Senin, 27 April 2015

New Hope : Dahalan Iskan : Ketegasan Lincoln Pelajaran Demokrasi yang Mahal

Menjadi Amerika yang hebat seperti sekarang ternyata juga tidak mudah. Bahkan, ketika negara itu sudah berumur 90 tahun (tahun ini negara kita berumur 70 tahun) masih mengalami guncangan yang nyaris membuat semuanya berantakan: perang sipil.
Itu terjadi gara-gara rakyat di tujuh negara bagian di wilayah selatan tidak puas atas kemenangan calon presiden Abraham Lincoln. Misi yang dibawa calon presiden itu dianggap tidak sejalan dengan aspirasi di tujuh negara bagian tersebut. Mereka menginginkan perbudakan tetap diperbolehkan. Sedang Lincoln sejak kampanye ingin mengakhiri perbudakan.
Waktu itu calon presidennya empat orang. Lincoln mendapat suara 1.866.000. Calon berikutnya mendapat 1.376.000 suara. Sedang dua lainnya mendapat 850.000 dan 560.000-an suara. Total pemilih baru 3.600.000-an. Pada 1861 itu, saat republik sudah berumur 90 tahun, perempuan masih belum boleh memiliki hak pilih. Demikian juga warga kulit hitam. Penduduk di 14 negara bagian juga belum punya hak pilih. Pada tahun itu, mereka belum menjadi negara bagian. Status Kansas, Colorado, Nevada, sampai Washington masih teritori.
Perjalanan menjadi sebuah negara demokrasi seperti sekarang ternyata tidak secepat yang kita perkirakan. Begitu bencinya terhadap presiden terpilih, tujuh negara bagian tersebut menyatakan memisahkan diri dari Amerika. Mereka membentuk negara sendiri dengan nama Confederate States of America atau disingkat Confederacy. Mereka juga memiliki bendera nasional tersendiri: merah disilang biru dengan bintang putih sebanyak tujuh di silang warna biru itu. Tapi, bendera tersebut kemudian diganti dan diganti lagi sampai tiga kali.
Bagi wilayah selatan, budak itu penting. Penghasilan pokok wilayah tersebut berasal dari kapas. Kebun kapas memerlukan banyak buruh. Tanpa buruh, perkebunan itu bisa lumpuh. Tapi, karena upah buruh itu amat murah, persaingan ekonomi menjadi tidak fair. Wilayah utara tidak menganut sistem perbudakan karena perbudakan dianggap melanggar moralitas dan ajaran agama.
Untuk melihat gambaran itu, minggu lalu saya ke Nashville di Tennessee. Saya ingin tahu mansion (rumah) presiden ketujuh Amerika yang dikelilingi perkebunan kapas seluas 150 hektare. Kini perkebunan tersebut menjadi taman hijau yang mengelilingi mansion-nya. Menurut catatan di situ, Jackson memiliki 300 budak.
Jackson kawin dengan seorang janda. Tapi, karena sang janda belum punya surat cerai, perkawinan itu diperbarui beberapa tahun kemudian. Dia pernah marah kepada mantan suami itu karena selalu mem-bully-nya. Jackson menulis surat, menantangnya untuk duel adu tembak. Meski lawannya dikenal sebagai jago tembak, Jackson minta dia menembak lebih dulu. Tembakan itu mengenai dada Jackson, tapi tidak membuatnya roboh. Giliran Jackson menembaknya: tewas.
Tujuh negara bagian di wilayah selatan (South Carolina, Florida, Mississippi, Alabama, Georgia, Texas, dan Louisiana) seperti itu semua. Karena perbudakan dilarang, mereka pilih mendirikan negara baru. Inisiatornya South Carolina. Proklamasi itu dilakukan setelah Lincoln terpilih, tapi sebelum dilantik.
Bahkan, ketika presiden terpilih itu dalam perjalanan menuju tempat pelantikan, seseorang berusaha membunuhnya. Waktu itu perjalanan kereta api dari kampungnya di Illinois ke Washington sudah tiba di Baltimore, tinggal satu jam lagi sampai Washington DC. Untuk keselamatannya, sisa perjalanan itu dilakukan secara rahasia.
Tapi, Lincoln tidak gentar. ”Saya pilih mati daripada berkompromi dengan mereka,” ujar Lincoln dalam satu pidato waktu itu.
Separatis di selatan itu dia nilai melanggar konstitusi dan harus dihadapi dengan tegas. Tidak ada negosiasi dan tidak ada kompromi. Maka, ketika tentara Confederacy mulai menyerang satu kota perbatasan di wilayah Union (istilah untuk wilayah Amerika yang tidak memisahkan diri), Lincoln mengerahkan pasukan habis-habisan.
Terjadilah perang sipil yang berlarut. Selama empat tahun. Korban luar biasa. Mencapai hampir 1,5 persen dari jumlah penduduk. Amerika ternyata pernah menempuh jalan yang begitu mahal untuk mempertahankan kesatuan wilayahnya. ”Kalau sekarang, 1,5 persen itu berarti 1,5 juta orang,” ujar ahli sejarah di Indiana yang saya ajak ngobrol bulan lalu.
Pada akhir masa jabatannya, popularitas Lincoln benar-benar merosot. Dia sendiri merasa tidak akan terpilih lagi. Sebulan sebelum pilpres, Lincoln seperti pasrah akan nasibnya, tapi tidak pasrah mengenai sikapnya terhadap para separatis. Bahkan, dia menegaskan akan meningkatkan serangan ke wilayah Confederacy di sisa masa jabatannya yang pendek. Termasuk akan memanfaatkan masa empat bulan antara terpilihnya presiden baru dan pelantikannya. Pokoknya, perang harus berakhir sebelum dia secara resmi turun dari Gedung Putih. Dan harus menang.
Peningkatan serangan itu membuat tentara Confederacy kian lemah. Lincoln ternyata kembali terpilih dengan kemenangan telak. Maka, kemenangan tentara Union menjadi kian nyata.
Kemenangan kembali Lincoln dan gelagat Confederacy yang akan kalah membuat seseorang yang sangat benci Lincoln berbuat nekat. Tepat sebulan setelah Lincoln dilantik untuk masa jabatan kedua, orang itu, John Wilkes Booth, menembaknya dari jarak dekat di bagian belakang kepala Lincoln. Tewas.
Malam itu Lincoln dan Wakil Presiden Johnson diagendakan nonton bersama di sebuah teater di Washington. Booth tahu tentang agenda itu. Dia pun ikut nonton dengan tujuan membunuh dua orang tersebut. Dia agak kecewa karena di detik terakhir, wakil presiden batal ikut nonton karena harus pergi ke rumah putranya. Saat pengawal bersenjata ingin minum kopi dengan cara meninggalkan balkon khusus tempat presiden menonton, Booth menyelinap. Dor! Lincoln dilarikan ke rumah sakit, tapi tidak tertolong.
Booth melarikan diri. Dia bersembunyi di daerah pertanian di Virginia. Ketika 14 hari kemudian diringkus, dia melawan. Lalu ditembak di daerah pertanian itu. Mati.
Lincoln sempat tahu bahwa Confederacy sudah menyerah total pada 6 April 1865, hanya seminggu sebelum penembakan itu terjadi. Rupanya, Booth sangat terpukul oleh penyerahan diri panglima Confederacy tersebut.
Ahli sejarah sepakat bahwa Lincoln adalah satu di antara tiga presiden terhebat yang dimiliki Amerika Serikat. Dia tegas dan menang. Bukan tegas tapi kalah. Atau menang tapi tidak tegas. Dia tercatat sebagai presiden yang mengatasi tiga krisis sekaligus: krisis moral (soal perbudakan), krisis konstitusi (soal pemisahan diri), dan krisis politik (melakukan manuver politik untuk berkelit dari kompromi).
Lincoln sebenarnya anak desa yang tidak memiliki pendidikan formal. Dia lahir di pedalaman Kentucky, lalu pindah ke pedalaman Illinois. Di sini, Lincoln muda jadi tukang belah kayu untuk membuat bantalan rel kereta api. Kemudian menjadi pengacara. Lalu menjadi politikus lokal. Setelah menjadi politikus nasional, akhirnya dia mencalonkan diri sebagai presiden.
Ketika berkampanye di Chicago, di wilayahnya, seorang gadis berumur sebelas tahun sangat bersimpati kepadanya. Gadis itu begitu iba saat melihat tubuh Lincoln yang kerempeng dan wajahnya yang tirus. ”Baiknya Anda memelihara jenggot. Agar tidak kelihatan tirus,” ujar gadis itu. Setelah dilantik menjadi presiden, Lincoln benar-benar memelihara jenggot. Sampai akhir hayatnya di usia 56 tahun.
Demokrasi ternyata begitu mahal, untuk Amerika sekalipun. Tapi, sejarah mencatat, segala pengorbanan itu membuahkan hasil. Amerika menjadi segara superpower seperti sekarang. (*)

Senin, 20 April 2015

New Hope : Dahlan Iskan : Lipstik Merah untuk Hari Persamaan Gaji

”Film itu dibuat 35 tahun lalu. Itu tahun kelahiran saya,” ujar Ny Sloane Standly-Beasley, pembicara di forum Equal Day Pay Selasa lalu. ”Tapi, keadaan yang digambarkan dalam film itu masih sama sampai sekarang,” tambahnya sambil menahan sedu.
Film berjudul 9 to 5 (melambangkan jam kerja di perusahaan Amerika) itu dibintangi Jane Fonda dan Dolly Parton. Memang pas untuk menggambarkan perbedaan perlakuan kepada pekerja perempuan. ”Ini masih terjadi di sini. Di Amerika. Di tahun 2015,” katanya. Di Amerika, katanya, pekerja perempuan dibayar kurang dari 80 persen pekerja laki-laki.
Sloane mengisahkan pengalamannya bekerja di perusahaan raksasa Amerika. Perusahaan itu masuk Fortune 500 dalam ranking 20 besar. Dua tahun lalu perusahaan menambah pegawai dua orang (semua kaki-laki) untuk posisi yang sama dengannya. Gaji orang baru itu 3 dolar lebih tinggi daripada dia yang sudah berpengalaman enam tahun. ”Ini kelihatannya bukan selisih yang besar,” kata Sloane. ”Tapi, kalau dikalikan setahun, sama nilainya dengan satu BMW seri 3,” tambahnya.
Dia lantas mengadu dan menuntut perbaikan. Dua tahun belum berhasil. Bahkan, akhirnya dia diberhentikan dengan alasan perusahaan ingin lebih efisien melalui pengurangan 2.200 pekerja.
Sepuluh orang yang berbicara di forum itu mengeluhkan hal yang sama. Mereka menyerukan perlunya perempuan untuk terus berjuang mendapatkan persamaan hak. ”Sebagai orang Indonesia, saya kaget melihat forum ini. Benarkah kenyataannya seperti yang tergambar dari forum ini?” tanya saya kepada Dr Robert Dion, satu-satunya pembicara laki-laki dari Universitas Evansville, saat berbincang setelah acara itu. ”Benar,” ujar Dr Dion.
Saya lantas teringat kepada para perempuan yang saya angkat jadi direktur. Baik di Jawa Pos Group maupun sewaktu di BUMN. Saya kemukakan kepada Dion bahwa di Indonesia, negara yang jauh ketinggalan dari Amerika, tidak ada perbedaan perlakuan antara pekerja kaki-laki dan perempuan seperti itu.
”Sudah empat tahun kami selenggarakan acara seperti ini,” ujar Erica Taylor, CEO YWCA. ”Kami inginkan tanggal 14 April sebagai hari persamaan gaji antara laki-laki dan perempuan,” katanya. ”Tapi, mengapa yang hadir kebanyakan pakai baju merah?” tanya saya. ”Ini lambang perjuangan kami,” jawabnya.
Ny LaNeeca Williams, staf Bagian Persamaan dan Keberagaman di Universitas Evansville, juga pakai baju merah. Dia juga jadi pembicara yang menarik. Malam menjelang acara, LaNecca menelepon anak perempuannya yang berumur 24 tahun yang tinggal di Colorado. Dia minta anaknya mengenakan baju merah keesokan harinya. Sebagai dukungan terhadap gerakan persamaan gaji. Suaminya pun, dan juga anaknya yang masih berusia 8 tahun, mengenakan baju merah.
”Mom, tidak perlu takut memperjuangkan itu,” pesan anaknya. ”Hanya mengurangi rasa takutlah cara untuk menghilangkan perbedaan gaji ini,” katanya. Tapi, sang anak masih bisa menyelipkan humor. ”Tapi, baiknya, Mama juga mampir ke toko Walgreens, beli lipstik merah,” katanya. Walgreens adalah toko untuk kelas rata-rata.
”Pokoknya, Mama besok harus menyerukan agar perempuan tidak punya rasa takut lagi,” kata sang anak.
”Untuk tidak takut pakai lipstik merah?” sela sang ibu dengan nada getir.
Rupanya menyerukan agar perempuan Amerika tidak takut menuntut persamaan gaji tidak semudah menyerukan pemakaian lipstik merah.
LaNecca mengambil contoh ibunya sendiri. Dia pun lantas menceritakan kisah hidup sang ibu yang jadi penyangga utama keluarganya. Ibunya bekerja di perusahaan besar untuk sif ketiga, pukul 22.00 sampai 07.00. Dia berusaha cepat pulang agar bisa melihat anak-anaknya berangkat sekolah. Sang ibu juga selalu hadir di pertemuan orang tua murid. Juga masih harus bikin roti dan kue untuk makan anak-anaknya. ”Pokoknya, lagu I am Every Woman yang dinyanyikan Whitney Houston itu pas untuk menggambarkan ibu saya,” ujar LaNecca.
Ibunya, kata dia, menerima gaji hanya 45 persen dari teman yang laki-laki di perusahaan yang sama, di posisi yang sama. Tapi, ibunya tidak pernah mengeluh. ”Saya hanya sekali mendengar ibu mengeluhkan itu saat bertemu teman-teman perempuannya di arena boling mingguan,” kata LaNeeca.
Sebagai ahli, dia menceritakan hasil studi bahwa perempuan bergaji rendah karena pendidikan. Juga karena bekerjanya kurang maksimal karena merawat rumah tangga. Atau karena perempuan itu sendiri mengambil pekerjaan yang bergaji rendah. Tapi, papar dia, hasil studi yang sama juga mengakui kalaupun semuanya setara, tetap saja gaji perempuan lebih rendah.
Kalau perempuan kulit putih hanya dibayar 78 persen dari laki-laki, perempuan nonkulit putih lebih parah lagi. Menurut hasil studi itu, perempuan dari ras Hawaii dan Kepulauan Pasifik hanya menerima 65 persen. Perempuan kulit hitam hanya 64 persen. PerempuanAmerican Indian hanya 55 persen. Dan perempuan Amerika Latin hanya 54 persen. ”Bahkan, gaji pekerja perempuan yang resmi pun kalah dengan pekerja gelap laki-laki,” terang dia.
Beberapa kali menghadiri seminar di Evansville, Indiana (sesekali jadi pembicara), baru sekali ini saya tersenyum-senyum kaget. KokAmerika, kampiunnya segala hal, termasuk kampiun dalam demokrasi dan hak-hak asasi manusia, ternyata masih menyisakan masalah emansipasi seperti itu. Memang, seperti LaNecca akui, keadaan sekarang sudah lebih baik. Misalnya dibanding saat ibunya masih jadi pekerja. Tapi, perkembangan perbaikannya sangat lambat. ”Kalau tren perbaikannya seperti itu, baru 50 tahun lagi terjadi persamaan gaji,” kata Erica Taylor.
Gerakan persamaan gaji itu dilakukan serentak 14 April lalu di seluruh Amerika. Bahkan, mereka menyebut-nyebut perbedaan gaji itu juga terjadi di…Gedung Putih, istana Presiden Barack Obama. Tapi, juru bicara Gedung Putih mengatakan bahwa perbedaan gaji itu kini sudah lebih kecil.
Rupanya Obama pengin menjadi gong dalam perkara ini. Tanggal 14 April lalu dia angkat bicara. ”Saya proklamasikan Selasa hari ini sebagai hari persamaan gaji antara pekerja laki-laki dan perempuan,” katanya. ”Tiap hari Selasa adalah hari persamaan gaji,” katanya seperti dikutip luas di berbagai media.
Dan ini kata Erica Taylor, ”Saya juga berharap inilah tahun terakhir kami pakai baju merah.” (*)

Senin, 13 April 2015

New Hope : Dahlan Iskan : Ternyata Ada Darah Lim, Tan, Sudjana, dan Mojahed Garoot

Inilah hasil tes DNA saya. Tiga hari lalu saya menerima hasil tes yang dilakukan tiga minggu sebelumnya di Amerika (lihat Mencoba DNA untuk Setengah Manusia ). Sebagian besar hasil tes itu sesuai dengan perkiraan saya. Sebagian lagi berupa kejutan. Ternyata benar, saya adalah orang Jawa. Artinya bukan orang dari benua lain. Hanya memang tidak jelas-jelas menyebut Jawa. Dalam pengelompokan DNA itu, darah Jawa dimasukkan dalam kelompok Asia Tenggara.
Yang juga tidak terlalu mengejutkan adalah saya memiliki darah Tionghoa. Baik dari jalur bapak, lebih-lebih dari jalur ibu. Hanya, persentasenya kecil. Kurang dari 2 persen. Menurut hasil tes DNA itu, dari jalur ibu, saya punya darah marga Lim. Sedangkan dari jalur bapak, saya memiliki darah marga Tan. Atau dalam bahasa Mandarin dikenal dengan marga Chen.
Persilangan dengan darah Tionghoa itu, kata hasil tes DNA tersebut, terjadi sekitar 10.000 tahun lalu. Saya memang masih berusaha tahu darah Asia Tenggara saya itu aslinya dari mana. Jawa? Sunda? Kamboja? Vietnam? Belum ada perinciannya. Rupanya DNA Asia Tenggara itu masuk dalam sub-besar tersendiri. Sebagaimana sub-besar Asia Timur: Jepang, Korea, dan Tiongkok. DNA Korea dan Jepang adalah perincian dari sub-besar Tionghoa. Hanya, penyebarannya ternyata dari Tiongkok ke Korea dulu, baru ke Jepang. Bukan ke Jepang dulu, baru Korea.
Sub-besar Asia Tenggara belum terperinci sampai ke subkecil seperti itu. Dengan demikian, masih terbuka perdebatan dari mana asal usul sub-besar Asia Tenggara itu. Apakah orang Jawa yang dari Malaysia, Vietnam, dan Kamboja atau orang Malaysia, Vietnam, dan Kamboja yang dari Jawa. Harus diingat satu riwayat bahwa Asia Tenggara itu dulunya satu daratan. Tidak ada laut yang memisahkannya. Bahkan, bukankah buku Atlantis, The Lost Continent menyebutkan, Asia Tenggara itu dulu sebuah benua tersendiri yang sangat makmur? Lalu benua itu lenyap akibat ledakan-ledakan gunung berapi yang mahadahsyat. Juga oleh tsunami-tsunami besar masa lalu.
Dari peta DNA saya itu, terutama dari jalur bapak, peta Jawa di asal usul darah saya terlihat lebih kental daripada peta wilayah lain di Asia Tenggara. Itu saya tafsirkan sebagai Jawa lebih tua daripada wilayah lain. Tentu Jawa pada saat itu bukan Jawa sebagai pulau tersendiri. Sedangkan menurut buku ”benua yang hilang”, pusat Benua Atlantis yang lenyap itu ada di tanah Sunda. Tentu sangat mungkin yang dimaksud Sunda zaman itu adalah Jawa atau yang dimaksud Jawa saat itu adalah Sunda.
Hasil tes itu memang menyertakan peta-peta asal usul penyebaran penduduk. Ada warna-warni gradasi di peta itu yang menunjukkan arah penyebaran DNA. Termasuk arah DNA saya dari mana. Baik dari jalur ibu maupun bapak.
Dunia memang berubah drastis akibat bencana alam. Satu letusan Gunung Tambora saja sudah bisa membuat Amerika tidak mengalami musim panas di tahun itu. Rakyat Inggris kelaparan jadi peminta-minta. Panen apa pun gagal total. Kehancuran lebih hebat di wilayah yang lebih dekat seperti India dan Tiongkok.
Tambora (di Sumbawa) meletus pada 1815. April ini ulang tahunnya yang ke-200. Baru 200 tahun. Tiga bulan lalu saya ke Tambora melihat lahan yang akan ditanami kaliandra. Awalnya tinggi gunung itu 14.000 kaki. Setelah meletus tinggal 9.000 kaki. Bayangkan betapa hebatnya letusan Gunung Toba, entah tahun berapa, yang sampai membuat Gunung Toba hilang sama sekali. Bahkan meninggalkan sebuah danau yang dalamnya sampai 1.000 meter! Itukah yang membuat Benua Atlantis hancur? Yang membuat Asia Tenggara menjadi pulau-pulau Nusantara?
Yang juga masih belum terjawab adalah Taiwan. Menurut penjelasan DNA di situ, suku asli Taiwan ternyata sangat tua dan menyebar ke mana-mana. Termasuk ke Jepang dan Asia Tenggara. Sangat banyak bahasa asli Taiwan yang mirip dengan bahasa Batak.
Kejutan terjadi saat saya melihat hasil tes berikutnya. Saya sampai tertawa ngakak sendirian di depan komputer. Hasil tes itu memang dikirim melalui e-mail yang hanya bisa dibuka setelah memasukkan password. Saya tidak siap dengan kejutan ini. Ternyata, darah saya kecampuran darah suku Indian di Amerika. Atau yang sekarang disebut dengan ras American-Indian. Itu terjadi sekitar 50.000 tahun yang lalu. Masih sulit mencari literatur bagaimana bisa darah asal Asia tercampur dengan darah suku Indian.
Satu lagi yang membuat saya kaget. Ada darah Neanderthal di tubuh saya. Perannya pun lumayan besar: 2,9 persen. Persentase itu sama besar dengan yang dimiliki teman saya yang orang Amerika kulit putih. Teman saya itu, yang sudah lebih dulu melakukan tes DNA, darahnya campuran antara Jerman dan Inggris dalam persentase yang seimbang. Lalu ada darah Indian 5 persen dan Neanderthal 2,9 persen. ”Kita ternyata masih bersaudara,” teriaknya sambil tertawa. ”Sama-sama punya darah Indian dan Neanderthal,” tambahnya.
Neanderthal adalah makhluk mirip manusia yang hidup di dalam gua-gua yang ditemukan lebih dari 100.000 tahun lalu di dekat Düsseldorf, Jerman. Untuk melihat hasil tes ini, terakhir saya masuk ke ”menu” hubungan keluarga. Saya sudah menduga tidak akan banyak nama dari orang masa lalu yang bisa ditemukan masih punya hubungan keluarga dengan saya. Ini karena penelitian DNA pada tokoh-tokoh masa lalu di Asia masih belum banyak dilakukan.
Kalau misalnya makam-makam para kaisar Tiongkok diteliti untuk diambil DNA-nya, tentu akan banyak kejutan. Akan diketahui siapa saja yang masih keturunan kaisar A atau kaisar B. Apalagi, para kaisar itu dikenal punya banyak selir. Penelitian tokoh-tokoh masa lalu baru menyangkut ”abad ke berapa” atau ”kebudayaan”-nya seperti apa. Belum sampai DNA.
Sebagian mungkin ada masalah keagamaan. Misalnya, apakah mungkin makam nabi diteliti untuk diambil secuil tulang atau bagian apa pun untuk diambil DNA baginda. Ini akan bisa menjelaskan siapa saja yang sebenar-benarnya ahlul-bait. Demikian juga rasanya, tidak mungkin mendapat izin meneliti DNA para ulama besar di zaman dulu.
Ternyata betul. Hanya enam nama yang disebut punya hubungan keluarga dengan saya. Itu pun bukan nama-nama orang terkenal. Ada nama Sudjana, ada nama Muliawati, ada nama Tionghoa, Tan Teng Teng, ada nama Korea, dan ada nama Mojahed Garoot dari Arab Saudi. Saya sungguh terhibur oleh kejutan-kejutan hasil tes DNA saya itu. (*)

Senin, 06 April 2015

New Hope : Dahlan Iskan : Semoga Saya Tidak 100 Persen Laki-Laki

Kejutan baru: Amerika, kampiun negara demokrasi itu, kini punya peraturan daerah (perda) syariah. Dengan perda baru itu, kini pedagang di Negara Bagian Indiana, tempat saya belajar, boleh menolak melayani konsumen berdasar keyakinan agama. Parlemen setempat (gabungan anggota DPRD dan anggota senat daerah) mengesahkan perda itu pekan lalu. Inilah negara bagian pertama di Amerika Serikat (AS) yang memiliki aturan seperti itu.
Heboh. Gempar. Protes pun marak. Dari berbagai wilayah. Juga dari berbagai kelompok. Pertunjukan musik di ibu kota negara bagian itu, Indianapolis, yang seharusnya berlangsung minggu depan dibatalkan. Artisnya sendiri yang membatalkan. Sebagai protes. Uang karcis dikembalikan.
Sebuah perusahaan besar juga mengancam. Ia menyatakan membatalkan ekspansinya. Bahkan lagi mempertimbangkan untuk cabut dari wilayah Indiana. Perusahaan itu seperti mewakili sikap umumnya kalangan bisnis di Indiana. Mereka khawatir buruh mereka, pada satu tahap nanti, bisa menolak aturan perusahaan berdasar keyakinan agama si karyawan.
Sebagian pemrotes menganggap aturan baru itu bertentangan dengan kebebasan yang dijunjung begitu tinggi di Amerika. Bahkan, ada yang menyatakan, itu sudah melanggar konstitusi.
Tapi, gubernur Indiana tutup mata. Dia menyatakan, aturan baru itu harus jalan terus. Dia menolak anggapan ada pasal konstitusi yang dilanggar. Separo surat pembaca di koran daerah Evansville, kampung saya sekarang, mendukung dan memuji gubernur. Separonya lagi menolak dan memaki. Mereka bahkan bilang habislah kesempatan sang gubernur untuk maju sebagai calon presiden yang akan datang. Padahal, sebelumnya banyak yang menggelarinya sebagai calon Ronald Reagan baru. Reagan, mantan bintang film itu, dinilai sebagai presiden yang hebat dari Partai Republik, partai yang sama dengan gubernur Indiana.
Indiana memang termasuk negara bagian yang sikap keagamaan penduduknya kuat. Karena itu, Partai Republik menang mutlak di sini. Menguasai parlemen setempat. Partai Demokrat tidak berdaya untuk mencegah lahirnya aturan baru itu.
Aturan itu bermula dari keinginan pedagang setempat. Khususnya pedagang bunga dan kue yang fanatik. Mereka minta diperbolehkan tidak melayani pesanan bunga atau kue dari pasangan pengantin yang sejenis. Pengantinnya laki-laki semua atau perempuan semua. Berdasar keyakinan agama mereka, perkawinan jenis itu dilarang agama. Anggota parlemen setempat memprosesnya sampai menjadi peraturan. Tanpa aturan itu, pedagang yang menolak mereka dianggap melanggar hukum.
Keberanian parlemen Indiana itu sebenarnya didorong keberhasilan gugatan perusahaan besar Hobby Lobby tahun lalu. Bos besar perusahaan itu memang pendukung berat Partai Republik. Berarti anti-Presiden Obama yang Demokrat. Ketika Obama mengeluarkan aturan BPJS Kesehatan dan aturan itu disahkan kongres (waktu itu Kongres AS masih dikuasai Demokrat) lima tahun lalu, Hobby Lobby ke pengadilan. Menggugat. Kalah. Lalu ke Mahkamah Agung. Menang. Inti gugatannya: tidak mau ikut program kesehatan Obama, khusus untuk pembelian alat-alat kontrasepsi dan biaya aborsi. Berdasar keyakinan agamanya, Hobby Lobby menyatakan, keluarga berencana itu melanggar agama dan aborsi juga dilarang agama.
Protes untuk perda syariah Indiana kali ini begitu marak karena tren penggunaan alasan keyakinan agama itu. Bukan soal perkawinan sejenis semata. Mereka khawatir ke depan akan kian terus meluas dan melebar. Misalnya dari soal gay dan lesbian ke soal lain, misalnya ke warna kulit atau ke penganut agama lain. Dan seterusnya. Bisa jadi negara bagian lain, yang tiba-tiba merasa kalah fanatik, memproses aturan yang lebih dalam lagi. Dan kecenderungan ini benar-benar terjadi. Hanya selang seminggu, Negara Bagian Georgia sudah mengumumkan niat serupa.
Tapi, mengapa pasangan gay dan lesbian ngotot minta perkawinan mereka disahkan? Bukankah mereka bisa diam-diam kumpul kebo begitu saja? Apakah dengan kawin itu mereka lantas merasa tidak berdosa?
Ternyata tidak begitu. Ini masalah hukum semata. Ini menyangkut asuransi, warisan, tanggungan biaya kesehatan, dan pajak. Misalnya, sang ”istri” mau operasi di rumah sakit. Sang ”suami” tidak bisa memberikan tanda tangan persetujuan. Atau ketika ”suami” bekerja, sang ”istri” tidak bisa mendapat tunjangan. ”Istri” juga tidak akan dapat asuransi jiwa dan warisan lainnya. Mereka juga harus membayar pajak penuh karena pasangan tidak bisa jadi faktor pengurang. Intinya, sang ”istri” atau ”suami” tidak bisa mendapatkan hak-haknya sebagai pasangan hidup.
Padahal, menurut pengakuan kelompok itu, mereka benar-benar saling mencintai dan menyayangi. Mereka tidak mau ini dianggap melanggar agama. ”Bukankah ini kehendak Tuhan juga?” kata mereka.
Saya tidak tahu apakah ini kehendak Tuhan. Atau kehendak manusia. Atau bahkan ini semata-mata kehendak lingkungan yang menciptakannya. Tapi, saya yakin suatu saat nanti dokter ahli kromosom, ahli DNA, dan ahli sel (cell) akan bisa menjelaskannya secara biologis.
Lalu para ilmuwan itu bisa melakukan modifikasi gen atau sel atau DNA atau sejenisnya. Sejak masih bayi. Atau bahkan sejak masih di kandungan. Para ilmuwan itu akan bisa melakukan pengurangan kromosom tertentu yang membuat anak-anak memiliki kecenderungan gay atau lesbi. Dengan demikian, semua bayi yang lahir ke dunia akan bisa dipastikan: kalau tidak laki-laki ya perempuan. Tidak ada yang setengah-setengah, atau seperempat-seperempat seperti itu. Agar tidak ada persoalan lagi di dunia ini. Atau agar jangan ada lagi yang menyalahkan Tuhan. Para ilmuwan akan bisa membuat manusia berkurang dosanya. Inilah dakwah ”bil-hal”-nya para dokter ahli nanti.
Bukankah jangan-jangan, menurut struktur kromosom yang ada dalam tubuh manusia, sebenarnya hanya sebagian di antara laki-laki itu yang benar-benar 100 persen laki-laki. Demikian juga perempuannya. Sebagian lagi mungkin saja kelelakiannya hanya 90%, 80%, 70%, 60%, atau di antara angka-angka itu. Yang perempuan pun demikian juga. ”Berapa persen keperempuanan Anda?” mungkin akan diketahui segera.
Saat ini pun sudah terbit sebuah buku yang mengulas kecenderungan kromosom manusia. Umur pendek atau mati karena kecelakaan, menurut buku Women After All karya Prof Dr Kevin Konner dari Emory University, Atlanta, lebih ditentukan susunan kromosom dalam diri mereka. Yakni karena mereka memiliki unsur SRY dalam DNA-nya. SRY itu berada di dalam kromosom Y. Bahkan, pemilik kromosom Y ini punya kecenderungan lain: melakukan kekerasan atau jadi korban kekerasan.
Siapa pemilik kromosom Y ini? Mudah diduga: laki-laki. Bukan perempuan. Karena itu, menurut Women After All, hampir semua bencana di dunia ini penyebabnya laki-laki. Mulai kekerasan, perang, pemerkosaan, dan seterusnya. ”Tidak ada bencana yang muncul gara-gara air mata perempuan,” kata buku itu.
Perempuan itu, menurut kromosomnya, memang mudah menangis. Dengan demikian, tangis perempuan itu alami. ”Kalau tangis laki-laki itu politis,” katanya.
Dia mengakui, banyak sekali prestasi dan kebaikan yang dibuat laki-laki. Tapi, katanya, itu semata-mata karena kesempatan lebih banyak diberikan kepada laki-laki. Sesuai dengan struktur kromosom, kalau perempuan diberi kesempatan yang sama, dunia akan lebih maju dan baik. Dengan susunan kromosom tertentu, perempuan mestinya lebih unggul hampir di segala bidang: lebih panjang umur, lebih tahan penyakit, lebih andal, lebih fair, lebih tahan, tidak fanatik, tidak mudah berburuk sangka, dan sebagainya.
Kelebihan lainnya, sudah pasti: bisa membuat kehidupan terus berlanjut. Yakni dengan kemampuannya yang tidak dimiliki laki-laki: hamil dan melahirkan.
Kelak saya akan tes kromosom. Semoga tidak 100 persen laki-laki. (*)

Senin, 30 Maret 2015

New Hope : Dahlan Iskan : Orang-Orang yang Lebih Mudah Bangun Cerobong

Terserah. Itulah salah satu kata yang terbanyak saya ucapkan ketika ditanya anak buah, teman, atau keluarga. Biasanya saya memang hanya mengajukan usul atau ide dalam satu–dua kata. Saya sependapat dengan peribahasa ini.
”Satu kata cukup untuk orang bijaksana. Sebanyak apa pun kata tidak akan cukup untuk memenuhi piring.” Itu diciptakan oleh Benjamin Franklin, salah satu pendiri Amerika Serikat.
Tapi, kadang satu kata memang idak cukup. Maka, datanglah pertanyaan-pertanyaan susulan kepada saya. Biasanya saya menjawab, ”Terserah.” Saya percaya bahwa orang di sekitar saya, termasuk anak buah saya, adalah orang-orang yang pandai. Bahkan mungkin lebih pandai.
Bahwa mereka mengajukan pertanyaan, saya yakin itu karena kebiasaan saja. Kebiasaan banyak dinasihati. Atau kebiasaan minta petunjuk. Atau kebiasaan memiliki atasan yang kalau tidak dimintai petunjuk merasa diabaikan anak buah.
”Terserah,” jawab saya ketika anak buah mengajukan pilihan cara mengerjakan atau memutuskan. Tapi, kalau dia masih juga minta petunjuk, saya akan bilang bahwa saya ini bukan ”pabrik petunjuk”. Yang selalu memproduksi petunjuk. Kecuali mereka benar-benar tidak tahu, barulah saya bicara. Itu pun bukan petunjuk. Hanya usul. Bahwa usul saya itu dianggap baik, silakan. Kalaupun tidak, silakan pakai cara lain. Saya tidak marah kalau ”petunjuk” saya tidak dijalankan. Asal yang dia lakukan lebih baik.
Istri saya sering komplain. ”Kok terserah terus?” katanya.
Saya setuju dengan Benjamin Franklin. Kata-kata saja tidak akan bisa membuat seseorang kenyang. Kerjalah yang bisa mengatasinya. Tapi, banyak atasan yang ketika anak buahnya minta petunjuk mengira anak buah itu benar-benar minta petunjuk. Padahal, anak buah itu hanya ingin menghargai atasan. Atau sedikit menjilat. Lalu, sang atasan memaksakan diri untuk memberikan petunjuk. Dia merasa tidak pantas kalau tidak memberikan petunjuk. Atau merasa wibawanya turun. Atau merasa dikira kurang pandai. Atau merasa kokseperti bukan atasan.
Saya sendiri, ketika jadi bawahan, kurang senang minta petunjuk. Suatu saat saya diminta ”membereskan” kantor Tempo di Surabaya. Waktu itu saya belum lama ditugaskan untuk memimpin Jawa Pos. Sebagai mantan pimpinan Tempo di Jatim, saya tahu apa yang harus saya lakukan. Beberapa orang saya minta meninggalkan Tempo. Heboh. ”Lho, kok sejauh itu?” ujar pimpinan Tempo di Jakarta. ”Kanberes,” kata saya. Goenawan Mohamad, pimpinan tertinggi Tempo, akhirnya melegakan saya. ”Dahlan orangnya memang begitu. Biar saja,” katanya.
Tahun 2000, saya ditugasi Gubernur Jatim Imam Utomo untuk menjadi Dirut perusahaan daerah PT Panca Wira Usaha (PWU). Saya sungkan. Saya mau. Tapi tidak mau digaji. Dan tidak mau mendapat fasilitas apa pun. Sebab, saya tidak mau meninggalkan Jawa Pos.
Salah satu perusahaan daerah itu adalah pabrik karet Ngagel. Entah sudah berapa tahun rugi. Pabriknya reyot, lantainya tanah berair, dan sarang laba-laba ada di mana-mana. Saya lihat, di situ ada seorang anak muda yang pandai dan pekerja keras. Namanya Budi Harahap. Saya tunjuk dia jadi Dirut.
Beberapa atasannya yang lebih tua terbalik jadi anak buahnya. Heboh. Karyawan demo. Gubernur kirim surat teguran. ”Perusahaan milik pemerintah kok sampai didemo. Tidak boleh terjadi lagi,” kira-kira begitu. Lantas, saya jawab, ”Pak Gubernur, demo itu biasa. Mungkin masih akan terjadi lagi.”
Sejak itu, pabrik karet Ngagel membaik. Lalu, Budi minta dibangunkan pabrik baru untuk memproduksi steel rubber conveyor. Itu akan menjadi satu-satunya. Semua steel rubber conveyor diimpor dari Jerman, Prancis, atau Tiongkok. Saya setuju. Tapi, perusahaan kantidak punya uang. Padahal, perlu investasi Rp 40 miliar. Memang bisa pinjam bank. Tapi, perusahaan belum dipercaya bank. Utang macet masa lalunya masih banyak di beberapa bank.
Bank juga tidak mau menerima jaminan milik pemerintah. Akhirnya, saya jaminkan pribadi saya, tentu dengan seluruh kekayaan saya pribadi, untuk pinjaman itu. Pabrik pun berdiri di Karangpilang. Sekarang maju sekali. Sangat menguntungkan.
Pabrik kulit yang sudah tidak berproduksi, hampir runtuh, dan jadi sumber polusi di Jalan Ahmad Yani, Surabaya, juga harus dirombak. Tapi, juga tidak ada dana. Deposito pribadi pun saya jaminkan untuk memperoleh pinjaman bank. Jadilah Jatim Expo itu.
Di Jawa Pos, saya memiliki puluhan orang yang untuk mengerjakan banyak hal tidak perlu minta petunjuk. Bukan saja ”pabrik petunjuk”-nya memang jarang berproduksi, juga karena mereka memang tipe orang ”satu kata cukup untuk seorang yang bijaksana”.   Mereka juga bukan orang-orang yang menerima takdir begitu saja. Mereka seperti pepatah Benjamin Franklin, ”Hati-hati dengan pengeluaran, biarpun kecil. Karena kebocoran kecil bisa menenggelamkan kapal.” Mereka adalah para pekerja keras, mau menderita, dan tidak kesusu ingin menikmati. Seperti kata Benjamin Franklin, ”Barang siapa sarapan berlebihan, dia akan makan siang dengan kemiskinan dan makan malam dengan penderitaan.” Sebab, seperti pepatah Benjamin berikutnya, ”Lebih mudah membangun dua cerobong asap daripada menjaga salah satu cerobong untuk bisa terus mengepul.”
Saya tidak tahu mengapa Benjamin yang tidak pernah jadi presiden Amerika Serikat itu justru menjadi penanda mata uang dolar AS terbesar, USD 100. Dan tidak pernah diganti sejak 1929. Semua orang Amerika yang saya tanya tentang itu tidak tahu. Saya cari di internet, juga tidak ketemu.
George Washington, pendiri dan presiden pertama AS, justru hanya menjadi penanda uang 1 dolar. Yang jelas, penanda mata uang harus diputuskan oleh parlemen.
Jangan-jangan karena Benjamin Franklin adalah seorang filsuf (di samping seorang wartawan, penulis, dan penemu beberapa teori dalam kelistrikan) yang begitu mendorong orang untuk menjadi kaya melalui kerja keras serta menghargai uang. Dia juga anti kepada orang malas dan orang mengeluh.
Seseorang mengeluh atas tingginya pajak pemerintah. Benjamin bilang, ”Jangan terus mengeluh, nanti Anda tidak bisa membayar pajak. Bekerja keraslah, Anda akan punya uang, kehormatan, dan bisa membayar pajak.” Tapi, banyak orang tidak mau bekerja keras karena tidak tahu berharganya uang.
”Ingin tahu betapa berharganya uang?” tulis Benjamin dalam bukunya pada 1756 tentang cara menjadi kaya. ”Cobalah pinjam uang,” jawabnya.
Meski dia pendiri AS terkemuka, tapi tidak pernah ditanya oleh Thomas Jefferson ketika ketua tim penulis draf deklarasi kemerdekaan itu merumuskan deklarasi. Konon, Jefferson, yang akhirnya jadi presiden ketiga AS dan gambarnya menjadi penanda mata uang 20 dolar, khawatir akan terlalu banyak kalimat filsafat yang diusulkan dalam draf deklarasi.
Rupanya dia juga seorang humoris yang getir. Karya legendarisnya yang berjudul Cara Menjadi Kaya itu ditutup dengan dua kalimat yang pahit. ”Semua yang membaca cara-cara menjadi kaya ini mengaku sepenuhnya mengerti, menyadari, dan ingin melakukannya. Tapi, besoknya mereka mengerjakan sebaliknya, seperti juga ketika mereka baru pulang dari mendengar khotbah.” (*)

Senin, 23 Maret 2015

New Hope : Dahlan Iskan : Mencoba DNA untuk Setengah Manusia

Ini mode baru di Amerika: memeriksakan DNA. Tujuannya untuk menelusuri siapa nenek moyang kita. Caranya pun mudah. Beli tabung plastik kecil seharga Rp 1 juta lebih melalui internet. Perusahaan jasa pengiriman akan mengantarkan tabung sebesar jari tangan itu ke alamat pemesan.
Itulah tabung untuk diisi air liur sebanyak kira-kira dua sendok makan. Harus langsung dari mulut. Setelah berisi liur, tabung itu dikirim balik. Tiga minggu kemudian hasilnya di-e-mail-kan: darah siapa saja yang mengalir di tubuhnya.
Teman saya, orang Amerika, sudah memeriksakan DNA-nya. Neneknya pernah bercerita bahwa di dalam darahnya mengalir sedikit gen suku Indian. Itu dari perkawinan leluhurnya. Dia memperkirakan ada 5 persen darah suku American Indian di tubuhnya. Selebihnya adalah darah Jerman. Dia memang keturunan Jerman yang sudah beberapa generasi tinggal di Amerika.
“Dari tes ini saya tahu bahwa ada darah Inggris di tubuh saya,” katanya. “Cukup besar, lebih dari 30 persen,” tambahnya. Tentang cerita neneknya ternyata memang benar. Ada darah suku Indian. Namun, yang semula dia perkirakan 5 persen ternyata hanya 1 persen.
Yang dia tidak menduga adalah ini: ada darah makhluk Neanderthal sebesar hampir 2 persen. Neanderthal adalah makhluk yang hidup dalam gua sekitar 100.000 tahun lalu. Fosilnya ditemukan di desa dekat Kota Dusseldorf, Jerman. Bentuknya mirip manusia. Hanya, bidang dadanya lebar. Tingginya setinggi saya. Lebih pendek daripada umumnya orang Jerman sekarang. Rongga otaknya lebih besar daripada otak manusia. Mereka menggunakan tulang binatang untuk membuat gua.
“Mungkin pernah terjadi kawin-mawin di antara sejumlah Neanderthal dengan manusia,” ujar teman saya itu. “Atau jangan-jangan manusia adalah keturunan Neanderthal,” tambahnya.
Tentu masih sulit dipastikan siapa yang lebih dulu. Manusia atau Neanderthal. Kalau dipercaya bahwa semua manusia adalah anak cucu Adam/Hawa, lebih sulit lagi menghitungnya. Nabi Muhammad hidup 1.450 tahun lalu. Nabi Isa –umat Nasrani memercayainya sebagai Yesus– hidup 2.000 tahun lalu. Jarak antara Muhammad dan Isa sekitar 550 tahun.
Nabi Nuh yang beberapa generasi di atas Nabi Isa diperkirakan hidup 10.000 tahun lalu. Nabi Adam yang beberapa generasi di atas Nuh diperkirakan hidup 50.000 tahun lalu. Maka, kalau semua itu benar, berarti Neanderthal lebih dulu menjadi penghuni bumi. Wallahu a’lam.
Semua orang kulit putih diperkirakan memiliki darah Neanderthal. Dari sekian ribu generasi manusia, tentu kawin campur tidak terhindarkan. Baik yang karena jatuh cinta maupun karena terpaksa. Kesengajaan maupun kecelakaan. Karena kekerasan maupun pemaksaan.
Ini tentu tantangan terbesar bagi gerakan pemurnian ras. Ilmu pengetahuan ternyata membuktikan bahwa ras manusia sudah tercampur baur. Bahkan, di Negara Bagian South Carolina, yang paling sensitif masalah rasnya, terjadi kejutan. Menurut hasil tes itu, 30 persen dari orang kulit putih yang memeriksakan DNA-nya ternyata tercampur juga dengan darah orang kulit hitam.
Mungkin saja di zaman perbudakan dulu beberapa tuan kulit putih jatuh cinta pada budak mereka. Atau tepergok bercinta. Maklum, perbudakan waktu itu berlangsung lebih dari 200 tahun.
Keturunan Nabi Ibrahim, misalnya, pasti sudah tidak lagi satu ras. Istri pertama Ibrahim (dalam Injil disebut Abraham), Sarah, berkulit putih. Sarah-lah yang melahirkan Ishak (atau Isaac di dalam Injil). Nabi Ishak kemudian berputra Yakub yang memiliki nama lain Israel. Yakub “melahirkan” beberapa nabi seperti Daud, Sulaiman, Yusuf, dan akhirnya Nabi Isa. “Bani Israel dalam Alquran itu adalah anak-anak Yakub,” ujar Ustad Shamsi Ali, imam besar di New York yang asli Sulawesi itu. Bangsa Yahudi yang berkulit putih itu adalah keturunan Ibrahim dari Yakub.
Istri Ibrahim yang satunya, Siti Hajar, adalah perempuan kulit hitam yang konon asli Ethiopia. Ibrahim mengawini Hajar di umurnya yang sudah lebih 80 tahun. Ini atas kehendak istri pertama yang tidak memiliki anak. Dari perkawinan dengan Siti Hajar itulah lahir Ismail. Berkat kebesaran Allah, ternyata Sarah juga hamil. Lahirlah Ishak itu. Yakni ketika umur Ibrahim sudah 90 tahun.
Siti Hajar dan bayinya kemudian “diungsikan” ke Makkah, saat itu suatu kawasan pegunungan yang tidak berpenghuni. Ketika bayi Ismail kehausan dan Hajar lari dari satu bukit ke bukit lain sampai tujuh kali, Allah memberinya sumber air yang kemudian diberi nama zamzam.
Ismail inilah bapak bangsa Arab. Setelah Makkah ramai berkat adanya sumber air itu, datanglah bangsa Jurhum dari Yaman. Salah satunya Raja Abrahah yang ingin menghancurkan Kakbah. Keturunan Ismail bercampur pula darahnya dengan bangsa Jurhum.
Banyak ras yang berusaha menjaga kemurnian ras masing-masing. Tapi, kenyataan membuktikan, banyak juga orang Yahudi yang kawin dengan orang Arab. Atau sebaliknya. Juga dengan suku-suku lainnya. Termasuk dengan suku Jawa di Indonesia.
Maka semua orang Arab dan semua orang Yahudi pasti memiliki unsur darah yang sama: darah Nabi Ibrahim.
Mencampur ras juga dilakukan Thomas Jefferson, presiden ketiga Amerika Serikat. Dia juga dicatat sebagai salah satu proklamator negeri itu. Jefferson yang ditinggal mati istrinya memiliki enam anak dari budaknya yang berkulit hitam. Namanya Sally Hemings. Konon Jefferson sangat mencintainya. Sally tinggal di Monticello, Virginia, tetangga dekat Washington DC.
Semula ini hanya rumor yang banyak ditulis surat kabar saat Jefferson menjadi presiden periode pertama. Rumor itu tidak sampai merusak Jefferson. Dia terpilih lagi. Jefferson tidak pernah berkomentar. Betul atau salah sebatas rumor. Ini membuat soal itu menjadi perdebatan para sejarawan yang tidak henti-hentinya. Selama dua abad.
Keturunan Thomas Jefferson dari istri yang meninggal itu membantah keras rumor tersebut. Sampai tahun 1998. Ilmu pengetahuan ikut membuat sejarah. Tes DNA begitu maju. Pro-kontra pun berakhir. Tahun 1998 itu, ahli DNA Dr Eugene Forter melakukan tes pada mereka yang mengaku keturunan Jefferson dari ibu yang kulit hitam. Sally memang meninggalkan catatan untuk anak-anaknya. Lalu diwariskan turun-temurun.
Hasil tes DNA mereka positif: ada darah Jefferson di dalamnya. Ini menjadi fakta yang kemudian diterima semua pihak. Termasuk pihak keturunan dari istri yang berkulit putih. Beberapa tahun lalu keturunan Jefferson, baik yang kulit putih maupun yang kulit hitam, berkumpul bersama-sama ziarah ke monumen kakek moyangnya yang lahir tahun 1743 itu.
Kombinasi antar-ras mungkin mengakibatkan suatu ras merasa lebih tinggi daripada lainnya. Dalam novel Agus Sunyoto, Rahwana, persilangan-persilangan ras itu di-jlentreh-kan rinci. Termasuk antarmakhluk seperti dengan raksasa, bahkan dengan hewan tertentu. Yang merasa dari persilangan ras tertinggi akan menyebut persilangan yang melahirkan orang seperti saya bukan termasuk manusia. Tapi setengah manusia.
Saya menjadi ikut tertarik untuk memeriksakan DNA.
Sambil sekolah. Mumpung saya agak lama tinggal di Amerika. Selama ini saya termasuk yang kurang peduli dengan asal usul. Siapa tahu saya ternyata benar-benar manusia. Atau tidak. (*)

Senin, 16 Maret 2015

New Hope : Dahlan Iskan : Beras Menir yang Menggetarkan Samsung

KEJUTAN XIAOMI” menjadi istilah baru di Korea Selatan. Dalam bahasa Mandarin, xiaomi berarti beras menir (beras yang dihancurkan kecil-kecil). Tapi, beras menir inilah yang kini sangat ditakuti Samsung. Sampai-sampai Menteri Komunikasi Korsel Choi Yang-hee mengunjungi pabrik smartphone Xiaomi di Beijing bulan lalu.
Samsung rupanya merasa terancam. Memang perusahaan baru smartphone di Beijing itu tiba-tiba saja jadi meteor. Tahun lalu Xiaomi langsung mampu menjual 70 juta smartphone. Atau naik hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Dengan demikian, tiba-tiba saja Xiaomi telah menjadi produsen telepon pintar terbesar ketiga di dunia. Setelah Samsung dan Apple.
Memang penjualan smartphone Samsung masih di atas 300 juta, catatan tahun lalu. Tapi, untuk pasar Tiongkok Samsung sudah anjlok lebih dari separonya. Samsung sudah kalah dari si beras menir. Bahkan sudah kalah jauh. Padahal, Tiongkok adalah pasar telepon pintar terbesar di dunia. Maka pantas kalau Samsung tersentak.
Kalau dulu kita terkejut mendengar BlackBerry mengalahkan Nokia, lalu iPhone mengalahkan BlackBerry dan akhirnya iPhone dikalahkan Samsung, kini kita lebih terkejut lagi bila si anak bawang beras menir akan mengalahkan Samsung segera. Dunia telekomunikasi memang ibarat roller coaster. Kita tidak pernah membayangkan Nokia yang begitu merajalela dengan cepat dikalahkan BlackBerry. Kejayaan BlackBerry pun hanya seumur jagung: dikalahkan Apple. Dan tak disangka-sangka, raja Amerika Serikat ini disalip perusahaan dari Asia: Samsung.
Semula Huawei-lah yang disangka akan menjadi penantang terberat Samsung. Produk terbaru Huawei, Ascend 4G LTE, yang saya gunakan saat ini, luar biasa canggihnya. Sambutan dari pasar di Tiongkok pun gegap gempita. Untuk bisa membeli Huawei Ascend 4G LTE, harus antre seperti dulu orang Amerika antre beli iPhone.
Tapi, tiba-tiba ada Xiaomi. Muncul langsung bikin kejutan. Perusahaan si beras menir ini baru didirikan tahun 2010. Bahkan, orang di Indonesia pun belum banyak yang tahu. Tiba-tiba saja menjadi nomor tiga di dunia: mengalahkan Lenovo dan LG. Juga mengalahkan Huawei.
Maka pertempuran akan kembali seru. Dulu Amerika melawan Eropa. Lalu Asia melawan Amerika. Kini pertempuran akan terjadi sesama Asia, bahkan sesama Tiongkok. Xiaomi langsung begitu hot. Bahkan tahun ini mulai masuk pasar internasional. Minggu lalu, saat launching di Singapura, Xiaomi bikin gempar: stoknya langsung habis dalam dua menit.
Bagaimana mungkin perusahaan yang belum berumur lima tahun sudah begitu suksesnya? Ini tak lain karena strategi pendiri perusahaan itu, Lie Jun: gerak cepat. Lei Jun kini baru berumur 45 tahun. Gayanya mirip sekali dengan Steve Jobs, pendiri Apple. Ke mana-mana Lei Jun hanya mengenakan kaus hitam dengan celana jins.
Seperti Steve Jobs, Lei Jun juga mencapai kekayaan pertama USD 1 miliar (Rp 12,5 triliun) saat berumur 41 tahun. Kini kekayaan Lei Jun sudah mencapai USD 12 miliar. Berarti setiap tahun naik Rp 30 triliun. Dia sudah menjadi orang terkaya nomor 26 di Tiongkok.
Sukses Lei Jun dimulai dari kejengkelannya saat bekerja di perusahaan sebelumnya. Dia merasa ide-idenya tidak cepat mendapat muara. Dia pun bertekad mendirikan perusahaan sendiri dan akan merespons dengan cepat ide apa pun dari siapa pun. Terutama dari pengguna Xiaomi. ”Kalau perlu dalam seminggu sudah menjadi kenyataan,” katanya seperti dikutip media.
Tahun 1992, ketika baru berumur 22 tahun, Lei Jun bekerja di perusahaan software antivirus: Kingsoft. Enam tahun kemudian, saat umurnya baru 29 tahun, dia sudah mencapai puncak karir sebagai CEO-nya. Tiba-tiba dengan alasan ”kesehatan” dia mengundurkan diri. Ternyata dia mendirikan perusahaan online penjualan buku: Joyo. Perusahaan ini lantas dia jual ke Amazon.com dengan nilai USD 75 juta atau hampir Rp 1 triliun.
Langkah besar pun disiapkan: mendirikan Xiaomi. Dia mengajak sepuluh partner untuk bergabung. Salah satunya adalah Temasek, BUMN Singapura. Termasuk perusahaan Taiwan Foxconn. Yang dulu sudah firm ingin masuk Indonesia, tapi tidak ada kabarnya lagi saat ini. Kini aset Xiaomi sudah mencapai USD 46 miliar.
Xiaomi ini dibuat sangat mirip (tampilan maupun kualitasnya) iPhone. Tapi dengan harga kurang dari separonya. Di Tiongkok, pasar smartphone terbesar di dunia, iPhone 4s dijual USD 790, sedangkan Xiaomi MI One dijual hanya USD 320. ”Harga itu hanya sama dengan harga pembelian material bahan baku,” ujar Lei Jun.
Ini berarti Xiaomi tidak ambil keuntungan dari penjualan telepon pintarnya. Xiaomi akan ambil keuntungan dari software, aksesori, dan bahkan merchandise-nya. Xiaomi memang menciptakan maskot. Dijual dalam berbagai bentuk. Termasuk boneka ini: anak yang dibuat mirip kartun Poyo. Berkalung kain merah dan bertopi. Ada bintang merah di topi itu. Khas Tiongkok dan cocok untuk pasar besar di sana.
Lei Jun, kelahiran Hubei yang menamatkan SMA di Mianyang dan menyelesaikan sarjana science engineering di Wuhan University, kini dapat julukan ”Steve Jobs”-nya Tiongkok. Rupanya gelar itu mengusiknya. ”Kalau Steve Jobs di Tiongkok, belum tentu dia bisa sukses.” Tentu Lei Jun juga tidak mau mati muda karena kanker seperti Steve Jobs. (*)

Senin, 09 Maret 2015

New Hope : Dahlan Iskan : Dari Berburu Berita ke Berburu Sengon

Saya melihat gejala baru. Kelilinglah pedesaan Jawa: begitu banyak pohon sengon sekarang ini. Tanpa ada program penghijauan dari pemerintah pun, rakyat sudah terdorong sendiri untuk menanam sengon. Ini karena nilai ekonominya yang sudah terbukti: tiap hektare bisa menghasilkan Rp 500 juta. Bersih. Seleksi alam kelihatannya sudah memutuskan ini: sengon juaranya. Juara di antara tanaman keras. Tentu jangan dibandingkan dengan, misalnya, tanaman buah tropik.
Dulu begitu banyak tanaman keras yang dianjurkan untuk digalakkan: jabon, kemiri sunan, jarak pagar, lamtoro gung, sengon buto, dan seterusnya. Hampir semuanya gagal. Karena tidak ada dorongan keuntungan ekonomi. Tidak ada yang terbukti bisa meningkatkan kesejahteraan penduduk pedesaan.
Jabon terbukti kalah dari sengon. Harga jualnya sekitar 20 persen di bawah sengon. Ini karena warna kayu jabon kurang disukai industri mebel di luar negeri. Terlalu putih. Kemiri sunan, mungkin akan bernasib sama dengan jarak: lebih gagal lagi. Bahkan membuat rakyat marah. Jarak yang siap panen dibabat. Satu hektare tanaman jarak memang hanya menghasilkan kurang dari setengah juta rupiah setahun.
Sengon buto, ternyata juga tidak laku. Memiliki terlalu banyak cabang. Kurang laku dijual. Tidak bisa untuk bahan baku industri mebel. Lamtoro gung, ternyata membawa penyakit yang menular ke tanaman sekitar.
Sengon tradisionallah yang ternyata mengalahkan semua itu. Maka jelaslah, untuk memanfaatkan lahan-lahan kosong di Jawa, sengon adalah pilihan utama. Jangan kaliandra. Biar saya dulu yang tanam kaliandra. Itu pun di luar Jawa. Begitu banyak yang ingin mengikuti saya menanam kaliandra. Biasanya saya tanya dulu: lahannya di mana? Begitu dia menyebut di Jawa, saya langsung tegaskan: jangan! Jangan tanam kaliandra. Jawa terlalu subur untuk kaliandra. Sama-sama menanam pohon, untuk di Jawa, lebih baik sengon. Apalagi, kini sudah berdiri banyak sekali pabrik pengolahan kayu sengon. Tidak mungkin lagi tidak ada pasarnya. Bahkan, pabrik-pabrik itulah yang kini haus sengon.
Biarlah kaliandra dicoba di daerah-daerah khusus di luar Jawa yang gersang dan yang tidak memiliki sumber listrik. Saya, bersama tim, baru mulai mencoba di Sumba, Sumbawa, Lingga, Singkep, Kaltim, dan Bolaang Mongondow. Kita lihat dulu berhasil atau tidak.
Memang tanaman sengon baru bisa ditebang setelah berumur lima tahun. Tapi, hasilnya sungguh menarik. Dalam lima tahun itu, per hektare, bisa menghasilkan Rp 500 juta. Bersih. Sudah dipotong biaya. Berarti satu tahun Rp 100 juta. Sama dengan gaji pegawai satu bulan Rp 8 juta. Tidak kecil, bukan? Dalam jangka panjang pasarnya pun terjamin. Gerakan anti penebangan hutan sedunia membuat industri kayu beralih ke tanaman rakyat.
Apalagi, hampir tidak ada hama. Satu-satunya hama adalah karat puru. Itu pun mudah ketahuan. Kanker itu muncul di dahan dalam bentuk benjolan besar. Dahan itu bisa langsung dipotong. Bagian yang terkena penyakit itu harus dikubur. Jangan dibuang begitu saja. Jangan juga dibakar. ”Hama” lainnya adalah kebakaran. Tapi, ini juga gampang terlihat. Yang tidak mudah terlihat adalah hama yang satu ini: ditebang orang di tengah malam.
Selebihnya tidak ada masalah. Memang ada yang mengkritik tanaman sengon membuat orang malas: tinggal tunggu hasil selama lima tahun sambil ongkang-ongkang kaki. Tidak perlu bekerja setiap hari seperti menanam padi. Atau menanam buah tropik. Para penggiat buah tropik pasti benci ini. Anak muda yang gigih seperti Mas Pratomo dari Ungaran tidak akan tergiur sengon. Mas Pratomo sudah membuktikan bahwa buah tropik bisa menghasilkan dua kali lipat dari sengon. Juga tidak perlu menunggu lima tahun. ”Memangnya perut kosong bisa disuruh menunggu lima tahun?” ujar Mas Pratomo.
Begitu banyak tanaman buah yang jadi pilihan: kelengkeng genjah, buah naga, durian pendek, dan tentu saja sirsat. Hanya, petaninya memang harus berpengetahuan, harus rajin (utun), dan harus berjiwa bisnis. ”Kita kan harus membangun masyarakat. Agar rajin dan kerja keras,” ujar Mas Pratomo. ”Biar bisa seperti bangsa Korea atau Jepang,” tambahnya.
Ke depan, sengon kelihatannya akan berfungsi sebagai tabungan pedesaan. Bukan sebagai mata pencaharian. Sawahlah mata pencaharian itu. Sedang ladangnya ditanami sengon. Tabungan itu diperlukan karena kelak anaknya minta sepeda motor. Atau meneruskan kuliah ke perguruan tinggi. Atau bagi daerah seperti Wonogiri yang bupatinya sangat getol menggalakkan penanaman singkong, mata pencahariannya adalah singkong itu. Toh juga sukses. Sengon untuk tabungan.
Saya perhatikan bupati Kepahiang di Bengkulu juga kampanye ini: rakyat yang mau kaya, tanamlah sengon. Demikian juga bupati Aceh Timur. Hanya Kalimantan dan Jambi-Riau yang kelihatannya tidak cocok untuk sengon.
Saya juga punya seorang teman. Mantan wartawan terkemuka Republika di Jakarta. Namanya Guntoro. Prestasinya sebagai wartawan sangat menonjol: gigih dan rajin mengejar berita. Kini dia gigih mengejar sengon. Dia tinggalkan dunia kewartawanan. Yang full stres itu. Dia tinggalkan Jakarta. Yang full ruwet itu. Dia beli tanah yang masih murah di desa di Jabar. Dia tinggal di desa itu. Pekarangan rumah yang dia tinggali sangat luas: 3 hektare. Dari segi luasan pekarangan, orang terkaya di Jakarta pun dia kalahkan. Tidak ada orang kaya di Jakarta yang pekarangan rumahnya 3 hektare. ”Tidak pernah lagi terkena macet,” guraunya.
Selama delapan tahun meninggalkan dunia hiruk pikuk kewartawanan di Jakarta, Guntoro sudah berubah total. Kini dia sudah memiliki tanaman sengon 800 hektare. ”Tiap tahun beli tanah sedikit-sedikit, Mas,” katanya. ”Saya ingin jadi raja sengon,” tambahnya.
Hitung sendiri berapa kekayaannya: 800 x Rp 500 juta = Rp 400 miliar! Percayailah separonya. Atau sepertiganya. Tetap saja menitikkan air liur. ”Jangankan jadi wartawan, jadi pemilik koran pun belum akan bisa dapat angka itu,” katanya bergurau.
Begitu banyak pilihan untuk kaya. Begitu luas lahan di Jawa yang dibiarkan telantar. Dengan sengon, Jawa bisa hijau. Juga warna mata penduduknya. (*)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost