Senin, 26 Agustus 2013

Dahlan Iskan : MH91 : Sorgum, Sapi, dan Burung di Belu


Pesawat militer CN 295 TNI AU mendarat mulus di landasan yang hanya 1.200 meter yang masih berdebu di Atambua, Belu. Kabupaten yang berbatasan dengan Timor Leste. Itulah pertama kali saya naik pesawat yang sudah lama saya sebut-sebut namanya tapi belum pernah saya rasakan terbangnya.
Cuaca pagi Atambua sangat cerah. Meski sudah mulai menggersang tapi udaranya enak, tidak panas menyengat: 28 derajat. Ini berbeda dengan kedatangan saya ke Atambua lima bulan lalu. Saya harus jalan darat dari Dili, Timor Leste. Itu karena mendung tebal terus menggelayut di langit Atambua sepanjang hari. Itulah hari pencanangan gerakan sorgum dengan langkah awal uji coba penanaman pertama. Hujan terus mengguyur upacara. Wah ini pertanda akan tersendat atau justru sebaliknya akan berkah.
Hujan itu ternyata berkah. Sabtu lalu, ketika saya ke Atambua lagi, sorgumnya sudah panen. Bagus lagi. Murid-murid SMK Atambua dan SMK Kupang juga sudah bisa memamerkan semua peralatan buatan mereka: pemerah batang sorgum untuk jadi gula, perontok biji sorgum, penyosoh, destilasi bioethanol, pencacah ampas, mixer pupuk, dan seterusnya.
Ini hasil dari pendidikan dua bulan di Jakarta. Anak-anak SMK itu memang dikirim ke Jakarta untuk melakukan reverse engineering. Dengan demikian Atambua tidak tergantung pada alat-alat impor atau buatan pabrik. Mereka bisa bikin sendiri. Dan kalau rusak bisa memperbaiki sendiri. Tidak akan terulang cerita lama: bantuan peralatan untuk pedesaan banyak tidak berfungsi karena begitu rusak tidak tahu cara memperbaikinya.
Bupati Belu, Joachim Lopez, tidak hanya gembira karena sorgumnya sudah panen, tapi lebih gembira lagi karena telah terjadi perubahan cara berpikir petani. Itu yang dia ucapkan di panggung. Bupati Belu memang lagi ingin mengubah pola pikir masyarakatnya.
Lopez berhasil mengubah adat lama yang sangat menghambat upaya meningkatkan perekonomian masyarakat. Misalnya adat kematian. Bupati mengeluarkan peraturan baru: orang meninggal harus segera dikubur. Paling lama dua hari. Tidak boleh lagi mayat ditahan sampai seminggu. Apa hubungannya dengan ekonomi?
“Kalau mayat ditahan selama tujuh hari berarti ada tujuh sapi yang dipotong,” katanya. Itu berarti upaya mengembangkan ternak sapi hanya habis dibuat pesta. Apalagi banyak juga yang sampai berutang untuk membeli sapi itu.
Apa sanksi bagi yang menahan mayat lebih dari dua hari? Jelas: tidak akan ada pendeta yang datang untuk memberkati pemakamannya. Untuk itu Bupati Lopez minta dukungan keuskupan Atambua. Uskup setuju. Kini di setiap ada kematian maksimum hanya dua sapi yang dipotong.
Demikian juga saat banyak sapi memangsa tanaman muda sorgum. Bupati bikin kesepakan dengan masyarakat adat. Ketua adat pun membuat keputusan: kalau ada sapi yang masuk ke ladang sorgum, sapinya boleh dipotong. Sejak itu tidak ada lagi tanaman sorgum yang rusak. Pernah terjadi satu sapi lolos ke ladang sorgum. Ketua adat benar-benar memutuskan memotong sapi itu. Aman.
Setelah sorgumnya berbuah, muncul ancaman baru. Kali ini masyarakat adat tidak mungkin lagi bisa mengatasi: serbuan burung! Ribuan burung datang bertengger di pucuk sorgum! Sambil mematuk-matuk.
Saya terpikir kinilah saatnya minta bantuan mahasiswa. Terutama fakultas pertanian dan elektro. Merekalah yang kini harus menemukan cara mengatasi burung. Yang bisa menemukan ide yang realistis-aplikatif akan saya berikan hadiah.
Dirut PT Batantekno Dr Yudiutomo Imardjoko yang ahli nuklir terkemuka di dunia itu (termasuk ahli nuklir untuk tanaman dan makanan) akan mengumumkan di website PT Batantekno (www.batantek.com) mengenai detil sayembara ini.
Batantekno sendiri akan mencoba berbagai ilmu dan teknologi yang mereka kuasai, namun siapa tahu ada mahasiwa atau dosen yang memiliki ide yang lebih baik.
Batantekno memang ditugasi untuk urus sorgum di NTT sebagai bentuk pengabdian untuk daerah miskin. Dananya dari PT Pertamina, PT Askes, dan beberapa BUMN lain. Tapi teknologi dan manajemennya diserahkan ke Batantekno.
Saya salut dengan kegigihan tim Batantekno ini. Dr Yudiutomo, yang pada umur 35 tahun sudah dipanggil Kongres Amerika Serikat untuk mempertanggungjawabkan penemuannya di bidang nuklir, ingin menuntaskan soal sorgum ini.
Waktu itu Yudi ikut mengajukan rancangan teknologi penyimpanan sampah nuklir yang bisa bertahan sampai 10.000 tahun. Karena dianggap hebat, Yudi dipanggil Kongres. Dia diminta memaparkan penemuannya. Akhirnya Yudi terpilih masuk tiga terbaik rancangan penyimpanan sampah nuklir di AS. Tiga-tiganya disetujui untuk diikutkan tender di masa yang akan datang.
“Disertasi doktor saya di AS memang soal penyimpanan sampah nuklir,” kata Yudiutomo.
Kini Yudi dan Batantekno dipercaya oleh perusahaan nuklir AS untuk merancang reaktor nuklir untuk kedokteran di sana. Saya pun mengizinkan Batantekno untuk membuat perusahaan patungan dengan perusahaan nuklir AS.
Waktu saya meninggalkan Atambua untuk ke Rote, Flores, dan Bali, Yudi masih tinggal di Atambua. Setelah panen sorgum ini dia masih harus menuntaskan model bisnisnya. Agar keberlanjutan proyek sorgum ini lebih terjamin.
Di Rote saya juga bertemu seorang bupati yang hebat: Lens Haning. Dia juga berhasil mengubah kebiasaan yang menyulitkan pengembangan ekonomi masyarakatnya. Dia keluarkan peraturan baru: upacara-upacara adat hanya boleh menyembelih satu ekor sapi.
Rakyat bisa menerima aturan baru itu. Terbukti Haning terpilih lagi untuk periode kedua. Tinggal menunggu pelantikannya.
Bupati Haning juga punya tekad lain: saya sanggup mengeluarkan daerah ini dari status daerah tertinggal kalau pemerintah pusat membangunkan tiga bendungan irigasi di Rote. Masing-masing biayanya hanya sekitar Rp 15 miliar!
Begitulah! Harapan, hope, dan optimisme bisa muncul di mana-mana dan dari siapa saja, dengan berbagai jabatannya. (*)
Oleh Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Senin, 19 Agustus 2013

Dahlan Iskan : MH090 : Pertamina yang Harus Lebih Merdeka


Manufacturing Hope 90
Ucapan selamat itu mula-mula saya ragukan. Karena itu saya tidak segera menanggapi. Masak sih Pertamina sudah berkembang sehebat itu? Sudah bisa masuk Fortune Global 500? Maka SMS dari wartawan itu saya abaikan.
Tapi kian sore SMS sejenis terus berdatangan. Kepada salah seorang yang saya kenal tidak biasa guyon, saya balas SMS itu: benarkah Pertamina masuk Fortune Global 500? Beritanya dari mana? Sumbernya tepercaya?
Ternyata datang balasan: berita itu bersumber dari konferensi pers resmi Fortune, majalah ekonomi perusahaan terkemuka Amerika Serikat. Jadi berita itu bukan isapan jempol atau olok-olok.
Saya masih belum percaya. Saya hubungi Dirut Pertamina Karen Agustiawan untuk mengecek apakah dia juga sudah mendapat berita itu. Sama. Sudah. Dia juga cukup hati-hati. Dia melakukan check and recheck. Ternyata benar adanya.
Majalah ini sudah puluhan tahun, tiap tahun, melakukan pemilihan 500 perusahaan terbaik. Daftar itu diumumkan setahun sekali di majalah yang sangat prestisius itu. Sudah begitu legendarisnya daftar 500 perusahaan terbaik dunia versi majalah Fortune itu sehingga banyak CEO memiliki target untuk bisa masuk Fortune Global 500.
Saya pun demikian. Saya berharap di akhir masa jabatan saya sebagai menteri akan ada salah satu BUMN yang berhasil masuk Fortune Global 500. Cita-cita seperti itu bukan hanya saya yang memiliki. Satu kelompok ekonom Indonesia pernah merumuskan road map untuk kemajuan Indonesia di tahun 2020. Salah satu rumusannya adalah: pada tahun 2020 diharapkan sudah ada lima perusahaan Indonesia yang masuk Fortune Global 500.
Bahwa Pertamina yang menjadi perusahaan pertama Indonesia yang berhasil masuk Fortune Global 500 awalnya tidak banyak diperhitungkan. Perkiraan awal dulu, swastalah yang pertama masuk kelompok itu. Misalnya dari Grup Salim, Prajogo Pangestu, Grup Astra, kelompok Gudang Garam, atau kelompok Djarum. BUMN dengan keterbatasannya di bidang pengembangan perusahaan tidak banyak diharap. Terutama di akhir-akhir masa Orde Baru.
Tapi begitu dua tahun lalu laba Pertamina mencapai Rp 23 triliun dan tahun 2012 naik menjadi Rp 25 triliun, laju BUMN ini tidak akan bisa dikejar swasta. Apalagi kalau harga elpiji boleh mengikuti harga pasar. Laba Pertamina tahun lalu bisa naik Rp 5 triliun menjadi Rp 30 triliun. Ini karena dari bisnis elpiji 12 kg saja, Pertamina rugi Rp 5 triliun.
Meski begitu saya tidak menyangka bahwa tahun ini Pertamina sudah masuk Fortune Global 500. Secepat-cepatnya, saya perkirakan, baru tahun depan. Bahkan nomor urutnya pun tidak terlalu diharap sebegitu tinggi: 122. Semula saya mengira di nomor 360, atau bahkan 420 pun ok. Yang penting sudah berhasil masuk Fortune Global 500.
Tentu senang sekali Pertamina bisa di nomor urut 122. Hanya saja beban psikologi dan beban kerja Pertamina menjadi lebih berat.
Terutama apakah iklim untuk Pertamina tetap bisa sebaik sekarang. Kedua, apakah Pertamina tidak dikejar perusahaan-perusahaan lain dari Amerika, Eropa, atau Tiongkok. Terutama setelah krisis di AS tidak lagi seburuk tahun lalu dan krisis di Eropa juga mulai menunjukkan tanda-tanda bisa diatasi.
Maka tidak ada jalan lain bagi Pertamina kecuali terus bekerja lebih keras. Juga harus terus meningkatkan integritas. Agar manajemen tidak banyak diganggu oleh intervensi, berbagai kepentingan dan korupsi.
Meningkatkan produksi minyak mentah dalam negeri tidak bisa ditawar. Jalannya memang lebih sulit, tapi bukan tidak bisa. Pertamina masih memiliki sekitar 5.000 sumur tua yang sudah tidak produktif. Siapa pun sepakat bahwa sumur tua itu masih bisa direvitalisasi.
Sambil mengerjakan sumur baru yang akan memakan waktu lebih lama, revitalisasi sumur-sumur tua akan bisa menghasilkan peningkatan produksi lebih cepat. Hasilnya memang tidak banyak, tapi kalau dikerjakan serentak di ribuan sumur jumlah perkaliannya luar biasa juga.
Pertamina sudah melangkah ke tiga arah itu: mencari sumur baru, merevitalisasi sumur-sumur tua, dan masuk ke sumur-sumur produktif yang ada secara business to business.
Langkah-langkah cepat itu juga memerlukan dukungan yang cepat pula dari SKK Migas yang dulu bernama BP Migas. Inilah yang membuat saya lenger-lenger ketika mendengar Kepala SKK Migas Prof Dr Ir Rudi Rubiandini ditangkap KPK. Saya sebagai Menteri BUMN dan dia sebagai Kepala SKK Migas sedang merumuskan penyederhanaan izin usaha Migas.
Pertamina sungguh berharap penyederhanaan perizinan itu bisa dilakukan SKK Migas.
Untunglah jajaran di SKK Migas tetap komit pada penyederhanaan perizinan itu. Dengan atau tanpa Rudi Rubiandini.
Sebagai langkah pertama, empat lokasi sumur tua mulai direvitalisasi. Kali ini bekerjasama dengan perusahaan swasta dan asing. Setelah percaya diri bahwa sumur tua benar-benar bisa direvitalisasi, tim Pertamina sendiri harus mampu melaksanakan tanpa harus bekerjasama dengan pihak lain.
Saya percaya anak-anak muda Pertamina sanggup membuktikannya. Tim Brigade 300K Pertamina yang dibentuk untuk itu akan bisa mengerjakannya.
Misalnya saja Hermawandi. Dia menemukan teknologi baru yang sederhana untuk revitalisasi sumur tua. Dia namakan teknologi itu: X-Flow. SKK Migas sudah setuju Hermawandi mencobanya di 15 sumur tua di Siak, Riau. Sudah delapan bulan dilakukan.
Hasilnya luar biasa. Sumur yang semula hanya menghasilkan 3 barrel minyak mentah per hari, bisa meningkat menjadi 60 barrel per hari.
Kini Hermawandi sudah lebih percaya diri. Dia ajukan lagi untuk bisa dicoba di 50 sumur tua. Izin sedang diajukan ke SKK Migas, dan sudah dalam proses persetujuan.
Tapi 50 dari 5.000 sumur tua masih terlalu sedikit. Pertamina harus mendorongnya lebih agresif. Kalau perlu memfasilitasi agar Hermawandi bisa memproduksi alat-alat X-Flow lebih banyak dan lebih cepat. Agar jangan hanya bisa memproduksi peralatan X-Flow 15 buah sebulan. Dengan perizinan yang juga lebih cepat dan massal.
Kalau 5.000-an sumur tua itu bisa direvitalisasi dengan cepat, dalam setahun kenaikan produksi minyak mentah akan bisa naik sampai 60.000 barrel per hari. Satu jumlah yang sangat besar untuk ukuran Indonesia saat ini. Lalu bisa mengurangi impor minyak kita yang rakus akan devisa negara.
Saya percaya Pertamina bisa melakukan itu dengan cepat. Orang teknologi, orang lapangannya, dan orang operasinya tidak boleh kalah dengan orang keuangannya. Saya bangga bahwa Pertamina kini juga sudah bisa jadi contoh untuk kecepatan laporan keuangan. Padahal di masa lalu laporan keuangan Pertamina sangat terkenal leletnya.
Tahun ini laporan keuangan Pertamina berhasil menjadi yang tercepat di seluruh BUMN. Laporan keuangan tahun 2012 sudah bisa diselesaikan di bulan Februari tahun 2013. Padahal Pertamina adalah grup perusahaan yang anak-anaknya begitu banyak, yang jaringannya begitu luas, dan yang ragam usahanya dari paling hulu ke paling hilir. Dan skala keuangannya ratusan triliun. Toh bisa menyelesaikan laporan keuangan di bulan Februari.
Sungguh tidak mudah mencapai prestasi itu. Swasta besar pun sudah kalah oleh Pertamina di bidang ini.
Karena itu ketika Karen Agustiawan mengajukan permintaan untuk melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di akhir Februari lalu, saya langsung menyetujuinya. Itulah RUPS pertama di tahun ini di linngkungan BUMN. Saat itu saya juga tidak mendengar ada swasta yang sudah mampu menyelenggarakan RUPS lebih cepat dari Pertamina.
Bayangkan kalau Pertamina bisa merdeka dari segala macam intervensi dan kepentingan. Alangkah besarnya dia!
Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Senin, 12 Agustus 2013

Dahlan Iskan : MH089 : Malam ke-29 di 400 Meter Ketinggian


Dari lantai atas hotel Fairmont Mekah ini saya bisa menatap Ka’bah yang agung di tengah-tengah pusaran manusia yang lagi tawaf di Masjidil Haram. Di lantai inilah saya siap-siap shalat tarawih malam itu, malam ke-29 bulan puasa. Di lantai ini pulalah saya diagendakan bertemu pemilik kerajaan bisnis Saudi Binladin Group, Syekh Bakr bin Ladin.
Inilah lantai di mana Syekh Bakr tinggal. Salah satu ruangannya dijadikan tempat shalat. Yakni ruang yang persis menghadap Masjidil Haram. Dari kaca ruang ini, lautan manusia di bawah sana terlihat menyemut. Masjid yang terang lampunya bak siang itu, dengan menara-menara yang gemerlap bercahaya. Manusia di dalamnya terlihat tidak henti-hentinya memutari Ka’bah.
Dari sini pula terlihat bangunan baru yang arsitekturnya mirip Masjidil Haram. Inilah bangunan tambahan yang besarnya melebihi Masjidil Haram itu sendiri. Bangunan ini hampir jadi. Letaknya persis di sebelahnya dalam posisi menonjol karena bertumpu di bukit yang lebih tinggi. Lokasi ini dulunya dikenal sebagai Hotel Mekah dan sekitarnya. Bulan puasa tahun depan bangunan ini jadi 100 persen.
Dari arah atas ini pula terlihat seperempat bagian Masjidil Haram yang dibongkar dan kini sedang dibangun lagi. Di bagian inilah BUMN PT Waskita Karya (Persero) Tbk ikut berperan. Proyek ini didapat Waskita dari kontraktor utama Binladin. Tiap tahun ditargetkan seperempat pembongkaran dilakukan untuk dibangun kembali. Dengan demikian seluruh Masjidil Haram selesai direnovasi tahun 2018. Berarti, selama itu pula Waskita akan terus bekerja di sana. Insya-Allah.
Dari kamar khusus Syekh Bakr itu semua aktivitas di Masjidil Haram dan sekitarnya terlihat sempurna.
Saya, Dirut Waskita Karya M Choliq, dan manajer Waskita di Arab Saudi, sudah siap di kamar itu menjelang adzan Isya. Ditemani beberapa staf inti Binladin Group. Termasuk adik kandung Syekh Bakr yang juga direktur keuangan grup itu.
“Syekh masih di sana, tapi segera tiba,” ujar salah satu staf inti Binladin Group. Berkata begitu ia sambil menunjuk bangunan tinggi di sebelah Masjidil Haram, arah kanan depan Fairmont Hotel. Itulah bangunan di mana Raja Arab Saudi dan keluarganya tinggal untuk beribadah selama 10 hari terakhir bulan puasa.
Syekh Bakr bin Ladin masih di gedung kerajaan itu. Kami pun shalat tarawih mengikuti imam Masjidil Haram. Sound system di kamar itu memang tersambung sound system masjid. Adzan dan suara imam juga tersambung ke seluruh kamar hotel sehingga banyak penghuni hotel yang shalat lima waktu di kamar masing-masing dengan imam dari Masjidil Haram.
Usai shalat tarawih, yang ditunggu pun tiba. Syekh Bakr ternyata cukup santai, tanpa tutup kepala dan bicaranya ceplas-ceplos seperti umumnya pengusaha. Di situlah kami membicarakan proyek-proyek Waskita dan masa depannya. Termasuk keinginan Syekh Bakr untuk terus menambah orang agar Waskita bisa ikut mempercepat penyelesaian proyek.
“Di sini selalu diinginkan serba cepat. Proyek lima tahun kalau bisa selesai dalam dua tahun,” kata Syekh Bakr.
Ternyata Syekh Bakr juga sudah tahu maksud kedatangan saya. “Waskita akan kami ikutkan di proyek perluasan Masjid Nabawi di Madinah,” tegasnya. “Kalau perlu tidak hanya proyeknya. Juga sampai pemeliharaannya,” tambahnya. “Pokoknya peranan Waskita harus kita tingkatkan terus,” katanya lagi. Kali ini sambil menatap wajah-wajah staf intinya.
Entah apa yang baru dia bicarakan di gedung kerajaan di sana, yang jelas malam itu Syekh Bakr menyambut baik semua rencana kami. Termasuk mengundangnya untuk berinvestasi di Indonesia. “Kami akan serius masuk Indonesia,” katanya.
Yang juga terlihat spontan adalah kata-kata terakhirnya kepada para stafnya: tiap tahun beliau ini harus jadi tamu kita di sini, dan malam ini antarkan beliau ke atas!
Saya tidak menyangka mendapat kesempatan naik ke ketinggian 400 meter di puncak bangunan itu. Yakni ke ruangan yang terletak di balik “Jam Mekah” warna hijau yang terlihat dari seluruh penjuru kota, bahkan terlihat dari Mina dan Muzdalifah itu. Inilah jam terbesar yang diletakkan di ketinggian tertinggi di dunia. Kalau Big Band London yang terkenal itu tingginya hanya enam meter, Jam Mekah ini 43 meter!
Tulisan “Allah” (dalam huruf Arab) yang ada di dekat jam itu terbesar dan tertinggi di dunia. Panjang huruf alifnya saja 23 meter.
Ruangan di balik jam itu ternyata dijadikan diorama untuk menunjukkan keagungan jagad raya. Foto tiga dimensi matahari, lengkap dengan inti matahari, ada di situ. Demikian juga foto tata surya, jagad raya dan planet-planetnya. Termasuk pergerakan putaran bumi dan planet-planet lainnya. Ayat-ayat Al Quran yang terkait dengan alam raya di-display di sana-sini. Di ruang ini kita sungguh mengagumi terciptanya alam raya. Dan lebih-lebih mengagumi penciptanya.
Jam itu benar-benar raksasa. Empat buah jumlahnya untuk empat penjuru angin. Beratnya 23 ton!
Warna dasar jam itu hijau. Warna itu dibentuk oleh lampu-lampu LED dengan background material warna putih. Untuk menghijaukan warna empat buah jam itu diperlukan dua juta lampu LED.
Jarum jamnya dibuat warna putih yang juga terbentuk oleh lampu LED bercahaya putih, dengan dasar material hitam.
Pilihan warna dasar hijau dan jarum warna putih ini berdasar hasil riset yang mendalam. “Warna hijau dan putih adalah warna yang bisa terlihat dari jarak paling jauh. Sejauh apa pun, Anda masih bisa melihat jam ini dengan jelas. Kalau warna lain tidak akan sejelas hijau dan putih,” ujar seorang Jerman, muslim, arsitek gedung sekaligus pendesain jam ini. Saya beruntung bahwa dia diminta mendampingi saya untuk menjelaskan semua itu.
Keperluan listrik untuk jam ini saja, ampun-ampun, 2 MW! Maklum mesin jam itu (bisa kami lihat dari arah belakang jam) seperti gigi-gigi mesin pabrik gula!
Di ketinggian 400 meter itu (sekitar empat kali tinggi Monas) juga tersedia balkon. Kita bisa ke luar gedung untuk melihat Ka’bah dari atas. Juga untuk melihat seluruh kota Mekah. Allahu Akbar!
Tidak hanya Fairmont yang ada di gedung ini. Juga beberapa hotel lainnya. Superblok ini (disebut Clock Tower) memang sangat besar. Lantai bawahnya dibuat mal yang di waktu shalat diubah jadi tempat shalat berjamaah. Lantai mal ini memang connect dengan halaman Masjidil Haram. Beberapa lantai bagian depan superblok ini juga untuk masjid yang makmum ke imam Masjidil Haram.
Di salah satu ruang di Clock Tower ini pula saya menerima Presiden Islamic Development Bank (IDB), Dr Ahmed Muhammed Ali sehari sebelumnya. Terutama karena IDB memiliki fasilitas kredit ekspor. Fasilitas inilah yang harus dimanfaatkan oleh PT Dirgantara Indonesia (Persero) untuk menjual pesawat ke negara-negara anggota IDB. Saya minta manajemen PT DI serius menindaklanjutinya.
Bahkan kalau perlu BUMN lain tidak usah memanfaatkan kredit IDB. Seluruh dana IDB untuk Indonesia yang sebesar Rp 30 triliun bisa dialokasikan sepenuhnya untuk penjualan pesawat PT DI. Sedangkan untuk dermaga pelabuhan Belawan Medan, misalnya, Pelindo I sebenarnya mampu membiayainya sendiri. Bahkan bisa lebih cepat terwujud.
Kalau BUMN lain meminjam dana itu, BUMN itu yang harus mengembalikannya. Tapi kalau PT DI yang dapat fasilitas itu, negara pembeli pesawat yang harus melunasinya. Dr Ahmed terlihat antusias untuk bisa membiayai ekspor pesawat PT DI. “Saya pernah berkunjung ke PT DI di Bandung. Saya sangat terkesan,” katanya. “Waktu itu saya diundang Dr Habibie,” tambahnya.
Indonesia adalah anggota penting IDB. Juga salah satu pendirinya. Di ulang tahun IDB ke-40 tahun depan, ada baiknya ditandai dengan terealisasinya kredit ekspor untuk PT DI itu.
Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Selasa, 06 Agustus 2013

Dahlan Iskan dan Monorel BUMN


Monorel seperti barang yang sangat fenomenal sekarang-sekarang ini. Beberapa pihak sudah menyatakan kesanggupannya dalam menyiapkan monorel untuk untuk sarana transportasi  alternative anti macet. Salah satunya adalah Monorel konsorsium BUMN.

Dibawah komando Dahlan Iskan, Konsorsium Monorel BUMN sudah sangat siap dalam proyek pembangunan monorel yang sedianya akan dikerjakan di Jakarta, Bogor dan Bekasi. Tapi entah mengapa ketiga Pemda yang tadinya sangat bersemangat seolah diam seribu bahasa.

Tapi setelah munculnya gubenur Jawa Barat yang lagi-lagi membawa bendera monorail china menjadi satu isyarat tentang berubahnya gelagat pada pemda Bogor dan Bekasi.

Seperti juga Walikota bandung yang bertekuk lutut terhadap rencana gubenur Jawa Barat. Padahal mentri BUMN sudah bersedia menyisihkan waktu untuk menerima kedatangan seseorang yang dianggap mempunyai rasa empati hasil karya bangsa sendiri dengan mau membangun Monorel BUMN di daerahnya.

Semua media menjadikanya monorel sebagai tulisan menarik. Perusahaan monorel yang sudah nampang lainnya antara lain :
1. CNR Changchun Railway Vehicle Co. Ltd. china. Sekarang proyek monorel Jakarta
2. China National Machinery Import and Export Coorporation, perusahaan ini digandeng gubenur Jawa Barat untuk membangun monorel Jawa Barat plus membiayainya..
3. JK group. Belum pernah lihat gambar monorelnya. Mungkin juga monorel akan mengunakan produksi luar negeri.
4. PT.MBW Cibitung,

Banyak orang menyayangkan dipilihnya monorel buatan china. Kemampuan produk anak negeri yang diwakili oleh monorel BUMN sudah jelas lebih unggul, nampaknya tidak mampu mengetarkan rasa patriotisme pemegang kebijakan.



Rasanya pembangunan monorel untuk mengatasi macet hanya kepentingan bisnis semata. Jiwa nasionalime sayapun tercabik-cabik. Jika negara atau pemegang kebijakan mau berbuat untuk negeri ini, negara bisa melakukan penunjukan langsung.

Tidak perlu bersembunyi dibalik undang2 pengadaan barang. Ini harusnya dijadikan proyek mercusuar yang mampu memberitahuan dunia bahwa Indonesia pun mampu walau sudah terlambat. Proyek yang setidaknya menaikan harga diri bangsa.

Beberapa penjelasan dari orang dekat Jokowi kenapa tidak memilih monorel BUMN dikarenakan konsorsium BUMN dianggap belum mampu dalam memproduksi dan belum ada tinjauan keamanannya, hal ini  mungkin bisa diterima oleh masyarakat awam.

Namun hanya akan menjadi tertawaan untuk orang-orang yang bergelut di bidang tehnik. Sepertinya  itu hanya pembelaan, hanya mengiring opini bahwa monorel adalah alat transportasi dengan teknologi tinggi, Indonesia memerlukan beberapa tahun lagi untuk mampu membuatnya.

Mari kita menelisik teknologi monorel.
Monorel sudah dikembangkan sejak mulai abad ke 19. German, Irlandia dan US adalah negara yang memulai pengembangan monorel.

Monorel sebetulnya terdiri dari dua jenis yaitu top running dan bottom running, mengadopsi prinsip kerja kerekan alat bantu (lihat gambar bawah) yang mengunakan sebuah besi sebagai jalur pergerakannya.




Monorel bottom running
Orang mungkin hanya mengira jika monorel itu hanya  seperti yang sekarang dilihat di media-media, sebetulnya pengadopsian kerekan dimana pure berjenis bottom running sudah dibuat di German.
Kita lihat gambar dibawah ini :



Type bottom running cukup merepotkan bagian kontruksi. Selain ruang yang digunakan besar juga perhitungan load stressnya yang cukup menantang. Coba untuk para praktisi tehnik dan mahasiswa teknik sipil perhatikan load stressnya, bisa dibayangkan formula beban yang diperlukan tidak mudah tapi tidak bisa juga dibilang sulit.

Perbaikan monorel  pada rel-nya.



Monorel Top Running
Monorel BUMN, Monorel PT.MBW dan China berjenis top running dimana lock bergerak diatas relnya seperti Kereta Api biasa.  Indonesia termasuk yang telambat dalam pembangunan monorel jika dibandingan dengan Negara tetangga.

Monorel top running juga memiliki beberapa macam design pada sisi design roda penggerak. Gambar dibawah adalah monorel yang didesign dengan pengerak  dua roda vertical seperti layaknya kereta api konvensional hanya ditambah dengan roda penggapit dipasang horizontal.



Tapi sebagian besar teknologi gerak monorel menggunakan roda pada posisi horizontal, hal ini karena akan mempermudah pada pembangunan konstruksi rel dan aspek safety yang lebih secured. Design seperti inilah yang digunakan oleh monorel BUMN, Kita lihat gambar dibawah ini design roda horizontal.



Aspek safety dalam membangun monorel sudah sangat baku. Safety operation yang terdiri dari maksimum lift design load, safety impact , load factor used, maximum angle due to side pull dan stating maximum capacity. Ini bukan hal yang aneh di bidang engineering.

Untuk membangun kontruksi tiang monorel tidak lebih sulit membuat jalan layang atau jalan tol diatas laut yang sudah dibuktikan oleh BUMN konstruksi kita. Perhitungan design Load factor, load combination dan allowable stress bukan barang baru dalam dunia konstruksi Indonesia.
Kita tengok kemampuan BUMN membuat jalan tol diatas laut Bali dalam waktu 1 tahun, yang berarti BUMN sudah lihay dalam hal konstruksi. Konstruksi itu 70% dari pengerjaan Monorel. Kemampuan BUMN kontruksi kita sudah banyak diakui oleh negara luar.

Perlu diingat bahwa hanya BUMN-lah satu-satunya korporasi yang memiliki semua aspek dalam pembangunan monorel, BUMN Semen/beton, BUMN Baja, BUMN konstruksi, BUMN Pabrik Kereta Api, BUMN Operator Kereta Api, BUMN Teknologi Persinyalan, BUMN Telekomunikasi, dan BUMN Keuangan.

Kekhawatiran saya adalah, “Kalau proyek monorel yang bisa mengangkat harga diri dan harapan bangsa saja bisa lepas dari tangan BUMN. Bagaimana dengan pembangunan 6 ruas jalan tol baru di DKI Jakarta? bisa-bisa akan “diberikan” juga oleh Jokowi kepada kontraktor swasta asing.”

Salah satu penyesalan saya kepada Jokowi adalah dulu dia adalah figur yang menggebrak perhatian bangsa Indonesia ketika memperjuangkan hasil keringat anak bangsa, mobil esemka, setelah sukses mengendarai mobil esemka sampai ke kursi DKI 1, kini sepertinya jokowi malah akan menumpang gerbong monorail cina untuk menuju kursi RI-1?

Dari uraian diatas terlihat monorel bukanlah barang yang sangat sulit dibuat, monorel masih bisa dibilang termasuk varian dari kereta api. Konsorsium monorel BUMN memiliki kompetensi yang sangat mumpuni membuat Monorel.

Jadi tidak ada alasan jika ada yang menolak Konsorsium BUMN yang merah putihkecuali alasan yang lain paling masuk akal yaitu tidak ada fee untuk bekerja dengan BUMN.
Sangat menyesakan dada. Tapi ada sedikit obat luka diberikan Dahlan Iskan yaitu pembangunan monorel bandara Soetta yang ngak pake ribet.



Ternyata Dahlan Iskan lebih merah putih dibandingkan Aher ataupun Jokowi yang katanya tenar seantero Indonesia.

Sabtu, 13 Juli 2013

Teknologi : Baterai Lithium Nipress

BATERAI LITHIUM PENYOKONG PENGEMBANGAN MOBIL LISTRIK

Secara resmi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan meluncurkan baterai lithium pertama di Indonesia. PT Nipress Tbk didaulat menjadi salah satu konsorsium penyokong industri mobil listrik nasional untuk penyedia baterai lithium.
“Selamat, Indonesia hari ini luncurkan baterai lithium pertama di Indonesia. Ini sebelumnya belum pernah,” kata Dahlan di PT Nipress Tbk di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (13/7).

Senin, 29 Oktober 2012

Dahlan Iskan : MH49 : Temuan Inefisiensi yang Mestinya Melebihi Rp 37 Triliun

MH049 -Temuan Inefisiensi yang Mestinya Melebihi Rp 37 TriliunBENARKAH BPK menemukan inefisiensi di PLN sebesar Rp 37 triliun saat saya jadi Dirut-nya? Sangat benar. Bahkan, angka itu rasanya masih terlalu kecil. BPK seharusnya menemukan jauh lebih besar daripada itu. Contohnya ini: Rabu subuh kemarin saya mencuri waktu sebelum mengikuti acara peresmian pelabuhan kontainer Kariangau, Balikpapan, oleh Bapak Presiden SBY. Masih ada sedikit waktu untuk saya menyelinap ke Senipah. Jaraknya memang 1,5 jam dari Balikpapan, tapi dengan sedikit ngebut masih akan oke.
Di Senipah sedang dibangun pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) 80 mw. Awalnya, sebelum saya menjabat Dirut PLN, proyek itu menghadapi persoalan birokrasi besar. Saya datang ke Senipah di dekat muara Sungai Mahakam itu. Persoalan selesai. Proyek bisa dibangun.Ini penting bukan saja agar kekurangan listrik di Kaltim segera teratasi, tapi PLN pun bisa berhemat triliunan rupiah. Lebih efisien. Kasus Kaltim tersebut (juga Kalselteng) sangat memalukan bangsa. Daerah yang kaya energi justru krisis listriknya terparah.
Kini, ketika pembangunan PLTG Senipah itu hampir selesai, ada persoalan lagi. Untuk membawa listrik itu ke Balikpapan dan Samarinda, harus melewati tanah Pertamina. Saya pun harus mencarikan jalan keluar. Beres. Tiga bulan lagi proyek itu sudah menghasilkan listrik. Efisiensi triliunan rupiah segera terwujud.
Dengan kata lain, selama ini telah terjadi inefisiensi triliunan rupiah di Kaltim. Inefisiensi itu tidak ditemukan oleh BPK.
Contoh lain lagi: Krisis listrik di Jambi juga termasuk yang paling parah. Padahal, di Jambi ditemukan banyak sumber gas. Tapi, PLN membangkitkan listrik dengan BBM. Terjadilah inefisiensi triliunan rupiah di Jambi. BPK juga tidak menemukan inefisiensi di Jambi itu.
Saya segera memutuskan, pembangkit yang sudah nganggur di Madura dibawa ke Jambi. Sejak kabel listrik untuk Madura dilewatkan Jembatan Suramadu, tidak ada lagi kekhawatiran Madura kekurangan listrik. Jambi pun lebih efisien.
Ada lagi gas Jambi yang sudah bertahun-tahun tidak digunakan. Berapa triliun rupiah inefisiensi telah terjadi. Itu juga tidak ditemukan BPK. Saya segera memutuskan membangun CNG (compressed natural gas) di Sei Gelam, di luar Kota Jambi. Agar gas yang ditelantarkan bertahun-tahun itu bisa dimanfaatkan.
Minggu lalu, tengah malam, dalam rangkaian meninjau proyek sapi di Jambi, saya bersama Gubernur Jambi Hasan Basri Agus meninjau proyek CNG itu. Sudah hampir selesai. Saya bayangkan betapa besar efisiensinya. Bahkan, Jambi yang dulu krisis listrik akan bisa “ekspor” listrik.
Contoh lagi: Suatu saat pemerintah membuat keputusan yang tepat, yakni gas jatah PLN dialihkan untuk industri yang kehilangan pasokan gas. Jatah gas PLN dikurangi. Akibatnya, PLN berada dalam dilema: menggunakan BBM atau mematikan saja listrik Jakarta. Pembangkit besar di Jakarta itu (Muara Karang dan Muara Tawar) memang hanya bisa dihidupkan dengan gas atau BBM. Tidak bisa dengan bahan bakar lain.
Tentu PLN tidak mungkin memilih memadamkan listrik Jakarta. Bayangkan kalau listrik Jakarta dipadamkan selama berbulan-bulan. Maka, digunakanlah BBM.
Kalau keputusan tidak memadamkan listrik Jakarta itu salah, saya siap menanggung risikonya. Saya berprinsip seorang pemimpin itu tidak boleh hanya mau jabatannya, tapi tidak mau risikonya. Maka, dia harus berani mengambil keputusan dan menanggung risikonya.
Kalau misalnya sekarang saya harus masuk penjara karena keputusan saya itu, saya akan jalani dengan ikhlas seikhlas-ikhlasnya!
Saya pilih masuk penjara daripada listrik Jakarta padam secara masif berbulan-bulan, bahkan bisa setahun, lamanya. Saya membayangkan, mati listrik dua jam saja, orang sudah marah, apalagi mati listriknya berbulan-bulan.
Sikap ini sama dengan yang saya ambil ketika mengatasi krisis listrik di Palu. Waktu itu saya sampai menangis di komisi VII. Saya juga menyatakan siap masuk penjara. Daripada seluruh rakyat Palu menderita terus bertahun-tahun.
Akibat keputusan saya untuk tidak memadamkan listrik Jakarta itu memang berat. PLN mengalami inefisiensi triliunan rupiah. Tapi, pabrik-pabrik tidak tutup, PHK ribuan buruh terhindarkan, dan Jakarta tidak padam selama setahun!
Apakah PLN harus memberontak terhadap putusan pemerintah itu? Tentu tidak. Putusan itu sendiri sangat logis. Kalau industri tidak dapat gas, berapa banyak pabrik yang harus tutup. Berapa ribu karyawan yang kehilangan pekerjaan. Alangkah ributnya. Indonesia pun kehilangan kepercayaan.
Sekali lagi, jangankan dipanggil komisi VII, masuk penjara pun saya jalani dengan sikap ikhlas seikhlas-ikhlasnya!
Ini mirip Pertamina yang juga tidak mungkin tidak menyalurkan BBM ke masyarakat meski kuota BBM bersubsidinya sudah habis. Atau juga seperti BUMN lain, PT Pupuk Indonesia, yang November/Desember nanti tidak mungkin tidak menyalurkan pupuk ke petani. Padahal, kuota pupuk subsidi sudah akan habis.
Saya tahu pepatah ini: Kian tinggi, kian kencang anginnya. Tapi, saya juga tahu lelucon ini: Kian besar kembung perut, kian besar buang anginnya!
Contoh lain lagi: Secara mendadak, saat menjadi Dirut PLN saya memutuskan membangun transmisi dari Tentena ke Palu lewat Poso. Sejauh 60 km. Harus melewati hutan dan gunung. Tahun depan transmisi tersebut harus jadi. Itu akan bisa mengalirkan listrik dari PLTA Poso milik Pak Kalla yang begitu murah tarifnya ke Kota Palu.
Kalau tidak ada transmisi itu, PLTA di Sulteng tidak bisa untuk melistriki Sulteng, tapi justru melistriki provinsi lain. Akibatnya, inefisiensi di PLN Sulteng akan terus terjadi. Dengan nilai triliunan rupiah. Itu juga tidak ditemukan oleh BPK.
Saya terus memonitor pembangunan transmisi tersebut agar inefisiensi yang sudah terjadi bertahun-tahun itu segera berakhir.
Belakangan ini ada masalah besar di proyek itu. Terutama sejak dua polisi Poso tewas di hutan oleh teroris. Para pekerja yang memasang transmisi itu tidak berani masuk hutan. Dua polisi tersebut pernah ikut mengamankan proyek itu.
Karena begitu pentingnya proyek tersebut, saya minta PLN tidak menyerah terhadap ancaman teroris. Kalau perlu, minta tolong Zeni TNI-AD untuk mengerjakannya.
Efisiensi yang akan terjadi triliunan rupiah. Listrik untuk Palu pun lebih terjamin. Program itu tidak boleh gagal oleh gertakan teroris.
Contoh lain yang lebih menarik: Di laut utara Semarang ditemukan sumber gas. Pemilik sumur gas itu sudah setuju menjual gasnya ke PLN. Harganya pun sudah disepakati. Tapi, bertahun-tahun perusahaan yang memenangi tender untuk membangun pipa gasnya tidak kunjung mengerjakannya. Bukan PLN yang mengadakan tender. PLN hanya konsumen.
PLN gagal mendapatkan gas sampai 100 MMBtu. Di sini PLN mengalami inefisiensi triliunan rupiah. BPK juga belum menemukan inefisiensi itu.
Contoh-contoh inefisiensi seperti itu luar biasa banyaknya. Dan triliunan rupiah nilainya. Itulah sebabnya saya benar-benar ingin menjabat Dirut PLN sedikit lebih lama lagi. Agar saya bisa melihat hasil-hasil pemberantasan inefisiensi di PLN lebih banyak lagi.
Apakah Komisi VII DPR tidak tahu semua itu? Sehingga memanggil saya untuk menjelaskannya?
Saya tegaskan: Komisi VII sangat tahu semua itu. Kalaupun merasa tidak tahu, kan ada Dirut PLN yang baru, Nur Pamudji. Pak Nur bisa menjelaskan dengan baik, bahkan bisa lebih baik daripada saya. Apalagi, waktu itu beliau menjabat direktur PLN urusan energi primer.
Hampir tidak ada relevansinya memanggil menteri BUMN ke komisi VII. Tapi, kalaupun saya dipanggil lagi, saya akan hadir. Saya juga sudah kangen kepada mereka. Dan mungkin mereka juga sudah kangen saya. Sudah setahun saya tidak melucu di komisi VII. (*)
Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Sabtu, 09 Juni 2012

Cek Time LIne, Ketemu Dahlan Iskan by boedipanggul

Cek time line twitter nampaknya menjadi rutinitas saat ini bagi setiap orang yang membutuhkan literatur informasi, hulu informasi terpampang jelas disini. Sarapan pagiku menggeser track-pat hp yang ada di genggaman, naik turun sesuai perintah ibu jari. Memantau berita-berita nasional terbaru seakan menjadi suatu kewajiban.
Dramatis, ketika pagi jam 09.00 WIB 21/05 itu semua portal media online yang saya follow gencar menerbitkan judul-judul berita terbaru, justru akun portal media online @tempo.co menerbitkan timeline yang membuat saya tersimak beberpa detik: Kuliah umum ttg wirausaha khusus utk mahasiswa. Gratis. Email nama, universitas, jurusan, no. telp ke kuliahterbuka.tempo@gmail.com. Dalam acara seminar yang di selenggrakan tempo media grup ini melibatkan narasumber menteri BUMN Dahlan Iskan dan Zulkifli Zaini, Direktur Utama Bank Mandiri serta di susul Jimmy M. Rifai Gani Direktur Utama PT Sarinah.
Bangga ketika acara sebesar ini di selengarakan secara gratis, dan memang sejatinya ilmu itu tidak di jual belikan. Acara ini termasuk dalam identifikasi perburuan bagi teman-teman mahasiswa yang ingin begelut dalam dunia interpreneur. Suntikan antusias terlihat kala sang menteri BUMN menajadi narasumber dalam acara ini.
Begitu informasi tempo hari itu. Kontan saya langsung menyebarkan informasi ini ke teman-teman sekampus. Lega, kabar itu di sambut sedikit hysteria dari salah satu teman saya yang beda jurusan, saking girangnya seketika itu melencurkan time-line terbarunya seperti ini: @SintaSPS_ Dahlan Ishkan yaa , AKU NGEFANS BANGEEEET ┐(’⌣‘┐) (┌’⌣‘)┌”". Sambil menyelam minum air, itulah sejatinya arah twiiter itu diguanakan menempatkan akal sehat yang sesungghnya. Jangan sampai terhanyut “hedonisme” kemajuan teknologi yang hanya memakai media sosial untuk sebatas kenarsisan.
Baru sempat tadi pagi jam 05.00 WIB (29/05) saya mendapatkan e-mail dari panitia seminar KULIAH UMUM WIRAUSAHA TEMPO MEDIA GROUP dengan tema “ Mahasiswa, Bisnis, dan Masa Depan’ akan di adakan Convention Hall  Jl. Arief Rahman Hakim No. 131-13 Surabaya. Hari Kamis, 31 Mei 2012.
Acara seminar ini sebenarnya mundur dari jadwal semula yaitu (25/05). Dalam e-mail yang saya terima dari pihak penyelenggara menyebutkan: kalau acara yang sedianya menghadirkan Menteri BUMN bapak Dahlan Iskan sebagai Keynote Speaker, dengan terpaksa harus kami tunda mengingatadanya perubahan jadwal mendadak bapak menteri terkait dengan tugas beliau.
Jeda waktu itu kini berubah menjadi hari H pagi hari ini di tengah hembusan angin embun mengatarkan untuk bergegas menuju convention hall, tepat di JL. Arif Rahman hakim, ayunan pertama langkah kaki ini, di sambut suara teriakan rumah kontrakan yang di huni mahasiswa teknik perkapalan ITS di depan rumah, ” Jadi ikut kuliah umum-nya “Pak dahlan Iskan”, tanya Gunadhi kepada Fiky. “Iya jadi,” jawab fiky.
Terdengar suara itu seketika aku langsung memutar haluan menuju suara itu.” Ayuk mas berangkat bareng aja, yang acaranya tempo media grup kan ” timpal ku dengan cepat. ” Iya but,” saut mereka berdua kompak.
Memang ini skenario Tuhan di luar dugaan. Perjalanan dari rumah hanya 5 menit, setibanya di parkiran peserta sudah membludak, tambun di berbagai sudut. Pemandangan terlihat dari berbagai sisi dari yang mulai duduk-duduk, sampai hiruk-pikuknya peserta yang register absensi di meja tamu yang telah di sediakan panitia, sementara aku sendiri di sibuk dengan mencari stan dengan nama kampusku. Ketemu tapi penjaga stan-nya belum datang. Selang beberapa menit kemudian akirnya datang seroang cewek penjaga stan dengan T-shirt merah bertulisan tempo.co itu duduk dan memprsilahkanku untuk mengisi kehadiran.
Tragis, setelah saya cek. Nama saya tidak ada di kolom peserta, perasaan was-was mulai merendung, takut kalau tidak bisa masuk. Syukur cewek pemakasi t-shirt merah yg ramah itu mempersilahkan ku untuk menuliskan sendiri nama, jurusan, kampus dan coertan tanda tangan. Ini kupon dorprise-nya mas,” katanya dengan senyum simetris ramah.
Saking banyak-nya peserta, antrian masuk “auditorium” berjubel, dengan girangnya bingkisan berisi buku “Sepatu Dahlan” T-shirt tempo warna merah, snack, koran dan majalah tempo sudah ada di genggaman. Aku menuju kursi kosong di depan deret ke-4. Takjub. Megahnya ini acara.
***###***
Cepluk tangan yang meriah untuk Pak Dahlan Iskan ?,’’sambutan MC pertama kali. Suara bergemuruh, riuh menggema di berbagai sudut. Kemeja putih dengan sepatu ketnya sudah tampak terlihat, dari ratusan peserta yang membelakangi pandangan. Oh itu Pak menteri BUMN yang selama ini hanya bisa di lihat lewat layar 14-inch,”tanya batinku sendiri. Kalimat pertama yang di dengungkan Pak Dahlan adalah ketika MC mempersilahkan Pak Dahlan Memberi sambutan,’’Oke sambutan di mulai sekian terimakasih,’’ kelakarnya (hahaha) di saut ribuuan tawa beserta ribuan tepuk tangan teman-teman mahasiswa.
Dalam kuliah umum yang di selenggarakan Tempo Media Grup ini selain menteri BUMN juga turut hadir direktur Tempo Bambang Harymurti, wakil gubernur Jawa Timur Saipulah Jusuf yang selama ini akrab di sebut Gus Ipul, dan direktur Bank Mandiri Zulkifli Zain.
Sesi pertama acara ini adalah, sambutan dari Kepala Pemberitaan Korporat PT Tempo Inti Media Tbk, Toriq Hadad,’’Bagi yang belum mem-follow Pak dahlan alamat twitter-nya @iskan_dahlan yang tadi pagi 120.050 followernya.”ungkapnya.
PLN ini cuman butuh satu orang “bodoh” untuk melengkapi orang-orang pinter yang ada di PLN ini, saya tercekik denan statmen ini tapi segera keterkejutan saya agak lega setelah inget ilmu petis, Jawa Timur kan petis yang terbaik itu bukan campuran petis yang paling mahal tapi antara lain istilahnya petis ledok yang murah itu yang membuat campuran lebih enak, kerja sama ini nampaknya yang membuat kunci sukses manajemen-nya Pak Dahlan,’’ imbuhnya lagi. Toriq Hadad juga mengajak para hadiirin untuk mendoakan, agar Pak Dahlan bisa mencetak prestasi-prestasi yang di butuhkan Indonesia. Selain itu Kepala Pemberitaan Korporat PT Tempo Inti Media Tbk di Tempo Media Grup itu juga mengapresiasi atas prestasi Bank Mandiri yang masuk dalam 2000 perusahaan terbaik dunia.
Tak kalah menariknya untuk di simak, sesi ke-2 podium di isi oleh Gus Ipul wakil bupati Jawa Timur, Gus mengatakan: mencatat apa yang dilakukan dan melakukan apa yang di catat. Tapi pak Dahlan melakukan itu sejak dulu,” terang orang nomer 2 di Jawa Timur ini. Gus menambahkan, kerja kerja dan kerja yang mengatarkan Pak Dahlan sampai prestasi sekarang ini. Banyak torehan prestasi yang di lakukan Pah Dahlan selain mengatarkan Bank Mandiri menjadi perusahaan Global juga PT Semen Gresik, PT Telkom dan lain sebagainya totalnya ada 5 peusahaan. Dalam pemaparanya Gus Ipul, JATIM (Jawa Timur) merupaka pertubahan ekonomi yang sangat baik di atas rata-rata, 7,7% pertumbuhan ekonomi di tahun 2011. Menurt Gus yang jadi masalah di JATIM interpreneur-nya yang kurang,
Setelah Gus Ipul menjelaskan Panjang lebar, kemudian giliran Dahlan Iskan yang naik ke panggung namun tidak sampai mengisi podium, hanya berdiri di panggung.
Persoalan mendasar kita itu bukan masalah bisa atau tidak bisa, tetapi mau atau tidak mau kalau kita mau pasti kita bisa. Menurut Dahlan ekonomi Indonesia akan terus bergerak terlepas dari apakah politik ini akan terus ramai atau tidak, kiarena antara politik dan ekonmi ini sudah semakin terpisah dan itu menunjukkan negara yang modern. Maksut saya begini,” ketika poltik ramai terus orang sikut-sikutan dan semua peroslan di politisasi. Tetapi ekonomi kok tumbuh terus, bisnis tumbuh terus, kelas menengah bertambah terus, bandara-bandara sampai kualahan menampung penumpang. Orang beli mobil antri, beli sepeda motor antri ini agak aneh.
Politiknya begini riuh rendah, politiknya begini kacau kok ekonominya jalan terus. Ini kenapa ? ini tanda-tanda Indonesia memang akan menjadi negara modern. (cepluk tangan bergemuruh mendengar pemaparan Dahlan). Kalau di sebut negera modern politik sama ekonomi sudah terpisah. Politik tidak lagi mempengaruhi ekonomi, dan ekonomi kelak yang akan mempengaruhi politik. Jadi biar saja perpolitikan ramai dan “berkelahi” seperti itu. Tetapi yang mau maju terus saja maju.’’tegasnya.
Karena yang maju nanti kelak akan menentukan politik. Kita jangan mau politik menentukan kita. Kita nanti yang akan menentukan politik. Tapi perlu waktu. Na inilah yg terjadi tanda-tanda “kesana” semakin jelas. Bahwa ASEAN itu 11 negara tetapi tahun ini ekonomi ASEAN itu 51%-nya di pegang Indonesia. (cepluk tangan berkumandang, fiuh). Presentase ini akan terus meningkat karena memang Indonesia negara besar. Tahun ini itu kita harus lebih serius lagi. Karena ke adaan agak kacau. Yang terjadi minggu minggu ini ketika rupiah mulai terpengaruh itu memang negara-negara Eropa lagi sangat sulit.’’jelasnya lagi.
Tetapi jangan bayangkan bahwa sulitnya itu, sulit sampai gak karu-karuan. Itu sulitnya orang kaya. Artinya enak mana ? sulitnya orang kaya dengan senangnya orang miskin. Jadi kita tidak senang sekarang tetapi masih senangnya senang orang miskin. Eropa sekarang sangat susah, tapi susahnya orang kaya. Jadi jangan juga punya pikiran ketika negara Eropa mengalami krisis ekonomi, negara-negara Eropa bukan hancur secara ekonomi. Tidak begitu. Susah-susanya Amerika itu kayanya pasti bukan main. Kita harus melihatnya komperhansif.
Peserta semakin antsias dengan penjelasan Dahlan Iskan,’’ Sehebat-hebatnya Tiongkok yang kita puji sebagai negara yang luar biasa ketahanan ekonominya itu dua tahun yang lalu kekuatan ekonomi Tiongkok baru sama dengan kekuatan satu negara bagian Amerika yaitu California. Jadi tetap se susah-suahnya Amerika, Amerika tetep kaya. Dan senang-senangnya kita masih miskin (tertawa meledeak di segara penjru ruangan). Tetapi miskin yang punya harapan bukan miskin yang tidak punya harapan. Perimbangan ini akan semakin berubah. Kalau ekonomi kita terus tumbuh.
Dalam pemaparan dengan semangat yang menggebu-gebu,’’ Pucak kejayaan manusia ketika bermur 30-35 tahun. Jadi mahasiswa harus mempersiapkan semuanya untuk mencapai masa kejayan itu. Sebelum mencapai puncak kejayaan pengalaman harus di sipkan. Memang dalam usia mahasiswa kekuatan fisik sangar prima, kalaupun tidak tidur 3 hari saja masih kuat. Saya tidak tudur 1 malam saja sudah masuk angin.’’papar Dahlan. Jadi ketika anda di umur itu, anda bisa mencapai apa yang anda inginkan. Karena fisik anda kuat. Itu yang saya sering katakana tidak mungkin mengalahkan anak muda. Jadi pemuda harus di perhaikan dan kalau mau maju perhatikan anak muda. Beri kesempatan kepada anak muda. Dahlan “meramalkan”kapitaliasi pasar modal Indonesia tahun depan akan mengalahkan Singapura.
Bisnis itu harus dimulai sejak sekarang, dari hal terkecil, contoh saja jual hp-mu ke temanmu.”tawa kelakar bergemuruh menyebar di segala sudut gedung suasana yang serius kembali santai dengan guyonan ala Dahlan Iskan. Kenapa dari yang terkecil agar kalau jatuh tidak sakit dan kalau rugi tidak banyak.
Secara spontan Dahlan mengajukan pertanyaan kepada peserta,’ Siapa yang dalam berbisnis sudah kena tipu ? angkat tangan, sekitar 15 peserta maju ke panggung. Dahlan menanggapi berbisnis itu harus kena tipu dulu, jadi yang belum kena tipu saya doakan kena tipu.(hahha) guyonan-nya kembali di sambut riuh senyum peserta. Dari proses kena tipu itulah mental jadi pebisnis terasah dan berpengalaman.’’ Terangnya gamblang.
Di sesi akhir acara, peseta di bekali tips yang di sampaikan oleh dirut Bank Mandiri seputar bisnis: Tetap bangun dan terus kembangkan jiwa nasionalisme. Terus kembangkan kemampuan prolem solving yang tajam, kreatif dan inofatif. Tidak sungkan mengeluarkan pendapat sampaikan dengan santun dan terstruktur. Asah terus kepercayaan diri, biasakan bicara di depan umum. Selalu disiplin dan berorentasi pada hasil. Kembangkan network di dalam dan di luar kampus. Berupaya maksimal jangan menyerah dan tetap semangat.

Salam citizen reporter boediinstitute ‏@boedipanggul

Jumat, 08 Juni 2012

PELAJARAN BERHARGA DARI DAHLAN ISKAN

PELAJARAN BERHARGA
DARI DAHLAN  ISKAN
Kita sering tidak menyadari bahwa di setiap kejadian, selalu ada pelajaran dan pesan moral. Itulah yang ingin saya sampaikan lewat  catatan kecil tentang Dahlan Iskan berikut ini.  Mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua.  
_________________

Sedikit yang tahu, kapan Pak Dahlan itu mulai belajar bahasa Mandarin.  Bahkan, karyawan Jawa Pos Group orang yang ngantor di lantai 4 gedung Graha Pena pun tidak semuanya tahu. Saya termasuk dari sedikit orang yang tahu itu.   Pertanyaannya: kenapa banyak yang tidak tahu? Atau,  kenapa pula sedikit yang tahu?
  Banyak yang tidak tahu karena kegiatan kursus bahasa Mandarin itu dilakukan  enam hari dalam seminggu, mulai pukul 07.30 selama dua jam dan kadang lebih lama.  Saat itu, Para redaktur mungkin masih ngorok, para wartawan sedang melakukan liputan berita. Sementara karyawan bagian umum baru datang dan langsung tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Saya yang saat itu masih bertugas sebagai Front Office, jadi tahu karena ruangan Pak Dahlan sekaligus tempat berlangsungnya private bahasa Mandarin itu, berada persis di belakang tempat duduk saya.

Kursus bahasa Mandarin itu berlangsung selama lebih kurang 3 bulan  sebelum beliau sakit dan menjalani operasi ganti hati. Guru private-nya seorang wanita setengah baya. Saya tidak tahu namanya (gak  pernah tanya namanya karena setiap hari ketemu hanya sekilas).  Yang sering saya ketahui, Pak Dahlan selalu datang lebih awal dari gurunya.  Semangat belajarnya begitu tinggi. Saya juga sering melihat beliau membaca buku (saya yakin itu diktat pelajaran bahasa Mandarin) ketika keluar dari ruangannya. Samar-samar terdengar Pak Dahlan seperti menghafal kosa kata yang saya tidak mengerti, kata dalam bahasa Mandarin.

Pengalaman Menggelikan
  Pertama:  Suatu hari, ada suami istri keturunan Tionghoa sedang duduk di ruang tunggu Lt. 4 Graha Pena untuk suatu keperluan. Pak Dahlan keluar dari ruangannya dan langsung menemui kedua tamu tersebut. Lalu, Pak Dahlan menyapa tamu tadi dengan bahasa Mandarin. Keduanya hanya tersenyum dan tidak menjawab. Sementara Pak Dahlan kembali berkata-kata dalam bahasa Mandarin. Baru setelah tamunya mengatakan bahwa mereka tidak mengerti apa yang diucapkan, Pak Dahlan tersenyum lalu  minta maaf dan segera berlalu. Saya dan teman saya Indri yang melihat kejadian itu tertawa geli.

Si tamu buru-buru mendatangi saya dan bertanya siapa orang yang menyapanya dengan bahasa Mandarin tadi. Saya jawab bahwa beliau adalah Pak Dahlan Iskan.

“Oooooo masak sih itu Pak Dahlan?” nadanya setengah percaya.

“Memang kenapa Pak? Saya balik bertanya.

“Waduh saya senang bisa ketemu sama bos Jawa Pos. Tapi saya juga malu karena saya ini keturunan Tionghoa gak bisa bahasa Mandarin. Kalau sama Pak Dahlan… pokoknya salut sama beliau,” katanya sambil geleng-geleng kepala.

Kedua: Sore sekitar pukul 15.00, Pak Dahlan membawa beberapa buku sambil menyeret koper dari ruangannya. Rupanya beliau mau bepergian. Saya dipanggil dan minta bantuan untuk membawakan buku-bukunya. Kemudian, dia minta bantuan juga pada Yanto untuk membawa kopernya. Kami bertiga masuk ke dalam lift Lt. 4 untuk turun ke lantai satu.

“Saya mau ke luar negeri, saya mau sekolah bahasa Mandarin,” kata Pak Dahlan dengan nada sangat bangga. Belakangan saya baru tahu bahwa beliau memperdalam habasa Mandarin di
Jiangxi Shi Fan University Nanchang.
“Selamat ya Pak, saya salut Pak, Bapak masih punya semangat belajar. Jangan lupa menulis pengalamannya dari luar negeri Pak, saya selalu mengikuti laporan-laporan dari luar negeri yang Bapak tulis di Jawa Pos,” kata saya. Yanto yang diminta tolong membawa koper tadi, hanya tersenyum. Saya tidak tahu apa yang dia pikirkan karena selama di dalam lift hanya menunduk saja.

“Kenapa senang?”

“Karena cerita yang Bapak tulis selalu menarik dan enak dibaca” Pak Dahlan hanya menjawab “Oooo”  sambil tersenyum.

Kami sampai di lantai bawah, di ruang lobby. Yanto dan saya berjalan di belakang Pak Dahlan menuju ke pintu depan. Kami menunggu mobil jemputan, sementara Yanto pamitan dan langsung keluar dari lobby. Pak Bos tanya pada saya, “Tadi itu siapa?” Saya menjawab namanya Yanto dan dia itu karyawan Elang Expres, sebuah ekspedisi yang biasa mengantar kiriman barang di Jawa Pos, Radar Surabaya  dan Tabloid Nyata.
“Tadi dia itu mau mengambil barang untuk dikirim. Tapi hari ini tidak ada pengiriman” mendengar jawaban saya, Pak Dahlan terlihat agak kaget.

“Saya kira dia itu karyawan kita (Jawa Pos Group), saya tidak tahu kalau dia itu tamu kita. Kalau ketemu dia tolong sampaikan permintaan maaf saya ya.”

Lewat catatan ini, ada pelajaran berharga dari Pak Dahlan yang ingin saya sampaikan, bahwa: belajar sesuatu itu tidak kenal usia dan sekecil apa pun kesalahan harus diikuti dengan permintaan maaf.  Saya pun minta maaf  jika catatan kecil ini tidak berkenan di hati teman-teman.

Salam Like DIS Rek**  
Surabaya, Kamis 7 Juni 2012

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost