Tampilkan postingan dengan label Dalam Negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dalam Negeri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 September 2013

Kunjungan : Sorong : Dahlan Iskan Disukai Rakyat

Dahlan Iskan Modalnya Demokrat

Agustinus Isir: Dahlan Iskan Disukai Rakyat 


DISAMBUT HANGAT: Menteri BUMN Dahlan Iskan beserta ibu di helikopter saat memangsang sabuk pengaman sebelum berangkat ke Raja Ampat Kamis kemarin (26/9).RATNO/RADARSORONG
SORONG - Tokoh pemuda Papua, Agustinus Isir menilai sosok Dahlan Iskan pantas memimpin negara ini.  Meski mengaku belum pernah bertemu langsung dengan Dahlan Iskan yang menjabat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu, namun Agus Isir- sapaan akrabnya, mengatakan, figur pemimpin yang didambakan rakyat adalah seperti Dahlan Iskan yang memiliki sifat asli sangat merakyat dan tidak dibuat-buat untuk sekedar pencitraan.
 “Saya sendiri memang belum pernah bertemu dengan beliau (Dahlan Iskan,Red), tapi pak Dahlan saya lihat itu orangnya sangat peduli dengan masyarakat. Tidak menganggap dirinya pejabat, santai, itu yang rakyat suka. Karena itu saya sebagai tokoh pemuda Papua bahkan di Indonesia Timur menyatakan mendukung kalau pak Dahlan jadi presiden,”ujar Agus Isir.
Sering menyaksikan Dahlan di televisi (TV) berbaur dengan masyarakat (blusukan, red) dan begitu cepat dalam memecahkan suatu persoalan, dinilai Agus Isir  kalau Dahlan Iskan adalah sosok pemimpin yang cerdas dan sangat rendah hati. Bahwa Dahlan Iskan kini maju sebagai calon presiden (capres) dalam konvensi Partai Demokrat, Agus Isir pun berpendapat kalau Dahlan Iskan itu modal atau asetnya  Partai Demokrat dalam Pemilu presiden 2014 mendatang. 
“Biar ada jenderal lagi, tapi saya lihat Pak Dahlan ini sangat disukai rakyat dan sudah sudah populer di tengah masyarakat.  Jadi kalau sampai Pak Dahlan tidak lolos dalam konvensi Partai Demokrat itu sangat disayangkan dan saya kira Partai Demokrat akan susah menang dalam  Pilpres 2014 mendatang, ”ujarnya. Lebih lanjut, Agus Isir juga mengatakan, jika Partai Demokrat mengusung  Dahlan Iskan sebagai Capres 2014 mendatang, maka  elektabilitas Partai Demokrat yang saat ini rendah akan kembali membaik.
Sementara itu, Dahlan Iskan bersama istri, Kamis kemarin (26/9), melakukan peresmian unit pengolahan ikan yang dikembangkan PT Perikanan Nusantara Cabang Sorong.
PT Perikanan Nusantara akan bermitra dengan masyarakat nelayan yang nantinya menjadi penyuplai bahan baku (Ikan,red) untuk diolah di unit pengolahan ikan ini. Dalam operasinya, PT Perikanan Nusantara bukan hanya semata-mata mementingkan bisnis, tetapi juga bermitra dengan nelayan dan rangka mengembangkan dan memberdayakan serta memajukan masyarakat nelayan yang ada di wilayah Sorong khususnya dan Papua Barat umumnya.
Industry perikanan terpadu bukan hanya dalam hal pengolahan ikan, tetapi juga terdapat dock (tempat perbaikan kapal), pabrik es yang saat ini sudah beroperasi. Untuk pengembangan usaha perikanan terpadu, terlebih dengan besarnya potensi perikanan di wilayah perairan Sorong dan sekitarnya, maka juga akan ada terminal terpadu yang nantinya melayani penyediaan jasa wisata, sarana produksi perikanan, menyediakan bahan baku dan sejumlah pengembangan industri perikanan terpadu lainnya.
Bermitra dengan masyarakat lanjutnya, PT. Perikanan Nusantara (Persero) Cabang Sorong akan membeli ikan dari nelayan, tentunya dengan harga yang disesuaikan dengan kualitas ikan tangkapan. Hasil produksi dari unit pengolahan ikan ini nantinya untuk memenuhi pasar local, regional, bahkan juga untuk pasar ekspor, terutama ke pasar Eropa.
Selain meresmikan Unit Pengolahan Ikan milik PT Perikanan Nusantara (Persero) Cabang Sorong di kompleks eks Usaha Mina, Meneg BUMN berkunjung ke Raja Ampat. Rencananya, Jumat hari ini, Dahlan Iskan berkunjung ke Distrik Kais Kabupaten Sorong Selatan, lokasi yuang akan digunakan Perum Perhutani untuk membangun pabrik sagu dengan kapasitas giling 30.000 ton pertahun yang diperkirakan sudah bisa beroperasi pertengahan tahun 2015 mendatang.  Dari Kais, Meneg BUMN kembali ke Sorong meresmikan Unit Pengolahan Ikan milik PT Perikanan Indonesia Cabang Sorong. (jpnn)

Kunjungan : Ambon : DAHLAN ISKAN OPTIMIS EKONOMI MALUKU AKAN LEBIH BAIK

dahlan-kunjungan1Tiba Ambon, Menteri BUMN ini melakukan hal-hal yang tidak terduga. Selain menghindari sambutan VIP, diluar jadwal Dahlan Iskan malah melakukan sidak ke Pelabuhan Yos Sudarso Ambon dan PPN Tantui. Terakhir, Menteri yang terkenal dengan motto Kerja…Kerja…Kerja ini menutup kunjungannya dengan menikmati nasi kuning ibu Jamillah.
Tiba dengan pesawat Batik Air sekitar pukul 05.30 WIT pagi Kamis (26/9) kemarin, Dahlan dan rombongan sedianya dijemput di VIP Bandara Pattimura Ambon. Disana telah siap unsur Muspida Maluku dan para pimpinan BUMN di Maluku. Mobil yang ditumpangi Dahlan awalnya menuju arah ruang VIP, namun supir disuruh langsung tancap gas menuju Pelabuhan Yos Sudarso Ambon. Para penjemput yang berada di VIP Bandara kebingungan dan cepat-cepat mengikutinya dari belakang.
Bersama rombongan, kendaraan menelusuri jalan raya Ambon selama 30 menit menuju Pelabuhan Ambon. Kepala Humas Kementerian BUMN Faisal Halimi mengaku acara blusukan ini di luar agenda. “Ini di luar agenda kami. Seharusnya proses penyambutan dulu,” ucap Faisal saat menemani Dahlan blusukan di Pelabuhan Ambon, Kamis (26/9/2013).
Selain rombongan dari Jakarta, ikut dalam rombongan sidak, Dirut Ambon Ekspres Mahfud Waliulu, Direktur Rakyat Maluku, Ahmad Ibrahim dan Direktur Ameks, Nasri Dumula. Sementara plh Gubernur Maluku, Nn Ros Far-Far juga turut ke Pelabuhan Yos Sudarso menanti selesai sidak.
Setibanya di pelabuhan peti kemas, kargo dan penumpang yang dikelola PT Pelindo IV (Persero) ini, Dahlan langsung meninjau toilet terminal pelabuhan penumpang. Disini Dahlan didampingi GM Pelindo IV Cabang Ambon, Aris Tundru yang datang tergopoh-gopoh. Melihat kondisi toilet yang kurang terawat, Dahlan hanya goyang-goyang kepala tanpa komentar. Mantan bos PT PLN ini langsung menyusuri terminal peti kemas.
Dahlan menyusuri seluk beluk pelabuhan. Bahkan, posisi container yang paling belakang dan beralaskan sampah dikunjunginya. ‘’Ini (container) sudah lama disini ya. Jangan terlalu lama,” katanya kepada Aris yang terus mendampingi sambil berjalan cepat.
Saat acara blusukan, operasional bongkar muat barang belum dimulai. Operasional dimulai pukul 08.00 WIT. Sambil berjalan Aris menjelaskan pengembangan pelabuhan di depan Dahlan. Menurutnya, kapasitas pelabuhan bakal ditingkatkan. Pasca pengembangan yang tuntas pada 2014, daya tampung pelabuhan peti kemas bisa meningkat 25%.
“Pertama kita kembangkan melalui reklamasi di samping pelabuhan. Pasar Lama digusur sesuai kesepakatan dengan Pemkot Ambon. Reklamasi untuk tahap awal berjalan. Kita jadikan pelabuhan peti kemas. Investasi CC sebanyak 1 unit,TT sebanyak 2 unit, tronton 4 unit. Untuk tahun depan sudah clear. Arus peti kemas saat ini 70.000 box per tahun. Akan meningkat 20-25%,” jelas Aris.
Usai blusukan, Dahlan dan rombongan diantar ke Swisbell Hotel untuk sekedar beristirahat sebelum mengikuti acara Dies Natalis Fakultas Hukum Unpatti. Celakanya, saat berada di Swisbell hotel, Aris sang GM PT Pelabuhan Indonesia IV Ambon mendapat teguran. Ini karena Pelindo ternyata menyediakan kamar mewah bagi Dahlan dan istrinya. ”Lain kali jangan seperti itu ya. Pelindo IV kan masih belum banyak uangnya. Kamar yang tadi dipakai, saya yang bayari ya,” kata Dahlan Iskan.
Aqua Dwipayana, salah satu motivator yang kebetulan sedang di Ambon, mengaku kaget melihat Dahlan Iskan menegur stafnya karena disediakan hotel yang bagus.  ”Semoga keteladanan Pak Dahlan ini ditiru banyak pejabat lain. Terutama, untuk berperilaku sederhana,” celetuk Dwipayana.
Dari hasil peninjauannya itu, Dahlan mengaku kalau pertumbuhan kontainer pelabuhan Yos Sudarso Ambon sudah  sangat  baik. Dan potensi  meningkatkan pertumbuhan masih sangat besar. Keyakinan Dahlan ini, didasari upaya  PT Pelindo IV (Persero) yang terus melakukan penataan pelabuhan untuk penyediaan terminal  peti kemas. Diantaranya melakukan reklamasi di sekitar pelabuhan Yos Sudarso
“Supaya arus barang dari dan ke Ambon semakin besar, kemudian diadakan reklamasi pantai untuk luas lapangan pelabuhan, karena kedepan itu, angkutan barang itu semua dimuat dengan Kontainer,” ungkap Dahlan ketika ditemui di
Universitas Pattimura Ambon seusai memberi kuliah umum bagi ratusan mahasiswa kampus tersebut.
Selain reklamasi pantai yang telah dilakukan, Dahlan juga berharap, agar pihak PT Pelindo Ambon juga harus membongkar gudang barang yang ada di pelabuhan Yos Sudarso saat ini. Sebab, kedepan tidak dibutuhkan. “Karena sekarang hanya sedikit barang yang memerlukan gudang. Kalau jaman dulu khan semua barang memerlukan gudang, tapi pelabuhan sekarang memerlukan lapangan karena barang-barang dikirim dengan container,” katanya.
Dia pun optimis bila perluasan area pelabuhan selesai, dapat berpengaruh secara sginifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Maluku, khususnya di Kota Ambon. “Nah kalau jumlah kontainer bisa dua kali lipat dari sekarang ini, ekonomi di Ambon ini akan semakin jauh lebih baik,” tandasnya.
Menyoal keberadan PT Perikanan Nusantara Tantui, Dahlan optimis, BUMN yang sempat berhenti beroperasi sekira tujuh  tahun karena konflik berkepanjangan dan masalah pengelolaan ini, akan kembali bangkit bila di tata menjadi lebih baik. Dia menargetkan, tahun depan, PT. Perikanan yang memiliki unit usaha dok kapal, pengolahan ikan hingga penangkapan ikan laut seperti cakalang dan tuna ini sudah dapat melakukan kegiatan ekspor. “Tadi saya sudah tinjau fasilitas-fasilitasnya, dan kedepan kita dorong untuk ekspor terus,” ucapnya.
Mantan Dirut PLN ini menjelaskan, kendala utama yang akan ditemui oleh PT Perikanan Nasional untuk melakukan kegiatan ekspor adalah menjaga kualitas ikan yang akan diekspor. “Tapi saya yakin ini bisa di atasi, karena sewaktu saya di Pelabuhan Perikanan tadi,  sudah ada tenaga dari Korea dan Amerika untuk mengajari cara menjaga dan menjamin mutu ekspor. Nah setelah itu, baru kita menyeleksi barang ekspor itu seperti apa,” jelasnya.
Hingga saat ini, PT Perikanan Nusantara  yang mulai beroperasi sejak 2008 itu,  melakukan penangkapan ikan dan memprosesnya menjadi ikan beku sebanyak tujun ton per hari, dan hasil produksi BUMN perikanan ini untuk kebutuhan dalam negeri.
Nasi Kuning Ibu Jamillah,
Dahlan Iskan sepertinya hafal betul keberadaan nasi kuning yang sering dijajakan sepanjang pada emperan toko di sejumlah ruas jalan di Kota Ambon. Semenjak jadi CEO Jawa Pos, dan sering berjunjung ke Ambon, Dahlan tak pernah lupa nasi kuning. ‘’Saya ingin makan nasi kuning Ambon,” katanya kepada pengiringnya sesaat sebelum meluncur ke Unpatti. Karena tidak memiliki waktu banyak, Dahlan meminta salah satu pengiringnya membeli dan membungkusnya saja. Nasi kuning ibu Jamillah yang berlokasi di Soa Bali menjadi oleh-oleh.
Usai membawakan materi di acara Fakultas Hukum Unpatti, rombongan Dahlan Iskan yang hanya terdiri dari dua mobil bergerak ke arah Bandara Pattimura Ambon. Di ruangan VVIP Bandara Pattimura, sudah siap menunggu sejumlah pejabat dan pimpinan BUMD di Maluku berikut jamuan makan siang.
Waktu sudah menunjukan pukul 13.00 WIT ketika para pejabat mengajaknya makan siang.
“Ayo kita makan,” ajak Dahlan sambil menghampiri meja makan dan diikuti para rombongan. Setelah berjalan-jalan mengitari meja jamuan makan dan menunjuk-nunjuk makanan yang ada, Dahlan kemudian balik dan bertanya nasi kuning yang dipesannya tadi pagi. “Nasi kuningnya mana,” ujarnya.
Setelah diberitahu kalau bungkusan nasi kuning racikan Ibu Jamillah sudah disajikan di meja makan, Dahlan lantas menghampiri dan melahap didampingi istrinya. Aksi ini diikuti para pejabat dan pimpinan BUMN. “Ternyata nasi kuning Ambon enak. Nasi kuning ibu Jamilah enak, pake santan asli dari buah kelapa dan bukan dari bahan kare. Enak,” katanya setelah menghabiskan satu bungkus nasi kuning. Rombongan selanjutnya bertolak ke Sorong, Papua Barat. (*)

http://www.ambonekspres.com/index.php?option=com_k2&view=item&id=734:dahlan-iskan-optimis-ekonomi-maluku-akan-lebih-baik&Itemid=497

Kamis, 26 September 2013

Pagi-Pagi, Dahlan Iskan 'Blusukan' di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon

http://images.detik.com/content/2013/09/26/4/cam00164.jpg
Ambon - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan melakukan lawatan kerja ke Ambon dan Sorong Papua. Tiba di Bandara Pattimura Ambon pukul 05.30 WIT, Dahlan memilih langsung blusukan atau sidak Pelabuhan Yos Sudarso.

Padahal prosesi penyambutan telah disiapkan di kedatangan VIP bandara. Bersama rombongan, kendaraan menelusuri jalan raya Ambon selama 30 menit menuju Pelabuhan Ambon. Kepala Humas Kementerian BUMN Faisal Halimi mengaku acara blusukan ini di luar agenda.

"Ini di luar agenda kami. Seharusnya proses penyambutan dulu," ucap Faisal saat menemani Dahlan blusukan di Pelabuhan Ambon, Kamis (26/9/2013).

Saat tiba di pelabuhan peti kemas, kargo dan penumpang yang dikelola PT Pelindo IV (Persero), Dahlan langsung meninjau toilet terminal pelabuhan penumpang. Didampingi GM Pelindo IV Cabang Ambon, Aris Trundru, mantan bos PT PLN ini langsung menyusuri terminal peti kemas.

Dahlan menyusuri seluk beluk pelabuhan. Aris yang mendampingi sang Menteri BUMN mengaku acara kunjungan Dahlan di luar agenda.

"Tidak ada jadwal pelabuhan. Pak Dahlan tiba-tiba pelabuhan. Tidak rekayasa. Karena tidak jadwal," jelasnya.

Saat blusukan, operasional bongkar muat barang belum dimulai. Operasional dimulai pukul 08.00 WIT. Aris sendiri pada kesempatan itu menjelaskan tentang pengembangan pelabuhan di depan Dahlan.

Menurutnya kapasitas pelabuhan bakal ditingkatkan. Pasca pengembangan yang tuntas di 2014, daya tampung pelabuhan peti kemas bisa meningkat 25%.

"Pertama kita kembangkan melalui reklamasi di samping pelabuhan, pasar lama digusur sudah sepakat dengan Pemkot. Reklamasi untuk tahap awal berjalan. Investasi CC sebanyak 1 unit, TT sebanyak 2 unit, tronton 4 unit. Untuk tahun depan sudah clear. Arus peti kemas saat ini 70.000 box per tahun. Akan meningkat 20-25%," jelasnya.
(feb/ang) 

Kunjungan : Dahlan Iskan Geleng-geleng Lihat Kondisi BUMN Perikanan yang 'Sakit' di Ambon

http://images.detik.com/content/2013/09/26/4/dahlan.jpgFoto: Dahlan di Ambon (Feby-detikFinance)
Ambon - Usai blusukan di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, Menteri BUMN Dahlan Iskan bersama rombongan tiba-tiba merapat pada BUMN perikanan laut, PT Perikanan Nusantara Cabang Ambon.

Berlokasi di tepi Teluk Ambon, BUMN yang memiliki unit usaha dok kapal, pengolahan ikan, hingga penangkapan ikan laut seperti cakalang dan tuna ini sempat berhenti beroperasi sekitar 7 tahun karena konflik berkepanjangan dan masalah pengelolaan. Bahkan sempat dinyatakan telah sakit parah secara korporasi.

Saat meninjau BUMN ikan ini, Dahlan melihat proses perawatan kapal hingga kondisi bangunan. Saat memantau kondisi bangunan, Dahlan geleng-geleng kepala, karena ada bangunan yang tidak terawat. Namun diakuinya kondisi korporasi saat ini sudah mulai bangkit pasca dihidupkan kembali.

"Perusahaan itu sudah sangat sulit bertahun-tahun saat awal jadi Menteri BUMN. Saya tahu itu praktis mati. Saya minta dihidupkan pelan-pelan. Tapi sudah mulai hidup. Saya lihat ada tenaga ahli dari Korea. Mudahan-mudahan tahun ini bisa ekspor ikan," ucap Dahlan di Ambon, Kamis (26/9/2013).

Saat menghidupkan BUMN ikan ini, Dahlan mengaku tidak boleh ada suntikan dana dari pemerintah. Hal ini pernah dilakukan pada periode lalu, namun tidak berdampak positif ke korporasi.

"Ini praktis mati. Kalau cari ikan nggak punya dana. Saya nggak izinkan suntik (dana). Terus izinkan doknya perbaikan kapal milik orang lain. Sambil cari uang untuk bayar gaji juga persiapan cari ikan," jelasnya.

Saat mengunjungi BUMN ikan ini, Dahlan didampingi oleh Kepala Perikanan Nusantara Cabang Ambon Ferdinand Wenno. Dahlan diajak melihat proses perawatan kapal, mengelilingi gedung, hingga melihat pengolahan ikan hasil tangkapan.

Ferdinand menjelaskan, secara korporasi, BUMN ikan ini mulai beroperasi tahun 2008. Saat ini, Cabang Ambon mampu menangkap ikan dan memprosesnya menjadi ikan beku hingga 7 ton per hari. Ikan ini masih diproduksi untuk kebutuhan dalam negeri.

"Hingga bulan ini laba bersih sudah 1,5 miliar tapi akhir tahun bisa Rp 2,7 miliar. Tahun sebelumnya Rp 1,6 miliar. Kontribusi pendapatan masih dari ikan terus dok," sebutnya.
(feb/dnl) 

Selasa, 21 Juni 2011

Dahlan Iskan - Harapan Baru pada Listrik Sehen

Inilah perjalanan jauh untuk melihat 100 rumah yang menggunakan Lampu Sehen. Itu adalah listrik tenaga matahari model baru untuk sistem kelistrikan kepulauan. Desa itu terpencil nun di ujung barat daya Pulau Sumba, NTT.

Sudah lima bulan penduduk menggunakan Lampu Sehen. Sampai saya ke sana pekan lalu, tidak ada keluhan, tidak ada lampu yang mati dan tidak ada instalasi yang rusak. Itu mengisyaratkan bahwa target ambisius setahun menaikkan ratio elektrifikasi di NTT dari 31 persen menjadi 70 persen pun bisa dicapai.

Setahun ini sudah tiga kali saya ke NTT. Banyaknya orang yang mengatakan “mustahil elektrifikasi NTT bisa mencapai 70 persen akhir tahun ini” membuat saya sering ke sana. Apalagi saya juga terikat sumpah harus mewujudkan proyek listrik panas bumi (geotermal) Ulumbu (Ruteng) yang sangat lama macet itu.

Perjalanan panjang kali ini saya mulai dari Kupang. Dari bandara, malam itu saya langsung ke proyek PLTU Kupang yang lama tersendat. Saya kaget, gubernur dan wakil gubernur menyambut di bandara. Pasangan kepala daerah yang sangat rukun tersebut (di banyak daerah terjadi “perang dingin”) memang sangat merindukan listrik NTT maju.

Pagi-pagi kami sudah terbang ke Kecamatan Kangae, Sikka, Flores. Itulah kecamatan pertama di Indonesia yang seluruh pelanggan listriknya menggunakan sistem prabayar, sehingga mendapatkan rekor Muri. Sampai-sampai, Wakil Bupati Sikka dr Wera Damianus iri. “Kampung kelahiran saya sendiri sampai hari ini belum berlistrik,” katanya.

Dia bercerita, betapa menderitanya penduduk Pulau Palue, tempat kelahirannya tersebut. Bukan hanya tidak ada listrik, tapi juga tidak ada sumber air. Sudah dicoba dibor, tidak pernah berhasil. Penduduk sepenuhnya bersandar pada air hujan. Padahal di sana lebih sering kemarau. Untuk itu, tiap rumah harus punya paling tidak tiga pohon pisang.

Dari pokok pohon pisang yang dilubangi itulah air untuk minum dan masak didapat. Pisang pun menjadi simbol kehidupan di Palue. “Kalau ada perjaka yang minta kawin, biasanya ditanya: Memangnya sudah mampu menanam berapa pohon pisang?” tuturnya.

Setelah mendengar itu, saya bertekad Pulau Palue harus berlistrik akhir tahun ini. Dari Kangae, saya langsung ke Sumba, sebuah pulau yang besarnya tiga kali Bali, tapi penduduknya amat jarang. Lebih banyak jumlah kudanya.

Mendarat di Kota Waingapu, kami langsung menelusuri jalan darat menuju Waitabula/Tambolaka di pantai barat Sumba. Perjalanan itu sebenarnya bisa ditempuh enam jam. Namun, kami harus membelok dulu memasuki padang savanna yang luas di tengah pulau. Saya ingin tahu lokasi pembangkit listrik tenaga air yang segera dibangun.

Pencarian lokasi itu ternyata tidak mudah. Kami sempat tersesat. Di padang savanna tersebut tanda untuk sebuah lokasi hanyalah bukit dan rumput. Padahal bentuk bukit dan jenis rumputnya mirip semua. Padahal entah berapa bukit yang harus dilampaui. Sesekali memang terlihat penunggang kuda sandel yang kepalanya timbul tenggelam di sela-sela rumput di kejauhan. Namun, karena kudanya terus berlari, tidak bisa juga dipakai patokan arah. Begitu lamanya mencari jalan memutar itu sehingga ketika senja tiba kami masih di savanna.

Diam-diam saya mensyukuri ketersesatan itu. Bisa menikmati senja yang menakjubkan. Sejauh mata memandang, hanya ada savanna. Tidak terlihat satu pun kampung atau bangunan. Berada di tengah-tengah savanna tersebut, saya merasa seperti berada di pedalaman Irlandia. Sama sekali tidak menyangka ini di pedalaman Sumba! Apalagi udaranya sekitar 18 derajat Celsius! Alangkah sejuknya!

Keindahan itu meningkat menjadi ketakjuban manakala dari kaki langit yang cerah tersebut menyembul bulan yang kebetulan lagi purnama. Begitu menornya. Seperti wajah Malinda Dee di pentas peragaan kebaya! Uh! Tersesat yang menyenangkan. Tidak menyangka sore itu saya bisa menikmati alam seasli-aslinya. Savanna yang seperti penuh misteri. Goyangan rumputnya. Bayangan bukitnya. Temaram cahaya purnamanya. Menyatu di keluasan cakrawala bumi manusia yang langka!

Ada yang membuat saya lebih bersyukur. Saya baru terhindar dari cedera. Setengah jam sebelum memasuki savanna itu, mobil yang saya kemudikan menabrak mobil di depan. Ringsek. Harus diderek kembali ke Waingapu.

Sebenarnya saya sudah mencoba mengerem sekuat tenaga. Tapi, kecepatan mobil berbanding jaraknya tidak memadai lagi. Aspalnya pun dilapisi debu tebal dari bukit kapur yang sedang dibongkar di tebing jalan. Kapur itulah yang membuat ban tidak bisa mencengkeram aspal dengan sempurna. Saya juga tidak mungkin membanting setir mobil ke kiri karena akan menabrak tebing.

Saya menyadari kesalahan saya. Saya tidak tarik rem tangan. Refleks itu tidak muncul. Mungkin sudah lelah karena sudah hampir dua jam mengemudi. Mobil di depan saya itu terhenti mendadak karena menabrak truk dari arah depan. Dua mobil ringsek.

Pukul 22.00 kami baru tiba di kota kecil Waikabubak, Sumba Barat. Namun tidak bisa segera beristirahat. Hotel sederhana di situ lagi penuh. Harus mencari kota kecil berikutnya yang jaraknya sekitar sejam. Sekalian mencapai tujuan akhir perjalanan malam itu: Tambulaka.

Bagi yang merasa baru sekali ini mendengar nama Tambulaka, baiknya ingat peristiwa Adam Air. Pesawat dengan lebih dari 200 penumpang yang tersesat dan kehilangan arah tersebut akhirnya bisa mendarat di suatu daerah terpencil. Ya Tambulaka itulah yang dimaksud. Waktu itu sang pilot sebenarnya hanya ingin mendarat darurat di pantai pasir putih yang panjang “entah di pulau apa. Tapi, begitu mendekati pantai, terlihatlah ada bandara kecil. Itulah Bandara Tambulaka.

Salah satu desa pengguna Lampu Sehen yang sedang kami promosikan berada di 10 km dari bandara tersebut. Nama Sehen (super ekonomi hemat energi) diciptakan PLN karena sistem itu memang belum ada namanya. Sehen-lah yang mengakhiri riwayat hidup lampu petromaks di desa itu. Dan kelak di seluruh Sumba bahkan di banyak pulau Indonesia.

Dengan Lampu Sehen, masing-masing rumah seperti memiliki pembangkit listriknya sendiri-sendiri, memiliki trafonya sendiri-sendiri, dan memiliki jaringan kabelnya sendiri-sendiri. Dengan Sehen, tidak ada lagi lampu mati karena travo meledak, karena kabel penyulang terganggu, atau karena tiang listrik roboh. Dengan Lampu Sehen juga tidak ada pencurian listrik, tidak ada pembaca meter, dan tidak ada tagihan yang salah.

Dengan Lampu Sehen, Desa Karuni langsung berubah. Desa asli dengan budaya Sumba yang unik itu tidak lagi gelap gulita. Rumah-rumahnya tetap rumah panggung dengan dinding kayu dan atap daun rumbia, tapi ada peralatan modern di atas atapnya. Sebuah panel kecil yang kalau siang menyerap tenaga matahari. Tidak perlu baterai khusus karena alat penyimpan listriknya sudah ada di dalam bola lampu itu sendiri.

Setiap rumah mendapat jatah tiga bola lampu. Masing-masing 220 lumen. Istilah “lumen” tersebut harus mulai dihafal karena untuk tenaga surya tidak menggunakan satuan watt. Tingkat terang 220 lumen hampir setara dengan 40 watt. Sangat terang.

Tiap-tiap bola lampu dilengkapi benang penarik untuk on/off. Benang penarik itu juga berfungsi untuk mengubah lumen. Mereka menyalakan lampu tersebut mulai pukul 17.00 dengan menarik benang sekali tarikan. Pada pukul 23.00 atau menjelang tidur, mereka menarik benang sekali atau dua kali lagi untuk mengurangi terangnya cahaya sekaligus menghemat setrumnya.

Yang membuat penduduk senang-senang-geli, bola lampu tersebut bisa dipetik dari tempatnya untuk dibawa ke mana-mana dalam keadaan menyala. Di sinilah serunya. Setiap ada perhelatan di desa itu, tidak perlu lagi menyewa genset seperti dulu. Cukuplah masing-masing undangan membawa lampunya sendiri-sendiri untuk kemudian dicantelkan di mana saja di lokasi perhelatan. Kalau ada 50 undangan yang datang dan masing-masing membawa satu Sehen, terangnya bukan main.

Sudah lima bulan Lampu Sehen berfungsi dengan baik. Menyenangkan. Ini tidak akan sama dengan proyek yang pernah dikembangkan di beberapa kementerian yang kemudian menimbulkan perkara korupsi itu. Lampu Sehen tersebut tetap milik PLN, diurus oleh orang PLN, dirawat oleh PLN, dan ditagih oleh PLN. Tidak akan terjadi penduduk bisa menjual Lampu Sehen-nya.

Masih ada plus yang lain. Di setiap “desa Sehen”, PLN memberikan satu set TV berbasis tenaga surya 21 inci. Berikut parabolanya. TV itu diletakkan di plaza, eh gubuk, terbuka di depan rumah pak RT. Malam itu teman-teman PLN sempat nonton TV bersama penduduk yang ternyata sangat menyenangi sinetron. Mereka juga ketagihan film India. Maklum, meski di desa yang begitu jauh, mereka bisa menonton 28 channel dengan kualitas gambar yang sempurna.

Hanya, menonton sinetron atau film India sebenarnya terserah selera pak RT karena pak RT-lah yang memegang remote control-nya. (*)

Dahlan Iskan
CEO PLN

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost