Tampilkan postingan dengan label Merpati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Merpati. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Oktober 2014

Dahlan Bahas Penyelamatan Merpati Bersama 100 Calon Investor



Dahlan Bahas Penyelamatan Merpati Bersama 100 Calon Investor


JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, Senin (6/10) malam, melakukan pertemuan dengan 100 investor yang ingin menjadi partner KSO PT Merpati Nusantara Airlines (MNA). Pertemuan tersebut untuk memenuhi asas keterbukaan dan menjaring konsep menghidupkan kembali maskapai pelat merah itu.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Hotel Le Meredian Jakarta itu, Dahlan mengemukakan upaya menghidupkan Merpati melalui mekanisme Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Namun ia mengingatkan, untuk bisa memperoleh keputusan PKPU harus ada perencanaan mengenai bagaimana menghidupkan dan mengembangkan Merpati. Karena itulah para investor yang hadir ini ditantang untuk membuat konsep yang menarik dan masuk akal agar Merpati bisa bernyawa.

"Bahkan ada konsep yang sangat menarik. Namun saya tidak bisa begitu saja menunjuk investor tersebut melainkan harus diadakan penawaran terbuka, termasuk seperti yang dilakukan malam tadi," ungkap Dahlan di Jakarta, Selasa (7/10).

Ia berharap dalam seminggu ini sudah terkumpul penawaran, dengan begitu bisa segera diajukan pada PKPU. "Semoga dalam hari ke depan sudah bisa diketahui konsep terbaik yang diajukan investor, untuk kemudian bisa diajukan PKPU. Semoga minggu ini ada hasil," harapnya. (chi/jpnn)


Selamatkan Merpati, Dahlan Iskan Temui 100 Investor


TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan bertemu dengan 100 investor untuk membahas masalah yang menimpa PT Merpati Nusantara Airlines. Mereka adalah para investor yang berniat menjadi mitra Kerja Sama Operasional (KSO). (Baca juga: Lagi, Karyawan Merpati Minta Kejelasan Nasib)
Salah satu agenda yang dibahas pada pertemuan Senin malam, 6 Oktober 2014, adalah menemukan konsep terbaik untuk menghidupkan kembali Merpati. Menurut Dahlan, salah satu cara yang paling tepat untuk menghidupkan kembali Merpati adalah melalui mekanisme Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). "Namun, untuk memperoleh keputusan PKPU harus ada perencanaan matang," kata Dahlan melalui keterangan tertulis, Selasa, 7 Oktober 2014.
Opsi lain yang dikemukakan Dahlan kepada investor adalah restrukturisasi utang menjadi saham. Namun opsi ini juga dinilai tidak mudah karena investor masih harus menyediakan pesawat, membayar gaji karyawan yang tertunggak, membayar asuransi, dan menyediakan modal kerja. (Baca: Dahlan Putar Otak Bayar Gaji Karyawan Merpati)
Dahlan mengklaim sejumlah investor serius untuk menjalankan KSO dengan Merpati. Meski begitu, untuk melakukan penunjukkan investor harus melalui mekanisme penawaran terbuka. Dahlan berharap dalam sepekan ada penawaran yang masuk, "Dalam 10 hari, sudah bisa diketahui konsep terbaik yang diajukan investor, untuk kemudian bisa diajukan PKPU."
Menurut Dahlan, dalam pertemuan yang dipimpin Deputi Menteri BUMN Gatot Trihargo dan Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) Andi Saddawero, investor banyak bertanya tentang keseriusan pemerintah dalam program penyelamatan Merpati. Pemerintah, kata Dahlan, pada dasarnya sangat serius dan tidak rela jika Merpati harus ditutup. (Baca: Dahlan Akan Selesaikan Soal Merpati Sebelum Lengser)
FAIZ NASHRILLAH

Minggu, 13 Juli 2014

Dahlan Iskan dan Merpati


Merdeka.com - Maskapai penerbangan nasional Merpati Nusantara Airlines belum juga berhasil keluar dari keterpurukan. Sampai akhir bulan lalu, total utang yang membelit Merpati hampir mendekati angka Rp 8 triliun.
Tiga menteri BUMN mulai dari Sofyan Djalil, Mustafa Abubakar hingga Dahlan Iskan, tidak juga sanggup atau berhasil membawa maskapai penerbangan ini terbang tinggi. Rapor kinerja maskapai tetap saja merah. Bongkar pasang direksi terus dilakukan. Pengisi kursi direktur utama berganti-ganti dalam 10 tahun terakhir.
Di tengah kondisi Merpati yang makin terpuruk, belakangan beredar kabar bahwa Asep Ekanugraha yang kini duduk sebagai direktur utama Merpati, beberapa kali mengajukan pengunduran diri pada Dahlan Iskan. Menurut pengakuan Sekretaris Perusahaan Merpati, Riswanto, beberapa hari terakhir Asep cukup rajin menyambangi kantor Dahlan Iskan di Jalan Medan Merdeka Selatan.
"Memang Pak Asep (Dirut Merpati) sedang sibuk mengunjungi Kementerian BUMN terus sejak Jumat kemarin," ujarnya ketika dihubungi merdeka.com, Jakarta, Minggu (13/7).
Namun, Riswanto tidak dapat memastikan bahwa rajinnya Asep ke kantor Dahlan Iskan ada kaitannya dengan kabar pengunduran diri bosnya itu. "Saya belum mendapatkan updatenya, mungkin besok. Belum dapat update langsung dari Pak Asep," katanya.
Walaupun kabar pengunduran diri orang nomor satu di Merpati dihembuskan oleh Dahlan Iskan, Riswanto memastikan bahwa hingga kini Asep tetap melakukan rutinitas sebagai Dirut Merpati. "Masih bekerja, setiap hari, masih normal-normal saja," jelas dia.
Sebelumnya, Menteri BUMN, Dahlan Iskan mengaku belum bersedia mengabulkan permintaan Direktur Utama Merpati ini.
"Dirut (Merpati) memang minta berhenti terus. Dia minta berhenti, tapi belum ada yang mau jadi dirut," ujarnya di Kementerian BUMN, Jakarta, Sabtu (12/7).
Di samping itu, beberapa pekan lalu Panja Merpati bentukan Komisi VI DPR merekomendasikan penggantian Asep, sebagai langkah menyelamatkan Merpati. Direksi sekarang dianggap tak becus mengupayakan restrukturisasi aset. Padahal, maskapai pelat merah ini berulang kali sudah mengganti pucuk pimpinannya selama krisis membelit.
Diberi rekomendasi demikian oleh DPR, Asep saat itu menerima. "Enggak apa-apa (diberhentikan), enggak ada masalah. Pokoknya prinsipnya apa pemegang saham, kita ikuti," ucap Asep di Komplek DPR RI, Senin (7/7).
[noe]

http://www.merdeka.com/uang/rajin-ke-kantor-dahlan-iskan-dirut-merpati-ajukan-resign.html


JPPN JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menegaskan bahwa upaya penyelamatan PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) akan sia-sia belaka bila tak menerapkan tiga hal.

Pertama, restrukturisasi utang. Kemudian kuasi reorganisasi dan menjalin kerjasama operasional (KSO).
"Merpati nggak mungkin bisa dihidupkan tanpa melakukan tiga hal. Pertama itu restrukturisasi utang, yang kedua kuasi reorganisasi untuk menyikapi kerugian selama sekian puluh tahun sampai 7,2 triliun, ketiga kerjasama dengan swasta," ungkap Dahlan usai menggelar rapat dengan BUMN Karya di kantornya, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Sabtu (12/7).

Menurut Dahlan, untuk KSO sejauh ini sudah berjalan meski belum maksimal, sedangkan dua opsi lainnya belum berjalan lantaran memerlukan izin dari DPR, Menkeu dan Menhub.

"Kerjasama sudah jalan. Pokoknya tiga hal ini sulit, biarpun disuntik uang berapapun. Misalnya (untuk menghidupkan Merpati) disuntik ratusan miliar nggak bisa," terang mantan Dirut PLN ini.

Mengenai pernyataan Menteri Keuangan Chatib Basri yang mengatakan belum menerima bisnis plan penyelamatan Merpati, Dahlan katakan pihaknya sudah mengirimkan.

"Ini (bisnis plan) sudah disampaikan. Soft copynya sudah diemailkan juga kepada bawah-bawahan beliau," katanya. (chi/jpnn)

http://www.jpnn.com/read/2014/07/12/245779/Tanpa-Tiga-Hal-Ini,-Upaya-Hidupkan-Merpati-Sia-sia-Belaka-


Dirut Merpati Mau Mundur, Dahlan Iskan Pusing


Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menjelaskan kondisi PT Merpati Nusantara Airlines yang kini memburuk. Maskapai terlilit utang itu terancam ditinggalkan sang Direktur Utama Asep Ekanugraha.
Orang nomor satu Merpati ini berulang kali meminta mundur pada Dahlan, selepas rapat dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Tapi Dahlan belum bersedia mengabulkan.
“Dirut (Merpati) memang minta berhenti terus. Dia minta berhenti, tapi belum ada yang mau jadi dirut,” ujarnya di Kementerian BUMN, Jakarta, Sabtu (12/7).
Sebelumnya, Panja Merpati bentukan Komisi VI DPR merekomendasikan penggantian Asep, sebagai langkah menyelamatkan Merpati. Direksi sekarang dianggap tak becus mengupayakan restrukturisasi aset.
Padahal, maskapai pelat merah ini berulang kali sudah mengganti pucuk pimpinannya selama krisis membelit. Diberi rekomendasi demikian oleh DPR, Asep saat itu menerima.
“Enggak apa-apa (diberhentikan), enggak ada masalah. Pokoknya prinsipnya apa pemegang saham, kita ikuti,” ucap Asep di Komplek DPR RI.
Utang yang melilit Merpati hingga Mei 2014 mencapai Rp 7,2 triliun. Kementerian BUMN hanya memiliki dua opsi reorganisasi untuk selamat dari jerat kebangkrutan.
Beberapa solusi itu adalah konversi utang dan kerja sama dengan swasta. Dahlan sendiri mengaku butuh bantuan Kementerian Keuangan buat memutihkan utang Merpati.
Berbeda dengan pernyataan menkeu bahwa belum ada surat, pekan ini otoritas BUMN sudah mengirimkan proposal penyelamatan Merpati ke bendahara negara.
“Ini sudah disampaikan. Soft copy sdh di-emailkan juga kepada bawahan beliau. Memang enggak secara khusus untuk merpati,” kata Dahlan. [bim]
Sumber: merdeka.com
Editor : Dhefi Nugroho

http://www.timlo.net/baca/68719558514/dirut-merpati-mau-mundur-dahlan-iskan-pusing/

Senin, 07 Juli 2014

Dahlan Iskan : MH 135 : D’Lloyd Setelah Lama Mati Suri


Satu lagi BUMN yang sudah lama mati bisa hidup lagi: PT Djakarta Lloyd. Minggu lalu sebuah pesta kecil diselenggarakan di hotel Pullmann Jakarta untuk syukuran.
Selama ini sulit sekali mencari jalan keluar menghidupkan perusahaan pelayaran yang pernah memiliki kelompok musik legendaris D’Lloyd itu.
Pernah saya ingin menghidupkannya dengan cara membelikannya kapal. Agar bisa mulai berusaha lagi. Tapi takut: jangan-jangan begitu kapal itu dibeli dan diserahkan ke PT Djakarta Lloyd langsung hilang. Disita orang.
Itu karena DL memiliki utang lebih dari Rp 1,3 triliun. Mereka itulah yang telah menyita kapal-kapal DL satu per satu.
Terakhir dua kapalnya yang masih tersisa dan sedang diperbaiki di Singapura, disita orang pula di sana. Habis. Ludes. Perusahaan perkapalan ini tidak punya kapal sama sekali.
Ketika saya mulai menjadi menteri, direktur DL tinggal satu: Syahril Japarin. Sebelumnya Syahril sudah memiliki posisi yang mapan sebagai dirut perusahaan air minum di Jakarta. Tapi ketika menteri BUMN sebelum saya menawarinya untuk menyelamatkan DL, Syahril tertantang.
Syahril sering menemui saya yang waktu itu masih menjabat dirut PLN. Dia minta untuk diberi tugas mengangkut batubaraPLN. Tentu tidak mungkin. Tidak memenuhi syarat.
Pengangkut batubara PLN harus punya kapal. Apalagi, saat itu, saya lagi menerima tugas sulit dari menteri BUMN untuk menghidupkan perusahaan perkapalan yang juga sudah lama mati: PT Bahtera Adiguna (BAg).
Di tangan PLN akhirnya BAg bisa hidup dan kini sudah sangat sehat. Kapalnya juga sudah cukup banyak.
Saya sungguh iba melihat orang seperti Syahril. Mau menjadi dirut sebuah perusahaan BUMN yang sedang dalam proses tenggelam. Perusahaan itu tidak memiliki kapal, tidak memiliki kepercayaan, dan tidak memiliki penghasilan untuk menggaji karyawan.
Setiap hari yang datang ke kantornya adalah para pendemo: minta pembayaran gaji dan pembayaran utang.
Yang membuat lebih sulit, administrasi di perusahaan itu sudah porak poranda. Berkas-berkas hilang atau dihilangkan. Catatan-catatan utang tidak dilengkapi dokumen yang memadai. Sejak tahun 2007 DL tidak pernah diaudit. Auditor tidak bisa melakukannya. Tidak ada laporan keuangan.
Ketika saya beralih menjabat menteri BUMN saya sudah tahu penderitaan Syahril. Dia mempunyai jabatan keren, dirut BUMN, tapi tidak pernah menerima gaji. Saya langsung memberikan gaji saya sepenuhnya kepada Syahril.
Jadilah dia dirut yang gajinya sebesar gaji menteri. Jangan kaget, gaji menteri itu hanya 5 persennya gaji dirut BUMN besar.
Enam bulan lamanya Syahril “bergaji menteri”, sampai akhirnya perusahaan yang dia pimpin mulai sedikit-sedikit dapat penghasilan.
Ketika Syahril kemudian diangkat menjadi Dirut Pelni, DL dipimpin satu orang saja: Arham S Toriq. Dia seorang akuntan yang juga tertantang untuk meneruskan penyelamatan DL.
Arham berpikir tidak mungkin DL bisa selamat kalau utang Rp 1,3 triliun tidak diselesaikan. Arham ingin DL segera punya kapal. Tapi mustahil. Utang harus diselesaikan dulu.
Maka Arham menempuh jalan KPKU. Berhasil. KPKU memutuskan semua utang DL dialihkan menjadi saham. Dengan status saham yang tidak memiliki hak suara. Diputuskan pula, DL akan mencicil utang itu selama 18 tahun, dengan masa tenggang lima tahun.
Dengan keputusan KPKU seperti itu buku DL menjadi bersih! Cara penyelesaian utang yang ditempuh Arham itu baik. Saya memang berkeras tidak mau negara harus menyelamatkan DL. Misalnya dengan cara Penyertaan Modal Negara (PMN). Bahkan, kalau memang harus mati, mati saja.
Dengan sikap saya seperti itu akhirnya pemilik piutang memilih perusahaan harus tetap hidup dengan cara restrukturisasi utang.
Cara seperti itu pulalah yang telah saya pakai untuk menyelamatkan PT Istaka Karya tahun lalu. PT Istaka yang juga terbelit utang di luar kemampuannya akhirnya terancam mati. Saya juga berkeras tidak mau ada PMN. Kalau mau mati, mati saja.
Usaha restrukturisasi pun akhirnya dilakukan. Ternyata berhasil. PT Istaka Karya kini hidup lagi. Bahkan sudah sangat sehat.
Maksud saya, untuk PT Merpati Nusantara Airlines juga dilakukan hal yang sama. Jangan diberi lagi uang dari negara. Sudah terlalu banyak uang negara tenggelam di situ.
Tanpa restrukturisasi utang sulit Merpati diminta hidup lagi. Merpati memiliki utang Rp 7,9 triliun. Bahkan akumulasi kerugiannya sudah mencapai Rp 7,2 triliun. Karena itu melakukan restrukturisasi utang saja tidak cukup. Harus pula dilakukan kuasi reorganisasi untuk menghilangkan angka akumulasi kerugian yang begitu besar.
Setelah dua langkah itu dilakukan, barulah bisa dilakukan langkah besar ketiga: kerjasama operasi dengan perusahaan lain.
Tiga langkah besar itu tidak bisa dilakukan hanya oleh menteri BUMN. Harus secara bersamaan dilakukan oleh Menteri BUMN, Menteri Keuangan, Menteri Perhubungan, dan Mensesneg. Tentu juga Menko Perekonomian. Dan prosesnya harus melalui DPR, khususnya Komisi 6.
Karena itu saya salut pada Komisi 6 DPR yang telah membentuk Panitia Kerja (Panja) Merpati. Inisiatif Komisi 6 yang begitu cepat sungguh tidak saya perkirakan sebelumnya. Semoga Panja DPR di Komisi 6 itu menghasilkan yang terbaik untuk Merpati. Khususnya diberikannya lampu hijau untuk restrukturisasi utang dan kuasi reorganisasi untuk mengatasi besarnya akumulasi kerugian.
Setelah Merpati ini masih ada satu lagi yang belum menemukan jalan keluar yang tuntas: PT Kertas Leces. Tapi waktunya sudah sangat mepet. PT IKI, PT Garam, PT Perikanan, Perum Perikanan Indonesia, Istaka, Waskita, dan banyak lagi BUMN sudah berhasil disehatkan.
Tapi PT Kertas Leces masih memusingkan. Saya ingin mengubahnya menjadi perusahaan energi, tapi waktu sudah tidak cukup.
Oleh Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Kamis, 24 Oktober 2013

Dahlan Iskan Tak Ingin Dirut-Dirut BUMN Jadi Bebek

Dahlan Iskan tidak mau berkomentar terlalu jauh terkait langkah pertamina menghentikan pasokan avtur ke Merpati. Karena langkah itu Pertamina sesuai dengan Perjanjian, bahwa utang avtur tidak boleh melebihi Rp 100 milliar.


JAKARTA - PT Pertamina (Persero) telah menghentikan suplai avtur atau bahan bakar untuk maskapai penerbangan BUMN, PT Merpati Nusantara Airlines (MNA). Namun hingga kini belum ada tindakan yang dilakukan oleh pihak Merpati untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan dirinya selama ini melakukan tindakan bungkam mengenai aksi korporasi tersebut lantaran Dahlan menilai dengan didiamkan maka Merpati dapat lebih baik lagi mencari akal untuk menyelesaikan permasalah tersebut.

"Kadang-kadang kalau didiamkan itu lebih baik, mereka cari akal, kalau mereka diberi petunjuk terus jadi bebek nanti, mereka itu kan dirut-dirut pinter," kata Dahlan usai Rapim di Kantor Pelindo II, Jakarta, Kamis (24/10/2013).

Dirinya juga menjelaskan bahwa dalam kasus permasalahan mengenai avtur Merpati dan Pertamina dirinya tidak pernah memberikan petunjuk spesial kepada kedua perseroan itu.

"Saya tidak pernah kasih petunjuk ke dirut BUMN, emang kalian senang melihat mereka jadi bebek," tambahnya.
Di sisi lain, Mantan Dirut PLN ini, mengaku tidak mempermasalahkan kedua perseroan ini, agar tidak ada yang menjadi korban, atau salah satu BUMN tersebut harus ditutup.

"Mereka gak mau tutup, kalau Merpati tutup saya gak ikhlas, tapi saya juga gak mau Pertamina tutup," pungkasnya.

Dapat kita ketahui, Direktur Utama Merpati  Asep Ekanugraha mengatakan, hingga saat ini proses lobi mengenai pasokan avtur masih berjalan. Di mana, progresnya masih sama seperti yang sebelumnya.

"Setiap hari berubah (posisi utang). Pokoknya setelah di bawah Rp100 miliar, semua open, enggak boleh lewat Rp100 miliar, progres masih sama seperti kemarin yang dibicarakan. Masih berjalan," ungkap Asep di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Selain itu, Merpati mengupayakan pasokan avtur dari Pertamina kepada maskapai penerbangan BUMN ini, pihak Merpati tetap menjalankan upaya seperti, adjustable operasional. (kie) (wdi)


http://economy.okezone.com/read/2013/10/24/320/886420/dahlan-iskan-tak-ingin-dirut-dirut-bumn-jadi-bebek


**************************

Dahlan Iskan Tidak Ikhlas Merpati Tutup


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengaku tidak ikhlas bila PT Merpati Nusantara Airline tutup. Sebab, salah satu maskapai pelat merah ini merupakan salah satu legenda maskapai di Tanah Air.
"Sebenarnya mereka (direksi) Merpati tidak mau tutup dan saya juga sangat tidak ikhlas kalau Merpati tutup," kata Dahlan selepas rapat pimpinan BUMN di kantor Pelindo II Jakarta, Kamis (24/10/2013).
Kendati demikian, Dahlan enggan menyetir kebijakan untuk direksi baru Merpati ini. Bahkan saat kondisi Merpati sudah merugi triliunan dan mengalami kesusahan dalam operasional. Di sisi lain, Merpati juga sedang kesulitan keuangan tingkat okupansi penerbangan tidak penuh dan beberapa rute juga merugi.
Sementara itu, PT Pertamina juga menghentikan pasokan avtur di lima kota penerbangan Merpati. Beruntung, untuk wilayah Surabaya dan Makassar yang selalu penuh penumpang tidak diberhentikan pasokannya. Meski di posisi itu, Dahlan juga tidak mau memberikan solusi ke Merpati.
Dahlan sengaja membiarkan direksi agar terus bekerja, memutar otak demi mendapatkan strategi perseroan yang bisa menguntungkan. "Soalnya saya juga tidak mau PT Pertamina tutup," tambahnya.
Sekadar catatan, Pertamina sudah menghentikan pasokan avtur ke Merpati di lima kota rute penerbangannya. Hal ini disebabkan Merpati belum bisa membayar plafon pinjaman sebesar Rp 100 miliar per rute penerbangan.
Hal ini juga semakin diperparah karena plafon pinjaman Merpati ke Pertamina malah melampaui batas dan menembus Rp 120 miliar. Padahal Merpati sudah menjalin kerjasama dengan Pertamina untuk tidak perlu membayar pembelian avtur terlebih dahulu dan bisa memanfaatkan plafon pinjaman Pertamina, meski dibatasi hanya Rp 100 miliar per rute penerbangan.
Masalahnya lagi, Merpati ternyata juga memiliki utang ke Pertamina sekitar Rp 200 miliar, sisa utang yang terdahulu. Belum lagi utang ke perusahaan lain yang sudah mencapai Rp 6,5 triliun.(Didik Purwanto/Kompas.com)

Selasa, 01 Oktober 2013

Dahlan Iskan Minta Merpati Perbaiki Utang Dulu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI, Dahlan Iskan, meminta pihakMerpati (persero) memperbaiki utangnya sebelum menambah jalur perintis yang sudah ada.
Karena itulah BUMN seperti Garuda ditunjuk untuk mengembangkan jalur perintis dengan menyewa pesawat ATR72-600 yang didatangkan dari Negara Perancis.
"Kalau ditunjuk Merpati kan problem utangnya belum selesai, jadi diberikan ke Garuda saja, untuk Merpati harus berjuang untuk restrukturisasi utang dahulu," kata Dahlan di Jakarta, Selasa (1/10/2013).
Seperti diketahui, Garuda semakin menggencarkan ekspansi bisnis melalui jalur perintis komersial dengan mendatangkan ATR72-600.
Nantinya pesawat berkapasitas 70 penumpang itu akan diterjunkan untuk rute-rute di dermaga tempat kapal jet tidak bisa berlabuh.
Padahal rute perintis untuk pesawat komersial dari perusahaan pelat merah pada awalnya lebih diprioritaskan kepada Merpati.
Makanya pemberian jalur baru kepada Garuda ini dikhawatirkan akan menimbulkan persaingan diantara kedua perusahaan pelat merah itu.
Garuda mendatangkan pesawat ATR72 600 dengan sistem sewa. Pembelian pesawat dilakukan oleh Nordic Aviaton Capital (NAC).
Dengan sistem sewa ini maka Garuda akan mendatangkan 35 pesawat ATR72 600 yang terdiri dari 25 pesawat yang sudah dipesan dan 10 pesawat berupa opsi tambahan untuk melayani rute-rute penerbangan jarak dekat.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost