Kamis, 05 September 2013

Rupiah dan Saham Terpuruk, Sri Mulyani Tolong Kami


Badai The Fed

Setelah kurang lebih lima tahun akhirnya kini infus itu dilepas. Bukannya pasien telah sembuh total. Tapi tentu satu keadaan yang tidak boleh terjadi jika sang pasien harus diinfus seumur hidupnya.

Begitulah Amerika. Yang sejak 2008 ekonominya gawat darurat. Sekarang ini sudah mulai merasa sedikit sehat. Bank sentralnya (The Fed)mulai menghentikan infus ekonomi yang bernama stimulus itu. The Fed merasa ekonomi Amerika sudah bisa mulai berjalan tanpa bergantung pada stimulus. Ekonomi sudah bisa menggeliat. Angka pengangguran sudah menurun.

Infus yang telah dialirkan begitu lama. Infus yang mahal luar biasa, 850 triliun/bulan. Selain lama dan mahal, infus itu juga berdampak luar biasa. Peredaran uang di pasar finansial mengalir ke mana-mana berupa dana segar. Manfaatnya dirasakan hampir oleh seluruh negara dunia. Khususnya negara berkembang, termasuk Indonesia.

Indonesia menjadi salah satu surga investasi. Investor berlomba-lomba menyerbu Indonesia. Sampai-sampai Indonesia agak sedikut angkuh menolak dana asing.

Tapi itu dulu. Sebelum The Fed mengumumkan kebijakan penghentian stimulussecara total mulai Juni 2014 dan dikurangi mulai September 2013. Sekarang keadaan berubah 180 derajat.

Investor berbondong-bondong meninggalkan Indonesia. Dolar mengalirkembali ke negara asalnya. Harga rupiah anjlok, mencapai Rp. 11.000/dolar Amerika. Harga saham memerah. Tiba-tiba nilai perusahaan merosot.

Belum lagi isu-isu reformasi dan agenda pepolitikan nasional 2014. Sedikit tidak telah memberikan dorongan agar investor hengkang meninggalkan Indonesia atau tidak mau datang ke Indonesia. Maka semakin dalamlah keterpurukan harga saham dan rupiah.

Seperti biasa. Hiruk pikuk harga dolar dan saham dampaknya tidak hanya dirasakan oleh para pengusaha dan para penentu kebijakan ekonomi makro. Masyarakat kelas bawahpun merasakannya. Tanpa terkecuali, siapapun itu.

Pengerajin tahu tutup, karena tiba-tiba harga bahan bakunya melonjak tinggi. Buruh cemas melihat nasib perusahaannya, yang berarti juga nasib anak istrinya. Konon lagi yang masih menganggur. Kesempatan untuk segera mendapatkan lowongan memudar, seiring lesunya dunia usaha.

Harga-harga kebutuhan pokok, barang elektronik, dan sebagainya merangkak naik. Terutama barang impor atau yang bahan bakunya masih bergantung impor.

Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah ini. Sampai-sampai Menteri Keuangan,Chatib Basri menelpon 500-an investor global. Dengan maksud merayu mereka untuk mengucurkan modalnya ke Indonesia. Atau paling tidak, meminta mereka tidak menarik dananya yang sudah ada di Indonesia.

Namun semua usaha itu nampaknya hanya cukup untuk menahan laju tergerusnya nilai rupiah dan harga saham. Tidak bisa diharapkan untuk segera membuat situasi pulih kembali. Menteri keuangan juga nampak tidak terlalu optimis. Terlihat dari pernyataannya yang mengatakan harga rupiah akan terus mendapat tekanan sampai tahun 2014.

Petarung Sejati

Rupanya dampak penghentian stimulus The Fed dan berbagai faktor lainnya baik yang eksternal maupun internal cukup serius untuk Indonesia. Padahal guncangan ekonomi global kali ini tidaklah separah seperti yang pernah terjadi pada tahun 2008. Tapi cukup membuat Indonesia terancam terperosok seperti saat krisis Asia 1998.

Saat ini hanya beberapa negara dunia yang tertimpa badai ekonomi, khususnya negara berkembang. Masih banyak negara kaya atau lembaga keuangan dunia tempat meminta tolong. Bandingkan dengan krisis dunia 2008 yang memukul hampir 99% negara dunia. Saking parahnya tidak ada lagi yang mengingat idiologi, tidak ada lagi yang mengingat mana lawan mana kawan.

Negara-negara kapitalis harus murtad dengan idiologinya. Pemerintah mengucurkan stimulus ke pasar modal yang seharusnya haram menurut mereka. Negara-negara Islam kaya Timur Tengah asik sendiri memborong saham yang sedang berguguran. Tidak perduli dengan negara Islam lainnya yang sedang menjerit. Amerika dan Rusia tidak perduli lagi dengan negara-negara sekutu mereka. Semua berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Tidak jelas lagi siapa yang menolong siapa yang ditolong.

Saat itu hanya tiga negara yang bisa menahan laju ekonominya tetap positip. Dan salah satu negara tersebut adalah Indonesia. Dan yang menjadi menteri keuangan adalah Sri Mulyani.

Sungguh ajaib. Tapi itulah fakta yang terjadi. Tangan dingin seorang Srimulyani bisa menghindarkan Indonesia dari bencana ekonomi global yang maha dahsyat. Tentu bukan karena aksi Sri Mulyani seorang. Tapi karena kerja tim ekonomi Indonesia saat itu.

Namun Sri Mulyanilah yang nampak paling mecolok. Ibarat tim sepak bola, Sri Mulyani adalah kapten sekaligus strikernya. Di saat yang genting, dengan gigih dia memimpin rapat. Bahkan ada rapat yang dipimpinnya dua hari dua malam non stop.

Meski dengan menitikan air mata. Karena disaat yang bersamaan Sri Mulyani mendapat kabar bahwa ibunya sakit keras mendekati ajal. Dia harus mencucurkan air mata untuk dua kesedihan sekaligus: kesedihan karena ibundanya berada di detik-detik akhir hidupnya dan kesedihan melihat negara dalam bibir kehancuran ekonomi. Dua-duanya tidak bisa ditinggal sedetik pun. Rupiah lagi terus bergerak hancur dan detak jatung ibunya juga lagi terus melemah. Dan, Sri Mulyani memilih menunggui rupiah demi nyawa jutaan orang Indonesia.

Sampai ibunya meninggalpun dia tetap tidak menyempatkan diri untuk berada di sampingnya. Hanya air matanya yang berlinang mengiringi kepergian ibunya. Sungguh nasionalisme yang ditunjukkan dengan aksi nyata tanpa kata-kata. Apalagi pidato yang berkobar-kobar seperti para politisi.

Sebelumnya dengan percaya diri dan meyakinkan Sri Mulyani juga menghadiri pertemuan Internasional KTT G20 di Washington. Dalam rangka mencari solusi mengatasi krisis dunia. Menyampaikan pemikiran briliannya untuk pemulihan ekonomi global.

Sri Mulyani mampu memikirkan keuangan internasional sekaligus keuangan nasional dalam waktu yang sama di belahan dunia yang berbeda. Karena di hari yang sama dia harus kembali ke tanah air untuk mencurahkan perhatian pada ekonomi nasional yang hampir bangkrut itu.

Belum lagi rongrongan dari dalam negeri. Para politisi yang bersikap aneh seakan tidak perduli dengan krisis yang mengancam. Mereka sibuk membangun citra politik untuk medapat simpati masyarakat. Ditambah lagi dengan celotehan para pengamat yang seakan paling serba bisa.

Dan pada akhirnya tidak sia-sia pengorbanan dan jerih payah sang “kapten”. Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara yang tidak terjerembab ke dalam pusaran krisis global saat itu.

Biarpun demikian. Sri Mulyani tidak lantas mendapat tepuk tangan dan bintang kehormatan. Yang terjadi adalah sebaliknya. Sri Mulyani diserang habis-habisan oleh para politisi yang sedang mencari pertunjukkan politik. Kasus Bank Century adalah panggung yang paling gemerlap. Dan Sri Mulyani bisa diseret-seret di sana.

Kelakuan para politisi yang haus popularitas itu diperparah lagi dengan media yang gemar mancari sensasi. Dan semakin lengkap dengan kicauan para pengamat yang berlagak serba bisa dan serba tahu. Perpaduan yang hebat. Sehingga mampu menciptakan opini publik: Sri Mulyani bukan pahlawan tapi seorang pendosa.

Hanya sedikit saja orang dinegeri ini yang menghargai jerih payah dan pengorbanan seorang Sri Mulyani. Diantara yang sedikit itu adalah Menteri BUMN yang sekarang, Dahlan Iskan. Dahlan Iskan sampai membuat artikel yang berjudul “Hati Kecil Saya Untuk Sri Mulyani”(Tiga tahun kemudian Dahlan Iskan menemukan nasib yang hampir sama, dicaci maki setelah menyelamatkan bangsa ini dari krisis listrik).

Tapi opini publik sudah terlanjur liar. Tidak bisa dibendung lagi. Sri Mulyani koruptor, harus ditangkap dan dimasukkan penjara. Sri Mulyani telah bersekongkol membobol uang negara 6,7 triliun melalui dana talangan untuk Bank Century. Atau paling tidak Sri Mulyani telah teledor menggelontorkan uang negara 6,7triliun sehingga uang itu dirampok pemilik Bank Century.

Sri Mulyani benar-benar seperti menolong anjing kejepit. Anjingnyapun tidak satu dua, tapi banyak. Setelah ditolong ternyata pemilik Bank Century sendiri menggigit Sri Mulyani. Setelah diselamatkan dari krisisis ternyata bangsa ini sendiri menggigit Sri Mulyani. Khususnya para politisi, pengamat, dan media.

Padahal apa yang dituduhkan ke Sri Mulyani itu,adalah kebijakan yang masih bisa diperdebatkan benar-salahnya. Bahkan KPK sampai dilibatkan dalam mengambil keputusan itu.

Siapa yang bisa menjamin. Tanpa talangan yang 6,7 triliun itu investor baik-baik saja. Tidak berdampak sistemik kata sebagian pengamat. Bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya? Mereka panik karena merasa pemerintah tidak memberi jaminan atas keamanan uang mereka? Dan berbondong-bondong meninggalkan Indonesia dan menarik uang mereka di bank? Dan terjadi rush yang dahsyat.

Apa iya nasib bangsa ini diperjudikan sedemikian rupa? Apalah artinya uang yang 6,7 triliun itu dibanding jika Indonesia harus terseret ke dalam krisis global yang dahsyat itu? Yang akan menyebabkan bangsa ini rugi ratusan bahkan ribuan triliun (lihat Amerika sampai mengucurkan dana talangan 850 triliun/bulan selama bertahun-tahun). Yang akan menyebabkan rakyat menderita dalam waktu lama.

Ingat ini bukan hanya masalah angka-angka. Bukan masalah besar kecilnya Bank Century. Tapi masalah psikologi dunia usaha dan investor. Bahwa uang itu di kemudian hari dirampok pemilik bank itu masalah lain.

Bintang Internasional

Disaat gawat-gawatnya serangan para politisi terhadap Sri Mulyani. Sampai DPR membuat Pansus dan memanggil begitu banyak saksi. Dan disiarkan langsung di TV berhari-hari, berbulan-bulan. Tiba-tiba Bank Dunia memanggil Sri Mulyani untuk berkiprah di sana. Ironis memang. Sri Mulyani dicemooh bangsa sendiri, di sisi lain dunia internasional sangat menghargai dan mengagumi integritas, kemampuan dan kecerdasannya. Tapi inilah kebiasaan bangsa kita. Ingat bagaimana Soekarno, Pramoedya Ananta Toer, bahkan SBY dan banyak tokoh hebat lainnya diberbagai bidang, dihormati dan dikagumi dunia internasional. Tapi dicaci maki layaknya pesakitan oleh bangsa sendiri.

Selain diangkat menjadi direktur Bank Dunia, berkat prestasi gemilangnya Sri Mulyani juga masuk ke urutan 55 dari 100 wanita paling berpengaruh dunia versi majalah Forbers. Sebelumnya Sri Mulyani menyabet predikat menteri keuangan terbaik dunia dua tahun berturut-turut.

Di dalam negeri sendiri sebenarnya reputasi Sri Mulyani tidak diragukan lagi. Dia merupakan menteri pertama yang berani mereformasi departemannya. Sangat ketat mengendalikan anggaran negara. Satu-satunya menteri yang berani minta berhenti ketika melihat gelagat pemerintah yang ingin membela konglomerat yang tidak seharusnya dibela. Menteri yang tidak segan-segan ikut turun ke laut berpatroli bersama petugas bea-cukai (Anda bisa bayangkan bagaimana resiko blusukan di tengah laut menghadang penyelundup bersenjata).

Tapi masyarakat Indonesia kebanyakan lebih percaya akan celotehan para politisi yang sudah terbukti banyak yang busuk itu. Lebih percaya kepada media yang gemar mencari sensasi untuk menaikkan oplah, hits atau pemirsanya. Masyarakat hanya mengelu-elukan pejabat yang menjadi media darling. Masyarakat lebih percaya ocehan para pengamat yang sengaja didramatisir keadaan agar laris menjadi narasumber.

Bagaimana mungkin kita harus lebih mempercayai para politisi dan pengamat itu? Para politisi itu jangankan akan dipercaya menjadi direktur Bank Dunia, menjadi satpam Bank Dunia pun rasanya mereka tidak akan dipercaya. Jangankan masuk diurutan 55 orang yang paling berpengaruh di dunia. Masuk urutan 1000 saja rasanya tidak. Jangankan sanggup menjadi menteri terbaik dunia, menjadi menteri yang tidak korup saja sudah prestasi yang ajaib, kalau tidak kita katakan hampir mustahil.

Melihat kedaan ekonomi Indonesia yang sekarang. Harga rupiah dan saham merosot. Mengenang aksi heroik dan semangat nasionalisme Sri Mulyani. Menyelamatkan bangsa ini dari krisis global 2008. Mengingat posisi strategis Sri Mulyani saat ini. Tidak berlebihan kiranya kalau sekarang kita menyarankan kepada tim ekonomi Indonesia untuk berkata: “Srimulyani tolonglah kami.”***


Lukman Bin Saleh

Senin, 02 September 2013

Dahlan Iskan : MH92 : Dari The Tarix Jabrix ke Proses Stem Cell


SUTRADARA muda yang sukses dengan film trilogi The Tarix Jabrix, Iqbal Rais (29 tahun), sudah lebih setahun ini terbaring di rumah sakit. Iqbal menderita kanker leukemia yang sulit disembuhkan.
Semula dia hanya merasa lemas dan sering pusing. Lalu pergi ke dokter di Jakarta. Iqbal dicurigai terkena anemia akut. Dia pun dimasukkan ke rumah sakit. Berbagai obat pun sudah dia minum. Tapi tak kunjung sembuh.
Ketika ayahnya hendak check up ke Malaysia, Iqbal ditawari ikut serta. Sekalian diperiksa di sana. Hasilnya: Iqbal dinyatakan terkena kanker darah. Dan setelah pemeriksaan lebih detail, kankernya sudah menyebar ke sumsum.
Tentu Iqbal tidak ikut pulang ayahnya. Dia meneruskan berobat di sana: dikemo. Ditemani istrinya yang amat tabah. Tapi, hampir setahun di sana, tidak ada kemajuan. Rambutnya sudah gundul. Akhirnya dia balik ke Jakarta. Hidupnya on off antara rumah sakit dan rumah sakit. Juga tidak ada kemajuan. Dia pun mendapat info untuk berobat alternatif di Bali. Dia jalani. Juga tidak memperoleh kemajuan. Agar dekat dengan keluarga, akhirnya Iqbal berobat di Surabaya.
Saya terus memonitor keadaannya. Dia memang selalu mengontak saya setelah membaca buku saya Ganti Hati. Ke mana pun pindah berobat, dia selalu memberi tahu saya. Sebenarnya saya ingin segera mengusulkan cara baru, tapi saya tunggu dulu hasil usaha-usaha yang biasa itu.
Namun, karena tidak juga berhasil, akhirnya saya beranikan mengusulkan cara baru itu. Tapi, bersediakah dia mencoba hal yang masih baru” Akankah dia tahan menderita terus di tempat tidur di rumah sakit” Tidakkah dia berpikir usaha biasa-biasa saja hanya akan terus menjadi beban” Beban untuk dirinya, istrinya, anak tunggalnya yang baru empat tahun, dan beban untuk seluruh keluarganya”
Apalagi, bukankah pengobatan kanker yang mahal itu harus dijalaninya dalam waktu yang panjang?
Mendengar usul saya itu, Iqbal semula agak bimbang. Dia bingung dengan rencana pengobatan baru itu. Iqbal belum banyak mendengarnya: transplantasi stem cell!
Saya terus memberinya pengertian. Juga mengenalkannya dengan tim stem cell Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dan tim stem cell RSUD dr Soetomo Surabaya. Di Unair ada lab stem cell dan bank jaringan. Ada Dr Ferdiansyah dr SpOT yang menjadi ketua regenerative medicine sebagai tim inti penggerak roda kegiatan stem cell.
Dibantu Dr Heri Suroto dr SpOT, Dr Joni Wahyuhadi dr SpBS, Dr Ugrasena dr SpA, Dr Hendy H. dr SpOG, dan Dr Dwikora dr SpOT. Total ada 50 profesor, doktor, dan dokter yang menekuni penelitian stem cell ini. Ketuanya: Prof Dr Fedik Abdul Rantam.
Saya mengenal baik para guru besar dan doktor di tim stem cell itu. Bukan saja karena saya orang Surabaya. Saya memang meminta BUMN PT Kimia Farma bekerja sama dengan Unair. Kerja sama seperti itu juga saya minta dilakukan dengan UI, Unpad, dan UGM.
Awalnya saya mengundang mereka ke Jakarta. Ternyata yang hadir lengkap. Full team. Delegasi itu dipimpin langsung oleh Rektor Unair Prof Dr Fasich Apt. Tim besar ini membeberkan semua temuan yang dihasilkan para peneliti Unair yang bisa diwujudkan secara nyata.
Salah satunya stem cell itu. Tim ini sudah melakukan stem cell kepada sekitar 40 orang dengan berbagai kasus penyakit. Ada yang karena patah tulang akibat kecelakaan, ada yang karena kelainan tulang sejak lahir, ada yang kelainan sampai jalannya membungkuk, serta ada yang karena leukemia, diabetes, stroke, dan kanker pankreas.
Iqbal saya tawari stem cell di Unair itu. Dia pun berdiskusi dengan tim. Iqbal akhirnya menerima. Pertimbangannya: toh berbagai cara sudah dilakukan dan belum berhasil. Hebatnya, Iqbal, sutradara muda berbakat ini, juga ingin mengabdikan dirinya dengan cara mendokumentasikan proses pengobatan yang nanti dijalani untuk kemajuan ilmu pengetahuan.
Minggu lalu proses awal sudah dilakukan. Penelitian atas gen dan cell-nya sudah selesai. Tim Unair sedang mencari cara agar Iqbal sedapat mungkin tidak menggunakan cell-nya sendiri. Kecuali terpaksa. Biasanya cell keluarga dekatnya cocok. Tapi, cell adik dan kakaknya ternyata tidak cocok.
“Padahal, kalau cocok 70 persen saja sudah cukup,” kata Dr Purwati, sekretaris tim stem cell Unair. Dr Purwati, arek Jombang yang alumni Unair itu, mengambil gelar doktor di bidang ini. Juga di Unair. Disertasinya mengenai stem cell untuk pengobatan HIV..
Dalam hal Iqbal, kalau pemeriksaan atas cell orang tuanya nanti juga tidak membuahkan hasil, masih akan dicarikan dari bank cell di luar negeri. Kalaupun tidak bisa, baru akan diambilkan dari cell Iqbal sendiri.
Intinya, menurut Purwati, sejumlah cell imum Iqbal akan diambil. Lalu dikembangkan di laboratorium selama antara 12 sampai 14 hari. Setelah itu cell imum yang sudah dikembangkan tersebut ditransplankan ke dalam darah Iqbal. Untuk itu, proses kemonya diteruskan dulu guna mematikan kankernya. Lalu cell imum yang ditransplankan bekerja.
Saya bangga dengan Iqbal yang siap menjalani semua itu. Ini memang ilmu baru, tapi Iqbal bersedia menjalaninya. Saya akan minta kepada Dr Purwati untuk mempertemukan Iqbal dengan pasien-pasien yang sudah berhasil dengan stem cell tersebut. Untuk membesarkan hatinya.
Kerja sama Unair dengan BUMN sendiri tidak terbatas pada stem cell. Juga pada pengembangan pil KB untuk pria. Penelitinya adalah Prof Dr Bambang Prayogo. Ahli lulusan Unair ini menemukan pil KB untuk pria setelah bertugas lama di Papua.
Waktu itu Prof Bambang mengamati adat yang unik di Papua. Pria yang belum bisa menikah karena belum mampu membayar mahar berupa puluhan babi tetap bisa melakukan hubungan badan dengan kekasihnya asal tidak sampai hamil. Untuk itu, pria Papua memakan daun tertentu sebagai pil KB untuk pria.
Tanaman itulah yang terus diteliti Prof Bambang. Hasilnya nyata. Maka saya pun minta Kimia Farma menyiapkan produksinya.
Belakangan banyak orang kaya kita yang melakukan stem cell ke Eropa, Jepang, Korea, dan Tiongkok. UI (Universitas Indonesia) dan Unair sudah mampu melakukannya! Unair lagi mengarah ke stem cell untuk liver. Agar liver yang sudah sirosis pun bisa diatasi! (*)
Oleh Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Senin, 26 Agustus 2013

Dahlan Iskan : MH91 : Sorgum, Sapi, dan Burung di Belu


Pesawat militer CN 295 TNI AU mendarat mulus di landasan yang hanya 1.200 meter yang masih berdebu di Atambua, Belu. Kabupaten yang berbatasan dengan Timor Leste. Itulah pertama kali saya naik pesawat yang sudah lama saya sebut-sebut namanya tapi belum pernah saya rasakan terbangnya.
Cuaca pagi Atambua sangat cerah. Meski sudah mulai menggersang tapi udaranya enak, tidak panas menyengat: 28 derajat. Ini berbeda dengan kedatangan saya ke Atambua lima bulan lalu. Saya harus jalan darat dari Dili, Timor Leste. Itu karena mendung tebal terus menggelayut di langit Atambua sepanjang hari. Itulah hari pencanangan gerakan sorgum dengan langkah awal uji coba penanaman pertama. Hujan terus mengguyur upacara. Wah ini pertanda akan tersendat atau justru sebaliknya akan berkah.
Hujan itu ternyata berkah. Sabtu lalu, ketika saya ke Atambua lagi, sorgumnya sudah panen. Bagus lagi. Murid-murid SMK Atambua dan SMK Kupang juga sudah bisa memamerkan semua peralatan buatan mereka: pemerah batang sorgum untuk jadi gula, perontok biji sorgum, penyosoh, destilasi bioethanol, pencacah ampas, mixer pupuk, dan seterusnya.
Ini hasil dari pendidikan dua bulan di Jakarta. Anak-anak SMK itu memang dikirim ke Jakarta untuk melakukan reverse engineering. Dengan demikian Atambua tidak tergantung pada alat-alat impor atau buatan pabrik. Mereka bisa bikin sendiri. Dan kalau rusak bisa memperbaiki sendiri. Tidak akan terulang cerita lama: bantuan peralatan untuk pedesaan banyak tidak berfungsi karena begitu rusak tidak tahu cara memperbaikinya.
Bupati Belu, Joachim Lopez, tidak hanya gembira karena sorgumnya sudah panen, tapi lebih gembira lagi karena telah terjadi perubahan cara berpikir petani. Itu yang dia ucapkan di panggung. Bupati Belu memang lagi ingin mengubah pola pikir masyarakatnya.
Lopez berhasil mengubah adat lama yang sangat menghambat upaya meningkatkan perekonomian masyarakat. Misalnya adat kematian. Bupati mengeluarkan peraturan baru: orang meninggal harus segera dikubur. Paling lama dua hari. Tidak boleh lagi mayat ditahan sampai seminggu. Apa hubungannya dengan ekonomi?
“Kalau mayat ditahan selama tujuh hari berarti ada tujuh sapi yang dipotong,” katanya. Itu berarti upaya mengembangkan ternak sapi hanya habis dibuat pesta. Apalagi banyak juga yang sampai berutang untuk membeli sapi itu.
Apa sanksi bagi yang menahan mayat lebih dari dua hari? Jelas: tidak akan ada pendeta yang datang untuk memberkati pemakamannya. Untuk itu Bupati Lopez minta dukungan keuskupan Atambua. Uskup setuju. Kini di setiap ada kematian maksimum hanya dua sapi yang dipotong.
Demikian juga saat banyak sapi memangsa tanaman muda sorgum. Bupati bikin kesepakan dengan masyarakat adat. Ketua adat pun membuat keputusan: kalau ada sapi yang masuk ke ladang sorgum, sapinya boleh dipotong. Sejak itu tidak ada lagi tanaman sorgum yang rusak. Pernah terjadi satu sapi lolos ke ladang sorgum. Ketua adat benar-benar memutuskan memotong sapi itu. Aman.
Setelah sorgumnya berbuah, muncul ancaman baru. Kali ini masyarakat adat tidak mungkin lagi bisa mengatasi: serbuan burung! Ribuan burung datang bertengger di pucuk sorgum! Sambil mematuk-matuk.
Saya terpikir kinilah saatnya minta bantuan mahasiswa. Terutama fakultas pertanian dan elektro. Merekalah yang kini harus menemukan cara mengatasi burung. Yang bisa menemukan ide yang realistis-aplikatif akan saya berikan hadiah.
Dirut PT Batantekno Dr Yudiutomo Imardjoko yang ahli nuklir terkemuka di dunia itu (termasuk ahli nuklir untuk tanaman dan makanan) akan mengumumkan di website PT Batantekno (www.batantek.com) mengenai detil sayembara ini.
Batantekno sendiri akan mencoba berbagai ilmu dan teknologi yang mereka kuasai, namun siapa tahu ada mahasiwa atau dosen yang memiliki ide yang lebih baik.
Batantekno memang ditugasi untuk urus sorgum di NTT sebagai bentuk pengabdian untuk daerah miskin. Dananya dari PT Pertamina, PT Askes, dan beberapa BUMN lain. Tapi teknologi dan manajemennya diserahkan ke Batantekno.
Saya salut dengan kegigihan tim Batantekno ini. Dr Yudiutomo, yang pada umur 35 tahun sudah dipanggil Kongres Amerika Serikat untuk mempertanggungjawabkan penemuannya di bidang nuklir, ingin menuntaskan soal sorgum ini.
Waktu itu Yudi ikut mengajukan rancangan teknologi penyimpanan sampah nuklir yang bisa bertahan sampai 10.000 tahun. Karena dianggap hebat, Yudi dipanggil Kongres. Dia diminta memaparkan penemuannya. Akhirnya Yudi terpilih masuk tiga terbaik rancangan penyimpanan sampah nuklir di AS. Tiga-tiganya disetujui untuk diikutkan tender di masa yang akan datang.
“Disertasi doktor saya di AS memang soal penyimpanan sampah nuklir,” kata Yudiutomo.
Kini Yudi dan Batantekno dipercaya oleh perusahaan nuklir AS untuk merancang reaktor nuklir untuk kedokteran di sana. Saya pun mengizinkan Batantekno untuk membuat perusahaan patungan dengan perusahaan nuklir AS.
Waktu saya meninggalkan Atambua untuk ke Rote, Flores, dan Bali, Yudi masih tinggal di Atambua. Setelah panen sorgum ini dia masih harus menuntaskan model bisnisnya. Agar keberlanjutan proyek sorgum ini lebih terjamin.
Di Rote saya juga bertemu seorang bupati yang hebat: Lens Haning. Dia juga berhasil mengubah kebiasaan yang menyulitkan pengembangan ekonomi masyarakatnya. Dia keluarkan peraturan baru: upacara-upacara adat hanya boleh menyembelih satu ekor sapi.
Rakyat bisa menerima aturan baru itu. Terbukti Haning terpilih lagi untuk periode kedua. Tinggal menunggu pelantikannya.
Bupati Haning juga punya tekad lain: saya sanggup mengeluarkan daerah ini dari status daerah tertinggal kalau pemerintah pusat membangunkan tiga bendungan irigasi di Rote. Masing-masing biayanya hanya sekitar Rp 15 miliar!
Begitulah! Harapan, hope, dan optimisme bisa muncul di mana-mana dan dari siapa saja, dengan berbagai jabatannya. (*)
Oleh Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Senin, 19 Agustus 2013

Dahlan Iskan : MH090 : Pertamina yang Harus Lebih Merdeka


Manufacturing Hope 90
Ucapan selamat itu mula-mula saya ragukan. Karena itu saya tidak segera menanggapi. Masak sih Pertamina sudah berkembang sehebat itu? Sudah bisa masuk Fortune Global 500? Maka SMS dari wartawan itu saya abaikan.
Tapi kian sore SMS sejenis terus berdatangan. Kepada salah seorang yang saya kenal tidak biasa guyon, saya balas SMS itu: benarkah Pertamina masuk Fortune Global 500? Beritanya dari mana? Sumbernya tepercaya?
Ternyata datang balasan: berita itu bersumber dari konferensi pers resmi Fortune, majalah ekonomi perusahaan terkemuka Amerika Serikat. Jadi berita itu bukan isapan jempol atau olok-olok.
Saya masih belum percaya. Saya hubungi Dirut Pertamina Karen Agustiawan untuk mengecek apakah dia juga sudah mendapat berita itu. Sama. Sudah. Dia juga cukup hati-hati. Dia melakukan check and recheck. Ternyata benar adanya.
Majalah ini sudah puluhan tahun, tiap tahun, melakukan pemilihan 500 perusahaan terbaik. Daftar itu diumumkan setahun sekali di majalah yang sangat prestisius itu. Sudah begitu legendarisnya daftar 500 perusahaan terbaik dunia versi majalah Fortune itu sehingga banyak CEO memiliki target untuk bisa masuk Fortune Global 500.
Saya pun demikian. Saya berharap di akhir masa jabatan saya sebagai menteri akan ada salah satu BUMN yang berhasil masuk Fortune Global 500. Cita-cita seperti itu bukan hanya saya yang memiliki. Satu kelompok ekonom Indonesia pernah merumuskan road map untuk kemajuan Indonesia di tahun 2020. Salah satu rumusannya adalah: pada tahun 2020 diharapkan sudah ada lima perusahaan Indonesia yang masuk Fortune Global 500.
Bahwa Pertamina yang menjadi perusahaan pertama Indonesia yang berhasil masuk Fortune Global 500 awalnya tidak banyak diperhitungkan. Perkiraan awal dulu, swastalah yang pertama masuk kelompok itu. Misalnya dari Grup Salim, Prajogo Pangestu, Grup Astra, kelompok Gudang Garam, atau kelompok Djarum. BUMN dengan keterbatasannya di bidang pengembangan perusahaan tidak banyak diharap. Terutama di akhir-akhir masa Orde Baru.
Tapi begitu dua tahun lalu laba Pertamina mencapai Rp 23 triliun dan tahun 2012 naik menjadi Rp 25 triliun, laju BUMN ini tidak akan bisa dikejar swasta. Apalagi kalau harga elpiji boleh mengikuti harga pasar. Laba Pertamina tahun lalu bisa naik Rp 5 triliun menjadi Rp 30 triliun. Ini karena dari bisnis elpiji 12 kg saja, Pertamina rugi Rp 5 triliun.
Meski begitu saya tidak menyangka bahwa tahun ini Pertamina sudah masuk Fortune Global 500. Secepat-cepatnya, saya perkirakan, baru tahun depan. Bahkan nomor urutnya pun tidak terlalu diharap sebegitu tinggi: 122. Semula saya mengira di nomor 360, atau bahkan 420 pun ok. Yang penting sudah berhasil masuk Fortune Global 500.
Tentu senang sekali Pertamina bisa di nomor urut 122. Hanya saja beban psikologi dan beban kerja Pertamina menjadi lebih berat.
Terutama apakah iklim untuk Pertamina tetap bisa sebaik sekarang. Kedua, apakah Pertamina tidak dikejar perusahaan-perusahaan lain dari Amerika, Eropa, atau Tiongkok. Terutama setelah krisis di AS tidak lagi seburuk tahun lalu dan krisis di Eropa juga mulai menunjukkan tanda-tanda bisa diatasi.
Maka tidak ada jalan lain bagi Pertamina kecuali terus bekerja lebih keras. Juga harus terus meningkatkan integritas. Agar manajemen tidak banyak diganggu oleh intervensi, berbagai kepentingan dan korupsi.
Meningkatkan produksi minyak mentah dalam negeri tidak bisa ditawar. Jalannya memang lebih sulit, tapi bukan tidak bisa. Pertamina masih memiliki sekitar 5.000 sumur tua yang sudah tidak produktif. Siapa pun sepakat bahwa sumur tua itu masih bisa direvitalisasi.
Sambil mengerjakan sumur baru yang akan memakan waktu lebih lama, revitalisasi sumur-sumur tua akan bisa menghasilkan peningkatan produksi lebih cepat. Hasilnya memang tidak banyak, tapi kalau dikerjakan serentak di ribuan sumur jumlah perkaliannya luar biasa juga.
Pertamina sudah melangkah ke tiga arah itu: mencari sumur baru, merevitalisasi sumur-sumur tua, dan masuk ke sumur-sumur produktif yang ada secara business to business.
Langkah-langkah cepat itu juga memerlukan dukungan yang cepat pula dari SKK Migas yang dulu bernama BP Migas. Inilah yang membuat saya lenger-lenger ketika mendengar Kepala SKK Migas Prof Dr Ir Rudi Rubiandini ditangkap KPK. Saya sebagai Menteri BUMN dan dia sebagai Kepala SKK Migas sedang merumuskan penyederhanaan izin usaha Migas.
Pertamina sungguh berharap penyederhanaan perizinan itu bisa dilakukan SKK Migas.
Untunglah jajaran di SKK Migas tetap komit pada penyederhanaan perizinan itu. Dengan atau tanpa Rudi Rubiandini.
Sebagai langkah pertama, empat lokasi sumur tua mulai direvitalisasi. Kali ini bekerjasama dengan perusahaan swasta dan asing. Setelah percaya diri bahwa sumur tua benar-benar bisa direvitalisasi, tim Pertamina sendiri harus mampu melaksanakan tanpa harus bekerjasama dengan pihak lain.
Saya percaya anak-anak muda Pertamina sanggup membuktikannya. Tim Brigade 300K Pertamina yang dibentuk untuk itu akan bisa mengerjakannya.
Misalnya saja Hermawandi. Dia menemukan teknologi baru yang sederhana untuk revitalisasi sumur tua. Dia namakan teknologi itu: X-Flow. SKK Migas sudah setuju Hermawandi mencobanya di 15 sumur tua di Siak, Riau. Sudah delapan bulan dilakukan.
Hasilnya luar biasa. Sumur yang semula hanya menghasilkan 3 barrel minyak mentah per hari, bisa meningkat menjadi 60 barrel per hari.
Kini Hermawandi sudah lebih percaya diri. Dia ajukan lagi untuk bisa dicoba di 50 sumur tua. Izin sedang diajukan ke SKK Migas, dan sudah dalam proses persetujuan.
Tapi 50 dari 5.000 sumur tua masih terlalu sedikit. Pertamina harus mendorongnya lebih agresif. Kalau perlu memfasilitasi agar Hermawandi bisa memproduksi alat-alat X-Flow lebih banyak dan lebih cepat. Agar jangan hanya bisa memproduksi peralatan X-Flow 15 buah sebulan. Dengan perizinan yang juga lebih cepat dan massal.
Kalau 5.000-an sumur tua itu bisa direvitalisasi dengan cepat, dalam setahun kenaikan produksi minyak mentah akan bisa naik sampai 60.000 barrel per hari. Satu jumlah yang sangat besar untuk ukuran Indonesia saat ini. Lalu bisa mengurangi impor minyak kita yang rakus akan devisa negara.
Saya percaya Pertamina bisa melakukan itu dengan cepat. Orang teknologi, orang lapangannya, dan orang operasinya tidak boleh kalah dengan orang keuangannya. Saya bangga bahwa Pertamina kini juga sudah bisa jadi contoh untuk kecepatan laporan keuangan. Padahal di masa lalu laporan keuangan Pertamina sangat terkenal leletnya.
Tahun ini laporan keuangan Pertamina berhasil menjadi yang tercepat di seluruh BUMN. Laporan keuangan tahun 2012 sudah bisa diselesaikan di bulan Februari tahun 2013. Padahal Pertamina adalah grup perusahaan yang anak-anaknya begitu banyak, yang jaringannya begitu luas, dan yang ragam usahanya dari paling hulu ke paling hilir. Dan skala keuangannya ratusan triliun. Toh bisa menyelesaikan laporan keuangan di bulan Februari.
Sungguh tidak mudah mencapai prestasi itu. Swasta besar pun sudah kalah oleh Pertamina di bidang ini.
Karena itu ketika Karen Agustiawan mengajukan permintaan untuk melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di akhir Februari lalu, saya langsung menyetujuinya. Itulah RUPS pertama di tahun ini di linngkungan BUMN. Saat itu saya juga tidak mendengar ada swasta yang sudah mampu menyelenggarakan RUPS lebih cepat dari Pertamina.
Bayangkan kalau Pertamina bisa merdeka dari segala macam intervensi dan kepentingan. Alangkah besarnya dia!
Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Senin, 12 Agustus 2013

Dahlan Iskan : MH089 : Malam ke-29 di 400 Meter Ketinggian


Dari lantai atas hotel Fairmont Mekah ini saya bisa menatap Ka’bah yang agung di tengah-tengah pusaran manusia yang lagi tawaf di Masjidil Haram. Di lantai inilah saya siap-siap shalat tarawih malam itu, malam ke-29 bulan puasa. Di lantai ini pulalah saya diagendakan bertemu pemilik kerajaan bisnis Saudi Binladin Group, Syekh Bakr bin Ladin.
Inilah lantai di mana Syekh Bakr tinggal. Salah satu ruangannya dijadikan tempat shalat. Yakni ruang yang persis menghadap Masjidil Haram. Dari kaca ruang ini, lautan manusia di bawah sana terlihat menyemut. Masjid yang terang lampunya bak siang itu, dengan menara-menara yang gemerlap bercahaya. Manusia di dalamnya terlihat tidak henti-hentinya memutari Ka’bah.
Dari sini pula terlihat bangunan baru yang arsitekturnya mirip Masjidil Haram. Inilah bangunan tambahan yang besarnya melebihi Masjidil Haram itu sendiri. Bangunan ini hampir jadi. Letaknya persis di sebelahnya dalam posisi menonjol karena bertumpu di bukit yang lebih tinggi. Lokasi ini dulunya dikenal sebagai Hotel Mekah dan sekitarnya. Bulan puasa tahun depan bangunan ini jadi 100 persen.
Dari arah atas ini pula terlihat seperempat bagian Masjidil Haram yang dibongkar dan kini sedang dibangun lagi. Di bagian inilah BUMN PT Waskita Karya (Persero) Tbk ikut berperan. Proyek ini didapat Waskita dari kontraktor utama Binladin. Tiap tahun ditargetkan seperempat pembongkaran dilakukan untuk dibangun kembali. Dengan demikian seluruh Masjidil Haram selesai direnovasi tahun 2018. Berarti, selama itu pula Waskita akan terus bekerja di sana. Insya-Allah.
Dari kamar khusus Syekh Bakr itu semua aktivitas di Masjidil Haram dan sekitarnya terlihat sempurna.
Saya, Dirut Waskita Karya M Choliq, dan manajer Waskita di Arab Saudi, sudah siap di kamar itu menjelang adzan Isya. Ditemani beberapa staf inti Binladin Group. Termasuk adik kandung Syekh Bakr yang juga direktur keuangan grup itu.
“Syekh masih di sana, tapi segera tiba,” ujar salah satu staf inti Binladin Group. Berkata begitu ia sambil menunjuk bangunan tinggi di sebelah Masjidil Haram, arah kanan depan Fairmont Hotel. Itulah bangunan di mana Raja Arab Saudi dan keluarganya tinggal untuk beribadah selama 10 hari terakhir bulan puasa.
Syekh Bakr bin Ladin masih di gedung kerajaan itu. Kami pun shalat tarawih mengikuti imam Masjidil Haram. Sound system di kamar itu memang tersambung sound system masjid. Adzan dan suara imam juga tersambung ke seluruh kamar hotel sehingga banyak penghuni hotel yang shalat lima waktu di kamar masing-masing dengan imam dari Masjidil Haram.
Usai shalat tarawih, yang ditunggu pun tiba. Syekh Bakr ternyata cukup santai, tanpa tutup kepala dan bicaranya ceplas-ceplos seperti umumnya pengusaha. Di situlah kami membicarakan proyek-proyek Waskita dan masa depannya. Termasuk keinginan Syekh Bakr untuk terus menambah orang agar Waskita bisa ikut mempercepat penyelesaian proyek.
“Di sini selalu diinginkan serba cepat. Proyek lima tahun kalau bisa selesai dalam dua tahun,” kata Syekh Bakr.
Ternyata Syekh Bakr juga sudah tahu maksud kedatangan saya. “Waskita akan kami ikutkan di proyek perluasan Masjid Nabawi di Madinah,” tegasnya. “Kalau perlu tidak hanya proyeknya. Juga sampai pemeliharaannya,” tambahnya. “Pokoknya peranan Waskita harus kita tingkatkan terus,” katanya lagi. Kali ini sambil menatap wajah-wajah staf intinya.
Entah apa yang baru dia bicarakan di gedung kerajaan di sana, yang jelas malam itu Syekh Bakr menyambut baik semua rencana kami. Termasuk mengundangnya untuk berinvestasi di Indonesia. “Kami akan serius masuk Indonesia,” katanya.
Yang juga terlihat spontan adalah kata-kata terakhirnya kepada para stafnya: tiap tahun beliau ini harus jadi tamu kita di sini, dan malam ini antarkan beliau ke atas!
Saya tidak menyangka mendapat kesempatan naik ke ketinggian 400 meter di puncak bangunan itu. Yakni ke ruangan yang terletak di balik “Jam Mekah” warna hijau yang terlihat dari seluruh penjuru kota, bahkan terlihat dari Mina dan Muzdalifah itu. Inilah jam terbesar yang diletakkan di ketinggian tertinggi di dunia. Kalau Big Band London yang terkenal itu tingginya hanya enam meter, Jam Mekah ini 43 meter!
Tulisan “Allah” (dalam huruf Arab) yang ada di dekat jam itu terbesar dan tertinggi di dunia. Panjang huruf alifnya saja 23 meter.
Ruangan di balik jam itu ternyata dijadikan diorama untuk menunjukkan keagungan jagad raya. Foto tiga dimensi matahari, lengkap dengan inti matahari, ada di situ. Demikian juga foto tata surya, jagad raya dan planet-planetnya. Termasuk pergerakan putaran bumi dan planet-planet lainnya. Ayat-ayat Al Quran yang terkait dengan alam raya di-display di sana-sini. Di ruang ini kita sungguh mengagumi terciptanya alam raya. Dan lebih-lebih mengagumi penciptanya.
Jam itu benar-benar raksasa. Empat buah jumlahnya untuk empat penjuru angin. Beratnya 23 ton!
Warna dasar jam itu hijau. Warna itu dibentuk oleh lampu-lampu LED dengan background material warna putih. Untuk menghijaukan warna empat buah jam itu diperlukan dua juta lampu LED.
Jarum jamnya dibuat warna putih yang juga terbentuk oleh lampu LED bercahaya putih, dengan dasar material hitam.
Pilihan warna dasar hijau dan jarum warna putih ini berdasar hasil riset yang mendalam. “Warna hijau dan putih adalah warna yang bisa terlihat dari jarak paling jauh. Sejauh apa pun, Anda masih bisa melihat jam ini dengan jelas. Kalau warna lain tidak akan sejelas hijau dan putih,” ujar seorang Jerman, muslim, arsitek gedung sekaligus pendesain jam ini. Saya beruntung bahwa dia diminta mendampingi saya untuk menjelaskan semua itu.
Keperluan listrik untuk jam ini saja, ampun-ampun, 2 MW! Maklum mesin jam itu (bisa kami lihat dari arah belakang jam) seperti gigi-gigi mesin pabrik gula!
Di ketinggian 400 meter itu (sekitar empat kali tinggi Monas) juga tersedia balkon. Kita bisa ke luar gedung untuk melihat Ka’bah dari atas. Juga untuk melihat seluruh kota Mekah. Allahu Akbar!
Tidak hanya Fairmont yang ada di gedung ini. Juga beberapa hotel lainnya. Superblok ini (disebut Clock Tower) memang sangat besar. Lantai bawahnya dibuat mal yang di waktu shalat diubah jadi tempat shalat berjamaah. Lantai mal ini memang connect dengan halaman Masjidil Haram. Beberapa lantai bagian depan superblok ini juga untuk masjid yang makmum ke imam Masjidil Haram.
Di salah satu ruang di Clock Tower ini pula saya menerima Presiden Islamic Development Bank (IDB), Dr Ahmed Muhammed Ali sehari sebelumnya. Terutama karena IDB memiliki fasilitas kredit ekspor. Fasilitas inilah yang harus dimanfaatkan oleh PT Dirgantara Indonesia (Persero) untuk menjual pesawat ke negara-negara anggota IDB. Saya minta manajemen PT DI serius menindaklanjutinya.
Bahkan kalau perlu BUMN lain tidak usah memanfaatkan kredit IDB. Seluruh dana IDB untuk Indonesia yang sebesar Rp 30 triliun bisa dialokasikan sepenuhnya untuk penjualan pesawat PT DI. Sedangkan untuk dermaga pelabuhan Belawan Medan, misalnya, Pelindo I sebenarnya mampu membiayainya sendiri. Bahkan bisa lebih cepat terwujud.
Kalau BUMN lain meminjam dana itu, BUMN itu yang harus mengembalikannya. Tapi kalau PT DI yang dapat fasilitas itu, negara pembeli pesawat yang harus melunasinya. Dr Ahmed terlihat antusias untuk bisa membiayai ekspor pesawat PT DI. “Saya pernah berkunjung ke PT DI di Bandung. Saya sangat terkesan,” katanya. “Waktu itu saya diundang Dr Habibie,” tambahnya.
Indonesia adalah anggota penting IDB. Juga salah satu pendirinya. Di ulang tahun IDB ke-40 tahun depan, ada baiknya ditandai dengan terealisasinya kredit ekspor untuk PT DI itu.
Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Selasa, 06 Agustus 2013

Dahlan Iskan dan Monorel BUMN


Monorel seperti barang yang sangat fenomenal sekarang-sekarang ini. Beberapa pihak sudah menyatakan kesanggupannya dalam menyiapkan monorel untuk untuk sarana transportasi  alternative anti macet. Salah satunya adalah Monorel konsorsium BUMN.

Dibawah komando Dahlan Iskan, Konsorsium Monorel BUMN sudah sangat siap dalam proyek pembangunan monorel yang sedianya akan dikerjakan di Jakarta, Bogor dan Bekasi. Tapi entah mengapa ketiga Pemda yang tadinya sangat bersemangat seolah diam seribu bahasa.

Tapi setelah munculnya gubenur Jawa Barat yang lagi-lagi membawa bendera monorail china menjadi satu isyarat tentang berubahnya gelagat pada pemda Bogor dan Bekasi.

Seperti juga Walikota bandung yang bertekuk lutut terhadap rencana gubenur Jawa Barat. Padahal mentri BUMN sudah bersedia menyisihkan waktu untuk menerima kedatangan seseorang yang dianggap mempunyai rasa empati hasil karya bangsa sendiri dengan mau membangun Monorel BUMN di daerahnya.

Semua media menjadikanya monorel sebagai tulisan menarik. Perusahaan monorel yang sudah nampang lainnya antara lain :
1. CNR Changchun Railway Vehicle Co. Ltd. china. Sekarang proyek monorel Jakarta
2. China National Machinery Import and Export Coorporation, perusahaan ini digandeng gubenur Jawa Barat untuk membangun monorel Jawa Barat plus membiayainya..
3. JK group. Belum pernah lihat gambar monorelnya. Mungkin juga monorel akan mengunakan produksi luar negeri.
4. PT.MBW Cibitung,

Banyak orang menyayangkan dipilihnya monorel buatan china. Kemampuan produk anak negeri yang diwakili oleh monorel BUMN sudah jelas lebih unggul, nampaknya tidak mampu mengetarkan rasa patriotisme pemegang kebijakan.



Rasanya pembangunan monorel untuk mengatasi macet hanya kepentingan bisnis semata. Jiwa nasionalime sayapun tercabik-cabik. Jika negara atau pemegang kebijakan mau berbuat untuk negeri ini, negara bisa melakukan penunjukan langsung.

Tidak perlu bersembunyi dibalik undang2 pengadaan barang. Ini harusnya dijadikan proyek mercusuar yang mampu memberitahuan dunia bahwa Indonesia pun mampu walau sudah terlambat. Proyek yang setidaknya menaikan harga diri bangsa.

Beberapa penjelasan dari orang dekat Jokowi kenapa tidak memilih monorel BUMN dikarenakan konsorsium BUMN dianggap belum mampu dalam memproduksi dan belum ada tinjauan keamanannya, hal ini  mungkin bisa diterima oleh masyarakat awam.

Namun hanya akan menjadi tertawaan untuk orang-orang yang bergelut di bidang tehnik. Sepertinya  itu hanya pembelaan, hanya mengiring opini bahwa monorel adalah alat transportasi dengan teknologi tinggi, Indonesia memerlukan beberapa tahun lagi untuk mampu membuatnya.

Mari kita menelisik teknologi monorel.
Monorel sudah dikembangkan sejak mulai abad ke 19. German, Irlandia dan US adalah negara yang memulai pengembangan monorel.

Monorel sebetulnya terdiri dari dua jenis yaitu top running dan bottom running, mengadopsi prinsip kerja kerekan alat bantu (lihat gambar bawah) yang mengunakan sebuah besi sebagai jalur pergerakannya.




Monorel bottom running
Orang mungkin hanya mengira jika monorel itu hanya  seperti yang sekarang dilihat di media-media, sebetulnya pengadopsian kerekan dimana pure berjenis bottom running sudah dibuat di German.
Kita lihat gambar dibawah ini :



Type bottom running cukup merepotkan bagian kontruksi. Selain ruang yang digunakan besar juga perhitungan load stressnya yang cukup menantang. Coba untuk para praktisi tehnik dan mahasiswa teknik sipil perhatikan load stressnya, bisa dibayangkan formula beban yang diperlukan tidak mudah tapi tidak bisa juga dibilang sulit.

Perbaikan monorel  pada rel-nya.



Monorel Top Running
Monorel BUMN, Monorel PT.MBW dan China berjenis top running dimana lock bergerak diatas relnya seperti Kereta Api biasa.  Indonesia termasuk yang telambat dalam pembangunan monorel jika dibandingan dengan Negara tetangga.

Monorel top running juga memiliki beberapa macam design pada sisi design roda penggerak. Gambar dibawah adalah monorel yang didesign dengan pengerak  dua roda vertical seperti layaknya kereta api konvensional hanya ditambah dengan roda penggapit dipasang horizontal.



Tapi sebagian besar teknologi gerak monorel menggunakan roda pada posisi horizontal, hal ini karena akan mempermudah pada pembangunan konstruksi rel dan aspek safety yang lebih secured. Design seperti inilah yang digunakan oleh monorel BUMN, Kita lihat gambar dibawah ini design roda horizontal.



Aspek safety dalam membangun monorel sudah sangat baku. Safety operation yang terdiri dari maksimum lift design load, safety impact , load factor used, maximum angle due to side pull dan stating maximum capacity. Ini bukan hal yang aneh di bidang engineering.

Untuk membangun kontruksi tiang monorel tidak lebih sulit membuat jalan layang atau jalan tol diatas laut yang sudah dibuktikan oleh BUMN konstruksi kita. Perhitungan design Load factor, load combination dan allowable stress bukan barang baru dalam dunia konstruksi Indonesia.
Kita tengok kemampuan BUMN membuat jalan tol diatas laut Bali dalam waktu 1 tahun, yang berarti BUMN sudah lihay dalam hal konstruksi. Konstruksi itu 70% dari pengerjaan Monorel. Kemampuan BUMN kontruksi kita sudah banyak diakui oleh negara luar.

Perlu diingat bahwa hanya BUMN-lah satu-satunya korporasi yang memiliki semua aspek dalam pembangunan monorel, BUMN Semen/beton, BUMN Baja, BUMN konstruksi, BUMN Pabrik Kereta Api, BUMN Operator Kereta Api, BUMN Teknologi Persinyalan, BUMN Telekomunikasi, dan BUMN Keuangan.

Kekhawatiran saya adalah, “Kalau proyek monorel yang bisa mengangkat harga diri dan harapan bangsa saja bisa lepas dari tangan BUMN. Bagaimana dengan pembangunan 6 ruas jalan tol baru di DKI Jakarta? bisa-bisa akan “diberikan” juga oleh Jokowi kepada kontraktor swasta asing.”

Salah satu penyesalan saya kepada Jokowi adalah dulu dia adalah figur yang menggebrak perhatian bangsa Indonesia ketika memperjuangkan hasil keringat anak bangsa, mobil esemka, setelah sukses mengendarai mobil esemka sampai ke kursi DKI 1, kini sepertinya jokowi malah akan menumpang gerbong monorail cina untuk menuju kursi RI-1?

Dari uraian diatas terlihat monorel bukanlah barang yang sangat sulit dibuat, monorel masih bisa dibilang termasuk varian dari kereta api. Konsorsium monorel BUMN memiliki kompetensi yang sangat mumpuni membuat Monorel.

Jadi tidak ada alasan jika ada yang menolak Konsorsium BUMN yang merah putihkecuali alasan yang lain paling masuk akal yaitu tidak ada fee untuk bekerja dengan BUMN.
Sangat menyesakan dada. Tapi ada sedikit obat luka diberikan Dahlan Iskan yaitu pembangunan monorel bandara Soetta yang ngak pake ribet.



Ternyata Dahlan Iskan lebih merah putih dibandingkan Aher ataupun Jokowi yang katanya tenar seantero Indonesia.

Sabtu, 13 Juli 2013

Teknologi : Baterai Lithium Nipress

BATERAI LITHIUM PENYOKONG PENGEMBANGAN MOBIL LISTRIK

Secara resmi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan meluncurkan baterai lithium pertama di Indonesia. PT Nipress Tbk didaulat menjadi salah satu konsorsium penyokong industri mobil listrik nasional untuk penyedia baterai lithium.
“Selamat, Indonesia hari ini luncurkan baterai lithium pertama di Indonesia. Ini sebelumnya belum pernah,” kata Dahlan di PT Nipress Tbk di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (13/7).

Senin, 29 Oktober 2012

Dahlan Iskan : MH49 : Temuan Inefisiensi yang Mestinya Melebihi Rp 37 Triliun

MH049 -Temuan Inefisiensi yang Mestinya Melebihi Rp 37 TriliunBENARKAH BPK menemukan inefisiensi di PLN sebesar Rp 37 triliun saat saya jadi Dirut-nya? Sangat benar. Bahkan, angka itu rasanya masih terlalu kecil. BPK seharusnya menemukan jauh lebih besar daripada itu. Contohnya ini: Rabu subuh kemarin saya mencuri waktu sebelum mengikuti acara peresmian pelabuhan kontainer Kariangau, Balikpapan, oleh Bapak Presiden SBY. Masih ada sedikit waktu untuk saya menyelinap ke Senipah. Jaraknya memang 1,5 jam dari Balikpapan, tapi dengan sedikit ngebut masih akan oke.
Di Senipah sedang dibangun pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) 80 mw. Awalnya, sebelum saya menjabat Dirut PLN, proyek itu menghadapi persoalan birokrasi besar. Saya datang ke Senipah di dekat muara Sungai Mahakam itu. Persoalan selesai. Proyek bisa dibangun.Ini penting bukan saja agar kekurangan listrik di Kaltim segera teratasi, tapi PLN pun bisa berhemat triliunan rupiah. Lebih efisien. Kasus Kaltim tersebut (juga Kalselteng) sangat memalukan bangsa. Daerah yang kaya energi justru krisis listriknya terparah.
Kini, ketika pembangunan PLTG Senipah itu hampir selesai, ada persoalan lagi. Untuk membawa listrik itu ke Balikpapan dan Samarinda, harus melewati tanah Pertamina. Saya pun harus mencarikan jalan keluar. Beres. Tiga bulan lagi proyek itu sudah menghasilkan listrik. Efisiensi triliunan rupiah segera terwujud.
Dengan kata lain, selama ini telah terjadi inefisiensi triliunan rupiah di Kaltim. Inefisiensi itu tidak ditemukan oleh BPK.
Contoh lain lagi: Krisis listrik di Jambi juga termasuk yang paling parah. Padahal, di Jambi ditemukan banyak sumber gas. Tapi, PLN membangkitkan listrik dengan BBM. Terjadilah inefisiensi triliunan rupiah di Jambi. BPK juga tidak menemukan inefisiensi di Jambi itu.
Saya segera memutuskan, pembangkit yang sudah nganggur di Madura dibawa ke Jambi. Sejak kabel listrik untuk Madura dilewatkan Jembatan Suramadu, tidak ada lagi kekhawatiran Madura kekurangan listrik. Jambi pun lebih efisien.
Ada lagi gas Jambi yang sudah bertahun-tahun tidak digunakan. Berapa triliun rupiah inefisiensi telah terjadi. Itu juga tidak ditemukan BPK. Saya segera memutuskan membangun CNG (compressed natural gas) di Sei Gelam, di luar Kota Jambi. Agar gas yang ditelantarkan bertahun-tahun itu bisa dimanfaatkan.
Minggu lalu, tengah malam, dalam rangkaian meninjau proyek sapi di Jambi, saya bersama Gubernur Jambi Hasan Basri Agus meninjau proyek CNG itu. Sudah hampir selesai. Saya bayangkan betapa besar efisiensinya. Bahkan, Jambi yang dulu krisis listrik akan bisa “ekspor” listrik.
Contoh lagi: Suatu saat pemerintah membuat keputusan yang tepat, yakni gas jatah PLN dialihkan untuk industri yang kehilangan pasokan gas. Jatah gas PLN dikurangi. Akibatnya, PLN berada dalam dilema: menggunakan BBM atau mematikan saja listrik Jakarta. Pembangkit besar di Jakarta itu (Muara Karang dan Muara Tawar) memang hanya bisa dihidupkan dengan gas atau BBM. Tidak bisa dengan bahan bakar lain.
Tentu PLN tidak mungkin memilih memadamkan listrik Jakarta. Bayangkan kalau listrik Jakarta dipadamkan selama berbulan-bulan. Maka, digunakanlah BBM.
Kalau keputusan tidak memadamkan listrik Jakarta itu salah, saya siap menanggung risikonya. Saya berprinsip seorang pemimpin itu tidak boleh hanya mau jabatannya, tapi tidak mau risikonya. Maka, dia harus berani mengambil keputusan dan menanggung risikonya.
Kalau misalnya sekarang saya harus masuk penjara karena keputusan saya itu, saya akan jalani dengan ikhlas seikhlas-ikhlasnya!
Saya pilih masuk penjara daripada listrik Jakarta padam secara masif berbulan-bulan, bahkan bisa setahun, lamanya. Saya membayangkan, mati listrik dua jam saja, orang sudah marah, apalagi mati listriknya berbulan-bulan.
Sikap ini sama dengan yang saya ambil ketika mengatasi krisis listrik di Palu. Waktu itu saya sampai menangis di komisi VII. Saya juga menyatakan siap masuk penjara. Daripada seluruh rakyat Palu menderita terus bertahun-tahun.
Akibat keputusan saya untuk tidak memadamkan listrik Jakarta itu memang berat. PLN mengalami inefisiensi triliunan rupiah. Tapi, pabrik-pabrik tidak tutup, PHK ribuan buruh terhindarkan, dan Jakarta tidak padam selama setahun!
Apakah PLN harus memberontak terhadap putusan pemerintah itu? Tentu tidak. Putusan itu sendiri sangat logis. Kalau industri tidak dapat gas, berapa banyak pabrik yang harus tutup. Berapa ribu karyawan yang kehilangan pekerjaan. Alangkah ributnya. Indonesia pun kehilangan kepercayaan.
Sekali lagi, jangankan dipanggil komisi VII, masuk penjara pun saya jalani dengan sikap ikhlas seikhlas-ikhlasnya!
Ini mirip Pertamina yang juga tidak mungkin tidak menyalurkan BBM ke masyarakat meski kuota BBM bersubsidinya sudah habis. Atau juga seperti BUMN lain, PT Pupuk Indonesia, yang November/Desember nanti tidak mungkin tidak menyalurkan pupuk ke petani. Padahal, kuota pupuk subsidi sudah akan habis.
Saya tahu pepatah ini: Kian tinggi, kian kencang anginnya. Tapi, saya juga tahu lelucon ini: Kian besar kembung perut, kian besar buang anginnya!
Contoh lain lagi: Secara mendadak, saat menjadi Dirut PLN saya memutuskan membangun transmisi dari Tentena ke Palu lewat Poso. Sejauh 60 km. Harus melewati hutan dan gunung. Tahun depan transmisi tersebut harus jadi. Itu akan bisa mengalirkan listrik dari PLTA Poso milik Pak Kalla yang begitu murah tarifnya ke Kota Palu.
Kalau tidak ada transmisi itu, PLTA di Sulteng tidak bisa untuk melistriki Sulteng, tapi justru melistriki provinsi lain. Akibatnya, inefisiensi di PLN Sulteng akan terus terjadi. Dengan nilai triliunan rupiah. Itu juga tidak ditemukan oleh BPK.
Saya terus memonitor pembangunan transmisi tersebut agar inefisiensi yang sudah terjadi bertahun-tahun itu segera berakhir.
Belakangan ini ada masalah besar di proyek itu. Terutama sejak dua polisi Poso tewas di hutan oleh teroris. Para pekerja yang memasang transmisi itu tidak berani masuk hutan. Dua polisi tersebut pernah ikut mengamankan proyek itu.
Karena begitu pentingnya proyek tersebut, saya minta PLN tidak menyerah terhadap ancaman teroris. Kalau perlu, minta tolong Zeni TNI-AD untuk mengerjakannya.
Efisiensi yang akan terjadi triliunan rupiah. Listrik untuk Palu pun lebih terjamin. Program itu tidak boleh gagal oleh gertakan teroris.
Contoh lain yang lebih menarik: Di laut utara Semarang ditemukan sumber gas. Pemilik sumur gas itu sudah setuju menjual gasnya ke PLN. Harganya pun sudah disepakati. Tapi, bertahun-tahun perusahaan yang memenangi tender untuk membangun pipa gasnya tidak kunjung mengerjakannya. Bukan PLN yang mengadakan tender. PLN hanya konsumen.
PLN gagal mendapatkan gas sampai 100 MMBtu. Di sini PLN mengalami inefisiensi triliunan rupiah. BPK juga belum menemukan inefisiensi itu.
Contoh-contoh inefisiensi seperti itu luar biasa banyaknya. Dan triliunan rupiah nilainya. Itulah sebabnya saya benar-benar ingin menjabat Dirut PLN sedikit lebih lama lagi. Agar saya bisa melihat hasil-hasil pemberantasan inefisiensi di PLN lebih banyak lagi.
Apakah Komisi VII DPR tidak tahu semua itu? Sehingga memanggil saya untuk menjelaskannya?
Saya tegaskan: Komisi VII sangat tahu semua itu. Kalaupun merasa tidak tahu, kan ada Dirut PLN yang baru, Nur Pamudji. Pak Nur bisa menjelaskan dengan baik, bahkan bisa lebih baik daripada saya. Apalagi, waktu itu beliau menjabat direktur PLN urusan energi primer.
Hampir tidak ada relevansinya memanggil menteri BUMN ke komisi VII. Tapi, kalaupun saya dipanggil lagi, saya akan hadir. Saya juga sudah kangen kepada mereka. Dan mungkin mereka juga sudah kangen saya. Sudah setahun saya tidak melucu di komisi VII. (*)
Dahlan Iskan
Menteri BUMN

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost