Tampilkan postingan dengan label Mobil Listrik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mobil Listrik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Desember 2014

Komentar pada Kompasiana " Dahlan Iskan dan Ricky Elson " : Mengejar Bangsa Lain dengan Mobil Listrik

Akun kompasiana saya etah kenapa nggak bisa masuk jadi tuliskan disini. Ada beberapa yang tidak cocok dengan yang saya ketahui dalam menuangkan sosok Ricky Elson yang kembali ke jepang karena kecewa pada pemerintah yang tak kunjung mengeluarkan izin mobil listrik hasil pengembangannya bersama rekan-rekan lain.

Kemungkinan penulis tidak mengikuti perkembangan detik-detik keputusan Bang Ricky Elson untuk kembali ke Jepang atau tetap berkarya di Indonesia.

Dan sepanjang yang saya tahu beliau tidak henti-henti menularkan semangat engineeringnya kepada mahasiswa2 di Indonesia bersama LAN.

=================================================================
Mengejar Bangsa Lain dengan Mobil Listrik

Pernah dengar cerita produk inovatif namun belum terlalu dilirik oleh banyak orang? mungkin cerita itu bisa kita  simak  dari kehadiran mobil listrik.  Di negara kita, Indonesia, kita mengenal sosok Dahlan Iskan.  Sewaktu beliau menjabat menteri BUMN, beliau memiliki proyek pribadi yakni mobil listrik. Pak Dahlan sempat memiliki prototipe mobil listrik. Mobil itu diberi nama “Tuxuci”, sebuah mobil mirip mobil “ferrari”. Mobil itu karya salah seorang anak bangsa yang diproduksi di dalam negeri. Pak Dahlan pun sempat melakukan turing menjajal mobil tersebut. Nasib berkata lain, umur mobil itu tidak panjang karena mengalami kecelakaan. 

Tidak puas hanya memiliki Tuxuci, ternyata Pak Dahlan memesan mobil listrik lain untuk diproduksi dan dikembangkan, mobil itu diberi nama “Selo”. Sama halnya dengan Tuxuci, Selo pun karya anak bangsa dan diproduksi di dalam negeri.
sumber gambar: https://acara-event.com
Selain mengoptimalkan sumber daya di dalam negeri, Pak Dahlan Iskan bahkan mengundang anak bangsa yang memiliki keahlian terkait mobil listrik, Ricky Elson, yang saat itu berada di Jepang untuk kembali ke Indonesia dan menjadi bagian dari proyek mobil listrik nasional. Pak Dahlan pun menawarkan seluruh gaji menteri nyauntuk diberikan ke Ricky. Ricky menerimanya dan bersedia kembali ke Indonesia untuk ikut mengembangkan mobil listrik bersama Pak Dahlan Iskan. Namun setelah berhasil mengembangkan mobil listrik, Ricky kembali ke Jepang karena merasa kecewa pada pemerintah yang tak kunjung mengeluarkan izin mobil listrik hasil pengembangannya bersama rekan-rekan lain.

Kekecewaan pun menimpa Pak Dahlan akibat hengkangnya Ricky dari proyek mobil listrik. Setelah tidak lagi menjadi Menteri BUMN,Pak Dahlan bahkan masih akan terus mengembangkan serta memproduksi mobil listrik.  Sebegitu gigihnya Pak Dahlan  akan proyek mobil listriknya itu.

Sebagaimana kita tahu bahwa mobil listrik merupakan sesuatu yang baru di Indonesia, bahkan di dunia. Kendaraan yang umum digunakan sampai saat ini masih berbahan bakar minyak bumi. Infrastruktur yang ada sampai saat ini masih mendukung untuk kendaraan berbahan bakar minyak. Melihat kondisi ini tentu masyarakat akan memilih menggunakan mobil berbahan bakar minyak.  Namun kenapa Pak Dahlan begitu gigihnya untuk mengembangkan mobil listrik? Pak Dahlan pasti memiliki motivasi dibalik aksinya itu.

Menyimak sedikit cerita tentang Pak Dahlan Iskan dan mobil listriknya tersebut, bisa dikatakan Pak Dahlan ingin bergerak lebih cepat. Kenapa Pak Dahlan harus memulainya dari sekarang, kenapa tidak nant-nanti saja, toh mobil konvensional masih sangat mendominasi kendaraan saat ini apalagi didukung infrastruktur yang memadai. Sedangkan mobil listrik? siapa yang mau beli? buang-buang waktu dan tenaga saja. Seperti telah saya sampaikan pada artikel saya sebelumnya bahwa sebelum bergerak tentu kita harus memiliki motivasi terlebih dahulu untuk bergerak lebih cepat, kemudian harus ada acuannya sebagai indikator yang menunjukkan bahwa kita telah bergerak lebih cepat. 

Motivasi Pak Dahlan adalah ingin supaya bangsa Indonesia memiliki mobil nasional. Untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain, tidak mungkin melalui produk mobil konvensional yang berbahan bakar minyak, dimana bangsa-bangsa lain itu telah mengembangkan dan memproduksi produk tersebut puluhan tahun dan tentu sulit untuk dikejar. Oleh karena itu, Pak Dahlan lebih memilih mengembangkan mobil listrik, karena bangsa-bangsa lain pun baru memulainya.  

Jika dilihat dari motivasi Pak Dahlan,  Pak Dahlan mungkin ingin menyusul negara lain yang juga sedang giat-giatnya mengembangkan mobil listrik sebagai acuannya, seperti ingin mengejar Tesla sebagai salah satu produsen mobil listrik ternama di Amerika yang mungkin saja teknologinya sudah lebih maju. Sehingga dengan bergerak lebih cepat, teknologi tersebut masih dapat dikejar dan mungkin akan lebih mudah mengejar brand nya yang barangkali masih bisa menyamai Tesla serta lebih cepat membawa brand mobil listrik indonesia ke seluruh  dunia yang juga ikut berpacu dengan brand produsen-produsen dunia lainnya.

Apakah sudah pantas mobil itu dikembangkan saat ini? jika melihat kondisi negara ini yang masih mendukung mobil konvensional. Mungkin jawab nya sudah. Hal ini karena negara-negara lain sudah memulai mengembangkan mobil listrik. Kita harus “start” serentak dengan mereka agar kita di masa depan tidak lagi hanya menjadi konsumen seperti saat ini. Di masa depan kita harus mampu berdiri sejajar dengan bangsa lainnya dalam dunia otomotif. 

Indonesia akan punya brand serta produk yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh dunia. Selain itu,  cepat atau lambat, mobil listrik pasti akan digunakan banyak orang seperti halnya mobil konvensional saat ini. Hal ini karena ketersediaan minyak bumi semakin menipis. 

Sedangkan listrik adalah produk hilir dari segala sumber energi, apakah itu minyak bumi, panas bumi, gas, batu bara, gelombang laut, angin, surya, biomassa, nuklir, dll. Keseluruh sumber energi itu ujung-ujungnya akan menghasilkan listrik. Jadi mengembangkan mobil listrik dari kini rasanya tidak ada ruginya. Malahan itu akan menjadi investasi bangsa ini di masa depan.

Bergerak adalah sebuah proses yang didalamnya ada efisiensi. Apakah pergerakan itu akan berjalan efisien? Karena inefisiensi merupakan momok ketika kita harus bergerak lebih cepat. Ketika kita dipaksa bergerak lebih cepat maka bisa saja akan membutuhkan energi dan upaya lebih besar daripada bergerak normal. Dampak yang bisa ditimbulkan bisa saja kita tidak sampai ke “garis finish” karena kehabisan tenaga. Menyimak cerita Pak Dahlan, ya mungkin saat ini memang butuh upaya keras agar proyek ini minimal bisa tetap berjalan. 

Mungkin tidak sedikit energi yang dikuras agar proyek ini tetap berjalan. Intinya proyek ini harus tetap berjalan. Pak Dahlan  tentu memiliki kapasitas yang terbatas.  Saya yakin beliau tidak mau tertinggal jauh dari produsen-produsen lainnya sebagai  acuan beliau untuk menjadikan mobil listrik kebanggaan Indonesia dipandang dunia di masa datang serta sejajar dengan produsen dunia lainnya. Oleh karena itu, beliau ingin bergerak lebih cepat, bergerak lebih cepat juga butuh dukungan dari kapasitas lingkungan dimana aksi itu dilakukan. 

Dalam konteks ini adalah kapasitas pemerintah untuk memberikan fasilitas dan infrastruktur pendukung, kapasitas perguruan tinggi untuk melakukan riset dan pengembangan, kapasitas industri yang akan memproduksi secara massal, serta kapasitas masyarakat melalui dukungan moril dan mudah-mudahan mau menggunakan mobil tersebut sebagai kebanggaan nasional dan sebagai rasa syukur dan cinta produk Indonesia.

Mari dukung mobil listrik nasional agar bisa bergerak lebih cepat mengejar bangsa lain.

By Agra Bramagara

Selasa, 16 September 2014

Dahlan Iskan : MH144 : Semoga Waras Listrik di Kegilaan BBM


Manufacturing Hope 144

“Kabar gembira Pak Dahlan, STNK mobil listrik kami sudah keluar. Inilah STNK mobil listrik pertama di Indonesia,” tulis SMS Martin Soekotjo kepada saya.

Malam itu juga saya SMS ke Bapak Presiden SBY. “Bapak Presiden Yth, lapor kabar gembira: STNK mobil listrik sudah keluar untuk pertama kalinya. Mobilnya produksi pabrik yang di Surabaya itu. Terima kasih Bapak Presiden. Akhirnya jadi kenyataan di era kepresidanan Bapak. Alhamdulillah.”

Waktu itu, Jumat sore lalu, saya lagi di Bitung. Meninjau galangan kapal IKI cabang Bitung yang pada pukul 17.00 senja itu masih ramai dengan orang bekerja.
Banyak kapal antre untuk diperbaiki. Bisnis berjalan lancar.

Padahal PT IKI (Industri Kapal Indonesia yang berpusat di Makassar) tiga tahun lalu masih mati.

Saya juga meninjau Pelabuhan Bitung di bawah PT Pelindo IV. Tahun ini Pelabuhan Bitung mulai mengoperasikan dermaga baru yang dalamnya 15 meter. Memenuhi standar kedalaman tol laut.

Tidak lama lagi PT Pelayaran Meratus dan Tempuran Emas mulai melayari jalur Belawan-Bitung.

“Pertama dalam sejarah Pelabuhan Bitung dijadikan tujuan rute dari Medan,” ujar GM Pelindo Bitung Heru Bhakti Fireno.

Saya juga meninjau pabrik pengolahan ikan PT Perikanan Nusantara Cabang Bitung yang amat membanggakan: sebuah pabrik yang amat ramai dan sibuk.

Padahal empat tahun lalu masih berupa “kuburan”.

“Saya sempat tidak digaji tiga tahun. Komplek pabrik ini jadi semak belukar,” ujar Direktur Perinus Max Najoan yang dulunya nelayan beneran. Kini Max Direktur Produksi PT Perinus.

“Seumur hidup tidak pernah membayangkan Bapak mengangkat saya jadi direktur,” ujar tamatan SPMA Perikanan Manado itu.
.
Dari Bitung saya melakukan komunikasi ke Surabaya, berbicara dengan petugas yang mengurus STNK mobil listrik itu.

“Yang dapat STNK memang baru satu Pak. Tapi berikutnya sudah akan lancar,” ujar Sukotjo, staf Grain saat saya telepon dari Bitung.

“Kalau begitu saya akan mampir ke Surabaya. Melihat mobilnya dan STNK-nya,” kata saya. “Saya bisa menyisihkan waktu empat jam di Surabaya,” tambah saya.

Empat jam itu, sekalian akan saya pergunakan untuk jadwal menjalani stemcell di Stemcell Center RSUD dr Sutomo, memasang crown gigi belakang di dokter gigi langganan saya, dan mencoba mobil listrik yang sudah ber-STNK itu.

Agar hemat waktu saya minta mobil tersebut dibawa ke rumah dokter gigi di Jalan Sedap Malam Surabaya. Juga mobil listrik jenis sedan kecil yang sedang diurus STNK berikutnya.

Lalu dengan mengemudikan mobil ini saya menuju bandara Juanda untuk kembali ke Jakarta.

Ketika mencoba mengemudikan mobil listrik ber-STNK, itu saya merasakan getaran halus mobilnya, dan getaran bangga di hati saya.

Sebenarnya saya sudah mencoba minivan itu dua tahun lalu. Tepatnya November 2012. Kini terasa sudah sempurna: power steering, gasnya, remnya, AC-nya, dan segala macamnya.

“Perjuangan dua tahun akhirnya ada hasilnya,” ujar Sukotjo, staf PT Grain yang menjadi produsen mobil ini.

Mobil ini memang masih berbasis mobil listrik dari Tiongkok yang dirakit dan disempurnakan di Surabaya.

Tapi komponen terbesarnya, baterai, akan sepenuhnya produksi Indonesia. “Kami sudah bicara dengan Nippres,” ujar Martin. “Yang lain-lain secara bertahap juga akan diproduksi di Surabaya,” tambahnya.

Dua tahun lalu saya mengunjungi pabriknya yang dibangun di luar kota Surabaya itu. Sekarang pabrik itu sudah jadi dan sudah beroperasi. Mampu merakit 10.000 mobil listrik setahun.

Mobil listrik dari Surabaya ini simbolnya petir, mirip logo PLN, karena dia memang salah satu dari lima putra petir yang kita unggulkan.

Pabrik itu satu komplek dengan pabrik baja yang amat besar, dengan pemilik yang sama. Kerangka baja bandara-bandara baru seperti Bali, Medan, Sepinggan, dan Juanda dibuat di sini. Juga Terminal 3 Soekarno Hatta yang raksasa itu.

Pabrik ini sekarang juga memproduksi baja untuk gedung bertingkat berbasis baja. Dengan modul ciptaannya, sebuah gedung enam lantai bisa dibangun hanya dalam waktu enam bulan.

“Desain kami bisa sampai 18 lantai lebih,” ujar Martin.

Mobil listrik pertama ber-STNK ini dibeli oleh anak perusahaan PLN, PT PJB Cabang Gresik. “Sekarang ke mana-mana kami gunakan minivan ini,” ujar Sugiyanto, GM PJB Gresik.

“Hemat sekali. Bandingannya, dengan mobil bensin sehari habis Rp 60.000. Dengan mobil listrik ini hanya Rp 10.000,” ujar Sugiyanto.

Memang chargingn-nya masih empat jam. Tapi di malam hari, saat pemilik mobil tidur, sangat cukup waktu untuk charging sampai penuh.

“Untuk kepentingan sehari-hari, kami hanya perlu charging dua hari sekali. Tidak tiap hari,” ujar Sugiyanto.

Rabu lusa, saat ada acara di RRI Yogya, saya juga akan menyerahkan becak listrik kepada dua tukang becak Solo yang selama ini menjadi jamaah shalawat Habib Syekh.

Becak listrik ini benar-benar beca biasa: masih harus dikayuh. Tapi ringan sekali. Saat becak menanjak pun kayuhannya tetap sangat ringan.

Habib Syekhlah pemilik ide awalnya. Saat mendengar salah satu Syekher-nya, saya, memelopori mobil listrik beliau minta dibuatkan becak listrik.

Beliau melihat betapa rekoso-nya tukang becak yang sudah tua tapi tetap mengayuh becaknya untuk mempertahankan hidup.

Saya sendiri sedang mengubah mobil Jaguar saya yang lama untuk menjadi mobil listrik. Bulan depan sudah jadi.

Di tengah gonjang-ganjing harga BBM, siapa tahu orang menjadi waras: menoleh ke mobil listrik!

Oleh Dahlan Iskan
Menteri BUMN

***

http://kabardahlaniskan.com/2014/09/14/mh144-semoga-waras-listrik-di-kegilaan-bbm/

Kamis, 11 September 2014

Mobil Listrik Lokal Tersengat Izin dan Pasar

Mobil Listrik Lokal Tersengat Izin dan Pasar
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelaku industri otomotif berbasis listrik dalam negeri rupanya belum bisa bergerak leluasa menekuni bisnisnya. Sebab, kendaraan atau mobil listrik yang mereka produksi masih terkendala perizinan dari Kementerian Perhubungan. Lantaran belum punya izin jalan, produsen mobil listrik tak bisa menggarap pasar otomotif nasional.
Dasep Ahmadi, Chairman PT Sarimas Ahmadi Pratama bilang, untuk memproduksi mobil listrik setidaknya dia butuh pangsa pasar. Adapun pasar mobil listrik yang dibidik Dasep tak hanya mobil listrik city car saja, melainkan juga pasar transportasi.
Dasep bilang, pihaknya bisa memproduksi bus listrik berkapasitas 20 orang - 40 orang. "Kami ingin pemerintah menyediakan pasar. Misalkan, seluruh kementerian memakai angkutan bus listrik untuk angkutan transportasi pegawainya," kata Dasep, Selasa (9/9) kemarin.
Jika pasar dalam negeri tak merespon mobil listriknya, Dasep berencana mengekspor teknologi mobil itu ke Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Pasalnya, kedua wilayah itu bisa menerima dan membeli mobil listrik.
Sejak merakit mobil listrik dua tahun silam, perusahaan telah merakit 27 mobil listrik untuk pemerintah atau kalangan pemerintah. Diantara pemesannya adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan.
Mobil listrik yang banyak dipesan adalah: varian Evina sebanyak 3 unit, varian berpenumpang (MPV) sebanyak 8 unit, dan medium bus 16 unit. Perusahaan mengklaim bisa produksi 500 unit-1.000 unit mobil listrik per tahun dengan harga berkisar Rp 1,5 miliar-Rp 2 miliar per unit.
Adapun tingkat kandungan produk dalam negeri pada mobil listrik yang diproduksi Dasep ini baru mencapai 50 persen, sisanya impor dari Amerika Serikat termasuk bagian mesin. Dasep bilang, dua tahun ke depan, perusahaannya akan merakit mesin sendiri agar harga mobil bisa lebih murah 15 persen.
Untuk diketahui, agar mobil listrik bisa jalan, baterai mesti di isi dengan daya 60 kilo watt per hour (KwH) selama lima hingga enam jam. Dengan kapasitas baterai ini, mobil bisa jalan 120 kilometer dengan kecepatan sampai 120 kilometer per jam. Konsumsi energi mobil listrik ini diklaim lebih efisien 40 persen dari mobil biasa.
Walaupun sudah bisa diproduksi, namun mobil listrik ini belum bisa melenggang di jalan. Sebab, perusahaan belum mengantongi izin dari Kementerian Perhubungan. Budi Darmadi, Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi, Kemperin bilang, infrastruktur penunjang mobil listrik belum memadai. "Bus listrik ini cocoknya dalam rute point to point, jalurnya tetap," ujar Budi. (Benediktus Krisna Yogatama)

Minggu, 31 Agustus 2014

Bisa merancang dan membuat sendiri MOTOR LISTRIK

Teman teman yang IKUT KKAI(kompetisi Kincir Angin Indonesia), Kompetisi Mobil Listrik Indonesia , atau Kompetis Roket EDF or UAV Indonesia.. pasti pengen bisa merancang dan membuat sendiri MOTOR LISTRIK (Bukan sepeda motor ya, tapi mesin penggerak listrik, atau Akrab disebut dengan Dinamo pada Tamiya ) nya kan? 
ini foto yang diambil oleh mas Yordyan Sistriyantoro, beberapa waktu lalu saat saya berkunjung ke UGM dan diskusi dengan teman-teman team Arjuna UGM...

Kita Bisa loh mendesain dan Membuat Mesin seperti ini,
bahkan lebih dari ini.. ANAK INDONESIA PASTI BISA
insyaaALLAAH

Nah Bagaimana KLO BIKIN TEMPAT SAYA BISA BERBAGI ILMU PERANCANGAN INI di UNIV/SMK/POLTEK dll... atur jadwal aja hehehehe

#HARIINI KENAPA SAYA PENUH SEMANGAT ya?
Alhamdulillaah aja deh..
20140831



 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost