahun meningkat peringkat Ekonominya sampai nomor dua saat ini. Nomor satunya masih Amerika. Japan, korea sudah lama terlewati.
Semua hal bisa dibuat di China. Hampir semua barang yang kita pegang ada sentuhan china. Bahkan brand ternama mulai dari kain sampai elektronik ada cetakan made in china. Tasbih dan sajadah saja dibuat disana.
Keinginan menjadi nomor satu membuat China selalu membuat proyek mercusuar. Mulai dari kereta api super cepat, Jalan tol super panjang, super server tercepat, bahkan handphone pintar yang laris manis.
Semangat nasionalisme tinggi dan kerja yang total didukung kebijakan pemerintah china yang merangsang pertumbuhan usaha disana menjadikan china negara yang seakan tak pernah berhenti bertumbuh.
Tidak hanya dalam negeri, kerjasama luar negerinya juga diintensifkan. Hal ini tentu mencemaskan banyak negara mapan yang selama ini jadi investor di banyak negara berkembang.
Tentu saja Indonesia dengan potensi pasar dan sumber daya energinya yang luar biasa membuat china kepincut bukan kepalang.
Berbagai kerjasama pemerintah ke pemerintah dilakukan dibanyak hal. Mulai dari monorel sampai pembangkit listrik.
Kerjasama antar bangsa memang suatu keniscayaan. Tidak ada jaman sekarang negara yang menutup diri.
Kemandirian bangsa china selalu jadi banyak perbincangan yang harusnya menjadi pelecut dan sumber semangat bangsa kita untuk melakukan hal yang sama.
Berbagai ahli bangsa ini sudah malang melintang ke penjuru dunia dan diakui keahliannya. Industri strategis kita tak kalah bagusnya dari bangsa lain.
Adalah BUMN sebagai salah satu tangan pemerintah yang bisa menjadi pendorong kemandirian bangsa.
Seperti INKA yang membuat kereta api dan monorel yang sangat bagus. Adalah PAL yang siap membuat kapal nelayan, kapal angkut dan kapal perang. Dan banyak BUMN dan swasta dalam negeri yang bisa membuat peralatan listrik untuk PLN. Adalah sindikasi bank bank BUMN yang siap menggelontorkan proyek proyek besar.
Kadang kita merasa kagum kepada China sebagai bangsa mandiri, sebatas kagum tanpa ingin mencoba menandinginya.
Kerjasama dengan China dan negara maju lainnya bagus untuk menyerap ilmunya dan mengembangkannya kelak.
Sehingga kalau sangat bagus untuk bangsa ini tentu pula kerjasamanya harus bagus. Kerjasama yang bagus tentu saja tidak usah disembunyikan, apalagi membuat kuping buntu beberapa pejabat dan menolak menjelaskan isi perjanjian itu.
Kan tidak pernah ada pepatah
"Serapat-rapat menyimpan minyak wangi, akan tercium juga
By BRI

Jumat, 29 Agustus 2014

DWO : Magnet Raksasa Itu Bernama: Dahlan Iskan


Diakui atau tidak, Pak Dahlan itu magnet raksasa. Milik dia berupa: kecerdasan intelektual dan sosial, kerja keras, kepemimpinan bagus, hidup sederhana, tegas, ngamukan, membuat masyarakat tertarik padanya. Gara-gara magnet itu, saya tertolong saat jadi tutor di Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
----------------------

Siang, 12 Nop ‘11 ponsel saya berdering. Dari teman akrab, wartawan televisi (tak perlu sebut nama). Dia berkata, “Mas dwo, mau nggak ngajar menulis. Cuma tiga hari honornya sekian (dia sebut angka luar biasa tinggi untuk ukuran mengajar),” Saya anggap gurauan.

Tapi dijelaskan, dari honor itu hak saya 25 persen. Sisanya dia dan beberapa orang penghubung. Busyet… dia jadi makelar, nih. Kendati begitu, angka 25 persen masih sangat tinggi untuk ukuran mengajar.

Mengapa tidak dia tangani sendiri? “Aku ada tugas liputan luar kota. Job ini tidak saya berikan orang lain. Sebab, saya tahu sampean penulis andalan Pak Dahlan,” jawabnya.

Di satu sisi, saya manusia biasa, tersanjung dikaitkan dengan mantan bos (saat itu belum lama dilantik jadi menteri BUMN). Di sisi lain, pasti ada yang sangat berat, sampai dikaitkan Pak Dahlan segala. Saya lalu bertanya:

“Muridnya siapa, sih?”

“Halaaah… pegawai Kemenkeu yg ingin belajar menulis.”

“Mengapa tidak cari pengajar beneran?”

“Mereka minta praktisi jurnalis. Pokoknya kamu paling pas.”

WAH… AKU KEJEBLOS, DEH…

Ada yang tidak nyambung. Mengajar menulis dari praktisi jurnalis. Kalo mengajar jurnalistik dari praktisi jurnalis, cocok. Juga, saya belum pernah mengajar khusus menulis. Kalo mengajar jurnalistik di kampus-2, beberapa kali.

Tapi, pikiran saya tergoda oleh angka (uang) yg sangat tinggi. Lagian, jurnalis memang penulis juga. Apa lagi yg ditakuti? Saya akhirnya: Ok.

Kawan itu minta nomor rekening saya, lalu dia langsung transfer DP 10 persen. Gile amat… kayak orang top aja gue…

Pelaksanaan tiga hari lagi (15 s/d 17 Nop). Tiga hari workshop (8 jam per hari dipotong istirahat makan siang). Tadi dia bilang “cuma 3 hari”, tapi saya tidak sempat tanya berapa jam per hari. Ternyata full… Sudah telanjur ok.

Grogi tak bisa hilang. Pertama, saya belum pernah mengajar dalam durasi lama (8 X 3 jam) sendirian. Sebelumnya, saya hanya jadi salah satu pembicara di kampus, paling lama 3 jam termasuk sesi diskusi. Kedua, honor terlalu tinggi, membuat saya bertanya: Siapa audience? Setingkat Dirjen juga termasuk karyawan Kemenkeu, lho. Wadoh…

Tidak usah pusing-pusing, saya telepon kawan Muhammad Agus Jauhari. “Mau gak, ngajar menulis bareng aku, honor sekian?” tanya saya. Angka untuk dia 30 persen dari honor saya. Semua materi pelajaran dari saya, tapi beban jam kerja (saya sebutkan 24 jam) dibagi sama rata. Tak banyak tanya, dia langsung: Siaaaap….

Sore, sehari jelang pelaksanaan, saya ditelepon ketua panitia: “Pak Djono, saya minta di-email materinya sekarang. Dalam bentuk power point, ya pak…” Mati aku. Power point? Makanan macam apa pula, ini?

Saya: “Masih dalam bentuk word, Mbak…” Dia seperti menyesal. Lalu, “Ya sudah… bapak ubah ke power point dulu. Malam ini saya terima di email, gak papa. Terpaksa, kami foto kopi sebelum Subuh nanti. Sebab, sebelum jam 07.00 pagi materi harus di tangan peserta,” katanya.

BUSYET… TERLAMBAT DATANG

Mulailah saya belingsatan. Gara-gara cerongohan, sih. (cerongohan = main sambar). Untung, saya bekerja di situs berita on-line. Ada web desainer disitu. Untung lagi, orangnya belum pulang.

Saya serahkan ke dia, “Nih, kerjaan luar kantor. Jadikan power point, minta honor berapa?” Dia kelihatan senang. “Honor terserah bapak aja, deh,” jawabnya. Saya serahkan beberapa lembar uang. “Segini cukup?” Dia senang. “Cukup pak,” katanya.

Nah, malam ini harus jadi. Dia melongo, “Kalo malam ini sulit, pak,” ujarnya. Saya serahkan beberapa lembar lagi. “Begini bagaimana?” Dia kembali cerah, “Nah, ini nggak sulit, pak.” Beginilah cara kami nego.

Ketika digarap, saya baru tahu power point. Ini dulu namanya slide, berbahan plastik. Sekarang tersedia di Mocrosoft Office. Lebih praktis dan cepat. Tapi, sampai lewat tengah malam, materi untuk hari pertama saja belum selesai. Yang lama cari foto di Google. Ya sudah, pk 03.00 saya kirim seadanya ke email panitia.

Tidur di kantor (Blok M) sebentar, pukul 06.00 lewat saya berangkat. Cari tempatnya (Pusdiklat Kemenkeu di Pancoran) tiba di lokasi saya terlambat 5 menit. Ruangan sudah tutup. Di dekat pintu, di luar ruangan, ada seorang cewek penerima tamu.

“Bapak peserta?” tanyanya. “Bukan, saya tutornya.” Dia tersenyum, “Ooo…. Pak Djono. Tadi sudah ditunggu Pak Kapusdik. Gak papa, bapak duduk di deretan belakang dulu. Sebab, Pak Kapusdik sedang bicara membuka acara,” katanya.

Saya masuk. Alamaaaak… ruangannya besar dan mewah. Mirip ballroom hotel. Kapusdik bicara di podium di sisi kiri. Sebelah kanan ada meja panjang, dan seorang lelaki duduk di balik meja pembicara itu. Bagian tengah panggung, kosong. Ada layar lebar untuk proyektor, dan white board, sesuai permintaan saya di telepon kemarin. Audience sekitar 50 orang.

Grogi mulai merayap. Suasana belajar mewah sekali. Belum pernah saya di forum semewah ini. Untung, kehadiran saya tak menarik perhatian, langsung duduk di kursi paling belakang.

Pak Kapusdik, “….. Saya sebenarnya agak beda pendapat dengan panitia. Belajar menulis tidak mungkin hanya tiga hari. Tapi, kalau memang bisa, ya… sangat hebat pengajarnya.”

GROGI, PENYAKIT BERBAHAYA

Seketika saya kebelet kencing, saking groginya. Saya keluar, hendak ke toilet. Saat melewati cewek penerima tamu, saya bertanya, “Pesertanya siapa sih, Mbak?” Dia menunjukkan buku tamu. Wah… wah… wah… para kepala kantor pajak dari berbagai kota, bersama staf.

Saya baca, ini workshop tahunan angkatan ke-3. “Lho, angkatan 1 dan 2 tutornya siapa?” tanya saya. Dia jawab, “Doktor komunikasi dari UI. Ada datanya di atas, apa perlu saya ambil, pak?”

Saya cegah, saya tanya, “Mengapa Pak Doktor itu tak mengajar di angkatan ini?” Katanya, hasil evaluasi penitia, pengajaran tidak efektif. Maka, coba diganti dengan praktisi. Mbok… mbok… mbok…

Di toilet terbersit pikiran: Kabur. Toh, data saya belum diketahui panitia, kecuali nama. Tapi, gila… Tindakan pengecut itu. Bakal kacau luar biasa kalau saya kabur.

Berbagai situasi hunting berita yang sulit sudah saya lakukan, mengapa begini saja kabur? Saya sudah menguasai ilmu menulis ajaran dari Pak Dahlan. Cuma, teorinya saya buat sendiri. Selama ini langsung praktek. Sedangkan peserta, meskipun para pejabat pajak, tak bisa menulis. Mereka butuh ilmu ini sekarang.

Saya keluar toilet, acara pembukaan baru saja bubar. Pak Kapusdik sudah berangkat. Peserta bubar untuk coffee break 10 menit. Saya masuk ruangan menyiapkan presentasi. Laptop yang disiapkan tak berfungsi baik. Saat saya mengutak-atik laptop, peserta masuk ruangan lagi. Konsumsinya belum datang.

“Dimulai saja, pak,” kata panitia. Saya tanya, tak ada moderator? “Tidak ada. Langsung saja, pak.” Pengajaran pun dimulai. Saya memperkenalkan diri: “Saya bukan pengajar… “ Kontan terdengar gerutu peserta.

“Tapi, saya sampaikan materi ini berdasarkan pengalaman 24 tahun jadi wartawan Jawa Pos.” Segera terdengar suara serentak, “Oo….. anak buahnya Pak Dahlan.“ Disini saya langsung menyadari, saya sudah salah start. Kalimat awal tadi menimbulkan ketidak-percayaan forum.

MAGNET DAHLAN BEGITU KUAT

Saya membaca materi. Power point tak berfungsi gara-gara laptop macet. Peserta yang sudah pegang kopi-nya, terpekur di meja masing-masing. Sekitar 10 menit dari saat pembukaan, saya merasa suasana mati.

Segera saya improvisasi. Tidak lagi membaca makalah. Tidak lagi duduk di belakang meja. Saya jalan menuju white board, menuliskan contoh lead (paragraf pertama dalam suatu tulisan) yang tidak ada di makalah.

Saya ceritakan kasus Sumanto, kanibal dari Purbalingga yang ditangkap polisi medio Januari 2004. “Sumanto ditangkap hari Rabu. Semua koran, televisi, media berita on-line memberitakannya habis-habisan,” kata saya. Kontan, audience bangkit, tak lagi terpekur.

Saya tertarik, ingin tahu, apakah Majalah Tempo (terbit 5 hari setelah penangkapan) juga memberitakan berita yang sudah habis itu? Ternyata, Sumanto malah jadi laporan utama Tempo. “Nah, bagaimana lead yang disajikan Tempo?” tanya saya sambil berjalan, supaya tidak mati gaya. Mata semua peserta mengarah ke saya.

Lantas, saya menuliskan lead Tempo di white board. Peserta ada yang protes, “Maaf, pak, tidak kelihatan…” Sebenarnya saya sengaja menulis tidak terlalu besar, untuk mengukur perhatian mereka. Ternyata ada respon. Maka, tulisan saya besarkan.

Sejak itu suasana ‘hidup’. Pelan-pelan saya kembali lagi ke makalah. Kini saya tak lagi duduk, tapi jalan-jalan di panggung kayak baca puisi begitu. Perubahan gaya ini membuat peserta berani bertanya di sela pemaparan.

Pertanyaan mereka bukan ke teori menulis, melainkan ke teknis liputan Sumanto. Peserta, “Kalau Tempo membuat lead begitu, berarti wartawan masuk ke ruang tahanan. Padahal, itu dilarang. Apakah lead tersebut hanya imajinasi, tidak sesuai fakta?” Saya bertahan, semua yang ditulis wartawan: Fakta, bukan imajinasi. Terjadi perdebatan disini.

Saat itulah saya lihat mitra saya Muhammad Agus Jauhari baru datang. Dia duduk di belakang. (nyambung dengan postingan dia di grup ini kemarin).

Celakanya, pertanyaan melebar ke cara Pak Dahlan memimpin Jawa Pos. Saya jelaskan. Pertanyaan soal Pak Dahlan jadi bertubi-tubi. Saya arahkan balik ke materi sudah sulit. Selalu belok ke Pak Dahlan lagi, Pak Dahlan lagi. Terpaksa saya jawab juga.

Selama menjawab soal Pak Dahlan, saya merasa, saya sudah gagal jadi tutor. Materi pelajaran kalah dengan magnet Pak Dahlan. Tapi, ada untungnya, suasana kelas jadi hidup.

Sesi berikutnya dihantam Agus Jauhari dengan pembukaan tentang Pak Dahlan. Kelas jadi tambah gayeng.

Di sesi-sesi berikutnya, perhatian peserta ke pelajaran jadi fokus. Sebab mereka merasa, itu ilmu dari Pak Dahlan. Sungguh, magnet Pak Dahlan luar biasa besar. Saya tertolong magnet itu. (Depok, 13 Mei 2012)

DWO : Catatan Liputan Tragedi Talangsari (3-Habis)

Di seri terakhir ini, saya ogah-ogahan menulisnya.  Sebab, memalukan. Ujung-ujungnya, pembaca bagai menonton film “The Gods Must be Crazy” dan saya salah satu aktor disitu.  Tapi… ya sudah, silakan lanjut… 
------------------------


Baru 15 menit jalan masuk hutan, mobil berhenti. Sopir Tarno turun. “Sebentar, Bang (panggilan kepada lelaki lebih tua atau yang dihormati),” ujarnya ke saya, sambil lari ke lelaki setengah baya yang mengumpulkan kayu di depan rumahnya. Di tengah hutan ini, kelihatan ada tiga rumah. Salah satunya yang didatangi Tarno.

Jarak antara mobil kami dengan lelaki itu sekitar 10 meter. Sehingga saya masih mendengar pembicaraan mereka. Tarno: “Pak, mana jalan yang tidak dilewati tentara?”

“Mau kemana?” tanyanya ke Tarno. “Talangsari.” Seketika lelaki itu membuang muka. Ia jalan mondar-mandir, kacak pinggang, geleng-geleng. Dia melirik ke arah kami di mobil.

Lalu ia memandang lurus ke Tarno, menuding, “Kau cari penyakit,” ujarnya keras. Segera Tarno mendekatinya, merangkul. Mereka lalu bisik-bisik. Akhirnya lelaki itu menunjuk-nunjuk arah.

Berdasarkan dialog itu saya sadar, tentara tak hanya di jalan raya, tapi juga di hutan ini. Kini kami sedang lewat hutan ini. “Ya Tuhan, anak itu ternyata tidak paham kondisi hutan ini, Dwo (panggilan inisial saya),” ujar Wil.

Saya berusaha tidak membuat suasana tambah tegang. Saya: “Dia bertanya agar kita cepat sampai. Andai kita tertangkap tentara, maksimal disuruh kembali  ke Metro,” Dia membalas, “Soalnya ini hampir pukul 12.00 baru sampai sini. Mana bisa kita kirim foto? Deadline 18.00 juga tak terkejar,” ujarnya. Memang, deadline surat kabar Wil (SI) 18.00, saya (JP) 00.00 bahkan bisa diundur jika kualitas berita sangat tinggi.

Tarno kembali ke mobil sambil senyum. “Maaf,  Bang. Saya pernah lewat sini naik motor, tapi untuk memastikan, saya tanya ke kawan bapak saya itu tadi,” tuturnya. Saya dan Wil diam saja. Mobil jalan lagi. Melewati jalan tanah yang penuh dedaunan kering.


Makan Ayam Bakar, Ingat Talangsari

Pohon di hutan ini tak terlalu lebat. Sinar matahari masih bisa menerobos celah daun-daun pohon jati. Jarak antar pohon cukup renggang. Mobil melaju pelan. Jarum di speedometer mati, tapi laju sekitar 20 – 30 km/jam. Tarno banyak menghindari patahan kayu kering yang berserakan. Andai ban kena sesuatu yang runcing, bisa sobek.

Tarno sudah menceritakan, peperangan selesai kemarin petang. Korban tewas pihak GPK (Gerakan Pengacau Keamanan), katanya, lebih 100 orang. “Saya dengar, tadi pagi mayat-mayat dikubur masal oleh tentara, entah dimana,” katanya.

Mendadak, ia menghentikan mobil, langsung mematikan mesin. Matanya mengamati arah kanan depan. Saya tak melihat apa-apa disana. Wil juga melongok dari jendela, memeriksa arah depan.

 “Seperti ada orang lari diantara pohon,” kata Tarno. Kami diam sambil tetap mengamati arah depan. Saya tanya, “Memangnya tentara juga menutup jalur hutan?” Tarno, “Bukan menutup. Mereka mengejar GPK yang lolos dari serangan senjata kemarin.”

Penasaran, saya tanya, “Berapa orang yang lolos?” Dia, “Kabarnya seratusan gitu.” O... kalau itu benar, berarti di hutan ini ada lebih dari seratus tentara dan seratus GPK.

Saya mengeluarkan kartu pers dan memakainya di leher. Wil juga melakukan itu. Meskipun grogi, saya tak terlalu takut. Sebab, saya melaksanakan tugas dan tidak memusuhi tentara atau GPK. Yang saya takutkan, gagal tugas.

Melalui liku-liku sekitar sejam, tiba juga kami di tempat tujuan. Saya dan Wil turun dari mobil, sedangkan Tarno memarkir mobil di rerimbunan belukar, lalu dia  sembunyi di dalamnya.

Saya dan Wil kini berada di areal bekas kebakaran. Sebuah bangunan yang mungkin terbuat dari kayu, sudah hangus dan roboh. Sisa kayu sudah menjadi arang, bertumpuk setinggi sekitar 1 meter, lebarnya kira-kira setara dengan lima baris rumah tipe 70. Berdasarkan cerita Tarno, itulah sisa markas kelompok pemberontak Warsidi (pemimpin GPK).

Kami berpencar, memotret area seluas sekitar 100 X 100 meter itu. Bau gosong menusuk hidung. Yang menyulitkan saya jalan, bongkahan-bongkahan hitam berserakan dimana-mana.

Ada bekas lemari, bangku, pohon, dan benda lain yang semuanya gosong. Saya terus melangkah menuju tengah ke arah bekas markas. Namun, sepatu saya menginjak sesuatu, yang ternyata..... tangan manusia. Hitam, tertimbun bongkahan yang juga hitam.

Perlahan saya mengambil patahan kayu, saya gunakan untuk membongkar bongkahan yang menutupi mayat. Tampaklah kini: Tubuh manusia gosong. Posisi tidur miring meringkuk. Kedua kakinya tertekuk menempel di perut. Tangan kirinya memegang dada, kanan lurus ke depan (ini yang tadi saya injak).

Saya perkirakan, itu mayat pria remaja, tinggi sekitar 1,40 m. Daging bagian dada rata (tak ada tonjolan) walau semua daging sudah meleleh. Sisa penis tak bisa dilihat, sebab tubuh itu sudah kaku. 

Baunya belum terlalu busuk, hanya mirip ayam bakar basi, tapi dalam jumlah banyak. (selama sebulan sejak dari sana, saya menghindari makan ayam, baik bakar atau goreng).

Jika benar kata Tarno pertempuran usai kemarin petang, maka kondisi ini belum 24 jam. Setelah saya potret berbagai sisi, mayat tersebut saya tinggalkan.

Tiba di bagian tengah (onggokan besar) saya bertemu Wil yang tadi masuk dari arah lain. “Aku sudah dapat foto dua mayat, Dwo,” ujarnya. Wah, saya kalah satu, kata saya dalam hati.

Dia mengamati onggokan besar itu dengan hidung mengendus-endus. Saya juga tahu, di dalamnya pasti banyak mayat. Sebab, bau ayam bakar basi sangat tajam disini. Namun, kami dikejutkan seorang lelaki yang berdiri di jarak sekitar 150 meter. “Hoiii.... jangan kesitu,” teriaknya.


Bocah Kehilangan Mainan

Pelan-pelan kami meninggalkan wilayah ini, jalan menuju ke lelaki yang berteriak tadi. Kami jalan sangat pelan, khawatir tergores patahan seng yang berserak dimana-mana.

Setelah kami mendekati lelaki itu, dia ternyata ramah. Usianya sekitar 60. Tapi, saat kami memperkenalkan diri sebagai wartawan, dia langsung menghindar. “Saya tidak mau ngomong apa-apa,” ujarnya sambil pergi.

Lalu saya dan Wil berpencar mendatangi rumah masyarakat, menggali informasi. Heran saya, sejauh ini tak ada tentara di sekitar areal ini. Menurut masyarakat, sejak pagi sampai menjelang siang tadi, banyak tentara. Mereka mengangkut mayat untuk dikuburkan (masyarakat tak tahu dimana kuburnya). Mungkin sore nanti tentara akan kembali.

Berarti kami tiba di lokasi pembantaian ini, pada waktu yang tepat, walaupun kebetulan. Dari masyarakat kami mendapatkan bahan berita. Hanya saja, mereka tak mau disebutkan identitasnya. Lelaki yang memanggil kami dari lokasi pembantaian tadi ternyata kepala Dusun Talangsari III (saya lupa namanya).

Tak gampang mewawancarai masyarakat. Dari belasan orang yang saya datangi, hanya tiga bicara. Itu pun setelah saya rayu. Mereka bicara dengan wajah khawatir.

Untuk narasumber model begini, saya tidak menggunakan catatan, apalagi rekaman. Hanya mengandalkan daya ingat. Jika saya mengeluarkan notes, mereka bisa langsung membisu. Kalau pun bicara, isinya seperti pidato, formal, tidak human. Atribut wartawan seperti notes dan kartu pers, menimbulkan penolakan bicara. Sedangkan foto, ditembakkan setelah wawancara selesai.

Data liputan lengkap, hampir pukul 15.00 saya dan Wil berdiskusi .

Berdasar rencana, seharusnya Wil atau saya meninggalkan lokasi pukul 14.00 untuk cetak foto di Metro, lalu membawa hasil cetak foto ke Bandara Jakarta. Tapi sejak tadi saya dan Wil berpencar, tidak bisa komunikasi (saat itu belum ada handphone). Kini jika dipaksakan salah satu diantara kami ke Jakarta, pasti foto tidak terkirim, sebab pesawat terakhir Jakarta - Surabaya sudah berangkat. 

Saya sungguh sedih. Bagai bocah kehilangan mainan kesayangannya. Foto headline Jawa Pos mestinya areal gosong itu. Surat kabar Kompas (terbesar di Indonesia) tidak memiliknya, sebab foto karya kami ini eksklusif.

Tugas tulis kurang satu: Profil Komandan Rayon Militer, Kapten Soetiman yang tewas akibat kena panah pemberontak. Info dari masyarakat: Rumah keluarga Soetiman tak jauh dari kantor kecamatan.

Anehnya (atau untungnya) sejauh ini kami tak jumpa tentara. Mereka konsentrasi di Ring III (titik blokade) yang radiusnya sekitar 30 km dari Ring I. Saya belum tahu, apakah Ring II (seputar hutan dan jalan) ada penjagaan.     

Mobil kami kini tak lagi lewat hutan menuju rumah Soetiman. Tapi, mobil ini melaju sendirian di jalan raya. Tak ada kendaraan lain, kecuali satu-dua sepeda. Semua orang memandang heran ke mobil kami. Perjalanan ke rumah Soetiman lancar.

Lokasinya, hanya sekitar 100 meter dari jalan raya, masuk jalan desa. Rumah tanpa pagar halaman, dinding warna hijau, lebar 10 meter, ke belakang sekitar 12 meter. Megah untuk ukuran di desa itu. Di luar sepi.

Kami masuk, disambut ramah, para penghuni rumah keluar ke ruang tamu, salaman dengan kami. Ada 3 wanita dan 2 pria dewasa, serta 2 anak wanita dan 1 lelaki. Wajah-wajah sedih, berusaha senyum.

Namun, saat saya perkenalkan diri sebagai wartawan, semua kaget. Lalu mereka semua masuk ke ruang dalam lagi, kecuali seorang lelaki (sekitar 33 tahun) adik lelaki Soetiman.

Saya tanya namanya, dia menolak. “Tunggu sebentar,” ujarnya, sambil pergi masuk ke ruang dalam. Saya dengar di dalam terjadi perdebatan. Isi pembicaraan tidak terdengar jelas. Ada suara berisik sinyal HT (Handy Talky).

Pria itu keluar lagi. “Begini, kami dilarang berbicara kepada pers oleh komandannya Pak Soetiman. Maaf, kami tak bisa menerima anda,” katanya. Saya mengangguk: “Kami kesini hanya mengucapkan belasungkawa. Kami sedih, putera bangsa terbaik menjadi korban kekacauan.” Dia berterima kasih.\

Saya dan Wil tetap duduk. Saya, “Boleh saya minta biodata Pak Soetiman?” Dia jawab pendek, “Silakan ke markas militer.” Saya tanya lagi, “Dimakamkan tadi atau kemarin?” Dia, “Kemarin.”

Saya merasakan, jawaban dia seolah berlama-lama, tidak cepat. Saya, “Siapa komandan upacara pemakaman?” Dia mulai tak sabar. “Saya tak bisa jawab. Tolong... tolonglah keluar,” nafasnya terengah.


Interogasi Terkait PKI

Beberapa detik kemudian, dari luar rumah terdengar teriakan: “Keluar.... Angkat tangan.”

Saya lihat dua tentara seragam perang, masing-masing menodongkan pistol mengarah ke pintu. Saya perkirakan, jarak antara mereka dengan pintu sekitar 3 meter. Di belakang mereka ada empat tentara lagi, tanpa pistol. Semua wajah coreng-moreng hitam.

Peringatan diulang, lebih keras lagi. Kami keluar, dua tangan terangkat. Di bawah todongan pistol, saya, Wil dan sopir Tarno digiring menuju truk tentara di jalan raya, sekitar 100 meter dari rumah. 

Mulailah interogasi bertubi-tubi di Makodim (markas militer). Saya dan Wil diinterogasi terpisah, tapi di satu ruangan, pengap. Jarak saya dan Wil sekitar 4 meter. Tarno di ruangan lain.

Pertanyaan: Identitas diri lengkap, identitas saudara, orang tua, isteri, juga keluarganya isteri, semua detil. Interogator berganti-ganti ada belasan, tapi daftar pertanyaannya sama. Untuk data orang tua dan keluarga isteri saya, detil di kegiatan sekitar tahun 1965. Mereka menggali kemungkinan saya terkait PKI (Partai Komunis Indonesia yang pada 1965 melakukan pemberontakan berdarah) .

 “Mana surat tugasmu?” tanyanya. Saya, “Tersimpan di tas, Pak.” Tasnya mereka tahan. Pendamping interogator segera mengambil tas kami. Saya buka, saya serahkan dua lembar kertas kuning. Interogator heran, membolak-balik kertas itu.

 “Mana? Ini surat tagihan,” ujarnya. Lalu saya tunjukkan tulisan tangan Nani. Diamati sejenak, lalu dia membentak, “Saudara jangan main-main. Masak surat tugas begini?” Saya jelaskan panjang-lebar. Petugas  heran, menggelengkan kepala. Mungkin petugas tidak percaya, tapi itulah surat tugas saya.

Lucunya, Wil juga menunjuk surat tugas saya itu sebagai surat tugas dia. Kejadian ini berulang kali dengan belasan interogator berbeda, pertanyaan sama. Jadi, kertas bekas tagihan iklan itu dibawa bolak-balik dari tempat saya ke Wil, balik lagi, berkali-kali setiap berganti interogator.

Jelang petang, terjadi perubahan. Saya dipisah (dengan Wil) ke ruangan lain. Saya merasakan ada sesuatu yang serius. Beberapa saat kemudian petugas masuk mendekati saya, “Bapaknya isterimu  desertir Marinir. Pada 1966 dia melindungi kakak lelakinya yang anggota PKI,” katanya.

Waduh... Saya malah tidak pernah tahu hal ini. Saya perkirakan, aparat Kodim (markas militer) saat itu sudah menelepon Mako Marinir (markas Angkatan Laut Indonesia) di Gunungsari, Surabaya. Dan, data bapaknya isteri saya (almarhum) yang sudah terpendam 23 tahun (sampai dengan saat itu), berhasil dibuka.

Sejak itu bentuk pertanyaan ke saya berubah, menyangkut ideologi. Terkait Pancasila, UUD 45, sistem Hankamrata (Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta). Semua saya jawab. Interogator juga ganti-ganti dengan pertanyaan sama. Benar-benar melelahkan.

Setelah itu saya dibiarkan sekitar sejam. Saya pasrah saja, menunggu keputusan mereka. Pukul 21.00 saya diperintahkan keluar.

Di koridor, saya lihat Wil juga dikeluarkan. Kami digiring masuk ruang kerja mewah, ber-AC, di meja ada sekeranjang aneka buah. Tak lama, masuk seorang perwira  tinggi (namanya saya lupa, nama Batak). Dia dengan ramah menyalami kami. “Mohon maaf, jika anggota pasukan saya tadi agak kasar,” ujarnya. “Mau minum apa?”

Saya minta kopi, Wil teh. Dia telepon anak buahnya, pesan minuman. Dia jelaskan peristiwa Talangsari. Jumlah korban GPK 6 orang (sama dengan penjelasan Pangab di TVRI). Tampaknya dia komandan Kodim.

 “Intinya begini, film anda (di dalam kamera) sudah saya buang. Saya ganti dengan rol film baru. Saya minta, Saudara-saudara tidak menulis apa yang sudah diketahui sepanjang hari ini. Kalian berdua langsung kembali ke Jakarta sekarang,” tuturnya. “Jika kalian masih di wilayah Lampung, saya tidak cegah jika anak buah saya bertindak tegas.”

Setelah minum, kami boleh meninggalkan markas itu. Saya dan Wil sama sekali tidak dipukul. Tarno, pipinya lebam. Dia mengaku dihajar. Kami meninggalkan Makodim dengan mobil Tarno lagi.

Di terminal, saat kami membayar jasa Tarno, dia minta tambahan biaya. Kesepakatan tarif yang semula Rp 300 ribu naik jadi Rp 350 ribu. Nilai  itu hampir setara 3 bulan gaji Wil. Dibayar saja.

Kami menuju hotel naik angkutan umum lain, bukan milik Tarno. Di hotel, saya menelepon ke kantor Jawa Pos di Jakarta,  pukul 22.00 lebih, diterima Redaktur Edi Aruman. Dia marah-marah. “Wah... kantor pusat Surabaya telepon ke saya terus, tanya beritamu. Ayo cepat kirim berita,” kata Aruman. Dia kira berita sudah jadi, padahal belum saya ketik.

Saya mengetik terburu-buru. Saat hampir selesai, petugas losmen mengetuk pintu. “Bapak Willy atau Bapak Djono ada telepon di lobby,” katanya. Saya minta tolong Wil menerima telepon, saya kira dari Aruman.

Wil balik ke kamar tergopoh-gopoh dengan wajah tegang. “Ayo kita berangkat, Dwo. Telepon dari komandan Kodim. Dia tahu kita di hotel ini.  Di luar hotel saya lihat beberapa tentara tidak mengenakan seragam,” katanya, mengemasi barang.

Luar biasa. Kami segera keluar kamar menuju lobby. Dari kaca, saya lihat di luar ada lima pemuda rambut cepak membawa handy talky, mondar-mandir.

Sebelum membayar hotel, saya minta naskah di-fax ke Jakarta. Setelah terkirim, baru kami bayar.

 (Pagi harinya naskah saya dimuat di koran Jawa Pos, sesuai rencana, jadi boks seri 1 berjudul  “Laporan Langsung dari Medan Perang Talangsari”. Kolom foto diisi sketsa geografi lokasi Talangsari. Tapi, esoknya lagi serial tak berlanjut, setelah Pemimpin Redaksi Jawa Pos Pak Dahlan dipanggil Panglima Militer Brawijaya, Mayjen TNI Saiful Sulun. Laporan seri 1 yang dimuat itu berupa pembukaan, memaparkan situasi dan kondisi Lampung.)


Gaya Jalan Si Crazy

Tiba di rumah jelang pagi, isteri saya sudah bangun. “Bagaimana hasilnya, sukses?” tanyanya. Saya acungkan dua jempol, dia tersenyum. “Mandi dulu, ambumu lebus (baumu seperti kambing) banget. Setelah itu ceritakan hasilnya, saya ingin tahu,” katanya.

 Setelah mandi, saya bercerita: “……. Semua target tercapai, sampai kami ditangkap di rumah komandan rayon militer….”

Kami mengangkat tangan ditodong pistol dua tentara. Wil: “Saya wartawan, Pak,” ujarnya, akan merogoh kantong celana belakang (mungkin akan mengambil kartu pers).

Seketika tentara berteriak, “Angkat tangan....” Pada saat bersamaan saya dengar: Klik…  tanda kunci pengaman pistol dibuka.

Saya kontan teriak panik, “Angkat tangan, Wil.....” Wil kaget, langsung mengangkat tangan.

Suasana hening. Saya amati dua tentara berpistol (usia mereka sekitar 23-25 tahun) itu tegang, siap menembak. Moncong pistol mengarah ke tengah dada kami.

Tangan kiri mereka yang semula santai, kini pada posisi di belakang pistol, siap menahan hentakan pistol jika meledak. Saya pasrah, bibir saya bergetar mengucap syahadat.

Beberapa saat kemudian, dua tentara yang semula di belakang, maju mendekati kami. Mereka menggeledah dari atas ke bawah. Lantas saya mendengar, diantara mereka ada yang mengatakan: “Aman…. Ndan.”

Kemudian tas kami diambil, seluruh pakaian kami dilucuti. Tinggal celana dalam. Kondisi mental sangat takut. Kami tidak protes.

Benar-benar nyaris celaka akibat salah paham. Tentara mengira, Wil mengambil sesuatu (bisa diduga senjata) di belakangnya, otomatis diterjemahkan: Akan melawan.

Lalu kami diperintahkan jalan, diikuti 6 tentara di belakang. Kami berjalan telanjang sambil tetap angkat tangan sepanjang sekitar 100 meter menuju truk tentara. Tarno juga digiring dan angkat tangan, tapi tak telanjang.

Di kiri-kanan jalan desa, masyarakat menonton. Ibu-ibu tertawa tapi ditahan. Ada yang tak mampu menahan tawa, lari masuk rumahnya, lantas ketawa sekerasnya...

Pemandangannya begini: Wil berjalan tegang. Badannya kurus (tulang iga kelihatan) hitam legam. Rambut pendek keriting kecil-kecil. Celana dalam merah sesak di bagian karetnya. Tapi lebar di bagian tengah, jadi seperti membengkak begitu.

Saat berjalan, pantat Wil goyang ke kiri kanan. Sungguh mirip pemeran Xi, pemuda Afrika di film “The Gods Must Be Crazy” yang saat itu belum lama diputar di bioskop.         

Saya (wah... malu, nih) celana dalam Crocodile lama (sudah saatnya diganti) warna putih kusam. Jika celana Wil karet bagian paha sesak  menjepit, saya kendor. Sehingga angin menerobos, langsung dingin.

Untung, karet bagian perut masih rapat, kalau tidak, bisa merosot dibawa jalan begitu jauh. Jadi, saya berjalan dengan celana dalam berkibar di bagian bawah.

Isteri saya malu saat mendengar ceritanya, tapi terpingkal-pingkal sampai terbatuk-batuk. Saya dicubitnya berulang kali. (Depok, 27 Juni 2011)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost