Selasa, 17 September 2013

Pidato Tanpa Teks Dahlan Iskan

Pidato ini disampaikan saat malam perkenalan peserta konvensi Partai Demokrat. Pada hari minggu tanggal 15 September 2013. Dalam pidatonya Dahlan Iskan menitik beratkan masalah strategi memerangi korupsi , memacu pertumbuhan ekonomi, mengatasi kemiskinan, dan membebaskan bangsa dari ketergantungan impor.
*****
Assalamualaikum Wr Wb.
Ijinkan pada kesempatan yang sangat baik ini saya mengucapkan terima kasih kepada istri saya. Karena pada dasarnya, istri saya selalu menentang ketika saya menjadi orang pemerintah.
Saat pak SBY minta saya menjadi Dirut PLN dan kemudian menjadi Mentri BUMN. Istri saya menentang keras. Istri saya selalu menyampaikan kepada saya, dan bahkan kalau lagi ada KPK menangkap orang korupsi. Istri saya selalu menggeret saya kedepan televisi. “Lihat tuh, nanti kamu seperti itu ditangkap, di televisi seperti itu.”
Istri saya bilang: “Untuk apa, hidup sudah makmur, anak-anak sukses, cucu-cucu lucu-lucu. Untuk apa, nanti kamu ditangkep seperti itu.”
Saya akhirnya menyampaikan kepada istri saya bahwa nanti kalau saya jadi presiden koruptor jangan hanya dipidanakan, jangan hanya masuk penjara, tapi harus digugat secara perdata agar harta negara bisa kembali kepada negara.
Saya mengucapkan terima kasih kepada istri saya. Ternyata istri saya mendukung bahkan hadir di forum ini. Lebih dari itu saya lebih kaget lagi karena dia ternyata hari ini menggunakan jilbab biru. Minta berdiri sebentar istri saya. Baik, Terima kasih.
Saya sangat pengin meneruskan apa yang sudah dicapai oleh pak SBY. Tidak gampang mencapai prestasi seperti yang dilakukan Pak SBY. Saya pengin meneruskan itu. Tidak boleh negara ini belok lagi. Tidak boleh. Harus diteruskan. Tentu dengan berbagai perubahan. Misalnya kita harus meneruskan ekonomi kita harus tetap tumbuh diatas 6,3 %. Mengapa ?
Ada tiga hal kenapa kita harus tetap tumbuh diatas 6,3%.
Pertama, kita masih punya rakyat yang sangat miskin sejumlah sekitar 30 juta orang. 30 juta orang bisa dibilang masih 30 juta orang, bisa dibilang tinggal 30 juta orang. Terserah. Kita masih punya yg hampir miskin 60 juta orang. Berarti total masih sekitar 90 juta orang. Ini tidak bisa diselesaikan dengan pidato, tidak bisa diselesaikan dengan orasi, tidak bisa. Tidak bisa diselesaikan dengan agitasi.

Ini hanya bisa diselesaikan dengan KERJA…KERJA…KERJA…!!!!
Kita cari orang yang mau bekerja di negeri ini.
Alasan kedua mengapa kita harus tetap tumbuh diatas 6,3 %. Kita ini negara yang besar, kita harus mengejar negara2 besar. Kalau kita bisa tumbuh diatas 6,3% selama lima tahun berturut-turut, kita bisa mengalahkan Meksiko. Kita bisa mengalahkan Spanyol. Kita akan bisa menjadi negara terbesar nomor 9 terbesar didunia.
Spanyol yang dulu menjajah kita bisa kita kalahkan ekonominya. Tentu jangan berharap sepakbolanya mengalahkan Barcelona atau Real Madrid dulu. Itu perlu waktu. Tetapi ekonominya bisa kita kalahkan.
Alasan ketiga mengapa kita harus tumbuh diatas 6,3% pertahun. Karena kita ini bisa, bukan tidak. Ini bisa. Masalahnya kita mau atau tidak mau. Kalau Pemerintah, DPR, hukum (yudikatif) bersatu, kita bisa melakukan apa saja, seperti pak Dino tadi sampaikan. Itu bisa.
Dan dengan demikian kita tinggal satu pertanyaan. Mengapa setiap ekonomi kita tumbuh diatas 6% lima tahun berturut-turut. Selalu diikuti dengan gejolak ekonomi seperti sekarang ini. Kenapa.
Kenapa kalau tumbuh diatas 6 % selama lima tahun berturut-turut selalu terjadi gejolak. 2003, 2008 sekarang.
Mengapa. Karena impor kita terlalu besar. Kita pernah hampir berhasil menjadi negara industri. Pada akhir pemerintahan bapak Presiden Soeharto. Pada akhir orde baru. Waktu itu kita hampir bisa menjadi masyarakat industri. Tapi karena mega krisis pada tahun 98, bangsa industri kita, para industriawan kita beralih kembali menjadi bangsa pedagang.
Dulunya mereka pedagang, kemudian menjadi masyarakat industri. Gara-gara krisis beralih lagi menjadi pedagang. Impor lebih gampang dari pada ngurus pabrik. Impor lebih gampang dari pada ngurus buruh.
Karena itu segala macam diimpor, segala macam diimpor. Ini bukan soal kebijakan tetapi memang masyarakat kita sejak tahun 98 berubah dari masyarakat industri yang hampir jadi, kembali kepada masyarakat pedagang.
Ini dalam lima tahun kedepan harus diselesaikan. Harus diselesaikan mengubah kembali masyarakat pedagang kita menjadi masyarakat industri. Kebijakan ini harus kita lakukan dalam lima tahun.
Inilah yang bisa saya sampaikan malam ini. Tentu saya pingin ngomong hukum, pingin ngomong pendidikan, pingin ngomong SDM. Tetapi waktu hanya lima menit, tentu tidak baik kalau saya menghabiskan waktu itu. Terima kasih.
Kerja … kerja … kerja … Demi Indonesia. Terima kasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb. ***
Pidato Dahlan Iskan bisa dilihat di: http://www.youtube.com/watch?v=4Dgdfdoz5hI

by LBS

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost