Tampilkan postingan dengan label Seminar/Kuliah Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seminar/Kuliah Umum. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 November 2013

Dahlan Iskan di Universitas Jember, Sang Pengacau Datang…


Selasa siang itu ada undangan workshop, tapi seorang teman dosen mengajak ke Gedung Soetardjo nonton Dahlan Iskan. Undangan bertemu Dahlan Iskan mungkin ada di loker, tapi belum sempat lihat, jadi tanpa undangan datanglah saya ke Soetardjo. Masih jam 13.00 sedangkan undangan jam 13.30. Gedung sudah penuh dengan mahasiswa, semua kursi terisi kecuali dua baris sofa dibagian depan. Ibu di resepsionis mempersilakan saya duduk di sofa baris kedua, baris pertama untuk pimpinan dan Undangan khusus. Ini satu keuntungan saya berambut putih, disegani dan dianggap dosen beneran. Walau tanpa surat undangan dapat sofa VIP.



Saya duduk di kursi paling tepi dekat lorong tengah. Kalau Pak Dahlan lewat saya bisa salaman….. Waktu bergeser, sesekali wajah saya terpampang di layar lebar kiri kanan podium. Tamu mulai berdatangan dan sofa segera penuh, banyak dosen yang harus berdiri. Saya pura-pura sibuk agar tidak perlu nengok sana sini, Ntar kalau ketemu senior dan sofa ku diminta…… enak aje…… Satu sms datang dari ketua jurusan saya “Curang, Wong rembes dapat bangku VIP, sementara yang ganteng dibiarkan keleleran” Hehehehehe….. Sorry Pak Kajur, siapa cepat dia dapat……


Tenda yang didirikan di kiri kanan soetardjo dipenuhi mahasiswa, tempat duduk sudah penuh, banyak yang berdiri. Mendung tebal sekali dan sebentar lagi pasti hujan. Pak Dahlan datang. Mahasiswa berdiri semua. Lorong tengah jadi penuh kerumunan, semua berebut salaman. Rombongan Pak Dahlan jadi merayap menuju podium, tersendat kiri-kanan. Saya tidak jadi ikut rebutan salaman, ga tega menghambat perjalanan Pak Dahlan. Cukup hati saja yang menyalaminya.
Bersama Pak Rektor, Pak Dahlan duduk di sofa di podium, acara bincang-bincang ini dipandu langsung oleh Rektor saya Pak Hasan. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan bersama-sama. Semua berdiri tegak, tapi Pak Dahlan, tidak hanya berdiri tegak, juga menyilangkan tangan kanannya ke dada.

Sambutan oleh Pak Hasan cukup singkat, nampaknya Pak Rektor tahu kebiasaan Pak Dahlan yang tidak suka bertele-tele. Mahasiswa bersorak-sorak dan bertepuk tangan setiap ada momen yang tepat, tanpa di komando.
Tari petik Kopi oleh delapan mahasiswi Unej rancak ditampilkan. Tari kreasi ini memadukan gerak tari kuntulan yang khas dari daerah pedalungan, dengan dinamika tari malangan-suroboyoan dan eksotika gerakan gandrung banyuwangi. Mudah-mudahan Pak Dahlan senang.

Pak Rektor memandu acara bincang-bincang dan mempersilakan Pak Dahlan untuk memberikan statemen pembuka.Kejutan dan kekacauan …… itulah yang dilakukan Pak Dahlan. Minta ijin ke Pak Rektor agar mahasiswa yang masih diluar dan diancam mendung hitam boleh masuk dan duduk bersila di depan podium. Tak bisa tidak, Pak Hasan mengangguk dan tersenyum untuk kemudian diserbu ratusan mahasiswa dan mahasiswi ngeluruk hingga semeter dari Pak Dahlan dan Pak Hasan. kekacauan mereda, semua duduk bersila hingga penuh sampai ke depan sofa VIP. Ga jadi VIP lagi dah….. kalah sama mahasiswa.


Dosen-dosen pada tersenyum dan tertawa melihat kejadian yang spontan itu. Bahkan beberapa dosen yang tadinya berdiri di depan pintu dan tidak kebagian kursi ikutan lesehan di depan podium. Ibu PD III saya termasuk yang lesehan bersama mahasiswa. Maklumlah PD III kan memang harus dekat dengan mahasiswa.

Ketika hujan turun dengan derasnya semua sudah duduk manis dan aman di dalam gedung. Suara hujan menghantam atap gedung Soetardjo dengan hebatnya. Kekacauan yang ditimbulkan Pak Dahlan menyelamatkan banyak orang dari hujan dan ketidaknyamanan.

Walau kursi saya ga jadi VIP saya malah senang, dosen-dosen lain juga nampak tertawa-tawa. Juga Pak Rektor yang memang murah senyum. Teman sebelah saya walau seperti nggrundel “wah…. kacau ….. kacau…..” tapi tetap dengan meringis tersenyum setengah tertawa. kekacauan yang bisa diterima oleh semua, karena memberikan kenyamanan. Daripada birokrasi kaku yang menyengsarakan sebagian orang dan membuat kami yang duduk di VIP pun tidak nyaman bila ada sebagian anak-anak kami, mahasiswa terpaksa kehujanan diluar.

http://edukasi.kompasiana.com/2013/11/22/dahlan-iskan-di-universitas-jember-sang-pengacau-datang--611960.html

Kamis, 24 Oktober 2013

Pelajaran Menghargai Waktu dari Dahlan Iskan



Saya baru tiba di rumah ketika sebuah pesan pendek masuk ke handphone saya. “Besok pagi ikut saya ke Semarang dan Banjarmasin. Sore kembali ke Jakarta. Mau nggak?” tulis Menteri BUMN Dahlan Iskan, Selasa (22/10) menjelang tengah malam.

Tawaran ke Semarang tidak menarik bagi saya. Sebab, saya baru meninggalkan kota Semarang, sehari sebelumnya. Tapi tawaran ke Banjarmasin sungguh menggoda. Maklum, saya belum pernah mengunjungi kota itu sekali pun.

“Oke Pak. Siap ikut,” balas saya melalui pesan pendek.

“Kita berangkat dari Monas pukul 05.15,” sahut Dahlan, juga melalui pesan pendek.

Komunikasi yang teramat singkat. Tapi saya tidak berusaha untuk menanyakan apa agenda Pak Menteri di Semarang dan Banjarmasin. Pekerjaan menyusun proposal untuk klien segera mengalihkan perhatian saya.

Di tengah kesibukan, handphone saya berdering. Darmawan, manager promosi Harian Indopos menghubungi saya, menanyakan lokasi berkumpul di Monas. Rupanya, Darmawan juga ditawari ikut ke Semarang dan Banjarmasin oleh Dahlan. “Berangkat bareng saja,” jawab saya.

Pukul 04.00 saya dan Darmawan meninggalkan rumah di Kelapa Gading menuju Monas. Seusai salat subuh di Wisma Antara, saya berjalan kaki menuju lokasi patung Ikada. Lokasi favorit Dahlan bersenam pagi bersama kawan-kawannya.

Tiba di lapangan Ikada, saya bertemu dengan beberapa orang lagi. Ada Fauzi pimpinan Harian Pasundan Ekspres dan Gus Azis Muis, ustadz muda yang baru saya kenal.

Tidak seperti biasanya, hari itu, Dahlan hanya bersenam 30 menit. “Kita harus berangkat lebih awal, karena kita tidak memakai mobil dan polisi pengawal,” kata Dahlan sambil berjalan kaki menuju kantor Kementerian BUMN.

Dahlan adalah satu-satunya menteri di Kabinet Indonesia Bersatu yang tidak menggunakan fasilitas pengawalan polisi. Karena tanpa pengawal, Dahlan harus pintar dan disiplin waktu karena kemacetan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.

“Di Semarang, apa ada acara apa Pak,” tanya saya kepada Pak Menteri.

“Menghadiri undangan IAIN Walisongo dan FISIP Undip,” jawab Dahlan sambil membetulkan tali sepatu kets “DI-19″ kesukaannya.

“Atur penumpang, minimal 3 orang dalam 1 mobil. Kita akan lewat jalur 3 in 1,” kata Dahlan, sembari masuk ke mobilnya, Nissan Serena keluaran 2011, yang biasa dipakai istrinya.

Mengapa pakai Serena? Di mana sedan Mercy-nya? “Mercy sudah 2 minggu di bengkel. Maklum, sudah 7 tahun dipakai. Mulai banyak yang harus diperbaiki,” kata Sahidin, karyawan Jawa Pos yang sekarang ditugaskan menjadi sopir khusus buat Pak Menteri.

Beriringan kami menuju lapangan terbang Halim Perdana Kusuma di Jakarta Timur. Perjalanan ke Semarang dan Banjarmasin memang tidak menggunakan pesawat regular, melainkan pesawat carter karena rute penerbangan dan jadwal kegiatannya tidak bisa disesuaikan.

“Ini soal komitmen. Saya sudah menyatakan siap hadir menjadi pembicara di IAIN Walisongo dan FISIP Undip. Ternyata, hari yang sama juga ada pelantikan anggota PWI Pusat di Banjarmasin. Melihat rute dan jadwalnya, tidak mungkin kita naik Garuda atau Citilink. Harus sewa pesawat,” jawab Dahlan.

Tepat pukul 06.30, pesawat Avanti yang disewa dari Susi Air tinggal landas meninggalkan lapangan terbang Halim Perdana Kusuma, menuju lapangan terbang Ahmad Yani, Semarang. Total ada 8 orang penumpang ditambah 1 pilot dan 1 co pilot.

Inilah pengalaman terbang termahal bagi saya. Perjalanan dari Jakarta - Semarang - Banjarmasin - Jakarta itu biayanya USD 18.000!

Setelah mengudara 45 menit, pesawat pun mendarat di Lapangan Terbang Ahmad Yani, Semarang, dengan mulus. Bersama rombongan rektoran IAIN Walisongo yang menjemput, rombongan bergegas menuju Hotel Pandanaran. Di situ, Dahlan didaulat menjadi pembicara kunci dalam sebuah seminar bertema komunikasi.

Tiba di hotel, suasana masih sepi. Dahlan mulai bertanya-tanya, mengapa seminar dimulai? Bukankah pukul 08.00 seharusnya Dahlan sudah membawakan presentasi?

Tiga puluh menit Dahlan menunggu. Seminar tak kunjung dimulai. Dahlan mulai gelisah. Ditinggalkannya ruang tunggu VIP menuju ruang seminar. Rupanya, belum ada tanda-tanda seminar akan segera dimulai.

“Mohon maaf, saya sudah 30 menit di sini. Tapi seminarnya belum juga dimulai. Waktu saya sangat terbatas. Saya ke kampus Universitas Diponegoro saja,” kata Dahlan sambil bergegas ke mobil jemputan yang disediakan Universitas Diponegoro di halaman hotel.

Panitia seminar IAIN Walisongo tampak panik. “Tunggu 30 menit lagi Pak,” jawab panitia. “Maaf, tidak bisa. Lain waktu, saya akan datang lagi,” sahut Dahlan.

“Inilah potret kita hari ini. Masih banyak orang yang tidak menghargai waktu. Kita sudah bela-belain datang dengan menyewa pesawat. Ini bukan soal harga sewanya. Tetapi soal komitmennya,” kata Dahlan di dalam mobil.

Kekecewaan Dahlan akhirnya terbayar lunas di kampus Universitas Diponegoro. Walau kedatangan Dahlan satu jam lebih awal dari rencana, lebih dari 800 mahasiswa menyambutnya. Bahkan Irwan Hidayat, bos Sido Muncul, yang menjadi pembicara kedua dalam seminar “Here to be Entrepreneur” yang digagas mahasiswa jurusan Administrasi Bisnis FISIP Undip itu pun sudah berada di lokasi.

“Ini baru contoh hebat. Memegang komitmen dan menghargai waktu,” puji Dahlan kepada panitia dan peserta seminar di Undip.

Joko Intarto @IntartoJoko

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost