Tampilkan postingan dengan label New Hope. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label New Hope. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Mei 2016

Dahlan Iskan : New Hope 76 : Bukan Lagi Sekadar Trump Lawan Hillary

Dia tidak diperhitungkan saat mendaftarkan diri jadi calon presiden. Dianggap bukan calon yang serius. Ketika mulai tampak serius, dia dicibir. Bahkan, dijadikan bahan lawakan.
Ejekan terus mengalir. Sepanjang proses menuju konvensi Partai Republik. Saat dia mulai memikat, ejekan ditingkatkan jadi serangan.
Keburukan demi keburukan ditembakkan ke dia. Dianggap bodoh. Konyol. Brutal. Rasis.
Tapi, semua itu hanya membuat namanya kian populer. Terus disebut oleh media: Donald Trump.
Dia memang begitu kelihatan aneh. Norak. Konyol. Tapi, di lain pihak, dia jadi kelihatan berbeda. Menjadi tokoh yang ”bukan biasa”.
Lama-lama calon presiden yang lain jadi membosankan. Jadi terlihat mapan. Kuno.
Perkembangan berikutnya pun masih menarik. Trump bukan saja menjadi tokoh. Dia telah berubah menjadi pertunjukan. Enak untuk ditonton. Oleh yang benci maupun yang senang.
Dengan kerasisannya, kefanatikannya, dan kekonyolannya. Seperti reality show. Seperti Uya-kuya. Atau Tukul. Atau Sule. Awalnya terasa konyol, tapi menghibur. Menyenangkan. Menarik, akhirnya.
Saya sendiri lama-lama kecanduan. Apalagi saya di Amerika. Tontonan itu terasa dekat. Saya jadi sering menunggu Trump tampil di TV.
Ingin melihat kenorakannya. Atau mendengar statement kacaunya. Misalnya: ”Kalau Hillary itu laki-laki, tidak akan bisa dapat suara lima persen.” Atau: ”Bapaknya Ted Cruz itu pernah ikut Lee Harvey Oswald menyebarkan pamflet pro-Fidel Castro.”
Ted Cruz, lawan terberatnya di Partai Republik, memang keturunan Kuba. Fidel Castro adalah diktator Kuba yang dibenci Amerika. Dan Oswald adalah orang yang menembak mati Presiden John F. Kennedy.
Trump ingin mengesankan bahwa ayah Cruz terlibat pembunuhan presiden AS yang legendaris itu. Tidak ada data pendukung. Tapi, tepuk tangan pengikutnya gemuruh.
Dua hari kemudian, Cruz, anggota parlemen dari Kansas itu, lempar handuk. Yakni, setelah kalah di pemilu negara bagian Indiana. Tidak mungkin lagi Cruz mengejar.
Trump memang sering menyerang secara pribadi lawan politiknya. John Kasich yang kalem dan langsing itu dia serang dengan panggilan si kurang energi. Padahal, menjadi presiden itu perlu banyak energi.
Marco Rubio yang tubuhnya mungil itu dia gelari ”si kecil Rubio”. Kesannya: mana bisa anak kecil jadi presiden.
Bahkan, tokoh yang mendukung Cruz ikut dihabisi. John McCain yang saat jadi capres tujuh tahun lalu membanggakan diri sebagai patriot perang di Vietnam ikut ditumbangkan. ”McCain itu bukan pahlawan,” ujar Trump.
Itu didasarkan pada fakta bahwa saat perang di Vietnam, McCain tertangkap Vietcong. Seorang hero di mata Trump barangkali harus seperti Rambo.
Tuduhan-tuduhan Trump yang sangat pribadi seperti itu memang ampuh sebagai pembangkit emosi sesaat. Sebaliknya, cap itu akan menempel terus pada korbannya. Seumur hidup.
Terbunuhlah karakter. Karier anak muda seperti Rubio bisa habis selamanya. Si kecil Rubio akan jadi panggilannya yang abadi.
Memang begitu banyak yang marah kepada Trump: pimpinan partainya, kader-kader asli partai, wanita, keturunan Spanyol, Meksiko, RRT, Jepang, Eropa, Islam, dan kaum globalis.
Dua mantan presiden dari Republik, George Bush dan bapaknya, bikin pernyataan: tidak akan mendukung Trump. Grup band Rolling Stone melarang Trump menggunakan lagu-lagunya. Penyanyi Inggris Adele juga bersikap sama.
Tapi, berbagai senjata untuk menghentikan Trump ternyata tumpul. Trump melaju sendirian. Dua calon presiden lainnya sudah lempar handuk.
Partai pun pasrah. Apa boleh buat. Trump praktis hampir resmi jadi calon presiden dari Partai Republik. Berhadapan dengan calon dari Partai Demokrat Hillary Clinton.
Rencana mengganjal Trump di konvensi menjadi tidak relevan. Trump bukan hanya menang. Tapi, juga berhasil mencapai persentase kemenangan yang mutlak.
Memang awalnya tidak mengkhawatirkan. Hasil semua survei jelas: Hillary pasti menang. Bahkan, dilawankan Bernie Sanders pun, Trump pasti kalah. Tapi, pasang naik Trump belakangan ini mulai mengubah peta.
Kemenangan berturut-turut di 11 pemilu negara bagian terakhir ini bisa seperti Jamie Vardy di klub sepak bola Inggris Leicester (baca: Lesster, bukan Leicerter). Terus-menerus mencetak gol di 11 pertandingan.
Trump berhasil terus menguasai panggung. Trump terus happening. Akibatnya, Hillary mulai terlihat biasa-biasa saja. Ini bukan lagi Trump lawan Hillary. Tapi, baru lawan lama. Tidak biasa lawan biasa. Urakan lawan santun. Kecuali Hillary menemukan angin baru. Yang membuatnya kembali berkibar.
Tapi, bagaimana dengan kebencian yang begitu banyak kepada Trump? Seorang penulis di The New York Times dengan nada sinis minta pembacanya agar tidak terlalu khawatir. Tulisnya: Trump itu pragmatis. Bisa gampang berubah. Segampang dia mengganti istrinya. (*)

Minggu, 01 Mei 2016

Dahlan Iskan : New Hope 75 : Sistem Profesor untuk Sekolah Baru


Sistem Profesor untuk Sekolah Baru

Inilah jenis sekolah yang tumbuh pesat di Amerika Serikat: charter school. Bukan negeri. Bukan pula swasta.
Pendiri sekolah jenis ini umumnya guru. Yang punya jiwa keguruan 24 karat. Yang prihatin terhadap mutu pendidikan.
Maksudnya: pendidikan di sekolah negeri. Terutama di lingkungan tempat tinggalnya.
Misalnya Tyler Bastian ini. Awalnya dia guru SMA. Untuk mata pelajaran pembentukan karakter. Sesuai dengan prodi saat kuliah dulu.
Bastian prihatin dengan karakter remaja di lingkungannya. Begitu banyak yang drop out. Alasannya macam-macam. Intinya: sekolah tidak menarik bagi mereka.
Bastian lantas mengajak beberapa guru bergabung. Mendirikan charter school. Mereka menyusun pengurus. Bastian ketuanya.
Sejak 15 tahun lalu sebagian negara bagian memang mengizinkan berdirinya jenis sekolah baru ini. Bastian mau itu.
Langkah kedua: Bastian menyusun charter. Tebalnya 200 halaman. Mirip anggaran dasar: sekolah seperti apa yang diinginkan. Dan seperti apa kurikulumnya.
Berikutnya: Bastian menyusun program. Bagaimana mengusahakan bangunan, peralatan, mencari guru, mencari murid, dan mencari sumber dana.
Semua dokumen itu diajukan ke pemerintah negara bagian. Setingkat pemda provinsi di sini.
”Setahun saya mempersiapkan semua itu,” ujar Bastian saat saya mengunjungi sekolahnya. ”Tahun berikutnya sudah mendapat persetujuan.” Tahun ketiga sekolah dimulai.
Persetujuan itu penting: untuk mendapatkan biaya dari pemerintah. Besarnya Rp 70 juta (USD 5.000) per siswa per tahun. Memang itu tidak cukup. Tapi lumayan. Lebih dari 70 persen biaya sekolah. Menurut Bastian, di sekolahnya, per siswa menghabiskan USD 7.000/tahun.
Dia harus mencari sumbangan untuk menutup kekurangannya. Dia tidak boleh mencukup-cukupkan biaya dari pemerintah itu. Dia harus memenuhi komitmen mutu pendidikan sesuai dengan charter yang sudah dia buat.
Sekolah milik Bastian ini berada sekitar 20 km dari pusat Kota Salt Lake City, Utah. Namanya: Roots Charter High School. Bangunannya masih sewa. Bekas gedung kesehatan.
”Saya beri nama Roots agar siswa belajar mengenai akar semua masalah kehidupan,” ujar Bastian.
Memasuki ruang kelas sekolah ini, saya tidak kaget. Inilah ruang kelas SMA di Amerika: siswanya boleh pakai kaus, sandal, topi, dan celana pendek. Saya lihat seorang siswi membawa anjing ke kelas.
Duduknya pun boleh sesukanya: duduk manis, selonjor, kaki di atas kursi, dan sebagainya. Susunan kursi juga tidak harus rapi berderet.
Boleh beberapa kursi menggerombol memisah dari kursi lain. Tidak ada meja. Hanya kursi. Yang ada tempat buku atau laptopnya. Umumnya murid sibuk dengan laptop masing-masing.
Gurunya pun tidak di depan kelas. Keliling mendatangi murid yang memerlukan supervisi. Murid lain boleh berdiri di dekat guru. Ikut mendengarkan. Atau tidak.
Hari itu, 18 April lalu, saya melongok ke tiga kelas: matematika, sejarah, dan kimia. Semua mirip adanya: guru bersikap seperti teman murid. Pakaiannya pun semaunya.
Bastian juga menyewa lahan berjarak sekitar 100 meter dari sekolah. Untuk praktikum. Saya juga mengunjunginya. Untuk melihat kekhasan sekolah ini.
Seorang siswi dengan celana jins sedang memaku papan. Untuk bedeng tanaman sayuran. Tujuh siswa/siswi berada di kandang kambing.
Mereka mempraktikkan cara menyayangi anak kambing: merangkulnya di pangkuan, mengelus bagian yang disuka dan memeluknya. Menurut ilmu menyayangi kambing, bagian leher bawahlah yang harus dielus.
Tentu kandang kambing ini mengingatkan akan masa remaja saya: menjadi penggembala kambing. Saya sudah biasa menggendong anak kambing, membantu kelahiran, dan memandikan kambing. Tapi tidak secara ilmiah begini.
Segerombol siswa lagi memperhatikan temannya memandikan sapi. Seorang guru memberi contoh sesuai dengan ilmu memandikan sapi.
Dulu pun saya biasa membantu memandikan kerbau. Tapi, menungganginya dulu sepanjang jalan menuju sungai. Sambil meniup seruling.
Bastian adalah orang pertama yang mendirikan charter school berbasis pertanian dan peternakan. Relevan dengan situasi lingkungan sekolah. Siswa ternyata suka pelajaran di luar kelas. Ada unsur kegiatan fisik dan luar ruang.
Charter school memang dimaksudkan sebagai koreksi. Terutama terhadap rendahnya mutu sekolah negeri. Pelopornya seorang profesor dari Massachusetts. Namanya Ray Budde. Ketua persatuan guru AS.
Profesor itu pula yang mengajukan reformasi pendidikan pada tahun 1974. Sekolah negeri dia anggap terlalu kaku. Karena bukan berdasar inisiatif masyarakat. Tapi, baru tahun 1974 ada satu negara bagian, Minnesota, yang menerima ide charter school Prof Budde.
Sejak itu charter school menggelinding dengan kecepatan Star Wars. Kini sudah 43 negara bagian yang menerapkan. Jumlah charter school sudah mencapai 5.000 sekolah. Terbukti pula, kualitas pendidikannya lebih baik.
Tidak sembarang guru bisa mengajar di charter school. Harus yang bersertifikat. Yang benar-benar terpanggil jiwa keguruannya. Bastian punya delapan guru untuk Roots High School. Tiap guru gajinya USD 54.000 per tahun. Sekitar Rp 700 juta.
Keunggulan charter school adalah ini: tidak ada keseragaman. Ada yang mengutamakan matematika. Ada yang berbasis teknologi. Rekayasa mesin. Olahraga. Bebas. Tergantung bunyi charter yang dibuat.
Bastian puas dengan perjuangannya. Dia bekerja mulai jam 6 pagi sampai 6 sore. Mengajar dan menyiapkan keperluan sekolah. Dengan semangat.
Ketika saya memperhatikan anjing besar yang keluar masuk kelas, Bastian berhenti. ”Ini anjing sekolah,” katanya.
”Kalau ada siswa/siswi yang lagi suntuk, saya minta keluar untuk main-main dengan anjing ini.” Emosi siswa bisa reda.
Sebenarnya Bastian ingin bisa punya siswa sampai 300 orang. Tidak hanya 150 seperti sekarang. Tapi, dia belum bisa cari sumbangan lebih banyak. ”Sulit cari sumbangan. Orang Amerika itu kaya, tapi jiwanya rakus,” ungkapnya.
Bastian terpanggil mengurusi anak orang miskin sejak umur 19 tahun. Ketika dia jadi misionaris gereja Mormon di Honduras. Begitu miskin negara itu.
Dia sudah mendirikan sekolah di sana. Tiap tahun Bastian mengajak enam orang anaknya liburan di Honduras. Agar tahu bagaimana bisa membantu orang miskin.
Bahwa Bastian Mormon, memang begitulah umumnya orang Utah. Pihak-pihak yang rapat dengan saya di Utah semua aktivis Mormon. Misalnya yang ahli teknologi torium itu. Atau yang ahli ekonomi itu. Di sela-sela rapat saya menemui Tyler Bastian. Eh, Mormon juga.
Mayoritas penduduk Utah memang penganut Mormon: aliran Kristen yang membolehkan istri lebih dari satu, melarang makan babi, dan mengharamkan minuman keras.
Tentu saya juga mengunjungi Temple Square di Salt Lake City. Pusat gereja Mormon dunia. Yang umatnya kini sudah mencapai 15 juta. Antara lain karena Mormon melarang umatnya ikut KB.
Kembali ke lamanya perjuangan Prof Budde melahirkan charter school tadi, saya jadi merenung: di AS sekalipun memperjuangkan pembaharuan memakan waktu. Untung Prof Budde tidak gampang menyerah. (*)

Senin, 07 September 2015

Masa Denial yang Mestinya Bisa Dilewati

Oleh: Dahlan Iskan

SIKAP terbaik yang harus diteguhkan saat ini adalah: mengakui dan menyadari bahwa keadaan ekonomi kita memang sulit. Tidak perlu menutupi. Lebih-lebih tidak perlu menolak keadaan yang memang sulit itu. Jangan punya sikap, yang di dunia kedokteran disebut denial. Tidak boleh sebagian dari kita mengatakan sulit, tapi sebagian lagi mengatakan kita ini tidak sulit.

Menjalani fase mengakui kesulitan itu kadang tidak mudah. Seperti orang yang didiagnosis terkena penyakit jiwa, umumnya menolak dikatakan sakit jiwa. Atau sakit kanker. Atau sakit apa pun. Kian kuat penolakan itu, kian sulit upaya penyembuhannya.

Tapi, datangnya fase penolakan itu sangat wajar. Terjadi hampir pada siapa saja. Hanya, sebaiknya fase denial itu jangan lama-lama. Agar tidak terjadi konflik antaranggota keluarga.

Tidak perlu bertengkar mengapa terkena penyakit. Siapa yang mengakibatkan sakit. Dari mana datangnya sakit. Apalagi kalau sampai ada kesimpulan bahwa sakit itu karena disantet.

Fokus utama bisa langsung bagaimana segera mengobatinya. Itu pun belum tentu bisa segera sembuh. Apalagi kalau tidak segera diobati. Lebih-lebih bila tidak segera tahu bagaimana cara mengobatinya, siapa dokternya, siapa perawatnya, dan seterusnya.

Setelah fase denial dilewati, sebaiknya segera tentukan sikap: yang pernah berkampanye dengan janji-janji tinggi tidak perlu terus mengingat janji itu. Tidak perlu bersikap harus ngotot akan melaksanakannya. Keadaan memang sudah tidak memungkinkan.

Presiden George Bush dalam kampanye pencalonannya dulu selalu menegaskan akan memberikan perhatian khusus kepada Amerika Latin. Maklum, dia dari Texas yang berbatasan langsung dengan Meksiko. Setelah terpilih, ternyata fokusnya tetap ke negara-negara Arab, sebagaimana pendahulunya. Bahkan, tidak sekali pun Bush sempat berkunjung ke salah satu negara Amerika Latin. Toh dia terpilih lagi.

Pihak yang dulu rajin mencatat janji-janji kampanye itu (dan berniat akan menagihnya) sebaiknya juga membatalkan niat itu. Bahkan tidak perlu membuka catatan itu. Apalagi menagihnya. Penagihan itu hanya akan mempersulit keadaan. Kepuasan bisa menagih janji itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Hanya akan menimbulkan komplikasi. Bahkan komplikasi politik.

Padahal, kita semua tahu krisis ekonomi yang disertai komplikasi politik akan memperparah keadaan. Itu yang sedang dihadapi Malaysia saat ini. Kita sudah pernah merasakannya. Mestinya kita sudah kapok dengan keadaan seperti itu pada tahun 1998.

Kita harus berterima kasih karena dalam kesulitan ekonomi ini kubu oposisi tidak banyak mempersoalkan pemerintah. Meski penyebabnya mungkin karena Golkar pecah. Dan perpecahannya mungkin akan lebih lama daripada masa krisis ini.

Demikian juga PPP. Dua kubu dalam partai Islam ini bukanlah tipe yang mudah bersatu. Partai Islam satunya, PAN, bahkan sudah bergabung ke pemerintah. Hanya PKS yang masih solid. Bahkan kelihatannya kian solid. Hasil munas terakhir PKS mendapat apresiasi yang luar biasa di kalangan anak muda Islam.

Dengan gambaran itu, mestinya masa denial bisa segera kita lewati. Agar proses pengobatan krisis bisa efektif. Krisis ini tidak bisa diatasi hanya oleh pemerintah meski yang utama adalah pemerintah. Pengakuan pemerintah bahwa kita lagi sulit akan menimbulkan rasa simpati dan empati. Dari sini akan muncul saling membantu. Saling percaya. Krisis ini akan sulit diatasi kalau terjadi krisis kepercayaan. Atau kalau tidak ada rasa ketenangan dalam berusaha.

Tidak usahlah ada yang mengatakan bahwa ini belum krisis. Inflasi masih terkontrol. Harga tomat masih Rp1.000 per kg. Dan sebangsa itu. Fakta itu akan cepat berubah. Tiwas kita kehilangan waktu. Tidak perlu juga menyalahkan Amerika Serikat (AS), Korea, atau Tiongkok. Apalagi menyalahkan SBY segala. Itu hanya akan menambah sinyal bahwa kita, secara tidak sadar, masih berada di fase denial.

Kita syukuri ekonomi kita di masa lalu pernah tumbuh tinggi beberapa tahun. Sehingga kini kita lebih punya modal untuk memasuki masa sulit. Tapi, tidak perlu juga ada yang terlalu membanggakan masa-masa itu karena toh sudah lewat. Itulah masa ketika AS mengatasi krisis ekonominya yang berat pada 2008 dengan cara semena mena: mencetak uang dolar sebanyak-banyaknya!

Cara itu berhasil menggairahkan ekonomi AS (juga ekonomi dunia). Tapi juga berhasil meningkatkan utang luar negeri yang fantastis di banyak negara! Termasuk Tiongkok. Angka-angka peningkatan utang luar negeri itu mengerikan. Dalam waktu singkat.

Mengapa AS mengatasi krisisnya dengan mencetak uang dolar sebanyak-banyaknya? Karena toh dolar itu akan beredar di luar negeri. Tidak akan punya dampak inflasi di dalam negeri AS sendiri. Coba kalau negara lain yang mencetak uang seperti itu. Misalnya kita. Ekonomi negara itu akan hancur karena inflasinya tidak terkendali. Tapi, karena dolar yang beredar di luar AS lebih besar daripada yang beredar di AS sendiri, pencetakan uang itu tidak merusak ekonomi AS.

Itulah untungnya mata uang dolar menjadi mata uang dunia. Ia bisa digunakan dengan mudah untuk menyehatkan ekonominya sekaligus mengendalikan ekonomi negara lain.

Tahun lalu, ketika AS merasa tujuan mengatasi krisisnya sudah selesai, dimulailah rencana mengetatkan dolar. Dan akan terus diketatkan lagi pada tahun-tahun mendatang. Agar tidak memukul ekonomi AS.

Peredaran dolar yang berlebih untuk masa yang terlalu lama pada akhirnya akan membahayakan AS. Proses pengetatan dolar itulah yang menjadi wabah penyakit sekarang ini. Maka kita akui saja ekonomi kita lagi sulit dan akan sulit.

Segeralah kita akhiri masa denial. Lalu kita lakukan apa yang harus kita lakukan. (*)

Senin, 01 Juni 2015

New Hope : Dahlan Iskan : SABAR UNTUK SULITNYA MENERIMA KEKALAHAN


DAHLAN ISKAN
Mantan CEO Jawa Pos
SAYA harus di New York tanggal 29-30 Mei lalu. Imam Shamsi Ali minta saya berbicara di forum Islam di Indonesia. Tempatnya di gedung PBB, New York. Imam besar masjid New York asal Indonesia itu memang pemrakarsanya. Dubes Indonesia untuk PBB Desra Percaya sebagai penyelenggaranya.
Saya berangkat dari Evansville, di Negara Bagian Indiana, tempat saya belajar selama tiga bulan terakhir, naik mobil. Lebih dari 1.500 km. Itu karena harus memutar lewat selatan. Mengunjungi tempat-tempat yang terkait dengan yang saya pelajari. Kami, saya dan guru saya, John Mohn, seorang wartawan senior di AS, bergantian pegang kemudi.
Sebelas negara bagian harus saya lewati: Kentucky, Tennessee, Mississippi, Alabama, Georgia, South Carolina, North Carolina, Virginia, Delaware, New Jersey, dan Pennsylvania. Singgah di kota-kota besarnya, desa-desanya, dan pedalamannya: Memphis, Tupelo, Birmingham, Atlanta, Augusta, Columbia, Charlotte, Greensboro, Appomattox, Durham, Richmond, Dover, Lewes, Atlantic City, Ocean City, dan Philadelphia. Juga mampir ke beberapa universitasnya.
Suatu saat, saya harus isi bensin di sebuah permukiman. Saya lihat ada puluhan rumah bagus di sekitar pompa bensin itu. ”Apakah ini sebuah desa?,” tanya saya. ”Di struktur pemerintahan Amerika tidak dikenal kata desa (village),” ujar John. ”Paling kecil adalah town (kota kecil),” tambahnya. Yakni, sebuah ”desa” yang penduduknya kadang kurang dari 2.000 jiwa.
Tapi tempat saya berhenti itu, Birdsnest, di Negara Bagian Virginia, ternyata sebuah permukiman yang tidak terikat dengan satu bentuk administrasi pemerintahan daerah. Bukan RT, bukan RW, bukan kelurahan, bukan kota. Sebutannya hanya ”un-incorporated community”. Alias permukiman yang tidak terikat organisasi pemerintahan.
Warga di Birdsnest tidak mau menjadi bagian kota mana pun. Mereka merasa tidak perlu punya organisasi pemerintahan. Juga tidak punya ketua kelompok atau koordinator. Mereka merasa bisa mengurus diri masing-masing. Memang pernah ada kantor pos di situ, tapi sudah lama tutup. Mereka tidak merasa perlu ikut pilkada. Juga merasa tidak perlu memiliki wakil di DPRD.
Ternyata banyak sekali kelompok masyarakat di AS yang statusnya seperti itu. Mereka merasa di situlah inti kebebasan dan inti kemerdekaan. Itulah filsafat demokrasi terdalam yang dianut Amerika. Mereka berpendapat, kebebasan yang mendasarlah yang bisa membuat AS menjadi negara superpower seperti sekarang.
Sebelum itu, saya mengunjungi ”desa” Appomattox di pedalaman Virginia. Di situ saya melihat lokasi penyerahan diri Jenderal Robert E. Lee, panglima perang tentara wilayah selatan yang berjuang memisahkan diri dari USA. Setelah hampir 70 tahun tergabung ke dalam USA (hampir seumur kemerdekaan Indonesia sekarang), tujuh negara bagian di selatan (South Carolina, Georgia, Alabama, Mississippi, Louisiana, Texas, dan Florida) menyatakan memisahkan diri. Negara-negara bagian di utara dan presiden USA menentang pemisahan diri itu.
Setelah empat tahun perang sipil dan menelan korban hingga hampir 1 juta jiwa, akhirnya pihak selatan menyerah di Appomattox itu. Kembali tergabung dalam USA. Angka 1 juta itu, dilihat dari jumlah penduduk saat itu, setara dengan sekitar 5 persen.
Dari sini saya belajar betapa mahalnya menegakkan konstitusi. Dan harus ditegakkan.
Pelajaran lain yang juga mahal adalah: betapa sulit menerima kekalahan.
Tidak semua tentara dan tokoh selatan menerima keputusan penyerahan diri Jenderal Robert Lee. Gubernur Florida waktu itu, John Milton, menulis surat kepada anaknya. Dia tidak bisa menerima kekalahan tersebut. Dia tidak mau berada di bawah pemerintahan Presiden Abraham Lincoln yang menang lagi di pemilu berikutnya. Setelah menandatangani surat itu, Milton langsung mengambil pistol. Ditembakkan ke kepalanya sendiri.
Pemilik perkebunan besar yang juga aktif di politik, Edmund Ruffin, melakukan hal yang sama. Dialah orang pertama yang meletuskan senjata ke tentara utara yang akhirnya menyebabkan perang itu terjadi. Ruffin kaget menerima kabar penyerahan diri Jenderal Lee. Ruffin langsung mengarahkan moncong senjatanya ke dalam mulutnya sendiri: dor.
Lebih dari itu, 10.000 orang dari wilayah selatan, yang tidak mau berada di bawah pemerintahan Lincoln memilih meninggalkan Amerika. Mereka seperti gelombang besar pindah ke Inggris, Kanada, Meksiko, dan negara lainnya.
Yang masih tinggal di Amerika pun tak semuanya bisa menerima kekalahan itu. Mereka membentuk kelompok-kelompok yang menempuh cara sendiri-sendiri. Banyak sekali organisasi yang didirikan dengan rasa sentimen itu. Termasuk yang paling keras adalah Ku Klux Klan.
Ketika Kota Columbia terbakar habis pada akhir perang sipil tersebut, ada juga yang mengaitkan itu sebagai langkah bumi hangus dari tentara selatan yang harus mundur dari Columbia.
Di antara yang kecewa itu, ada satu orang yang mengambil jalan sendiri. Lima hari setelah penyerahan diri Jenderal Lee, dia datang ke gedung teater di Washington, membawa pistol, menyelinap ke balkon dan….dor! Menembak Presiden Abraham Lincoln yang baru dilantik kembali untuk masa jabatan kedua.
Malam itu Lincoln memang lagi nonton. Penjaganya lagi keluar balkon untuk ambil kopi. Dalam satu minggu itu, dua peristiwa besar terjadi: kemenangan dan kekalahan Lincoln. Padahal, keesokan harinya, rencananya Lincoln menerima anaknya, tentara, yang baru datang dari Appomattox. Sang anak ikut menyaksikan pertemuan antara Jenderal Grant, panglima perang tentara pusat, dan Jenderal Lee, yang diakhiri dengan penyerahan diri itu. Lincoln ingin mendengar jalan cerita penyerahan diri tersebut.
Begitu mahal harga sebuah konstitusi.
Konstitusi itu dibuat di Philadelphia dengan proses yang juga sangat sulit. Dan sangat panjang: 12 tahun. Saat berkunjung ke gedung tempat bersidangnya para pendiri USA itu, saya membayangkan siapa duduk di kursi sebelah mana dan membicarakan apa. Saya juga membayangkan George Washington duduk di kursi ketua sidang di depan sana itu.
Saya membayangkan betapa sabarnya para pendiri negara itu. Itulah pelajaran berdemokrasi berikutnya yang saya peroleh. Membangun demokrasi memerlukan kesabaran. Juga memerlukan toleransi. Seperti juga kita, saat proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, USA belum punya undang-undang dasar atau konstitusi.
Para pendiri negara itu harus berdiskusi merumuskan seperti apa konstitusi yang mereka inginkan. Rupanya tarik ulur kepentingan sangat keras. Rapat untuk merumuskan konstitusi itu sampai berlangsung 12 tahun.
Empat isu besarnya: bagaimana cara memilih presiden, bagaimana cara menentukan wakil negara-negara bagian di pemerintahan pusat (federal), bagaimana soal budak, dan sistem perpajakan yang tidak mengurangi kekuatan negara bagian.
Kita, Indonesia, pernah mengalami masa-masa seperti itu ketika untuk kali pertama ingin memiliki konstitusi yang demokratis. Pemilu pertama kita di tahun 1955 sangat sukses. Demokratis dan damai. Terbentuklah konstituante. MPR. Mereka mulai bersidang untuk merumuskan UUD. Satu tahun belum selesai. Dua tahun belum selesai. Tiga tahun belum selesai. Empat tahun belum selesai. Bung Karno tidak sabar. Bung Karno ambil jalan pintas: mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959. Konstituante dibubarkan. UUD 45 kembali diberlakukan.
Dalam perkembangan berikutnya, berlakulah demokrasi terpimpin. Lalu, berganti dengan demokrasi Pancasila di zaman Pak Harto.
Kondisinya memang berbeda. USA terbentuk oleh bersatunya negara-negara bagian. Biarpun belum punya pemerintahan pusat, pemerintahan di daerah (negara bagian) sudah berjalan. Itulah sebabnya, banyak yang mendukung langkah Bung Karno. Tentu banyak juga yang menyayangkan.

Senin, 25 Mei 2015

New Hope : Dahlan Iskan : Problem Banyak Anak dan Manusia Tidak Beragama

by Dahlan Iskan
Inilah  dua hasil penelitian yang akan membuat para pimpinan agama (Islam dan Kristen), mestinya, tidak punya waktu lagi untuk bicara yang remeh-temeh. Persaingan untuk berebut pengaruh di antara golongan-golongan dalam satu agama pun bisa tidak relevan lagi. Apalagi persaingan antaragama. Hasil penelitian itu benar-benar akan membuat para pimpinan agama masing-masing, mestinya, terlalu sibuk dengan pekerjaan rumah masing-masing yang sangat besar ini.
Bulan lalu Pew Research Center yang berpusat di Washington DC, Amerika Serikat, mengumumkan hasil penelitiannya. Pertama, jumlah umat Islam menjadi imbang dengan umat Kristen pada 2050 (31,4 persen Kristen, 29,7 persen Islam). Jumlah penganut Islam akan melebihi umat Kristen pada 2070. Kedua, perkembangan itu bukan karena banyak umat Kristen yang masuk Islam, melainkan lebih karena keluarga Kristen memiliki lebih sedikit anak (2,3) dibanding keluarga Islam (3,5). Juga karena akan banyak umat Kristen, di Eropa khususnya dan di Barat umumnya, yang tidak mau lagi terikat dengan agama.
Sambil melakukan perjalanan dengan naik bus ke kota-kota Nashville, Memphis, New Orleans, Houston, dan Austin pada hari-hari tidak ada mata pelajaran di akhir pekan, saya merenungkannya dalam-dalam. Saya tertegun.
Saya membayangkan betapa seharusnya tiap-tiap pimpinan agama kini bekerja keras untuk merespons hasil penelitian itu. Seharusnya sudah tidak ada waktu lagi untuk berebut pengaruh.
Ambil contoh di internal Islam. Menjadi mayoritas lebih karena jumlah anak yang lebih banyak bukankah akan menimbulkan persoalan tersendiri? Yakni, bagaimana dengan jumlah anak yang lebih banyak itu bisa meningkatkan kesejahteraan mereka.
Menyiapkan diri untuk menjadi agama terbesar bukanlah pekerjaan mudah. Terutama kalau Islam akan menempatkan dirinya menjadi seperti yang diinginkan agama itu: menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Pertanyaan mendasar akan datang dari dunia Barat: Dengan Islam menjadi mayoritas, akankah dunia lebih aman dan damai? Akankah dunia lebih sejahtera? Lebih makmur? Akankah umat manusia lebih bahagia? Apakah tidak justru sebaliknya? Lebih kacau? Lebih saling serang? Lebih saling mengafirkan? Lalu, lupa pada misi utama untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam?
Dunia Barat –dengan keunggulan teknologi, ekonomi, dan ilmu pengetahuan– tentu harap-harap cemas menghadapinya. Terutama pada 2070 nanti, ketika penduduk dunia menjadi 9,3 miliar dari 6,9 miliar saat ini.
Di era teknologi, ekonomi, dan ilmu pengetahuan, jumlah bukanlah inti kekuatan. Justru sering terjadi, dan banyak terbukti, besarnya jumlah sekadar angka tidak bertulang.
Pertambahan umat Islam yang besar itu, terang Pew, terjadi di India dan negara-negara muslim di Afrika. Keluarga mereka memiliki anak yang lebih banyak. Pada 2050 nanti, Indonesia tidak bisa lagi menyebut dirinya sebagai negara muslim terbesar. Kalah dari India.
Sayang, banyak-banyakan anak itu, dalam ilmu pengetahuan (termasuk ilmu ekonomi), akan terkait langsung dengan tingkat kesejahteraan dan kemakmuran. Bisa-bisa tingginya angka kelahiran itu akan berdampak meningkatnya kemiskinan.
Tiongkok, misalnya, sengaja dengan keras mengendalikan angka kelahiran agar bisa meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Seandainya tidak ada pengendalian itu, jumlah penduduk Tiongkok kini mencapai 1,7 miliar. Alias 400 juta lebih banyak daripada kenyataan sekarang yang 1,3 miliar. Angka kelahiran yang bisa dicegah itu saja dua kali jumlah penduduk Indonesia. Atau 25 kali penduduk Malaysia. Untuk menyediakan sarana kesehatan, pendidikan, dan perumahan bagi 400 juta orang itu saja bukan main memakan kemampuan negara.
Negara-negara Barat tentu akan memperhatikan penuh pengaruh ledakan penduduk tersebut. Barat pasti khawatir kalau negara-negara berpenduduk besar itu sulit keluar dari kemiskinan. Itu, bagi Barat, akan dianggap sebagai sumber kekacauan, imigrasi, dan bahkan sampai terorisme. Maka, pekerjaan untuk meningkatkan kemakmuran di negara-negara muslim seharusnya menjadi agenda terbesar para pimpinan agama di segala lapisan.
Pihak Kristen mestinya juga memiliki agenda internal yang tidak kalah besar. Bukan dalam menghadapi agama lain, melainkan menghadapi kenyataan baru: meningkatnya jumlah orang Kristen di Barat yang tidak mau lagi beragama. Jumlah mereka terus meningkat.
Tentu para pimpinan Kristen akan memiliki kesibukan yang luar biasa untuk mencegah hal itu terjadi. Bayangkan, sampai 2050 nanti, papar Pew, 170 juta orang Kristen menjadi tidak beragama. Khususnya di Inggris, Prancis, Belanda, dan Selandia Baru.
Hasil penelitian itu sangat menantang bagi para pimpinan agama tersebut di segala lapisan. Mungkin perlu lebih banyak pendeta dan pastor dari Indonesia untuk menjadi misionaris di sana, mengikuti jejak Pendeta Stephen Tong dari Batu, yang sangat terkenal hebat di Barat.
Sulitnya, pengertian ”tidak beragama” itu tidak sama dengan ”tidak bertuhan”. Mereka tetap percaya akan adanya Tuhan, tapi tidak mau terikat dengan agama apa pun. Itu berbeda dengan pengertian ateis atau komunis pada masa lalu.
Untuk masa depan, agama tampaknya memang harus sinkron dengan ilmu pengetahuan. Tidak bisa lagi agama mengajarkan A, ilmu pengetahuan membuktikan B. Pada zaman dulu, doktrin agama terbukti sering bertabrakan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Soal bumi bulat, soal manusia pertama, soal penciptaan alam semesta, misalnya, adalah beberapa contoh.
Ilmu kedokteran, terutama ilmu kromosom, DNA, dan sel, kelihatannya menjadi penyumbang terbesar doktrin kuno dalam menafsirkan doktrin agama. Demikian juga ilmu fisika dan ilmu kimia.
Lihatlah hasil penelitian lain ini. Sejak dua tahun lalu, agamawan aliran lama tertegun oleh penemuan partikel subatom baru. Penemunya memberi nama sindiran untuk ”barang” itu sebagai ”partikel Tuhan”. Sebab, mereka yakin bahwa partikel itulah yang menjadi awal mula terbentuknya jagat raya.
Tentu masih memerlukan pengujian lebih lanjut terhadap temuan itu. Tapi, mereka yakin akan bisa melanjutkan penelitiannya dan membuktikan kebenaran ilmiahnya.
Maka, ilmuwan yang tergabung di pusat penelitian CERN menciptakan alat untuk menguji partikel Tuhan itu. Bulan lalu alat tersebut berhasil dibuat. Pada 5 April 2015, CERN mengadakan konferensi pers. Alat penguji itu mulai dicoba digerakkan. Bentuknya sebuah mesin, yang menurut CERN terbesar yang pernah dibuat manusia.
Fungsi mesin itu adalah menabrakkan partikel Tuhan dalam kecepatan tinggi. Menyamai kecepatan cahaya. Kini CERN sudah menghidupkan mesin tersebut. Lokasi uji coba itu adalah sebuah terowongan penelitian milik CERN sepanjang 17 mil di perbatasan Swiss dengan Prancis.
”Kami sedang menunggu uji coba mesin itu untuk mencapai kecepatan cahaya. Mungkin dalam dua bulan ke depan,” ujar Direktur Jenderal CERN Rolf-Dieter Heuer dalam konferensi pers bulan lalu.
Mereka ingin membuktikan bahwa teori big bang benar: Jagat raya ini tercipta oleh ledakan besar yang ditimbulkan oleh tabrakan partikel dalam kecepatan cahaya. Mereka lagi menguji penafsiran doktrin agama yang mengatakan bahwa jagat raya diciptakan oleh Tuhan begitu saja, tanpa proses fisika.
Mereka percaya bahwa tabrakan besar partikel tersebut terjadi 14 miliar tahun lalu dan saat itulah awal mula terbentuknya jagat raya. Penemuan itu nanti, kalau terbukti, tidak harus kita artikan menolak doktrin bahwa jagat raya diciptakan oleh Tuhan. Tapi, setidaknya itu akan menggugurkan cara menafsirkan doktrin agama yang dilakukan selama ini, yakni bahwa jagat raya diciptakan Tuhan begitu saja. Tidak lewat proses fisika.
Di tengah gelombang ilmu pengetahuan seperti itu, adakah yang masih menganggap penting memperdebatkan kapan jatuhnya hari Lebaran sampai berhari-hari? (*)

Senin, 18 Mei 2015

New Hope : Dahlan Iskan : Ketika Larangan Bukan Lagi Larangan

Data menunjukkan bahwa belum pernah ada kecelakaan pesawat yang disebabkan penggunaan handphone. Tapi, data juga menunjukkan bahwa penggunaan alat-alat elektronik di dalam pesawat memang berpengaruh pada sistem komunikasi dan navigasi.
Data lain menunjukkan, 30 persen handphone penumpang tidak dimatikan, meski umumnya diset silent. Itu berarti saat pesawat sedang meninggalkan landasan atau proses landing, suara maupun data SMS, e-mail, bluetooth, dan lain-lain masuk ke handphone tersebut. Dan tidak pernah terjadi apa-apa.
Data yang lain lagi menunjukkan bahwa persaingan pelayanan di penerbangan kian seru. Perusahaan penerbangan cenderung memenuhi keinginan penumpang, terutama dalam penggunaan handphone (HP). Beberapa perusahaan mulai menyediakan layananwifi di udara. Kian lama kian banyak pesawat yang dilengkapi wifi. Mula-mula hanya untuk penerbangan jarak jauh. Antarbenua. Kini, di Amerika Serikat, dalam penerbangan dua jam pun, sudah mulai disediakan wifi.
Memang wifi tersebut baru di-on-kan saat pesawat sudah terbang tinggi dan dimatikan ketika pesawat menjelang landing. Tapi, tetap saja terjadi komunikasi saat pesawat berada di udara.
Cathay Pacific, menurut pengalaman saya, sejak dua tahun lalu sudah melonggarkan aturan itu. Saat pesawat baru mendarat, pramugari mengumumkan, ”Anda sudah boleh menghidupkan handphone.” Berbeda dengan pengumuman lama yang menyebutkan, ”Pesawat baru saja mendarat, tapi Anda baru boleh menghidupkan handphone saat sudah tiba di gedung terminal.”
Di Amerika, kini tidak ada pengumuman itu. Baik yang lama maupun yang baru. Semula saya kaget. Banyak sekali penumpang yang tetap sibuk dengan gadget mereka saat pesawat mau take off. Pramugari yang melihat itu juga tidak menegur. Memang tidak ada yang melakukan pembicaraan suara, tapi HP, iPod, maupun tablet terus difungsikan. Hanya laptop yang tidak boleh digunakan. Bukan soal elektroniknya, melainkan soal besarnya ukuran laptop yang kalau terjadi benturan bisa menyebabkan luka.
Demikian juga waktu pesawat hendak landing. Penumpang tetap sibuk dengan gadget masing-masing. Pramugari juga tidak menghiraukannya. Beberapa jendela yang masih tertutup juga tidak diminta dibuka. Hanya sandaran kursi yang harus ditegakkan.
Ternyata memang ada kebijakan baru yang secara resmi memperbolehkan itu. Setidak-tidaknya tidak melarang itu. Itu berlaku sejak Oktober 2013, sejak Federal Aviation Administration (FAA) mengeluarkan pengumuman bahwa ”penumpang diperbolehkan menggunakan alat-alat elektronik pribadi”. Tapi, FAA tidak mau menegaskan apakah itu termasuk handphone.
FAA sengaja menghindari penyebutan handphone sekadar karena ada aturan yang dikeluarkan lembaga lain yang melarang penggunaan handphone. Kalau menyebutkannya, FAA akan dianggap memasuki wilayah lembaga lain. Yang dimaksud adalah instansi pemerintah Federal Communication Commission (FCC).
Tapi, begitu FAA mengeluarkan pengumuman itu, FCC juga segera menyusulinya dengan pengumuman baru. Memang pengumuman tersebut terasa mengambang, tapi semua pihak menafsirkannya sebagai boleh menggunakan handphone juga.
Inilah bunyi pengumuman itu. ”Teknologi modern memang bisa memberikan layanan handphone dengan aman dan tangguh. Dan, ada waktunya nanti untuk merevisi aturan yang sudah kuno dan terlalu ketat itu.”
Aturan yang diakui kuno dan ketat itu ternyata memang dikeluarkan pada 1968. Itu pun, maksud utamanya adalah mengatur penggunaan frekuensi FM.
Tentu semua orang tahu bahwa setiap handphone menyediakan menu airplane mode. Maksudnya, meskipun lalu lintas komunikasi tetap terblokir, handphone tetap bisa digunakan untuk keperluan lain: main game, menulis naskah, menyiapkan teks SMS atau WA yang akan dikirim nanti, dan seterusnya.
Yang terbaru, sejak minggu lalu, perusahaan penerbangan di Amerika mengizinkan boarding dengan menggunakan handphone. Penumpang tidak perlu lagi memiliki boarding pass. Dengan demikian, tidak perlu check-in juga. Mesin-mesin check-in otomatis, yang membuat penumpang bisa check in sendiri, menjadi tidak relevan lagi.
Untuk masuk pesawat, penumpang tinggal menempelkan layar handphone-nya ke alat yang biasanya digunakan untuk mendeteksibarcode pada boarding pass. ”Sejak minggu lalu, kami juga melayani boarding dengan menggunakan jam tangan,” ujar seorang petugas boarding Delta Air di Bandara Cleveland. Tentu jam tangan khusus yang kini mulai dipasarkan, yang juga berfungsi untukhandphone itu.
Perkembangan teknologi komunikasi memang seperti tak terbatas. Kini produsen alat-alat rumah tangga seperti AC, mesin cuci,microwave, rice cooker, kulkas, dan sebangsanya mulai khawatir. Produsen handphone yang lagi hot dari Tiongkok seperti Xiaomi bisa menggulung mereka.
Pabrik handphone itu juga akan memproduksi alat-alat rumah tangga yang didesain bisa terhubung dengan handphone. Konsumen akan membeli alat rumah tangga yang bisa dikendalikan dengan handphone tersebut. Jarak jauh.
Persaingan di perusahaan penerbangan memang tidak pernah berhenti. Tiga perusahaan penerbangan Amerika, American Airlines (terbesar di dunia), United, dan Delta, untuk kali pertama berteriak bersama Kamis pekan lalu: Tiga perusahaan penerbangan Timur Tengah tidak fair.
Emirates, Etihad, dan Qatar Airways mereka tuduh menerima subsidi pemerintah sampai 40 miliar dolar AS sejak 2004. Akibatnya, mereka sangat kompetitif. Emirates, misalnya, sekarang terbang langsung dari Dubai ke tujuh kota di Amerika. ”Sejak Januari lalu saja naik 25 persen,” bunyi pernyataan mereka.
Rupanya bukan hanya Singapore Airlines yang terpukul oleh Emirates dkk itu. Tiga kali ke AS selama dua tahun terakhir, misalnya, saya memilih salah satu di antara tiga maskapai itu karena ingin merasakan pesawat terbesar dan terbaru A380. Tidak satu pun perusahaan penerbangan Amerika yang mengoperasikan pesawat itu.
Tapi, Emirates ternyata jeli. Ia menyerang balik: Sejak 2000, tiga perusahaan penerbangan Amerika itu menerima bantuan pemerintah AS sebesar 70 miliar dolar. Memang bentuknya bukan subsidi langsung. Tapi, bagi mereka, itu tidak ada bedanya.
Begitulah raksasa-raksasa dunia bertempur. (*)

Senin, 11 Mei 2015

New Hope : Dahlan Iskan : 41/43 untuk dan dari Bush

Bush menulis buku untuk Bush. Judul bukunya simpel: 41. Sebetulnya akan lebih menarik kalau judulnya ”41/43”. Yakni buku tentang presiden Amerika Serikat (AS) yang ke-41, yang ditulis oleh presiden AS yang ke-43.
Untuk apa George W. Bush menulis buku tentang George H.W. Bush, ayahnya?
Suatu hari, menjelang ulang tahun ke-90 George H.W. Bush, tahun lalu, seorang wartawan mengungkapkan pengalaman ayahnya. Sang ayah adalah seorang ahli sejarah yang melakukan penelitian tentang kehidupan John Adam, salah seorang bapak bangsa Amerika yang bersama George Washington, Benjamin Franklin, dan lain-lain memproklamasikan pembentukan negara AS. John Adam lantas menjadi wakil presiden pertama dan menjadi presiden ke-2 AS.
Salah satu hasil penelitian tentang John Adam itu mengungkapkan kekecewaan seorang ayah yang sudah tua kepada anaknya. ”Salah satu yang disesalkan Presiden John Adam dalam hidupnya adalah: mengapa anaknya tidak mau menulis buku tentang sang ayah,” kata wartawan itu kepada George Bush. John Adam punya enam anak, tapi yang dimaksud adalah anaknya yang kedua, John Quincy Adam, presiden AS yang ke-6 (1825–1829).
John Adam dan Quincy Adam adalah bapak-anak pertama yang menjadi presiden di AS. Keduanya sama-sama hanya memangku jabatan satu periode. Sang ayah masih sempat menyaksikan anaknya dilantik jadi presiden, tapi beberapa bulan kemudian meninggal dunia.
Informasi itu dirasa-rasakan oleh George Bush, presiden ke-43 AS. Dia pun memutuskan untuk menulis buku tentang ayahnya yang menjadi presiden ke-41. Mumpung ayahnya masih hidup. Mumpung dia juga sudah lebih longgar setelah tidak lagi jadi presiden.
”Tentu saja buku ini tidak objektif,” tulis George Bush dalam kata pengantar. Tapi, setelah membaca buku setebal 300 halaman itu, rasanya tidak ada yang perlu dimaafkan. Justru isinya sangat menarik. Itulah buku ”cerita dari dalam” yang sulit didapat orang luar. Apalagi, banyak bagian yang menceritakan hal-hal ringan dan lucu. Yang menggambarkan secara utuh profil keluarga besar Bush yang sangat humoris, romantis, dan kompak.
Ketika sang anak jadi presiden, George H.W. Bush ternyata sering mengirim cerita lucu ke Gedung Putih. Ini karena dia pernah merasakan betapa stresnya menjadi presiden. Cerita-cerita lucu itu dia dapat dari orang lain. Lantas dia e-mail-kan ke staf di Gedung Putih. Sang ayah tahu anaknya tidak membuka e-mail sendiri, tapi dia yakin lelucon itu pasti disampaikan ke sang presiden. ”Lelucon-lelucon dari ayah saya itu benar-benar bisa meredakan stres,” tulis George Bush.
Misalnya cerita ini: seseorang yang ditangkap karena mencuri barang di toko dibawa ke pengadilan. Saat hakim bertanya apa yang dia curi, dijawab ”cuma satu bungkus minuman”. Saat ditanya satu bungkus itu berisi berapa botol,  dijawab ”enam botol”. ”Kalau begitu, kamu dihukum enam hari di penjara,” kata hakim. Tapi, istri si pencuri menyela: dia juga mencuri satu bungkus anggur!
George Bush juga menceritakan bagaimana bapaknya, yang dari keluarga kaya raya di daerah yang enak di dekat New York, memutuskan keluar dari kenyamanan keluarga untuk merintis karir dari bawah. Dia merantau ke daerah yang sangat gersang, nun jauh ke wilayah barat Texas.
Saat itu sang ayah, George H.W. Bush, baru tamat dari universitas yang sangat prestisius, Yale University. Dia juga sudah memiliki seorang bayi, George Bush. Istrinya, Barbara, juga dari keluarga kaya raya. Tapi mau saja diajak menderita di pedalaman Texas.
Bagi George H.W. Bush, kesulitan itu harus dihadapi. Dia sudah merasakannya berkali-kali. Yakni, ketika kelas tiga SMA, dia memutuskan menjadi prajurit sukarela untuk terjun ke Perang Dunia II di Pasifik. Dia menjadi pilot pesawat tempur angkatan laut. Pesawatnya jatuh ke laut ditembak tentara Jepang. Saat cuti, dia mengawini Barbara untuk ditinggal perang lagi. Setelah perang usai, barulah masuk universitas.
Di daerah tandus Texas itu, George H.W. Bush harus menyewa rumah di kota kecil Odessa. Kamar mandinya harus dipakai bersama dengan dua tetangga. Suatu malam, tulis George Bush, ibunya panik. Cepat-cepat sang ibu mendekap bayinya untuk dibawa lari ke luar rumah. Perempuan kota besar ini takut rumahnya meledak karena tiba-tiba ada bau gas yang menyengat.
Melihat kepanikan itu, tetangganya menenangkannya. ”Bau gas itu dibawa angin yang tiba-tiba berubah arah kemari,” kata tetangga. Bayi yang dibawa lari itulah George Bush. Odessa memang tidak jauh dari ladang minyak.
Suatu hari Bush kecil mencuri mainan tentara-tentaraan di toko di kota yang sangat sepi itu. ”Lagi mainan apa tuh?” sapa sang ayah saat pulang dari kerja. ”Dapat dari mana itu?” Akhirnya Bush kecil mengaku. Saat itu juga sang ayah mengajaknya ke toko tersebut. Dari jarak yang bisa dipantau, Bush kecil diminta mengembalikan sendiri mainan itu dan minta maaf.
Di wilayah itu sang ayah bekerja sebagai pegawai bagian umum yang paling bawah di sebuah kantor perusahaan minyak. Tugasnya menjaga kebersihan kantor dan melaksanakan pengecatan alat-alat pengeboran minyak. Setahun kemudian salah seorang keluarganya yang juga memiliki perusahaan keuangan di Wall Street New York memintanya kembali ke New York. Untuk didudukkan sebagai salah seorang eksekutif di perusahaan itu. George H.W. Bush menolak. Dia tetap memilih merintis karir di Texas.
Setelah punya pengalaman cukup, George H.W. Bush ingin usaha sendiri. Dia mencari partner untuk sama-sama merintis usaha minyak. Dia mencari modal ke jaringan keluarganya. Partnernya minta nama perusahaan itu diawali dengan huruf A. Atau huruf Z. ”Supaya di buku telepon tidak tenggelam di tengah-tengah,” kata partner tersebut. Kebetulan, saat itu, tahun 1950-an, film berjudul Viva Zapata lagi diputar di Texas. Jadilah nama perusahaan itu Zapata Petroleum. Di kemudian hari Zapata terkenal sebagai perusahaan minyak raksasa di Houston, Texas.
Tentu diceritakan juga bagaimana sedihnya sang ayah ketika maju lagi untuk masa jabatan kedua kalah melawan Bill Clinton.
Kesedihan itu kemudian terhibur saat bayinya yang dia bawa ke Texas lalu menjadi gubernur Texas. Dan anaknya yang lain, Jeb Bush, menjadi gubernur di Florida. Dua-duanya terpilih untuk dua masa jabatan. Sang ayah lantas berkeyakinan bahwa anaknya itu akan bisa menjadi presiden. Terbukti. George W. Bush menjadi presiden setelah Bill Clinton. Dan Jeb Bush kini sudah mencalonkan diri menjadi presiden untuk menggantikan Barack Obama tahun depan. Melihat calon-calon yang ada, kemungkinan Jeb Bush terpilih sangat besar.
Banyak sekali humor keluarga, kisah kekompakan keluarga, dan kasih sayang di dalam keluarga itu yang diceritakan di buku 41. Tapi, yang berikut ini bukan lelucon sama sekali.
Menjelang hari ulang tahun yang ke-90 sang ayah, tahun lalu, tiba-tiba sang anak menerima info. Sang ayah akan merayakan ulang tahunnya dengan cara terjun payung. Semua kaget. Sang ayah sudah sering harus di kursi roda. Bahkan setahun sebelumnya masuk rumah sakit dalam keadaan kritis.
”Saya tahu, kalau ayah punya kemauan harus terjadi,” tulis sang anak. Maka keluarga pun menunggu di tempat pendaratan sang ayah. Terjun payung itu terlaksana. Tentu bersama tandem. Begitu mendarat, sang ayah langsung dinaikkan ke kursi roda.
Saat terjadi tsunami besar di Aceh, Presiden George Bush meminta ayahnya menggalang dana. Yang membuat sang ayah kaget, George Bush juga menunjuk mantan Presiden Clinton untuk mendampingi sang ayah. Keduanya bersedia karena ini untuk kemanusiaan yang luar biasa.
Dua mantan presiden yang semula bersaing dalam kegetiran itu kemudian sama-sama ke lokasi tsunami. ”Itulah untuk pertama kalinya mantan lawan menggalang dana bersama. Kemudian berjalan bersama-sama ke tempat yang jauh berhari-hari,” tulis buku itu.
Karena pesawat hanya memiliki satu tempat tidur, Clinton dengan rendah hati menyilakan George H.W. Bush saja yang menempatinya. ”Meski pernah beberapa kali bertemu, tapi pada dasarnya baru kali itu mereka saling mengenal,” tulis Bush.
Setelah peristiwa itu, keduanya juga diminta menggalang dana untuk korban topan Katrina di Amerika sendiri. Clinton lantas sering bertandang ke rumah George H.W. Bush di Walker Point, di pantai Laut Atlantik.
Di rumah ini jugalah sang ayah membantu anaknya mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin secara pribadi dan informal. Putin diajak menjalani hobi sang ayah: ngebut di laut dengan speedboat. Setelah itu barulah sang presiden menyusul ke rumah sang ayah, menemui Putin berjam-jam untuk membicarakan masalah persenjataan.
Kalau saja Jeb Bush benar-benar akan terpilih sebagai presiden, sejarah baru akan tertoreh. Bukan lagi John Adam dan John Quincy Adam. Bukan lagi George H.W. Bush dan George W. Bush, tapi juga kakak-adik George Bush dan Jeb Bush. (*)

Senin, 04 Mei 2015

New Hope : Dahlan Iskan : Komedi Stand-Up dengan 86 Gelak dan Tepuk

KITA tahu Gus Dur adalah humoris sejati. Presiden Amerika umumnya juga humoris. Tapi, baru kali ini ada presiden yang dalam pidato resminya yang hanya 22 menit mendapat sambutan gelak tawa dan tepuk tangan sampai 86 kali. Itulah gaya Presiden Obama saat memberikan sambutan pada jamuan makan malam tahunan yang diselenggarakan wartawan Gedung Putih di Washington Hilton pekan lalu.
”Ini stand-up comedy terbaik dalam sejarah Amerika,” komentar media.
Saking lucunya dan saking seringnya gelak tawa menyambutnya, saya sampai dua kali memutarnya ulang di YouTube. Saya ingin menghitung dengan benar berapa kali hadirin yang memenuhi ruangan besar itu tergelak atau bahkan bertepuk tangan panjang.
Memang sudah biasa seorang presiden di AS menyelipkan humor dalam setiap pidatonya. Bahkan, mengapa Al Gore yang cerdas, elegan, dan ganteng kalah saat bersaing dengan calon presiden George W. Bush dalam pemilu 16 tahun lalu, kata analis, hanyalah karena Al Gore terlalu serius. Hanya karena kalah humoris.
Rupanya Obama sengaja mendesain pidatonya malam itu mirip teater komedi. Pemberi sambutannya, misalnya, seorang pelawak perempuan terkemuka yang berkulit putih. Dialah Cecily Strong yang biasa tampil di acara TV yang sangat populer, Saturday Night Live. Strong memang tampil lucu, tapi jauh kalah lucu jika dibandingkan dengan Obama yang tampil setelah itu.
Tentu bahan Obama melucu tetap di sekitar kepresidenan, politik, pribadinya, juga kehidupan wartawan/media. Karena itu, bagi yang tidak akrab dengan pergulatan politik Amerika, mungkin tidak terlalu tahu di mana letak lucunya.
Dia mengkritik habis semua TV dan koran terkemuka. Satu per satu, dia sebut nama-nama media itu. Tapi, yang dikritik menyambutnya dengan gelak tawa. ”Saya tidak terganggu dengan apa yang dilakukan media terhadap saya, karena di Washington ini memang ada permusuhan yang tersistem,” katanya. Gerrr.
Satu per satu calon presiden yang sudah mengumumkan pencalonannya dia serang habis dengan humornya. Bukan hanya yang berasal dari Partai Republik, tapi juga Partai Demokrat. Termasuk Hillary Clinton. Bahkan lengkap dengan menampilkan karikaturnya di layar lebar dalam forum itu.
”Saya punya teman yang baru beberapa minggu lalu mendapat uang jutaan dolar, tapi sekarang hidup di gerobak di Iowa sana,” kata Obama. Yang dimaksud tentu Hillary. Dia memang lagi dihebohkan soal cara pengumpulan dananya dari luar negeri yang sampai jutaan dolar, yang dihubungkan dengan jabatan lamanya sebagai menteri luar negeri. Soal gerobak, itu terlontar karena Hillary baru mengumumkan akan tinggal di Iowa selama persiapan kampanye pertama dan di Iowa akan tinggal di gerobak mobil ala Amerika.
Calon kuat presiden dari Partai Republik Ted Cruz, yang sekarang menjabat gubernur Wisconsin, dijadikan bahan lawakan karena dalam isu perubahan iklim menganggap dirinya seperti Galileo. ”Ini salah besar,” kata Obama. ”Galileo itu percaya bahwa bumilah yang mengitari matahari, sedang Cruz hanya percaya bahwa bumilah yang mengitari dirinya.”
Rupanya Obama juga ”balas dendam”. Itu terkait dengan diragukannya keamerikaan dan kekristenannya dulu. Maka, Jeb Bush, adik George Bush dan mantan gubernur Florida yang merupakan calon kuat dari Partai Republik, sasaran berikutnya. Sebab, Jeb Bush pernah teledor menulis ”Spanyol” dalam kolom isian mengenai keturunannya. Apalagi, istri Jeb Bush memang keturunan Spanyol.
Anggota kongres yang belum lama ini berkirim surat ke Iran juga jadi sasaran. Yakni, mereka yang menentang langkah Obama untuk negosiasi nuklir dengan Iran. Obama menganggap pengiriman surat itu melanggar ketatanegaraan. Negosiasi tersebut urusan presiden (eksekutif), bukan kongres. Demikian juga mengenai anggota kongres yang pernah bikin pernyataan ”Jangan ada yang mau menjadi tentara sebelum orang konservatif yang terpilih menjadi presiden”.
”Bayangkan nanti kalau ada 47 ayatullah kirim surat ke kita untuk memberi tahu kita tentang aturan ketatanegaraan yang benar di Amerika.”
Obama juga balas menyasar anggota kongres yang menyebutnya sebagai presiden yang akan membawa Amerika menuju kiamat seperti yang disebut dalam kitab suci. ”Wow, ini (kalau benar) hebat. Tidak pernah dilakukan oleh presiden siapa pun, termasuk oleh Washington atau Lincoln sekalipun. Ini warisan hebat,” katanya, santai.
Rupanya Obama memang ingin tampil sangat rileks. Itu terkait dengan masa jabatannya yang tinggal 18 bulan lagi. Rambutnya sekarang, tambah dia, memang sudah lebih banyak abu-abu, tapi pekerjaan presiden memang sangat menantang. ”Kalau rambut Michelle tetap hitam, itu karena dia makan banyak sayur dan buah,” kata Obama tentang istrinya.
Bahwa dia tidak pernah kelihatan marah, itu karena dia punya penerjemah untuk menunjukkan kemarahannya. Maka, inilah yang terjadi berikutnya. Dari atas podium, Obama memanggil ”penerjemah kemarahannya” yang bernama Luther. Tinggi, besar, berjas, berdasi dengan 10 cincin besar di setiap jari, plontos, dan bergaya sekuriti yang galak.
Sambil berdiri mepet menempel di belakang Obama, giliran si Luther yang berpidato. Dengan penuh kemarahan. Tapi lucu. Sesekali kemarahan Luther dipotong Obama. Sesekali Obama yang dipotong Luther. Luther bicara terus. Bergerak terus. Di belakang dan di samping Obama. Sesekali menempel dan memegang badan Obama. Lucu sekali. Benar-benar komedi. Bukan seperti umumnya pidato kenegaraan.
Sekuriti yang diperkenalkan sebagai Luther itu ternyata seorang aktor profesional. Namanya Keegan-Michael Key. Aktor, penyanyi, dan pengisi suara. Dia, seperti juga Obama, punya ayah berkulit hitam dan ibu berkulit putih.
Rasanya baru sekali ini ada presiden yang berpidato dengan gaya stand-up comedy seperti itu. Dan publik ternyata bersimpati. Dan terhibur. Yang diserang pun tertawa. (*)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost