Senin, 26 Januari 2015

Dahlan Iskan : NH-03 : Pilih Spa Atas, Tengah, atau Bawah

Dia sudah menyandang Bintang Mahaputra, tapi senyumnya tetap ramah. Senyum khas seorang dokter. Dia juga bukan lagi dokter yang kolonel, melainkan dokter yang brigadir jenderal. Di mata saya –yang pernah jadi pasiennya– masih ada satu lagi: dia sosok yang pantang menyerah. Tahun lalu dia mendapat penghargaan dari MarkPlus sebagai marketer of the year di bidang kesehatan. Dia dokter Terawan.
Semula begitu banyak sesama dokter yang menentangnya. Tapi dia tidak mundur. Dia tetap saja menjalankan praktik ”brain spa” yang dua tahun lalu saya sebut dengan istilah ”cuci otak” (brainwash). Banyaknya reaksi itu bisa diikuti di online yang mengomentari tulisan saya 13 Februari 2013. Betapa serunya serangan untuk dr Terawan.
Hebatnya, dia tidak pernah menjawab. Apalagi balas menyerang. Di tengah-tengah serangan pun dia tetap tersenyum. Tersenyum dalam diam. Begitu tabah. Tapi juga begitu teguh. Dia tidak surut. Diam-diam dia terus merayap. Sikap diamnya itu ternyata lebih menghasilkan emas. Dua tahun kemudian, awal tahun 2015 ini, justru banyak kemajuan yang lahir dari senyumnya.
Pertama, dia sudah berhasil mendidik empat dokter untuk mengikuti jejaknya. Ternyata banyak juga dokter muda yang tidak takut jadi pengikut Terawan. Penambahan dokter spa otak ini penting karena Terawan tidak akan mampu lagi sendirian melayani pasien barunya yang mirip banjir kiriman itu. Kini antre untuk spa otak di RSPAD Jakarta sudah mencapai enam bulan.
Kedua, objek spanya meluas. Kini bukan hanya otak yang bisa dispa. Tapi juga jantung. Bahkan bisa juga untuk –ini dia– senjata vital laki-laki.
Ketiga, meluas ke luar negeri. Ilmu dokter Terawan ini sudah berhasil diekspor. Untuk dikembangkan di luar negeri. Bukan sembarang luar negeri pula: Jerman. Kini di sana, di Rumah Sakit Augusta, di Kota Dusseldorf, sudah dibuka spa otak ala Terawan.
Itu bermula tahun lalu. Ketika seorang profesor dari Jerman datang ke RSPAD Jakarta. ”Beliau datang khusus untuk diskusi dengan saya,” tutur Terawan. Sang profesor langsung paham apa yang dilakukan Terawan. Bahkan langsung minta izin untuk mempraktikkannya di Jerman. ”Di sana tidak heboh. Tidak ada yang menentang,” ujar Terawan sambil sedikit tersenyum.
Tentu saya bangga, di zaman ketika semua orang khawatir Indonesia kalah di persaingan global, ada seorang dokter yang ekspor ilmu ke Jerman.
Waktu itu, dua tahun lalu, saya sendiri sebetulnya tidak sengaja ikut menjalani proses cuci otak di RSPAD. Hari itu saya hanya mengantarkan istri yang sering mengeluh bagian belakang kepalanya berat dan sakit. ”Tahu dr Terawan dari mana?” tanya istri saya. ”Banyak menteri yang sudah melakukannya,” jawab saya. Tentu saya tahu siapa saja menteri yang sudah cuci otak di Terawan. Para menteri itu sendiri yang bercerita. Maklum, Terawan adalah dokter kepresidenan.
Istri saya pun menjalani proses awal. Kepalanya difoto. Dari sini diketahui jalan darah ke otak yang mana yang buntu. Lalu sistem saraf otaknya dites. Ini untuk mengetahui seberapa fungsi saraf otaknya masih bekerja.
Melihat banyaknya saluran darah ke otak istri saya yang terganggu, saya tertegun. Jangan-jangan banyak juga saluran darah ke otak saya yang terancam buntu. Memang saya tidak punya keluhan apa-apa. Tapi siapa tahu. Maka saya putuskan ikut istri saya. Dan lagi saya jadi ingin menulis masalah yang banyak ditentang dokter ini. Lebih baik kalau saya menjalaninya sendiri.
Berdasar pemeriksaan itu, Terawan memasukkan kateter dari arah selangkangan menuju otak. Tanpa bius. Saya bisa melihat di layar monitor jalannya kateter di dalam tubuh saya. Mulai dari selangkangan menuju batang leher, lalu ke otak. Terasa ada sensasi-sensasi kecil di otak saat kateter jalan-jalan ke berbagai arah. Sesekali sensasi itu lebih terasa. Yakni saat Terawan menyemprotkan cairan di bagian-bagian tertentu yang tersumbat di dalam otak.
Proses itu kini sudah agak berbeda. Mulai tahun ini pasien akan ditanya dulu ”spa atas saja, atau atas dan tengah, atau atas tengah dan bawah”.
”Untuk tiga objek spa itu waktunya hanya tambah lima menit,” ujar Terawan. Hanya membelokkan kateter dari otak ke arah jantung. Setelah selesai jantung, kateter dibelokkan ke kemaluan.
Saya jadi ingin ke dokter Terawan lagi. Kapan-kapan. (*)

Senin, 19 Januari 2015

Dahlan Iskan: NH-02 : Menghilang untuk Bisa Banyak Belajar

SALAH satu kebebasan yang saya nikmati saat ini adalah bisa kembali belajar dengan leluasa. Belajar apa saja. Dulu saya mewajibkan diri agar enam bulan sekali ”belajar” ke Amerika Serikat: shopping idea, belanja ide.
Itulah sebabnya perkembangan Jawa Pos di kemudian hari menjadi ”sangat Amerika”. Beda dengan koran-koran Jakarta saat itu yang ”sangat Eropa”
Belakangan, ketika Tiongkok maju luar biasa, saya jarang ke Amerika. Belajarnya pindah ke Tiongkok. Begitu sering saya ke Negeri Panda itu. Setahun bisa delapan kali. Bahkan pernah 12 kali. Jarak Tiongkok yang begitu dekat membuat saya bisa belajar lebih sering.
Kalau ke Amerika shopping saya shopping idea, ke Tiongkok saya shopping spirit. Spirit ingin maju. Di Tiongkok-lah, saya melihat sebuah masyarakat yang keinginan majunya begitu tinggi. Hasilnya pun nyata. Dalam sekejap, Tiongkok mengalahkan Jerman. Kemudian Jepang. Dan mungkin tidak lama lagi mengalahkan biangnya: Amerika.
Sejak menjadi pejabat pemerintah tiga tahun lalu, semua kenikmatan itu berakhir. Saya harus tahu diri. Menjadi pejabat tidak boleh sering-sering ke luar negeri. Biarpun pergi ke luar negeri untuk urusan menteri dengan menggunakan uang pribadi. Sering pergi ke luar negeri tetaplah tidak sopan.
”Merdeka!” teriak saya dalam hati.
”Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya istri saya.
”Besok saya ke Tiongkok,” jawab saya.
”Lho, besok kan ke Lingga?” sergah istri saya. Menurut jadwal, saya memang harus ke Pulau Lingga dan Pulau Singkep. Untuk menyiapkan program sociopreneur di lahan-lahan rusak bekas tambang timah.
”Ya, dari Lingga kan bisa langsung ke Tiongkok. Lewat laut. Ke Singapura dulu,” jawab saya.
Maka, hari itu, dalam empat hari, saya menjelajah tujuh kota di empat provinsi di Tiongkok. Membanding-bandingkan teknologi. Untuk mengubah tanaman kaliandra menjadi energi. Belajar lagi. Belajar lagi.
Tentu saya juga ingin tahu apa yang sedang hot dibicarakan oleh masyarakat luas di Tiongkok. Dulu, 15 tahun yang lalu, masyarakat sudah mengira Xi Jinping bakal jadi presiden suatu saat kelak. Kini mereka bicara tentang kian kuatnya posisi Presiden Xi Jinping dalam konsolidasi kekuasaan. Lebih kuat daripada posisi presiden sebelumnya, Hu Jintao. Kini ”Tiongkok adalah Xi Jinping dan Xi Jinping adalah Tiongkok”. Dengan demikian, keputusan-keputusan politik di Tiongkok menjadi sangat efektif.
Tapi, tak kalah ramainya pembicaraan ringan yang satu ini: bagaimana bisa anak umur tiga tahun memenangi acara TV Tiongkok Mencari Bakat dan bagaimana bisa penyanyi berjilbab menempati urutan kelima ”penyanyi yang paling digemari” di Tiongkok.
Anak kecil itu, hebatnya, bisa joget apa saja. Mulai Gangnam Style sampai gaya robot. Bahkan bisa bicara filsafat hidup. Namanya Zhang Junhao. Ketik saja nama itu di YouTube. Akan muncul berbagai gayanya yang menggemaskan dan mengharukan. Tapi, finalis satunya, anak perempuan empat tahun bernama Xixi, juga tidak kalah hebat.
Dahlan Iskan : jun hao 5 NH02   Menghilang untuk Bisa Banyak Belajar : KabarDahlanIskan
Ketika juri (salah satunya bintang film terkemuka Jet Li) bingung menentukan pemenang, dua finalis cilik itu diminta naik ke panggung. ”Kalian berdua layak maju ke grand final di Beijing. Tapi, hanya satu yang harus dipilih. Bagaimana pendapatmu, Junhao?” tanya juri.
”Pilih saja dia,” kata Junhao sambil memandang saingannya itu dengan sendu. Sendunya anak berumur tiga tahun.
”Kenapa?” tanya juri.
”Karena saya laki-laki,” jawabnya.
Tapi, siapa pun tahu bahwa Junhao jauh lebih layak. Juri kagum akan jiwa besarnya, tapi tetap memilihnya. Anak sopir truk dari salah satu desa di Shandong tersebut kelihatan sedih. Dia lantas memegang lengan Xixi. ”Berusaha teruslah agar tetap dipilih,” ujar Junhao, merayu Xixi. Akhirnya, juri menyatakan Xixi pun dapat jatah ke Beijing.
Menurut sang ibu, Junhao sudah bisa berjalan saat berumur sepuluh bulan. Lalu, setiap ibunya senam joget di lapangan, anak kecil itu ikut dan selalu meniru. Kepala yang digundul dan bicara yang lantang membuat Junhao benar-benar menggemaskan.
”Junhao punya keinginan apa?” tanya juri.
”Membagi kebahagiaan,” katanya. ”Setiap saya joget, ibu saya tertawa. Beliau tampak bahagia. Saya ingin membagi kebahagiaan kepada siapa saja,” katanya.
Junhao pun laris manis. Stasiun-stasiun TV mengundangnya untuk tampil. Termasuk tampil bersama penyanyi terpopuler nomor 5 di seluruh Tiongkok saat ini: Shila (Nama lengkap: Shila Amzah. Umur: 24 tahun. Agama: Islam. Pakaian panggung: Baju panjang dan hijab/jilbab).
Dahlan Iskan : ShilaAmzahIAmASingerSeason2Ep79 NH02   Menghilang untuk Bisa Banyak Belajar : KabarDahlanIskan
Shila sebenarnya penyanyi Malaysia. Tapi, teman karibnya, perempuan Tionghoa, berhasil merayunya untuk mengembangkan karir di Tiongkok. ”Pasar musik terbesar dunia saat ini adalah Tiongkok,” kata temannya itu.
Shila setuju. Dia menyanyikan banyak lagu Mandarin. Mengena. Suaranya yang tinggi dan fasihnya melafalkan lagu Mandarin membuat Shila sangat populer. Dia pun belajar bahasa Mandarin.
Di negara komunis itu, Shila tidak menyembunyikan kemuslimahannya. Justru lebih menjadikannya ciri khas. Waktu menyanyi di Malaysia, rambut Shila masih terurai. Kini di Tiongkok, dia justru berhijab. Hanya, pakaian muslimahnya itu tidak membatasi geraknya. Jingkraknya tetap jingkrak rocker saat Shila membawakan lagu rock.
Kita pun punya calon Shila di Indonesia: Indah Nevertari. Juara Rising Star Indonesia di RCTI bulan lalu. Bukalah YouTube. Lihat keduanya: bandingkan!
Dahlan Iskan : maxresdefault NH02   Menghilang untuk Bisa Banyak Belajar : KabarDahlanIskan
Lalu, saya pergi ke Spanyol. Tanpa sungkan dinilai sering ke luar negeri. Resminya untuk liburan keluarga. Tapi, sebenarnya ada agenda tersembunyi yang saya rahasiakan dari istri dan anak-menantu. Semula tujuan liburannya Turki dan Lebanon. Gagal. Gara-gara keluarga tahu saya berniat ”menyelinap” ke Damaskus, ibu kota Syria yang lagi bergolak. Jiwa kewartawanan saya memanggil. Kalau jadi ke Lebanon, saya ingin menghilang satu hari ke Damaskus. Kalaupun sulit ke sana (karena lagi perang), saya akan ke Gunung Kelima yang jadi judul novel Paulo Coelho itu. Yakni, gunung pemujaan umat Nabi Elia (versi Injil) yang musyrik dengan membuat patung sapi (versi Alquran surat Al Baqarah).
Keluarga akhirnya memilih Spanyol. Agenda rahasia saya tidak berisiko: 1). Melihat proyek pertama di dunia: Pembangkit listrik tenaga cermin; 2). Melihat kemajuan sistem perkeretaapian di Spanyol. Sebab, saya dulu sering memberangkatkan anak-anak muda PT KAI yang dikirim Dirut-nya, Pak Ignasius Jonan, ke Valencia untuk inspirasi pembenahan kereta api Indonesia.
Karena itu, saya menyelipkan nama Valencia sebagai salah satu kota tujuan liburan. Di samping Madrid, Toledo, Cordoba, dan Barcelona. Alasan resminya: agar bisa nonton pertandingan Liga Spanyol yang hari itu seru: Valencia melawan Real Madrid. Tapi, sebenarnya saya hanya ingin sebanyak mungkin naik kereta api. Ke semua tujuan itu. Baik antarkota besar yang ternyata keretanya sudah berkecepatan 300 km per jam atau antarkota kecil yang ternyata keretanya juga sudah berkecepatan 250 km per jam.
Spanyol ternyata lebih menyenangkan dari yang saya bayangkan. Juga tempat belajar yang baik. (*)

Jumat, 16 Januari 2015

Dahlan Iskan : NH01 : Bisa Serah Terimakan Jabatan Komandan Koboi

Bisa Serah Terimakan Jabatan Komandan Koboi
Inilah bunyi SMS terbanyak yang saya terima tiga bulan terakhir : setelah tidak jadi menteri ngerjakan apa ? Kok tidak pernah muncul ? Ke mana saja ? Balik ke Surabaya ? Kenapa tidak rutin lagi menulis ? Dan sebangsa itu.
Saya memang lagi menjalani sopan santun politik ini : pejabat yang baru lengser sebaiknya jangan banyak bicara. Terutama mengenai penggantinya. Apalagi terus mengkritik penerusnya. Jangan juga banyak tampil seperti menyesal menjadi orang yang tidak terpakai.
Khusus untuk saya ditambah dua lagi : jangan nonton TV dan jangan menulis di media. Puasa total. Ngebleng.
Sampai kapan ? Tanya beberapa teman. Jawaban saya biasanya tidak serius “Sampai masa idahnya selesai”.
Puasa berkomentar rasanya akan saya jalani untuk waktu yang sangat lama. Memang para wartawan sangat penasaran ingin tahu komentar saya. Terutama soal jagoan lama saya.
Pak Vu Van Kui, eh Pak Dwi Sutjipto yang jadi Dirut Pertamina, soal Pak Sofyan Basir yang dulu pun sudah saya usulkan menjadi Dirut PLN, soal Petral yang dulu juga saya usulkan untuk dibubarkan, soal melemahnya rupiah, soal gedung BUMN yang mau diapakan gitu.
Dan banyak lagi. Semuanya tidak ada yang saya jawab. Saya jelaskan kepada mereka soal sopan santun tadi. Pada wartawan mafhum. Saya tidak dikejar-kejar lagi.
Puasa nonton TV juga bisa saya lakukan dengan sukses. Toh dulunya tidak sempat juga. Untuk tidak sering-sering tampil juga kuat. Mesti permintaan berbicara di kampur-kampus terus menumpuk.
Tapi yang satu ini tidak bisa menolak : tampil di Mata Najwa. Apalagi disandingkan dengan Bu Susi Pudjiastuti, menteri kelautan dan perikanan yang heboh itu. Kebetulan Najwa Shihab, anchor acara Metro TV Mata Najwa itu, juga memberinya gelar menteri koboi.
Saya ingin ketemu beliau. Saya ingin bisik-bisik dengan Bu Susi di luar acara syuting : bagaimana beliau bisa berani menghadapi beking-beking yang amat kuat di belakang ilegal fishing itu. Saya membayangkan betapa beratnya beban beliau. Bu Susi lantas bercerita panjang lebar di seputar hal-hal yang menyeramkan itu. Termasuk cara-cara merayu dan menundukkan mereka. Dan ternyata tidak perlu sambil bisik-bisik. Soalnya kami hanya berdua. Nada bicaranya seperti biasa : meledak-ledak. dengan campuran Inggris.
Sesekali tawanya meledak, dan seperti biasa pula, sambil memukuli bahu saya. Karena itu, di depan Najwa saat istirahat syuting di Universitas Syah Kuala Banda Aceh itu, kepada Najwa saya laporkan dengan gembira : sekarang saatnya jabatan komandan koboi yang dulu Anda terimakan ke Bu Susi. Lagi-lagi beliau tertawa ngakak sambil mukuli pundak saya.
“Puasa” yang lain adalah untuk ini : saya “puasa” untuk mencari tahu ada perkembangan apa di pemerintahan. Termasuk perkembangan di BUMN. Saya tidak pernah menelepon, SMS , atau e-mail teman-teman di kementerian maupun di korporasi. Tentu kangennnya luar biasa. Selama ini saya merasa begitu akrab dengan mereka. Pejabat di Kementerian BUMN maupun direksi di BUMN. Tidak mengontak mereka itu rasanya seperti “jihad” tersendiri. Dan Alhamdulillah bisa.
Untuk tidak berkomentar dan yang lain-lain tadi rasanya bisa saya jalani dengan mulus, semulus rasa kopi solong. Tapi puasa menulis ? Huh! Tidak tahan! Sakit. Sakitnya tuh disini : di jempol ibu jari. Sudah lebih dari 30 tahun saya kecanduan menulis. Sebagai penulis maupun sebagai wartawan. Tiba-tiba harus berhenti menulis. Sakit.
Sakit, dan gatal. Jari-jari ini gatal untuk tidak menulis. Apalagi kalau ketemu bahan yang bagus yang sangat bermanfaat kalau ditulis. Seperti pengalaman saya 11 Desember lalu. Maka, saya akan akhiri puasa menulis ini. Saya anggap masa idahnya sudah lewat. Khusus untuk urusan menulis yang satu ini : minggu depan.
———-
Catatan: “sakitnya di jempol” karena sudah dua tahun ini saya menulis naskah tidak lagi dengan jari-jari di laptop, tapi hanya dengan satu jempol di smartphone. Mula-mula dengan Blackberry. Lalu mulai belajar menggunakan layar sentuh. Sulit sekali pindah ke layar sentuh. Apalagi saya tetap ingin hanya menyentuh dengan satu ibu jari tangan kiri. Terlalu banyak salah huruf. Selama tiga bulan “puasa” menulis, saya manfaatkan untuk belajar membiasakan diri pindah ke layar sentuh Iphone. Lama-lama kesalahan berkurang dan inilah naskah pertama yang saya tulis dengan satu ibu jari di layar sentuh Iphone. (*)
Senin, 12 Januari 2015
diketik ulang oleh : enggar estiko handoko

Jumat, 26 Desember 2014

Ada langit Diatas Langit, Sehingga Dahlan Gagal Bubarkan Petral

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta)  Saat baru menjabat sebagai Menteri BUMN era SBY, Menteri BUMN Dahlan Iskan menggebu-gebvu akan membubarkan Petral yang dicurigai sebagai sarana mafia impor premium. Namun ternyata Dahlan tidak berhasil.
Lalu mengapa Dahlan Iskan gagal membubarkan Pertamina Energy Trading Ltd (Petral), yang merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero). Sementara kala itu dia menjabat sebagai Menteri BUMN  punya wewenang penuh atas seluruh BUMN di Tanah Air,
"Ada kekuatan di atasnya Pak Dahlan Iskan. Kekuatannya di langit ke-7, bahkan ke-10. Makanya tidak bisa membubarkan Petral," jelas Faisal Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak an Gas Bumi di kantornya, Jl Plaju, Jakarta Pusat, Rabu (24/12/2014).

"Saya ketemu dengan Pak Dahlan di Aceh. Waktu itu dia punya niat untuk membubarkan Petral, tapi kok justru mengeluarkan instruksi Petral wajib impor minyak atau BBM melalui NOC (National Oil Company)," kata  Faisal Basri
Padahal membeli minyak dan BBM wajib dari NOC bukan jalan yang terbaik. Tidak ada jaminan bahwa membeli dari produsen langsung harganya lebih murah.

"Pak Dahlan akui itu, kalau kebijakan tersebut bukan yang terbaik. Niat awalnya ingin membubarkan Petral, tapi ternyata tidak mudah. Makanya sebagai pelipur lara keluarlah kebijakan itu (wajib beli dari NOC)," ungkapnya.
Lantas siapakah kiranya dewa langit yang menghalangi Dahlan Iskan tersebut. Nampaknya belum akan dengan cepat terbongkar. Namun arahnya bisa diraba dari menilik siapa saja yang merasa kebakaran jenggot atas upara RTKM menelusuri jejak mafia di Petral ini lewagt impor premium selama ini.
RTKM telah merekomendasikan kepada pemerintah Presiden Jokowi untuk menghentikan impor premium ( RON 88) dan menggantikan dengan Pertamax. Naga-naganya pemerintah cenderung menerima rekomendasi ini. Karena pertimbangan manfaat tekhnis maupun politis. Secara tekhnis Pertamax ( RON 92) memang lebih bersih lingkungan dana karena seluruh produk otomotif mutakhir merekomendasikan pemakaian RON 92.
Secara politis, menangkap "dewa" di atas langit Petral akan mengundang kehebohan nasional dan lebih tepat membakar rumahnya dari pada menangkap tikusnya. Dalam hal ini peribahasa " Tangkap tikusnya jangan bakar lumbungnya", tidak berlaku.
Yang berlaku bila rekoemndasi ini dijalankan adalah "Biarkan rumahnya terbakar, bikin rumah baru , biarkan tikusnya lari ( syukur-syukur ikut terbakar didalamnya).
Toh Faisal Basri masih bersemangat untuk menghubungi KPK karena mengendus indikasi permainan pemburu rente. Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi pimpinan Faisal Basri mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tujuannya mendalami bisnis impor premium RON 88, yang terindikasi ada permainan pemburu rente.
Dalam impor tersebut terjadi permainan kartel dan pemburu rente. Pasalnya, di pasar minyak dunia, tidak ada lagi harga RON 88 karena sebagian besar produsen produksi RON 92.


"Kita ke KPK tadi untuk tukaran data, ini juga terkait rekomendasi kita yang minta menghentikan impor premium RON 88. Karena ada indikasi itu permainan pemburu rente (mafia migas), ini memang baru indikasi. Makanya kita cocokan data kita ke KPK, apakah benar indikasi itu. Kalau iya maka rekomendasi kita mantap," ujar Anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas dari Universitas Gajah Mada, Fahmi Radi.
"Apakah akan ada tindakan atau tidak itu domainnya KPK. KPK sendiri pernah melakukan kajian terkait masalah ini termasuk mekanisme lifting migas, tapi ini nggak mudah. Makanya setiap rekomendasi kita konfirmasi ke KPK dulu," tutupnya.
Termasuk yang kebakaran jenggot atas rekomendasi ini adalah salah satu petinggi Partai Demokrat  yang kini juga salah satu ketua lembaga  tinggi negara , DPR.
Rekomendasi ini dikritik Wakil Ketua DPR Agus Hermanto. Menurutnya, tim pimpinan Faisal Basri itu salah tupoksi (tugas pokok dan fungsi).

"Tim yang dipimpin Faisal Basri itu bukan porsinya untuk memberi rekomendasi. Bahwa memang pertamax itu bagus untuk lingkungan, iya saya setuju. Tetapi rekomendasi ini harusnya diberikan oleh Tim Ahli Kementerian ESDM, bukan tim yang baru dibentuk itu," ujar Agus di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (24/12/2014).

Menurut Agus, tugas tim Faisal Basri itu adalah mengungkap mafia migas. Sehingga tak perlu mengeluarkan rekomendasi kepada pemerintah."Apa iya Pertamina sudah siap untuk produksi pertamax secara maksimal? Kan, tidak kan? Perlu ada alat juga buat ubah itu RON 88 jadi RON 92. Apa sudah dikaji?" imbuh Waketum Partai Demokrat ini.
Tentu saja keberatan dan kitik ini tidak serta merta menunjukkan hubungannya dengan "dewa" yang disinyalir oleh Faisal Basri tadi. Tetapi kalau pemerintah segera membangun tata kelola baru dalam minyak dan gas bumi dengan mengetrapkan rekomendasi RTKM, maka pasti tidak lagi direpotkan dengan mengurusi tikus dan :dewa"nya. Biarlah itu menjadi urusan KPK. (Ais)

http://mimbar-rakyat.com/detail/ada-langit-diatas-langit-sehingga-dahlan-gagal-bubarkan-petral

Faisal Basri: Pak Dahlan saja susah bubarkan Petral

KANALSATU - Sebuah fakta menarik dikemukan oleh Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri terkait susahnya proses penanganan dan pembubaran anak usaha Pertamina yaitu PT Petral.

Secara Khusus Faisal Basri mengatakan bahwa proses pembubaran Petral tidaklah mudah mengingat hal itu pernah akan dilakukan oleh Menteri BUMN periode lalu yaitu Dahlan Iskan, namun akhirnya mundur dan tidak jadi melakukan proses pembubaran akibat adanya kekuatan besar yang mengamankan Petral untuk tidak bubar.

Lebih jauh Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri mengaku masih bingung memberikan rekomendasi terkait keberadaan anak usaha Pertamina yaitu Petral.

Faisal bahkan sempat bertemu mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan terkait kerumitan persoalan tersebut.

Lebih dalam laporan Medeka.com menyebutkan bahwa pengakuan Dahlan dari hasil pertemuan yang dilakukan di Aceh tersebut adalah, National Oil Company (NOC) Indonesia tidak sebaik lainnya. Dahlan dulu bahkan telah berniat menghentikan operasional Petral.

Namun, pembubaran Petral tidak mudah karena adanya pengamanan dari 'atasan' Dahlan. "Tapi kenapa susah dihentikan, karena ada langit (atasan) di atas Pak Dahlan," kata Faisal di Jakarta, Rabu (24/12) sebagimana dikutip dari Merdeka.com.

Ketika dikorek lebih jauh siapa langit yang dimaksud, Faisal ogah menyebutkan secara pasti. Namun, dia menegaskan bahwa 'langit' tersebut merupakan atasan Dahlan saat menjabat sebagai menteri. "Ya atasannya Pak Dahlan, siapa?" ungkapnya.

Sementara itu sesaat melihat kondisi sekarang, Faisal menyebut masih terlalu cepat memutuskan rekomendasi terhadap Petral. Pihaknya menyarankan agar diberlakukan perizinan satu pintu.

"Terlalu dini, [untuk direlokasi atau di hentikan]. Tapi kami meminta perizinan satu pintu untuk crude maupun produk lain. Nanti [kalau] Petral dibubarkan, ada join venture di Vietnam, Hongkong atau lainnya. Sejauh ini baru itu yang kami bisa lakukan," terangnya. (Medeka.com/win7)

http://kanalsatu.com/id/post/37348/faisal-basri--pak-dahlan-saja-susah-bubarkan-petral

Kamis, 04 Desember 2014

Komentar pada Kompasiana " Dahlan Iskan dan Ricky Elson " : Mengejar Bangsa Lain dengan Mobil Listrik

Akun kompasiana saya etah kenapa nggak bisa masuk jadi tuliskan disini. Ada beberapa yang tidak cocok dengan yang saya ketahui dalam menuangkan sosok Ricky Elson yang kembali ke jepang karena kecewa pada pemerintah yang tak kunjung mengeluarkan izin mobil listrik hasil pengembangannya bersama rekan-rekan lain.

Kemungkinan penulis tidak mengikuti perkembangan detik-detik keputusan Bang Ricky Elson untuk kembali ke Jepang atau tetap berkarya di Indonesia.

Dan sepanjang yang saya tahu beliau tidak henti-henti menularkan semangat engineeringnya kepada mahasiswa2 di Indonesia bersama LAN.

=================================================================
Mengejar Bangsa Lain dengan Mobil Listrik

Pernah dengar cerita produk inovatif namun belum terlalu dilirik oleh banyak orang? mungkin cerita itu bisa kita  simak  dari kehadiran mobil listrik.  Di negara kita, Indonesia, kita mengenal sosok Dahlan Iskan.  Sewaktu beliau menjabat menteri BUMN, beliau memiliki proyek pribadi yakni mobil listrik. Pak Dahlan sempat memiliki prototipe mobil listrik. Mobil itu diberi nama “Tuxuci”, sebuah mobil mirip mobil “ferrari”. Mobil itu karya salah seorang anak bangsa yang diproduksi di dalam negeri. Pak Dahlan pun sempat melakukan turing menjajal mobil tersebut. Nasib berkata lain, umur mobil itu tidak panjang karena mengalami kecelakaan. 

Tidak puas hanya memiliki Tuxuci, ternyata Pak Dahlan memesan mobil listrik lain untuk diproduksi dan dikembangkan, mobil itu diberi nama “Selo”. Sama halnya dengan Tuxuci, Selo pun karya anak bangsa dan diproduksi di dalam negeri.
sumber gambar: https://acara-event.com
Selain mengoptimalkan sumber daya di dalam negeri, Pak Dahlan Iskan bahkan mengundang anak bangsa yang memiliki keahlian terkait mobil listrik, Ricky Elson, yang saat itu berada di Jepang untuk kembali ke Indonesia dan menjadi bagian dari proyek mobil listrik nasional. Pak Dahlan pun menawarkan seluruh gaji menteri nyauntuk diberikan ke Ricky. Ricky menerimanya dan bersedia kembali ke Indonesia untuk ikut mengembangkan mobil listrik bersama Pak Dahlan Iskan. Namun setelah berhasil mengembangkan mobil listrik, Ricky kembali ke Jepang karena merasa kecewa pada pemerintah yang tak kunjung mengeluarkan izin mobil listrik hasil pengembangannya bersama rekan-rekan lain.

Kekecewaan pun menimpa Pak Dahlan akibat hengkangnya Ricky dari proyek mobil listrik. Setelah tidak lagi menjadi Menteri BUMN,Pak Dahlan bahkan masih akan terus mengembangkan serta memproduksi mobil listrik.  Sebegitu gigihnya Pak Dahlan  akan proyek mobil listriknya itu.

Sebagaimana kita tahu bahwa mobil listrik merupakan sesuatu yang baru di Indonesia, bahkan di dunia. Kendaraan yang umum digunakan sampai saat ini masih berbahan bakar minyak bumi. Infrastruktur yang ada sampai saat ini masih mendukung untuk kendaraan berbahan bakar minyak. Melihat kondisi ini tentu masyarakat akan memilih menggunakan mobil berbahan bakar minyak.  Namun kenapa Pak Dahlan begitu gigihnya untuk mengembangkan mobil listrik? Pak Dahlan pasti memiliki motivasi dibalik aksinya itu.

Menyimak sedikit cerita tentang Pak Dahlan Iskan dan mobil listriknya tersebut, bisa dikatakan Pak Dahlan ingin bergerak lebih cepat. Kenapa Pak Dahlan harus memulainya dari sekarang, kenapa tidak nant-nanti saja, toh mobil konvensional masih sangat mendominasi kendaraan saat ini apalagi didukung infrastruktur yang memadai. Sedangkan mobil listrik? siapa yang mau beli? buang-buang waktu dan tenaga saja. Seperti telah saya sampaikan pada artikel saya sebelumnya bahwa sebelum bergerak tentu kita harus memiliki motivasi terlebih dahulu untuk bergerak lebih cepat, kemudian harus ada acuannya sebagai indikator yang menunjukkan bahwa kita telah bergerak lebih cepat. 

Motivasi Pak Dahlan adalah ingin supaya bangsa Indonesia memiliki mobil nasional. Untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain, tidak mungkin melalui produk mobil konvensional yang berbahan bakar minyak, dimana bangsa-bangsa lain itu telah mengembangkan dan memproduksi produk tersebut puluhan tahun dan tentu sulit untuk dikejar. Oleh karena itu, Pak Dahlan lebih memilih mengembangkan mobil listrik, karena bangsa-bangsa lain pun baru memulainya.  

Jika dilihat dari motivasi Pak Dahlan,  Pak Dahlan mungkin ingin menyusul negara lain yang juga sedang giat-giatnya mengembangkan mobil listrik sebagai acuannya, seperti ingin mengejar Tesla sebagai salah satu produsen mobil listrik ternama di Amerika yang mungkin saja teknologinya sudah lebih maju. Sehingga dengan bergerak lebih cepat, teknologi tersebut masih dapat dikejar dan mungkin akan lebih mudah mengejar brand nya yang barangkali masih bisa menyamai Tesla serta lebih cepat membawa brand mobil listrik indonesia ke seluruh  dunia yang juga ikut berpacu dengan brand produsen-produsen dunia lainnya.

Apakah sudah pantas mobil itu dikembangkan saat ini? jika melihat kondisi negara ini yang masih mendukung mobil konvensional. Mungkin jawab nya sudah. Hal ini karena negara-negara lain sudah memulai mengembangkan mobil listrik. Kita harus “start” serentak dengan mereka agar kita di masa depan tidak lagi hanya menjadi konsumen seperti saat ini. Di masa depan kita harus mampu berdiri sejajar dengan bangsa lainnya dalam dunia otomotif. 

Indonesia akan punya brand serta produk yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh dunia. Selain itu,  cepat atau lambat, mobil listrik pasti akan digunakan banyak orang seperti halnya mobil konvensional saat ini. Hal ini karena ketersediaan minyak bumi semakin menipis. 

Sedangkan listrik adalah produk hilir dari segala sumber energi, apakah itu minyak bumi, panas bumi, gas, batu bara, gelombang laut, angin, surya, biomassa, nuklir, dll. Keseluruh sumber energi itu ujung-ujungnya akan menghasilkan listrik. Jadi mengembangkan mobil listrik dari kini rasanya tidak ada ruginya. Malahan itu akan menjadi investasi bangsa ini di masa depan.

Bergerak adalah sebuah proses yang didalamnya ada efisiensi. Apakah pergerakan itu akan berjalan efisien? Karena inefisiensi merupakan momok ketika kita harus bergerak lebih cepat. Ketika kita dipaksa bergerak lebih cepat maka bisa saja akan membutuhkan energi dan upaya lebih besar daripada bergerak normal. Dampak yang bisa ditimbulkan bisa saja kita tidak sampai ke “garis finish” karena kehabisan tenaga. Menyimak cerita Pak Dahlan, ya mungkin saat ini memang butuh upaya keras agar proyek ini minimal bisa tetap berjalan. 

Mungkin tidak sedikit energi yang dikuras agar proyek ini tetap berjalan. Intinya proyek ini harus tetap berjalan. Pak Dahlan  tentu memiliki kapasitas yang terbatas.  Saya yakin beliau tidak mau tertinggal jauh dari produsen-produsen lainnya sebagai  acuan beliau untuk menjadikan mobil listrik kebanggaan Indonesia dipandang dunia di masa datang serta sejajar dengan produsen dunia lainnya. Oleh karena itu, beliau ingin bergerak lebih cepat, bergerak lebih cepat juga butuh dukungan dari kapasitas lingkungan dimana aksi itu dilakukan. 

Dalam konteks ini adalah kapasitas pemerintah untuk memberikan fasilitas dan infrastruktur pendukung, kapasitas perguruan tinggi untuk melakukan riset dan pengembangan, kapasitas industri yang akan memproduksi secara massal, serta kapasitas masyarakat melalui dukungan moril dan mudah-mudahan mau menggunakan mobil tersebut sebagai kebanggaan nasional dan sebagai rasa syukur dan cinta produk Indonesia.

Mari dukung mobil listrik nasional agar bisa bergerak lebih cepat mengejar bangsa lain.

By Agra Bramagara

Jumat, 28 November 2014

Kalau Saja Disewakan ke Indonesia…


“Pengin jadi jutawan?”
“Gampang!”
“Gampang bagaimana?”
“Jadikan diri Anda seorang miliader dulu.
Lalu, bikinlah perusahaan penerbangan. Anda akan segera jadi jutawan…”
***
Itu memang hanya humor. Tapi, di saat banyak orang ingin mendirikan perusahaan penerbangan dan kemudian ternyata banyak juga yang mengalami kesulitan, humor tersebut tentu cukup mengena.
Punya perusahaan penerbangan, rupanya, memang sangat menggoda. Punya pesawat saja sudah bisa membuat orang kagum, apalagi punya perusahaan penerbangan. Meski harga pesawat (bekas) belum tentu lebih mahal daripada sebuah pabrik kelas menengah, seseorang yang baru saja membeli pesawat akan jadi buah bibir di mana-mana. “Wah, dia beli pesawat” akan jadi kalimat yang bertebaran dari mulut ke mulut.
Sebelum krisis, ketika banyak pengusaha membeli pesawat pribadi, saya melihat seorang konglomerat yang tidak tergoda. Yakni Eka Tjipta Widjaya. Padahal, saat itu, dia konglomerat nomor tiga setelah Liem Sioe Liong dan William Soeryajaya. Saya pernah bertanya mengapa tidak ikut beli pesawat?
Jawabannya dua macam. Yang serius dan yang bercanda. “Bukankah untuk bisa makan sate tidak perlu memelihara kambing sendiri?” ujar Pak Eka setengah bercanda dan setengah berfilsafat. Lalu, dia memberikan jawaban yang serius, tapi juga ada nada candanya: “Kalau saya punya pesawat, dalam praktiknya, orang lain yang akan lebih sering memakai,” katanya. Mengapa? “Tentu akan banyak sekali penguasa yang pinjam. Dan, saya tidak mungkin bisa menolak,” jelasnya.
***
Saya juga ingat suatu saat kedatangan tamu penting. Orangnya sederhana. Tidak pakai dasi dan bajunya juga tidak perlente. Padahal, dia seorang lulusan MIT, sebuah perguruan tinggi paling beken di AS. Padahal, dia seorang presiden direktur sebuah perusahaan penerbangan.
Dia menceritakan optimismenya. Perusahaan penerbangan baru yang kepemimpinannya diserahkan kepadanya akan terus mengalami kemajuan. Dia bangga dengan pilihan strategi untuk menggunakan pesawat yang relatif baru: Boeing 737-300. Bukan seri 200 seperti perusahaan penerbangan swasta yang sudah ada. Dia juga bangga dengan strateginya untuk hanya berfokus melayani jurusan paling gemuk Jakarta-Surabaya.
Di sini dia head on dengan Garuda. Pesawatnya pun dibuat mirip Garuda, sedangkan harga tiketnya lebih murah. Jadwalnya juga dibuat mepet dengan Garuda, sedangkan keberangkatannya selalu diusahakan on time.
Sungguh tak disangka kalau tidak lama kemudian satu per satu jadwalnya hilang. Bahkan, akhirnya rute Jakarta-Surabaya ditutup sama sekali. Tapi, perusahaan tersebut barangkali memang belum sampai jatuh jadi jutawan. Buktinya masih terus berusaha hidup meski hanya menerbangi satu rute.
***
Siapa pun tentu juga masih ingat munculnya perusahaan penerbangan yang sangat spektakuler: Sempati. Pimpinannya seorang MBA dari Harvard. Terobosan manajemennya begitu banyak dan serba mengejutkan. Mulai memperkenalkan sistem city check-in sampai melakukan garansi tepat waktu. Ada pula undian di udara. Yang juga spektakuler adalah kemampuannya untuk hanya transit di suatu bandara selama 20 menit. Padahal, perusahaan penerbangan lain harus 30 atau 40 menit. Dengan waktu transit yang hanya 20 menit, maka kalau sebuah pesawat dari perusahaan penerbangan lain hanya mampu menjalani lima rute sehari, Sempati bisa enam rute.
Bagaimana cara mempersingkat waktu transit? Penumpang diminta keluar dari pintu depan. Sementara itu, dalam waktu hampir bersamaan, petugas kebersihan masuk dari pintu belakang. Dengan demikian, ketika penumpang terakhir keluar dari pesawat, bagian pembersihan sudah menyelesaikan 50 persen lebih tugasnya.
Maka, pimpinan perusahaan penerbangan tersebut menjadi amat terkenal. Di mana-mana ada seminar manajemen, dia jadi pembicaranya. Sering juga bersama saya. Atau, paling tidak, namanya disebut-sebut sebagai contoh jadi baik.
Sungguh tak dinyana kalau umur perusahaan penerbangan itu tidak panjang. Dia tidak hanya jatuh jadi jutawan, malah dinyatakan pailit sama sekali.
***
Lalu, pernah pula ada Awair. Semula banyak dirumorkan bahwa perusahaan penerbangan tersebut punya hubungan dengan Gus Dur sehingga Awair dikira singkatan dari Abdurrahman Wahid Air. Ternyata tidak.
Namun, dalam suatu pertemuan dengan Gus Dur, saya sempat juga terkesima. Waktu saya diterima Gus Dur, di situ sudah ada dua orang pimpinan Awair. Entah apa yang diceritakannya kepada Gus Dur, yang jelas Gus Dur kembali menceritakan kepada saya mengenai betapa membanggakannya Awair. “Sebentar lagi, Awair akan menerbangi rute internasional,” ujarnya. “Bahkan, sudah segera memesan Airbus XXX,” tambah beliau.
Airbus XXX adalah pesawat terbesar yang sedang dibuat yang akan menjadi pesawat terbesar di muka bumi. Pesawat itu begitu besarnya sehingga ada ruang olah raganya. Kabinnya dua tingkat dari muka sampai belakang.
Begitu besarnya pesawat ini sehingga pintu keluarnya pun akan ada yang atas dan ada yang bawah. Dengan begitu, kalau pesawat ini kelak benar-benar dipergunakan, harus banyak bandara yang menyesuaikan diri. Terutama dalam penyediaan “belalai gajah”-nya.
Saya tidak mengira bahwa tak lama setelah pertemuan dengan Gus Dur tersebut, Awair tidak lagi mengudara. Pemiliknya, seorang pengusaha kimia, rugi ratusan miliar. Nama pemilik Awair tetap harum karena bisa menyelesaikan seluruh kewajibannya tanpa cacat. Perusahaan kimianya pun masih terus bertambah besar.
***
Meski sudah banyak yang sulit, rupanya, minat untuk mendirikan perusahaan penerbangan tidak pernah surut. Dalam skala yang amat kecil, ini mirip dengan orang mau bikin koran.
Saya sendiri kini tidak hafal ada berapa perusahaan penerbangan di Indonesia. Begitu banyak nama baru. Sebagai orang yang sering ke berbagai daerah di seluruh Indonesia, saya amat tertolong. Banyak rute baru dibuka. Rute “aneh-aneh” seperti Pontianak-Batam atau Jogya-Balikpapan kini ada yang menerbangi.
Tarif pun luar biasa murahnya. Kini tidak merasa berat lagi ke Jayapura atau ke Medan. Tinggal kita terus berdoa mudah-mudahan tidak ada lagi yang tutup. Agar tetap banyak rute baru. Memang, terjadinya perang tarif seperti sekarang kadang-kadang menimbulkan pertanyaan: apakah cukup untuk biaya perawatan? Apakah perawatannya dilakukan dengan benar? Bukankah pesawat yang dipakai umumnya yang tahun 1980-an (Boeing 737-200 atau MD-80) yang tentu saja memerlukan perhatian lebih besar?
Begitu kerasnya perlombaan turun tarif tersebut sehingga iklan Sampoerna perlu dikutip di sini: how low can you go!
***
Di tengah lomba turun harga seperti itu, Garuda yang menggunakan pesawat lebih baru tentu tidak akan kuat melayani. Memang Garuda juga menyediakan tarif hanya Rp 199.000 untuk Surabaya-Jakarta, namun itu tidak untuk semua kursi. Sekadar untuk ikut ramai-ramai perang tarif, rupanya. Dengan banyaknya pesawat Lions dan Bouraq jurusan Jakarta-Surabaya, bisa jadi penumpang Garuda memang tersedot ke sana.
Maka, kini Garuda menempuh kiat baru. Balik menyedot penumpang dengan menggunakan pesawat besar untuk Surabaya-Jakarta. Pilotnya pun ikut promosi dengan memberikan pengumuman kepada penumpangnya begini: Selamat datang di dalam pesawat Garuda, pesawat yang paling canggih… Rupanya, dengan menggunakan kalimat “paling canggih”, Garuda ingin mengingatkan bahwa perusahaan lain menggunakan pesawat tahun 1980-an.
Benarkah pesawat yang digunakan Garuda itu yang paling canggih? Sabar dulu. Sang pilot masih meneruskan kata-kata “yang paling canggih” tersebut dengan lanjutan “yang dimiliki oleh Garuda…”
***
Kalau pesawat Concorde mulai kemarin tidak lagi terbang untuk selama-lamanya, tentu tidak ada hubungannya dengan perang tarif. Pesawat itu memang sudah waktunya tidak boleh terbang karena umurnya yang sudah 20 tahun. Kalau saja bisa disewakan ke Indonesia, barangkali saja masih bisa diberdayakan. Namun, mau untuk jurusan mana?
Saya tidak menyesal Concorde mengakhiri masa baktinya. Saya sudah pernah “makan sate”-nya. Saya pernah menggunakan Concorde ketika akan pergi dari London ke New York. Saya akan terus ingat pengalaman itu meski sertifikat saya sebagai orang yang pernah naik Concorde hilang entah di mana.
Yang selalu saya ingat adalah bahwa jarak London-New York hanya saya tempuh 3,5 jam. Saya berangkat dari London pukul 10.00, sampai di New York masih pukul 09.30. Malah lebih pagi setengah jam!
Saya juga masih ingat bagaimana rasanya percepatan laju pesawat itu hingga akhirnya mencapai dua kali kecepatan suara. Juga bagaimana melihat bumi yang melengkung dari ketinggian 60.000 kaki itu!**

Dahlan Iskan dengan Kemeja Putih tanpa Kerah



ADA  yang berubah dari penampilan Dahlan Iskan setelah tidak lagi menjabat menteri badan usaha milik negara (BUMN). Sebelumnya mantan direktur utama (Dirut) Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu selalu mengenakan kemeja putih dengan lengan baju dilipat. Kostum itu sudah lama menjadi ciri khas Dahlan, bahkan sejak sebelum menjadi Dirut PLN maupun menteri BUMN.

Belakangan banyak pejabat yang meniru gaya berpakaian Dahlan tersebut. Termasuk Presiden Joko Widodo dan anggota Kabinet Kerja. Tidak hanya gaya berpakaian, slogan kerja..kerja..kerja.. yang selama ini identik dengan Dahlan juga dipakai di kabinet Jokowi-JK.
”Sekarang saya tidak punya jabatan apa-apa. Saya tetap memakai kemeja putih, tetapi tidak berkerah. Jadi tidak terkesan formal. Yang sebelumnya sudah banyak ditiru,” ujar Dahlan saat berdialog dengan para redaktur dan jajaran manajer Jawa Pos di Graha Pena Surabaya (12/11). Dahlan memadukan kemeja putih ”barunya” dengan celana panjang hitam dan sepatu DI.
Pria kelahiran Tegalarum, Magetan, itu mengatakan sudah memutuskan untuk tidak tinggal lagi di Surabaya. Aktivitas Dahlan setelah tidak menjadi menteri juga tetap padat. Suami Nafsiah Sabri tersebut tengah sibuk menanam kaliandra merah. Tanaman itu memiliki kalori tinggi sehingga cocok dijadikan sumber energi.
Kaliandra cocok ditanam di tanah tandus di luar Jawa. Kaliandra akan menjadi bahan bakar listrik di daerah-daerah terpencil yang belum dialiri listrik PLN. Setiap 200 hektare kaliandra mampu menggerakkan pembangkit listrik 5 megawatt. ”Nanti di kemeja saya akan ada tulisan kaliandra,” ucap Dahlan sambil menunjuk dada kirinya. (c9/tom)
http://m.jpnn.com/news.php?id=269577

Minggu, 02 November 2014

Dahlan Iskan Puji Bank Kambing Santrendelik

SEMARANG – Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan kemarin (2/11) meresmikan bank kambing yang digagas Santrendelik Kampung Tobat Semarang. Dia memuji pendirian bank kambing di pondok pesantren tersebut.

Dahlan ingin memantau perkembangan Yayasan Santrendelik tersebut. ”Kita lihat lima tahun ke depan, mereka (pengurus Yayasan Santrendelik) sudah bertengkar atau belum. Kalau belum, ditakdirkan Santrendelik akan menjadi pesantren yang istimewa,” paparnya.

Pondok pesantren kontemporer itu berlokasi di tengah hutan jati di Kampung Kalialang Lama, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

Ponpes yang baru enam bulan berdiri tersebut dinamakan Santrendelik atau pondok pesantren yang lokasinya ndelik (tersembunyi).

Ketua Yayasan Santrendelik Ikhwan Saifullah mengatakan, bank kambing Santrendelik sudah memiliki 60 ekor kambing.

Nanti setiap empat bulan sekali, kambing tersebut dijual dan dibelikan kambing lagi. Keuntungannya digunakan untuk membangun pesantren. Juga akan dilakukan audit untuk pemantauan.

”Enam puluh ekor kambing dalam satu kandang akan didistribusikan ke setiap desa. Kami menargetkan dalam setahun bisa memiliki 5 juta ekor kambing sehingga dengan adanya bank kambing, pesantren bisa dihidupkan dan dikembangkan,” katanya. (mg9/aro/JPNN/c6/sof)

Slogan Kerja Kerja Kerja


Slogan Kerja Kerja Kerja memang sedang ngetrend. Inilah hebatnya bapak Presiden kita yang baru untuk membuat tagline lama menjadi mudah terkenal.
Semangatnya adalah tidak perlu lagi terlalu banyak pidato, protokoler, formalitas tapi langsung Kerja Kerja Kerja.
Di Era bapak SBY beberapa menteri sudah menerapkannya bahkan menjadi tagline instansi PLN dan BUMN. Tak ayal pemimpin dua instansi ini lansung berlari penuh. Berbagai terobosan dilakukan.
Slogan ini menjadi semangat untuk bekerja sepenuh hati. Bagus bukan? Karenanya pak Jokowi jatuh hati untuk menggunakan slogan ini dalam pidatonya dan bahkan kabinetnya di kasih nama kabinet kerja.
Semangat ini bagaimanapun bagus konsepnya namun tetap saja harus dilihat hasil nyatanya.
Pak Dahlan Iskan yang selalu menggunakan tagline ini sebagai revolusi mental sejak di PLN dan BUMN saja harus betul betul kerja sangat keras. Itupun tidak semua berjalan mulus. Beberapa diantaranya masih menyisakan soal seperti Leces dan Merpati.
Nah kabinet sekarang dengan tagline formal kerja kerja kerja mau tidak mau harus berlari kencang. Jangan lagi pakai hak tinggi dan sepatu pantofel. Yang cocok ya sepatu kets yang biasa dipakai berlari.
Tentu saja Kerja Kerja Kerja ini konsekuensinya adalah mendekatkan masalah, mencari solusi langsung dari lapangan tanpa harus selalu menunggu laporan yang tercetak.
Itu dinamakan blusukan oleh pak Jokowi, istilah yang terkenal di seantero alam.
Karena dekatnya dengan lapangan dan masyarakat, sedikit saja berlebihan, langsung bisa disematkan pencitraan.
Satu satunya cara membungkamya dengan menunjukkan hasil kerja kerja kerja tersebut. Harus betul betul dirasakan.
Masalah harus dihadapi tanpa harus menyalahkan bahwa sebelumnya kacau balau dan ujungnya menyalahkan karena menerima warisan masalah.
Pak presiden harus tahu mana yang bisa bekerja, mana yang hanya pesolek semata. Harus berani ganti menteri yang susah diajak lari.
Kalau kabinet ini tidak bisa menunjukkan hasil bagus dan selalu menyalahkan kebijakan sebelumnya maka sematan pencitraan belaka memang betul-betul layak tersemat.
Jangan sampai Kerja Kerja Kerja hanya jadi slogan KW2.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost