Sabtu, 09 Juni 2012

Cek Time LIne, Ketemu Dahlan Iskan by boedipanggul

Cek time line twitter nampaknya menjadi rutinitas saat ini bagi setiap orang yang membutuhkan literatur informasi, hulu informasi terpampang jelas disini. Sarapan pagiku menggeser track-pat hp yang ada di genggaman, naik turun sesuai perintah ibu jari. Memantau berita-berita nasional terbaru seakan menjadi suatu kewajiban.
Dramatis, ketika pagi jam 09.00 WIB 21/05 itu semua portal media online yang saya follow gencar menerbitkan judul-judul berita terbaru, justru akun portal media online @tempo.co menerbitkan timeline yang membuat saya tersimak beberpa detik: Kuliah umum ttg wirausaha khusus utk mahasiswa. Gratis. Email nama, universitas, jurusan, no. telp ke kuliahterbuka.tempo@gmail.com. Dalam acara seminar yang di selenggrakan tempo media grup ini melibatkan narasumber menteri BUMN Dahlan Iskan dan Zulkifli Zaini, Direktur Utama Bank Mandiri serta di susul Jimmy M. Rifai Gani Direktur Utama PT Sarinah.
Bangga ketika acara sebesar ini di selengarakan secara gratis, dan memang sejatinya ilmu itu tidak di jual belikan. Acara ini termasuk dalam identifikasi perburuan bagi teman-teman mahasiswa yang ingin begelut dalam dunia interpreneur. Suntikan antusias terlihat kala sang menteri BUMN menajadi narasumber dalam acara ini.
Begitu informasi tempo hari itu. Kontan saya langsung menyebarkan informasi ini ke teman-teman sekampus. Lega, kabar itu di sambut sedikit hysteria dari salah satu teman saya yang beda jurusan, saking girangnya seketika itu melencurkan time-line terbarunya seperti ini: @SintaSPS_ Dahlan Ishkan yaa , AKU NGEFANS BANGEEEET ┐(’‘┐) (┌’‘)┌”". Sambil menyelam minum air, itulah sejatinya arah twiiter itu diguanakan menempatkan akal sehat yang sesungghnya. Jangan sampai terhanyut “hedonisme” kemajuan teknologi yang hanya memakai media sosial untuk sebatas kenarsisan.
Baru sempat tadi pagi jam 05.00 WIB (29/05) saya mendapatkan e-mail dari panitia seminar KULIAH UMUM WIRAUSAHA TEMPO MEDIA GROUP dengan tema “ Mahasiswa, Bisnis, dan Masa Depan’ akan di adakan Convention Hall  Jl. Arief Rahman Hakim No. 131-13 Surabaya. Hari Kamis, 31 Mei 2012.
Acara seminar ini sebenarnya mundur dari jadwal semula yaitu (25/05). Dalam e-mail yang saya terima dari pihak penyelenggara menyebutkan: kalau acara yang sedianya menghadirkan Menteri BUMN bapak Dahlan Iskan sebagai Keynote Speaker, dengan terpaksa harus kami tunda mengingatadanya perubahan jadwal mendadak bapak menteri terkait dengan tugas beliau.
Jeda waktu itu kini berubah menjadi hari H pagi hari ini di tengah hembusan angin embun mengatarkan untuk bergegas menuju convention hall, tepat di JL. Arif Rahman hakim, ayunan pertama langkah kaki ini, di sambut suara teriakan rumah kontrakan yang di huni mahasiswa teknik perkapalan ITS di depan rumah, ” Jadi ikut kuliah umum-nya “Pak dahlan Iskan”, tanya Gunadhi kepada Fiky. “Iya jadi,” jawab fiky.
Terdengar suara itu seketika aku langsung memutar haluan menuju suara itu.” Ayuk mas berangkat bareng aja, yang acaranya tempo media grup kan ” timpal ku dengan cepat. ” Iya but,” saut mereka berdua kompak.
Memang ini skenario Tuhan di luar dugaan. Perjalanan dari rumah hanya 5 menit, setibanya di parkiran peserta sudah membludak, tambun di berbagai sudut. Pemandangan terlihat dari berbagai sisi dari yang mulai duduk-duduk, sampai hiruk-pikuknya peserta yang register absensi di meja tamu yang telah di sediakan panitia, sementara aku sendiri di sibuk dengan mencari stan dengan nama kampusku. Ketemu tapi penjaga stan-nya belum datang. Selang beberapa menit kemudian akirnya datang seroang cewek penjaga stan dengan T-shirt merah bertulisan tempo.co itu duduk dan memprsilahkanku untuk mengisi kehadiran.
Tragis, setelah saya cek. Nama saya tidak ada di kolom peserta, perasaan was-was mulai merendung, takut kalau tidak bisa masuk. Syukur cewek pemakasi t-shirt merah yg ramah itu mempersilahkan ku untuk menuliskan sendiri nama, jurusan, kampus dan coertan tanda tangan. Ini kupon dorprise-nya mas,” katanya dengan senyum simetris ramah.
Saking banyak-nya peserta, antrian masuk “auditorium” berjubel, dengan girangnya bingkisan berisi buku “Sepatu Dahlan” T-shirt tempo warna merah, snack, koran dan majalah tempo sudah ada di genggaman. Aku menuju kursi kosong di depan deret ke-4. Takjub. Megahnya ini acara.
***###***
Cepluk tangan yang meriah untuk Pak Dahlan Iskan ?,’’sambutan MC pertama kali. Suara bergemuruh, riuh menggema di berbagai sudut. Kemeja putih dengan sepatu ketnya sudah tampak terlihat, dari ratusan peserta yang membelakangi pandangan. Oh itu Pak menteri BUMN yang selama ini hanya bisa di lihat lewat layar 14-inch,”tanya batinku sendiri. Kalimat pertama yang di dengungkan Pak Dahlan adalah ketika MC mempersilahkan Pak Dahlan Memberi sambutan,’’Oke sambutan di mulai sekian terimakasih,’’ kelakarnya (hahaha) di saut ribuuan tawa beserta ribuan tepuk tangan teman-teman mahasiswa.
Dalam kuliah umum yang di selenggarakan Tempo Media Grup ini selain menteri BUMN juga turut hadir direktur Tempo Bambang Harymurti, wakil gubernur Jawa Timur Saipulah Jusuf yang selama ini akrab di sebut Gus Ipul, dan direktur Bank Mandiri Zulkifli Zain.
Sesi pertama acara ini adalah, sambutan dari Kepala Pemberitaan Korporat PT Tempo Inti Media Tbk, Toriq Hadad,’’Bagi yang belum mem-follow Pak dahlan alamat twitter-nya @iskan_dahlan yang tadi pagi 120.050 followernya.”ungkapnya.
PLN ini cuman butuh satu orang “bodoh” untuk melengkapi orang-orang pinter yang ada di PLN ini, saya tercekik denan statmen ini tapi segera keterkejutan saya agak lega setelah inget ilmu petis, Jawa Timur kan petis yang terbaik itu bukan campuran petis yang paling mahal tapi antara lain istilahnya petis ledok yang murah itu yang membuat campuran lebih enak, kerja sama ini nampaknya yang membuat kunci sukses manajemen-nya Pak Dahlan,’’ imbuhnya lagi. Toriq Hadad juga mengajak para hadiirin untuk mendoakan, agar Pak Dahlan bisa mencetak prestasi-prestasi yang di butuhkan Indonesia. Selain itu Kepala Pemberitaan Korporat PT Tempo Inti Media Tbk di Tempo Media Grup itu juga mengapresiasi atas prestasi Bank Mandiri yang masuk dalam 2000 perusahaan terbaik dunia.
Tak kalah menariknya untuk di simak, sesi ke-2 podium di isi oleh Gus Ipul wakil bupati Jawa Timur, Gus mengatakan: mencatat apa yang dilakukan dan melakukan apa yang di catat. Tapi pak Dahlan melakukan itu sejak dulu,” terang orang nomer 2 di Jawa Timur ini. Gus menambahkan, kerja kerja dan kerja yang mengatarkan Pak Dahlan sampai prestasi sekarang ini. Banyak torehan prestasi yang di lakukan Pah Dahlan selain mengatarkan Bank Mandiri menjadi perusahaan Global juga PT Semen Gresik, PT Telkom dan lain sebagainya totalnya ada 5 peusahaan. Dalam pemaparanya Gus Ipul, JATIM (Jawa Timur) merupaka pertubahan ekonomi yang sangat baik di atas rata-rata, 7,7% pertumbuhan ekonomi di tahun 2011. Menurt Gus yang jadi masalah di JATIM interpreneur-nya yang kurang,
Setelah Gus Ipul menjelaskan Panjang lebar, kemudian giliran Dahlan Iskan yang naik ke panggung namun tidak sampai mengisi podium, hanya berdiri di panggung.
Persoalan mendasar kita itu bukan masalah bisa atau tidak bisa, tetapi mau atau tidak mau kalau kita mau pasti kita bisa. Menurut Dahlan ekonomi Indonesia akan terus bergerak terlepas dari apakah politik ini akan terus ramai atau tidak, kiarena antara politik dan ekonmi ini sudah semakin terpisah dan itu menunjukkan negara yang modern. Maksut saya begini,” ketika poltik ramai terus orang sikut-sikutan dan semua peroslan di politisasi. Tetapi ekonomi kok tumbuh terus, bisnis tumbuh terus, kelas menengah bertambah terus, bandara-bandara sampai kualahan menampung penumpang. Orang beli mobil antri, beli sepeda motor antri ini agak aneh.
Politiknya begini riuh rendah, politiknya begini kacau kok ekonominya jalan terus. Ini kenapa ? ini tanda-tanda Indonesia memang akan menjadi negara modern. (cepluk tangan bergemuruh mendengar pemaparan Dahlan). Kalau di sebut negera modern politik sama ekonomi sudah terpisah. Politik tidak lagi mempengaruhi ekonomi, dan ekonomi kelak yang akan mempengaruhi politik. Jadi biar saja perpolitikan ramai dan “berkelahi” seperti itu. Tetapi yang mau maju terus saja maju.’’tegasnya.
Karena yang maju nanti kelak akan menentukan politik. Kita jangan mau politik menentukan kita. Kita nanti yang akan menentukan politik. Tapi perlu waktu. Na inilah yg terjadi tanda-tanda “kesana” semakin jelas. Bahwa ASEAN itu 11 negara tetapi tahun ini ekonomi ASEAN itu 51%-nya di pegang Indonesia. (cepluk tangan berkumandang, fiuh). Presentase ini akan terus meningkat karena memang Indonesia negara besar. Tahun ini itu kita harus lebih serius lagi. Karena ke adaan agak kacau. Yang terjadi minggu minggu ini ketika rupiah mulai terpengaruh itu memang negara-negara Eropa lagi sangat sulit.’’jelasnya lagi.
Tetapi jangan bayangkan bahwa sulitnya itu, sulit sampai gak karu-karuan. Itu sulitnya orang kaya. Artinya enak mana ? sulitnya orang kaya dengan senangnya orang miskin. Jadi kita tidak senang sekarang tetapi masih senangnya senang orang miskin. Eropa sekarang sangat susah, tapi susahnya orang kaya. Jadi jangan juga punya pikiran ketika negara Eropa mengalami krisis ekonomi, negara-negara Eropa bukan hancur secara ekonomi. Tidak begitu. Susah-susanya Amerika itu kayanya pasti bukan main. Kita harus melihatnya komperhansif.
Peserta semakin antsias dengan penjelasan Dahlan Iskan,’’ Sehebat-hebatnya Tiongkok yang kita puji sebagai negara yang luar biasa ketahanan ekonominya itu dua tahun yang lalu kekuatan ekonomi Tiongkok baru sama dengan kekuatan satu negara bagian Amerika yaitu California. Jadi tetap se susah-suahnya Amerika, Amerika tetep kaya. Dan senang-senangnya kita masih miskin (tertawa meledeak di segara penjru ruangan). Tetapi miskin yang punya harapan bukan miskin yang tidak punya harapan. Perimbangan ini akan semakin berubah. Kalau ekonomi kita terus tumbuh.
Dalam pemaparan dengan semangat yang menggebu-gebu,’’ Pucak kejayaan manusia ketika bermur 30-35 tahun. Jadi mahasiswa harus mempersiapkan semuanya untuk mencapai masa kejayan itu. Sebelum mencapai puncak kejayaan pengalaman harus di sipkan. Memang dalam usia mahasiswa kekuatan fisik sangar prima, kalaupun tidak tidur 3 hari saja masih kuat. Saya tidak tudur 1 malam saja sudah masuk angin.’’papar Dahlan. Jadi ketika anda di umur itu, anda bisa mencapai apa yang anda inginkan. Karena fisik anda kuat. Itu yang saya sering katakana tidak mungkin mengalahkan anak muda. Jadi pemuda harus di perhaikan dan kalau mau maju perhatikan anak muda. Beri kesempatan kepada anak muda. Dahlan “meramalkan”kapitaliasi pasar modal Indonesia tahun depan akan mengalahkan Singapura.
Bisnis itu harus dimulai sejak sekarang, dari hal terkecil, contoh saja jual hp-mu ke temanmu.”tawa kelakar bergemuruh menyebar di segala sudut gedung suasana yang serius kembali santai dengan guyonan ala Dahlan Iskan. Kenapa dari yang terkecil agar kalau jatuh tidak sakit dan kalau rugi tidak banyak.
Secara spontan Dahlan mengajukan pertanyaan kepada peserta,’ Siapa yang dalam berbisnis sudah kena tipu ? angkat tangan, sekitar 15 peserta maju ke panggung. Dahlan menanggapi berbisnis itu harus kena tipu dulu, jadi yang belum kena tipu saya doakan kena tipu.(hahha) guyonan-nya kembali di sambut riuh senyum peserta. Dari proses kena tipu itulah mental jadi pebisnis terasah dan berpengalaman.’’ Terangnya gamblang.
Di sesi akhir acara, peseta di bekali tips yang di sampaikan oleh dirut Bank Mandiri seputar bisnis: Tetap bangun dan terus kembangkan jiwa nasionalisme. Terus kembangkan kemampuan prolem solving yang tajam, kreatif dan inofatif. Tidak sungkan mengeluarkan pendapat sampaikan dengan santun dan terstruktur. Asah terus kepercayaan diri, biasakan bicara di depan umum. Selalu disiplin dan berorentasi pada hasil. Kembangkan network di dalam dan di luar kampus. Berupaya maksimal jangan menyerah dan tetap semangat.

Salam citizen reporter boediinstitute@boedipanggul

Jumat, 08 Juni 2012

PELAJARAN BERHARGA DARI DAHLAN ISKAN

PELAJARAN BERHARGA
DARI DAHLAN  ISKAN
Kita sering tidak menyadari bahwa di setiap kejadian, selalu ada pelajaran dan pesan moral. Itulah yang ingin saya sampaikan lewat  catatan kecil tentang Dahlan Iskan berikut ini.  Mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua.  
_________________

Sedikit yang tahu, kapan Pak Dahlan itu mulai belajar bahasa Mandarin.  Bahkan, karyawan Jawa Pos Group orang yang ngantor di lantai 4 gedung Graha Pena pun tidak semuanya tahu. Saya termasuk dari sedikit orang yang tahu itu.   Pertanyaannya: kenapa banyak yang tidak tahu? Atau,  kenapa pula sedikit yang tahu?
  Banyak yang tidak tahu karena kegiatan kursus bahasa Mandarin itu dilakukan  enam hari dalam seminggu, mulai pukul 07.30 selama dua jam dan kadang lebih lama.  Saat itu, Para redaktur mungkin masih ngorok, para wartawan sedang melakukan liputan berita. Sementara karyawan bagian umum baru datang dan langsung tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Saya yang saat itu masih bertugas sebagai Front Office, jadi tahu karena ruangan Pak Dahlan sekaligus tempat berlangsungnya private bahasa Mandarin itu, berada persis di belakang tempat duduk saya.

Kursus bahasa Mandarin itu berlangsung selama lebih kurang 3 bulan  sebelum beliau sakit dan menjalani operasi ganti hati. Guru private-nya seorang wanita setengah baya. Saya tidak tahu namanya (gak  pernah tanya namanya karena setiap hari ketemu hanya sekilas).  Yang sering saya ketahui, Pak Dahlan selalu datang lebih awal dari gurunya.  Semangat belajarnya begitu tinggi. Saya juga sering melihat beliau membaca buku (saya yakin itu diktat pelajaran bahasa Mandarin) ketika keluar dari ruangannya. Samar-samar terdengar Pak Dahlan seperti menghafal kosa kata yang saya tidak mengerti, kata dalam bahasa Mandarin.

Pengalaman Menggelikan
  Pertama:  Suatu hari, ada suami istri keturunan Tionghoa sedang duduk di ruang tunggu Lt. 4 Graha Pena untuk suatu keperluan. Pak Dahlan keluar dari ruangannya dan langsung menemui kedua tamu tersebut. Lalu, Pak Dahlan menyapa tamu tadi dengan bahasa Mandarin. Keduanya hanya tersenyum dan tidak menjawab. Sementara Pak Dahlan kembali berkata-kata dalam bahasa Mandarin. Baru setelah tamunya mengatakan bahwa mereka tidak mengerti apa yang diucapkan, Pak Dahlan tersenyum lalu  minta maaf dan segera berlalu. Saya dan teman saya Indri yang melihat kejadian itu tertawa geli.

Si tamu buru-buru mendatangi saya dan bertanya siapa orang yang menyapanya dengan bahasa Mandarin tadi. Saya jawab bahwa beliau adalah Pak Dahlan Iskan.

“Oooooo masak sih itu Pak Dahlan?” nadanya setengah percaya.

“Memang kenapa Pak? Saya balik bertanya.

“Waduh saya senang bisa ketemu sama bos Jawa Pos. Tapi saya juga malu karena saya ini keturunan Tionghoa gak bisa bahasa Mandarin. Kalau sama Pak Dahlan… pokoknya salut sama beliau,” katanya sambil geleng-geleng kepala.

Kedua: Sore sekitar pukul 15.00, Pak Dahlan membawa beberapa buku sambil menyeret koper dari ruangannya. Rupanya beliau mau bepergian. Saya dipanggil dan minta bantuan untuk membawakan buku-bukunya. Kemudian, dia minta bantuan juga pada Yanto untuk membawa kopernya. Kami bertiga masuk ke dalam lift Lt. 4 untuk turun ke lantai satu.

“Saya mau ke luar negeri, saya mau sekolah bahasa Mandarin,” kata Pak Dahlan dengan nada sangat bangga. Belakangan saya baru tahu bahwa beliau memperdalam habasa Mandarin di
Jiangxi Shi Fan University Nanchang.
“Selamat ya Pak, saya salut Pak, Bapak masih punya semangat belajar. Jangan lupa menulis pengalamannya dari luar negeri Pak, saya selalu mengikuti laporan-laporan dari luar negeri yang Bapak tulis di Jawa Pos,” kata saya. Yanto yang diminta tolong membawa koper tadi, hanya tersenyum. Saya tidak tahu apa yang dia pikirkan karena selama di dalam lift hanya menunduk saja.

“Kenapa senang?”

“Karena cerita yang Bapak tulis selalu menarik dan enak dibaca” Pak Dahlan hanya menjawab “Oooo”  sambil tersenyum.

Kami sampai di lantai bawah, di ruang lobby. Yanto dan saya berjalan di belakang Pak Dahlan menuju ke pintu depan. Kami menunggu mobil jemputan, sementara Yanto pamitan dan langsung keluar dari lobby. Pak Bos tanya pada saya, “Tadi itu siapa?” Saya menjawab namanya Yanto dan dia itu karyawan Elang Expres, sebuah ekspedisi yang biasa mengantar kiriman barang di Jawa Pos, Radar Surabaya  dan Tabloid Nyata.
“Tadi dia itu mau mengambil barang untuk dikirim. Tapi hari ini tidak ada pengiriman” mendengar jawaban saya, Pak Dahlan terlihat agak kaget.

“Saya kira dia itu karyawan kita (Jawa Pos Group), saya tidak tahu kalau dia itu tamu kita. Kalau ketemu dia tolong sampaikan permintaan maaf saya ya.”

Lewat catatan ini, ada pelajaran berharga dari Pak Dahlan yang ingin saya sampaikan, bahwa: belajar sesuatu itu tidak kenal usia dan sekecil apa pun kesalahan harus diikuti dengan permintaan maaf.  Saya pun minta maaf  jika catatan kecil ini tidak berkenan di hati teman-teman.

Salam Like DIS Rek**  
Surabaya, Kamis 7 Juni 2012

PERANG EGO ANTAR KAWAN


Di Balik Liputan Jacko, Singapore ’93 (1)
PERANG EGO ANTAR KAWAN


Bekerjasama harus rukun, agar jadi the dream team. Tapi ego manusia kadang membuat situasi rumit. Pengalaman liputan saya sbg wartawan Jawa Pos (JP) ini, menggambarkan itu.
------------------------------
Mega bintang Michael Jackson (alm) menggelar “The Dangerous World Tour” 1993, menonjolkan lagu Dangerous. Di Asia, digelar di Tokyo, Hongkong, Bangkok, Singapura, dan (tentatif saat itu) Jakarta.
Saat dia tampil di Hongkong, Juli ’93 dipastikan, Bangkok dan Jakarta batal. Alasan pembatalan Jakarta, pihak Jacko meragukan keamanan properti panggung, konon senilai USD 22 juta. Sebelumnya (April ’93) konser Metalica di Lebak Bulus, Jakarta, hancur-hancuran, memang..
Saya disiapkan meliput di Jakarta. Bidang liputan saya ekonomi makro, khususnya moneter. Saya juga bukan penggemar Jacko. Tapi, penugasan dari Pemimpin Redaksi Pak Dahlan, pantang ditolak. Malah, saya kira ini hadiah Pak Dahlan buat saya.
Paling efisien ke Singapura, daripada menunggu berikutnya di Australia. Kebetulan, ada travel di Surabaya buka paket wisata 3 hari, sekaligus nonton Jacko di Singapura. Jadwal nonton bisa pilih 29 atau 30 Agt ’93. Biaya lebih ngirit lagi dibanding penugasan langsung. Efisiensi jadi prinsip Pak Dahlan membesarkan JP, dan saya sependapat.
Redaktur Pelaksana Nani juga menunjuk wartawan spesialis musik Jawa Pos (JP), Hendri. Dan, Pemimpin Redaksi Tabloid Nyata (anak perusahaan JP) @Joko Irianto. Kami bertiga (sekantor) dimasukkan ke paket nonton hari kedua.
Saya menawar, untuk wartawan JP, baiknya pilih salah satu: Saya atau Hendri. Pekerjaannya sederhana kok, tak perlu dikeroyok. Nanti malah berebut. Tapi sudah terlanjur didaftar. Entah siapa yang mendaftarkan, tapi ini menyimpang dari efisiensi.
Nani berkeputusan begini: “Kalau begitu, biar Hendri membantu Joko liputan Nyata. Sebab, Nyata butuh banyak tulisan,” katanya.
Berangkatlah kami bertiga dari kantor JP, Jl Prapanca Jakarta. Kami memegang tiket masing-masing, kiriman dari travel. Rombongan Surabaya langsung ke Singapura, kami akan ketemu di Changi Airport.
Uang SPJ tidak banyak, sebab semuanya sudah ditanggung pihak travel. Saya diberi USD 100 untuk 3 hari, dua kawan saya kayaknya juga segitu. Dan, membawa sebuah mesin ketik untuk bertiga.
Sejak berangkat, saya merasa kami tidak harmonis. Mestinya ini suasana gembira. Liputan gampang dan enak, sekalian rekreasi. Kami bertiga (sudah ngobrol) sama-sama belum pernah ke Singapura. Tapi kegembiraan tidak terpancar di wajah Joko, kawan akrab saya. Begitu juga Hendri.
Joko salah satu wartawan andalan JP seangkatan saya (masuk 1984) yang sejak beberapa tahun lalu ditunjuk jadi Pemred Nyata. Hendri baru 5 bulan jadi wartawan JP. Belum lolos sama percobaan I (6 bulan). Dia mengaku penggemar berat Jacko.
Selama dalam bus Damri (Blok M – Bandara Soeta) Hendri cerita sejarah Jacko, lagu-lagunya, action panggung, kasus pelecehan seksual. “.... Soal action panggung, pokoknya Jacko tak ada duanya di dunia...” ceritanya.
Barangkali dia cerita begitu detil, sebab saya wartawan ekonomi. Perlu disuntik informasi. Sayangnya, telinga saya tertutup headset, menyimak Heal the World (lagu-2 Jacko). Joko, sibuk baca koran. Entah pura-2 atau serius.
Saya melihat Joko kurang suka pada Hendri, bukan sebab menggurui perihal Jacko. Saya menduga, Joko wartawan senior (apalagi dia andalan Pak Dahlan) merasa mampu meliput ini sendiri. Apa sulitnya? Saya yakin dia tidak hanya menyajikan liputan show, tapi bisa lebih dari itu. Lalu, apa gunanya Hendri?
Rasa egois ini pula yang saya alami sebelum berangkat tadi. Sehingga saya tawarkan, pilih salah satu. Mungkin, karena tawaran itu pula Joko jadi kurang suka pada saya. Sebab, Hendri jadi ‘dilempar’ di bawah koordinasi dia, yang bisa saja nanti malah ngrecoki. Andai tidak ngrecoki, mengurangi prestis Joko sebagai wartawan andalan.
Sebaliknya, Hendri kelihatan kecewa saat ditentukan meliput untuk Nyata. Mungkin dia ingin meliput untuk JP, koran kebanggaannya. Tapi dia wartawan baru, tak berani membantah. Apalagi, dia tidak begitu kenal Joko. Jadi serba gak enak.
TAK GENDONG, KEMANA-MANA…
Bandara Soekarno-Hatta riuh-rendah. Turun dari bus, terik matahari menyengat ubun-ubun saya. Joko dan Hendri turun belakangan. Saya dengar Joko menegur Hendri yang buru-buru turun:
“Dri, mesin ketik kamu bawa, nih.”
Baru saya ingat, tadi, mesin (beratnya sekitar 4 kali laptop) itu saya bawa. Waktu naik bus, semua barang dikumpulkan di bagian depan. Waktu turun, mesin tidak saya bawa. Pikir saya, gantian-lah... Ternyata Joko memberi tugas ke Hendri: “Mulai sekarang, mesin kamu bawa terus.” Hendri: “Siap... bos.”
Rasanya, penugasan itu fair juga. Hendri wartawan baru. Cuma, mesin itu selain berat, juga besar (kira-kira sedikit lebih besar dari PC). Dimasukkan ke tas tak cukup. Jadi harus digendong, kayak nggendong bayi begitu. Di tengah kerumunan orang-orang keren di bandara, tentu Hendri kelihatan ndeso...
Usai pemeriksaan metal detector, Hendri berjalan cepat mengarah ke eskalator yang menuju ke gate di atas. Aneh. Apakah dia ngambek, sehingga lupa boarding pass?
Joko menggamit lengan saya, lalu tertawa, “Biar saja, mau kemana dia,” katanya. Kami antre, mengabaikan Hendri. Eee... tak lama dia muncul juga mendekati kami. “Ayo... kita nanti terlambat, lho,” ujar Hendri bersemangat.
Kami tercengang melihat kawan satu ini. Lantas Joko mendekati Hendri dan berbisik, “Hei... Bung. Kamu belum pernah naik pesawat, ya?” bisik Joko. Hendri tersenyum malu-malu,menggeleng.
Alamaaaak... dia cerita tentang Jacko begitu meng-international, nggak taunya...
Untung, para pengantre tidak keberatan Hendri menyisip, antre di belakang saya. Sebab, mereka tahu kami berteman. Joko di depan saya, sudah dilayani. Setelah saya dilayani, Joko dan saya tidak segera pergi. Menunggu Hendri. Kasihan pada teman, kalau-kalau terjadi apa-apa.
Hendri meletakkan mesin ke lantai, glodaaak... Lantas dia menyodorkan tiket. Tapi, cewek cantik petugas konter itu lebih tertarik melihat barang berat yang diletakkan Hendri. Lalu menegur, “Itu masuk bagasi, Mas?” tanya si cantik, menunjuk mesin.
Saya segera menjawab: “Tidak usah, Nona. Itu muat, kok... di bagasi kabin.” Lalu si cantik mengabaikan mesin ketik, membuatkan pass untuk Hendri. Usai boarding, kami bertiga meninggalkan konter. Hendri kembali menggendong mesinnya.
Tak lama kami berjalan, Hendri mengeluh. “Wah... tadi mending mesin ini masuk bagasi saja, ya...” ujarnya, memelas. Joko kini maju. Matanya melotot, “Ini barang paling penting bagi kita. Kalau sampai hilang, modaaarr... kita semua,” tegasnya.
Saya menengahi: “Ya, sudah. Gendong saja, Dri. Tinggal sedikit lagi masuk pesawat.” Sekilas Hendri kelihatan acuh. Mungkin saja merasa sebel. Dia naikkan gendongan yang mulai melorot, kami jalan lagi.
Waktu tahu nomor kursi saya B, saya minta tukar dengan Hendri yang A. Sebab kursi Joko C. “Dri, aku ingin duduk dekat jendela, nanti kita tukar tempat, ya,” kata saya. Dia tak keberatan.
Nah, jadilah kini Hendri duduk di tengah. Kalau saya duduk di B, pasti tidak enak rasanya, andai dia cerita tentang Jacko, saya tak mendengarkan. Kini sudah aman. Sebelum dia mulai cerita, telinga saya tutup dengan headset. Lagu Jacko lagi...
Waduh... ternyata Joko juga sudah mengantisipasi. Dia baca koran. Bergaya serius, lagi. Tinggallah Hendri yang kesepian. Hebatnya, dia diam. Bagus-lah.
EXCUSE ME, MISS…
Kami kehilangan rombongan tur di Changi Airport. Meskipun sudah janjian kumpul di halte penjemputan, tapi halte itu panjangnya sekitar 100 meter. Ribuan orang bergegas disitu. Apalagi, kami tidak kenal kepala rombongan (saya lupa namanya). Hanya diberitahu nama.
Bisa saja, memang, menggunakan jasa halo-halo yang suaranya menggema di seluruh bandara. Tapi, kami sepakat, itu tidak perlu. Malah saling bingung cari-mencari. Toh, kami sudah tahu bahwa mereka bakal kumpul di Hotel Hilton.
Supaya gampang, kami naik taksi menuju Hilton. Sopirnya orang Melayu, bisa bahasa Indonesia dialek Melayu. Sebab, katanya, dia sering jalan-jalan ke Batam.
Mengamati bersihnya jalanan, indahnya Singapura, Joko punya ide: “Bagaimana kalo kita tidak pulang bersama rombongan. Setelah liputan, kita rekreasi,” katanya. Semua setuju. Mulailah kami menghitung, antara bekal dengan biaya hidup.
Sopir tidak tahu persis tarif hotel. “Aneka macam-lah... Nak bergantung hotelnya,” ujarnya. Dan, dia tak keberatan berhenti di tiap hotel, lantas kami bertanya tarif.
Tiba di hotel yang kelihatannya tidak mewah (saya lupa namanya) taksi diminta berhenti. Joko menugaskan Hendri bertanya tarif. Yang ditugasi ogah-ogahan, “Kalo cuma nanya-nanya, ya gak enak, Mas,” ujarnya. Joko memaksa: “Sudahlah... kamu pura-pura mau menginap, tanyakan tarifnya.”
Hendri terpaksa turun, kami menunggu di taksi. Tak lama, dia sudah keluar, balik ke taksi. “Mahal, Mas. Semalam 90 dolar,” ujarnya.
Saat itu nilai tukar Rp 1.100 per SGD. Maka, tarif sekitar Rp 99.000. Sedangkan bekal kami USD 100 setara dengan Rp 200.000. Berarti, kami hanya mampu menginap semalam saja.
Taksi jalan lagi. Joko rupanya merasa tidak yakin dengan keterangan Hendri. Dia minta sopir mencari hotel lain lagi. Mobil masuk halaman YMCA Hotel (saya ingat nama ini, sebab sama dengan nama SMP saya di dekat Bioskop Ria, Surabaya).
Setelah Hendri turun dan masuk hotel, Joko mengajak saya mengamati, bagaimana sih, gaya Hendri bertanya ke resepsionis? Ngetes wartawan baru. Kami masuk hotel, melihat Hendri dari kejauhan. Dia berbaur dengan puluhan, mungkin ratusan tamu. Suasana lobby ramai sekali.
Hendri memang berada di dekat meja resepsionis, lebar setengah lingkaran. Tapi, dia tidak mendekat ke cewek-cewek cantik yang selalu siap menyapa. Harusnya, Hendri mendekat: “Excuse me, Miss....
Hendri malah celingukan, seperti mengamati sesuatu. Gaya tak tegas ini sebenarnya dilarang. Tapi, generasi Hendri memang tidak dididik Pak Dahlan langsung. Joko jadi tidak sabar, “Ngapain dia?” bisik Joko ke saya. Mana kutahu?
Lantas, Hendri balik, berjalan sigap ke arah pintu keluar. Saya dan Joko cepat menghindar, menjauhi pintu. Lalu kami mendekati resepsionis. Penasaran, apa sih yang diamati Hendri tadi?
Olalaaa… ternyata tarif hotel terpampang di dinding tak jauh dari resepsionis. Joko geleng-geleng, “Wah... wah... wah... Jangan-jangan, dia tak bisa bahasa Inggris,” ujarnya. Kami terbahak-bahak, tidak sadar disaksikan beberapa tamu yang keheranan. (bersambung, 24 jam)
Di Balik Liputan Jacko, Singapore ’93 (2)


Rambutnya pirang diikat ekor kuda. Matanya biru, dipayungi bulu mata lentik. Bodynya seksi dengan busana ketat. Dialah cewek Swedia yang mendampingi saya liputan kali ini.
---------------------
Jelang sore, lobby Hilton Singapore ramai. Ratusan orang lalu-lalang. Sebagian minum kopi di lounge, atau bergerombol di front desk resepsionis. Wajah-wajah mereka ceria, bau mereka harum, celoteh bahasa Inggris dan sebagian Mandarin.
Di luar cuaca cerah. Dari dinding kaca, ke arah luar, tampak pedestrian yang lebar (sekitar 15 meter) dihias aneka tanaman. Pejalan kaki kebanyakan anak muda, berpakaian modis.
Di arah sana, lalu lintas kendaraan di Orchard Road padat-merayap. Anehnya, begitu banyak kendaraan, tapi tidak macet. Bus juga taksi, tertib mengambil-menurunkan penumpang di halte.
Kami tidak kesulitan menemukan rombongan. Ada spanduk: “Rombongan Tour dari Surabaya, Check In Disini”. Dicantumkan juga nama travel kami (saya lupa namanya). Supaya tidak salah masuk. Sebab, ada beberapa spanduk semacam itu dari travel lain.
Pembagian kamar, satu untuk berdua (sesama jenis kelamin, pastinya). Joko dengan Hendri, saya dengan peserta tur lain (lupa namanya). Sudah tepat. Tak sengaja panitia seperti mengatur, wartawan Nyata kumpul di satu kamar. Cocok.
Joko mendekati saya, “Dwo, ini Hendri biar tukar kamar dengan kamu. Dia setuju. Kamu sekarang dengan saya,” katanya.
Wah… Diatur lagi. Hendri menurut saja. Sambil menggendong mesin ketiknya, dia mendekati saya, meminta kunci atas nama saya. Lantas saya mengikuti Joko, si pemegang kunci, menuju lift.
Di dalam kamar, saya mengkhawatirkan mesin ketik yang mestinya saya bawa. Sudah menjadi ajaran Pak Dahlan: Wartawan, begitu tiba di suatu tempat, sudah bisa langsung bekerja. Apalagi kini belum pukul 13.00. Waktu Jakarta mundur sejam. Jadi masih banyak waktu. Tapi, belum ada yang bisa diketik sekarang. Harus orientasi lapangan. Jadi, nanti saja mesin ketik saya ambil.
Hebatnya, Joko sudah meninggalkan kamar lebih dulu dari saya. Dia sudah koordinasi dengan Hendri via telepon kamar. Dia ke stadion, lokasi konser Jacko mulai besok malam. Sedangkan Hendri ditugasi masuk ke hotel Jacko, dan mengamati situasinya.
Mungkin Hendri menanyakan alamat hotel Jacko, sehingga Joko kesal. “Ah… kamu ini. Tanyakan ke siapa saja di Singapura ini pasti tahu hotelnya,” bentaknya.
Saya dengar dari panitia tur, Jacko menginap di Raffles Hotel di Marina Bay. Percuma kesana. Jacko pasti tak tersentuh. Saya sudah mempelajari kebiasaan Jacko dari beberapa tulisan, dia tidak pernah menggelar konferensi pers jelang konser, seperti kebiasaan musisi kita. Jacko sudah terlalu besar, tak perlu publikasi.
DARI PETUGAS KE PETUGAS
Saya sebenarnya sangat gelisah. Penugasan nonton di hari kedua benar-benar menyulitkan. Semua wartawan Indonesia pasti nonton di hari pertama. Liputan JP bakal ketinggalan dibanding Kompas dan koran lain.
Ingat ajaran Pak Dahlan, wartawan tak boleh berhenti bergerak. Itu yang membuat liputannya bagus.
Saya pilih ke stadion (Singapore National Stadium) di Kallang. Ganti bus dua kali, sampailah di lokasi. Ternyata semua pintu stadion dijaga puluhan bodyguard Negro. Semuanya tinggi besar (tingginya rata-rata sekitar 2 meter). Semuanya membawa HT.
Saya kalungkan kartu pers di leher, maju saja, berniat masuk. Namun, begitu dekat pintu, seorang diantara mereka menghadang. Saya sodorkan kartu pers yang masih terkalung. Dia teliti.
“No... no... no press,” bentaknya. Mungkin dia tak membentak, tapi dengan badan sebesar itu, power suaranya kuat. Saya tawari rokok dia menolak. Saya menyulut rokok sendiri.
“Apakah properti panggung sudah siap digunakan?” tanya saya.
“Ya, tentu saja.”
“Katanya, peralatan panggung canggih. Secanggih apa sih?”
Dia meneliti lagi kartu pers saya. Dia tanya negara asal saya, sebab di kartu pers tidak disebutkan negara. Setelah saya jawab Indonesia, dia tersenyum. Dia pernah ke Bali.
Dia jelaskan, panggung dilengkapi belasan kamera, tergantung di rangkaian tiang besi. Kamera digerakkan remote control, dan fleksibel mengikuti sang mega bintang. Masing-masing kamera dikendalikan seorang kru. Mereka koordinasi melalui HT. Gambarnya ditayangkan ke layar sangat lebar di kanan panggung.
Semua peralatan diangkut khusus dengan 2 pesawat Boeing 747 (jenis baru saat itu). Pertanyaan soal panggung dia jawab semua. Tapi tiap masuk ke pribadi Jacko, dia langsung “no comment”.
“Besok ‘kan hari ulang tahun Jacko, apa yang istimewa di konser besok?” tanya saya.
“Anda saksikan sendiri, besok.”
“Tiket saya untuk konser lusa.”
“O… harusnya anda nonton besok.”
Dia jelaskan, kemarin Jacko sudah mengamati panggung dan memberikan aneka instruksi kepada kru. Tapi belum sempat dia ceritakan detil, HT dia berbunyi, instruksi bahasa sandi.
Kini dia tak lagi mau bicara. Saya perhatikan, dia dan beberapa bodyguard Negro di sekitar pintu kini banyak bergerak, seperti sedang siap-siap. Ternyata ada barang besar yang dimuat truk, masuk ke stadion.
Saya mencari petugas lokal untuk tambahan informasi. Petugas lokal (berseragam, ID Card di dada) tidak berjaga di pintu. Mereka angkat-angkat barang, keluar-masuk stadion. Ketemu anak muda, tapi dia keberatan ditanya-tanya. Ada yang setengah baya, juga ogah didekati.
Saya yakin, saat Jacko cek panggung kemarin, pasti semua petugas menonton. Apa saja yang dilakukan Jacko, instruksi apa ke kru? Akhirnya, ketemu juga petugas yang mau cerita.
Ternyata, kemarin semacam gladi resik. Jacko tidak menyanyi, tapi dia banyak bergerak di semua areal panggung. Juga ada peragaan potong kue tart yang turun dari atas, melalui peralatan hydraulic. Jacko menjelaskan semua urutan skenario konser. Inilah liputan saya pra konser.
Lewat senja, saya kembali ke hotel mencari mesin ketik. Repotnya, kamar Hendri kosong. Zaman itu kami belum ada yang punya HP. Paling sial, naskah akan saya tulis tangan. Lalu saya dikte lewat telepon ke Jakarta. Biayanya pasti sangat mahal, dan ini tidak ditanggung panitia tur.
Namun, saya masuk business centre, ternyata boleh pinjam komputer. Saya merasa benar-benar ndeso membawa mesin ketik dari Jakarta.
Hasil ketikan saya kirim via fax ke Jakarta dari business centre pula. Begini lebih murah. Pukul 20.00 semuanya beres. Saya sudah bisa nonton tv di kamar.
Pukul 23.00 Joko datang. Dia masuk kamar dengan Hendri, bersama mesin ketik besar itu. Mereka heran melihat saya sudah santai. “Luar biasa… wartawan JP memang bekerja lebih cepat,” kata Joko.
Sebenarnya lebih hebat Joko. Dia mengetik hasil liputan sampai tengah malam. Dia juga menuliskan hasil liputan Hendri yang duduk di sebelahnya. Entah sampai pukul berapa mereka bekerja. Saya tertidur di keriuhan bunyi hammer mesin ketik memukul penahan karet.
HASIL LIPUTAN DIADU, KALAH
Esoknya kami berpencar lagi. Kami sama-sama ke stadion, tapi tidak berangkat bersama. Nyata terbit mingguan, harus memiliki strategi liputan beda dengan koran harian. Jika sama, habislah dia.
Tiba di stadion pukul 17.00 puluhan penonton sudah berdatangan. Sejam kemudian sudah ribuan. Padahal, show mulai 20.00. Mereka masuk dengan tertib. Saya mengamati, kalau-kalau bisa nyerobot. Namun, tidak ada celah. Warna tiket mereka merah, tiket saya (untuk besok) hijau.
Lewat 19.30 sebuah heli mendarat di areal dekat stadion. Jacko datang. Tapi, pengamanan sampai sekitar radius 150 meter. Di kegelapan malam, dari jarak itu, saya melihat beberapa orang turun dari heli lantas masuk stadion lewat pintu, persis di belakang panggung.
Saya hanya mendengarkan konser dari lapangan di luar stadion. Di lapangan itu juga ada ribuan orang menyemut, mendengarkan Jacko menyanyi. Pukul 22.00 konser belum usai, saya kembali ke hotel, mengetik berita. Caranya seperti kemarin.
Joko tiba tengah malam, mengetik di kamar. Seperti biasa, saya tetap bisa tidur diiringi irama ketukan mesin.
Saya bangun jelang siang. Telepon kantor, minta office girl Bu Ning kirim fax guntingan koran Kompas berita Jacko. Kiriman saya terima di business centre.
Ada sedikit perbedaan angle liputan. Kompas melaporkan jalannya pertunjukan. JP juga menyajikan pertunjukan, termasuk potong kue tart. tapi kalah rinci. Sedangkan Kompas kalah di detil sistem gerak belasan kamera dan teknologi hydraulic panggung.
Saya bayangkan, Pak Dahlan tadi pagi sudah mengamati JP dan kompetitor. Ini sudah jadi kegiatan mendarah-daging baginya. Saya nilai, JP kalah banding Kompas.
Malam ini saatnya nonton. Saya masih berani menulis laporan jalannya pertunjukan. Sebab, di Kompas laporan panggungnya kurang ‘hidup’. Atmosfer konser yang saya rasakan di luar stadion, tidak saya temukan di tulisan.
Di kamar, saya menyusun daftar judul lagu yang dibawakan Jacko semalam. Pasti nanti malam lagu-lagu ini lagi. Saya dengarkan berulang-ulang. Menghayati, membayangkan gerakan atraktif Jacko. Dengan begini saya punya waktu ‘pendalaman’. Kurang ‘hidup’-nya tulisan Kompas, karena durasi menulisnya terlalu pendek, dikejar deadline.
Kalau saya tidur diiringi mesin ketik, sekarang Joko tidur dibuai lagu-lagu Jacko menghentak dari tape kecil, volumenya saya besarkan. Eee… Joko tetap ngorok, saking lelahnya.
Siang kami bertemu teman lama, Abdul Muis (AMU), wartawan JP yang ditugaskan di Malaysia, sekitar 4 tahun. Amu salah satu wartawan andalan JP. Mungkin dia dikontak Joko, sehingga kami bertemu di dekat hotel.
Dari Amu, kami diajari cara murah menelepon kantor. “Cukup kamu masukkan koin recehan ke telepon umum, lalu tekan angka ini,” katanya. Hubungan akan tersambung ke Telkom, lalu ke kantor. Beban pulsa pada kantor JP.
Petunjuk Amu ini sangat berharga buat saya dan Joko. Kami gunakan berulang-ulang.
OH… CAROL
Sore, saya, Joko, Hendri meninggalkan hotel, menuju stadion. Kini saya sudah merasa sangat dekat dengan Jacko. Lagu dan gayanya menari-nari di benak saya. Dalam menulis, apalagi liputan model begini, imajinasi menjadi sangat penting.
Saat kami jalan meninggalkan hotel, mendadak Joko punya rencana lain, “Hendri, kamu berangkat duluan ke stadion. Saya dengan dwo ada janjian ketemu cewek,” katanya, ketawa. Busyet… apa pula ini?
Hendri berangkat. Ternyata Joko tidak bergurau. “Kemarin aku kenal cewek bule. Dia juga punya tiket nonton malam ini,” ujarnya. “Kami janjian berangkat bersama dari Mc Donald. Ayo kita jemput,” tambahnya. Wah… wah… wah… Joko hebat juga, bisa memadukan pekerjaan dengan yang lain.
Saya tanya, “Dia punya teman cewek nggak?” Ternyata si cewek sendirian. Saya persilakan Joko jemput sendiri. Tapi, kata Joko: “Nggak papa. Orang Barat bebas, kok. Kita bisa gantian.”
Apa maksud kata “gantian”? “Bukan apa-apa. Kita nonton bareng-bareng. Nggandengnya gantian, gitu loh….” jawabnya, tertawa cekikikan.
Saya antara senang dan tidak. Sulit membayangkan, kira-kira 10 menit dia gandeng, 10 menit berikutnya saya. Lalu balik ke dia lagi. Masak bisa begitu? Juga apakah ceweknya mau?
“Apakah kamu kemarin sudah tidur dengan dia?” tanya saya blak-blakan. Joko terbahak-bahak. Cukup lama saya menunggu dia berhenti tertawa. Saya tidak tahu arti tawanya. Lantas dia menegaskan, “Belum. Sumprit… belum.” Oo…
Biar tidak penasaran, saya ikuti dia. Ternyata si cewek memang cantik, khas wajah bule. Cuma, badannya terlalu tinggi untuk saya dan Joko. Tingginya kayaknya lebih dari 175 cm. Saya 163, Joko sekitar 4 atau 5 senti di atas saya.
Dia tersenyum ke arah kami (mungkin ke Joko, kali). Saya kenalan (lupa namanya). Sebut saja Carol. Melihat wajahnya, terbersit lagu The Beatles: “Oh Carol. Don’t let him steal your heart away…
Dia dari Swedia, tidak sengaja nonton Jacko. Hanya melancong ke Asia, dari Hongkong. Usianya 21, kuliah jurusan sejarah, kebetulan sedang libur. Sepekan lalu dia beli tiket Jacko.
“Let's go to the stadium…” kata saya, khawatir terlambat. Jalan bertiga cewek di tengah. Joko tak menggandengnya. Saya ‘wait and see’ saja.
Carol ramah. Dari gaya bicaranya, dia terpelajar. Rambut pirangnya dikuncir ekor kuda. Matanya biru kehijauan, dipayungi bulu mata lentik. Badannya seksi, bobot sekitar 60 sampai 65. Celana blue jeans ketat, T shirt hijau lengan sangat pendek. Luar biasa… Joko nemu dimana boneka begini…
Naik bus juga pencar-pencaran. Joko tidak menggandengnya. Tiba di stadion Joko malah hilang di keramaian massa. Tinggallah saya dan Carol. Kami ngobrol di luar stadion, sambil menunggu kalau-kalau Joko mencari kami.
Sampai setengah jam jelang konser, Joko belum muncul. Kami masuk berdua. Sekarang baru bergandengan… Bukan apa-apa, Dul… Sebab masuk pintu stadion berdesakan.
Kami duduk di tribun, sekitar 150 meter dari panggung. Kapasitas stadion, berdasar data: 55 ribu orang. Penuh, baik tribun maupun lapangan rumput. Panggung sangat mewah. Bagian atas, samping kiri-kanan, pipa besi centang-perenang. Disitulah belasan kamera bergelantungan.
Duduk mepet-pet dengan Carol (karena penonton penuh) membuat konsentrasi terpecah. Senang sekaligus sedih. Senang, karena ditemani cewek cantik yang aktif ngajak bicara. Sedih, karena sekarang saya sedang tugas.
Sampai 21.00 belum ada tanda-tanda dimulai. Sudah sejam dari jadwal. Kemarin tepat waktu. Tapi, penonton tenang saja dihibur lagu-lagu Barat lama dan baru, dari sound yang suaranya sangat jernih. Andai ini terjadi di Indonesia, pasti sudah ribut.
Lewat dari 21.30 mulai ada beberapa penonton menyalakan lilin. Itu diikuti yang lain. Ternyata banyak penonton membawa lilin. Mereka goyangkan lilin secara serempak ke kiri dan kanan. Menghasilkan pemandangan mempesona, di bawah langit yang penuh bintang.
22.00 lagu-lagu berhenti. Panggung tetap sepi. Ada pengumuman. Intinya, konser ditunda lima hari lagi, Jacko mendadak sakit. Tiket tetap berlaku. Bagi yang ingin kembali uang, dipersilakan ke panitia. Tiket yang sudah dibuang, diganti tanda khusus.
Serentak terdengar gerutu puluhan ribu orang. Penonton kecewa. Tapi, hebatnya, mereka keluar stadion dengan tertib. Sama sekali tidak ada teriak kemarahan. Sungguh tak terbayangkan kacaunya, jika ini terjadi di Indonesia.
Saya harus bekerja. Kami sepakat pisah. Saya tanya hotel dia, katanya menginap di rumah sewa daerah Jurong, dan dia tak tahu alamatnya. “Joko tahu tempatnya. Besok kita jumpa lagi, bye…” ujarnya melambai.
ADUH… MENGGELANDANG LAGI
Tidak gampang mendekati panggung. Areal itu diblokade puluhan bodyguard Negro. Dari beberapa titik saya mencoba masuk, selalu diusir. Tak ada celah mendekati panggung.
Saya ganti cara, mendekati petugas lokal. Tidak gampang juga. Semuanya menolak. Dari beberapa, untung ada yang mau cerita: “Jacko masih ada di belakang panggung. Kira-kira 10 menit sebelum jadwal dimulai, dia pingsan. Katanya over dosis,” ujarnya.
Lho, berarti sudah dua jam lebih dia disana. Ngapain? “Kini dirawat tim dokter dari Mount Elizabeth Hospital,” jawabnya. Bagaimana cara melihat itu? Dia, kebetulan, memberitahu jalannya.
Prinsip Pak Dahlan, tidak ada kebetulan di dunia ini. Semua hasil, karena ada gerakan. Gerak fisik atau pikiran. Paling bagus kombinasi keduanya.
Saya masuk ruang ganti pakaian pemain bola, tembus persis di belakang panggung. Tapi, tidak bisa masuk kesana, ada pintu jeruji besi terkunci. Terlihat kesibukan berlangsung. Belasan perawat wanita mondar-mandir. Jacko dan para dokter tak kelihatan, terhalang dinding kayu.
Sekitar 15 menit, tampak Jacko terbaring di brankar didorong dua perawat, diikuti para lelaki berkalungkan stetoskop. Sementara, terdengar mesin heli hidup. Terbang menjauh, mungkin membawa Jacko.
Esoknya, Kompas memberitakan itu. Kelihatan mereka tetap menurunkan wartawan di konser hari kedua. Beritanya singkat: Konser Jacko batal. Kali ini JP unggul. Masak kalah terus?
Tapi, pagi-pagi panitia tur menelepon kamar kami, memberitahukan agar siap check out. “Rombongan akan meninggalkan hotel setelah breakfast. Kumpul di lobby 10.00,” kata suara wanita.
Bagi yang ingin nonton Jacko (empat hari lagi) panitia tur hanya memberikan tiket ke Jakarta. Maka, saya telepon atasan, Kepala Biro Jkt Edhi Aruman, mohon pertimbangan. Jawabnya: “Tetap lanjut… Malah bagus. Jangan-jangan Jacko besok mati.”
Tapi, uang saya tinggal separo (sekitar USD 50) mana bisa bertahan? “Kamu punya kartu Amex?” Gak punya. “Nah, itulah… wartawan global gak punya Amex, berat. Tapi, aku yakin kamu bisa bertahan, minimal sampai show selesai,” perintahnya.
Saya sampaikan ke Joko, saya bertahan. Joko juga. Uang dia malah gak sampai separo dari saat berangkat. Sedangkan Hendri ngotot pulang, meskipun Joko menganjurkan bertahan.
Usai sarapan, saya dan Joko kembali ke kamar mengatur strategi bertahan empat hari. Hendri sudah berangkat ikut rombongan. Dia tinggalkan mesin ketik di kamar kami. Di saat uang mepet, barang berat ini bakal berguna.
Tengah hari, kami meninggalkan hotel. Sudah tidak ada jatah makan siang. Panitia sudah pulang. Joko mengajak makan di Mc Donald. “Setelah itu, kita harus cari makan dan tempat menginap yang murah,” katanya.
Wah… bakal menggalandang lagi, nih. (bersambung, kalo bisa 24 jam)

Di Balik Liputan Jacko, Singapore ’93 (3)
SENANG-SEDIH, BUMBU PERJALANAN


Jangan gampang mengagumi profesi wartawan. Jika anda mengalami peristiwa ini, pasti anda tidak akan bangga jadi wartawan. Saya sebenarnya tidak enak menceritakannya. Tapi, sudah terlanjur…
---------------------
Tarif hotel bukan bintang. kata Hendri kemarin: SGD 90 (sekitar USD 48 kurs saat itu). Uang saya segitu juga, idem dengan Joko. Andai itu ditanggung berdua, cukup dua malam, lalu uang kami sama-sama habis. Tidak bisa makan. Padahal, harus empat hari lagi disini.
Makan di Mc D, pikiran saya menghitung uang. Terlalu mahal Joko pilih disini. Tapi, restoran seputar Orchard Road memang tidak ada yang murah. Pilih Mc D sebab harga terpampang jelas. Itu pun di atas SGD 10 atau USD 5,5. Tak ada warteg atau bubur kacang ijo..
Usai makan, saya dan Joko meluncur ke Hotel Raffles, tempat Jacko di Marina Bay. Wuiiih... penjagaan ketat. Tiga pintu masuk, termasuk pintu masuk khusus truk di belakang, dijaga bodyguard Negro.
Hotel sudah dipesan rombongan Jacko sejak sehari sebelum mereka datang, sepekan lalu. Tidak ada tamu lain. Ratusan kamar (hanya 3 lantai) diisi rombongan mereka, lebih dari 120 orang. Mobil catering masuk pintu belakang pun, diperiksa ketat. ID Card sopir dan kenek diteliti. ID Card karyawan hotel yang masuk, dicocokkan dengan catatan. Mereka bekerja cermat.
Setelah mengitari hotel, dan tidak menemukan celah masuk, kami nongkrong di halaman depan. Disana bergerombol ratusan fans Jacko. Ada Indonesia, Bule, China, Melayu, India, Entah, ngapain mereka disana? Mungkin menunggu kalau-kalau Jacko keluar.
Bentuk bangunan hotel kuno, dibangun tahun 1887 (berdasar data). Warna dominan putih dengan pilar-pilar tinggi kokoh, mirip Istana Negara kita. Halaman depan luas sekitar 100 X 100 sebagian besar rumput hias dengan tanaman perdu aneka bunga di sudut-sudutnya.
Orang berteduh dari sengatan matahari di beberapa pohon Tanjung. Sebagian besar anak muda. Diantaranya berbahasa Indonesia. Dari obrolan mereka saya dengar, Jacko tidak ada di hotel, tapi dirawat di Mount Elizabeth Hospital. Mereka tahu saja. Lantas, menunggu apa mereka? Inilah gilanya ngefans.
“Dwo, aku akan ke Mount Elizabeth. Bagaimana?” ujar Joko dengan nada tanya. Itu juga rencana di benak saya. Pertanyaan dia sudah memblokir langkah saya. Pertanyaan itu menyiratkan: Kalau aku kesana, kamu jangan. Sebab, dia bekerja untuk mingguan, saya harian. Jika liputan kami sama, habislah dia.
“DI (inisial Joko) selamat bertugas… Kita tentukan, ini tempat kita berkumpul. Persisnya, di bawah pohon Tanjung ini,” kata saya.
“Kamu mau liputan apa?”
“Gampang…nanti saya pikirkan.”
“Aku akan balik kesini sore nanti, sambil memikirkan cara menginap.”
DICARI: KARYAWAN RAFFLES YANG….
DI menghilang naik bus. Jam menunjuk 13.30. Saya bengong, sebagaimana ratusan fans Jacko disini. Ke stadion percuma. Tak akan ada apa-apa disana. Masuk hotel? Harus punya seragam karyawan, bordir nama di dada, lengkap dengan ID Card.
Mungkinkah pinjam karyawan yang wajahnya mirip dengan saya? Mungkin saja. Orang Negro pasti sulit membedakan wajah Asia, sebagaimana kita sulit membedakan wajah sesama Negro. Andai lolos di pintu, harus paham tugas-tugas dan kebiasaan harian. Di dalam pasti dikenali sebagai orang asing oleh sesama karyawan.
Tapi, masak saya diam mematung? Kata Pak Dahlan, wartawan harus selalu bergerak. Gerak fisik atau pikiran. Paling bagus kombinasi keduanya.
Saya pindah ke dekat pintu belakang. Karyawan mungkin lewat sini. Nanti, saat pergantian shift, mereka bisa ditempel. Kalau bisa mendekati orang yang tepat, segalanya bisa diatur.
Enaknya, hotel ini seperti dikepung fans. Ada belasan orang di sekitar pintu belakang. Sehingga saya bisa membaur, walau orang disini tidak sebanyak di halaman depan. Pintu belakang ini pas dengan pedestrian. Saya berdiri belasan meter dari pintu. Supaya bisa bergerak cepat.
Pukul 17.30 pintu dibuka. Ada 2 minibus hendak masuk. Alamaaak… penumpangnya karyawan semua. Berarti mereka dijemput dari rumah masing-masing. Mereka yang pulang nanti kemungkinan besar juga diantar.
Ternyata benar. Tak sampai setengah jam kemudian 4 minibus keluar, penumpangnya… karyawan. Ancur, deh… Bayangan saya, seperti bubaran pabrik rokok di Indonesia, karyawannya jalan kaki atau naik sepeda. Ndeso…
ASYIK… CAROL MUNCUL LAGI
Hari hampir gelap, saya kembali ke halaman depan, di bawah pohon Tanjung. Joko sudah disana. Ngobrol dengan… Carol.
Asyiiik…. Si ekor kuda muncul lagi. Celana jeans ketat hitam, T shirt merah, ditutupi jaket krem. Gadis ini memang cantik. Mengapa orang tuanya berani melepasnya keliling dunia sendirian? Pasti pribadi anak ini sudah matang. Atau budaya mereka yang beda dengan saya?
Dia tersenyum ke saya. “How are you, mister John….” sapanya mengulurkan tangan. Salaman, dia menarik tangan saya, ternyata diajaknya cipika-cipiki…
Dada saya berdebar (lagi). Bukan apa-apa. Saya tak terbiasa salaman model begini. Pipi putih kemerahan itu membuat saya berdebar. Saya ikut budaya dia saja. Panggilan mister yang tidak enak. Terasa saya tua. Usia saya 34, memang wajar begitu banding dia yang 21. Lebih tak enak lagi, saya sudah beristeri.
Kami ngobrol. Carol banyak cerita tentang show yang batal, semalam. Di sela Carol mengoceh, saya sisipi gurauan ke Joko:
“Masak ketemu di Mount Elizabeth?”
“Hahaha… ya, kebetulan.”
“Tak ada kebetulan di dunia ini, kata Pak dahlan.”
Kami terbahak-bahak. Carol protes, sebab dia tak mengerti. Dia minta, penyebab kami tertawa harus diterjemahkan. Joko hanya tertawa, mengarahkan tangannya ke saya. Asal saja, saya terjemahkan, “Kamu gadis cantik, Carol… Kami kagum padamu.”
“No… no… pasti bukan begitu. Itu bukan kata yang lucu,” ujar Carol.
Saya jadi kerepotan. Jika saya terjemahkan pun, belum tentu lucu bagi dia. Sebab, ini bukan jenis lucu universal. Ini lucu etnik Surabaya. Lucu terkait internal JP. Lucu terkait gender, sesama lelaki.
Tapi, Carol memaksa saya menterjemahkan juga. Setelah saya terjemahkan, dia berpikir sejenak. Lalu, “No… no… bukan begitu…” katanya sambil menjejak-jejakkan kedua kakinya, seperti jalan di tempat.
Luar biasa… Baru kali ini saya berhadapan dengan gadis bule yang merajuk. Pipinya yang putih kemerahan, kian merona. Dia berdiri dengan latar belakang temaram senja. Langit jingga di ufuk barat, membuat rambut blonde itu berkilau-kilau. Sungguh indah Allah menciptakan manusia dan alam ini. Subhanallah… dengan indah ciptaan-Nya.
“Kita makan, yuk…” ajak Joko, memenggal pemandangan baru bagi saya itu. Kami akhiri perdebatan, jalan bersama mencari tempat makan. Posisi Carol di tengah, lagi. Joko tidak menggandengnya. Saya juga tidak.
Kini saya mengerti maksud Joko kemarin: “Kita bisa gantian”. Saya sudah diberi kesempatan dekat Carol, kemarin. Sepanjang siang tadi, mungkin Joko. Mungkin besok….
Saya terkejut, Joko memilih restoran. “Ayo…” ajak Joko yang jalan duluan, masuk Mc D. Saya menyela, “Apa tidak cari di pinggiran? Sambil jalan-jalan menikmati senja.” Dia menggeleng, menyahut: “Aku yang traktir.”
Sambil makan, saya pikir: Bakal semakin cepat kami kelaparan, nih. Carol saya lihat tetap ceria. Atau, Joko sudah ‘memeras’ Carol? Untuk mengetahuinya, harus diuji. Saya berbahasa Indonesia: “Apakah malam ini kita bisa kruntelan (bersatu) di kamar Carol?” Joko menggeleng. “Sudah saya tanyakan, dia gak mau.”
Carol protes lagi. “Ini Singapore, man… Bukan desa kalian,” ujarnya. Kali ini dia sewot. Saya jelaskan, bahwa kami sedikit menyinggung pekerjaan. Tapi dia memotong, “Wooow… mengapa ada namaku?” Saya berkelit, bukankah Carol ikut saya ke stadion? Tapi dia geleng-geleng. “No… no…”
Usai makan, Joko yang bayar. Billing nyaris SGD 40. Lalu kami pisah. Saya dengan Joko, Carol pulang. Ada yang janggal di logika saya. Pertemuan dengan Carol sore ini, bagi saya, rasanya baru awal. Sedangkan bagi Joko, kayaknya akhir suatu proses. Tapi, ah…. Sudahlah….
JADI FANS JACKO? DIAMPUT…
Joko mengajak saya menuju Jurong. “Disana ada kamar-kamar yang disewakan murah. Ini diberitahu Abdul Muis,” katanya. Saya menurut saja.
Tiba di sebuah rumah besar dua lantai. Ruang tamu dibentuk seperti resepsionis mini. Tarif SGD 45 per kamar untuk berdua, tanpa breakfast. Dada saya kini menggos-menggos (tersengal-sengal). Tambah cepat mati ini…
Kata “Jurong” mengingatkan saya pada ucapan Carol saat saya pisah dengannya di stadion, kemarin. Berarti, Carol tinggal di sekitar sini. Sudah saya cek, belasan kamar disana, tak ada Carol. Tiap kamar saya amati, saat penghuninya keluar-masuk.
Tapi, wilayah itu memang beda dengan pusat kota. Disini lebih sederhana. Tak jauh dari situ ada masjid. Saya dan Joko shalat Subuh disitu. Jamaahnya kebanyakan orang Pakistan. Sarapan juga murah, sebab saya makan nasi lauk gorengan. Joko masih berani ambil telur ceplok. Ini baru ketemu warteg-nya Singapura.
“Dwo, kita tidak mungkin lanjut nginap disini. Waktu masih tiga hari.”
“Jelas. Tapi, saya sudah menemukan hotel kita.”
“Dimana?”
“Hotel Raffles…”
Sejenak dia diam, menghentikan mengunyah makanan. Lantas kami tertawa. Dia terpingkal, geleng-geleng, sambil menunjuk-nunjuk ke saya. Dia sudah menangkap maksud saya: Lapangan rumput di halaman Hotel Raffles. Disitu selalu ramai. Lokasi tepat untuk penyamaran.
“Jadi, kita siap check in di rumput Raffles, ya?” tegasnya. Saya mengangguk sampai menggoyangkan punggung, begitu meyakinkan. Dia mengangkat tangan kanan yang terbuka. Kami tos, tanda sama-sama mantap, siap menggelandang.
Check out dari hotel rumahan itu, kami masih makan siang di warteg lagi. Kami akan banyak bolak-balik antara Raffles di Marina Bay ke Jurong, naik bus. Menginap di Raffles, makan di Jurong.
Di rumput Raffles kami pilih tempat. Sepakat lokasinya pencar, supaya tidak mencolok sebagai gelandangan bersaudara. Saya pilih di bawah pohon Tanjung. Siang ini adem, nanti malam pasti sejuk banget. Suejuuuk pol…
Jelang sore, saya dikagetkan oleh teriakan gemuruh dan suit-suit riuh. Ternyata Jacko sudah di dalam hotel. Dia membuka jendela di lantai 3 lalu melambaikan tangan ke arah ratusan orang di halaman depan. Dia mengenakan jaket hitam. Menempelkan tangannya ke mulut, lalu melambai. Histeria massa pun meledak. Sampai ada gadis bule berteriak histeris, “Jacko…. Jacko… oh, Jacko….
Hanya sekitar satu-dua menit Jacko melambai, lalu pintu jendela ditutup lagi. Saya mencari tempat agak terang di pedestrian, lalu mengetik disitu dengan mesin besar yang kini saya bawa. Menulis berita, Jacko sudah pulang dari Mount Elizabeth, dan kondisi hotelnya.
Berita jadi, saya cari semacam wartel, lalu kirim fax ke Jakarta. Untuk memastikan fax diterima, saya ke telepon umum, menelepon kantor gratis menggunakan cara ajaran Abdul Muis.
Penerima telepon atasan saya, Edhi Aruman, mengeluh: “Wah… kemarin kamu seharian tak kirim berita, juga hilang kontak. Padahal, tulisan-tulisanmu dipuji Pak Dahlan. Dia telepon saya dari Surabaya,” tuturnya. Tentu saya senang. Bisa jadi itu hanya cara Pak Dahlan membangkitkan semangat saya, yang dia perkirakan mulai merosot.
Balik ke Raffles, hari sudah larut. Masih banyak saja orang. Sampai 24.00 masih saja ramai. Tapi, mereka silih-berganti. Datang dan pergi. Saya mulai rebahan di rumput. Banyak juga yang duduk di rumput sekitar saya.
Saat saya terlentang berbantalkan tas, seorang gadis Melayu berbicara ke temannya, setelah melirik saya, “Ooow… fans Jacko sampe tidur-tiduran begitu.” Saya pura-pura tak dengar. Diamput…
Sulit tidur, barangkali tubuh belum menyesuikan diri. Sampai 03.00 saya belum bisa tidur juga.
Ketika saya hampir terlelap, mendadak dikejutkan sesuatu. Punggung saya digigit semut. Kayaknya jumlahnya banyak. Saya buka baju, mengibas-kibaskannya. Sekelompok pemuda di dekat saya tertawa. Entah apa arti tawanya.
Saya terbangun saat mata saya tertusuk sinar matahari. Selamat pagi, Singapura… Aku sudah memelukmu, lelap di bumimu. (bersambung, 24 jam)

Di Balik Liputan Jacko, Singapore ’93 (4 - Tamat)
JALAN TEMBUS MENUJU MONYET


Tindakan remeh-temeh seringkali disepelekan. Namun, sebagai bagian ikhtiar, sebaiknya jangan dihindari. Sebab, semua perjuangan selalu ada hasilnya, walau kadang tertunda.
----------------------

Mendadak, ratusan orang di halaman depan Hotel Raffles lari berhamburan. Bunyi sirine meraung dari arah pintu samping hotel. Saya dan Joko jadi ikut gerakan para fans, berlari ke samping.
Sirine ternyata dari sepasang voorijders yang sulit bergerak, tertahan puluhan orang di depan pintu samping. Di belakangnya, tiga limousine hitam terpaksa berhenti. Begitu juga dua minibus di belakangnya. Massa menghambur mendekati mobil. Seketika 4 bodyguard Negro keluar dari minibus. Menghalau massa.
Tidak sulit mereka mengamankan situasi. Tinggi badan mereka rata-rata sekitar 2 meter, tubuh kekar dibalut T shirt ketat, wajah mereka mirip Mike Tyson. Disibaknya massa. Sehingga voorijders (polisi lokal) dapat jalan. Rombongan melesat ke utara.
Saya tak berdaya. Dengan keuangan kelas gelandangan, tak mampu mengejar Jacko. Bahkan, dengan uang yang normal sekali pun, belum tentu bisa. Jacko benar-benar gila. Dia tak tersentuh. Saya sudah pelajari, dia belum pernah interview langsung dengan wartawan.
Kesal dengan kondisi ini, saya dan Joko jalan-jalan, asal naik bus tak tentu arah. Bus disini murah. Dibanding taksi untuk jarak yang sama, ongkos kira-kira beda 20 kali.
Pernah, saya naik taksi, pas pukul 24.00 sopir menawari, lanjut atau stop? Kalau lanjut, masuk over midnight, tarifnya 2 kali dari semula. Ya, pasti lanjut-lah... Masak turun di lokasi yang tidak saya kenal?
Di Orchard Road, lalu-lintas macet. O... ada macetnya juga, to? Tapi... macet karena pengemudi mobil pada turun. Jalan kaki, memotret sesuatu di arah sana. Anehnya, itu dilakukan beberapa orang dengan arah yang sama. “Jacko... Jacko... ,” teriak gadis penumpang bus yang langsung turun.
Tentu, saya dan Joko turun. Benar. Jacko di dalam toko buku. Dinding toko yang seluruhnya kaca, menampakkan sang Mega Bintang membaca buku. Tapi, pengamanan bodyguard itu yang nggak kuat.
Di dalam toko, ‘clean’ tak ada pengunjung lain. Di luar, puluhan bodyguard siaga di pintu dan seputar dinding kaca. Puluhan wartawan (berkamera foto dan kamera TV) tak berkutik dihadangnya. Ampun...
Saya bayangkan, Jacko ini orang baik. Mungkin, setiap ada Negro pengangguran yang datang padanya, asal badan tinggi berotot, langsung dijadikan satpam-nya. Masak, rombongan dia sampai 127 orang? Sebagian besar bodyguard.
Kami hanya bisa mengamati Jacko yang membaca, memilih buku. Di sebelahnya, ada cewek bule membawa keranjang, siap menampung buku yang dipilih Jacko. Keranjang sampai penuh, lalu ganti keranjang baru.
Yang menarik, Jacko tak pernah diam barang semenit pun. Tubuhnya yang tinggi langsing selalu bergerak, meski sedang membaca. Kakinya yang jenjang aktif bergerak. Sesekali menjentikkan jari tangan, seperti sedang mengikuti irama. Saya duga, dia sambil mendengarkan lagu lewat earphone.
Dia mengenakan celana ketat, hitam mengkilap, kaos ketat merah lengan panjang. Postur tinggi kurus terlihat jelas. Badannya begitu lentur, gerak ke kiri-kanan. Selentur rambut keritingnya, yang bagian depan dibiarkan menjuntai, meliuk-liuk.
Dia tahu, puluhan fans dan wartawan bergerombol di depan kaca toko, menontonnya. Sesekali dia lambaikan tangan ke massa. Hanya dengan begitu saja, puluhan orang sudah berteriak-teriak memanggil namanya. Tapi, massa tertib. Tak ada yang memaksa masuk toko.
Sirine voorijders hidup, massa kian penasaran. Ternyata Jacko masuk mobilnya yang berhenti persis di depan pintu toko. Tak ada celah orang mendekat. Konvoi melaju di keramaian Orchard Road. Saya dan Joko kembali naik bus, tak jelas arah.
Liputan macam apa ini? Tapi, inilah maksimal. Tiap hari saya baca koran setempat: harian Bernama dan The Straits Times edisi Singapore. Tak ada wawancara dengan Jacko. Liputan mereka, di luar konser, ya... remeh-temeh begini.
DIMANA BUMI DIPIJAK, DISITU BANTAL DIGELAR
“DI... ayo kita cari bantal model tiup. Biar agak nyaman di rumput,” kata saya di dalam bus.
“Bantal yang bagaimana itu?”
“Aku pernah lihat di penerbangan internasional, wanita pakai itu.”
Kami tiba di sebuah pasar (lupa nama daerahnya) dan mencarinya. Tanya ke penjual, ternyata mereka langsung paham barang yang dimaksud. Ditunjukkan arah tokonya. Ketemulah barangnya.
Bentuknya, setelah ditiup, persegi panjang. Di tengah ada lingkaran untuk leher, dan ‘pintu’ masuknya. Warnanya coklat muda, berbahan kain beludru. Saya coba pakai dan bersandar pada dinding, rasanya empuk. Ini barang penting. Harganya murah. Setelah dikempeskan, dilipat, hanya sebesar dompet.
Setelah mengetik berita remeh-temeh itu, dan kirim ke Jakarta, saya kembali ke ‘hotel’. Jacko ternyata sudah di dalam. Tandanya, jumlah massa di halaman depan sangat banyak. Itu berarti, Jacko sudah melambai dari balik jendela di lantai 3. Sejam sekali, itu dia lakukan.
Saya tak sabar mencoba bantal baru. Senja baru saja lewat, bantal sudah saya tiup. Hasilnya, memang sungguh nyaman. Bukan hanya untuk tidur terlentang, tapi juga untuk miring kiri-kanan. Kecuali telungkup, tentunya.
Saya berdiri, melihat Joko yang mengambil jarak sekitar 10 meter dari saya, juga terlentang berbantal itu.
Dari jauh dia melihat saya, sambil mengacungkan jempol. “Top.... dwo. Uenaaak...” teriaknya. Saya tersenyum: Dasar... dia memang bakat menggelandang. Saya, ‘kan cuma fasilitator gelandangan.
Tapi, malam ini rasanya rumput lebih empuk banding kemarin. Wangi bunga Tanjung jadi parfumnya. Sorak-sorai massa ketika Jacko buka jendela, akrab di hati. Saya merasa sudah menyatu dengan situasi-kondisi. Nyaman. Belum pernah saya alami, tempat menginap jadi satu dengan tujuan liputan, seperti ini.
Berdasar pengalaman dirubung semut, kemarin, kini saya punya persiapan. Kemeja dimasukkan, dilapisi jaket. Ujung bawah celana dikareti seperti celana tentara. Tak ada celah binatang masuk. Hembusan angin jadi segar sejuk.
Kebetulan cuaca cerah. Bulan bundar di posisi sekitar 70 derajat arah timur. Sinarnya putih kekuningan, dengan corona transparan melingkarinya. Bintang-bintang bertaburan di seantero langit. Sebagian bintang kelap-kelip di sudut utara. Seisi cakrawala bagai bernyanyi, menyemangati kami. Tapi, lagunya sendu. Lagu Rhoma Irama:
Langit sebagai atap rumahku......
Dan, bumi sebagai lantai
Hidupku, menyusuri.... jalan....
MENCOCOKAN WAJAH dengan MONYET
Bangun tidur, gelisah lagi. Konser masih besok malam. Hari ini diisi apa? Masak cuma melaporkan gerakan Jacko buka jendela? Pembaca pasti bosan. Sekuat apa pun tulisan deskriptif, kalau obyek liputannya tidak variatif, hasilnya tentu jeblok.
Masuk Raffles tidak mungkin. Persiapan stadion sudah lengkap, beberapa hari lalu. Penyebab Jacko pingsan sudah jelas over-dosis. Itu pun sudah lewat, basi. Saya mulai kehilangan akal.
Sementara, Joko tenang-tenang saja. Tugas dia beda dengan saya. Dia mengumpulkan semua bahan liputan, dirangkum dalam laporan mingguan. Pantas, bangun tidur dia kelihatan tetap semangat.
“Dwo... ayo kita sarapan (ke Jurong) lalu kita jalan-jalan aja.”
Saya mengangguk saja. Joko yang pernah bertahun-tahun jadi wartawan JP, mengerti kegelisahan saya. Dia menghibur, “Kamu sudah maksimal. Aku juga baca koran lokal, tak ada yang mereka tulis sejak konser batal,” katanya. “Malah kamu tiap hari menulis.”
“Tiap hari kita jalan-jalan. Mau kemana?” tanya saya.
“Kebon binatang. Di katalog, katanya bagus.”
Nyaris tawa meledak, tapi bisa saya tahan. Tidak enak, mimik Joko serius. Khawatir dikira melecehkannya. Saya ini lahir dan dibesarkan di Surabaya. Pilihan Joko itu seperti anak dari Desa Ndiwek di pedalaman Jombang, yang baru pertama kali ke Surabaya. Begitu tiba, tujuannya: Kebon binatang.
“Nonton apa, sih? Paling, kita mirip nyemot.”
“Ah... daripada bengong. Rekreasi, Bung. Ini hari terakhir disini.”
TERJEBAK di AKUARIUM
Ucapan dia tidak salah. Saya juga belum menemukan ide liputan. Siapa tahu di perjalanan muncul ide. Joko sudah bertanya diantara fans Jacko, arah menuju kebon binatang.
Kami naik MRT. Hebatnya, kereta bawah tanah ini melewati beberapa pertokoan di atasnya. Turun di stasiun, ganti naik bus. Lalu jalan kaki. Pukul 10.00 tibalah di “Singapore Zoo” di Mandai. Kami foto-foto di bawah tulisan kebon hewan, buat kenang-kenangan.
Repotnya, dengan begini makan siang jadi mahal. Saya menghitung, harus cukup sampai bayar airport tax di Changi. Tanpa mengeluarkan uangnya, saya hitung luar kepala: Cukup. Asal, setelah ini makan di Jurong terus. Jika tidak, besok puasa.
Sudahlah... Betapa pun, saya harus menikmati perjalanan. Keindahan taman dan kesegaran hewan, cukup menghibur. Kualitasnya jauh melebihi di Surabaya. Kebersihannya luar biasa. Jumlah pengunjung memang tidak banyak, mungkin karena bukan hari libur. Tapi, tak ada sampah, bahkan secuil kertas sekali pun.
Tiba-tiba ada pengumuman di pengeras suara, kebon binatang akan ditutup 15 menit lagi. Pengunjung diminta keluar. Ada pembersihan kotoran hewan besar-besaran, membuat tidak nyaman. Jam belum pukul 14.00.
“Baru jam segini sudah tutup. Kita terakhir aja, dwo.”
“Nanti kita terkunci disini, DI.”
“Halaaah...”
Kami masih berkeliling di ruang akuarium, mengabaikan peringatan hitungan waktu mundur dari pengeras suara. Sampai waktu habis, kami masih mengamati aneka ikan. Lokasinya jauh dari pintu gerbang keluar-masuk.
Sampai lewat setengah jam, kami masih asyik. Saya keluar mengamati, koridor sudah sepi. Semua areal tak ada orang. Sungguh tertib warga disini. Hanya Joko yang gendheng, tenang saja mengamati ikan. Edan....
Sirine meraung-raung di kejauhan. Nah, apa pula ini? Joko pun meninggalkan ikan, keluar ruang akuarium bersama saya. Jalan menuju perempatan yang jaraknya sekitar 100 meter. Dari perempatan, menengok kanan, arah pintu gerbang, jauh disana.
Luar biasa... ada sepasang voorijders berhenti di gerbang. Di belakangnya, 2 limousine hitam dan beberapa minibus. Spontan, kami jingkrak-jingkrak. Itu Jacko.... itu Jacko....
“Dwo... cepat ngumpet,” sentak Joko. Dia beringsut, mepet sebuah bangunan. Kami mundur mencari pintu bangunan. Itu semacam museum mini, berisi fosil. Disanalah kami mengatur strategi.
Ternyata di dalam bangunan juga ada pasangan muda dan seorang anak perempuan usia sekitar 5 tahun. Kami sama-sama kaget. Mereka tahu kami wartawan, sebab menyiapkan kamera, mengaturnya tersembunyi di balik jaket. Sssst.... Mereka mengangguk, tanda paham.
Jacko jalan santai mengamati hewan demi hewan. Dia mengenakan celana biru tua, stelan jas panjang warna senada. Puluhan tukang pukulnya mengepung, berjarak sekitar radius 20 meter dari sang bos.
Sungguh, Jacko bagai raja. Kemana pun dia bergerak, puluhan bodyguard otomatis mengikuti, membentuk formasi kepung, dengan jarak tetap terjaga. Pengamanan sangat rapi. Obyek sudah sekitar 100 meter di depan mata, tapi situasi sangat sulit. Dada saya berdebar-debar.
Saya ambil beberapa moment dengan lensa tele, dapat. Kami memotret dari balik taman. Untung cuaca cerah, sehingga sinar cukup.
Di perempatan, Jacko pilih lurus. Itu berarti mengarah ke kami. Jarak kian dekat. Keluarga yang sejak tadi ingin keluar melihat Jacko, kami tahan. Mulut bocah itu ditutup tangan ibunya, sesuai permintaan kami.
Pada jarak sekitar 20 meter, kami minta keluarga itu keluar, jalan mendekati Jacko. Kami tetap sembunyi. Sontak, ada teriakan: “Stop....get out you...”
Suasana hening. Kami intip, keluarga itu berhenti. Diam terpaku. Gadis kecilnya menangis.
Jacko mengamati si bocah, jalan mendekati. Lantas menggendongnya. Aneh, bocah itu diam di gendongan Jacko. Diajaknya melihat monyet.
Para bodyguard mendekati orang tua, menggiring, menjauhkannya dari Jacko. “Distance hundred feet,” kata bodyguard. Kali ini tak berteriak lagi.
Ayo... Kapan lagi kami mendekat? Sekaranglah saatnya. Atau tidak sama sekali. Dengan kedipan mata, kami bergerak bersama: Maju. Tidak membuang waktu, langsung memotret moment itu.
Baru beberapa langkah, bentakan merobek keheningan. “No.... no.... You, back off. Move.... move.... back off.”
Puluhan bodyguard berlarian ke arah kami. Merampas paksa kamera saya dan Joko. “Kalian wartawan?” tanya salah satunya. Bersamaan kami menggeleng.
Jacko mengamati kami. Saat bodyguard hendak membanting kamera, Jacko cepat mencegahnya. Lalu Jacko menjentikkan jari, menunjuk pintu gerbang, meminta kami keluar. Bodyguard menarik baju kami, mendorongnya menjauh, sambil mengembalikan kamera.
“Just one question, please...” kata Joko ke arah Jacko. Dibalas teriakan Jacko: “No.... no.... Go out...” Ini yang mengagetkan para bodyguard.
Segera mereka mengejar, kami lari. Mereka mengumpat: “Damned you...” Untung, mereka dicegah Jacko, sehingga tak lanjut mengejar.
Kami digiring dua petugas lokal, keluar. Tiba di pintu gerbang yang tertutup, kami terkejut lagi. Puluhan, mungkin seratusan wartawan mengelu-elukan kami. Mereka terkurung di luar. Mereka rupanya melihat kejadian tadi, pada jarak sekitar 150 meter.
Diantaranya ada wartawan Kompas dan Suara Merdeka. “Gile... bener... bisa saja kalian masuk,” ujar wartawan Kompas. “Bagi fotonya, dong,” kata Suara Merdeka. Kami dikerubuti, ditanya-tanya, ditawari rokok.
Kami basa-basi sejenak dengan mereka. Pelan-pelan menyelinap di sela kerumunan massa yang ingin melihat Jacko. Lalu kabur...
Betapa pun mereka kompetitor. Ajaran Pak Dahlan: Jangan kompromi dengan kompetitor, walau mereka kawan.
Malam itu, usai kirim berita, saya kian akrab dengan rumput Raffles. Enak saja tidur-tiduran. Saya merasa, lapangan dan kerumunan massa ini bagian dari rekreasi paling mewah dalam hidup. Terasa begitu mesra....
Jelang tidur, memandang lagit. Lagunya berubah lagi. Kali ini lagunya Iwan Fals:
Kemesraan, ini.....
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan, ini.....
THE SHOW MUST GO ON
Konser Jacko, pusat perhatian saya yang tertunda. Jumlah penonton penuh, sama seperti sepekan lalu. Jacko benar-benar prima di atas panggung.
Lagu “Heal the World” membuat stadion berkelap-kelip, ribuan lilin bergoyang rancak, kiri dan kanan. Bagai ribuan kunang-kunang di hamparan ilalang. Alunan slow pop itu membius puluhan ribu manusia. Menyatu dalam damai.
Heal the world...
make it a better place
For you and for me....
and the entire human race
Seketika, Jacko terhuyung-huyung ke kiri. Geraknya tak lagi beraturan. Terseok-seok, dan nyaris ambruk.... Namun, berhenti dalam posisi nyaris jatuh. Kiwir-kiwir...
Kaki kirinya menahan, kanan merentang.
Ternyata itu bagian dari action. Sedetik kemudian dia berkelit, alunan musik menyajikan break pendek dan cepat. Lantas, dia kembali berlari lincah ke tengah panggung. Sungguh, atraksi di luar prediksi. Amazing...
Saya mengetik laporan pertunjukan itu dengan sepenuh hati. Saya tetap berani melaporkannya, meski koran lain sudah memuatnya sepekan sebelumnya. Sebab, saya sudah mengakrabi lagu-lagu dia. Menjiwai tiap gerakan dia. Bahkan, tidur nyenyak di rumput depan hotelnya.
Saat pesawat kami meninggalkan Changi Airport, hari masih pagi. Hidung saya mengalami semacam halusinasi: Tercium wangi bunga Tanjung. Bunga yang tumbuh di depan Raffles.
Aku pulang, dari rantau....
Berhari-hari di negri orang,
Oh Singapura.....
Oh, di mana... kawan dulu...
Kawan dulu, yang sama berjuang....
(Pembaca, dengan terdengarnya lagu ini, maka sampai disini tulisan saya. Jika ada kesalahan, saya mohon maaf. Sampai jumpa di tulisan lain.) Depok, 5 Juni 2012


by DWO

Senin, 06 Februari 2012

Dahlan Iskan - Mentri BUMN - MH 12 - Fajar Lazuardi di Bahtsul Masail Gula Legi



Senin, 06 Februari 2012
Manufacturing Hope 12

Hampir seribu orang berkumpul di gedung Empire Palace, Surabaya, Minggu pagi kemarin. Semua berkaus sama: kaus putih bergambar tebu, sepeda, dan sedikit hantu. Tidak peduli karyawan biasa, kepala bagian, kepala pabrik, maupun direksinya. Saya pun diminta mengenakan kaus yang sama, entah apa maksud gambar hantu di situ. Tujuan pertemuan itu memang hanya satu: memajukan pabrik-pabrik gula milik BUMN.
Di antara 179 pabrik gula milik negara yang pernah ada, kini tinggal 51 yang masih tersisa. Itu pun separonya dalam keadaan sulit dan sangat sulit. Zaman memang sudah berubah. Kejayaan industri gula sudah lama berlalu. Kalau dulu harga gula 2,5 kali harga beras, kini harga dua komoditas itu sudah praktis sama. Maka, minat menanam tebu pun tentu tidak sebesar dulu lagi. Kini begitu banyak tanaman lain yang lebih menjanjikan. Apalagi, untuk menanam tebu, diperlukan waktu tiga kali lipat lebih lama daripada tanaman padi.

Saat produksi gula mengalami kesulitan seperti itu, orang masih terus membeli gula. Kian tahun, konsumsi gula kian tinggi ?termasuk oleh mereka yang terkena sakit gula sekali pun. Akibatnya, impor gula harus digalakkan. Pabrik gula dalam negeri kian bertambah-tambah sulitnya.

Tapi, benarkah pabrik gula harus sulit? Mengapa masih ada pabrik gula yang baik? Mengapa masih ada pabrik gula yang maju? Mengapa minat swasta membangun pabrik gula tetap tinggi? Mengapa di beberapa negara, produksi gulanya terus meningkat, bahkan mampu ekspor?

Dalam forum seribu orang itu, semua pertanyaan harus terjawab. Agar pertemuan tidak seperti sekadar seminar atau rapat kerja, semua pembicara harus ngomong to the point, tidak ada basa-basi, tidak boleh bicara lebih dua menit, dan harus fokus per topik.

Tidak ada upacara pembukaan atau penutupan. Juga tidak ada pemimpin rapat. Yang ada hanya moderator yang diserahkan kepada saya. Yang hadir pun sangat bervariasi sehingga tidak mungkin ada persoalan yang tidak tahu jawabnya.

Di samping direksi, hadir di forum itu semua kepala pabrik, semua kepala bagian, dan peserta khusus. Peserta khusus adalah generasi muda berprestasi di sebuah pabrik gula tanpa memandang sudah punya jabatan atau belum. Tiap-tiap pabrik gula mengirimkan sepuluh orang generasi muda berprestasi.
Saya jadi teringat pidato Bung Karno: Berikan kepada saya sepuluh orang pemuda, akan saya ubah dunia! Saya berharap sepuluh generasi muda di situ pun bisa menjadi champions untuk perubahan di pabrik gula masing-masing.

Tempat duduk di forum yang secara informal dinamakan “bahtsul masail kubro” itu juga diatur secara khusus. Peserta dari pabrik-pabrik yang sudah maju disandingkan dengan peserta dari pabrik-pabrik yang lagi sulit. Peserta dari pabrik-pabrik yang maju sering diminta tampil untuk menceritakan kiat-kiat mereka di topik-topik tertentu.

Maka, 17 topik yang selama ini menjadi penyebab sulitnya pabrik gula itu bisa dibicarakan secara tuntas. Topik-topik tersebut, misalnya, mengapa petani tidak berminat menanam tebu di suatu wilayah pabrik, mengapa ada pabrik yang lebih dekat tetapi petani mengirim tebunya ke pabrik yang lebih jauh, mengapa ketidakefisienan pabrik ikut dibebankan kepada petani, mengapa tebu dari jauh diberi insentif ongkos angkut sementara tidak ada insentif kepada petani yang dekat dengan pabrik, apa yang harus dilakukan untuk merebut kepercayaan petani kepada pabrik gula setempat, seberapa besar pengaruh kekompakan para kepala bagian di dalam suatu pabrik terhadap keberhasilan pabrik gula, bagaimana agar pembakaran ketel tidak lagi menggunakan bahan bakar minyak, mungkinkah dilakukan sistem beli putus -petani kirim tebu dan langsung dibayar saat itu-, bagaimana mengatasi semakin sulitnya mencari tenaga untuk menebang tebu, dan seterusnya.

Topik yang paling panjang tentu yang satu ini: Bagaimana merebut kepercayaan petani. Agar mereka mau menanam tebu. Agar mereka mengirim tebu ke pabrik terdekat. Agar pabrik tidak kekurangan tebu. Agar petani merasakan keadilan dan kesejahteraan.

Mencari jawabnya tidak sulit. Sudah ada contoh yang sangat berhasil. Pabrik gula Pesantren Baru di Kediri atau pabrik gula Ngadirejo di Malang sudah menerapkannya dengan sukses. Demikian juga delapan pabrik gula lain, termasuk yang berada di Lampung dan Palembang. Sejak empat tahun lalu, kelompok 10 itu tidak pernah lagi mengalami kesulitan bahan baku. Bahkan, sampai berlebihan. Kuncinya satu: keterbukaan manajemen kepada petani tebu.

Di pabrik-pabrik tersebut tiap hari (di masa giling) diumumkan pada papan pengumuman petani siapa memperoleh rendemen (kandungan gula) berapa persen. Mereka yang setor tebu ke pabrik biasanya mampir ke papan pengumuman itu. Sejak sistem tersebut diterapkan, tidak ada lagi kecurigaan dari petani.
Padahal, dulu pabrik selalu dicurigai mempermainkan rendemen petani. Sampai-sampai petani meminta dibentuk tim independen untuk mengikuti keterbukaan model Pesantren Baru atau Ngadirejo. Tim seperti itu tidak diperlukan lagi.

Yang juga mendapat banyak tepuk tangan adalah ketika sepasang kepala bagian diminta naik ke panggung. Dia adalah Surya Wirawan, kepala bagian teknik, dan Fajar Lazuardi, kepala bagian pengolahan. Keduanya dijadikan contoh betapa bila dua orang kepala bagian di suatu pabrik kompak, hasilnya luar biasa.
Ketika keduanya bekerja di posisi tersebut, pabrik gula Prajekan, Situbondo, mengalami kemajuan 100 persen dalam produksinya. Oleh direksi PTPN XI, keduanya kini diminta tetap berpasangan untuk membenahi pabrik gula Semboro di Jember. Mereka pun optimistis bisa kembali menghidupkan pabrik gula Semboro yang semula sulit itu.

“Kami ini bukan lagi seperti rekan sejawat, tapi sudah seperti bersaudara,” ujar Surya Wirawan yang jadi kepala bagian teknik. “Saya selalu panggil dia kid dan dia panggil saya sam,” tambah dia.
Bagi orang Malang, tidak ada panggilan yang bisa menunjukkan kekentalan persahabatan melebihi panggilan kid dan sam itu. Orang Ngalam, eh orang Malang, memang biasa mengucapkan suatu kata dari huruf paling belakang.

Biaya memproduksi uap memang sangat besar di suatu pabrik gula. Bagian teknik yang memproduksi uap melalui ketelnya (boiler) harus erat berhubungan dengan bagian pengolahan yang menggunakan uap tersebut. Kalau produksi uap kurang cukup, sudah seharusnya bagian pengolahan menjerit. Sebaliknya, kalau bagian pengolahan terlalu boros menggunakan uap dalam pembuatan gulanya, sudah sewajarnya bagian teknik menjerit.

Dalam hal tim yang tidak kompak, bisa saja terlalu banyak bahan bakar yang terbuang karena penggunaan uap yang berlebihan. Sebaliknya, kalau produksi uap tidak lancar, bisa jadi banyak gula yang kualitasnya jelek.

Dengan berbagai langkah yang sudah dilakukan para pengelola pabrik gula selama tahun-tahun terakhir, setidaknya sudah banyak best practice yang terjadi. Banyak sekali cerita keberhasilan dan kiat kesuksesan yang bisa diceritakan di forum kemarin. Kini tinggal bagaimana manajemen bisa menularkan semua itu kepada pabrik yang masih sulit.

Di akhir pertemuan, 22 pimpinan pabrik gula yang masih sulit dan sangat sulit naik ke panggung. Urutan jejernya pun sudah seperti otomatis: yang paling sulit di ujung kanan dan kian ke kiri kian kurang sulitnya. Mereka sudah mendengar sendiri kiat-kiat sukses pabrik lain. Di antara 22 pabrik yang sulit dan amat sulit itu, ternyata masih memberikan hope yang besar: 12 pabrik di antaranya siap keluar dari “neraka” akhir tahun ini.?

Banyak sekali rencana yang akan mereka lakukan setelah pertemuan itu. Bahkan, di antara mereka ada yang sangat detail. Misalnya, ada yang akan menjaga agar mesin pengolahannya selalu dibersihkan dengan sangat-sangat bersih. Itu tidak hanya dilakukan demi kerapian atau kesehatan, ternyata juga sangat erat dengan peningkatan produksi. Dia menceritakan secara detail reaksi-reaksi kimiawi dari semua instalasi pengolahan yang kurang dibersihkan secara benar-benar bersih dengan produktivitas gula.
Dengan sangat menyindir, dia berucap, “Kalau Bapak mengatakan ruang tunggu bandara harus lebih nyaman daripada ruang kerja direksi bandara, saya akan bikin doktrin instalasi pengolahan di pabrik gula saya harus dibersihkan lebih bersih daripada piring yang saya pakai makan!”

Alhamdulillah. Dengan demikian, bila Tuhan mengizinkan, akhir tahun ini tinggal sepuluh lagi pabrik gula yang masih sulit. Berarti, masih 20 persen lagi. Tentu tidak mudah memecahkannya. Meski tinggal sepuluh pabrik gula, tapi pastilah itu yang paling sulit di antara yang tersulit-sulit.

Untuk membaca seberapa sulitkah kesulitan yang sulit itu, pimpinan sepuluh pabrik gula tersebut diminta menyebutkan tiga penyebab utama kesulitan itu. Yang satu, yang di Klaten itu, menyebutkan bahwa kesulitan utamanya hanya satu: Pabrik tersebut menggunakan banyak sekali boiler yang semuanya berukuran kecil-kecil. Kalau apa yang dia kemukakan itu benar, tentu tidak sulit memecahkannya: ganti boiler. Satu saja, tapi yang besar. Satu saja, tapi bahan bakarnya jangan minyak. Satu saja, tapi bayarnya nyicil.
Satu pabrik lagi di Probolinggo beralasan bahwa pabriknya sudah terlalu tua. Sudah 166 tahun. Kalau itu benar, masih tetap bisa diatasi. Sebab, pabrik gula pada prinsipnya adalah mekanik. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan mudah untuk peralatan yang sifatnya mekanik.

Satu pabrik lagi di Jateng, penyebabnya agak unik: kalah bersaing dengan pabrik gula Jawa yang jumlahnya sampai 300 buah di sekitar pabriknya. Tidak ada petani yang mengirim tebu ke pabrik karena tebu diolah sendiri-sendiri.

Tentu alasan seperti itu terlalu klasik untuk sebuah bisnis. Bukan alasan yang kuat. Karena itu, sampai ada peserta yang memberikan jalan keluar secara bergurau: Bagaimana kalau pabrik gula ini sekalian saja memproduksi gula Jawa?

Intinya, semuanya berkaitan dengan kurangnya pasokan tebu sebagai bahan baku utama. Intinya lagi, petani kurang tertarik menanam tebu atau mengirim tebu ke pabrik. Lebih inti lagi, petani kehilangan kepercayaan kepada pabrik gula BUMN. Maka, khusus sepuluh pabrik gula itu akan bertemu lagi sebulan mendatang.

Tentu dengan usul dan jalan keluar yang sudah lebih nyata. Kalaupun tahun ini belum bisa teratasi, setidaknya tahun depan harus beres. Atau, hi hi hi, menjadi seperti hiasan di kaus yang kemarin mereka kenakan itu! (*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Jumat, 03 Februari 2012

SBY Puji Kinerja Dahlan Iskan


JAKARTA - Baru saja menduduki jabatan sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan sudah mendapat pujian dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di depan para pelaku pasar modal Indonesia.

Pujian tersebut terlontar dari mulut Presiden SBY kala melakukan bincang-bincang dengan para pelaku pasar modal, di Gedung Bursa Efek (BEI) hari ini.

"Dahlan saya akui mempunyai kinerja yang bagus. Beliau cepat tanggap dengan tugas yang diberikan," ungkapnya di Gedung BEI, Jakarta, Senin (1/2/2012).

Menurut Presiden SBY, target penawaran saham umum perdana (initial public offering/IPO) BUMN yang ditargetkan Dahlan sebanyak tiga emiten di 2012, dapat tercapai bahkan sangat mungkin untuk terlampaui.

"Kalau Pak Dahlan bilang yang IPO BUMN akan tiga, saya yakin nantinya akan lima," kata Presiden

Rabu, 01 Februari 2012

Dahlan Iskan - Mentri BUMN - MH 11 - Yang Tidak Akan Selesai dengan Keluhan dan Gerojokan

Senin, 30 Januari 2012
Manufacturing Hope 11

Rasanya sangat sakit hati ini: harus bekerja keras untuk menolong perusahaan yang lagi sakit keras, tapi kesulitan itu sebenarnya dibuat sendiri oleh direksinya. Contohnya, Djakarta Lloyd.
Perusahaan pelayaran yang pernah memiliki grup band terkenal D”Lloyd itu kini bukan main sulitnya. Sampai-sampai tidak mampu membayar karyawannya.

Pemerintah, bersama DPR, sebenarnya sudah berkali-kali mencoba menyelamatkannya. Yakni dengan cara menggerojokkan ratusan miliar uang negara ke dalamnya. Tapi sia-sia. Palung kesulitan Djakarta Lloyd sudah terlalu dalam rupanya. Uang ratusan miliar itu seperti batu kecil yang dilempar ke lautan dalam.
Kini perusahaan itu masih memiliki utang kira-kira Rp 3,6 triliun!

Kalau saja palung kesulitannya tidak terlalu dalam, sebenarnya Djakarta Lloyd masih bisa diselamatkan. Saya tahu caranya. Sewaktu masih menjabat Dirut PLN, saya sudah diminta ikut memikirkannya. Jalan keluar yang disiapkan waktu itu mestinya bisa menyehatkan Djakarta Lloyd dengan cepat: beri saja pekerjaan mengangkut batubara PLN sekian juta ton setahun!

Ternyata, ada masalah: Djakarta Lloyd sudah tidak punya kapal sama sekali. Mau diangkut dengan apa batubara itu? Tentu masih ada jalan lain. Djakarta Lloyd bisa menyewa kapal. Yang penting perusahaan yang sedang pingsan itu segera memiliki aktivitas yang menguntungkan. Agar karyawannya bisa segera gajian. Tapi,  cara ini sungguh bukan cara bisnis yang sehat.

PLN sebenarnya bisa juga menolong Djakarta Lloyd agar perusahaan itu bisa membeli kapal. Caranya: PLN menjamin Djakarta Lloyd akan selalu mendapat pekerjaan mengangkut batubara.
Masalahnya:  tidak ada lagi orang yang percaya kepada Djakarta Lloyd. Padahal,  kepercayaan, dalam bisnis, adalah segala-galanya. Tidak punya uang pun sepanjang masih dipercaya sebenarnya masih bisa membeli kapal.

Tapi, kepercayaan itu sudah lama terempas. Bahkan, secara teknis Djakarta Lloyd sudah tidak boleh memiliki kapal. Begitu ada yang tahu perusahaan ini memiliki kapal, kapal itu akan langsung jadi rebutan: disita oleh orang yang punya tagihan ke Djakarta Lloyd. Membeli lagi disita lagi. Membeli lagi disita lagi.
BUMN memiliki dua perusahaan pelayaran. Djakarta Lloyd dan Bahtera Adhi Guna. Dua-duanya mengalami kesulitan besar. Namun, Bahtera tidak sampai ke kasus hukum sehingga bisa diselamatkan. Yakni dijadikan anak perusahaan PLN. Tugasnya: mengangkut batubara jutaan ton milik PLN.

Ketika PLN ditugasi menyelamatkan Bahtera, perombakan direksi segera dilakukan. Hanya satu direksi lama yang masih dipertahankan. Selebihnya sudah orang baru pilihan PLN. Pelan-pelan kondisi perusahan itu membaik. Bahkan, sejak bulan lalu, Bahtera Adhi Guna sudah memiliki kapal-kapal besar untuk mengangkut batubara.

Tentu, saya tidak mau cara yang sama dipergunakan untuk menyelamatkan Djakarta Lloyd. Saya tidak mau Djakarta Lloyd menjadi anak perusahaan BUMN mana pun. Kasus-kasus utangnya, kasus hukumnya, kasus masa lalunya bisa menyeret induknya sampai ke neraka.

Saya juga tidak setuju kalau negara kembali menggerojokkan uang ke dalamnya. Apalagi saya lihat Komisi VI DPR juga sudah sangat jengkel dengan persoalan seperti ini. Lebih jengkel lagi kalau tahu bagaimana kesulitan itu dibuat oleh para direksinya di masa lalu.

Dan, kasus seperti Djakarta Lloyd ini di BUMN tidak hanya satu.

Sebenarnya, kita harus kasihan kepada direktur utama Djakarta Lloyd yang sekarang, Syahril Japarin. Orangnya cerdas, gigih, dan mau bekerja keras. Dia juga tahan menderita: sejak diangkat menjadi Dirut setahun yang lalu belum pernah gajian.

Dia memang bertekad belum mau mengambil gaji sebelum Djakarta Lloyd mampu menggaji karyawannya. Postur badannya yang kecil dan bakat kurusnya membuat saya lebih iba lagi melihatnya.

Tapi,  persoalan Djakarta Lloyd memang terlalu berat. Kalau dipertahankan,  pengorbanan tidak gajian itu akan terlalu lama. Bahkan bisa sampai seumur hidupnya. Padahal, dia tidak memiliki pekerjaan lain.
Juga, menurut pengakuannya, tidak memiliki tabungan yang cukup. Nasionalisme dan geregetanlah yang menantangnya untuk mau menjadi Dirut Djakarta Lloyd.

Tapi, persoalannya tidak lagi cukup dengan pengorbanan. Tanggung jawab dan nasib Syahril Japarin sudah persis seperti syair lagu Sam D”lloyd, berjudul “Apa Salah dan Dosaku”:
Aku tak sanggup lagi
Menerima derita ini
Aku tak sanggup lagi
Menerima semuanya
Apa salahku dan dosaku
Sampai ku begini
- ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” “
- ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – ” – “
***
Karena itulah, perusahaan BUMN seperti pabrik kertas Leces di Probolinggo atau Industri Kapal Indonesia (IKI) di Makassar harus belajar banyak dari pengalaman Djakarta Lloyd. Dua perusahaan ini juga sangat-sangat sulit. Juga sampai tidak mampu menggaji karyawannya. Namun, masih ada cahaya kecil di kejauhan sana. Cahaya itulah yang harus dikejar.

Dua perusahaan ini tidak akan bisa diselamatkan hanya dengan cara menggerojokkan uang dari negara. Komisi VI DPR memang sudah menyetujui pemberian dana ratusan miliar rupiah kepada keduanya, namun saya memilih membenahi dulu manajemennya. Penggerojokan itu sudah pernah dilakukan, toh tidak bisa menolong banyak.

Karena itu, untuk Leces, saya minta banting setir dulu. Boiler baru yang sedang dibangun itu tidak perlu untuk menggerakkan mesin-mesin kertas. Boiler itu lebih baik untuk membangkitkan listrik.

Saya melihat 4 buah turbin lama yang menganggur di PLN. Masing-masing 10 MW. Ini bisa dipakai di Leces. Setelah menghasilkan listrik 60 MW, listriknya jangan untuk menggerakkan mesin-mesin kertas, tapi dijual saja ke PLN. Industri kertas sekarang lagi sulit. Apalagi ada krisis Eropa dan Amerika.

Dengan menjual listrik ke PLN, setidaknya gaji untuk karyawan akan cukup. Demikian juga pabrik sodanya. Soda itu tidak perlu untuk membuat kertas. Jual saja sodanya ke pasar. Akan ada tambahan penghasilan lagi. Setelah karyawan bisa gajian, perusahaan akan lebih tenang. Manajemennya bisa sedikit bernapas sambil mencari akal apa lagi yang bisa dilakukan. Tentu, saya tetap terbuka untuk ide baru dari direksi dan karyawan Leces yang lebih baik.

Demikian juga IKI di Makassar. Perusahaan ini harus dihidupkan dengan memperbaiki dasar-dasar manajemennya. Bukan dengan tiba-tiba menggerojokkan uang besar-besaran. Perusahaan ini seharusnya tidak sulit. Sebab, pasarnya sangat besar. Banyak kapal yang antre untuk diperbaiki. Masalahnya, dok milik IKI sudah hancur. Dermaganya sudah rusak. Tempat peluncuran kapalnya sudah keropos.

Saya sudah minta perusahaan BUMN yang di Surabaya, PT Dok Perkapalan Surabaya (DPS), untuk turun tangan. Dirut DPS Firmansyah saya tugasi memperbaiki manajemen IKI. Juga menjadi penjamin perbaikan-perbaikan fasilitas dok yang rusak. DPS yang kinerjanya sangat bagus tentu bisa menularkan kemampuannya kepada IKI. Toh bidang usahanya persis sama.

PT Semen Tonasa, BUMN yang ada di Makassar, juga turun tangan. Pabrik semen yang lagi membangun unit yang ke-5 itu membutuhkan crane besar. Kebetulan, IKI memiliki crane yang sudah 10 tahun lebih menganggur. Daripada Tonasa membeli crane lebih baik memanfaatkan crane milik IKI yang sangat besar: 450 ton. Saya minta crane ini disewakan ke Tonasa. IKI bisa dapat pemasukan puluhan miliar.
Bahkan, Dirut Semen Tonasa M. Sattar Taba yang selama membangun tambahan pabrik semen memerlukan tenaga kerja sanggup menampung 100 orang karyawan IKI yang belum bekerja karena masih menunggu perbaikan sarana dok. Kelak, ketika pembangunan pabrik semen sudah selesai, perbaikan dok sudah selesai juga. Mereka bisa kembali bekerja keras di IKI.

Kalau IKI nanti kembali hidup,  kapal-kapal di Indonesia Timur yang kalau rusak harus diperbaiki di Surabaya atau Jakarta cukup dikirim ke Makassar. Tentu, saya salut dengan karyawan di Leces dan IKI. Di samping cukup sabar, mereka juga rajin ikut berpikir apa yang terbaik yang bisa dilakukan.
Malam Idul Adha yang lalu saya bermalam di Leces. Paginya, setelah salat Id, saya berdialog dengan karyawan yang ternyata memang sangat memprihatinkan. Hampir 2.000 karyawan tidak memiliki pekerjaan karena mesin-mesin pembuat kertas itu sudah lama berhenti.

Bagaimana galangan kapal IKI Makassar? Saya sudah dua kali meninjau IKI. Tanpa memberi tahu siapa pun. Yang pertama tengah hari. Yang kedua nyaris tengah malam, minggu depannya.

Kedatangan saya yang pertama akhirnya memang diketahui beberapa karyawan. Mereka lantas tergopoh-gopoh bikin poster. Mereka berdemo. Mungkin karena tergesa-gesa, beberapa poster tidak bisa dibaca. Saya pun mendatangi mereka untuk mengingatkan bahwa memegang posternya terbalik.

Sepusing-pusing Leces dan IKI, kelihatannya tidak akan sepusing pabrik gula. Bukan hanya satu atau dua pabrik gula yang sulit. Tapi satu rombongan! Kini ada sekitar 25 pabrik gula milik BUMN yang keadaannya sangat sulit. Akibatnya,  Indonesia harus impor gula. Mau diapakan pabrik-pabrik gula ini?
Saya sudah mempelajarinya. Sakitnya pabrik gula ini sudah seperti sakit komplikasi. Mulai dari lahan, tanah, tebang, angkut, giling, bibit, pupuk, rendemen, sampai ke manajemen.

Persoalan ini tidak mungkin lagi dipecahkan lewat keluhan, omelan, marah, seminar, rapat kerja, sidak,  atau mutasi pejabat. Karena itu,  5 Februari nanti saya akan mengadakan acara yang saya namakan “bahtsul masail kubro pabrik gula”. Saya terpaksa meminjam istilah para ulama NU itu untuk menandai betapa sudah rumitnya persoalan pabrik gula ini. (*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost