Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Mei 2016

Dahlan Iskan : New Hope 75 : Sistem Profesor untuk Sekolah Baru


Sistem Profesor untuk Sekolah Baru

Inilah jenis sekolah yang tumbuh pesat di Amerika Serikat: charter school. Bukan negeri. Bukan pula swasta.
Pendiri sekolah jenis ini umumnya guru. Yang punya jiwa keguruan 24 karat. Yang prihatin terhadap mutu pendidikan.
Maksudnya: pendidikan di sekolah negeri. Terutama di lingkungan tempat tinggalnya.
Misalnya Tyler Bastian ini. Awalnya dia guru SMA. Untuk mata pelajaran pembentukan karakter. Sesuai dengan prodi saat kuliah dulu.
Bastian prihatin dengan karakter remaja di lingkungannya. Begitu banyak yang drop out. Alasannya macam-macam. Intinya: sekolah tidak menarik bagi mereka.
Bastian lantas mengajak beberapa guru bergabung. Mendirikan charter school. Mereka menyusun pengurus. Bastian ketuanya.
Sejak 15 tahun lalu sebagian negara bagian memang mengizinkan berdirinya jenis sekolah baru ini. Bastian mau itu.
Langkah kedua: Bastian menyusun charter. Tebalnya 200 halaman. Mirip anggaran dasar: sekolah seperti apa yang diinginkan. Dan seperti apa kurikulumnya.
Berikutnya: Bastian menyusun program. Bagaimana mengusahakan bangunan, peralatan, mencari guru, mencari murid, dan mencari sumber dana.
Semua dokumen itu diajukan ke pemerintah negara bagian. Setingkat pemda provinsi di sini.
”Setahun saya mempersiapkan semua itu,” ujar Bastian saat saya mengunjungi sekolahnya. ”Tahun berikutnya sudah mendapat persetujuan.” Tahun ketiga sekolah dimulai.
Persetujuan itu penting: untuk mendapatkan biaya dari pemerintah. Besarnya Rp 70 juta (USD 5.000) per siswa per tahun. Memang itu tidak cukup. Tapi lumayan. Lebih dari 70 persen biaya sekolah. Menurut Bastian, di sekolahnya, per siswa menghabiskan USD 7.000/tahun.
Dia harus mencari sumbangan untuk menutup kekurangannya. Dia tidak boleh mencukup-cukupkan biaya dari pemerintah itu. Dia harus memenuhi komitmen mutu pendidikan sesuai dengan charter yang sudah dia buat.
Sekolah milik Bastian ini berada sekitar 20 km dari pusat Kota Salt Lake City, Utah. Namanya: Roots Charter High School. Bangunannya masih sewa. Bekas gedung kesehatan.
”Saya beri nama Roots agar siswa belajar mengenai akar semua masalah kehidupan,” ujar Bastian.
Memasuki ruang kelas sekolah ini, saya tidak kaget. Inilah ruang kelas SMA di Amerika: siswanya boleh pakai kaus, sandal, topi, dan celana pendek. Saya lihat seorang siswi membawa anjing ke kelas.
Duduknya pun boleh sesukanya: duduk manis, selonjor, kaki di atas kursi, dan sebagainya. Susunan kursi juga tidak harus rapi berderet.
Boleh beberapa kursi menggerombol memisah dari kursi lain. Tidak ada meja. Hanya kursi. Yang ada tempat buku atau laptopnya. Umumnya murid sibuk dengan laptop masing-masing.
Gurunya pun tidak di depan kelas. Keliling mendatangi murid yang memerlukan supervisi. Murid lain boleh berdiri di dekat guru. Ikut mendengarkan. Atau tidak.
Hari itu, 18 April lalu, saya melongok ke tiga kelas: matematika, sejarah, dan kimia. Semua mirip adanya: guru bersikap seperti teman murid. Pakaiannya pun semaunya.
Bastian juga menyewa lahan berjarak sekitar 100 meter dari sekolah. Untuk praktikum. Saya juga mengunjunginya. Untuk melihat kekhasan sekolah ini.
Seorang siswi dengan celana jins sedang memaku papan. Untuk bedeng tanaman sayuran. Tujuh siswa/siswi berada di kandang kambing.
Mereka mempraktikkan cara menyayangi anak kambing: merangkulnya di pangkuan, mengelus bagian yang disuka dan memeluknya. Menurut ilmu menyayangi kambing, bagian leher bawahlah yang harus dielus.
Tentu kandang kambing ini mengingatkan akan masa remaja saya: menjadi penggembala kambing. Saya sudah biasa menggendong anak kambing, membantu kelahiran, dan memandikan kambing. Tapi tidak secara ilmiah begini.
Segerombol siswa lagi memperhatikan temannya memandikan sapi. Seorang guru memberi contoh sesuai dengan ilmu memandikan sapi.
Dulu pun saya biasa membantu memandikan kerbau. Tapi, menungganginya dulu sepanjang jalan menuju sungai. Sambil meniup seruling.
Bastian adalah orang pertama yang mendirikan charter school berbasis pertanian dan peternakan. Relevan dengan situasi lingkungan sekolah. Siswa ternyata suka pelajaran di luar kelas. Ada unsur kegiatan fisik dan luar ruang.
Charter school memang dimaksudkan sebagai koreksi. Terutama terhadap rendahnya mutu sekolah negeri. Pelopornya seorang profesor dari Massachusetts. Namanya Ray Budde. Ketua persatuan guru AS.
Profesor itu pula yang mengajukan reformasi pendidikan pada tahun 1974. Sekolah negeri dia anggap terlalu kaku. Karena bukan berdasar inisiatif masyarakat. Tapi, baru tahun 1974 ada satu negara bagian, Minnesota, yang menerima ide charter school Prof Budde.
Sejak itu charter school menggelinding dengan kecepatan Star Wars. Kini sudah 43 negara bagian yang menerapkan. Jumlah charter school sudah mencapai 5.000 sekolah. Terbukti pula, kualitas pendidikannya lebih baik.
Tidak sembarang guru bisa mengajar di charter school. Harus yang bersertifikat. Yang benar-benar terpanggil jiwa keguruannya. Bastian punya delapan guru untuk Roots High School. Tiap guru gajinya USD 54.000 per tahun. Sekitar Rp 700 juta.
Keunggulan charter school adalah ini: tidak ada keseragaman. Ada yang mengutamakan matematika. Ada yang berbasis teknologi. Rekayasa mesin. Olahraga. Bebas. Tergantung bunyi charter yang dibuat.
Bastian puas dengan perjuangannya. Dia bekerja mulai jam 6 pagi sampai 6 sore. Mengajar dan menyiapkan keperluan sekolah. Dengan semangat.
Ketika saya memperhatikan anjing besar yang keluar masuk kelas, Bastian berhenti. ”Ini anjing sekolah,” katanya.
”Kalau ada siswa/siswi yang lagi suntuk, saya minta keluar untuk main-main dengan anjing ini.” Emosi siswa bisa reda.
Sebenarnya Bastian ingin bisa punya siswa sampai 300 orang. Tidak hanya 150 seperti sekarang. Tapi, dia belum bisa cari sumbangan lebih banyak. ”Sulit cari sumbangan. Orang Amerika itu kaya, tapi jiwanya rakus,” ungkapnya.
Bastian terpanggil mengurusi anak orang miskin sejak umur 19 tahun. Ketika dia jadi misionaris gereja Mormon di Honduras. Begitu miskin negara itu.
Dia sudah mendirikan sekolah di sana. Tiap tahun Bastian mengajak enam orang anaknya liburan di Honduras. Agar tahu bagaimana bisa membantu orang miskin.
Bahwa Bastian Mormon, memang begitulah umumnya orang Utah. Pihak-pihak yang rapat dengan saya di Utah semua aktivis Mormon. Misalnya yang ahli teknologi torium itu. Atau yang ahli ekonomi itu. Di sela-sela rapat saya menemui Tyler Bastian. Eh, Mormon juga.
Mayoritas penduduk Utah memang penganut Mormon: aliran Kristen yang membolehkan istri lebih dari satu, melarang makan babi, dan mengharamkan minuman keras.
Tentu saya juga mengunjungi Temple Square di Salt Lake City. Pusat gereja Mormon dunia. Yang umatnya kini sudah mencapai 15 juta. Antara lain karena Mormon melarang umatnya ikut KB.
Kembali ke lamanya perjuangan Prof Budde melahirkan charter school tadi, saya jadi merenung: di AS sekalipun memperjuangkan pembaharuan memakan waktu. Untung Prof Budde tidak gampang menyerah. (*)

Selasa, 02 September 2014

Seminar Nasional Dahlan Iskan di Universitas Ciputra [GRATIS]

Kami membuka kesempatan bagi para peserta perkuliahan T100, terutama yang berdomisili di Surabaya dan sekitarnya untuk dapat menghadiri Acara Seminar Nasional "Strategi Membangun Budaya Entrepreneurial Organization Guna Menghadapi Persaingan Global", adapun detail acara adalah sebagai berikut ;
  • Hari / Tanggal  : Sabtu / 6 September 2014
  • Pukul                : 11.00 - 13.00 WIB
  • Tempat             : Auditorium Universitas Ciputra, Lantai 7
  • Kapasitas Peserta UCEO : 20 Orang
Acara Seminar Nasional ini diadakan terbuka untuk umum, namun kami hanya memberi kapasitas sebanyak 20 kursi untuk peserta T100 di UCEO. Bagi 20 undangan tersebut akan dipilih perwakilan untuk memberikan testimoni akan perkuliahan T100 secara langsung kepada Bapak Menteri Dahlan Iskan.
Bagi Anda yang berminat hadir, silahkan mendaftarkan diri melalui form pendaftaran di bawah ini. Pendaftaran terakhir pada hari Rabu, 3 September 2014 pukul 23.59 WIB.
Terimakasih.

Pendaftaran silahkan isi form di :

Kamis, 24 Oktober 2013

Pelajaran Menghargai Waktu dari Dahlan Iskan



Saya baru tiba di rumah ketika sebuah pesan pendek masuk ke handphone saya. “Besok pagi ikut saya ke Semarang dan Banjarmasin. Sore kembali ke Jakarta. Mau nggak?” tulis Menteri BUMN Dahlan Iskan, Selasa (22/10) menjelang tengah malam.

Tawaran ke Semarang tidak menarik bagi saya. Sebab, saya baru meninggalkan kota Semarang, sehari sebelumnya. Tapi tawaran ke Banjarmasin sungguh menggoda. Maklum, saya belum pernah mengunjungi kota itu sekali pun.

“Oke Pak. Siap ikut,” balas saya melalui pesan pendek.

“Kita berangkat dari Monas pukul 05.15,” sahut Dahlan, juga melalui pesan pendek.

Komunikasi yang teramat singkat. Tapi saya tidak berusaha untuk menanyakan apa agenda Pak Menteri di Semarang dan Banjarmasin. Pekerjaan menyusun proposal untuk klien segera mengalihkan perhatian saya.

Di tengah kesibukan, handphone saya berdering. Darmawan, manager promosi Harian Indopos menghubungi saya, menanyakan lokasi berkumpul di Monas. Rupanya, Darmawan juga ditawari ikut ke Semarang dan Banjarmasin oleh Dahlan. “Berangkat bareng saja,” jawab saya.

Pukul 04.00 saya dan Darmawan meninggalkan rumah di Kelapa Gading menuju Monas. Seusai salat subuh di Wisma Antara, saya berjalan kaki menuju lokasi patung Ikada. Lokasi favorit Dahlan bersenam pagi bersama kawan-kawannya.

Tiba di lapangan Ikada, saya bertemu dengan beberapa orang lagi. Ada Fauzi pimpinan Harian Pasundan Ekspres dan Gus Azis Muis, ustadz muda yang baru saya kenal.

Tidak seperti biasanya, hari itu, Dahlan hanya bersenam 30 menit. “Kita harus berangkat lebih awal, karena kita tidak memakai mobil dan polisi pengawal,” kata Dahlan sambil berjalan kaki menuju kantor Kementerian BUMN.

Dahlan adalah satu-satunya menteri di Kabinet Indonesia Bersatu yang tidak menggunakan fasilitas pengawalan polisi. Karena tanpa pengawal, Dahlan harus pintar dan disiplin waktu karena kemacetan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.

“Di Semarang, apa ada acara apa Pak,” tanya saya kepada Pak Menteri.

“Menghadiri undangan IAIN Walisongo dan FISIP Undip,” jawab Dahlan sambil membetulkan tali sepatu kets “DI-19″ kesukaannya.

“Atur penumpang, minimal 3 orang dalam 1 mobil. Kita akan lewat jalur 3 in 1,” kata Dahlan, sembari masuk ke mobilnya, Nissan Serena keluaran 2011, yang biasa dipakai istrinya.

Mengapa pakai Serena? Di mana sedan Mercy-nya? “Mercy sudah 2 minggu di bengkel. Maklum, sudah 7 tahun dipakai. Mulai banyak yang harus diperbaiki,” kata Sahidin, karyawan Jawa Pos yang sekarang ditugaskan menjadi sopir khusus buat Pak Menteri.

Beriringan kami menuju lapangan terbang Halim Perdana Kusuma di Jakarta Timur. Perjalanan ke Semarang dan Banjarmasin memang tidak menggunakan pesawat regular, melainkan pesawat carter karena rute penerbangan dan jadwal kegiatannya tidak bisa disesuaikan.

“Ini soal komitmen. Saya sudah menyatakan siap hadir menjadi pembicara di IAIN Walisongo dan FISIP Undip. Ternyata, hari yang sama juga ada pelantikan anggota PWI Pusat di Banjarmasin. Melihat rute dan jadwalnya, tidak mungkin kita naik Garuda atau Citilink. Harus sewa pesawat,” jawab Dahlan.

Tepat pukul 06.30, pesawat Avanti yang disewa dari Susi Air tinggal landas meninggalkan lapangan terbang Halim Perdana Kusuma, menuju lapangan terbang Ahmad Yani, Semarang. Total ada 8 orang penumpang ditambah 1 pilot dan 1 co pilot.

Inilah pengalaman terbang termahal bagi saya. Perjalanan dari Jakarta - Semarang - Banjarmasin - Jakarta itu biayanya USD 18.000!

Setelah mengudara 45 menit, pesawat pun mendarat di Lapangan Terbang Ahmad Yani, Semarang, dengan mulus. Bersama rombongan rektoran IAIN Walisongo yang menjemput, rombongan bergegas menuju Hotel Pandanaran. Di situ, Dahlan didaulat menjadi pembicara kunci dalam sebuah seminar bertema komunikasi.

Tiba di hotel, suasana masih sepi. Dahlan mulai bertanya-tanya, mengapa seminar dimulai? Bukankah pukul 08.00 seharusnya Dahlan sudah membawakan presentasi?

Tiga puluh menit Dahlan menunggu. Seminar tak kunjung dimulai. Dahlan mulai gelisah. Ditinggalkannya ruang tunggu VIP menuju ruang seminar. Rupanya, belum ada tanda-tanda seminar akan segera dimulai.

“Mohon maaf, saya sudah 30 menit di sini. Tapi seminarnya belum juga dimulai. Waktu saya sangat terbatas. Saya ke kampus Universitas Diponegoro saja,” kata Dahlan sambil bergegas ke mobil jemputan yang disediakan Universitas Diponegoro di halaman hotel.

Panitia seminar IAIN Walisongo tampak panik. “Tunggu 30 menit lagi Pak,” jawab panitia. “Maaf, tidak bisa. Lain waktu, saya akan datang lagi,” sahut Dahlan.

“Inilah potret kita hari ini. Masih banyak orang yang tidak menghargai waktu. Kita sudah bela-belain datang dengan menyewa pesawat. Ini bukan soal harga sewanya. Tetapi soal komitmennya,” kata Dahlan di dalam mobil.

Kekecewaan Dahlan akhirnya terbayar lunas di kampus Universitas Diponegoro. Walau kedatangan Dahlan satu jam lebih awal dari rencana, lebih dari 800 mahasiswa menyambutnya. Bahkan Irwan Hidayat, bos Sido Muncul, yang menjadi pembicara kedua dalam seminar “Here to be Entrepreneur” yang digagas mahasiswa jurusan Administrasi Bisnis FISIP Undip itu pun sudah berada di lokasi.

“Ini baru contoh hebat. Memegang komitmen dan menghargai waktu,” puji Dahlan kepada panitia dan peserta seminar di Undip.

Joko Intarto @IntartoJoko

Rabu, 23 Oktober 2013

Dahlan Iskan Tularkan Ilmu Bisnis di Undip


TULARKAN ILMU: Dahlan Iskan di Fisip Undip, Rabu (23/10)

SEMARANG -  Demi memenuhi janji, Dahlan Iskan hadir dalam seminar dengan tema Here to be Entrepreneur di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universtas Diponegoro Semarang, Rabu (23/10).  Menteri BUMN itu sudah lama diminta oleh Himpunan Mahasiswa Administrasi Binis Undip untuk menjadi pembicara utama dalam seminar yang juga menghadirkan Direktur Utama PT Perusahaan Jamu Sidomuncul Irwan Hidayat itu.

Dahlan hadir dengan hanya didampingi seorang stafnya. Seperti biasa, dia tidak berpanjang kata dalam memberi ceramah. Dia memilih untuk bertanya jawab dengan peserta. Terutama, mahasiswa yang sudah mulai menjalankan usaha sendiri.

”Bisnis itu tidak untuk diomongkan, diseminarkan, ataupun dirapatkan. Tetapi untuk dijalankan dan dipraktekkan,” katanya.

Dia juga mengatakan, bahwa  bisnis itu butuh inspirasi, tidak mengenal umur, tahapan, punya modal atau tidak. Tetapi berawal dari kemauan yang kuat dari diri sendiri.

”Yang membedakan pengusaha dan bukan pengusaha adalah pada semangat tidak mudah putus asa. Jadi ketika pada kondisi jatuh, dia segera bangkit untuk mengembalikan bisnis dengan strategi yang lebih baik,” paparnya.
Dahlan menambahkan, untuk menjadi pengusaha itu butuh keberanian dalam mengambil keputusan dengan cepat, cerdas dengan memperhatikan segala resikonya. Ia tidak percaya untuk menjalankan bisnis harus ada darah bisnis. Tetapi ia percaya bahwa ada proses penularan karena adanya pembiasaan. “Makanya tidak heran jika banyak anak orang Tionghoa yang menjadi pengusaha. Karena mereka ketularandengan pembiasaan sejak kecil,” imbuhnya.
Hal yang sangat mengejutkan terjadi ketika usai memberi kuliah tiba-tiba Dahlan menuju tempat duduk peserta sebelum meniggalkan ruangan. Tecatat tiga kali ia berpindah tempat hanya untuk melayani mahasiswa yang ingin berfoto dengannya. Sontak mahasiswa pun berhamburan hanya ingin mengabadikan momen bersama pria yang digadang-gadang menjadi calon presiden tersebut.  “Sebenarnya yang memberi kuliah adalah mahasiswa sendiri. Saya hanya mengantarkan,” pungkasnya merendah.
Sementara itu, narasumber lainnya Irwan Hidayat, Pemilik PT.Sido Muncul dalam kesempatan yang sama membagikan kisah suksesnya dalam mengembangkan dan membesarkan perusahaan jamunya. Mulai dari memakai cara-cara tradisional hingga menggunakan alat-alat modern seperti laboratorium.
“Tidak ada yang mudah dalam berbisnis. Sebab, dalam perjalannya pasti akan ditemui berbagai tantangan dan cobaan. Yang terpenting untuk dapat meraih kesuksesan adalah harus berani berimajinasi, bekerja keras dan berdoa,” bebernya.
Irwan berharap para mahasiswa harus berani dalam merintis usaha yang diinginkannya. Sebab, sebagai mahasiswa seharusnya punya nilai lebih karena ditunjang dengan kemampuan akademis yang dimilki. “Selain itu, kunci kesuksesan dalam berbisnis adalah mencintai pekerjaan. Tanpa itu, bisnis tidak akan berhasil,” pungkasnya. (fai/RaSe/medcen)

Selasa, 22 Oktober 2013

Dahlan Iskan dalam Dialog Kebangsaan dan Kenduri Rakyat


Semarang, DIMENSI(22/10)-Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, menghadiri acara Dialog Kebangsaan dan Kenduri Rakyat “Demi Bangsa” pada Sabtu (19/10) lalu. Acara yang belakangan diketahui diselenggarakan oleh tim Demi Bangsa tersebut diselenggarakan di Pelataran Gedung Lawang Sewu, Semarang.
Peserta adalah ratusan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Semarang, serta masyarakat kota Semarang. Perguruan Tinggi yang ikut berpartisipasi diantaranya adalah Universitas Diponegoro (UNDIP), Politeknik Negeri Semarang (Polines), Universitas Dian Nuswantoro (Udinus),dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Wali Songo.
Dialog kebangsaan ini dibuka oleh ketua panitia penyelenggara, Siswo Nugroho yang juga merupakan relawan “Demi Bangsa”, pendukung Dahlan Iskan sebagai presiden pada pemilu 2014 mendatang. 
Acara dilanjutkan dengan penampilan hiburan dari kalangan mahasiswa. Diantaranya adalah pertunjukan Seni Rebana oleh mahasiswa IAIN Wali Songo, diikuti penampilan Group Band dari Polines dan UNDIP.
 Dahlan Iskan sendiri tiba di lokasi acara pada pukul 16.40 WIB, usai memberi kuliah umum di Udinus. Dalam dialog itu Dahlan membuka kesempatan bagi seluruh peserta untuk menanyakan apapun perihal dirinya. “Anda mau Tanya apa saja, yang sesensitif apapun, akan saya jawab”, ungkapnya dari atas panggung.
Dalam dialog tersebut Dahlan juga berpesan agar hendaknya para masyarakat jangan berlebihan dalam memuji negara lain, dan terlalu mencela negara kita sendiri. Sebab menurutnya belum tentu aturan-aturan yang dilaksanakan di negara yang kita elu-elukan itu sesuai dan bisa kita terapkan di Indonesia. 
Usai melakukan dialog dengan peserta, acara ditutup dengan kenduri rakyat berupa doa bersama dan pembagian 19 buah tumpeng untuk para peserta. Kenduri ini sekaligus sebagai peringatan dua tahun Dahlan Iskan menjadi menteri BUMN. [abr]

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost