Senin, 30 Maret 2015

New Hope : Dahlan Iskan : Orang-Orang yang Lebih Mudah Bangun Cerobong

Terserah. Itulah salah satu kata yang terbanyak saya ucapkan ketika ditanya anak buah, teman, atau keluarga. Biasanya saya memang hanya mengajukan usul atau ide dalam satu–dua kata. Saya sependapat dengan peribahasa ini.
”Satu kata cukup untuk orang bijaksana. Sebanyak apa pun kata tidak akan cukup untuk memenuhi piring.” Itu diciptakan oleh Benjamin Franklin, salah satu pendiri Amerika Serikat.
Tapi, kadang satu kata memang idak cukup. Maka, datanglah pertanyaan-pertanyaan susulan kepada saya. Biasanya saya menjawab, ”Terserah.” Saya percaya bahwa orang di sekitar saya, termasuk anak buah saya, adalah orang-orang yang pandai. Bahkan mungkin lebih pandai.
Bahwa mereka mengajukan pertanyaan, saya yakin itu karena kebiasaan saja. Kebiasaan banyak dinasihati. Atau kebiasaan minta petunjuk. Atau kebiasaan memiliki atasan yang kalau tidak dimintai petunjuk merasa diabaikan anak buah.
”Terserah,” jawab saya ketika anak buah mengajukan pilihan cara mengerjakan atau memutuskan. Tapi, kalau dia masih juga minta petunjuk, saya akan bilang bahwa saya ini bukan ”pabrik petunjuk”. Yang selalu memproduksi petunjuk. Kecuali mereka benar-benar tidak tahu, barulah saya bicara. Itu pun bukan petunjuk. Hanya usul. Bahwa usul saya itu dianggap baik, silakan. Kalaupun tidak, silakan pakai cara lain. Saya tidak marah kalau ”petunjuk” saya tidak dijalankan. Asal yang dia lakukan lebih baik.
Istri saya sering komplain. ”Kok terserah terus?” katanya.
Saya setuju dengan Benjamin Franklin. Kata-kata saja tidak akan bisa membuat seseorang kenyang. Kerjalah yang bisa mengatasinya. Tapi, banyak atasan yang ketika anak buahnya minta petunjuk mengira anak buah itu benar-benar minta petunjuk. Padahal, anak buah itu hanya ingin menghargai atasan. Atau sedikit menjilat. Lalu, sang atasan memaksakan diri untuk memberikan petunjuk. Dia merasa tidak pantas kalau tidak memberikan petunjuk. Atau merasa wibawanya turun. Atau merasa dikira kurang pandai. Atau merasa kokseperti bukan atasan.
Saya sendiri, ketika jadi bawahan, kurang senang minta petunjuk. Suatu saat saya diminta ”membereskan” kantor Tempo di Surabaya. Waktu itu saya belum lama ditugaskan untuk memimpin Jawa Pos. Sebagai mantan pimpinan Tempo di Jatim, saya tahu apa yang harus saya lakukan. Beberapa orang saya minta meninggalkan Tempo. Heboh. ”Lho, kok sejauh itu?” ujar pimpinan Tempo di Jakarta. ”Kanberes,” kata saya. Goenawan Mohamad, pimpinan tertinggi Tempo, akhirnya melegakan saya. ”Dahlan orangnya memang begitu. Biar saja,” katanya.
Tahun 2000, saya ditugasi Gubernur Jatim Imam Utomo untuk menjadi Dirut perusahaan daerah PT Panca Wira Usaha (PWU). Saya sungkan. Saya mau. Tapi tidak mau digaji. Dan tidak mau mendapat fasilitas apa pun. Sebab, saya tidak mau meninggalkan Jawa Pos.
Salah satu perusahaan daerah itu adalah pabrik karet Ngagel. Entah sudah berapa tahun rugi. Pabriknya reyot, lantainya tanah berair, dan sarang laba-laba ada di mana-mana. Saya lihat, di situ ada seorang anak muda yang pandai dan pekerja keras. Namanya Budi Harahap. Saya tunjuk dia jadi Dirut.
Beberapa atasannya yang lebih tua terbalik jadi anak buahnya. Heboh. Karyawan demo. Gubernur kirim surat teguran. ”Perusahaan milik pemerintah kok sampai didemo. Tidak boleh terjadi lagi,” kira-kira begitu. Lantas, saya jawab, ”Pak Gubernur, demo itu biasa. Mungkin masih akan terjadi lagi.”
Sejak itu, pabrik karet Ngagel membaik. Lalu, Budi minta dibangunkan pabrik baru untuk memproduksi steel rubber conveyor. Itu akan menjadi satu-satunya. Semua steel rubber conveyor diimpor dari Jerman, Prancis, atau Tiongkok. Saya setuju. Tapi, perusahaan kantidak punya uang. Padahal, perlu investasi Rp 40 miliar. Memang bisa pinjam bank. Tapi, perusahaan belum dipercaya bank. Utang macet masa lalunya masih banyak di beberapa bank.
Bank juga tidak mau menerima jaminan milik pemerintah. Akhirnya, saya jaminkan pribadi saya, tentu dengan seluruh kekayaan saya pribadi, untuk pinjaman itu. Pabrik pun berdiri di Karangpilang. Sekarang maju sekali. Sangat menguntungkan.
Pabrik kulit yang sudah tidak berproduksi, hampir runtuh, dan jadi sumber polusi di Jalan Ahmad Yani, Surabaya, juga harus dirombak. Tapi, juga tidak ada dana. Deposito pribadi pun saya jaminkan untuk memperoleh pinjaman bank. Jadilah Jatim Expo itu.
Di Jawa Pos, saya memiliki puluhan orang yang untuk mengerjakan banyak hal tidak perlu minta petunjuk. Bukan saja ”pabrik petunjuk”-nya memang jarang berproduksi, juga karena mereka memang tipe orang ”satu kata cukup untuk seorang yang bijaksana”.   Mereka juga bukan orang-orang yang menerima takdir begitu saja. Mereka seperti pepatah Benjamin Franklin, ”Hati-hati dengan pengeluaran, biarpun kecil. Karena kebocoran kecil bisa menenggelamkan kapal.” Mereka adalah para pekerja keras, mau menderita, dan tidak kesusu ingin menikmati. Seperti kata Benjamin Franklin, ”Barang siapa sarapan berlebihan, dia akan makan siang dengan kemiskinan dan makan malam dengan penderitaan.” Sebab, seperti pepatah Benjamin berikutnya, ”Lebih mudah membangun dua cerobong asap daripada menjaga salah satu cerobong untuk bisa terus mengepul.”
Saya tidak tahu mengapa Benjamin yang tidak pernah jadi presiden Amerika Serikat itu justru menjadi penanda mata uang dolar AS terbesar, USD 100. Dan tidak pernah diganti sejak 1929. Semua orang Amerika yang saya tanya tentang itu tidak tahu. Saya cari di internet, juga tidak ketemu.
George Washington, pendiri dan presiden pertama AS, justru hanya menjadi penanda uang 1 dolar. Yang jelas, penanda mata uang harus diputuskan oleh parlemen.
Jangan-jangan karena Benjamin Franklin adalah seorang filsuf (di samping seorang wartawan, penulis, dan penemu beberapa teori dalam kelistrikan) yang begitu mendorong orang untuk menjadi kaya melalui kerja keras serta menghargai uang. Dia juga anti kepada orang malas dan orang mengeluh.
Seseorang mengeluh atas tingginya pajak pemerintah. Benjamin bilang, ”Jangan terus mengeluh, nanti Anda tidak bisa membayar pajak. Bekerja keraslah, Anda akan punya uang, kehormatan, dan bisa membayar pajak.” Tapi, banyak orang tidak mau bekerja keras karena tidak tahu berharganya uang.
”Ingin tahu betapa berharganya uang?” tulis Benjamin dalam bukunya pada 1756 tentang cara menjadi kaya. ”Cobalah pinjam uang,” jawabnya.
Meski dia pendiri AS terkemuka, tapi tidak pernah ditanya oleh Thomas Jefferson ketika ketua tim penulis draf deklarasi kemerdekaan itu merumuskan deklarasi. Konon, Jefferson, yang akhirnya jadi presiden ketiga AS dan gambarnya menjadi penanda mata uang 20 dolar, khawatir akan terlalu banyak kalimat filsafat yang diusulkan dalam draf deklarasi.
Rupanya dia juga seorang humoris yang getir. Karya legendarisnya yang berjudul Cara Menjadi Kaya itu ditutup dengan dua kalimat yang pahit. ”Semua yang membaca cara-cara menjadi kaya ini mengaku sepenuhnya mengerti, menyadari, dan ingin melakukannya. Tapi, besoknya mereka mengerjakan sebaliknya, seperti juga ketika mereka baru pulang dari mendengar khotbah.” (*)

Senin, 23 Maret 2015

New Hope : Dahlan Iskan : Mencoba DNA untuk Setengah Manusia

Ini mode baru di Amerika: memeriksakan DNA. Tujuannya untuk menelusuri siapa nenek moyang kita. Caranya pun mudah. Beli tabung plastik kecil seharga Rp 1 juta lebih melalui internet. Perusahaan jasa pengiriman akan mengantarkan tabung sebesar jari tangan itu ke alamat pemesan.
Itulah tabung untuk diisi air liur sebanyak kira-kira dua sendok makan. Harus langsung dari mulut. Setelah berisi liur, tabung itu dikirim balik. Tiga minggu kemudian hasilnya di-e-mail-kan: darah siapa saja yang mengalir di tubuhnya.
Teman saya, orang Amerika, sudah memeriksakan DNA-nya. Neneknya pernah bercerita bahwa di dalam darahnya mengalir sedikit gen suku Indian. Itu dari perkawinan leluhurnya. Dia memperkirakan ada 5 persen darah suku American Indian di tubuhnya. Selebihnya adalah darah Jerman. Dia memang keturunan Jerman yang sudah beberapa generasi tinggal di Amerika.
“Dari tes ini saya tahu bahwa ada darah Inggris di tubuh saya,” katanya. “Cukup besar, lebih dari 30 persen,” tambahnya. Tentang cerita neneknya ternyata memang benar. Ada darah suku Indian. Namun, yang semula dia perkirakan 5 persen ternyata hanya 1 persen.
Yang dia tidak menduga adalah ini: ada darah makhluk Neanderthal sebesar hampir 2 persen. Neanderthal adalah makhluk yang hidup dalam gua sekitar 100.000 tahun lalu. Fosilnya ditemukan di desa dekat Kota Dusseldorf, Jerman. Bentuknya mirip manusia. Hanya, bidang dadanya lebar. Tingginya setinggi saya. Lebih pendek daripada umumnya orang Jerman sekarang. Rongga otaknya lebih besar daripada otak manusia. Mereka menggunakan tulang binatang untuk membuat gua.
“Mungkin pernah terjadi kawin-mawin di antara sejumlah Neanderthal dengan manusia,” ujar teman saya itu. “Atau jangan-jangan manusia adalah keturunan Neanderthal,” tambahnya.
Tentu masih sulit dipastikan siapa yang lebih dulu. Manusia atau Neanderthal. Kalau dipercaya bahwa semua manusia adalah anak cucu Adam/Hawa, lebih sulit lagi menghitungnya. Nabi Muhammad hidup 1.450 tahun lalu. Nabi Isa –umat Nasrani memercayainya sebagai Yesus– hidup 2.000 tahun lalu. Jarak antara Muhammad dan Isa sekitar 550 tahun.
Nabi Nuh yang beberapa generasi di atas Nabi Isa diperkirakan hidup 10.000 tahun lalu. Nabi Adam yang beberapa generasi di atas Nuh diperkirakan hidup 50.000 tahun lalu. Maka, kalau semua itu benar, berarti Neanderthal lebih dulu menjadi penghuni bumi. Wallahu a’lam.
Semua orang kulit putih diperkirakan memiliki darah Neanderthal. Dari sekian ribu generasi manusia, tentu kawin campur tidak terhindarkan. Baik yang karena jatuh cinta maupun karena terpaksa. Kesengajaan maupun kecelakaan. Karena kekerasan maupun pemaksaan.
Ini tentu tantangan terbesar bagi gerakan pemurnian ras. Ilmu pengetahuan ternyata membuktikan bahwa ras manusia sudah tercampur baur. Bahkan, di Negara Bagian South Carolina, yang paling sensitif masalah rasnya, terjadi kejutan. Menurut hasil tes itu, 30 persen dari orang kulit putih yang memeriksakan DNA-nya ternyata tercampur juga dengan darah orang kulit hitam.
Mungkin saja di zaman perbudakan dulu beberapa tuan kulit putih jatuh cinta pada budak mereka. Atau tepergok bercinta. Maklum, perbudakan waktu itu berlangsung lebih dari 200 tahun.
Keturunan Nabi Ibrahim, misalnya, pasti sudah tidak lagi satu ras. Istri pertama Ibrahim (dalam Injil disebut Abraham), Sarah, berkulit putih. Sarah-lah yang melahirkan Ishak (atau Isaac di dalam Injil). Nabi Ishak kemudian berputra Yakub yang memiliki nama lain Israel. Yakub “melahirkan” beberapa nabi seperti Daud, Sulaiman, Yusuf, dan akhirnya Nabi Isa. “Bani Israel dalam Alquran itu adalah anak-anak Yakub,” ujar Ustad Shamsi Ali, imam besar di New York yang asli Sulawesi itu. Bangsa Yahudi yang berkulit putih itu adalah keturunan Ibrahim dari Yakub.
Istri Ibrahim yang satunya, Siti Hajar, adalah perempuan kulit hitam yang konon asli Ethiopia. Ibrahim mengawini Hajar di umurnya yang sudah lebih 80 tahun. Ini atas kehendak istri pertama yang tidak memiliki anak. Dari perkawinan dengan Siti Hajar itulah lahir Ismail. Berkat kebesaran Allah, ternyata Sarah juga hamil. Lahirlah Ishak itu. Yakni ketika umur Ibrahim sudah 90 tahun.
Siti Hajar dan bayinya kemudian “diungsikan” ke Makkah, saat itu suatu kawasan pegunungan yang tidak berpenghuni. Ketika bayi Ismail kehausan dan Hajar lari dari satu bukit ke bukit lain sampai tujuh kali, Allah memberinya sumber air yang kemudian diberi nama zamzam.
Ismail inilah bapak bangsa Arab. Setelah Makkah ramai berkat adanya sumber air itu, datanglah bangsa Jurhum dari Yaman. Salah satunya Raja Abrahah yang ingin menghancurkan Kakbah. Keturunan Ismail bercampur pula darahnya dengan bangsa Jurhum.
Banyak ras yang berusaha menjaga kemurnian ras masing-masing. Tapi, kenyataan membuktikan, banyak juga orang Yahudi yang kawin dengan orang Arab. Atau sebaliknya. Juga dengan suku-suku lainnya. Termasuk dengan suku Jawa di Indonesia.
Maka semua orang Arab dan semua orang Yahudi pasti memiliki unsur darah yang sama: darah Nabi Ibrahim.
Mencampur ras juga dilakukan Thomas Jefferson, presiden ketiga Amerika Serikat. Dia juga dicatat sebagai salah satu proklamator negeri itu. Jefferson yang ditinggal mati istrinya memiliki enam anak dari budaknya yang berkulit hitam. Namanya Sally Hemings. Konon Jefferson sangat mencintainya. Sally tinggal di Monticello, Virginia, tetangga dekat Washington DC.
Semula ini hanya rumor yang banyak ditulis surat kabar saat Jefferson menjadi presiden periode pertama. Rumor itu tidak sampai merusak Jefferson. Dia terpilih lagi. Jefferson tidak pernah berkomentar. Betul atau salah sebatas rumor. Ini membuat soal itu menjadi perdebatan para sejarawan yang tidak henti-hentinya. Selama dua abad.
Keturunan Thomas Jefferson dari istri yang meninggal itu membantah keras rumor tersebut. Sampai tahun 1998. Ilmu pengetahuan ikut membuat sejarah. Tes DNA begitu maju. Pro-kontra pun berakhir. Tahun 1998 itu, ahli DNA Dr Eugene Forter melakukan tes pada mereka yang mengaku keturunan Jefferson dari ibu yang kulit hitam. Sally memang meninggalkan catatan untuk anak-anaknya. Lalu diwariskan turun-temurun.
Hasil tes DNA mereka positif: ada darah Jefferson di dalamnya. Ini menjadi fakta yang kemudian diterima semua pihak. Termasuk pihak keturunan dari istri yang berkulit putih. Beberapa tahun lalu keturunan Jefferson, baik yang kulit putih maupun yang kulit hitam, berkumpul bersama-sama ziarah ke monumen kakek moyangnya yang lahir tahun 1743 itu.
Kombinasi antar-ras mungkin mengakibatkan suatu ras merasa lebih tinggi daripada lainnya. Dalam novel Agus Sunyoto, Rahwana, persilangan-persilangan ras itu di-jlentreh-kan rinci. Termasuk antarmakhluk seperti dengan raksasa, bahkan dengan hewan tertentu. Yang merasa dari persilangan ras tertinggi akan menyebut persilangan yang melahirkan orang seperti saya bukan termasuk manusia. Tapi setengah manusia.
Saya menjadi ikut tertarik untuk memeriksakan DNA.
Sambil sekolah. Mumpung saya agak lama tinggal di Amerika. Selama ini saya termasuk yang kurang peduli dengan asal usul. Siapa tahu saya ternyata benar-benar manusia. Atau tidak. (*)

Senin, 16 Maret 2015

New Hope : Dahlan Iskan : Beras Menir yang Menggetarkan Samsung

KEJUTAN XIAOMI” menjadi istilah baru di Korea Selatan. Dalam bahasa Mandarin, xiaomi berarti beras menir (beras yang dihancurkan kecil-kecil). Tapi, beras menir inilah yang kini sangat ditakuti Samsung. Sampai-sampai Menteri Komunikasi Korsel Choi Yang-hee mengunjungi pabrik smartphone Xiaomi di Beijing bulan lalu.
Samsung rupanya merasa terancam. Memang perusahaan baru smartphone di Beijing itu tiba-tiba saja jadi meteor. Tahun lalu Xiaomi langsung mampu menjual 70 juta smartphone. Atau naik hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Dengan demikian, tiba-tiba saja Xiaomi telah menjadi produsen telepon pintar terbesar ketiga di dunia. Setelah Samsung dan Apple.
Memang penjualan smartphone Samsung masih di atas 300 juta, catatan tahun lalu. Tapi, untuk pasar Tiongkok Samsung sudah anjlok lebih dari separonya. Samsung sudah kalah dari si beras menir. Bahkan sudah kalah jauh. Padahal, Tiongkok adalah pasar telepon pintar terbesar di dunia. Maka pantas kalau Samsung tersentak.
Kalau dulu kita terkejut mendengar BlackBerry mengalahkan Nokia, lalu iPhone mengalahkan BlackBerry dan akhirnya iPhone dikalahkan Samsung, kini kita lebih terkejut lagi bila si anak bawang beras menir akan mengalahkan Samsung segera. Dunia telekomunikasi memang ibarat roller coaster. Kita tidak pernah membayangkan Nokia yang begitu merajalela dengan cepat dikalahkan BlackBerry. Kejayaan BlackBerry pun hanya seumur jagung: dikalahkan Apple. Dan tak disangka-sangka, raja Amerika Serikat ini disalip perusahaan dari Asia: Samsung.
Semula Huawei-lah yang disangka akan menjadi penantang terberat Samsung. Produk terbaru Huawei, Ascend 4G LTE, yang saya gunakan saat ini, luar biasa canggihnya. Sambutan dari pasar di Tiongkok pun gegap gempita. Untuk bisa membeli Huawei Ascend 4G LTE, harus antre seperti dulu orang Amerika antre beli iPhone.
Tapi, tiba-tiba ada Xiaomi. Muncul langsung bikin kejutan. Perusahaan si beras menir ini baru didirikan tahun 2010. Bahkan, orang di Indonesia pun belum banyak yang tahu. Tiba-tiba saja menjadi nomor tiga di dunia: mengalahkan Lenovo dan LG. Juga mengalahkan Huawei.
Maka pertempuran akan kembali seru. Dulu Amerika melawan Eropa. Lalu Asia melawan Amerika. Kini pertempuran akan terjadi sesama Asia, bahkan sesama Tiongkok. Xiaomi langsung begitu hot. Bahkan tahun ini mulai masuk pasar internasional. Minggu lalu, saat launching di Singapura, Xiaomi bikin gempar: stoknya langsung habis dalam dua menit.
Bagaimana mungkin perusahaan yang belum berumur lima tahun sudah begitu suksesnya? Ini tak lain karena strategi pendiri perusahaan itu, Lie Jun: gerak cepat. Lei Jun kini baru berumur 45 tahun. Gayanya mirip sekali dengan Steve Jobs, pendiri Apple. Ke mana-mana Lei Jun hanya mengenakan kaus hitam dengan celana jins.
Seperti Steve Jobs, Lei Jun juga mencapai kekayaan pertama USD 1 miliar (Rp 12,5 triliun) saat berumur 41 tahun. Kini kekayaan Lei Jun sudah mencapai USD 12 miliar. Berarti setiap tahun naik Rp 30 triliun. Dia sudah menjadi orang terkaya nomor 26 di Tiongkok.
Sukses Lei Jun dimulai dari kejengkelannya saat bekerja di perusahaan sebelumnya. Dia merasa ide-idenya tidak cepat mendapat muara. Dia pun bertekad mendirikan perusahaan sendiri dan akan merespons dengan cepat ide apa pun dari siapa pun. Terutama dari pengguna Xiaomi. ”Kalau perlu dalam seminggu sudah menjadi kenyataan,” katanya seperti dikutip media.
Tahun 1992, ketika baru berumur 22 tahun, Lei Jun bekerja di perusahaan software antivirus: Kingsoft. Enam tahun kemudian, saat umurnya baru 29 tahun, dia sudah mencapai puncak karir sebagai CEO-nya. Tiba-tiba dengan alasan ”kesehatan” dia mengundurkan diri. Ternyata dia mendirikan perusahaan online penjualan buku: Joyo. Perusahaan ini lantas dia jual ke Amazon.com dengan nilai USD 75 juta atau hampir Rp 1 triliun.
Langkah besar pun disiapkan: mendirikan Xiaomi. Dia mengajak sepuluh partner untuk bergabung. Salah satunya adalah Temasek, BUMN Singapura. Termasuk perusahaan Taiwan Foxconn. Yang dulu sudah firm ingin masuk Indonesia, tapi tidak ada kabarnya lagi saat ini. Kini aset Xiaomi sudah mencapai USD 46 miliar.
Xiaomi ini dibuat sangat mirip (tampilan maupun kualitasnya) iPhone. Tapi dengan harga kurang dari separonya. Di Tiongkok, pasar smartphone terbesar di dunia, iPhone 4s dijual USD 790, sedangkan Xiaomi MI One dijual hanya USD 320. ”Harga itu hanya sama dengan harga pembelian material bahan baku,” ujar Lei Jun.
Ini berarti Xiaomi tidak ambil keuntungan dari penjualan telepon pintarnya. Xiaomi akan ambil keuntungan dari software, aksesori, dan bahkan merchandise-nya. Xiaomi memang menciptakan maskot. Dijual dalam berbagai bentuk. Termasuk boneka ini: anak yang dibuat mirip kartun Poyo. Berkalung kain merah dan bertopi. Ada bintang merah di topi itu. Khas Tiongkok dan cocok untuk pasar besar di sana.
Lei Jun, kelahiran Hubei yang menamatkan SMA di Mianyang dan menyelesaikan sarjana science engineering di Wuhan University, kini dapat julukan ”Steve Jobs”-nya Tiongkok. Rupanya gelar itu mengusiknya. ”Kalau Steve Jobs di Tiongkok, belum tentu dia bisa sukses.” Tentu Lei Jun juga tidak mau mati muda karena kanker seperti Steve Jobs. (*)

Senin, 09 Maret 2015

New Hope : Dahlan Iskan : Dari Berburu Berita ke Berburu Sengon

Saya melihat gejala baru. Kelilinglah pedesaan Jawa: begitu banyak pohon sengon sekarang ini. Tanpa ada program penghijauan dari pemerintah pun, rakyat sudah terdorong sendiri untuk menanam sengon. Ini karena nilai ekonominya yang sudah terbukti: tiap hektare bisa menghasilkan Rp 500 juta. Bersih. Seleksi alam kelihatannya sudah memutuskan ini: sengon juaranya. Juara di antara tanaman keras. Tentu jangan dibandingkan dengan, misalnya, tanaman buah tropik.
Dulu begitu banyak tanaman keras yang dianjurkan untuk digalakkan: jabon, kemiri sunan, jarak pagar, lamtoro gung, sengon buto, dan seterusnya. Hampir semuanya gagal. Karena tidak ada dorongan keuntungan ekonomi. Tidak ada yang terbukti bisa meningkatkan kesejahteraan penduduk pedesaan.
Jabon terbukti kalah dari sengon. Harga jualnya sekitar 20 persen di bawah sengon. Ini karena warna kayu jabon kurang disukai industri mebel di luar negeri. Terlalu putih. Kemiri sunan, mungkin akan bernasib sama dengan jarak: lebih gagal lagi. Bahkan membuat rakyat marah. Jarak yang siap panen dibabat. Satu hektare tanaman jarak memang hanya menghasilkan kurang dari setengah juta rupiah setahun.
Sengon buto, ternyata juga tidak laku. Memiliki terlalu banyak cabang. Kurang laku dijual. Tidak bisa untuk bahan baku industri mebel. Lamtoro gung, ternyata membawa penyakit yang menular ke tanaman sekitar.
Sengon tradisionallah yang ternyata mengalahkan semua itu. Maka jelaslah, untuk memanfaatkan lahan-lahan kosong di Jawa, sengon adalah pilihan utama. Jangan kaliandra. Biar saya dulu yang tanam kaliandra. Itu pun di luar Jawa. Begitu banyak yang ingin mengikuti saya menanam kaliandra. Biasanya saya tanya dulu: lahannya di mana? Begitu dia menyebut di Jawa, saya langsung tegaskan: jangan! Jangan tanam kaliandra. Jawa terlalu subur untuk kaliandra. Sama-sama menanam pohon, untuk di Jawa, lebih baik sengon. Apalagi, kini sudah berdiri banyak sekali pabrik pengolahan kayu sengon. Tidak mungkin lagi tidak ada pasarnya. Bahkan, pabrik-pabrik itulah yang kini haus sengon.
Biarlah kaliandra dicoba di daerah-daerah khusus di luar Jawa yang gersang dan yang tidak memiliki sumber listrik. Saya, bersama tim, baru mulai mencoba di Sumba, Sumbawa, Lingga, Singkep, Kaltim, dan Bolaang Mongondow. Kita lihat dulu berhasil atau tidak.
Memang tanaman sengon baru bisa ditebang setelah berumur lima tahun. Tapi, hasilnya sungguh menarik. Dalam lima tahun itu, per hektare, bisa menghasilkan Rp 500 juta. Bersih. Sudah dipotong biaya. Berarti satu tahun Rp 100 juta. Sama dengan gaji pegawai satu bulan Rp 8 juta. Tidak kecil, bukan? Dalam jangka panjang pasarnya pun terjamin. Gerakan anti penebangan hutan sedunia membuat industri kayu beralih ke tanaman rakyat.
Apalagi, hampir tidak ada hama. Satu-satunya hama adalah karat puru. Itu pun mudah ketahuan. Kanker itu muncul di dahan dalam bentuk benjolan besar. Dahan itu bisa langsung dipotong. Bagian yang terkena penyakit itu harus dikubur. Jangan dibuang begitu saja. Jangan juga dibakar. ”Hama” lainnya adalah kebakaran. Tapi, ini juga gampang terlihat. Yang tidak mudah terlihat adalah hama yang satu ini: ditebang orang di tengah malam.
Selebihnya tidak ada masalah. Memang ada yang mengkritik tanaman sengon membuat orang malas: tinggal tunggu hasil selama lima tahun sambil ongkang-ongkang kaki. Tidak perlu bekerja setiap hari seperti menanam padi. Atau menanam buah tropik. Para penggiat buah tropik pasti benci ini. Anak muda yang gigih seperti Mas Pratomo dari Ungaran tidak akan tergiur sengon. Mas Pratomo sudah membuktikan bahwa buah tropik bisa menghasilkan dua kali lipat dari sengon. Juga tidak perlu menunggu lima tahun. ”Memangnya perut kosong bisa disuruh menunggu lima tahun?” ujar Mas Pratomo.
Begitu banyak tanaman buah yang jadi pilihan: kelengkeng genjah, buah naga, durian pendek, dan tentu saja sirsat. Hanya, petaninya memang harus berpengetahuan, harus rajin (utun), dan harus berjiwa bisnis. ”Kita kan harus membangun masyarakat. Agar rajin dan kerja keras,” ujar Mas Pratomo. ”Biar bisa seperti bangsa Korea atau Jepang,” tambahnya.
Ke depan, sengon kelihatannya akan berfungsi sebagai tabungan pedesaan. Bukan sebagai mata pencaharian. Sawahlah mata pencaharian itu. Sedang ladangnya ditanami sengon. Tabungan itu diperlukan karena kelak anaknya minta sepeda motor. Atau meneruskan kuliah ke perguruan tinggi. Atau bagi daerah seperti Wonogiri yang bupatinya sangat getol menggalakkan penanaman singkong, mata pencahariannya adalah singkong itu. Toh juga sukses. Sengon untuk tabungan.
Saya perhatikan bupati Kepahiang di Bengkulu juga kampanye ini: rakyat yang mau kaya, tanamlah sengon. Demikian juga bupati Aceh Timur. Hanya Kalimantan dan Jambi-Riau yang kelihatannya tidak cocok untuk sengon.
Saya juga punya seorang teman. Mantan wartawan terkemuka Republika di Jakarta. Namanya Guntoro. Prestasinya sebagai wartawan sangat menonjol: gigih dan rajin mengejar berita. Kini dia gigih mengejar sengon. Dia tinggalkan dunia kewartawanan. Yang full stres itu. Dia tinggalkan Jakarta. Yang full ruwet itu. Dia beli tanah yang masih murah di desa di Jabar. Dia tinggal di desa itu. Pekarangan rumah yang dia tinggali sangat luas: 3 hektare. Dari segi luasan pekarangan, orang terkaya di Jakarta pun dia kalahkan. Tidak ada orang kaya di Jakarta yang pekarangan rumahnya 3 hektare. ”Tidak pernah lagi terkena macet,” guraunya.
Selama delapan tahun meninggalkan dunia hiruk pikuk kewartawanan di Jakarta, Guntoro sudah berubah total. Kini dia sudah memiliki tanaman sengon 800 hektare. ”Tiap tahun beli tanah sedikit-sedikit, Mas,” katanya. ”Saya ingin jadi raja sengon,” tambahnya.
Hitung sendiri berapa kekayaannya: 800 x Rp 500 juta = Rp 400 miliar! Percayailah separonya. Atau sepertiganya. Tetap saja menitikkan air liur. ”Jangankan jadi wartawan, jadi pemilik koran pun belum akan bisa dapat angka itu,” katanya bergurau.
Begitu banyak pilihan untuk kaya. Begitu luas lahan di Jawa yang dibiarkan telantar. Dengan sengon, Jawa bisa hijau. Juga warna mata penduduknya. (*)

Senin, 02 Maret 2015

New Hope : Dahlan Iskan : Militansi Kesuburan dari Keluarga Fisika

Salah satu tamu saya pekan lalu adalah seorang lelaki yang umurnya persis dengan saya, 64 tahun. Waktu datang, jalannya tertatih-tatih. Waktu mau duduk, dia harus menata dulu posisi pantatnya. Waktu mau bangkit lebih sulit lagi: Dua tangannya harus bisa menyangga pantatnya.
Tapi, otaknya cerdas. Melebihi saya. Dia seorang ilmuwan. Dia ahli fisika murni. Dia kelihatannya sengaja dilahirkan untuk menjadi peneliti. Sampai-sampai badannya jadi korban penelitiannya. Hampir seluruh tubuhnya mengalami luka bakar: Rangkaian peralatan penelitiannya meledak, menyambar bensin dan membakar dirinya.
Namanya sulit ditemukan di media: Ir Lulus Tjahyo Purnomo. Asli Peneleh, Surabaya.
Sudah 20 tahun Tjahyo melakukan penelitian di halaman rumahnya: mengisap udara, mengambil unsur tertentu dari udara itu, lalu menjadikannya zat untuk menyuburkan tanah. Dia begitu prihatin melihat rendahnya produksi kedelai di Indonesia. Penyebabnya jelas: Kesuburan tanah-tanah pertanian kita merosot. Itu akibat penggunaan pupuk kimia yang terus-menerus. Sejak awal Orde Baru pada 1967. Dan terlalu banyak.
Kian turun kesuburan tanah, kian banyak pupuk kimia yang diperlukan. Kian banyak pupuk yang diberikan, kian tidak subur tanahnya.Muter. Seperti goyang Inul.
Tjahyo ingin mengembalikan kesuburan itu. Tiga tahun lalu, saat penelitiannya sudah mendekati berhasil, peralatannya meledak. Tjahyo terkapar dengan 70 persen badannya terbakar. Istrinya, yang guru SMA, lagi mengajar. Anak sulungnya tinggal di Jerman. Empat anak lainnya lagi kuliah.
Tinggal satu anaknya yang belum berangkat ke kampus: Muhammad Mughnii Caryophyllus Purnomo. Panggilannya Ari. Sore itu Ari lagi di ruang makan. Nonton TV. Tiba-tiba ada cahaya merah yang memantul kuat. Dia kaget. Lari ke asal cahaya. Di halaman terlihat ayahnya berguling-guling, menderita karena terbakar. Tanpa sedikit pun pakaian yang masih tersisa. Hampir seluruh badannya gosong. Kejang-kejang. Lalu terkulai diam. Ari panik. Bapaknya dikira tewas. Tidak ada respons sedikit pun.
Empat bulan Tjahyo dirawat di RSUD dr Soetomo, Surabaya. Sambil terbaring di RS itulah, Tjahyo terus memikirkan nasib hasil penelitiannya. Dia memang sudah berhasil menangkap zat yang dibutuhkannya. Yang masih dia risaukan: haruskah menggunakan alat yang bisa meledak seperti itu. Tidak. Harus ada jalan lain.
Pulang dari RS, Tjahyo sudah ditemani ide baru. Lima anaknya, yang juga sarjana fisika murni (hanya satu yang fisika teknik), menerapkannya di lapangan. Kini Ari dan adik-adiknya sedang berada di pedalaman Tulungagung. Meluaskan lahan percobaan. Tahun lalu mereka sudah berhasil menghidupkan tanah mati di satu petak sawah dekat Surabaya. Subur kembali. Hasil panen padinya meningkat 20 persen. Penggunaan pupuk kimianya pun tinggal 30 persen. Petani bisa menghemat banyak.
Tjahyo belum memberi nama produknya itu. Juga belum mematenkannya. ”Takut temuan ini dicuri orang,” katanya. Dia juga minta nama zat yang diambil dari udara itu dirahasiakan dulu.
Pentingkah temuan Tjahyo itu? ”Bukankah sudah banyak beredar zat penyubur
tanah?” tanya saya.
”Benar,” kata Tjahyo. ”Tapi, semuanya menggunakan mikroba,” katanya. ”Yang
saya temukan ini berbasis fisika,” tegasnya.
Bagi saya, upaya menyuburkan lagi tanah pertanian sangatlah penting. Tentu kita tidak boleh menyalahkan Pak Harto yang menggalakkan pupuk kimia. Waktu itu rakyat lagi sangat lapar. Perlu percepatan produksi beras.
Kini giliran kita merehabilitasi tanah. Sejak lima tahun lalu, program untuk itu sudah ada: melalui pupuk organik. Siapa saja boleh bikin pabriknya. BUMN bidang pupuk membelinya. Untuk disalurkan kepada petani dengan harga subsidi. Dikampanyekan juga doktrin 5-3-2: Organik 5 kuintal, pupuk NPK Ponska 3 kuintal, dan urea 2 kuintal saja per hektare (ha).
Tapi, kemampuan subsidi terbatas. Jumlah bahan baku pupuk organik juga tidak mencukupi. Merosotnya jumlah ternak ikut menurunkan jumlah kotorannya. Kekurangan pupuk penyubur yang sangat besar itulah yang dilihat sebagai peluang bisnis. Mereka tahu bahwa tanah sawah menjadi gersang karena mikroba mati oleh pupuk kimia. Tanah mengeras. Untuk menyuburkan kembali, harus dimasukkan mikroba baru ke dalam tanah. Berarti harus ada ”peternakan” mikroba.
Agar mikroba hasil pembiakan itu bisa berkembang di tanah yang sudah mati, diperlukan ”makanan” mikroba: energi. Itulah sebabnya jutaan mikroba tersebut dimasukkan ke tanah bersama dengan makanannya: tetes tebu. Atau bahan lain yang mengandung makanan mikroba.
Kini pupuk mikroba seperti membanjir. ”Pernah mencapai lebih 2.000 merek,” ujar Amal Gozali. Ketika jadi wartawan, Amal sukses mencapai karir tertinggi: jadi pemimpin redaksi. Ketika terjun ke bisnis mikroba, dengan produk Agrobost-nya, Amal sukses merajai pasar. ”Dari 2.000-an itu, yang bertahan sampai sekarang tinggal sekitar 40 merek,” kata Amal.
Saat sudah berkembang luas pun, jenis pupuk mikroba itu belum mendapat pengakuan pemerintah. Di mata pemerintah, yang bisa disebut pupuk hanya dua jenis: kimia dan organik. Produsen pupuk mikroba gelisah. Terutama ketika kian banyak produk yang mengecewakan petani. ”Kami terus berjuang agar diakui pemerintah,” ujar Amal. ”Agar segera ditentukan standarnya. Untuk melindungi petani,” tambahnya. ”Meluasnya pupuk mikroba sudah tidak bisa ditahan,” ujar Amal.
Perjuangan itu berhasil. Diakui. Namanya pun dibakukan: pupuk hayati. Maka, di dalam kamus birokrasi pertanian kini sudah ada tiga jenis pupuk: kimia, organik, dan hayati.
Lalu, untuk jenis baru lagi, temuan Tjahyo itu perlu berapa lama lagi mengubah kamus? (*)

Kamis, 26 Februari 2015

Mulyana Ahmad: Di CIHERAS Saya Merasa Sedih

Di CIHERAS Saya Merasa Sedih By Mulyana Ahmad

Rasa lelah dan ngantuk akibat dari perjalanan malam hari Bogor – Ciheras langsung sirna ketika kami sudah menemukan “Padepokan Lentera Angin”. Bukan kerana indahnya pantai selatan atau indahnya perjalanan berkelok-kelok yang kami lalui, tapi karena kami sudah bertemu dengan Uda Ricky Elson, Team Lentera Angin yang sedang mengabdi di ciheras dan teman-teman dari Dompet Dhuafa.

Tidak menunggu lama, “penari langit” berputar keras, ombak laut berdebur berirama seolah menyambut kedatangan kami. Torino sipenyiram bunga, si Ming-ming, Cemonk and the genk berlari-lari menyambut kami. Seolah kami adalah tamu yang sedang dinantikan. Mereka semua membuat kami merasa tersanjung.

Kue Nastar, Teh tarik panas, kopi bakar dari Malaysia baru separuh diminum, tamu dari Dompet Dhuafa datang setelah bermalam terlebih dahulu di kota Tasikmalaya. Perasaan saya dan Team NanoInti masih biasa-biasa saja ketika taaruf perkenalan. Perasaan terharu mulai menyelimuti benak kami ketika mereka bercerita telah berkeliling indonesia dan menyaksikan separuh rakyat indonesia belum memiliki akses terhadap air bersih. Masih banyak masyarakat yang harus berjalan 3 jam perjalanan naik turun bukit demi mendapatkan 2 jerigen air bersih, anak-nak, Ibu-ibu habis separuh harinya untuk air bersih dan itu dilakukan setiap hari sepanjang tahun dan hanya berhenti ketika air hujan turun. Sebagian masyarakat lagi terpaksa m enggunakan air sungai untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya. Di sungai itulah mereka minum, mandi, nyuci, dan maaf disitu juga mereka buang hajat kecil dan besar. Bukannya mereka malas tidak membuat sumur, tapi air sumur tidak ada airnya meski dibor dengan kedalaman 120 meter. Ada juga sumur, tetapi isinya air gambut dan air garam. Cerita ini diperkuat lagi oleh Uda Ricky Elson dan team yang terpaksa harus meminum air payau di kepulauan terpencil, air minum yang mengandung air gambut yang membuat gigi keropos dan menghitam, air untuk bersuci (wudlu) yang lengket dimuka dan tangan plus pengalaman mencret-mencret dan sakit kemih karena meminum air seperti itu dalam waktu lumayan lama. DISINI KAMI MULAI MERASA SEDIH.

Tidak sedikit upaya yang telah dilakukan oleh Team Dompet Dhuafa. Mereka telah menyalurkan bantuan dalam bentuk sumur air bor, mobil tanki air bahakan RO System. Tapi mereka merasa belum maksimal dalam jumlah penyaluran dan teknologi yang mereka pilih. Untuk itu mereka pun mengunjungi beberapa negara seperti India, Thailand, China, timur-tengah dll demi sebuah teknologi pengolahan air bersih paling ideal untuk masyarakat indonesia. Merekapun menyebutkan beberapa teknologi terpilih yang mungkin cocok diterapkan di indonesia. 

DISINILAH KESEDIHAN SAYA MEMBUNCAH.

Beda sekali motivasi mereka dengan saya. Mereka sepanjang hidupnya bercatu daya, bercatu upaya berkeliling nusantara dan dunia hanya memikirkan APA YANG TERBAIK yang bisa dipersembahkan untuk negeri ini, sementara saya berkeliling dunia hanya untuk mencari teknologi pengolahan air terbaik untuk memenangkan persaingan dan memperoleh keuntungan materi sebanyaknya. Penguasaan teknologi pemurnian air saya jauh lebih banyak dari mereka tapi peraihan amal saya tidak ada apa-apanya.

Saya menjelaskan setiap teknologi yang mereka pilih bahkan saya menjelaskan pengembangan pencapai teknologi berikutnya dari tiap pilihan tersebut. Misalnya gerabah nanosilver yang sudah berkembang menggunakan nanowire silver yang lebih aman, carbon aktif sudah diganti dengan carbon aktif sekam padi yang lebih murah dll sebagainya.

Tiba giliran saya berbicara. Saya menjelaskan bahwa kita akan ketinggalan teknologi bila mencari sebuah teknologi bila referensinya dari juurnal-jurnal internasional kampus ternama di dunia sekalipun. Dunia swasta para pelaku bisnis pemurnian air kelas dunia berlipat kali lebih cepat dibanding dunia riset kampus-kampus ternama. Revenue mereka sangat besar dan bila digabungkan akan mencapai nilai 80 milyar dollar hanya untuk urusan air bersih.

Akhirnya saya memilihkan 2 buah tehnologi teknologi terbaik yang sudah menyumbangkan keuntungan senilai 40 milyar dollar bagi perusahan pengolahan air terkemuka di dunia. Satu teknologi masih menggunakan bahan kimia tetapi memiliki kecepatan menjernihkan air dengan hydraulic loading 8 detik (Klarifier PDAM membutuhkan waktu (1.800 detik) dan satu lagi adalah sebuah membrane perkasa yang mampu bertahan selama 30 tahun, tahan panas 800 C, tahan pH 0 sd 14, mereduksi penggunaan bahan kimia 99%, tahan tekanan sampai 250 bar, bekerja dengan tekanan rendah bahkan bisa hanya mengandalkan beda ketinggian (tofografi) tanpa pompa, 100% removal bakteri, virus, algae, 100% removal zat besi dan manganese, 100% removal kolloid dan suspensi, menapis separuh garam air laut, sedikit perawatan, siapapun bisa menggunakannya tanpa perlu keahlian khusus, mampu direndam dalam air aki selama 30 tahun dll.

Setelah sy putarkan demo video dari alat pertama yang menjernihkan air kubangan lumpur dan air hitam pekat dgn tds 2000 menjadi tds 8 dalam waktu 8 detik, terbersit harapan dari seluruh team. Kemudian sy putarkan video yang memfiltrasi cat tembok berwarna merah pekat menjadi sejernih kristal dan langsung diminum, harapan itu semakin menguat. Kemudian perlahan tapi pasti, wajah-wajah itu kembali meredup ketika sy menceritakan bahwa dibutuhkan investasi minimal 24 milyar untuk membeli mesin pembuat membrane tsb. Mesin iitu sanggup bekerja terus menerus mencetak membrane “Most high durability” sebanyak 20 membrane perjam dengan kemampuan tiap membrane adalah menjernihkan 1200 liter air kotor menjadi air bersih nyaris tanpa bahan kimia.

Awan beriringan menutupi terik matahari ciheras. Rasanya tangan-tangan ini masih terlalu lemah untuk menghadirkan kebaikan yang banyak, kebaikan yang most hight durability yang mampu menyediakan air bersih 24 jam x 30 tahun.

Ampuni kami ya Allah.

Kami tahu ada 7 pahala yang terus akan mengalir sampai hari kiamat, yaitu menggali sumur dan mengalirkan air untuk ummat.

Berikanlah kami jalan
Kami tidak sanggup melangkah sendirian #donasiuntukciheras  #coin for water machine


mulyana ahmad

Minggu, 22 Februari 2015

Dahlan Iskan: NH-06 : Soal Daging yang Ibarat Dokter Salah Resep


“Ini” tidak pernah dibahas di pusat pengambilan kebijakan. Saat saya menjadi menteri pun tidak pernah memikirkan yang “ini”. Saya memang tidak tahu bahwa ternyata “ini”-lah pangkal penyebab mahalnya daging.

Begitu naifnya saya.

Saya ingat, setiap terjadi gejolak harga daging, pembahasannya selalu sangat ilmiah. Ilmu supply and demand, ilmu dagang, ilmu hewan, ilmu logistik, serta segala macam ilmu diperdebatkan.

Kesimpulannya pun sangat ilmiah: Indonesia hanya cocok untuk penggemukan sapi, tapi tidak cocok untuk pembibitan sapi. Biaya membuat seekor anak sapi hingga berumur enam bulan sampai Rp 6 juta. Di Australia hanya Rp 2 juta. Tapi, biaya membesarkan dan menggemukkan sapi di Indonesia lebih murah.

Maka, logikanya pun ilmiah: beli saja peternakan sapi di Australia. Khusus untuk pembibitan. Lalu, anak sapi itu dikirim ke Indonesia. Untuk digemukkan. Jangan impor sapi potong dari Australia. Bisa mematikan peternak kita.

Maka, penjajakan untuk membeli peternakan sapi di Australia pun dilakukan. Bahwa usaha ilmiah tersebut gagal, itu karena kurs rupiah tiba-tiba anjlok. Investasi itu harus dihitung ulang.

Anjloknya rupiah, khusus dalam kasus ini, ternyata menyenangkan!
Kenapa pembibitan sapi di Australia murah? Sebab, sapi dilepas di alam bebas! Tidak perlu beli makanan ternak. Yang kian hari kian mahal itu. Kita tidak punya jutaan hektare lahan seperti itu. Kecuali di NTT. Khususnya Sumba. Dan sekitarnya.

Tapi, sudah lama NTT tidak lagi jadi andalan pasokan sapi. Semua tahu itu. Panjang sekali rapat untuk membahas itu. Kesimpulannya ya yang sangat ilmiah tadi: Tidak ada kapal khusus pengangkut ternak. Maka, tol laut dan penyediaan kapal akan menjadi solusi.

Ternyata semua itu salah.

Atau benar tapi salah.

“Ini” baru saya ketahui bulan lalu. Saat saya untuk kali kelima ke Sumba. Bisa mengetahui “ini”-nya pun kebetulan. Kebetulan ada relawan yang mau jadi sopir saya: Victor Rebo Lewa, seorang insinyur mesin lulusan ITN Malang. Saya memang sudah jenuh mengemudi berjam-jam. Sejak dari Tambolaka di ujung barat daya Sumba ke Waingapu di timur pulau itu. Besoknya ganti Victor Lewa yang jadi sopir. Juga berjam-jam. Menjelajah berbagai daerah di Sumba. Termasuk melewati padang-padang sabana yang luas.

“Sopir” ini sungguh asyik. Kakeknya yang kelahiran Rote termasuk orang paling kaya di Sumba. Termasuk raja sapi. Sang kakek menginginkan anak laki-lakinya kawin dengan gadis tercantik di desanya. Juga anak tokoh paling berpengaruh saat itu. Maka, disediakanlah maskawin yang sepadan: 200 ekor sapi. Perkawinan itulah yang melahirkan Victor.

Di Sumba, saat itu, sapi adalah lambang kekayaan, status sosial, dan taruhan masa depan generasi penerus. “Saya bisa jadi insinyur karena sapi,” ujar Victor. “Di sini orang memelihara sapi sebagai tabungan untuk menyekolahkan anak ke universitas,” tambahnya.

Semua itu sudah berakhir. “Lihat, Pak,” katanya sambil menunjuk sabana luas yang berbukit hijau. “Tuh, di sana hanya ada satu ekor sapi,” katanya. Mata saya pun mengarah ke seekor sapi di kejauhan itu. Tapi, hati saya berdebar. Takut dia lengah mengemudikan mobil di jalan yang berliku-liku itu. “Waktu saya remaja, sabana ini penuh sapi,” kata Victor. “Juga kuda. Kuda Sumba. Kuda sandelwood,” tambahnya.

Apakah karena tidak ada kapal khusus ternak?

“Ha ha ha,” dia tertawa.

Victor ternyata juga mengikuti perdebatan ilmiah di Jakarta yang membahas merosotnya ternak di NTT.

“Apa yang lucu?” tanya saya.

“Penyebabnya bukan itu,” ujar Victor. “Ini,” tambahnya.

Lalu, dia menciptakan suasana tegang. “Sudah lama orang Sumba takut memelihara sapi,” katanya. “Pencurian sapi di sini sudah masif, sistematis, dan terstruktur,” tambahnya. Dia pun terdiam. Agak lama. Seperti tidak tahu harus memulai ceritanya dari mana. Saking ruwetnya. “Ambulans pun sudah mulai dipakai angkut daging sapi curian,” tutur dia.

Yang terlibat sangat luas. Rakyat tidak percaya lagi ada yang bisa mengatasinya. Tidak bupati. Tidak pula polisi. Sudah banyak yang ditangkap. Tapi mencuri lagi. Sudah pernah diadakan sumpah adat, tapi selalu terjadi lagi. “Yang masih berani memelihara sapi pun hidupnya tidak tenang,” kata Victor. “Mereka tidak bisa tidur nyenyak.

Selalu waswas, takut pencuri datang,” tambahnya. “Ibaratnya, dari 10 orang Sumba, 11 orang yang takut pelihara sapi,” guraunya.

Bahkan, pencurian itu kini sudah meningkat ke pemerasan. Si pencuri sudah berani menghubungi pemilik. Minta tebusan Rp 2 juta. Agar sapinya dikembalikan. Pun sudah menjalar ke generasi muda.

Dengan berbagai motif. Misalnya mau cepat dapat uang jutaan. Dengan cara mudah. Atau setengah balas dendam: Dulu sapi orang tuanya dicuri orang.

“Ketakutan memelihara sapi ikut mengubur harapan pemuda untuk kuliah di luar daerah,” ujar Victor. Dulu, prinsip hidup orang di Sumba adalah ini: Hasil pertanian untuk mencukupi makan, ternak sapi untuk tabungan biaya anak kuliah. Kini banyak anak muda tidak lagi bisa kuliah. Menganggur. Naik kuda pun sudah tidak bisa. Potensi besar untuk jadi pencuri generasi baru. “Kalau ada pacuan kuda, kami sudah harus datangkan joki dari Bima,” tambahnya.

Pagi itu, saya mampir ke Desa Lewa Paku. Lebih dari 10 orang ikut meriung di halaman rumah Pak Yusuf Bili Popo. Semua berebut ingin menceritakan keganasan pencurian sapi di Sumba. Ibu Rambu Kris, yang masih berani memelihara sapi bantuan pemerintah, sampai berdiri dari duduknya. “Minggu lalu, sapi bantuan itu dicuri. Dua lagi,” kata Ibu Rambu dari Desa Laihau, Kecamatan Letis, itu.

Victor mencoba membantu sang ibu. Berhasil. Dia tahu siapa pencurinya. Dia juga tahu ke mana sapi curian itu akan dijual. “Sapi itu akan dipakai pesta pelantikan dua kepala desa,” katanya. Dia pun tahu tanggal pelantikannya. Lalu, dia merencanakan upaya penangkapan pada tanggal pelantikan itu. Gagal. Tidak punya biaya.

Walhasil, solusi membeli kapal angkutan ternak atau bantuan anak sapi dari pemerintah kelihatannya hanya akan jadi ibarat dokter yang salah resep. (*)

DAHLAN ISKAN
Mantan CEO Jawa Pos

Jumat, 20 Februari 2015

Rony Indrajaya: China Bisa Segalanya


China merupakan negara yang pertumbuhan ekonominya sungguh sangat cepat. Pembangunan terus menerus dilakukan. Tak heran China dari tahun ketahun meningkat peringkat Ekonominya sampai nomor dua saat ini. Nomor satunya masih Amerika. Japan, korea sudah lama terlewati.
Semua hal bisa dibuat di China. Hampir semua barang yang kita pegang ada sentuhan china. Bahkan brand ternama mulai dari kain sampai elektronik ada cetakan made in china. Tasbih dan sajadah saja dibuat disana.
Keinginan menjadi nomor satu membuat China selalu membuat proyek mercusuar. Mulai dari kereta api super cepat, Jalan tol super panjang, super server tercepat, bahkan handphone pintar yang laris manis.
Semangat nasionalisme tinggi dan kerja yang total didukung kebijakan pemerintah china yang merangsang pertumbuhan usaha disana menjadikan china negara yang seakan tak pernah berhenti bertumbuh.
Tidak hanya dalam negeri, kerjasama luar negerinya juga diintensifkan. Hal ini tentu mencemaskan banyak negara mapan yang selama ini jadi investor di banyak negara berkembang.
Tentu saja Indonesia dengan potensi pasar dan sumber daya energinya yang luar biasa membuat china kepincut bukan kepalang.
Berbagai kerjasama pemerintah ke pemerintah dilakukan dibanyak hal. Mulai dari monorel sampai pembangkit listrik.
Kerjasama antar bangsa memang suatu keniscayaan. Tidak ada jaman sekarang negara yang menutup diri.
Kemandirian bangsa china selalu jadi banyak perbincangan yang harusnya menjadi pelecut dan sumber semangat bangsa kita untuk melakukan hal yang sama.
Berbagai ahli bangsa ini sudah malang melintang ke penjuru dunia dan diakui keahliannya. Industri strategis kita tak kalah bagusnya dari bangsa lain.
Adalah BUMN sebagai salah satu tangan pemerintah yang bisa menjadi pendorong kemandirian bangsa.
Seperti INKA yang membuat kereta api dan monorel yang sangat bagus. Adalah PAL yang siap membuat kapal nelayan, kapal angkut dan kapal perang. Dan banyak BUMN dan swasta dalam negeri yang bisa membuat peralatan listrik untuk PLN. Adalah sindikasi bank bank BUMN yang siap menggelontorkan proyek proyek besar.
Kadang kita merasa kagum kepada China sebagai bangsa mandiri, sebatas kagum tanpa ingin mencoba menandinginya.
Kerjasama dengan China dan negara maju lainnya bagus untuk menyerap ilmunya dan mengembangkannya kelak.
Sehingga kalau sangat bagus untuk bangsa ini tentu pula kerjasamanya harus bagus. Kerjasama yang bagus tentu saja tidak usah disembunyikan, apalagi membuat kuping buntu beberapa pejabat dan menolak menjelaskan isi perjanjian itu.
Kan tidak pernah ada pepatah
"Serapat-rapat menyimpan minyak wangi, akan tercium juga
By BRI

Dahlan Iskan: 'Saya Cucunya Ir Ciputra dalam Entrepreneurship'


Ciputraentrepreneurship News, Jakarta - “Saya cucunya Pak Ciputra dalam bidang entrepreneurship,”kata mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan siang tadi (2/12) dalam acara Founder’s Day Grup Ciputra ke-33 yang berlangsung di Ciputra Theater, Jakarta. Perkataannya diiringi tepuk tangan hadirin yang terdiri dari jajaran manajerial dan staf Grup Ciputra dari Sabang sampai Merauke dan proyek-proyek di luar negeri. Dahlan mengaku demikian karena ia mengaku belajar dari seorang mentor, dan sang mentor tersebut berkata dirinya berguru dari entrepreneur properti tersebut.
Perjumpaannya dengan Ir Ciputra pertama kali membuatnya terkagum. Pebisnis yang juga mantan reporter surat kabar itu mengatakan kini dirinya bisa bertemu dengan Ciputra secara langsung setelah sukses mendirikan sejumlah perusahaan. “Setiap kali saya bertemu dengan beliau, saya terpacu untuk terus lebih baik lagi dari sebelumnya,”terang Dahlan yang tampil dengan mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih dan sepatu kets yang terkesan santai tetapi rapi.
Lebih lanjut Dahlan yang berjanji mengatakan, “Entrepreneurship bisa ditularkan, bukan diajarkan.” Terjadi hubungan yang sangat intensif. Harus ada yang menulari dan ditulari, katanya. Ia bahkan menganalogikan entrepreneur layaknya “penyakit” atau virus.
“Tidak perlu memiliki darah entrepreneur untuk bisa menjadi entrepreneur!”tegas Dahlan. Kalau memang entrepreneurship itu bersifat turun-temurun atau genetik, ujarnya, ia tidak memiliki kesempatan menjadi entrepreneur karena ayah dan ibunya seorang buruh tani dan buruh batik.
Dalam paparannya itu, Dahlan juga menggarisbawahi pentingnya merantau untuk membangkitkan jiwa entrepreneurship seseorang. Seperti Ir Ciputra yang memilih untuk merantau dari tanah kelahirannya di Parigi ke Bandung, Dahlan juga meninggalkan kampung halamannya.
Sejak merantau ke Samarinda, ia mengaku terputus hubungan dengan ikatan kekerabatan, sosial dan budaya daerah asalnya. Namun, dalam sudut pandang entrepreneurship, jauhnya seseorang dari tempat asal dan keluarga bisa melecutkan semangat dan antusiasme dalam bekerja segiat mungkin. “Kalau saya tidak merantau, saya mungkin sekarang menjadi petani, menikah dengan anak petani dan tidak bisa memutuskan diri dari siklus itu,”Dahlan mengenang masa lalunya.
‘Terputusnya’ seseorang dari lingkungan sosial kemasyarakatan yang sudah familiar itu juga menurut Dahlan memiliki peran dalam membentuknya sebagai entrepreneur yang bekerja secara produktif. “Jika pun saya menjadi guru, saya akan terlalu banyak absen karena harus menghadiri acara-acara sosial seperti sunatan, tetangga sakit, meninggal, dan sebagainya,”tukasnya. Bila ia tetap tinggal dan bekerja di desanya, tetapi tidak menghadiri semua acara itu, ia bisa dianggap keterlaluan. “Tetapi berbeda kalau saya ada di daerah yang jauh. Ketidakhadiran saya akan dimaklumi,”ujar pria yang mengaku tidak pernah lagi mencari uang sejak sembuh dari kanker hati itu. (Akhlis Purnomo)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost