Sabtu, 16 Juli 2011

Dahlan Iskan - CEO PLN Note - Tahun 2011, Tahun Mencangkul Yang Dalam

Apa yang akan berubah di tahun 2011?
Akan banyak sekali. Salah satunya mengenai Rapat Direksi PLN. Akan ada lima orang setingkat Kepala Cabang yang diminta ikut Rapat Direksi setiap Selasa jam 07.00 sampai jam 10.00 itu. Berarti dalam sebulan akan ada 20 orang setingkat Kepala Cabang yang ikut merasakannya. Siapa mereka? Mereka bisa saja Kepala Cabang atau Kepala Sektor atau Manajer Proyek.
Untuk Kepala Cabang yang diundang adalah Kepala Cabang yang sudah berhasil mengalahkan Malaysia di daerahnya! Bukan untuk membalaskan dendam timnas sepakbola yang gundul 0-3 di stadion Bukit Jalil Kuala Lumpur, tapi itulah memang target PLN tahun 2011: mengalahkan Malaysia. Rupanya harus PLN dulu yang mengalahkan Malaysia. Baru, kelak, sepak bolanya.
Apa ukuran “mengalahkan Malaysia” itu? . Ukurannya adalah masyarakat mengakui bahwa kita sudah menang. Tapi tidak ada ukuran sama sekali juga –meminjam istilah Srimulat—hil-hil yang mustahal. Maka kita akan memakai standar internasional yang sudah baku: berapa kali mati lampu, berapa lama mati lampu, berapa banyak pengaduan, berapa lama menangani pengaduan dan –apa boleh buat: ratio elektrifikasi.
Malaysia sendiri, seperti halnya Indonesia, bukan merupakan kesatuan sistem kelistrikan. Ada sistem Semenanjung, sistem Serawak dan sistem Sabah. Agar pertandingan ini head-on, maka PLN di Indonesia Timur dalam tahun 2011 harus sudah bisa mengalahkan Malaysia Timur, khususnya Sabah! Seperti apa listrik di Sabah, akan ada parameter dari sana. Saya sering sekali ke Sabah tapi tidak pernah memperhatikan listriknya. PLN Indonesia Barat, harus bisa mengalahkan Serawak! Sehebat apakah kelistrikan di Serawak? Saya juga belum tahu. Saya memang sering ke Kuching tapi sudah lama, sebelum masuk PLN dulu. Tidak pernah memperhatiman kualitas listriknya.
Sedang PLN Jawa-Bali harus bisa mengalahkan Malaysia-Semenanjung. Saya juga sering ke Semenanjung (termasuk pernah merasakan satu malam suntuk naik kereta api Senandung Malam) tapi juga tidak tahu kualitas kelistrikan di situ.
Maka dalam Rapat Direksi pertama tahun 2011 hari Selasa 4 Januari 2011 sudah akan diketahui siapa lima Kepala Cabang pertama yang ikut Rapat Direksi. Silakan para Pimpinan Wilayah mendaftarkan ke Sekper siapa saja anak buahnya yang sudah pantas ikut Rapat Direksi itu. Pimpinan Wilayah sendiri tidak ikut diundang karena sudah sering ikut Rapat Direksi dan bahkan Pimpinan Wilayah adalah bagian dari Direksi itu sendiri.
Ada maksud tertentu untuk mengajak setingkat Kepala Cabang dalam Rapat Direksi: kaderisasi kepemimpinan. Kepala Cabang umumnya adalah generasi muda yang akan menjadi sumber utama rekrutmen pemimpin masa depan. Inilah bentuk magang kepemimpinan yang nyata. Saya dan seluruh Direksi PLN sekarang sangat mempercayai bahwa magang adalah proses penting dalam pendidikan. Kami juga menyadari hanya anak muda yang bisa membuat perubahan besar. Dengan sekolah, seseorang mendapatkan ilmu. Dengan magang seseorang mendapatkan ilmu sekaligus sikap karakternya. Pemimpin tidak hanya harus pandai, tapi juga harus berkarakter. Yang terakhir itu tidak akan bisa didapat di jenjang pendidikan formal.
Dengan kehadiran lima orang setingkat Kepala Cabang dalam Rapat Direksi, perusahaan juga mendapat manfaat yang besar. Program yang dibuat Direksi bisa ditanyakan langsung ke tingkat pelaksana. Dengan demikian Direksi akan langsung tahu apakah program tersebut workable atau hanya program kuntilanak –yang tidak menginjak bumi.
Dari rapat-rapat itu pula kami akan mengetahui dan memonitor siapa saja Kepala Cabang dan kepala-kepala unit yang punya potensi besar untuk memikul tanggung jawab ke depan.
Ya. Tidak hanya Kepala Cabang. Dalam rapat itu juga akan diundang kepala-kepala unit PLN lain, yang juga akan jadi sumber rekrutment pemimpin masa depan. Hanya ukurannya masih sedang dirumuskan. Untuk unit pembangkit mungkin akan mengenakan ukuran world class. Untuk unit pemeliharaan juga demikian. Termasuk P3B. Unit pembangkit besar yang operasinya sudah mencapai world class akan diundang ke Rapat Direksi. Demikian juga unit pemeliharaan dan P3B. Unit PLTU, PLTG dan diesel tidak akan dibedakan. Sebab mengoperasikan diesel pun ada kelas dunianya.
Target program ini adalah juga untuk melihat siapa saja orang-orang yang setingkat Kepala Cabang yang bisa dan mau “mencangkul”. Perusahaan tidak mau lagi memiliki seorang Kepala Cabang atau Kepala Unit yang pekerjaannya hanya “mengasah cangkul sehari penuh”, tapi tidak mau “mencangkul”. Harus ada keseimbangan porsi antara “mengasah dan memelihara cangkul” dengan menggunakan cangkulnya. Tidak mungkin perusahaan maju kalau orang-orangnya mengasah cangkul selama tujuh jam dan hanya menggunakan cangkulnya satu jam!
Sesekali rapat juga akan mengundang mereka yang levelnya atau umurnya yang sudah di atas tingkat Kepala Cabang. Tapi akan dipilih dari mereka yang benar-benar tua-tua keladi –meski sudah lebih tua tapi masih mau berkelahi!
Tahun 2011 adalah juga tahun ketika kita memasuki semester tiga. Pelajaran dua semester sudah kita lewati –entah dengan nilai berapa.
Di semester ketiga ini Direksi sudah tidak akan mau lagi mengurus penyulang yang sering gangguan, penyulang yang terlalu panjang, penyulang yang tidak aman oleh pohon, trafo distribusi yang hamil, trafo yang kapasitasnya terlalu besar (1000 atau 630), salah grounding, tidak adanya arrester dan persoalan-persoalan sekelas itu lainnya.
Semua itu adalah pelajaran semester satu dan dua. Kalau di semester tiga nanti kita masih juga berkutat dengan tetek-bengek itu maka –maaf– PLN hanya akan mendapat bengek-nya saja!
Soal-soal tetek-bengek itu sepenuhnya sudah menjadi urusan Kepala Cabang dan Ranting. Kalau di suatu daerah masih juga mengalami masalah kronis di bidang itu, tindakannya sudah akan sangat berbeda. Bukan trafonya yang diganti, tapi Kepala Cabang atau Rantingnya.
Maka kita tidak akan lagi mau mendengar penyulang sering terganggu sampai menjatuhkan diesel seperti  di Mataram itu. Betapa tidak pedulinya struktur kepemimpinan di situ kalau di akhir tahun 2010 (setelah dua semester), masih ada persoalan seperti itu. Kita juga tidak mau lagi mendengar kasus di Jambi yang listrik masih begitu sering padam.
Mula-mula saya tidak percaya ketika orang-orang yang ikut gerak-jalan pagi di Jambi dulu itu mengeluh bahwa di kawasannya listrik masih sering mati. Saya pikir itu hanya omongan orang yang nyinyir. Tapi ketika majalah TEMPO kemudian menulis hal yang sama, mau tidak mau saya ikut pusing.
Saya juga tidak ingin lagi mendengar bahwa seorang Kepala Cabang dengan bangga mengemukakan bahwa gangguan penyulang dan trafo di wilayahnya “sudah tinggal di atas 50 kali sebulan”! Saya tahu “tinggal di atas 50 kali sebulan” itu sudah satu prestasi besar. Sebab di masa lalu gangguan itu bisa ratusan kali. “Tinggal di atas 50 kali sebulan” memang sebuah peningkatan yang drastik, tapi masyarakat hanya akan ingat 50 kali itu. Tidak akan ingat meningkat drastisnya itu.
Dalam dua semester kemarin saya juga sering mendapat kesan bahwa orang PLN di daerah masing terkotak-kotak. Saya mendapat kesan bahwa satu bagian di PLN masih seperti dipisahkan oleh lautan yang luas dengan bagian lainnya. Bahkan seorang Kepala Cabang tidak merasa gelisah ketika di daerahnya mati lampu –hanya karena penyebab matinya itu adalah gangguan transmisi. Di mata dia seolah transmisi itu bukan PLN! Demikian juga, seorang Kepala Cabang tidak merasa gelisah ketika di wilayahnya mati lampu –hanya karena dieselnya rusak. Seolah-olah mati lampu karena diesel rusak bukan tergolong mati lampu!
Tahun 2011, karena itu, ada perubahan ini: Kepala Wilayah memiliki kewenangan yang lebih luas untuk mengganti Kepala Cabang. Pusat tidak banyak ikut lagi. Pimpinan Wilayah bisa langsung mengusulkan penggantian seorang Kepala Cabang. Pusat akan menyodorkan lima calon pengganti untuk dipilih salah satunya. Tidak ada backing-backing-an. Tidak ada tangis. Tidak ada rayuan –rayuan seindah pulau kelapa sekali pun. Semua proses itu akan berlangsung hanya satu minggu! Sejak Kepala Wilayah minta penggantian sampai ditetapkannya pengganti. Tidak ada lagi penggantian Kepala Cabang yang Kepala Wilayahnya tidak tahu. Kini justru Kepala Wilayah yang lebih menentukan.
Ada jalan lain yang lebih elegan. Para Kepala Cabang atau Ranting yang kira-kira memang tidak mampu mengalahkan Malaysia di daerahnya akan lebih baik kalau segera melapor kepada Kepala Wilayah: minta diganti. Saya akan lebih menghargai teman-teman yang punya sikap demikian. Jabatan bukanlah untuk gagah-gagahan. Banyak tempat pengabdian lain di luar jabatan yang lebih diridhoi oleh Tuhan.
Tahun 2011 adalah tahun melupakan prestasi apa saja yang sudah kita lakukan di tahun 2010. Kita lupakan “perasaan berjasa” bahwa di tahun 2010 kita pernah berjasa menyelesaian krisis listrik yang begitu berat. Pujian orang itu ada batasnya. Pujian bahwa PLN hebat karena bisa mengatasi krisis listrik tidak akan lama. Dua bulan lagi jangan harap kita masih akan mendengar pujian seperti itu. Orang yang terlalu lama berharap terus mendengar pujian seperti itu ibarat orang berjalan sambil melamun: tiba-tiba saja kepalanya akan menabrak tiang listrik!
Demikian juga pujian dari Komisi VII DPR itu. Memang langka! DPR memuji unsur pemerintah, seperti PLN. Di DPR biasanya hanya caci-maki yang kita dengar. PLN, di samping mendengar caci-maki juga mendapat pujian. Resmi. Dalam sebuah keputusan sidang komisi. Tapi lupakan pujian itu. Kalau ada yang masih menyimpan risalah putusan Komisi VII DPR itu, jangan buka lagi. Itu bisa membuat kita, seperti judul lagu dangdut, terlena.
Lupakan juga undangan minum teh di Istana Presiden SBY. Anggap saja peristiwa itu sudah terjadi satu abad yang lalu.
Apalagi penghargaan tutup tahun sebagai “Marketer of The Year 2010” itu. Gombal! Lupakan. Itu bukan hanya racun, tapi racun berbungkus madu. Sangat membahayakan. Membunuh dengan cara manis!
Tahun 2011 adalah tahun ketika pujian belum tentu datang.
Semester tiga ini juga akan seperti mesin jam. Akan berjalan sangat cepat. Apalagi kita sudah menetapkan bahwa kita hanya punya waktu lima semester! Bukan delapan semester apalagi 10 semester.
Transformasi PLN harus sudah selesai dalam lima semester. Kalau ini bisa terwujud maka transformasi  PLN akan lebih cepat dari Bank Mandiri maupun Garuda Indonesia. Saya sendiri berkeyakinan penuh bahwa transformasi itu bisa selesai tepat waktu. Saya melihat orang-orang PLN adalah orang-orang yang jauh lebih berkualitas dibanding orang-orang BUMN mana pun!
Sumpah!
Asal jangan direpoti oleh tetek-tetek bengek yang tadi!!!
Dahlan Iskan
CEO PLN

Dahlan Iskan - CEO PLN - Kecepatan Kereta Cepat yang Amat Cepat

Tentu saya mencoba ini: naik kereta cepat jurusan Beijing -Shanghai yang masih kinyis-kinyis. Saya memang sudah mengaguminya sejak kereta ini direncanakan. Waktu itu, sambil berbaring di rumah sakit menunggu dilaksanakannya operasi ganti hati, saya bertekad, kalau saja diberi kesehatan dan umur panjang, saya akan mencoba kereta ini.

Inilah kereta cepat yang direncanakan dengan cepat dan dilaksanakan dengan cepat. Padahal, panjang jalur ini 1.350 km, hampir sama dengan Jakarta-Medan atau Jakarta-Makassar. Tepat 1 Juli lalu, bersamaan dengan hari kelahiran Partai Komunis Tiongkok, kereta ini sudah jadi dan sudah dioperasikan. Kalau saja saya tidak menjabat CEO PLN, tentu saya ingin mencobanya di hari pertama. Tapi, karena sekarang saya bukan lagi orang bebas, kesempatan itu baru datang di hari ke-18, saat saya ada urusan di Chengdu, Chongqing, Beijing, dan Shanghai.

Memasuki gerbong kereta ini, saya tidak begitu kaget. Ini bukan kereta tercepat yang dimiliki Tiongkok. Juga bukan kereta termewah di negeri itu. Saya sudah mencoba kereta tercepat di dunia yang dibangun Tiongkok dengan interior yang lebih mewah: maglev! Yang kecepatannya 430 km/jam. Yang menghubungkan bandara Shanghai Pudong ke kota Shanghai.

Saya juga sudah mencoba kereta yang kecepatannya 350 km/jam dan interiornya juga lebih mewah. Yakni, kereta cepat jurusan Tianjin-Beijing (jarak 200 km ditempuh dalam 29 menit) dan kereta cepat yang sama jurusan Shanghai-Hangzhou yang jaraknya sekitar 300 km.

Sebaliknya, saya juga pernah naik kereta malam tradisional di Tiongkok. Yang kecepatannya masih 120 km/jam. Yang di setiap kabinnya terdapat empat tempat tidur. Yakni, tempat tidur susun dua seperti kereta Bima jurusan Surabaya-Jakarta. Dulu jurusan Beijing-Shanghai dilayani kereta jenis ini. Jarak tempuhnya 9 jam. Harga karcisnya Rp 600.000/orang. Banyak penumpang memilih berangkat petang atau agak malam agar tiba di tujuan pagi hari dalam keadaan segar karena bisa tidur sepanjang perjalanan.

Meski kini sudah ada kereta cepat yang baru, kereta jenis lama itu tidak dihapus. Hanya tinggal dua kali sehari. Sedangkan jadwal kereta cepatnya 42 kali sehari. Dengan kecepatan 300 km/jam, jarak Beijing-Shanghai ditempuh 4,50 menit.

Harga karcis kereta ini cukup mahal: Rp 850.000/orang untuk kelas ekonomi dan Rp 1,2 juta untuk kelas eksekutif. Dengan harga segitu, tentu inilah tiket kereta yang lebih mahal daripada pesawat terbang. Tiket pesawat Beijing-Shanghai bisa diperoleh dengan harga Rp 800.000 untuk kelas ekonomi. Apalagi pada hari-hari pertama beroperasinya kereta cepat ini. Ada penerbangan yang mendiskon tiket pesawat hingga 50 persen. Sebagian karena ketakutan yang tidak berdasar, sebagian lagi memang ngeri kehilangan penumpang.

Setelah kereta cepat ini dua minggu beroperasi, barulah perusahaan penerbangan merasa sedikit lega. Yakni, setelah kereta cepat ini mengalami gangguan. Sistem listriknya down sebanyak empat kali. Bukan disebabkan pemadaman bergilir, tapi karena terjadi gangguan sistem. Penumpang kecewa karena kereta terlambat sampai dua jam. Ternyata memang ada yang kurang sempurna pada sistem listrik kereta ini. Terutama untuk mengahadapi cuaca ekstrem: badai atau petir. Banyak penumpang yang kembali memilih pesawat. Perang diskon pun tidak terjadi lagi. Tarif pesawat kembali normal.

Susunan kursi di kereta ini mirip dengan di pesawat, tapi lebih lapang. Jarak dengan kursi depannya sangat longgar. Dengan kursi seperti itu, banyak penumpang yang langsung terlelap. Apalagi tidak ada gangguan suara glek-glek, glek-glek, glek-glek dari rodanya.

Di tengah lelapnya penumpang itu, tiba-tiba banyak yang terbangun. Yakni, ketika dari balik pintu yang memisahkan satu gerbong dengan lainnya terdengar teriakan orang yang sangat keras dengan nada marah yang hebat. Ketika pintu tertutup, suara itu hilang. Tapi, setiap pintu terbuka karena ada orang yang hendak ke toilet, suara itu kembali mengagetkan seluruh penumpang. Tiga jam lamanya orang itu berteriak-teriak seperti itu di telepon genggamnya. Tanpa henti. Dari kata-katanya dengan jelas bisa diketahui bahwa dia sedang bertengkar dengan ceweknya. Entah istri, entah pacar. Dia mengutuk habis-habisan ceweknya yang keluar rumah sampai jam 02.00. Dan segudang maki-makian lainnya.

Saya sendiri tidak menghiraukan. Saya memang memutuskan untuk tidak tidur sepanjang perjalanan ini. Tapi, itu karena saya ingin tahu apa saja yang terjadi sepanjang perjalanan. Saya juga berjalan-jalan ke gerbong ekonomi, ke gerbong restoran, dan ke toiletnya yang dua macam itu: duduk dan jongkok.

Tentu saya juga ingin tahu bagaimana kalau kereta ini melewati stasiun besar. Apakah tetap dengan kecepatan 300 km/jam atau dilambatkan. Stasiun besar pertama yang harus dilewati adalah Tianjin, kota yang saya pernah lama tinggal di sana. Memang tidak semua kereta cepat singgah di Tianjin. Yang saya naiki ini, GT 98, yang berangkat jam 16.00 dari Beijing, termasuk yang tidak berhenti di Tianjin.

Ternyata untuk kereta yang tidak perlu berhenti di Tianjian tidak perlu melewati stasiunnya. Ada rel khusus yang mem-by-pass. Keretanya tidak perlu masuk kota Tianjin, melainkan melambung di luar kota.
Meski jalur kereta Beijing-Shanghai ini melewati banyak kota, yang saya naiki ini hanya berhenti di dua stasiun: Jinan (ibu kota Provinsi Shandong) dan Nanjing (ibu kota Provinsi Jiangshu).

Ke depan, banyak sekali jalur kereta cepat jarak jauh seperti ini dibangun di seluruh Tiongkok. Tiongkok tidak akan lagi mengembangkan kereta maglev yang kecepatannya 430 km/jam. Terlalu mahal. Juga tidak lagi mengembangkan kereta dengan kecepatan 350 km/jam seperti jurusan Beijing-Tianjin karena terlalu boros listrik.

Menurut hasil studi di Tiongkok, kecepatan kereta yang paling ekonomis adalah 270 km/jam. Dari segi kecepatan sudah sangat cepat. Dari segi pemakaian listrik masih maksimal. “Kalau ingin kereta dengan kecepatan 350 km/jam atau lebih, sebaiknya tidak boleh lagi dengan sistem roda yang menempel di rel,” ujar hasil studi itu. Sepanjang masih menggunakan sistem roda yang menempel di rel, sebaiknya kecepatan maksimal 270 km/jam.

Itu ada pengecualian. Kecepatan 300 km/jam masih ekonomis manakala ditemukan sistem penghemat listrik. Sebenarnya beban listrik yang sangat besar terjadi saat kereta mulai berangkat. Tarikan pertama di setiap stasiun itulah yang memakan banyak listrik. Untuk menghindari hal itu, Tiongkok sedang menyiapkan sistem baru: jangan ada kereta yang berhenti di stasiun. Cukup mengurangi kecepatannya sambil “menyaut” gerbong baru yang sudah disiapkan berikut penumpangnya di stasiun itu.

Kalau sistem itu nanti berhasil, penumpang di suatu stasiun sudah harus naik gerbong sebelum kereta tiba di situ. Gerbong tersebut letaknya di atas dan harus siap digendong kereta yang segera menyautnya di stasiun itu. Dengan demikian, keharusan berhenti di stasiun bisa dihindari dan konsumsi listrik bisa lebih kecil.

Kini juara I, juara II, dan juara III kereta tercepat di dunia ada di Tiongkok. Ini kian meneguhkan posisi negara itu sebagai calon superpower baru. Kian bulat pendapat ahli yang mengatakan bahwa Tiongkok akan berhasil melampaui Amerika Serikat tahun 2016. Tidak lama lagi. Pada tahun itu, size ekonomi Tiongkok naik USD 8 triliun, dari USD 11 triliun saat ini menjadi USD 19 triliun pada tahun 2016. Sedangkan zise ekonomi Amerika Serikat hanya naik USD 3 triliun, dari USD 15 trilun saat ini menjadi USD 18 triliun pada tahun 2016. Semoga saya masih bisa menyaksikannya! (*)

Dahlan Iskan
CEO PLN

Dahlan Iskan - Bupati Baru di Kolam Keruh


Begitu banyak bupati/walikota di Indonesia tapi jarang yang menonjol. Di antara yang sedikit itu termasuk Walikota Solo, Bupati Sragen, Bupati Lamongan yang dulu (saya belum mengenal reputasi bupati yang sekarang), Bupati Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Walikota Ternate, Walikota Bau-bau di pulau Buton, Bupati Asahan, Bupati Berau di Kaltim dan Walikota Surabaya (baik yang Bambang DH maupun penggantinya). Masih ada beberapa lagi memang, tapi tidak akan seberapa.

Kini, dalam posisi sebagai Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN Persero), saya lebih banyak lagi mengenal, bergaul dan berinteraksi dengan  bupati/walikota. Apalagi saya terus berkeliling Indonesia untuk melihat dan menyelesaikan problem kelistrikan Nusantara.

Dari situ saya mencatat bupati/walikota itu umumnya biasa-biasa saja: banyak berjanji di awalnya, lemah di tengahnya dan menyerah di akhirnya. Saya tidak tahu akan seperti apa Bupati Tuban yang baru terpilih, H. Fathul Huda ini. Apakah juga akan menjadi bupati yang biasa-biasa saja atau akan menjadi bupati yang tergolong sedikit itu. Bahkan jangan-jangan akan jadi bupati yang sama mengecewakannya dengan yang dia gantikan.

Saya tahu dari para wartawan, bahwa Fathul Huda adalah orang yang awalnya tidak punya keinginan sama sekali untuk menjadi bupati. Dia sudah mapan hidupnya dari bisnisnya yang besar.  Dia adalah pengusaha yang kaya-raya. Dia juga bukan tipe orang yang gila jabatan. Dia adalah orang yang memilih mengabdikan hidupnya di dunia keagamaan. Juga dunia sosial. Dunia kemasyarakatan. Sekolah-sekolah dia bangun. Juga rumah sakit. Dia yang sudah sukses hidup di dunia sebenarnya hanya ingin lebih banyak memikirkan akherat. Kalau pun berorganisasi, ia adalah Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Tuban.

Tapi sejak enam tahun lalu begitu banyak orang yang menginginkannya jadi bupati Tuban. Itu pun tidak dia respons. Begitu banyak permintaan mencalonkan diri dia abaikan. Tahun lalu permintaan itu diulangi. Juga dia abaikan. Menjelang pendaftaran calon bupati malah dia pergi umroh ke Makkah. Baru ketika, Gus Saladin (KH Sholachuddin, kyai terkemuka dari Tulungagung, putra KH Abdul Jalil Mustaqiem almarhum) meneleponnya dia tidak berkutik. Ini karena Gus Saladin dia anggap seorang mursyid yang tidak boleh ditolak permintaannya. Konon Gus Saladin lebih hebat dari bapaknya yang hebat itu.

Begitu Gus Saladin menugaskannya menjadi bupati Tuban, dia sami’na waatha’na. Dia kembali ke tanah air mendahului jemaah lainnya. Tepat di tanggal penutupan pendaftaran dia tiba di Tuban. Tanpa banyak kampanye dengan mudah dia terpilih dengan angka lebih dari 50%.

Cerita itu saja sudah menarik. Sudah bertolak belakang dengan tokoh yang dia gantikan yang dikenal sangat ambisius akan jabatan. Termasuk nekad mencalonkan diri lagi meski sudah dua kali menjadi bupati hanya untuk mengejar jabatan wakil bupati.

Sebagai sesama orang swasta yang terjun ke pemerintahan, saya bisa membayangkan apa yang dipikirkan Fathul Huda menjelang pelantikannya 20 Juni besok. Mungkin sama dengan yang saya bayangkan ketika akan dilantik sebagai Dirut PLN: ingin banyak sekali berbuat dan melakukan perombakan di segala bidang.
Tapi, sebentar lagi, setelah dilantik nanti Fahtul Huda akan terkena batunya. Hatinya akan berontak: mengapa tidak boleh melakukan ini, mengapa sulit melakukan itu, mengapa jadinya begini, mengapa kok begitu, mengapa sulit mengganti si Malas, mengapa tidak boleh mengganti si Lamban, mengapa si Licik duduk di sana, mengapa si Banyak Cakap diberi peluang dan mengapa-mengapa lainnya.

Saya perkirakan Fathul Huda akan menghadapi situasi yang jauh lebih buruk dari yang saya hadapi. Di PLN saya mendapat dukungan besar untuk melakukan perubahan besar-besaran. Mengapa? Karena orang-orang PLN itu relatif homogen. Mayoritas mereka adalah sarjana, bahkan sarjana tehnik yang berpikirnya logik. Mereka adalah para lulusan terbaik dari perguruan tinggi terkemuka di republik ini. Sebagai sarjana tehnik logika mereka sangat baik. Sesuatu yang logis pasti diterima. Ide-ide baru yang secara logika masuk akal, langsung ditelan. Mereka memang sudah lama berada dalam situasi birokrasi yang ruwet, tapi dengan modal logika yang sehat, keruwetan itu cepat diurai.

Sedang Fathul Huda akan menghadapi masyarakat yang aneka-ria. Ada petani, pengusaha. Ada politisi ada agamawan. Politisinya dari berbagai kepentingan dan  agamawannya dari berbagai aliran. Ada oportunis, ada ekstremis. Ada yang  buta huruf, ada yang professor. Ada anak-anak, ada orang jompo. Yang lebih berat lagi Fathul Huda akan berhadapan dengan birokrasinya sendiri.

Bukan saja menghadapi bahkan akan menjadi bagian dari birokrasi itu. Di lautan birokrasi seperti itu Fathul Huda akan seperti benda kecil yang dimasukkan dalam kolam keruh birokrasi. Di situlah tantangannya. Fathul Huda bisa jadi kaporit yang meskipun kecil tapi bisa mencuci seluruh kolam. Atau Fathul Huda hanya bisa jadi ikan lele yang justru hidup dari kolam keruh itu. Pilihan lain Fathul Huda yang cemerlang itu hanya akan jadi ikan hias yang tentu saja akan mati kehabisan udara segar.

Birokrasi itu “binatang” yang paling aneh di dunia: kalau diingatkan dia ganti mengingatkan (dengan menunjuk pasal-pasal dalam peraturan yang luar biasa banyaknya). Kalau ditegur dia mengadu ke backingnya. Seorang birokrat biasanya  punya backing. Kalau bukan atasannya yang gampang dijilat, tentulah politisi. Atau bahkan dua-duanya. Kalau dikerasi dia mogok secara diam-diam dengan cara menghambat program agar tidak berjalan lancar. Kalau dihalusi dia malas. Kalau dipecat dia menggugat. Dan kalau diberi persoalan dia menghindar.

Intinya: ide baru tidak gampang masuk ke birokrasi. Birokrasi menyenangi banyak program tapi tidak mempersoalkan hasilnya. Proyek tidak boleh hemat. Kalau ada persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari. Dan keputusan harus dibuat mengambang. Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya adalah peraturan. Peraturan yang merugikan sekalipun!

Fathul Huda tentu tahu semua itu. Sebagai pengusaha (dari perdagangan sampai batubara) dia tentu merasakan bagaimana ruwetnya menghadapi birokrasi selama ini. Tapi sebagai pengusaha pula Fathul Huda tentu banyak akal. Kini saya ingin tahu: seberapa banyak akal Fathul Huda yang bisa dipakai untuk mengatasi birokrasinya itu. Apalagi birokrasi di Tuban sudah begitu kuatnya di bawah bupati yang amat birokrat selama 10 tahun.

Yang jelas Fathul Huda sudah punya modal yang luar biasa: tidak takut tidak jadi bupati! Itulah modal nomor satu, nomor dua, nomor tiga, nomor empat dan nomor lima. Modal-modal lainnya hanyalah nomor-nomor berikutnya. Tidak takut tidak jadi bupati adalah sapu jagat yang akan menyelesaikan banyak persoalan. Apalagi kalau Fathul Huda benar-benar bertekad untuk tidak mengambil gaji (he he gaji bupati tidak ada artinya dengan kekayaannya yang tidak terhitung itu), tidak menerima fasilitas, kendaraan dinas, HP dinas dan seterusnya seperti yang begitu sering dia ungkapkan.

Banyak akal, kaya-raya dan tidak takut tidak jadi bupati. Ini adalah harapan baru bagi kemajuan Tuban yang kaya akan alamnya. Pantai dangkalnya bisa dia jadikan water front yang indah. Pantai dalamnya bisa dia jadikan pelabuhan yang akan memakmurkan. Pelabuhan Surabaya sudah kehilangan masa depannya. Tuban, kalau mau bisa mengambil alihnya!

PDI-Perjuangan sudah dikenal memilki banyak bupati/walikota yang hebat: Surabaya, Solo, Sragen. Muhammadiyah juga sudah punya Masfuk. Kini PKB punya tiga yang menonjol: di Banyuwangi, Kebumen dan Tuban. Akankah tiga bupati ini  bisa membuktikan bahwa tokoh Nahdliyyin juga bisa jadi pimpinan daerah yang menonjol?

Tapi birokrasi akan dengan mudah menenggelamkan mimpi-mimpi mereka dan mimpi besar Fathul Huda di Tuban.

Di Tubanlah kita akan menyaksikan  pertunjukan  yang sangat menarik selama lima tahun ke depan. Pertunjukan kecerdikan lawan keruwetan. Fathul Huda bisa memenangkannya, dikalahkannya atau hanya akan jadi bagian dari pertunjukan itu sendiri: sebuah pertunjukan yang panjang dan melelahkan!

Dahlan Iskan
CEO PLN

PowerfulBux - Same admin with infinity, TVIPT and buxsecure



WELCOME TO POWERFULBUX
ONLINE AND PAYING
SINCE JULY 11, 2011

REGISTER FOR FREE TODAY

AS A POWERFULBUX MEMBER, YOU'LL MAKE MONEY FROM JUST CLICKING ADS.

• UP TO $0.01 PER CLICK
• UP TO $0.01 PER REFERRAL CLICK
• PAYOUT AS LOW AS $1.00 FOR ELITES
• NO PAYOUT MAXIMUMS

YOU CAN SIMPLY BUY DIRECT REFERRALS FOR LARGER PAYOUTS

START NOW, AND EARN WITH POWER!

Selasa, 12 Juli 2011

Dahlan Iskan - CEO PLN Note - PLTS Bunaken Model untuk 100 Pulau Lain

Genset Dibongkar Disedekahkan ke Masjid
Inilah perjalanan yang happy ending. Meski awalnya menghadapi persoalan berat di Gorontalo, tapi bisa diakhiri dengan melihat proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di pulau Bunaken yang menyenangkan.
Kini memang lagi dicoba dua model pengembangan PLTS. Dua-duanya sudah beroperasi selama lima bulan. Sudah bisa dievaluasi baik-tidaknya. Model pertama berupa lampu Sehen yang dicoba di pedalaman Sumba Barat Daya. Model kedua dicoba di lima pulau termasuk pulau Bunaken di Sulut ini.
Model Sehen dirancang untuk desa-desa pedalaman yang rumahnya terpencar” seperti di NTT atau Papua. Model Bunaken didesain untuk pulau-pulau kecil yang terpencil yang jumlahnya ribuan itu.
Kesimpulannya: dua model ini sangat oke. Tidak ditemukan kelemahan mendasar. Masyarakat di dua wilayah tersebut juga menyenanginya. Maka model Sehen akan segera dimasalkan di NTT. Sedang model Bunaken segera dipakai di 100 pulau tahun ini juga. Kelak, 1000 pulau akan menyusul.
Perjalanan ke Bunaken Rabu lalu itu saya mulai dari Gorontalo. Meski baru mendarat pukul 21.00 kami langsung ke kabupaten Bone Bolango meninjau proyek PLTU di pantai teluk Tomini itu. Pertemuan dengan karyawan PLN Gorontalo baru dilakukan keesokan harinya pukul 05.00 sekalian dengan olahraga jalan pagi. Menjelang matahari terbit itu, dengan cara duduk lesehan di halaman, kami membicarakan keluhkan masyarakat setempat: seringnya listrik padam.
Mati lampu seperti itu seharusnya tidak sering terjadi lagi. Penyebab utamanya, yakni krisis listrik, sudah teratasi tahun lalu. Kerusakan-kerusakan trafo juga sudah sangat minim. Tapi mengapa masih sering mati lampu di Gorontalo” Yang kalau dijumlah di seluruh propinsi, masih tercatat 223 kali mati lampu di bulan Juni 2011?
Tidak sulit mencari tahu penyebab mati lampu itu. Penyebabnya tinggal satu: gangguan feeder (penyulang). Yakni terganggunya jaringan listrik. Karena tinggal inilah persoalan yang dihadapi maka semua karyawan sepakat bisa mengatasinya” dalam tiga bulan (Juli-Agustus-September). Bahkan pimpinan wilayah PLN Sulut-Sulteng menetapkan harus selesai sebelum datangnya bulan puasa yang tinggal kurang sebulan lagi. Bulan puasa termasuk bulan yang memerlukan pelayanan listrik secara khusus di Gorontalo.?
Meski penyebabnya satu, rintangannya cukup banyak. Misalnya ada jaringan yang panjangnya 160 km yang melewati hutan lindung. Ranting-ranting pohon yang menimpa jaringan listrik di situ tidak boleh dipotong. Ada UU yang mengatakan barang siapa memotong pohon di hutan lindung masuk penjara.
Begitu matahari terbit kami meninggalkan Gorontalo. Tidak sempat makan pagi tapi ada nasi kuning dan jagung rebus di dalam mobil. Inilah perjalanan panjang, berliku dan melelahkan. Tentu kami mampir-mampir di proyek dan di kantor ranting. Di ranting PLN Kwandang misalnya, saya lihat ada genset di belakang kantor. Saya minta genset itu dibongkar dan disedekahkan ke masjid terdekat. Kantor pelayanan PLN tidak boleh punya genset. Itu sama saja artinya tidak mempercayai pelayanan listriknya sendiri. Biarlah kantor PLN ikut mati lampu agar bisa merasakan penderitaan orang yang listriknya mati.
Di ranting Bolaang Mongondow Utara seorang ibu melaporkan prestasinya. Selama enam tahun menjadi manajer keuangan di situ tunggakan pembayaran listriknya nol! Hebat! “Tapi pangkat saya tidak naik-naik pak,” katanya. Saya pun mencatat namanya di dalam hati.
Di Baroko ada proyek penting yang hampir selesai. Gardu Induk di Baroko melakukan energise. Ini berarti transmisi dari Bitung sampai Gorontalo yang panjangnya 400 kms itu sudah bisa nyambung. Gorontalo yang 10 tahun lalu memisahkan dari dari Sulut pun kini tersambung lagi, di sektor listriknya.
Setelah delapan jam perjalanan, kami tiba di Motong, dekat Kotamubago. Kami mampir ke pembangkit listrik tenaga minihydro yang lokasinya di tengah pepohonan kelapa. Bulan lalu PLTM ini tenggelam oleh banjir. Untungnya pimpinan PLN Kotamubago sangat trampil. Dalam waktu seminggu PLTM ini berfungsi kembali. Peristiwa ini sangat menyedihkan teman-teman PLN Kotamubago karena seperti ikut menenggelamkan prestasi mereka selama ini. Yakni prestasi terbaik dalam menangani gangguan trafo maupun penyulang.
Di Motong kami memperoleh kenikmatan luar biasa –kenikmatan yang malamnya membawa sengsara. Ibu-ibu PLN di situ menyajikan makanan yang enaknya luar biasa: lembaran daun papaya yang digulung bersama daun singkong dengan bumbu-bumbu tertentu di dalamnya. Dimakan dengan udang goreng dan ikan rica-rica pedas, nikmatnya ampun-ampun.
Apalagi laparnya sudah berlebihan karena sudah lewat pukul 14.00. Saya pun makan bertambah-tambah. Bahkan saya tidak malu untuk minta dibungkuskan, untuk makan malam di perjalanan!
Kami pun meneruskan perjalanan ke Kotamubago dengan perut sangat kenyang. Inilah satu-satunya kota di seluruh Indonesia Timur yang belum saya kunjungi. Saya memang pernah ke sini, tapi 30 tahun lalu ketika menyiapkan koran pertama di Sulut. Kini Kotamubago majunya bukan main. Pantas disediakan listrik berapa pun selalu kurang!
Pukul 16.00 kami masih di Kotamubago. Makan siang di Motong tadi terlalu lama. Kami pun memperkirakan tengah malam baru akan tiba di Manado. Ini karena masih ada satu proyek lagi di Amurang yang menanti. Benar. Pukul 23.00 kami baru tiba di Manado. Perjalanan ini ternyata bukan 16 jam, tapi 18 jam!?
Tentu, saya memimpikan tidur yang lelap. Keesokan harinya harus bangun pagi-pagi untuk melihat PLTS Bunaken. Tapi baru satu jam memejamkan mata, perut saya berontak! Beberapa kali ke toilet tetap saja rasa mulas tidak berhenti. Hampir tiap jam saya harus ke belakang. Saya periksa isi toilet itu agar bisa tahu apakah ada yang berbahaya. Isinya ternyata daun singkong semua!
Menjelang pukul 05.00 saya mempertimbangkan untuk membatalkan perjalanan ke Bunaken. Apalagi saya sempat sempoyongan. Tapi teman-teman sudah menunggu di loby. Saya sendiri memang harus ke sana. Inilah PLTS yang akan jadi model untuk pembangunan proyek serupa di 100 pulau tahun ini dan kelak di 1000 pulau. Kalau proyek ini ternyata tidak baik biarlah bisa segera dibatalkan kelanjutannya.
Tiba di dermaga Bunaken saya jalan sangat cepat menuju lokasi proyek. Teman-teman mengira saya begitu bersemangatnya. Padahal saya punya maksud tersendiri: ingin cepat-cepat ke toilet. Untuk keenam kalinya.?
Perut saya memang masih menyimpan persoalan tapi PLTS di Bunaken ini” berfungsi dengan baik. Layak untuk contoh 100 pulau lainnya. Saya pun banyak bicara dengan anak muda yang menjadi penganggungjawab PLTS itu. Juga memeriksa data selama lima bulan. Termasuk melihat kotoran apa saja yang suka singgah ke panel surya dan bagaimana cara membesihkannya. Bahkan saya minta dilakukan pembersihan saat itu agar bisa tahu tingkat kesulitannya. Ternyata tidak sulit. Saya sendiri mencoba naik tangga untuk mempraktekkan cara pembersihan panel surya.
Selama lima bulan itu hanya sekali terjadi gangguan, tapi sangat kecil. Yakni ketika mcb (Mini Circuit Breaker) tidak bisa off. Tapi begitu alatnya diganti langsung teratasi. Gangguan terbanyak justru dari luar: dari penyulang yang terganggu pohon.
Kelelahan dua hari, ditambah hilangnya cairan yang terlalu banyak, ditambah sudah selesainya misi perjalanan ini, membuat keadaan asli badan saya muncul: lemas. Saya bergegas dibawa ke kapal, dijemput dokter dan diistirahatkan di hotel.
Memang masih ada satu acara, tapi masih beberapa jam lagi: saya harus menemui Gubernur Sulut Bapak Sinyo Sarundayang. Ini untuk membicarakan penyelamatan danau Tondano yang terancam pendangkalan sangat cepat. Ini danau legendaris kebanggaan masyarakat Sulut yang harus diselamatkan. Juga karena Danau Tondano menjadi sumber air bagi PLTA Tonsea yang menghasilkan listrik 50 MW untuk wilayah itu. Gubernur bertekad memulihkan danau itu. PLN menyediakan kapal keruknya.?(*)

Senin, 04 Juli 2011

Dahlan Iskan - CEO PLN Note - Menghadapi Musuh Besar No 4 dan No 5

Saya melakukan live chatting lagi 27 Juni lalu. Kali ini khusus dengan seluruh manajer cabang PLN se Indonesia Barat. Hari masih sangat pagi, apalagi untuk daerah seperti Aceh dan Medan: pukul 07.30. Topik utama chatting hari itu adalah mengenai musuh terbaru PLN, yakni “Musuh Besar No 4”.

Saya mengawali chatting itu dengan satu pertanyaan yang jawabnya dilombakan. Sepuluh jawaban benar yang paling cepat akan mendapat sertifikat. Dalam waktu sekejap banyak manajer cabang yang sudah meng-up-load jawaban. Pertanyaannya memang sederhana: apakah musuh baru PLN yang kita sebut sebagai musuh besar nomor 4 itu?

Alhamdulillah sebagian besar manajer cabang sudah tahu jawabnya: musuh besar No 4 PLN adalah gangguan penyulang. Hanya tiga manajer cabang yang merasa memiliki musuh sendiri. Lomba ini sebenarnya kurang fair. Manajer cabang yang akses internetnya lebih baik cenderung bisa lebih cepat meng-up-load jawaban. Sedang cabang  yang  bandwidth-nya kecil bisa jadi sampai chatting berakhir tidak mampu merebut saluran masuk ke arena chatting.

Pertanyaan berikutnya adalah: karena para manajer cabang sudah tahu siapa musuh terbaru PLN ke depan, berarti   sudah tahu juga latar belakangnya mengapa gangguan penyulang begitu besar, apa saja persoalannya dan bagaimana mengatasinya. Bagaimanakah cara mengalahkan musuh besar No 4 tersebut?

Para manajer cabang kembali berebut masuk ke arena chatting. Semua cara untuk mengalahkan musuh No 4 tersebut umumnya sangat baik. Berarti teman-teman di lapangan benar-benar sudah tahu bagaimana mengatasi banyaknya gangguan penyulang itu. Tapi saya sangat terkesan dengan jawaban dari manajer cabang Rengat, Riau, Bung Agustian. Meski intinya sama dengan jawaban manajer cabang yang lain, tapi jawaban dari manajer cabang Rengat ini terasa lebih “manajer”. Bukan seperti jawaban seorang siswa yang lagi ujian. Bukan pula seperti jawaban dari seorang birokrat yang lagi menyusun program. Bukan seperti jawaban seorang yang hobinya ceramah dan menasehati.

Seorang manajer tidak boleh memberikan jawaban yang normatif dan abstrak. Inilah yang akan membedakan mana seorang manajer dan mana seorang birokrat atau juru ceramah. Seorang penceramah dan yang lain-lain itu tidak pernah dituntut mempertanggungjawabkan ucapannya. Sedang seorang manajer dituntut untuk bisa mengemukakan “bagaimana cara mewujudkannya” dan “kapan mewujudkannya”. Karena itu seorang yang berjiwa manajer tidak akan pernah mengucapkan kata “segera”, “sebentar lagi”, “dalam waktu cepat”, “dengan cara sebaik-baiknya”, “dengan hasil yang maksimal” dan kata-kata abstrak lainnya.

Tengoklah jawaban rekan kita dari Rengat mengenai pertanyaan “bagaimana cara Anda mengatasi banyaknya gangguan penyulang” di daerah Anda. Ini jawaban itu:
Pengalaman untuk menekan gangguan penyulang :
  1. Menyusun rencana kerja per kelompok JTM, Gardu, JTR, SR/APP
  2. Menetapkan target masing-masing unit 1 penyulang dengan gangguan nihil atau penyulang VIP tahun 2011
  3. Menjadikan program Har & Ops Dist sebagai kontark kerja masing-masing SDM atau dimasukan dalam MUK dengan pekerjaan antara lain : inspeksi JTM, pengukuran beban trafo gardu, pemeriksaan SR & APP
  4. Melaksanakan Jum’at peduli dengan melibatkan seluruh staf dan mitra kerja (tanpa bayar)
  5. Gangguan yang sudah turun : penyulang Pasir Ringit : Jan = 2, Feb = 0 Maret = 0, April = 1, Mei = 1, untuk Juni masih nihil. Penyebab gangguan jaringan kendor/andongan terlalu kendor karena jarak terlalu penjang ( menyeberang sungai, kuran lebih 250 meter). Gangguan trafo : Jan = 1, Feb = 1, Maret s/d tanggal 27 Juni 2011 = nihil

Dari live chatting yang diikuti 43 manajer cabang ini saya yakin teman-teman di lapangan akan mampu memenangkan peperangan ini dalam waktu tiga bulan Juli-Agustus-September 2011. Selama tiga bulan ke depan seluruh kekuatan, energi dan persenjataan kita kerahkan untuk menundukkan musuh besar kita No 4 itu.

Keyakinan untuk memenangkan pertempuran itu sangat tinggi mengingat selama 1,5 tahun terakhir teman-teman PLN se Indonesia sudah berhasil mengalahkan musuh-musuh besar No 1, No 2 dan No 3. Kalau tiga musuh besar itu saja sudah berhasil dilumpuhkan, adakah alasan untuk tidak bisa memenangkan perlawanan menghadapi musuh nomor 4 ini?

Di antara tiga musuh besar yang sudah berhasil dimenangkan itu yang terbesar sudah tentu musuh No 1, yakni krisis listrik. PLN berhasil mengatasi krisis listrik hanya dalam waktu enam bulan (Januari-Juni 2010). Dalam waktu sesingkat itu kekurangan listrik di seluruh Indonesia tercukupi. Padahal krisis listrik itu begitu gawatnya sehingga pemadaman bergilir yang parah terjadi di seluruh Indonesia. Mulai dari Sabang sampai Merauke.

Memang kalau ada mati lampu seperti yang terjadi sekarang ini, sebagian orang masih mengira bahwa listrik masih belum cukup. Setiap mati lampu dikira karena terjadi pemadaman bergilir. Kesan ini begitu kuatnya di masyarakat mengingat di masa lalu memang latar belakangnya seperti itu. Padahal penyebab mati lampu sekarang ini sudah sangat berbeda. Karena itulah target berikutnya adalah mengatasi penyebab mati lampu seperti itu.

Musuh besar No 2 yang juga sudah berhasil diatasi adalah panjangnya daftar tunggu: 2,5 juta orang. Antrean untuk mendapatkan listrik begitu besar dan masa tunggu itu begitu lama. Ada yang sudah antre listrik sejak lima atau tujuh tahun lalu. Daftar tunggu itu berhasil diselesaikan melalui dua kali gerakan. Yakni gerakan sehari sejuta sambungan (GRASSS) tahun lalu dan GRASSS ke-2 tanggal 17 Juni lalu.

Memang masih ada beberapa daftar tunggu yang tercecer. Tapi tidak sampai menyebabkan gagalnya program ini. Salah satu contoh terjadi di Belitung. Seseorang yang sudah antre listrik tidak mendapat sambungan di saat GRASSS ke-2. Dia mengirim SMS dan menanyakan mengapa tidak dapat sambungan. Ternyata terjadi salah pengertian. Sewaktu petugas PLN melakukan survey ke rumah tersebut, rumah dalam keadaan terkunci. Tidak ada penghuninya. Petugas PLN yang mencoba mengintip dalamnya rumah itu melihat sudah ada bola lampu yang masih menyala. Maka petugas PLN mengira rumah tersebut sudah berlistrik.

Ketika pengalaman petugas itu diceritakan kepada pemilik rumah barulah jelas persoalannya: lampu yang menyala tersebut bukan langsung dari PLN.
Saya yakin kejadian serupa juga masih ada di beberapa daerah. Tapi kejadian seperti itu tidak menyebabkan batalnya pernyataan kemenangan atas musuh besar No 2.

Musuh besar No 3, yakni banyaknya gangguan trafo, juga sudah berhasil dikalahkan. Gangguan trafo yang tahun lalu di setiap cabang bisa mencapai 50 kali sebulan (berarti di cabang tersebut mati lampu 50 kali sebulan) sudah tinggal satu digit. Banyak juga cabang yang sudah bisa mencapai gangguan nol! Yang lebih membanggakan lagi, para manajer cabang ini terlihat lebih akrab bergaul dengan trafo. Setiap ke daerah saya selalu menanyakan di cabang tersebut memiliki berapa ratus trafo, berapa gangguan, dan apakah sudah punya trafo cadangan. Saya bangga bahwa manajer cabang umumnya hafal berapa trafo yang harus dia control dan berapa tingkat gangguannya. Pernah saya marah kepada seorang kepala cabang yang tidak hafal berapa ratus trafo yang harus dia gauli. Akhirnya saya minta maaf karena ternyata dia baru sebulan di situ.
Saya memang gelisah dengan banyaknya gangguan trafo ini. Begitu banyaknya mati lampu akibat trafo rusak ini. Sampai-sampai saya kemudian menetapkan  ganguan trafo adalah musuh besar kita nomor 3. Ketika akhirnya para manajer cabang bisa mengalahkan musuh No 3 itu, rasanya seperti tidak masuk akal. Banyak pertanyaan kepada diri mereka sendiri: kok bisa ya! Tak terbayangkan gangguan trafo yang begitu besar bisa diatasi.

Kini musuh kita di lapangan tinggal satu: musuh besar No 4, gangguan penyulang. Masih begitu banyak mati lampu akibat gangguan penyulang. Penyebabnya begitu beragam. Tapi tidak ada kata menyerah. Gangguan penyulang tidak bisa dibiarkan. Masih ada penyulang yang gangguannya mencapai 15 kali sebulan. Ini berarti setiap dua hari sekali terjadi mati lampu akibat gangguan penyulang. Saya yakin dalam tiga bulan ke depan teman-teman manajer cabang juga bisa mengalahkan  gangguan penyulang ini.
Kita memang masih memiliki beberapa musuh besar lainnya. Khusus musuh “yang sangat khusus” ini menjadi tugas para direksi untuk mengalahkannya. Ini bukan musuhnya para prajurit yang gagah berani di lapangan. Ini musuhnya para jendral di pusat kekuasaan PLN. Musuh yang ini harus dikalahkan dengan cara yang sangat khusus pula.

Musuh jenis apakah gerangan itu? Musuh dalam selimutkah? Silumankah? Harimau yang ganaskah? Belut yang licinkah? Saya tegaskan di sini, musuh itu bernama BBM. Bahan Bakar Minyak!
BBM-lah yang menyebabkan PLN borosnya luar biasa. BBM-lah yang kalau bisa diberantas membuat PLN menghemat 15 triliun rupiah setiap tahun.

Kalau tiga jenis musuh yang pertama itu kita kalahkan dan musuh No 4 pasti akan dikalahkan oleh teman-teman di lapangan, maka musuh dalam selimut itu pun pasti akan dikalahkan oleh jajaran direksi!
Dengan sudah selesainya krisis listrik, dengan tuntasnya daftar tunggu, dengan sudah minimnya gangguan trafo, maka dua musuh beriktunya ini kita bagi dua: teman-teman di lapangan mengalahkan musuh No 4 dan teman-teman direksi mengalahkan musuh besar No 5!Kita berlomba mana yang menang lebih dulu!

Dahlan Iskan
CEO PLN

Senin, 27 Juni 2011

cvpadangduit.com



MIN PO $0.02

Turn into Scam....................

1st PO INSTANT



Uploaded with ImageShack.us

2nd PO


Uploaded with ImageShack.us

Selasa, 21 Juni 2011

Dahlan Iskan - Harapan Baru pada Listrik Sehen

Inilah perjalanan jauh untuk melihat 100 rumah yang menggunakan Lampu Sehen. Itu adalah listrik tenaga matahari model baru untuk sistem kelistrikan kepulauan. Desa itu terpencil nun di ujung barat daya Pulau Sumba, NTT.

Sudah lima bulan penduduk menggunakan Lampu Sehen. Sampai saya ke sana pekan lalu, tidak ada keluhan, tidak ada lampu yang mati dan tidak ada instalasi yang rusak. Itu mengisyaratkan bahwa target ambisius setahun menaikkan ratio elektrifikasi di NTT dari 31 persen menjadi 70 persen pun bisa dicapai.

Setahun ini sudah tiga kali saya ke NTT. Banyaknya orang yang mengatakan “mustahil elektrifikasi NTT bisa mencapai 70 persen akhir tahun ini” membuat saya sering ke sana. Apalagi saya juga terikat sumpah harus mewujudkan proyek listrik panas bumi (geotermal) Ulumbu (Ruteng) yang sangat lama macet itu.

Perjalanan panjang kali ini saya mulai dari Kupang. Dari bandara, malam itu saya langsung ke proyek PLTU Kupang yang lama tersendat. Saya kaget, gubernur dan wakil gubernur menyambut di bandara. Pasangan kepala daerah yang sangat rukun tersebut (di banyak daerah terjadi “perang dingin”) memang sangat merindukan listrik NTT maju.

Pagi-pagi kami sudah terbang ke Kecamatan Kangae, Sikka, Flores. Itulah kecamatan pertama di Indonesia yang seluruh pelanggan listriknya menggunakan sistem prabayar, sehingga mendapatkan rekor Muri. Sampai-sampai, Wakil Bupati Sikka dr Wera Damianus iri. “Kampung kelahiran saya sendiri sampai hari ini belum berlistrik,” katanya.

Dia bercerita, betapa menderitanya penduduk Pulau Palue, tempat kelahirannya tersebut. Bukan hanya tidak ada listrik, tapi juga tidak ada sumber air. Sudah dicoba dibor, tidak pernah berhasil. Penduduk sepenuhnya bersandar pada air hujan. Padahal di sana lebih sering kemarau. Untuk itu, tiap rumah harus punya paling tidak tiga pohon pisang.

Dari pokok pohon pisang yang dilubangi itulah air untuk minum dan masak didapat. Pisang pun menjadi simbol kehidupan di Palue. “Kalau ada perjaka yang minta kawin, biasanya ditanya: Memangnya sudah mampu menanam berapa pohon pisang?” tuturnya.

Setelah mendengar itu, saya bertekad Pulau Palue harus berlistrik akhir tahun ini. Dari Kangae, saya langsung ke Sumba, sebuah pulau yang besarnya tiga kali Bali, tapi penduduknya amat jarang. Lebih banyak jumlah kudanya.

Mendarat di Kota Waingapu, kami langsung menelusuri jalan darat menuju Waitabula/Tambolaka di pantai barat Sumba. Perjalanan itu sebenarnya bisa ditempuh enam jam. Namun, kami harus membelok dulu memasuki padang savanna yang luas di tengah pulau. Saya ingin tahu lokasi pembangkit listrik tenaga air yang segera dibangun.

Pencarian lokasi itu ternyata tidak mudah. Kami sempat tersesat. Di padang savanna tersebut tanda untuk sebuah lokasi hanyalah bukit dan rumput. Padahal bentuk bukit dan jenis rumputnya mirip semua. Padahal entah berapa bukit yang harus dilampaui. Sesekali memang terlihat penunggang kuda sandel yang kepalanya timbul tenggelam di sela-sela rumput di kejauhan. Namun, karena kudanya terus berlari, tidak bisa juga dipakai patokan arah. Begitu lamanya mencari jalan memutar itu sehingga ketika senja tiba kami masih di savanna.

Diam-diam saya mensyukuri ketersesatan itu. Bisa menikmati senja yang menakjubkan. Sejauh mata memandang, hanya ada savanna. Tidak terlihat satu pun kampung atau bangunan. Berada di tengah-tengah savanna tersebut, saya merasa seperti berada di pedalaman Irlandia. Sama sekali tidak menyangka ini di pedalaman Sumba! Apalagi udaranya sekitar 18 derajat Celsius! Alangkah sejuknya!

Keindahan itu meningkat menjadi ketakjuban manakala dari kaki langit yang cerah tersebut menyembul bulan yang kebetulan lagi purnama. Begitu menornya. Seperti wajah Malinda Dee di pentas peragaan kebaya! Uh! Tersesat yang menyenangkan. Tidak menyangka sore itu saya bisa menikmati alam seasli-aslinya. Savanna yang seperti penuh misteri. Goyangan rumputnya. Bayangan bukitnya. Temaram cahaya purnamanya. Menyatu di keluasan cakrawala bumi manusia yang langka!

Ada yang membuat saya lebih bersyukur. Saya baru terhindar dari cedera. Setengah jam sebelum memasuki savanna itu, mobil yang saya kemudikan menabrak mobil di depan. Ringsek. Harus diderek kembali ke Waingapu.

Sebenarnya saya sudah mencoba mengerem sekuat tenaga. Tapi, kecepatan mobil berbanding jaraknya tidak memadai lagi. Aspalnya pun dilapisi debu tebal dari bukit kapur yang sedang dibongkar di tebing jalan. Kapur itulah yang membuat ban tidak bisa mencengkeram aspal dengan sempurna. Saya juga tidak mungkin membanting setir mobil ke kiri karena akan menabrak tebing.

Saya menyadari kesalahan saya. Saya tidak tarik rem tangan. Refleks itu tidak muncul. Mungkin sudah lelah karena sudah hampir dua jam mengemudi. Mobil di depan saya itu terhenti mendadak karena menabrak truk dari arah depan. Dua mobil ringsek.

Pukul 22.00 kami baru tiba di kota kecil Waikabubak, Sumba Barat. Namun tidak bisa segera beristirahat. Hotel sederhana di situ lagi penuh. Harus mencari kota kecil berikutnya yang jaraknya sekitar sejam. Sekalian mencapai tujuan akhir perjalanan malam itu: Tambulaka.

Bagi yang merasa baru sekali ini mendengar nama Tambulaka, baiknya ingat peristiwa Adam Air. Pesawat dengan lebih dari 200 penumpang yang tersesat dan kehilangan arah tersebut akhirnya bisa mendarat di suatu daerah terpencil. Ya Tambulaka itulah yang dimaksud. Waktu itu sang pilot sebenarnya hanya ingin mendarat darurat di pantai pasir putih yang panjang “entah di pulau apa. Tapi, begitu mendekati pantai, terlihatlah ada bandara kecil. Itulah Bandara Tambulaka.

Salah satu desa pengguna Lampu Sehen yang sedang kami promosikan berada di 10 km dari bandara tersebut. Nama Sehen (super ekonomi hemat energi) diciptakan PLN karena sistem itu memang belum ada namanya. Sehen-lah yang mengakhiri riwayat hidup lampu petromaks di desa itu. Dan kelak di seluruh Sumba bahkan di banyak pulau Indonesia.

Dengan Lampu Sehen, masing-masing rumah seperti memiliki pembangkit listriknya sendiri-sendiri, memiliki trafonya sendiri-sendiri, dan memiliki jaringan kabelnya sendiri-sendiri. Dengan Sehen, tidak ada lagi lampu mati karena travo meledak, karena kabel penyulang terganggu, atau karena tiang listrik roboh. Dengan Lampu Sehen juga tidak ada pencurian listrik, tidak ada pembaca meter, dan tidak ada tagihan yang salah.

Dengan Lampu Sehen, Desa Karuni langsung berubah. Desa asli dengan budaya Sumba yang unik itu tidak lagi gelap gulita. Rumah-rumahnya tetap rumah panggung dengan dinding kayu dan atap daun rumbia, tapi ada peralatan modern di atas atapnya. Sebuah panel kecil yang kalau siang menyerap tenaga matahari. Tidak perlu baterai khusus karena alat penyimpan listriknya sudah ada di dalam bola lampu itu sendiri.

Setiap rumah mendapat jatah tiga bola lampu. Masing-masing 220 lumen. Istilah “lumen” tersebut harus mulai dihafal karena untuk tenaga surya tidak menggunakan satuan watt. Tingkat terang 220 lumen hampir setara dengan 40 watt. Sangat terang.

Tiap-tiap bola lampu dilengkapi benang penarik untuk on/off. Benang penarik itu juga berfungsi untuk mengubah lumen. Mereka menyalakan lampu tersebut mulai pukul 17.00 dengan menarik benang sekali tarikan. Pada pukul 23.00 atau menjelang tidur, mereka menarik benang sekali atau dua kali lagi untuk mengurangi terangnya cahaya sekaligus menghemat setrumnya.

Yang membuat penduduk senang-senang-geli, bola lampu tersebut bisa dipetik dari tempatnya untuk dibawa ke mana-mana dalam keadaan menyala. Di sinilah serunya. Setiap ada perhelatan di desa itu, tidak perlu lagi menyewa genset seperti dulu. Cukuplah masing-masing undangan membawa lampunya sendiri-sendiri untuk kemudian dicantelkan di mana saja di lokasi perhelatan. Kalau ada 50 undangan yang datang dan masing-masing membawa satu Sehen, terangnya bukan main.

Sudah lima bulan Lampu Sehen berfungsi dengan baik. Menyenangkan. Ini tidak akan sama dengan proyek yang pernah dikembangkan di beberapa kementerian yang kemudian menimbulkan perkara korupsi itu. Lampu Sehen tersebut tetap milik PLN, diurus oleh orang PLN, dirawat oleh PLN, dan ditagih oleh PLN. Tidak akan terjadi penduduk bisa menjual Lampu Sehen-nya.

Masih ada plus yang lain. Di setiap “desa Sehen”, PLN memberikan satu set TV berbasis tenaga surya 21 inci. Berikut parabolanya. TV itu diletakkan di plaza, eh gubuk, terbuka di depan rumah pak RT. Malam itu teman-teman PLN sempat nonton TV bersama penduduk yang ternyata sangat menyenangi sinetron. Mereka juga ketagihan film India. Maklum, meski di desa yang begitu jauh, mereka bisa menonton 28 channel dengan kualitas gambar yang sempurna.

Hanya, menonton sinetron atau film India sebenarnya terserah selera pak RT karena pak RT-lah yang memegang remote control-nya. (*)

Dahlan Iskan
CEO PLN

Minggu, 19 Juni 2011

CEO PLN Note : Bupati Baru di Kolam Keruh

Begitu banyak bupati/walikota di Indonesia tapi jarang yang menonjol. Di antara yang sedikit itu termasuk Walikota Solo, Bupati Sragen, Bupati Lamongan yang dulu (saya belum mengenal reputasi bupati yang sekarang), Bupati Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Walikota Ternate, Walikota Bau-bau di pulau Buton, Bupati Asahan, Bupati Berau di Kaltim dan Walikota Surabaya (baik yang Bambang DH maupun penggantinya). Masih ada beberapa lagi memang, tapi tidak akan seberapa.


Kini, dalam posisi sebagai Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN Persero), saya lebih banyak lagi mengenal, bergaul dan berinteraksi dengan  bupati/walikota. Apalagi saya terus berkeliling Indonesia untuk melihat dan menyelesaikan problem kelistrikan Nusantara.
Dari situ saya mencatat bupati/walikota itu umumnya biasa-biasa saja: banyak berjanji di awalnya, lemah di tengahnya dan menyerah di akhirnya. Saya tidak tahu akan seperti apa Bupati Tuban yang baru terpilih, H. Fathul Huda ini. Apakah juga akan menjadi bupati yang biasa-biasa saja atau akan menjadi bupati yang tergolong sedikit itu. Bahkan jangan-jangan akan jadi bupati yang sama mengecewakannya dengan yang dia gantikan.
Saya tahu dari para wartawan, bahwa Fathul Huda adalah orang yang awalnya tidak punya keinginan sama sekali untuk menjadi bupati. Dia sudah mapan hidupnya dari bisnisnya yang besar.  Dia adalah pengusaha yang kaya-raya. Dia juga bukan tipe orang yang gila jabatan. Dia adalah orang yang memilih mengabdikan hidupnya di dunia keagamaan. Juga dunia sosial. Dunia kemasyarakatan. Sekolah-sekolah dia bangun. Juga rumah sakit. Dia yang sudah sukses hidup di dunia sebenarnya hanya ingin lebih banyak memikirkan akherat. Kalau pun berorganisasi, ia adalah Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Tuban.
Tapi sejak enam tahun lalu begitu banyak orang yang menginginkannya jadi bupati Tuban. Itu pun tidak dia respons. Begitu banyak permintaan mencalonkan diri dia abaikan. Tahun lalu permintaan itu diulangi. Juga dia abaikan. Menjelang pendaftaran calon bupati malah dia pergi umroh ke Makkah. Baru ketika, Gus Saladin (KH Sholachuddin, kyai terkemuka dari Tulungagung, putra KH Abdul Jalil Mustaqiem almarhum) meneleponnya dia tidak berkutik. Ini karena Gus Saladin dia anggap seorang mursyid yang tidak boleh ditolak permintaannya. Konon Gus Saladin lebih hebat dari bapaknya yang hebat itu.
Begitu Gus Saladin menugaskannya menjadi bupati Tuban, dia sami’na waatha’na. Dia kembali ke tanah air mendahului jemaah lainnya. Tepat di tanggal penutupan pendaftaran dia tiba di Tuban. Tanpa banyak kampanye dengan mudah dia terpilih dengan angka lebih dari 50%.
Cerita itu saja sudah menarik. Sudah bertolak belakang dengan tokoh yang dia gantikan yang dikenal sangat ambisius akan jabatan. Termasuk nekad mencalonkan diri lagi meski sudah dua kali menjadi bupati hanya untuk mengejar jabatan wakil bupati.
Sebagai sesama orang swasta yang terjun ke pemerintahan, saya bisa membayangkan apa yang dipikirkan Fathul Huda menjelang pelantikannya 20 Juni besok. Mungkin sama dengan yang saya bayangkan ketika akan dilantik sebagai Dirut PLN: ingin banyak sekali berbuat dan melakukan perombakan di segala bidang.
Tapi, sebentar lagi, setelah dilantik nanti Fahtul Huda akan terkena batunya. Hatinya akan berontak: mengapa tidak boleh melakukan ini, mengapa sulit melakukan itu, mengapa jadinya begini, mengapa kok begitu, mengapa sulit mengganti si Malas, mengapa tidak boleh mengganti si Lamban, mengapa si Licik duduk di sana, mengapa si Banyak Cakap diberi peluang dan mengapa-mengapa lainnya.
Saya perkirakan Fathul Huda akan menghadapi situasi yang jauh lebih buruk dari yang saya hadapi. Di PLN saya mendapat dukungan besar untuk melakukan perubahan besar-besaran. Mengapa? Karena orang-orang PLN itu relatif homogen. Mayoritas mereka adalah sarjana, bahkan sarjana tehnik yang berpikirnya logik. Mereka adalah para lulusan terbaik dari perguruan tinggi terkemuka di republik ini. Sebagai sarjana tehnik logika mereka sangat baik. Sesuatu yang logis pasti diterima. Ide-ide baru yang secara logika masuk akal, langsung ditelan. Mereka memang sudah lama berada dalam situasi birokrasi yang ruwet, tapi dengan modal logika yang sehat, keruwetan itu cepat diurai.
Sedang Fathul Huda akan menghadapi masyarakat yang aneka-ria. Ada petani, pengusaha. Ada politisi ada agamawan. Politisinya dari berbagai kepentingan dan  agamawannya dari berbagai aliran. Ada oportunis, ada ekstremis. Ada yang  buta huruf, ada yang professor. Ada anak-anak, ada orang jompo. Yang lebih berat lagi Fathul Huda akan berhadapan dengan birokrasinya sendiri.
Bukan saja menghadapi bahkan akan menjadi bagian dari birokrasi itu. Di lautan birokrasi seperti itu Fathul Huda akan seperti benda kecil yang dimasukkan dalam kolam keruh birokrasi. Di situlah tantangannya. Fathul Huda bisa jadi kaporit yang meskipun kecil tapi bisa mencuci seluruh kolam. Atau Fathul Huda hanya bisa jadi ikan lele yang justru hidup dari kolam keruh itu. Pilihan lain Fathul Huda yang cemerlang itu hanya akan jadi ikan hias yang tentu saja akan mati kehabisan udara segar.
Birokrasi itu “binatang” yang paling aneh di dunia: kalau diingatkan dia ganti mengingatkan (dengan menunjuk pasal-pasal dalam peraturan yang luar biasa banyaknya). Kalau ditegur dia mengadu ke backingnya. Seorang birokrat biasanya  punya backing. Kalau bukan atasannya yang gampang dijilat, tentulah politisi. Atau bahkan dua-duanya. Kalau dikerasi dia mogok secara diam-diam dengan cara menghambat program agar tidak berjalan lancar. Kalau dihalusi dia malas. Kalau dipecat dia menggugat. Dan kalau diberi persoalan dia menghindar.
Intinya: ide baru tidak gampang masuk ke birokrasi. Birokrasi menyenangi banyak program tapi tidak mempersoalkan hasilnya. Proyek tidak boleh hemat. Kalau ada persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari. Dan keputusan harus dibuat mengambang. Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya adalah peraturan. Peraturan yang merugikan sekalipun!
Fathul Huda tentu tahu semua itu. Sebagai pengusaha (dari perdagangan sampai batubara) dia tentu merasakan bagaimana ruwetnya menghadapi birokrasi selama ini. Tapi sebagai pengusaha pula Fathul Huda tentu banyak akal. Kini saya ingin tahu: seberapa banyak akal Fathul Huda yang bisa dipakai untuk mengatasi birokrasinya itu. Apalagi birokrasi di Tuban sudah begitu kuatnya di bawah bupati yang amat birokrat selama 10 tahun.
Yang jelas Fathul Huda sudah punya modal yang luar biasa: tidak takut tidak jadi bupati! Itulah modal nomor satu, nomor dua, nomor tiga, nomor empat dan nomor lima. Modal-modal lainnya hanyalah nomor-nomor berikutnya. Tidak takut tidak jadi bupati adalah sapu jagat yang akan menyelesaikan banyak persoalan. Apalagi kalau Fathul Huda benar-benar bertekad untuk tidak mengambil gaji (he he gaji bupati tidak ada artinya dengan kekayaannya yang tidak terhitung itu), tidak menerima fasilitas, kendaraan dinas, HP dinas dan seterusnya seperti yang begitu sering dia ungkapkan.
Banyak akal, kaya-raya dan tidak takut tidak jadi bupati. Ini adalah harapan baru bagi kemajuan Tuban yang kaya akan alamnya. Pantai dangkalnya bisa dia jadikan water front yang indah. Pantai dalamnya bisa dia jadikan pelabuhan yang akan memakmurkan. Pelabuhan Surabaya sudah kehilangan masa depannya. Tuban, kalau mau bisa mengambil alihnya!
PDI-Perjuangan sudah dikenal memilki banyak bupati/walikota yang hebat: Surabaya, Solo, Sragen. Muhammadiyah juga sudah punya Masfuk. Kini PKB punya tiga yang menonjol: di Banyuwangi, Kebumen dan Tuban. Akankah tiga bupati ini  bisa membuktikan bahwa tokoh Nahdliyyin juga bisa jadi pimpinan daerah yang menonjol?
Tapi birokrasi akan dengan mudah menenggelamkan mimpi-mimpi mereka dan mimpi besar Fathul Huda di Tuban.
Di Tubanlah kita akan menyaksikan  pertunjukan  yang sangat menarik selama lima tahun ke depan. Pertunjukan kecerdikan lawan keruwetan. Fathul Huda bisa memenangkannya, dikalahkannya atau hanya akan jadi bagian dari pertunjukan itu sendiri: sebuah pertunjukan yang panjang dan melelahkan!
CEO PLN
Dahlan Iskan

Jumat, 03 Juni 2011

CEO PLN Note : Lahirnya Bayi-Bayi Baru dan Mulainya SPPD Berkuota

Lahirnya Bayi-Bayi Baru dan Mulainya SPPD Berkuota
Satu per satu PLTU program 10.000 MW mulai menghasilkan listrik. Jumat malam lalu (27 Mei 2011) satu unit PLTU Lontar (beberapa kilometer sebelah barat Bandara Cengkareng) sudah bisa menghasilkan listrik 216 MW dari kapasitasnya 300 MW.
Memang, seperti umumnya PLTU baru, setelah dua hari dicoba, pembangkit tersebut harus dihentikan dulu beberapa hari karena diketahui ada beberapa bagian yang harus dikoreksi. Koreksi ini tidak serius karena hanya meliputi sensor temperatur di super heater, shoot blower yang temperaturnya terlalu tinggi dan cacat di anti-steam explotion. Tidak seperti di Suralaya-8, yang begitu dites, bagian yang penting gagal fungsi. Meski bulan lalu juga berhasil start kembali, prosesnya sempat menjengkelkan. Sebab, alat yang tidak berfungsi itu harus diganti dengan cara mendatangkan alat baru dari luar negeri.
Yang lebih mengesalkan adalah PLTU di Paiton. Begitu dicoba, trafo step-up-nya terbakar. Penyelesaian PLTU ini harus mundur delapan bulan karena trafo 500 kv-nya harus dibuat lagi di pabriknya di Tiongkok.
Dengan selesainya unit-1 PLTU Lontar, kini sudah delapan unit yang menghasilkan listrik. Total sudah sekitar 3.000 MW dari 10.000 MW yang direncanakan. Kalau saja tidak ada masalah trafo di Paiton, angka itu sudah mencapai 3.600 MW. Sampai akhir tahun ini masih tambah lagi beberapa unit, sehingga mencapai paling tidak 4.500 MW yang selesai.
Kita memang sudah sangat lama menunggu lahirnya bayi listrik di Lontar itu. Hamilnya sudah terlalu lama. Teman-teman PLN bekerja keras setahun terakhir ini untuk menjaga agar bayi PLTU Lontar tidak lahir cacat.
Sejak awal proyek ini memang mengalami hambatan besar. Bahkan, sejak pencarian tanahnya yang harus berpindah-pindah. Ketika kali pertama meninjau proyek ini (tidak lama setelah dilantik menjadi Dirut PLN), saya geleng-geleng kepala. Apalagi waktu itu baru saja hujan. Mobilitas alat, barang, dan pekerja sangatlah lebay. Yang terlihat di sekitar proyek hanyalah kubangan dan lumpur. “Ini proyek horor,” kata saya dalam hati saat itu.
Di tengah-tengah horor itu teman-teman yang menangani proyek ini ternyata tidak kehilangan rasa humornya. “Normalnya proyek PLTU itu dibangun dulu, baru kemudian dilakukan firing (pembakaran untuk menghasilkan uap). Tapi, PLTU Lontar ini firing dulu, baru dibangun,” ujarnya.
Tentu saya tidak mengerti di mana lucunya kalimat itu. Setelah diceritakan kejadiannya, barulah saya tertawa. Ternyata, sebelum proyek ini dimulai, penduduk sekitar sempat marah dan melakukan pembakaran yang menghebohkan. Setelah peristiwa pembakaran itu diatasi, barulah proyek bisa dimulai kembali.
Sebenarnya permukiman penduduk cukup jauh dari proyek ini. Areanya terpisahkan oleh persawahan sejauh kira-kira 2 km. Untuk bisa sampai ke proyek ini pun sulitnya bukan main. Harus menundukkan dulu jalan darurat yang berkubang dan berkubang.
Sepintas proyek ini seperti dibangun di tengah persawahan.Ternyata PLTU Lontar juga dibangun di pinggir pantai. Hanya, pantainya berada nun jauh di 2 km sana. Bisa dibayangkan betapa horornya proyek ini. Betapa sulitnya mengerjakannya. Termasuk betapa beratnya membangun water intake dan water outflow-nya. Maka, sejak awal pun saya memastikan bahwa pembangunannya akan lambat.
Yang bisa dilakukan hanyalah bagaimana agar bayi horor ini tidak lebih lama lagi ngendon di kandungan. Juga bagaimana agar kualitas si bayi bisa lebih baik dibanding yang lahir setahun sebelumnya. Setidaknya, jangan seperti yang di Labuhan yang sampai setahun kemudian pun masih terkena asma.
Kalau benar yang selesai pada 2011 ini kualitasnya lebih baik, tentu itu sebuah prestasi. Begitu ketat mengendalikan proyek sekarang ini. Sampai-sampai berbagai ancaman dikeluarkan. Di PLTU Rembang saya sempat mengancam mengusir kontraktornya. Demikian juga di Suralaya-8, manajer proyek di sana benar-benar mengusir pimpinan proyek yang diangkat kontraktornya.
Henky Heru Basudewo, penanggung jawab proyek-proyek itu di Jawa, sampai menciptakan sistem baru agar bisa mengendalikan anak buahnya 24 jam. HHB, begitu panggilannya, terus menguber para manajer proyek seperti menguber perampok. Begitu ketatnya HHB mengendalikan para manajer, sampai-sampai muncul kesan seolah-olah mereka itu seperti terdakwa. Seolah-olah keterlambatan proyek itu gara-gara mereka. Padahal, mereka baru diterjunkan satu tahun lalu, justru ketika proyek-proyek itu sudah sangat terlambat.
Dengan selesainya proyek-proyek itu satu per satu, tekanan untuk pasokan listrik di Jawa sudah berkurang. Tiga bulan lalu pasokan listrik di Jawa kembali memburuk. Yakni, ketika tiba-tiba air di waduk Saguling, Jabar, menurun drastik. PLN tiba-tiba saja kehilangan 1.300 MW setiap hari. Saat itu mestinya kondisi listrik di Jawa hancur-hancuran. Tapi, berkat kerja keras teman-teman PLN di distribusi, masyarakat tidak terlalu merasakan krisis itu. Kini, kalaupun waduk Saguling kehabisan air lagi, tekanan kekurangan listrik tidak terasa lagi.
Sistem pengendalian proyek itu bisa efektif karena BlackBerry. Semua jajaran proyek harus menggunakan BlackBerry agar bisa berkelompok dalam grup BBM. Maka, seluruh jajaran proyek dikelompokkan dalam grup BBM. Saya dan Dirops Jawa-Bali dianggap kepala proyek juga, sehingga kami berdua dimasukkan ke dalamnya.
Di situlah sesama manajer proyek saling melapor, memberikan saran, jalan keluar, memberikan instruksi, memuji, sewot, ngedumel, dan meringis. Bahkan sekadar melucu, untuk melepas stres. Setiap akhir pekan mereka bertukar lelucon. Kadang leluconnya memakai bahasa Suroboyoan sehingga banyak manajer yang Batak protes tidak bisa ikut tertawa.
Dengan sistem BBM itu, praktis sesama manajer proyek terhubung selama 24 jam. Sejak pukul 05.00 sampai pukul 24.00. BBM biasanya sudah “on” pada pukul 05.00. Mulai saat itu siapa pun sudah boleh mulai mengajukan persoalan yang dihadapi hari itu. Sesekali saya ikut nimbrung.
Saya membayangkan, kalau semua unit di PLN membuat grup seperti itu, alangkah efektifnya organisasi ini. Juga alangkah turunnya SPPD, biaya perjalanan dinas. Apalagi, SPPD memang harus turun pascapuasa SPPD sebulan penuh yang berakhir pada 31 Mei 2011 lalu. Apalagi, kini diberlakukan “kuota SPPD’. Kuota ini diterapkan dengan sistem terkomputer, sehingga begitu kuotanya habis tidak bisa di-klik lagi. (*)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost